Mengenang Alm. Pak Kurdt

Kira-kira pada hari ini 23 tahun yang lalu, 5 April 1994 waktu Seattle atau Rabu Kliwon 6 April 1994 menurut penanggalan di Jawa Tengah, Kurt Cobain tewas. Jasadnya baru ditemukan beberapa hari kemudian, konon masih mengenakan kaus band cult Half Japanese, lalu berkembang beberapa teori yang mengatakan apakah dia sebetulnya dibunuh atau memang bunuh diri. Saya pertama kali mengenal musik Nirvana justru bukan dari kaset Nevermind yang sampulnya ikonik itu (foto si jabang bayi di dalam air), yang pertama kali dirilis pada September 1991 di Amerika (yang versi lokalnya tentu saja baru muncul di sini beberapa lama kemudian); melainkan dari sebuah kaset kompilasi Europarade edisi Januari 1992 ini, yang baru saja saya temukan lagi puluhan tahun kemudian. Kaset berisi rekaman/transkripsi siaran Radio Nederland itu dulu pertama kali saya lihat di rumah seorang tetangga nyentrik di dekat rel kereta api, yang hobinya memang mengotak-atik pemancar radio dan mencoba-coba apapun yang aneh. Saya masih kelas 6 SD pada saat itu dan mungkin sedang persiapan Ebtanas 1992 (trivia facts: angka NEM saya untuk Matematika waktu itu bulat sempurna 10.00, hehe); dan rasanya bisa dimengerti jika program musik pop Barat dengan pengantar bahasa Indonesia yang disiarkan dari kota Hilversum di Belanda ke seluruh penjuru dunia itu lebih menarik perhatian cah ndeso di pelosok Jateng seperti saya ini, di tengah membosankannya lagu-lagu cengeng Deddy Dores, Iga Mawarni, Ruth Sahanaya, album-album awal Slank atau yang paling mending Cikal-nya Iwan Fals dan album kedua Swami. Di situ terdengar penyiar laki-laki dengan suara berwibawa, yang sebelum mengantarkan lagu “Smells Like Teen Spirit” dia berkata dengan logat resmi yang sedikit kagok, “…Nirvana, suatu kelompok musikus yang diramalkan akan ngetop tahun 1992 ini di seluruh dunia. Musik mereka adalah suatu adukan Sting (?) dan heavy metal, yang dibumbui juga musik rock gaya tahun ’60an…” Lalu meluncurlah intro legendaris itu, intro yang mengubah wajah industri musik dunia.. and the rest is history. Ramalan itu benar adanya. Kita kemudian tahu, album Nevermind itu bahkan berhasil menggeser album Dangerous-nya Michael Jackson dari puncak chart US Billboard 200. Dan bukan kebetulan lagu “Black or White” termuat juga di kompilasi ini, di akhir side B.

[Budi Warsito]

__
Videoklip Nirvana “Smells Like Teen Spirit”, di mana orang-orang (terutama para extras) di lokasi syuting didera kegerahan akibat pengapnya ruangan dan juga kelelahan karena harus mendengarkan berulang-ulang lagu itu, yang secara psikologis malah menambah sangar aura visualnya.

__
Cover version terbaik “Smells Like Teen Spirit”, dalam bahasa Finlandia, oleh band humppa bernama Eläkeläiset.

__
Sementara ini adalah cover version terburuk yang pernah ada. Definitely teen spirit at its finest.

______________
Tulisan terkait: Nirvana unplugged, seruling Yamaha, gerombolan cool kids.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *