Mengenang Alm. Pak Kurdt (Bag. 2)

Pernah ketika saya SMA ada festival band terselenggara di sekolah saya (dari, untuk, dan oleh siswa sendiri) dan para penampilnya adalah band-band dadakan bikinan teman-teman seangkatan saya kelas 2, juga adik-adik kelas 1 dan kakak-kakak kelas 3. Ketika itu kaset Pandawa Lima baru saja keluar setelah lama tertunda-tertunda, dan hampir seluruh band penampil seperti kompakan nyanyi secara bergiliran beberapa hits dari album terbaru Dewa 19 itu. “Kamulah Satu-satunya” adalah nomor yang paling sering dicover, dengan hasil menyedihkan tentunya, dan tak satu pun berani membawakan “Kirana”. Festival itu nyaris jatuh membosankan, kalau saja tak ada satu band ‘lumayan beda’ yang tiba-tiba dengan pedenya naik ke atas panggung, dan terdaftar di panitia dengan nama… Nirvana ‘97. Ketika itu memang tahun 1997, Kurt Cobain sudah tiga tahun mati tapi masih ada saja remaja-remaja tanggung nan resah yang terinspirasi buat ngeband meski skill pas-pasan, berusaha keras membawakan semirip mungkin lagu-lagu cover version Nirvana dan kebanyakan sih memang gagal. Festival itu terasa agak konyol sebetulnya, karena para penampil tidak diperbolehkan memakai kostum manggung selain seragam putih abu-abu. Si Bokis, vokalis Nirvana ‘97, adalah bandit angkatan yang terkenal cerdik dan licik (dari situlah julukan Bokis berasal), postur tubuhnya memang pendek kecil sebagaimana Cobain tampak mungil dibandingkan si raksasa Novoselic, tapi tetap saja Kurdt nggak pernah manggung pakai kemeja putih dengan badge OSIS di dada kirinya! (Joke ngawur di Surakarta dan sekitarnya ketika itu: OSIS = Ojo Senggol Iki Susu.) Si Bokis tampil pethakilan di atas panggung, dia nggak pegang instrumen apa pun selain mikrofon, rajin melakukan gerakan loncat-loncat yang tiada guna dan headbanging yang nggak perlu (rambutnya cepak), lalu apakah pita suaranya mirip Kurdt? Jauh, bos. Apakah si gitaris bisa menyelesaikan dengan baik intro ikonik di awal lagu “Come As You Are” dan solo gitar di menit kedua? Ampun, jelek aja belum. Sepertinya tak ada yang ingat apa kontribusi si bassist di situ, dan pukulan-pukulan si drummer pun sering meleset sana-sini. Saya meringis membayangkan Kurdt ikut meringis di alam sana. Setelah mereka selesai menyiksa kuping-kuping penonton termasuk guru-guru yang tersenyum kecut di barisan kursi paling depan, saya menghampiri si Bokis di belakang panggung. Kami pernah sekelas waktu kelas satu.

“Apik ora penampilanku, Bud?”

“Apik Kis, apik.”

Saya tahu guru-guru BP kurang menyukai Bokis karena sering bolos dan tukang berkelahi (portfolio legendarisnya: pernah tiba-tiba dikeroyok satu geng cowok kelas 3 yang beringas di saat dia masih kelas 1 dan bukannya menyerah dia malah sempat memberikan perlawanan berarti di duel yang tak seimbang itu berkat kemampuan silatnya, dan sejak itu dia lumayan disegani), tapi sebagai sesama tukang bolos saya merasa harus mengatakan ini, “Kowe ngerti ora Kis, Kurt Cobain ora lulus SMA?”

Si Bokis tertegun sejenak, lalu senyumnya mengembang seperti mendapat wahyu bahwa jalan hidup yang ditempuhnya selama ini sudah benar. “Tenane Bud? Trus deknen ngeband dan langsung terkenal?” Saya sedih karena jawaban saya mungkin mengecewakan dia, “Yo ra lah, deknen kerjo ndhisik..” Si Bokis makin antusias, “Kerjo opo deknen, Bud? Di industri musik?”

“Ora Kis, deknen dadi tukang ngosek WC.”

Tentu saya sama sekali nggak ada masalah dengan profesi janitor, toh pekerjaan adalah pekerjaan dan jelas itu pekerjaan halal, bahkan dari situlah ide videoklip “Smells Like Teen Spirit” dibuat, tapi si Bokis sudah telanjur misuh-misuh dan meninju bahu saya. Meski sambil tertawa dia melakukannya, saya tetap terjengkang gara-gara pukulan itu. Saya langsung bangkit dan membalas, duel sengit pun terjadi. Cuma di benak saya tapi.

___
Sugeng tanggap warsa, Pak Kurdt.

__
Tulisan terkait: Mengenang Alm. Pak Kurdt (Bag. 1) dan kenangan-kenangan soal Nirvana lainnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *