Oleh-oleh Bandoeng (78 rpm)

Barangkali ini adalah salah satu versi tertua lagu “Oleh-oleh Bandoeng” yang pernah direkam dan masih terselamatkan, yang saya perkirakan dirilis pada sekitar penghujung dekade 1920an. Dibawakan oleh Union Dalia Opera Co. of Sumatra, perkumpulan sandiwara asal Deli, direkam serta dirilis oleh Tio Tek Hong Record—salah satu record label “lokal” tertua di Indonesia, yang berdiri di Batavia pada sekitar 1924. (Pemilik label tersebut, saudagar Tio Tek Hong, sebelumnya adalah retailer terkemuka untuk kawasan Hindia Belanda sejak 1906 dengan mengimpor dan menjual plat-plat gramofon rilisan Odeon, Beka, Columbia.) Konon ada versi lebih tua dari lagu “Oleh-oleh Bandoeng” ini, yakni dari Tan Tjeng Bok (1899-1985), artis superstar serbabisa yang termasuk The Big Five saat itu; tapi hingga hari ini saya sendiri belum pernah melihat artefaknya dalam bentuk paling otentik, yakni plat gramofon (shellac) 78rpm dan bukan yang sudah diduplikasi/konversi sekian kali menjadi berbentuk kaset (pita/cassette tape). Lagu tentang eksotisme cenderamata kota Parijs van Java ini terus dibawakan dan didaur ulang selama beberapa dekade setelahnya oleh beragam musisi lintas genre dengan ejaan judul yang bervariasi, mulai dari versi garage/surf rock ’60s sangar oleh Lies Embarsari diiringi Zaenal Combo (ini cover version paling favorit saya), versi instrumental nan jazzy oleh Jim Espehana, lusinan versi pop manis yang bermain aman dan karenanya cenderung membosankan, termasuk oleh penyanyi/bintang film negeri jiran Malaysia, Ahmad Daud di era 1960an, hingga interpretasi bebas bernuansa psychedelic pop yang menarik dari Kevin Ayers, musisi eksentrik asal Inggris di album solo perdananya pasca keluar dari Soft Machine, 1969. Kevin Ayers memang pernah menghabiskan masa kecil di Malaysia (dan bukan tidak mungkin dia pernah atau malah sering mendengar lagu itu semasa kanak di sana), sebelum akhirnya pada usia 12 dia bersama keluarganya pindah ke Inggris. Plat gramofon tua berumur hampir 100 tahun ini saya dapatkan dari lapak barang loak di Semarang. Ada typo judul di stiker labelnya: “Bandeong”, jenis misprint yang disukai kolektor akut (haha), tapi sayangnya nama penyanyi di situ sudah sedikit terkelupas, yang malah menambah misterius artefak berharga ini.

[Budi Warsito]

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *