Mari Funk, Rebut Kembali?

Ada satu dua momen dimana secara tak terduga Anto Arief tiba-tiba muncul di depan pintu kantor saya—ruangan di sudut sebuah perpustakaan di Bandung—dan prasangka yang selalu berkelebat di kepala saya adalah: apakah itu Dian Pramana Poetra, sedang berkunjung mau pinjam buku? Di beberapa kondisi tertentu, misalnya kurang tidur atau alpa memakai kacamata, penglihatan saya (dan mungkin juga Anda) sekilas bakal terkecoh mengiranya sebagai Dian Pramana Poetra dalam versi yang tertukar; lebih muda, langsing, sedikit canggung dan peragu. Tapi memang selalu begitu: Anto akan tetap berdiri mematung tepat di depan pintu, seperti ragu-ragu harus menyapa dulu atau lebih baik menunggu, hingga akhirnya saya benar-benar menoleh dan melambaikan tangan; dan dia pun nyengir, senyumnya setipis kumisnya.

Akhir-akhir ini saya mulai sering membicarakan musik funk bersamanya, membahas film-film blaxploitation, menghadiahi laserdisc konser Gil Scott-Heron (salah satu pahlawan musik terbesarnya) di hari ulang tahunnya, tapi minat Anto Arief terhadap genre musik itu rasanya sudah diketahui banyak orang. Ketika 70’s Orgasm Club, trio rock-blues-funk yang digawanginya belakangan mulai jarang naik panggung komplet bertiga (hanya Tuhan yang tahu kenapa rencana rilis album perdana mereka selalu tertunda-tunda), Anto masih saja ngotot tampil di beberapa gigs kecil, cuek sendirian menenteng gitar kopong, jika dia merasa perlu maka barulah hadir pemain saksofon cabutan-entah-dari-mana, menemaninya menaklukkan mikrofon dan kualitas soundsystem dari panitia yang, apa boleh buat, seringkali seadanya.

Kegigihannya patut diacungi jempol. Penontonnya kadang bisa dihitung dengan jari (lagipula apa yang bisa diharapkan dari acara workshop yang membosankan?), namun di saat lain dengan santainya dia membuka konser tunggal Koil di hadapan ratusan penonton berbaju hitam-hitam di satu panggung besar. Dari sekadar genjreng-genjreng akustikan tiap Sabtu pagi di taman lansia di Bandung (setelah malamnya bikin open mic rutin di sebuah kafe), atau jam session dadakan di sebuah bazaar komunitas seni di Jakarta (melibatkan permainan terompet); menjadi additional player di band pengiring penyanyi Tulus yang sedang naik daun (selain bermain gitar dan ikut tur, Anto juga mencipta lagu di rekaman itu), hingga yang terakhir saya lewatkan—untung ada YouTube!—yaitu menyumbangkan permainan gitar singkat, monoton, tapi anehnya justru menggetarkan, untuk mengiringi penampilan langka Morgue Vanguard a.k.a. Ucok ‘Homicide’ di penutupan pameran mengenang seorang seniman Bandung yang mati muda.

Meski tampil dengan mengenakan topi yang berbeda-beda di setiap penampilannya (fedora, trilby, flat cap, Anda tinggal sebut jenisnya), tapi ada racauan khas Anto yang nyaris selalu sama saat berusaha menguasai corong pengeras suara, yakni: “Cinta, cinta, cinta!” Nada pelafalannya susah digambarkan lewat tulisan, tapi beberapa dari Anda pasti sudah pernah mendengarnya. Sambil meringis tiap kali mendengarnya, saya selalu bertanya-tanya dalam hati, apakah saya sendirian di planet ini yang penasaran, kenapa dari jutaan kosakata lainnya di kamus, selalu itu-itu lagi yang dipilihnya? Mungkin sekarang momen yang tepat untuk bertanya. Dan yang paling penting, menyelidiki apa sebenarnya isi kepala Antruefunk di balik topinya.

* * *

Anto Arief, kini 33 tahun, sudah lupa apa nama band pertamanya ketika masih duduk di bangku SMP, awal ’90-an di Jakarta. Yang masih jelas terekam di ingatannya, di situ dia bermain gitar membawakan repertoar Nirvana (tumbuh remaja di kala grunge deras melanda dunia, mau apa lagi?), dan seolah itu belum cukup: dia menorehkan nama ‘Kurt Cobain’ di bodi gitar akustik merk Yamaha pertamanya. “Ada tren di sekolah gue waktu itu, semua cowok kelas 2 SMP harus bisa main gitar. Banyak yang tiba-tiba bisa (atau terpaksa harus bisa) main gitar karena tuntutan pergaulan,” senyum Anto lebih mirip seseorang sedang mengenang cinta monyetnya. Bukannya terpaksa, dia malah kepincut. Tapi cinta pertamanya tentang musik—atau bahkan cinta abadinya—saya rasa bukan pada grunge, bukan juga pada Kurt Cobain, melainkan pada gitar. Bertahun-tahun kemudian, Acong a.k.a. Sir Dandy memuja Anto sebagai “dewa gitar” di dua lagu spontan ciptaannya “Ode to Antruefunk Part I & II”, menyebutnya mahaguru yang dimintanya mengajari “jurus kunci gitarmu”, dicampur mitos asal-asalan soal Mus Mujiono di YouTube. Kita tahu itu cuma bisa-bisanya Acong, tapi saya yakin banyak orang termakan bualan itu.

Senjata elektrik pertamanya, gitar Fender Mustang, memang Anto beli gara-gara Kurt Cobain juga memakai jenis itu, tapi ada alasan lain yang lebih spesifik: bentuk bodinya dia anggap agak berbeda saat itu. “Meski ternyata kualitasnya jelek. Mungkin karena gue belinya Fender yang kelas pelajar!” Kali ini gelak tawanya lebih terdengar seperti pemakluman bijak nan dewasa, tapi sekali lagi, masih atas nama cinta. Ketika demam grunge menyurut, Anto menghabiskan masa SMA ketika scene musik bawah tanah di Jakarta sedang didera demam Britpop, atau istilah bekennya waktu itu: indies. Anto ingat betul pengalaman joget keramas dan crowd surfing pertamanya di Poster Cafe. Di masa-masa indies itulah band-nya di SMA getol membawakan lagu-lagu Oasis, posisi dia tetap pada gitar, mungkin sambil sesekali membayangkan dirinya Noel Gallagher.

Batal masuk Institut Kesenian Jakarta, Anto hijrah ke Bandung tahun 1997 dan memilih kuliah desain di FSRD Itenas. Tak sudi buang waktu lebih lama lagi, dia menerima tawaran bergabung sebagai gitaris di band indies bernama Shelley, spesialis lagu-lagu Shed Seven. (Lucunya, baru belasan tahun kemudian Shed Seven akhirnya manggung di Bandung, dan saya berani bertaruh: di konser itu Anto pasti berada di barisan terdepan penonton, khusyuk sing along demi menjadi haji yang mabrur.) Anto lalu bergabung dengan The Bride, band lokal yang cukup fenomenal waktu itu, bentukan orang-orang Balubur Stone Complex yang gemar membawakan The Stone Roses era Second Coming dan Primal Scream. Cintanya pada gitar semakin menggebu-gebu: di situlah dia mulai dijuluki Anto Melody, lantaran kebiasaannya menyisipkan permainan melodi gitar berpanjang-panjang ngawur di tiap performa, duel maut dengan gitaris tandem-nya, sesuatu yang jarang dilakukan band-band indies saat itu. “Bersenang-senang banget deh pokoknya. Skill bodor-bodoran gitu. Dari situ gue mulai tertarik ngulik blues dan psychedelic.”

Jika cinta kemudian harus membawamu melangkah lebih jauh, maka itulah yang terjadi. Anto merasa butuh ruang ekspresi yang lebih luas, ketika menyadari minat musikalnya lebih pada “semua yang nge-groove.” Karena tak tahu bagaimana caranya ngomong langsung, akhirnya Anto memutuskan menulis surat resmi permohonan resign dari The Bride (yang justru ditertawakan para personel lainnya—saya kira-kira bisa mengerti kenapa: beberapa orang memang terlahir dengan pembawaan lebih serius ketimbang orang-orang lainnya). Setelah keluar dari band lamanya, Anto pun mantap membulatkan tekad, serius bikin band baru yang lebih mewadahi cinta terbesarnya yang bertahan hingga kini: funk rock, yang terinspirasi musik funk/soul klasik.

“Dari awal, sambil mencari-cari pemain bass dan drum yang cocok, di kepala gue sudah ada kandidat nama band.” Sejak pertama kali berkenalan dengan Rio Novtriansyah dan Endi Sutendi sekitar tahun 2004, mereka langsung nyambung. Anto Arief pun segera menyodorkan calon nama itu: 70’s Orgasm Club. Gayung bersambut, Endi dan Rio langsung tertarik bergabung gara-gara nama unik itu, yang sebenarnya dicomot begitu saja dari judul lagu “Orgasm Club” milik Corduroy, band acid jazz asal London yang sedang digandrungi Anto. Sementara penambahan kata 70’s di depannya, semata-mata lantaran “Gue demen banget musik funk ’70-an!” Rio sendiri menggilai The Jackson 5 dan Ben Folds Five, dan setuju untuk bermain bass. Sementara pada aksi drum, Endi menggemari beat-beat reggae ’70-an. Selain lagu-lagu Corduroy, frontman Anto langsung mencekoki dua teman barunya itu dengan Marvin Gaye, Jimi Hendrix, dan tentu saja, semua katalog funk kesukaannya. Sama-sama penggemar genre film detektif ’70-an dan juga Star Wars, mereka lantas membayangkan ‘70s Orgasm Club sebagai satu film dimana mereka bertiga memerankan karakter tetap di dalamnya. Muncul ide konyol seru-seruan, bikin nama panggung untuk tiap karakter: Anto adalah Antruefunk, Rio sebagai Roy Jefferson, dan Endi disebut Endy Echo.

Mereka mulai rajin latihan dan menulis lagu sendiri. Menurut Endi Echo dan Roy Jefferson, prosesnya sesimpel “Antruefunk selalu datang dengan ide lagu-lagu yang dia tulis di kamarnya, lalu kami berdua siap merusaknya!” Tawaran manggung dari manapun mereka sikat. Mulai dari pensi di sekolah-sekolah, acara tribute to Benyamin S., ulang tahun stasiun radio, peluncuran seri terbaru ponsel, acara Superbad! edisi awal-awal, mengambil risiko tampil di panggung Bakar-bakaran IKJ yang audiens-nya terkenal kritis dan brutal, hingga membuka konser The S.I.G.I.T. tahun 2006—yang bagi Anto cukup membanggakan, karena menurutnya, “Rekti dkk jelas band rock ‘n’ roll terbaik nasional saat ini.”

Nama 70’s Orgasm Club mulai terangkat ke permukaan ketika mereka menjadi finalis di L.A. Lights Indie Fest tahun 2007. Satu lagu mereka masuk di album kompilasi pertama event kompetisi tahunan itu. Mereka sempat tampil live untuk pertama kalinya (sekaligus yang terakhir) di sebuah stasiun televisi swasta nasional, dimana mereka dipaksa lip-sync, dan akhirnya mereka malah memilih bersenang-senang dengan sengaja tidak melakukannya secara benar.

Layaknya impian anak band pada umumnya, harus ada rilisan fisik. Lagu-lagu 70’s Orgasm Club sebenarnya sudah cukup untuk materi satu album penuh, atau setidaknya mini-album. Namun yang sering terjadi adalah plot klasik di tiap cerita: manusia punya rencana, Tuhan jua yang menentukan. Selalu ada aral melintang, dan tiga sekawan itu tenggelam dengan kesibukan masing-masing: Anto Arief sempat menekuni karier menulisnya sebagai editor majalah Ripple (rubrik tetap dia di antaranya: komik konyol dan horoskop seru), juga beberapa penerbitan lainnya sambil menjadi seniman paruh waktu; sementara Rio dan Endi mulai berkeluarga, menikah dan bekerja di bidang non-musik. Sempat ada kawan baik yang bersedia menalangi semua biaya produksi album perdana yang terkatung-katung lama itu, namun entah hujan angin macam apa yang kemudian merontokkan segala niat mulia itu.

“Semua bakal indah pada waktunya” mungkin terdengar klise. Anto dkk pasti sudah bosan mendengarnya, atau malah mereka sendiri yang terus menerus melafalkannya di dalam hati? Tapi percayalah, klise adalah hal-hal yang justru sudah teruji kebenarannya. Dan kabar gembira yang dinanti-nanti itu akhirnya hinggap juga di meja saya: setelah diundur bertahun-tahun, akhirnya rilisan fisik pertama 70’s Orgasm Club, Supersonicloveisticated EP resmi diluncurkan akhir April 2012 ini. Ironisnya, ini sekaligus album perpisahan Anto dengan dua personel lainnya. Setelah itu mereka sepakat untuk jalan sendiri-sendiri.

* * *

Barangkali saya punya antusiasme agak berlebihan dalam menyelidiki lirik-lirik sebuah album. Karena itu saya segera meminta Anto mengirim lirik lengkap EP ini via e-mail, karena dialah yang bertanggung jawab penuh di departemen lirik. Setelah di-print dan saya pelajari dengan seksama sambil menyetel keras-keras materi lagunya (total ada 5 track), saya merasa apa yang saya lakukan kali ini percuma. Ternyata Anto tak berbicara banyak lewat lirik-liriknya, yang kebetulan memang irit kata-kata dari awal hingga ujung. Mengaku terpengaruh Jarvis Cocker dalam penulisan lirik, toh kenakalan khas Pulp yang suka nyerempet-nyerempet hanya muncul secuil di “Libido Schizophrenia”, “Can I come to your place, maybe we could make it there?/ Throw your clothes on the floor, maybe we could get it on in your kitchen.

Sementara intro lagu pembukanya, “Supersonicloveisticated”—bisa jadi ini lagu paling tua di katalog mereka—terdengar seperti salah satu versi lain dari intro “Sunshine Of Your Love”-nya Cream. Ketika Anto meneriakkan kalimat “…when you feel me inside, I’ve got nothing to hide…” sebelum disusul suara “hu-hu-hu” di bagian bridge-nya, saya mulai berpikir jangan-jangan Anto memang tidak punya hal-hal untuk disembunyikan. Lagipula buat apa? “Sebenarnya line bass-nya gue ambil dari salah satu lagu Corduroy,” katanya dengan enteng dan blak-blakan, “tentunya dengan sedikit modifikasi.” Menurut Anto, lagu ini tentang kebangkitan seseorang dari keterpurukan. “…you got to know everything turns yellow, you got to find the cure to heal the mellow…

Selain demi mengejar rima lagu, tampaknya “yellow” dan “mellow” adalah kata-kata favorit Anto, karena itu muncul lagi di akhir EP bahkan sebagai judul lagu, “Yellow Mellow”, satu-satunya lagu akustik di situ. “You make me realize, you set my soul on fire,” dalam petikan gitar yang tenang. Tapi seperti kata peribahasa, air tenang menghanyutkan, dan saya ingin tahu udang apa yang ada di balik batu. “Itu lebih tentang rasa bersyukur. Seringkali kita baru sadar apa yang kita punya setelah kita kehilangan, bukan?” Daripada perbincangan kami berbelok ke arah sentimentil yang tak perlu, saya lebih tertarik pada struktur lagunya yang terpengaruh komposisi akustik “For What Reason”-nya Supergroove. Band funk asal Selandia Baru itu juga salah satu pahlawan musik terbesar Anto. Mereka pernah datang ke Jakarta dan konser di M-Club, di kawasan Blok M pada tahun 1995, yang dalam istilah Anto, “Itu salah satu konser paling pecah yang pernah gue tonton!” Sementara judul “Yellow Mellow” itu malah mengingatkan saya pada lagu Donovan yang berjudul hampir sama, “Mellow Yellow” (1967), yang sempat ditengarai sebagai dukungan atas pengisapan kulit pisang sebagai alternatif legal dari mariyuana.

Anto sendiri bersikap netral soal drugs. Dia mengaku bisa mengerti jika orang-orang mengonsumsinya dalam batas recreational drugs, karena toh baginya semua itu lebih tentang pikiran. Substansi halusinogenik hanya perkara memperpanjang kesadaran hingga batas tak terhingga, dan itu soal pilihan. Anto juga menyukai musik-musik psychedelic, tapi dia lebih mempercayai the power of mind, termasuk konsep The Secret, buku motivasional yang sempat menghebohkan itu. Saya harus berhenti tertawa karena mimiknya berubah serius ketika mengaku: dia pernah mempraktikkan metode yang disarankan buku tersebut. “Gue pernah pengen banget punya satu gitar. Gue pasang gambarnya sebagai screensaver di laptop, gue print fotonya untuk ditempel di tembok. Bahkan gue udah sediain satu stand kosong di kamar gue, khusus buat gitar itu kelak. Dengan cara yang aneh, gitar itu akhirnya terbeli juga! Gimana gue nggak percaya?”

Mungkin itu juga yang mengilhami lirik “Peppermint Insect”, lagu catchy paling simpel dari 70’s Orgasm Club. “Can’t get you out of my head, cause you’re always on my mind…” Semuanya soal pikiran. Untuk ilustrasi sampul EP-nya, Anto memilih foto sayap kiri pesawat terbang, dengan latar belakang awan mendung separuh gelap. Lebih jeli dicermati, ada tiga “benda terbang aneh” di situ. Foto itu hasil jepretan seorang temannya, Dimas Theodora, murni tanpa rekayasa, diambil dari atas pesawat di perjalanan pulang dari Malaysia ke Indonesia. Sang teman mengaku seringkali “didatangi benda terbang aneh” di setiap foto hasil jepretannya. Anto yang juga tertarik perihal UFO, langsung antusias membuat karya seni dalam beberapa medium untuk merespon foto itu. Saya meminjamkan buku karya psikoanalis Jung berjudul Flying Saucers dari perpustakaan saya, yang antara lain berpendapat bahwa kesaksian seseorang yang merasa melihat penampakan UFO tak bisa dilepaskan dari kondisi psikologis yang bersangkutan. Lagi-lagi, it’s all in your mind. Saya yakin kekuatan pikiranlah yang membuatnya berhasil menyelesaikan total 10 karya (pencil drawing, foto, lukisan cat air, instalasi, dsb), dan semuanya akan muncul sebagai limited edition sampul EP berbeda-beda, yang hanya akan dirilis dalam bentuk CD sejumlah 100 keping saja. Lebih dari setengahnya sudah ludes dipesan melalui pre-sale order. Masing-masing karya itu juga akan dipamerkan dalam format medium sesungguhnya, selama 3 hari berturut-turut di eksebisi seni Anto Arief berbarengan dengan peluncuran EP 70’s Orgasm Club ini. Bahkan ditambah diskusi dengan tema “Antara Cinta, Benda Terbang Aneh, dan Psikadelia”. Tak ada hari senggang di buku agendanya.

Bagaimana dia seorang diri bisa menjaga semangatnya untuk menjalani itu semua? Lewat pesan pendek ke ponsel saya dia berbagi kiat, “Giving up is not an option for me.” Sempat dibesarkan di lingkungan yang sering pesimis dan berpikir negatif, dia selalu menjaga untuk tetap ber-positive thinking-ria. Sebenarnya ada banyak perang batin dan pergulatan emosional yang berusaha diredam dan dipendamnya, tapi toh akun Twitter-nya justru lebih dipenuhi tweet-tweet optimistik memulai hari (‘Gut em!’ ‘Semangat, kaka…’), candaan jayus dalam kadar kronik (‘kelelawar rendah’ sebagai padanan ‘habis batre’ alias ‘low-bat‘), hingga tebak-tebakan garing (‘Sayur apa yang buang badan?’ ‘Lodeh!’). Selera humornya unik dan sering tak terduga. Mungkin karena itulah, di tengah segala kekacauan hari-hari ini, Anto mengajak kita tetap bertahan waras di dunia yang makin gila ini dengan naik bus cinta di lagu “Love Bus”, “Leave all the hatred, sorrow far behind. We’re going on a bus of love!

* * *

Sejatinya, Supersonicloveisticated EP adalah ajang pemanasan sebelum nantinya bakal dirilis album penuh 70’s Orgasm Club, yang juga entah kapan selesainya. Semua musik di album penuh itu sudah beres direkam, saya sempat mendengar utuh versi instrumental-nya, dengan vokal mentah Anto sebagai rough guide-nya. Departemen musik di calon album penuh itu memang lebih menjanjikan, sound-nya terdengar makin tebal dan lebih meyakinkan, dengan unsur soul/funk lebih kental lagi. Rio dan Endi terlibat terakhir kalinya di rekaman album setengah jadi itu, dimana live show ke depannya Anto bakal mencari backing band baru lagi. “Sebenarnya untuk rekaman album penuh itu gue tinggal take vocal doang. Tapi gue masih merasa perlu belajar nyanyi.” Anto tersenyum legawa mengakui kekurangannya. Suaranya memang masih tipis dan kadang fals di beberapa kesempatan, dan dia bukannya tidak menyadari itu. “Sekarang gue latihan nyanyi terus tiap habis bangun pagi. Pernah sampai les vokal segala di seorang vocal coach ternama di Jakarta. Tapi cuma bentar, karena ternyata mahal banget dan duit gue nggak cukup.”

Saya menghargai kejujuran dan semangatnya. Jauh-jauh hari saya memesan 2 buah CD Supersonicloveisticated EP dengan edisi sampul yang berbeda. Satu untuk koleksi pribadi, satu lagi sebagai arsip perpustakaan yang saya kelola untuk publik. Ya, khalayak harus bisa mengakses dokumentasi terbatas yang sudah pasti bakal segera out of print ini. Entah kenapa, saya yakin ketulusan seorang Anto Arief itu (dalam banyak hal, itu lantas bersinonim dengan kegigihan) yang bakal membawanya ke satu titik yang lebih terang. Termasuk kejujurannya menantang diri sendiri di garis perbatasan: setelah ini, apakah dia akan menyeberang, atau tetap tinggal diam di tempat dia sekarang? Pasca konser perpisahan Antruefunk dengan Roy Jefferson dan Endy Echo di peluncuran Supersonicloveisticated EP ini, akankah Anto Arief tetap bersikeras mengibarkan bendera funk? Tidakkah dia tergoda mencoba petualangan lain? Ketika mendengar salah satu impian musikalnya adalah meng-cover penuh album legendaris Koes Plus Dheg Dheg Plas (1969)—itu album lokal favoritnya sepanjang masa dan piringan hitam koleksinya telah sah ditandatangani langsung oleh Yon Koeswoyo sendiri—saya tak bisa berkata apa-apa selain berjanji akan mendukung sepenuhnya jika sewaktu-waktu dibutuhkan.

Mungkin suatu hari nanti, dia tiba-tiba muncul lagi di kantor saya, berdiri di depan pintu, semoga kali ini tanpa ragu-ragu. Apakah dia mantap merebut kembali funk, atau justru sebaliknya, tulus ikhlas melepasnya (karena bukankah “to love is to let go“), atau apapun itu yang memang sudah seharusnya? Mungkin terdengar klise, tapi justru di situ serunya. Saya akan tunggu kelanjutan kisah ini.

* * *

Bandung, Maret-April 2012

Budi Warsito
Pemilik/pengelola perpustakaan Kineruku, Bandung

 http://budiwarsito.net/mari-funk-rebut-kembali/

3 thoughts on “Mari Funk, Rebut Kembali?

  1. Japir Surokhmat Post author

    kenapa nggak release rock/funk instrumental aja ya antruefunk. album EPnya gokil. love it!

    Put The Funk Back In It | The Brand New heavies

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *