Mengenang Suwargi Pak Chaplin

Tepat di hari Natal 34 tahun lalu, Chaplin meninggal dunia. Usianya 88 tahun. Tapi karyanya bakal tetap hidup seribu tahun lagi. Saya menemukan ini di buku harian saya, corat-coret 7 tahun lalu. Terasa naif di sana-sini. Maklum, masih muda. Ini dia. *tutup muka*

>> Thursday | September 16, 2004 | 01:36 AM

“Buck up – never say die! We’ll get along.”
(Modern Times’ closing intertitle. Charles Chaplin. USA. 1936)

Kampus J. adalah kampus terik gersang nggak mutu. Minggu lalu harus ke sana untuk sebuah keperluan: diundang berbicara di acara pemutaran film dan diskusi dalam rangka penerimaan mahasiswa baru. Bercucuran keringat ke sana, naik Jupe dibakar matahari, diasapi bis Damri. Sesampainya di lokasi, sempat minum teh-botol-dingin-menyegarkan di kantin Sastra, mendaftar kembali film apa saja di tas (waduh, DVD Man Bites Dog nyelip di mana ya?), kirim SMS sana sini (”halo-hai-saya-sudah-sampai-nih”), mengecek buku agenda, meraut pensil bujel kesayangan, Tyler (?) iseng mencoba menghitung jumlah pohon, sampai akhirnya seorang panitia datang juga menjemput. Astaga, masih muda banget (punten-kang-terlambat-dan-sebagainya-aku-sih-tersenyum-simpul-saja). Baik, baik. Tidak apa. Kami naik ke lantai dua. Tajuk acara kecil-kecilan itu kurang lebih: “Chaplin, Film, dan Sejarah.” Hmmm.

Panitia sempat mengajukan pilihan untuk memutar film Chaplin yang mana: The Circus (1928), atau The Kid (1925). Bahkan di layar proyektor (belakangan baru tahu mereka menyewanya dari Ruku!) sudah tersorot gambar potongan beberapa scene dari dua film itu. Tapi aku keberatan. Kupikir bukan dua-duanya. The Circus memang kental nuansa komedinya, sebuah jalan pintas yang tepat untuk berkenalan dengan karya-karya jenius Chaplin. (Adegan berjalan-di-atas-tali-digangguin-monyet-dan-celana-melorot di film itu, what a brilliant tightrope sequence!) Sementara The Kid bolehlah populer karena hubungan emosionalnya dengan si kecil Jackie yang sangat menyentuh. (Adegan penyelamatan yang heroik dan dramatis di akhir film itu—diputar kembali di malam Academy Award, Los Angeles, April 1972 when 83-year-old-Chaplin was invited to return to America to receive a special Oscar—masih saja membuatku merinding dan berkaca-kaca setiap kali menontonnya.) Tapi ngomongin Chaplin dalam konteks sejarah dunia (termasuk sinema), jelas lebih tepat jika memakai film Modern Times (1936). Ini bukan sekadar film komedi, Bung. Ini potret sosial yang jeli, sarat dengan satir. Dari film itu kita bisa membahas banyak hal: mekanisasi pabrik-pabrik dan dehumanisasi pekerja, perkembangan teknologi film (silent vs. talkie), kelas-kelas sosial masyarakat Amerika di era Depresi, perkembangan ideologi dunia, dsb, dsb. (Well, memang ada The Great Dictator (1940) yang memparodikan Hitler dan fasisme—yang tentu saja bisa memancing diskusi politik yang lebih seru—tapi ada masalah durasi yang terlalu panjang, dan hey, there’s no little tramp our little fellow there!) Dan tentu saja, di film Modern Times masih tetap bertaburan ketrampilan fisik khas Chaplin: pameran ketangkasan jasmani yang memukau, dengan pengaturan timing yang sempurna—hurts and humor, hard works and hard-knocks, it’s all there! Semuanya dirangkai dalam plot cerita yang logis dan rapi, in a really careful display. Setelah mempertimbangkan segala masukan (atau paksaan?) itu, panitia mau nggak mau akhirnya setuju.

Acara dimulai. Senyum-senyum melihat mahasiwa-mahasiswa baru masuk ruangan, beberapa tampak ragu-ragu dan malu-malu. Tyler (?) berbisik ke telingaku, “Hehe, coba kalo mereka tau elo juga angk-…” Ucapannya terpotong sodokan sikutku ke perutnya. Tyler (?) mesti diam meski dia tak suka Chaplin. (“I prefer Keaton,” he once said. “..or Lloyd.”) Whatever, Tyler (?), just keep your mouth shut. De gustibus non est disputandum. Di ruangan yang lantainya berundak-undak itu, aku memilih duduk di pojok. Lampu dimatikan, film diputar. Masih saja tergetar menatap opening title berupa jam besar dan musik pengiringnya yang terasa betul menampar-nampar hati… Melemparku kembali ke sebuah kamar sempit di Shinjuku, saat pertama kali menonton film ini bertahun-tahun silam… (“Kudamono ga doko desu ka?” Tokyo-dingin-sekali, dan sepi-menggelembung-seperti-babi. Yeah, right.) … Cahaya-berpendar-pendar-tak-rata, Chaplin beraksi, garis-semburat-tanda-tlah-lama, penonton tergelak-gelak, panitia meringis sesekali… oh oh, benar-benar hitam-putih yang seksi!

Di sesi diskusi, aku dan Maneka—teman baik sesama penggemar Chaplin yang juga diundang berbicara—bergantian menjelaskan simbol-simbol di film itu. I said like City Lights (another Chaplin’s masterpiece in the talkies-era, 1931), Modern Times was to be essentially a silent film with sound effects and a musical score … We talked about the Great Depression and the new problems of the 1930s—poverty and unemployments (“We’re not burglars. We’re hungry.”); the tyranny of the machine (one of the most memorable film scenes of all time: Chaplin getting caught up in the cogs of a giant machine, haha), strikes and political intolerance (the red flag, anyone?), even narcotics (Chaplin-getting-high-in-jail is a very funny sequence!) … Maneka quoted Barthes to approach the proletarian theme. She admired the smart opening scene (a very cynical one, actually), a symbolic juxtaposition of shots of sheep being herded and of workers streaming out of a factory… Blah blah blah… Mulut kami berbusa-busa. (Ternyata siaran di radio dan ngomong langsung di depan audiens adalah dua hal yang sama sekali berbeda.)

Kampus J. benar-benar panas, terik gersang nggak mutu. (Senang juga ketika mereka cerita salah satu program ospek mereka adalah menanam pohon-pohon di kampus. Langsung terkenang kampus rindang G. yang pernah aku akrabi.. all right you sentimental prick!) Kami lalu mendapat sekotak konsumsi, meneguk air mineral, dan melanjutkan ocehan. Berikutnya benar-benar ke mana-mana… Bahwa Chaplin pernah ke Bandung dan nginep di Savoy-Homann (sempat menimbulkan kericuhan hingga terpaksa didatangkan Chaplin palsu dari seniman jalan Braga untuk mengecoh massa yang histeris). Bahwa Chaplin dituduh komunis dan diusir dari Amerika. Bahwa Chaplin adalah womanizer (uhuk-uhuk!). Bahwa Chaplin pernah ke Candi Prambanan dan tersentuh saat melihat pertunjukan Sendratari Ramayana. Bahwa Jojon-Asmuni-Gogon adalah sekumpulan epigon yang gagal, Chaplin-wannabes yang ampun-deh-muke-lu-jauuh! Gosip-gosip-nggak-mutu bahwa Che Guevara (!) pernah ke Indonesia, dan Hitler (!!) hidup lama bersembunyi di Lombok. Astaga. Astaga. Kok jauh amat melencengnya? Lalu seseorang ngacung dan bertanya, soal kumis Chaplin dan Hitler, siapa meniru siapa? Waduh, nggak ada pertanyaan lain, apa? Tapi lucu juga sih. I said both had chosen to wear similar moustaches, even if only one of them was real… Well, Chaplin dan Hitler memang banyak kemiripan sih. Mereka lahir hanya selisih empat hari (!) pada April 1889. What a coincidence! Keduanya pun sama-sama mengalami masa kecil yang suram, sama-sama bergulat melawan kemiskinan, until they reached great success in their different respective fields—perhaps the best loved and the most hated men in the world. Maneka lalu menyambung, blah blah blah…

Acara selesai, dan sewaktu pulang, baru sadar kalau di luar turun hujan. Baiklah, kalo tadi berangkat kepanasan, sekarang pulang pun harus kehujanan. Kota ini memang aneh. Tapi aku menikmatinya, sementara Tyler (?) terus saja menggerutu. Ini perjalanan pulang yang seru: Timbuktu ke arah Barat, waktu itu sudah sore, senja kemerahan dan matahari kuning bulat. Persis sekali adegan terakhir film-film Chaplin: gelandangan itu berjalan ke arah horizon. Artinya, sesial apapun hari ini, masih ada secercah harap esok hari. Ya, ya, ya, Chaplin selalu mengajariku soal optimisme. Tiba-tiba teringat Tuan Polan, di mana dia sekarang ya? Dia benar-benar harus menonton film ini!

Damai di sana, Pak Chaplin. Gusti Allah mberkahi.

 

3 thoughts on “Mengenang Suwargi Pak Chaplin

  1. Galau Gimana Gituh Post author

    mohon petunjuk, bro. ane baru mau dalemin Chaplin ni, bwt skripsi. ada buku2 or website tertentu sbg referensi yg oke? trims seblumnya.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *