lima sekawan alias lima kok sekawan? bukannya gangsal?

umur saya 7 tahun ketika buku ini pertama kali terbit dan iklannya ada di majalah bobo tapi seinget saya baru di usia delapan atau malah sembilan saya merengek-rengek minta dibelikan buku ini karena entah gimana ceritanya judul itu bisa mendarat di t.b. s., sebuah toko buku kecil di tengah pasar yg cuma sepelemparan batu dari gedung bioskop t. yg now showingnya waktu itu film saur sepuh satria madangkara. di area pasar ada total 3 toko buku yg tentunya selain jual alat tulis memang sedia juga buku-buku beneran. saya rajin beli donal bebek terutama kalau lagi ada lang ling lung, majalah kawanku (pra-kawanku stil), sesekali majalah tomtom (isinya agak aneh), dua kali buku sulap, beberapa kali buku pelajaran terbitan intan pariwara (ipa), widya duta (bahasa), tiga serangkai (ips), dsb. harga buku seri lima sekawan itu 2500 rupiah, hampir 4x lipat harga majalah bobo baru. hari-hari itu saya mendadak lebih rajin bantu-bantu ibu di dapur, menyapu halaman lebih heboh dari biasanya, berangkat ke surau lebih awal (sembari aktraktif memastikan ibu melihatnya), membawakan tas bapak pas pulang kerja, dan trik-trik ndobos lainnya demi meluluhkan hati mereka. saya cemas mengecek tiap hari apakah buku itu sudah dibeli orang lain. tentu saja belum. jarang ada yg tertarik membaca di kota kecil ini. akhirnya suatu sore saya boleh bawa pulang buku itu setelah dua lembar dokter soetomo dan selembar rusa harus berpindah dari dompet ibu ke lubang kaca di meja kasir. sesampainya di rumah saya buka plastiknya dan langsung panik mau nangis karena mendapati jilidan bukunya ternyata sudah mbrodhol alias copot-copot halamannya. bertahun-tahun kemudian saya sempat berpikir apakah itu versi bajakannya tapi kok rasanya nggak mungkin. beberapa waktu lalu saya lihat buku itu ada di lapak online buku bekas, saya maktratap dan langsung dong saya takis. paket datangnya rapih, saya buka pelan-pelan dan kondisi bukunya masih sangat bagus untuk ukuran kertas berusia 30 tahun lebih. saya amat-amati jilidannya juga sudah mbrodhol. hmm, jangan-jangan memang begitu dari sononya bahkan mungkin malah semua cetakan? saya jadi agak lebih tenang sekarang, dan mulai membaca lagi, “george dan sepupu-sepupunya bermain di pantai di seberang pondok kirrin…”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *