Di Kapal Terbang di Atas Laut

Setelah Jeff Mangum dkk memainkan beberapa alat musik tradisional Indonesia menjadi derau panjang di penghujung album debut mereka, On Avery Island (1996), di album kedua mereka membuat lompatan lebih jauh dengan mengedepankan lagi segala bising yang telah mereka akrabi, melipatgandakannya, mengubahnya jadi sebentuk keindahan. Album In the Aeroplane over the Sea (1998) itu terdengar lebih mirip musik pengiring sirkus tua ketimbang festival kota kemarin sore, yang diputar terus menerus sepanjang minggu sampai pitanya kusut, dari tape-deck butut yang menolak mati meski speakersnya sudah pecah semua. Seperti kerasukan ruh purba dari hutan-hutan Athens mereka berhasil menggabungkan spirit carnival punk + psikedelia para troubadour + skill musisi gypsy = semua kesurupan, mengitari api unggun sambil asyik sendiri (terompet eksplosif mereka dan gergaji gesek itu, ya ampun); modernitas lo-fi mereka cukup visioner lewat konsep sound-engineering yang tampak tabah dengan satu jobdesc keras: mempertahankan nuansa fuzzy. Kabut tipis memang terasa betul menyelimuti (atau menylimuri?) seluruh aransemennya sehingga wajar kalau muncul respons legendaris dari pihak label, “Ini belum di-mixing ya?” Justru itu Pak. Segala kerisauan sonic dari album ini berpusat pada vokal neurotik Jeff yang murung sekaligus geram, yang kadang menjerit tapi juga tercekik, yang bahkan kalau syair-liriknya bukan tentang nasib malang Anne Frank di tangan Nazi pun, semua lagunya bakal tetap terdengar sedih. Jeff Mangum adalah J.D. Salinger of indie rock, yang jelas tak sudi dimohon-mohon oleh siapa pun untuk berkarya lagi hanya demi memuaskan jiwa-jiwa hambar penggemarnya. Saya terpaksa membeli album-album dari sarekat Elephant 6 (seperti The Olivia Tremor Control, Circulatory System, The Apples in Stereo, Major Organ and the Adding Machine, The Music Tapes, dsb.) hanya supaya bisa terus menelusuri jejak-jejak musikal Jeff lainnya meski dia selalu berada selangkah di depan, seperti tak pernah bisa terkejar. Hari ini album ajaib Neutral Milk Hotel ini genap berusia 20 tahun, dan di kuping mental saya yang tak lagi stereo, sound-nya yang berantakan sexy dan penuh belek tetaplah segar merona, meresahkan tapi juga menggairahkan seperti sayur mayur mbok-mbok di pasar pagi. Bungkuuus!

__

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *