Migala / Antony and The Johnsons / soap&skin

Migala_CD

Migala – Asi Duele Un Verano
(CD, Acuarela, 1999)

Seperti hendak menguji ulang bagaimana melankolia mampu menyeruak di antara musik yang melintasi batas-batas logat bahasa, band indie rock Spanyol ini bermain-main dengan bunyi instrumen yang digubah sedemikian rupa dan suara-suara tambahan yang membuatnya lebih sendu. Apakah nada-nada kaku dari piano gospel dan peluit kapal (!) di nomor pembuka “Wait The Ships Come Back”, suara gitar tipis dan sayup-sayup theremin di beberapa track lainnya berhasil menghadirkan perasaan melankolis itu? Di “Gurb Songs”, komposisi terpanjang sekaligus terkuat di album ini, kesenduan hadir dalam wujud lain: narasi spoken words. Lagu yang ditulis berdasarkan beberapa bait puisi dari penyair Amerika Tim Dlugos ini adalah kisah romansa berumur pendek dengan banyak metafora, yang melibatkan koleksi prangko Afrika Utara dan pengamatan jeli, “…we got to know each other by caressing each other scars/ avoiding getting to close to know too much…” Ada juga kiasan atas ingatan dan pengharapan (“…we wanted happiness to be/ like a virus that reaches every place in a sick body…”), selipan name-dropping nama-nama cool seperti Nick Drake dan The Smiths (trik standar dalam upaya menjajaki lawan jenis, bukan?) hingga tibalah saatnya: si laki-laki menyadari sang perempuan telah pergi. Di beberapa komposisi, vokal berat Abel Hernandez terdengar membius seperti versi lebih berumur dari Matt Berninger (jika vokalis The National itu berniat mencari saudara tua sebaritonnya, dia bisa mulai dari Madrid). Album ini juga menyadarkan bahwa melankolia ternyata bisa tiba-tiba datang menginterupsi, justru lewat suara-suara yang tak kita kehendaki. Lagu “Dactylographique” misalnya, menabrakkan harmonisasi piano yang lembut dengan suara burung gagak; atau kesayuan alunan akordeon yang berbarengan suara-suara obrolan televisi dan gonggongan anjing pada lagu “Akita”. Cara lainnya, dengan memasukkan suara bisikan anak perempuan dalam bahasa Spanyol dilanjutkan bunyi badai di lagu “Regular Storm Sounds”; atau nuansa lo-fi pada “When I Go I Go” yang dengan cueknya memunculkan suara jangkrik. Semua ikhtiar ini, disadari atau tidak, adalah satu dari sekian upaya seumur hidup manusia menerjemahkan ke dalam musik, seperti apa kompleksitas perasaan mereka. Dan itu adalah misteri sepanjang masa. *[RA/BW]

>

AntonyAndTheJohnsons_CD

Antony & The Johnsons – I am a Bird Now
CD, Secretly Canadian, 2005

Seramai apa pun musik yang mengiringi Antony Hegarty, suaranya adalah kedukaan abadi. Saat menyadari betapa hal itu mengelilingi kesehariannya, lewat album I am a Bird Now ini ia seperti merangkum semuanya. Hegarty bisa jauh lebih galau dari Justin Vernon, cengkok vokalnya setipe Nina Simone yang diramu dengan kombinasi Cat Stevens dan David Byrne, menebarkan bayang-bayang feminin meski sebenarnya ia lebih dekat dengan pengakuan dirinya sebagai perempuan di lagu “For Today I Am a Boy”. (Di Wikipedia, entry tentang dirinya bahkan sudah maklum dan memakai kata ganti she dan her.) Karyanya adalah gabungan kekuatan dan kelembutan, meski obsesi akan kematian justru datang pagi-pagi di nomor pembuka “Hope There’s Someone”, yang langsung menghantam sejak kalimat pertama, “…hope there’s someone/ who’ll take care of me/ when I die, will I go…” Musiknya sunyi dan menghantui, hanya ditemani piano di lagu itu vokalnya terdengar agak tercenung, dengan suara latar yang kehilangan arah. Dari awalnya yang lirih, kemudian meninggi secara intens, lalu kembali lirih. Sulit bagi kita, bahkan mungkin juga bagi dirinya sendiri, untuk tidak terharu saat membawakan lagu itu di rekaman maupun di atas panggung. Mungkin kesunyian juga yang menarik Lou Reed untuk turut berbagi dan saling merangkul (mereka sudah kenal lama sebelum album ini dirilis) di mana Antony and The Johnsons kemudian menyulapnya menjadi lebih gemerlap dengan tempo upbeat, tiupan saksofon, dan iringan brass section dalam lagu kolaborasi tentang hubungan yang abusive, “Fistful Of Love”. Sementara lagu “Spiralling” adalah upaya manis dari Devendra Banhart untuk bisa menyatu dengan vokal ikonik Antony—meski itu tidak perlu—sampai harus menambahkan string section yang menyayat di penghujung durasi. Selain dua nama itu, ada Rufus Wainwright (“What Can I Do?”) dalam komposisi pendek dengan alunan khas Rufus yang penuh kepercayaan diri, dan kelembutan Boy George (“You Are My Sister”) dimana mereka berdua saling melempar kalimat sisterhood penuh kasih “…you are my sister/ and I love you…” Sementara nomor pamungkas, “Bird Gerhl”, sejatinya adalah rasa kagum dan sayang Hegarty pada Candy “Warhol Superstar” Darling, yang fotonya dijadikan sampul album ini (karya fotografer Peter Hujar berjudul “Candy Darling on Her Deathbed”, 1974). Penyanyi ajaib yang sangat berbakat ini bisa jadi sudah terbiasa diselimuti hal-hal kelam, sedemikian meleburnya sehingga tak merasa perlu lagi memberinya label-label. Keredupan yang bercahaya itu memancar dengan sendirinya, satu dari sekian kontradiksi yang mungkin tak akan pernah selesai mendefinisikan dirinya. Bahkan oleh Mercury Prize 2005 sekalipun. *[RA/BW]

>

soapandskin_still

soap&skin – Lovetune for Vacuum
(CD, Play It Again Sam Records, 2009)

Seandainya Nico terlahir kembali dan merasuki tubuh Bjork lalu reinkarnasi di pegunungan Austria, mungkin hasilnya takkan jauh dari sosok Anja Plaschg. Usianya masih terlalu belia saat merilis debut mencekam ini, 19 tahun, tapi Lovetune For Vacuum (2009) tak menunjukkan sedikit pun tanda-tanda keremajaan musiknya. Lagu “Spiracle” adalah bunyi-bunyian piano yang menyeramkan dengan nyanyian geram menahan perih, mungkin itu dirinya, di masa kecil, “..when I was a child/ I rend my tongue/ …peers pushed me hard in my head/ in my neck/ in my chest/ in my waist/ in my butt…” dan pada bisikan “…I still beg/ please help me…” yang menyayat sekaligus membingungkan, kita terjebak pada dilema antara ingin menolong seseorang yang terluka tapi sekaligus khawatir kesakitannya akan menyerang kita. Nomor pembuka, “Sleep”, menyertakan teriakan mirip Selma di film Dancer in the Dark ketika akan dieksekusi, dan jeritan histeris itu sangat mungkin akan terus-menerus mengagetkan kita, dengan kemunculannya yang tiba-tiba, bahkan di saat kita merasa telah menyiapkan antisipasinya. Memang ada kalanya perempuan ini bisa juga bersuara lirih seperti angin pegunungan yang sejuk, di lagu “Mr Gaunt Pt 1000” dengan kata-kata polos seperti “I fell in love with you world/ but I know, I know that’s just a sky/ I don’t know where, where I go…“; tapi di lagu “Marche Funebre”, sebagaimana judulnya, ia terdengar seperti anggota keluarga yang paling terpukul di iring-iringan upacara pemakaman, kita merasa harus menghadirinya meski sore itu lebih mendung dari biasanya. Sesekali Anja tampak ingin meyakini bahwa di balik semua keremangan itu masih ada peluang keindahan, semustahil apa pun kedengarannya; “Cry Wolf” dengan liukan vokal lembut, alunan piano repetitif, selipan bunyi akordeon; atau “Brothers of Sleep”—epilog pendek yang diulang-ulang selama lima menit lebih, “I dreamed of you/ every day/ and every night” (!!!). Kebanyakan liriknya memang skeptis, seperti kebersamaan dua orang yang takkan pernah terjadi (“Fall Foliage”), tentang glaukoma dan tremor dan maut (“Thanatos”), duka dan teror menyelubungi panggung sirkus (kehidupan!) yang hampir bangkrut, kabeh wis surup, hari mulai gelap. Mendengar keseluruhan album ini seperti membuka lembar-lembar buku harian dari seseorang yang sudah berpulang terlalu cepat; ada penyesalan karena mengintip, tapi rasa merinding-rinding seperti kebelet pipis dan keseruan yang mencekat itu selalu memanggil-manggil kita untuk kembali. *[RA/BW]

 

Tiga ulasan di atas ditulis bareng oleh Rahmat Arham dan saya, untuk Kineruku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *