Sampun kapundhut rumiyin, Ki Alit Riced (1932-2020)

Kumis tipis Little Richard, yang sekilas tampak seperti satu garis kurus, selalu mengingatkan saya pada almarhum Timbul Suhardi alias Heru Sutimbul, pelawak favorit saya. Ada masa-masa ketika Timbul tampil di panggung Srimulat dengan memakai kumis tipis buatan alias dipulas, yang separuhnya digambar di permukaan bibir (!) atasnya. Trik sederhana itu ternyata lumayan juga efeknya, bikin proporsi brengos Timbul jadi rada méngslé, letaknya agak terlalu ke bawah dan karenanya malah jadi khas. Hampir semua bintang nyanyi dan akting dari jaman dulu seperti Sam Saimun, Bing Slamet, P. Ramlee, Clark Gable, Bambang Hermanto, Muni Cader, siapa lagi coba sebutkan, bahkan Benyamin S. ketika baru mulai bernyanyi di piringan hitam Mesra Records 7-inch Kunanti Saat Jang Kan Tiba bersama Rossy dan Djoko S., memang pernah atau bahkan masih berkumis yang juga tipis. Tapi yang membedakan Little Richard (natural) dan Heru Sutimbul (artifisial) dengan kebanyakan pria berkumis lainnya di gemerlap dunia hiburan, adalah fakta bahwa di paras mereka berdua ini ada jarak vertikal cukup signifikan antara garis lintang terbawah hidung dengan garis lintang teratas kumis. Di salah satu foto masa mudanya (masih hitam putih) kurang begitu jelas tergambar area-rada-kejauhan itu, tapi kalau kita periksa foto-foto lain Little Richard yang ada banyak di internet, terutama saat dia sudah lebih berumur (foto sudah berwarna), jarak terbentang luas itu bakal terlihat lebih nyata adanya. Sementara Timbul dengan kumis-tipis-separo-lambe itu, menurut saya, berhasil keluar dari jebakan klise kumis-kumis bujursangkar ala Chaplin yang dipakai hampir semua personel Srimulat di awal karir mereka, Timbul sendiri pun pernah; seperti halnya Asmuni (kumis ijuknya dipertahankan sampai tua), Gogon (ini juga sampai tua, malah di kala mudanya dia dijuluki Margono si Charlie Chaplin Srimulat), Betet, Nurbuat, bahkan Basuki, Tarsan, Triman, Kadir, Pak Bendot yang pernah di masa mudanya musti berkumis kotak itu. AKAN TETAPI… kalau dipikir-pikir lagi, Little Richard ini tampilannya dan terlebih lagi segala tindak tanduknya, andai terlahir berbahasa Jawa, rasa-rasanya kok bisa banget dia bergabung jadi anggota Srimulat. Rambutnya pernah setipe Kadir muda atau Mamiek paruh baya, dengan attitude kombinasi Gepeng dan Bambang Gentholet (dua karakter ini memang berlainan, tapi justru itu), dan boleh nggak sih androgynous look dia dipadu-padan bareng Tessy? Kalau di malam Aneka Ria Srimulat tiba-tiba Little Richard ingin bernyanyi lagu “By the Light of the Silvery Padhang Mbulan” (waduh, maksa nih plesetan judulnya) atau lagu-lagu dia lainnya yang seringkali memang gebyar saksofon, tentu yang bermain sax haruslah Pak Teguh sendiri. Pakbos Srimulat itu memang dikenal piawai membunyikan alat musik tiup tersebut. Lagu “By the Light of the Silvery Moon” adalah lagu pertama Little Richard yang saya kenal, dari kaset bootleg ’80an rilisan label lokal Perina berjudul Rock ‘N Roll: Original Soundtrack Music from the Film, isinya didominasi Little Richard; dan satu kaset bootleg lainnya yang saya sudah lupa judulnya, berisi kompilasi bareng Chuck Berry dan Bill Haley. Kemarin, 9 Mei 2020 waktu setempat, Little Richard the godfather of rock and roll itu telah berpulang. Paul McCartney, dkk. mengaku belajar sangat banyak dari Little Richard di hari-hari Hamburg mereka sekitar 1962, dan The Beatles kemudian membawakan “Long Tall Sally”, sementara Jimi Hendrix muda bermain gitar di band Little Richard di tahun 1965, dan remaja bernama Robert Zimmerman (kelak menjadi Bob Dylan) di buku kelulusan SMA-nya di tahun 1959 menuliskan “to join Little Richard” di kolom cita-cita. Kita pun tahu betapa khusyuk seorang Prince menghayati gaya tampilan dan falsafah bermusiknya. Semua raksasa di sejarah rock dunia seperti berasal dari sosok Little Richard, tumbuh menjalar dan membesar dari akar dirinya, sesuatu yang menurut istilahnya sendiri di sebuah wawancara, “It all came from me.” Di buku Uncommon People: The Rise and Fall of the Rock Stars (2017), David Hepworth menyebut Little Richard sebagai “the first true rock star”. Elvis Presley bahkan memasukkan cover version lagu Little Richard “Tutti Frutti” ke album pertamanya. Saya jadi membayangkan kalau seandainya di alam baka ada yang namanya konser Rock Suka-Suka Di Atas Sana, dan bukan hil yang mustahal tersedia slot manggung untuk Little Richard feat. Teguh Srimulat memainkan nomor “Lucille”, bolehlah panitia mengundang bintang tamu spesial yaitu Kasino Warkop, terutama untuk mengisi reff, “Lusiii… lu dicariin Engkong!/Lusiii… babe lu ngembat lontong!/Lu nyang berbuat, gue nyang ditabok Engkong!” Obituari singkat ini mau saya tutup (“pungkas Budi” kalau menurut bahasa media-media online lokal) dengan melempar kuis ngabuburit berhadiah kolak pisang ke sidang pembaca yang budiman, “Di film Warkop DKI yang mana lagu Little Richard “Lucille” tadi diplesetkan?”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *