Mudik

Tadi siang nyobain warung bakso/mi ayam/nasi timlo di dekat rumah ibu. Saya pesan mi ayam dan es degan, alias es kelapa muda. Ibu dan Rani kompakan pesan bakso, si kecil ikut comot-comot aja punya mamanya, sementara anak-anaknya kakak saya duduk di meja sendiri dan tampak ribut membahas game terbaru di gadget mereka, jadi saya tidak terlalu memperhatikan mereka pesan apa. Yang punya warung itu adik kelas saya waktu SD dulu. Mungkin sudah puluhan tahun kami nggak ketemu, dan pertanyaan pertama dia ke saya tadi adalah, “Isih iso ngomong Jowo ora Mas?” Saya ketawa, lalu menjawab dengan basa krama inggil dan logat lokal yang sengaja saya setel supaya terdengar sekasual mungkin, “Lha nggih tasih to Mas..” Meski usianya jauh di bawah saya, atas nama kesopanan saya tetap memanggilnya ‘Mas’. Istrinya juga adik kelas saya, begitu pula asistennya. Mereka adalah bekas murid-murid ibu saya, seperti hampir semua anak di kampung saya sekian tahun lalu. Di ingatan saya mereka dulu masih kecil-kecil, dan sekarang mereka ujug-ujug sudah tua. Mungkin begitu juga saya di mata dan ingatan mereka. Warungnya ramai oleh pengunjung, dan saya sengaja ambil kursi yang bisa melihat leluasa ke arah gerobaknya. Adik kelas saya dan istrinya dan asistennya tampak sibuk melayani pesanan yang tak henti-hentinya mengalir. Beberapa pengunjung datang khusus minta dibungkus, mereka berdiri menunggu pesanannya sambil masih mengenakan helm. Es teler juga kelihatan laku dan paling sering dipesan. Mi ayamnya sendiri terasa lembut dengan tipe kuah gagrak Solo dan sekitarnya, daging ayamnya juga halus saat dikunyah, dan tentu saja ada acar timun segar yang nggak pelit ukuran rajangannya (sayang tak tampak di foto). Atas nama kesopanan saya harus menahan diri tidak menghabiskan satu stoples acar timun itu sendirian padahal ingin. Saya juga sempat mencoba gelindingan bakso dari Ibu dan Rani, kenyalnya pas dengan aroma khas bakso Solo yang agak sulit saya jelaskan. Saya nambah rambak dua. Mi ayam tadi itu harganya Rp 8.000, kalau es degan-nya saya lupa berapa harganya. Maklum ditraktir kakak. Hehehe.

___
NB. Mudik kali ini tidak se-mellow mudik sebelumnya. Yeayy!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *