Unknown pressures

Saya lebih menyukai album Closer daripada Unknown Pleasures (yang di bulan ini genap berumur 40 tahun) seperti saya lebih menikmati album Kamar Gelap ketimbang debut Efek Rumah Kaca. Tapi kalau harus memilih satu lagu saja dari semua katalog Joy Division yang pernah ada, saya akan pilih “She’s Lost Control” dari album pertama mereka, seperti “Debu-debu Beterbangan” dari album pertama Efek Rumah Kaca adalah lagu ERK paling definitif mereka menurut saya, melebihi segala-galanya. “She’s Lost Control” punya segala amunisi Joy Division dalam kaliber terbaiknya bahkan sejak mulai detik pertama, dari drumming monoton yang menjadikan drummernya dijuluki the human drum machine, aura mixing penuh gaung yang bikin musik mereka terdengar seperti kegelapan The Doors yang telah dilistrikkan, hingga suara cemas Ian Curtis yang titik puncaknya ada pada bait “…she screamed out kicking on her side/ and said ‘I’ve lost control again’/ and seized up on the floor I thought she’d die/ and said ‘I’ve lost control again’…” Perempuan yang diceritakan di lirik sedih itu memang mati di dunia nyata, diduga karena seizure tiada henti. Menyimak video live lagu itu di mana tubuh Ian terguncang-guncang tanpa bisa dikontrol hanya membuat saya makin sedih. Sementara lagu “Debu-debu Beterbangan”, yang sebetulnya sama gelapnya, memuat kata-kata “lubang hitam”, sebuah frasa biasa yang anehnya malah jarang dipakai secara tepat di lagu-lagu Indonesia, dan “pada saatnya nanti/ tak bisa bersembunyi/ kita pun menyesali/ kita merugi” bisa saja dibaca sebagai sebuah upaya kontrol (atau justru lepas kendali, tergantung seberapa eksistensialisnya kita?) yang nggrêmêt terus di dalam suwung, pelan tapi pasti, menghisap kita menuju kesia-siaan. Menariknya, album kedua ERK juga dibuka dengan alusi tentang suara-suara halus untuk mencari yang paling sunyi, “mimpi-mimpi tak kunjung nyata”, dan dari bisikan entah di mana itu ada semacam godaan untuk melompat dan melayang “menuju entah apa namanya”; sebuah intertext yang susah bagi saya untuk tidak teringat pada track pembuka di album Closer, satu-satunya lagu ciptaan manusia yang menurut saya paling tepat untuk mengiringi proses yaumul hisab di alam sana jika kelak itu betulan ada, “THIS IS THE WAY, STEP INSIDE.. THIS IS THE WAY, STEP INSIDE..!”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *