Nalika Pak Gesang taksih sugeng

KrontjongGesang_kaset

Mungkin ini tak bisa dikategorikan sebagai kaset bootleg niat, tapi justru atas upayanya yang effortlessly cool itu kita patut angkat topi. Cukup dengan teks ketikan di atas kertas putih polos, variasi font warna merah (hanya soal ganti pita ketik saja), underlined, dan beberapa typo, rilisan ini mampu tampil elegan. Sejatinya kaset ini adalah kopian dari dua piringan hitam. Side A, atau “Index A” kalau istilah kaset ini, diambil dari plat Sebelum Aku Mati, yang sampul aslinya menampilkan Gesang berpose dengan jas rapi dan berdasi (!) dengan rokok terselip di jari (!!), di dalamnya memamerkan warna vokalnya yang agak berat dan khas. Sementara Index B-nya diambil dari plat Malam Sjahdu, kompilasi lagu-lagu tentang malam dari Orkes Tetap Segar pimpinan Brigjend R. Pirngadie (jenderal dan keroncong, perpaduan yang bisa sangat dimengerti bukan?). Bunyi plat mungkin kinclong gemilang, dengan sesekali kemresek khas nostalgia; sementara versi kasetnya malah agak sayup-sayup mendhem, lamat-lamat semilir seperti rombongan pesinden yang bersenandung khidmat dari kejauhan. Justru pada situasi seperti itulah, dalam kombinasi yang susah dijelaskan, keroncong mampu berbicara banyak. Cocok untuk didengarkan sore-sore, jika perlu sambil memandangi ke luar jendela yang dibasahi gerimis petang. Jika perasaan Anda tidak jadi melankolis karenanya, mungkin Anda bukan manusia.

* * *

4 thoughts on “Nalika Pak Gesang taksih sugeng

  1. winda

    ah mas, ini kenangan sama rumah mbahku di Lumajang. Lagu2nya Gesang dari kaset yang udah hampir hilang suaranya, bau rokok tembakau mbahKung, hujan dan bau tanahnya, dan semerbak teh melati yang baru dicom ditemani pisang kukus…..

    *akuhomesick*

    Reply
    1. Budi Warsito Post author

      Aduh, pisang godhog itu juga sering ada di rumah mbah kakungku dulu. Rokoknya mbako thingwe (tembakau ngelinthing dhewe), dengan koreknya yg khas (mirip korek gas tapi pakai bensin dan kapas).

      Reply
  2. Antyo

    Wohhh kertas ketikannya masih ada! #menjura
    Sejak dulu saya membayangkan alangkah penatnya si pengetik – dan mungkin jemu – karena menulis teks yang sama berulang kali. Kalau ada typo error itu selingan karena to err is human. 😀

    Pada era letterpress untuk kaset (seperti Yess, Bandung), dan kemudian penggunaan kertas foto yang diproses di kamar gelap (kaset Aquarius), sekali typo terjadi maka akan terpampang di semua produk. Namanya juga duplikasi, sekali salah ya salah semua.

    Kalau yang versi ketikan kesalahan mungkin terjadi pada “edisi” tertentu. Mangsud saya selembar ketikan dan empat lembar lainnya hasil carbon copy 😛

    Reply
    1. Budi Warsito Post author

      Karena ada variasi pita ketik jenis font merah, saya curiga malah si pengetiknya nggak pernah pakai salinan karbon. Lha rak ya mesthi samsaya pegel to. Kalau era letterpress, pegel juga lengannya saat harus tarik-tekan mesinnya. Eh tapi proses duplikasi era letterpress itu dibikin satu per satu atau ada mode lain penggandaannya, Mas?

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *