Mogi D.

MogiDarusman_kaset

Penyanyi bengal anak seorang diplomat Indonesia ini sempat tinggal lama di luar negeri mengikuti tugas orangtuanya, pernah merilis beberapa single plat 7″ di Eropa, bahkan resmi mewakili negara Austria (!) di ajang internasional The World Pop Song Festival 1971 di Jepang sampai masuk babak semifinal (rekaman live festival ini pernah dirilis dalam format vinyl double LP, yang kini sangat rare dan harganya fantastis). Sepulangnya ke Indonesia, Mogi Darusman langsung bikin ulah dengan merilis album protes Aje Gile di penghujung dekade 1970-an. Lewat musik folk-rock slenge’an ala Bob Dylan berlogat Betawi jalanan, lirik blak-blakan lagu “Aje Gile” langsung merangsek menyerang otoritas dan kebobrokan mental negeri, terutama budaya korupsi yang merebak di kalangan pegawai pemerintah dan merasuki hampir segala sendi masyarakat (“Rayap-rayap”, “Koruptor”). Pernyataan sikap yang berani ini berujung cekal di mana-mana: kasetnya dibredel dan lenyap dari peredaran karena disita aparat, Mogi dilarang tampil di TV, bahkan kabarnya dia ditangkap polisi setelah di atas panggung bernyanyi mengejek Presiden Soeharto. Pernah suatu kali ada orang yang nekat meng-cover lagunya di atas panggung dalam sebuah acara pejabat dan alhasil orang tersebut langsung ‘diamankan’ petugas. Ketika karya-karya Pramoedya Ananta Toer diberangus penguasa, konon hanya Mogi yang berani bernyanyi tentang Pram. Dari atas panggung, Gombloh pernah memanggil Mogi yang diam-diam menyelinap di antara penontonnya, untuk bersedia naik ke atas panggung. Penonton langsung bergemuruh mengelu-elukannya, memaksanya bernyanyi. Artwork kaset-kasetnya unik, seperti berpose bugil di atas kloset duduk, atau berfoto bareng anjingnya—dia namai Baron Darusman—dengan caption keras: “Nasib anjing gua lebih baik dari kita.” Rentang eksplorasi tema lagunya cukup luas, mulai dari kematian, atau lebih tepatnya bunuh diri, pada lagu “Nisan” (“…selamat tinggal/ kala berpisah/ kutatap musuhmu…“), hingga problem kewarasan manusia pada “Orang-orang Gila” (“…bahkan astronout-astronout juga menegaskan/ bahwa di bulan pun terdapat orang-orang gila/ dan sampainya mereka ke bulan pun atas ulah orang-orang yang gila…“). Ada juga lagu tentang urbanisasi, penyesalan seorang mantan straatjongen, hingga fenomena perek. Kali lain dia berdendang tentang penguasa yang hipokrit, “…cerita paduka yang sangat ramah/ cerita bencana yang dianggapnya lumrah…” Sebetulnya lagu-lagu Mogi tak melulu keras dan bernuansa protes, ada juga terselip beberapa nomor romantis seperti lagu “Liza” dengan vokal serak yang susah kautolak, dan lirik menyentuh di lagu “Keresahan” semacam “..bintang kejora di langit/ jauh dan mistis seperti senyummu..” Lagu-lagu lainnya juga cukup eklektik, tak hanya country-folk: ada warna pop elegan sarat piano yang bisa dimasukkan ke film Teguh Karya jika mau, ada juga spoken words ala baca puisi tentang otokritik pada tanah air (“Pertiwi”) yang bisa jadi mengilhami adegan Rangga di film AAdC dua dekade setelahnya. Ada beberapa jam session panjang beraroma blues (mungkin dia sedang bosan), suara lamat-lamat pesinden tradisional yang diselipkan dalam track berbahasa Inggris, hingga sentuhan new wave di rilisan akhir ’80an-nya. Sesekali dia terdengar seperti Broery, di kali lain mirip Iwan Fals, Doel Sumbang, Gito Rollies, bahkan d’Bodors; tapi dalam versi yang lebih baik dari semua nama itu. Mogi sempat bermasalah dengan kolaboratornya, serta dituduh menjiplak lagu orang. Teguh Esha, kreator Ali Topan Anak Jalanan yang juga menulis lirik beberapa lagu Mogi (hubungan mereka berakhir buruk) dalam sebuah wawancara tahun 1978 dengan majalah Tempo menyebut Mogi sebagai pribadi yang meragukan dan ada kesan bajingan. Kebetulan wajah ganteng dan potongan bengal Mogi sempat membawanya ke dunia akting layar lebar, berperan antagonis sebagai salah satu pemuda pemerkosa Sum Kuning (!) di film Perawan Desa (1978) yang diangkat dari kisah nyata yang sempat menggegerkan stabilitas nasional itu. Ada satu jasa Mogi Darusman yang sering dilupakan dunia musik pop Indonesia: dialah yang pertama kali menemukan bakat Vina Panduwinata.

* * *

NB: Foto ilustrasi di atas diambil dari koleksi pribadi saya. Jika ada rilisan lain yang terlewat, silakan beritahu di kolom komentar. Selain itu ada juga plat single 7″ dengan nama Mogi D. rilisan Austria , dan plat 12″ tanpa cover (promo radio) rilisan Indonesia di mana baik side A maupun B-nya berisi lagu-lagu Mogi Darusman, kebanyakan diambil dari dua kaset teratas di foto tadi.

Aje Gile

Rayap-rayap

Koruptor

Arti Sebuah Mimpi

Pertiwi

2 thoughts on “Mogi D.

  1. Johan

    Baca postingan ini malah paling penasaran banget sama lagu “Keresahan”. Googling2 gak dapet2 euy. Lu ada file MP3-nya Bud? Bagi dong… (Pamaeh pisan ya gw, cuekk) LOL

    =====
    Gue ada beberapa mp3 lagu-lagu Mogi (dulu download dari blog orang) tapi kok ya malah nggak ada lagu “Keresahan” di situ, hehehe. Maen atuh ke tempat gue, ntar gue dengerin lagunya dari plat/kaset. –BW

    Reply
  2. Dwi Bagus MB

    Mas Bud, salam kenal. Saya Bagus, salah seorang fans MD. Ini syair lagu Keresahan yang masih saya ingat (ada versi Inggrisnya dinyanyikan oleh Tantowi Yahya, kaykanya Mogi ganti syairnya aja)

    Kurasakan keresahan
    Perobahan jiwa dalam diri
    Mungkin angin berganti arah
    Atau pucuk jiwaku menyerah kalah

    Awan hitam berputaran
    Lelah terasa mengurung sukmaku
    “Ku ingin petik rembulan
    Walau mereka mentertawakanku

    Bintang kejora di langit
    Jauh dan mistis seperti senyummu
    Kupanggil sekeping kenangan
    Namun kutahu
    Dia berlalu sendu

    =====
    Salam kenal juga, Bung Bagus. Wah makasih banget transkrip liriknya. 🙂 Boleh tahu apa judul versi English-nya? –BW

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *