Mengingat Sheila


Anugerah Terindah Yang Pernah Kumiliki”
[track ke-4 dari album Sheila on 7, 1999]

“Band ini bakal besar,” ujar seorang teman dengan intonasi yakin dan mimik serius, di kamar kosnya sekitar 14 tahun silam, saat lagu-lagu dari album debut Sheila on 7 mulai sering diputar di radio. Saya tertawa meragukannya karena jika lagu “Kita” yang dijadikan patokan, itu seperti anekdot di siang bolong. Bandung pertengahan 1999 belum segerah sekarang, kami berdua sedang belajar mati-matian demi UAS Kalkulus esok harinya. Kata ‘kami’ mungkin kurang tepat, karena saya lebih memilih mengobrak-abrik rak kaset koleksi teman saya itu ketimbang berkutat soal limit fungsi dan diferensial integral. Saya membawa pulang kaset Sheila on 7, gagal di ujian Kalkulus dan harus mengulang mata kuliah itu tiga kali. Sejujurnya saya tak pernah sungguh-sungguh memutar kaset pinjaman itu, karena toh televisi sudah menyediakan semuanya. Videoklip “Kita” tampak konyol dengan Irgi Fahrezi yang tak pernah pantas menjadi Lupus, Mona Ratuliu terlihat sedikit lebih tua untuk perannya, Fahrani masih belum terlalu jangkung dan bertato, dan mereka semua menari-nari penuh tawa—seolah masa remaja selalu berarti musik permen yang kelewat ceria—dan ya, ada topi aneh itu, yang lebih mirip kap lampu bertengger di kepala Duta. Sementara lagu “Dan” yang lebih kelam, dengan rambut acak-acakan dan pendar-pendar bohlam disentak pada kalimat “caci maki saja diriku” tentu saja lebih menarik perhatian jiwa-jiwa resah usia 19, meski grafik perjalanan emosi saya yang mulai mengkhawatirkan itu justru terselamatkan lewat cara ganjilnya sendiri oleh hits selanjutnya, “Anugerah Terindah Yang Pernah Kumiliki”.

Intro syahdu “Anugerah..” seperti banyak orang tahu tentu saja mengingatkan pada “Father and Son”-nya Cat Stevens, tapi toh Ebiet G. Ade juga sudah menirunya terlebih dahulu di lagu “Kontradiksi di Dalam”; sebagaimana “Mobil Balap”-nya Naif berintro sangat mirip “Trains and Boats and Planes”-nya Bacharach (terutama versi The Box Tops), dan Kurt Cobain mencuri riff Killing Joke untuk “Kambing Liar”, ehm, maksud saya “Come As You Are”. Ingatan samar-samar atas lagu Cat Stevens itu (saya pernah harus ikut paduan suara waktu SMP dan beberapa lagu wajibnya diambil dari katalog pra-Yusuf Islam) langsung menyeruak ketika Duta menggumamkan “Melihat tawamu/ mendengar senandungmu” dalam tarikan vokal malas-malasan terbaiknya—sebelum disempurnakan di “Sephia”. Sementara di videoklip, senyum manis Dian Sastro yang masih kinyis-kinyis pra-AAdC adalah deskripsi akurat untuk “terlihat jelas di mataku/ warna-warni indahmu“. Semua cara klise di Cinematography 101 dipakai demi menghadirkan nuansa dramatis untuk lagu yang sebenarnya sudah cukup dramatis. Di satu adegan, kamera bergerak melayang ke atas dan ke bawah, menyorot Duta berkostum jaring-jaring (!) menengadahkan tangan ke udara sambil ber-“wuoo…wuoo…” sementara asap dry-ice mengepul tipis di sekelilingnya, dan seberkas cahaya menyelinap di antara tiang-tiang besar. Gebukan drum Anton terdengar ragu-ragu di awal lagu (sosok mungilnya tenggelam ditelan drum set-nya sendiri, perhatikan gestur uniknya mengayun stik dari agak jauh), lalu menanjak mantap dari menit ke menit—sempat-sempatnya dia selipkan deru mars sekian detik di pertengahan lagu!—seperti ancang-ancang sebelum dihajar bunyi-bunyian string section yang meski lamat-lamat terdengar kian menggila. Dan, oh, suara baling-baling helikopter itu: apakah aku berada di Tour of Duty ataukah mereka mengundang serdadu Tour of Duty? Sementara Eross mengocok gitarnya dengan leher gitar mendekati lehernya, Adam dengan topi pancing merem melek menikmati permainan bass-nya sendiri, dan kalung rantai Sakti belum berganti menjadi tasbih. Selalu ada yang terasa sejuk menenangkan di lagu “Anugerah..”, entah apa, yang saya cari-cari selama itu. Semacam puji syukur atas apa yang ada di depan mata? Ajakan untuk tak terlalu keras berusaha? Tatapan penuh arti Dian Sastro memamerkan tulang belikat yang lezat? Tapi kalimat “Redakan ambisiku/ tepikan khilafku/ dari bunga yang layu” memang terdengar seperti tepukan ramah di bahu yang resah.

Mungkin ada masanya ketika saya, atau juga Anda, pernah (atau masih) menyukai Sheila on 7 lantaran mereka kelihatan demikian bersahaja. Musikalitas dan penampilan mereka jelas tidak se-sophisticated KLa Project atau Dewa 19 era itu, tapi juga tidak seculun Tato atau Stinky. Berada di papan tengah klasemen pop kala itu, bukankah yang mereka sodorkan justru cermin besar ke muka para remaja yang sedang menjalani masa transisi: bukan lagi kanak-kanak sekaligus belum pula dewasa? Boleh jadi selera berpakaian mereka buruk, potongan rambut yang jauh dari kesan ngartis, logat medok Jawa tersembur di sana-sini (menyimak footage wawancara mereka adalah hiburan nostalgia tersendiri), namun itulah yang membuat mereka terasa tak berjarak. Mereka manusia biasa seperti rata-rata kita pada umumnya, atau setidaknya saya, yang kebetulan berumur sebaya dengan Duta dkk. Ada kecenderungan saya saat itu untuk selalu memantau apa saja yang sudah dicapai orang lain yang seumuran; dan album pertama mereka ternyata meledak, disusul ledakan album kedua dan ketiga. Ketika ada kabar salah satu konser mereka di Jogja terpaksa distop aparat karena penonton yang datang terlalu banyak hingga dikhawatirkan rusuh, saya hanya bisa geleng-geleng kepala: ini bukan dangdut, bukan metal, ini pop! Suka tidak suka, Sheila on 7 telah membuka jalan bagi Peterpan dan Nidji, dan pada akhirnya seluruh band-band KW-an mereka di dekade berikutnya. Tepat seperti ramalan teman saya tadi, mereka telah menggapai ciri-ciri band besar: mencicipi reputasi sebagai satu dari sedikit “band sejuta kopi” di awal dekade 2000-an, Eross sudah memacari Luna Maya jauh sebelum Ariel, konflik internal dipecatnya Anton, Sakti banting setir ke jalan Tuhan, karier Edi Brokoli di TV langsung tamat setelah menulis “F*ck Sheila on 7” di kaosnya, dan seterusnya dan sebagainya. Boleh jadi mereka kini sudah tak sebersinar dan berpijar seperti dulu kala, tapi bahwa mereka sempat menemani banyak remaja melewati masa noraknya dan beranjak dewasa, anugerah itu sudah lebih dari cukup.

* * *

::: Merayakan ulang tahun ke-17 Sheila on 7 pada tanggal 6 Mei 2013, Fakhri Zakaria, Sheila Gank nomer siji sak Muntilan dan sekitarnya, mengajak 17 orang menulis tentang lagu Sheila on 7 yang menurut mereka paling berkesan. Selengkapnya bisa dibaca di blog-nya.

 

12 thoughts on “Mengingat Sheila

  1. titiw

    Aaaaah.. tulisan yang sangat mumpuni, masnya.. Jadi inget masa-masa SMA yang ditembak cowok, aku tolak, dan dia nyanyi2 lagu DAN secara nonstop. Norak. Tapi bersahaja. Dan selama ini denger Trains And Boats And Planes kok aku gak pernah ngeh itu mirip “Mobil Balap” yaaa.. :))

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *