Lou Reed atau Lou Ferrigno?

Tiap kali berusaha mengenang Lou Reed, si pionir méngslé-rock yang meninggal tepat pada hari ini empat tahun silam, saya malah teringat Lou Ferrigno, binaragawan lawas pemeran si monster hijau pemarah di serial televisi The Incredible Hulk yang dulu pernah tayang di era-era awal RCTI. Selain sama-sama bernama Lou, menurut saya wajah mereka ada kemiripan. “Mungkin mereka bersaudara?” tanya saya polos ke kakak saya, puluhan tahun silam, ketika ditraktir mie ayam di dekat masjid dan tentu saja tidak dijawab. Kakak saya lebih suka sport dan jago segala macam cabang olahraga kampung mulai dari bal-balan, pingpong, voli, badminton, jelas dia lebih peduli Lou Ferrigno yang binaragawan dan persetan dengan siapa itu Lou Reed yang ditanyakan adiknya, si cungkring yang ketika itu masih SD dan sering diledek sebagai binarangkawan. Saya pertama kali menemukan nama “Lou Reed” di sebuah artikel majalah lokal terbitan pertengahan dekade ‘70an, saya lupa majalah apa, mungkin Top atau Selecta, yang saya baca pada akhir dekade ‘80an dalam bentuk majalah bekas di lapak loakan depan bioskop. Saya masih ingat betapa saya tidak paham sama sekali isi tulisan itu, meski ada ketakjuban di tiap paragrafnya terutama pada frase “Velvet Underground” yang bagi saya pada saat itu terbaca syahdu sekali untuk sebuah nama band. Beludru bawah tanah, oh indahnya. Artikel itu sepertinya asal comot saja dari majalah luar dan diterjemahkan secara ogah-ogahan ke Bahasa Indonesia, dan ketika kemudian saya menanyakan nama syahdu itu ke satu-satunya toko kaset di kampung saya, di sebelah kios beras di terminal angkot dekat pasar, Tacik’e hanya mengernyitkan dahi. Puluhan tahun kemudian, saya beruntung mendapatkan piringan hitam Metal Machine Music cetakan pertama dengan harga murah, dan sebagaimana semua orang yang membelinya, saya pun tidak pernah kuat memutarnya sampai selesai. Ketika suatu sore ada kawan di twitter melontarkan satu anekdot segar paling otentik yang pernah saya dengar di scene musik lokal beberapa tahun terakhir ini, “Dua karakter di lagu “The Gift” Velvet Underground bernama Sheila dan Marsha. Curiga jangan-jangan Mr. Eugene Timothy [of Remaco] adalah fans Lou Reed!”, saya ketawa keras sekali sampai seisi perpustakaan menoleh semua. Dan ketika malamnya saya mendapati Marsha Timothy sudah nge-retweet cuitan itu sekaligus mention Sheila Timothy, saya ngakak lebih keras lagi. Hidup ini kadang menyenangkan juga.

___

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *