lelaki tua dan sirap

pemandangan asyik pagi ini adalah melihat seorang bapak tua bekerja memperbaiki atap sirap yang sudah lapuk dimakan usia. ini rumah tua tapi bapak itu bahkan lebih tua lagi. ia bekerja dengan attitude; ringan saja ia melompat ke atap lewat tangga lipat yang direntangkan maksimal, penampilannya cool dengan batik lengan panjang, celana bahan, dan sepatu olahraga lusuh yang kesyahduannya bakal bikin penyair mana pun tergerak menulis puisi tentangnya. yang juga asyik adalah topi pancingnya, tak kalah lecek dengan si alas kaki. anak-anak muda sok tua atau anak-anak tua sok muda atau lebih tepatnya mereka yang tumbuh remaja di era ’90an tapi masih berusaha relevan di scene hari ini dan karenanya malah jadi menyedihkan sering terlihat mengenakan topi semacam itu, mungkin sembari membayangkan ian brown meski jatuhnya jadi lebih mirip tukang buah. sementara di kepala penuh uban si bapak tua ini, yang boleh jadi menghabiskan masa remaja dengan menguntit panggung-panggung gombloh sejak era lemon tree’s dan estetika hidupnya sampai hari ini masih stuck di fesyen gombloh, topi itu bahkan lebih asyik daripada ian brown itu sendiri! kumis dan janggutnya kusut masai dengan semburat abu-abu, dan dalam bekerja selama beberapa hari ini ia punya request khusus: “izinkan saya bekerja sampai maghrib, oom.” (dia memanggil saya oom! bapak ini bahkan lebih millennial dari saya!) permintaan itu sebetulnya agak kurang lazim karena tukang bangunan umumnya sudah bersantai-santai selepas ashar meski sebetulnya jam kerja mereka baru berakhir jam empat sore. menilep waktu rasanya memang sudah jadi budaya bangsa dan ini pak gombloh ini malah minta tambah waktu dua jam? belakangan setelah saya amat-amati, sepertinya ia memang teramat menikmati pekerjaannya yang sebetulnya sangat membosankan, yakni menata sirap satu demi satu. dicabutinya sirap-sirap lama, digantinya dengan sirap-sirap baru, disusun dan dipaku, dan semua itu hanya bisa dikerjakan selapis demi selapis, sambil harus tetap menjaga keseimbangan badan supaya tidak terjungkal dari atap yang kalau di rumah tua derajat kemiringannya sedikit lebih curam dari rata-rata. sepintas lalu kerjanya seperti robot yang memang tak kenal rasa jemu, tapi lama kelamaan saya menduga etos ini lebih mirip biksu tua yang penuh kesabaran dalam mencari kedamaian. dan jika kedamaian itu ternyata adanya di atas atap, kenapa tidak? ia turun setiap berapa jam sekali untuk klepas-klepus dengan rokok kreteknya. saya sempatkan mencari-cari gurat lelah dan kalah di antara keriput wajahnya, tapi setelah beberapa lama justru saya yang menyerah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *