LD (aka Lithium Disc?)

Menjelang senjakalanya pada pertengahan dekade ’90an, format laserdisc masih sering ditawarkan untuk disewakan dengan cara salesman berkeliling dari rumah ke rumah. Pernah suatu kali di sesi door-to-door itu si Mas-mas LD celingukan memastikan kiri kanan aman lalu berbisik pelan ke saya, menawarkan VCD rekaman syur seorang penyanyi perempuan lokal kenamaan, “Hanya beredar dari tangan ke tangan lho.” Mukanya dipenuhi senyum penuh arti dan sebuah kedipan yang sebetulnya tidak terlalu saya mengerti. Saya terpaksa menampik tawaran menarik itu dengan halus, bukan saya sok suci melainkan karena konsentrasi sudah telanjur ambyar mendapati satu sampul yang tak kalah menggoda, tersembul di antara tumpukan laserdisc di tas gede itu. Gebyar tanda seru di judulnya, “NIRVANA: LIVE! TONIGHT! SOLD OUT!!” bikin makin penasaran karena sebelumnya saya hanya bisa menyiksa kaset-kaset mereka di tape-deck sampai pitanya jebol dan speaker robek saking kerasnya volume dipasang, tanpa pernah bisa tahu seperti apa aksi live mereka dalam format gambar bergerak! Saat itu sekitar 1994-1995, kematian Kurdt masih terus dibicarakan (saya masih menyimpan majalah HAI yang saya beli beberapa hari setelah dia bunuh diri), kaset MTV Unplugged baru saja mendarat di toko-toko musik di Solo, dan lewat rental laserdisc bermasa pinjam 1 hari (maklum, judul baru) itu saya benar-benar menghabiskan salah satu hari terbaik saya di masa remaja: memutarnya terus menerus seharian, nebeng di LD player punya teman, sambil kami terbengong-bengong menatap layar bagaimana mungkin hanya dengan tiga orang di atas panggung kebisingan sebrutal itu bisa dihasilkan sembari masih tetap terdengar sendu! Rasanya seperti kombinasi Metallica dengan R.E.M., atau mendapati Led Zeppelin membawakan repertoar ABBA. Nomor-nomor live Nirvana di laserdisc itu diambil dari panggung yang berbeda-beda, dan aksi paling menggetarkan menurut saya ada di side A track terakhir: “Lithium”, di Reading Festival 1992. Itu adalah penampilan terakhir mereka di Inggris, di depan 40.000 penonton festival tua terbesar di negeri itu. Kelak di DVD Live at Reading (dirilis 2009) saya baru tahu Kurt muncul di panggung dengan gimmick kursi roda dan wig palsu, sebelum menyiram api histeria massa dengan permainan sangar mereka sebagai bensinnya. Kurt cuek berdiri di sudut panggung (bukan di tengah!) sambil mengenakan baju operasi bedah dan memamerkan teriakan khasnya yang memukau sementara si raksasa Krist meliuk-liuk di ujung lainnya, yang lewat dentaman bass seramnya telah berhasil membekuk rapat-rapat soundsystem malam itu, dan itu gebukan menderu-deru Dave dari belakang.. masya Allah. Tuh orang nggak punya capek kali ya? Oh ya, jangan lupa pula polah tingkah si Dancing Tony yang memorable, yang bikin panggung aneh malam itu menjadi lebih aneh lagi. Kenapa amarah semacam itu bisa menguasai tangga lagu populer, menyingkirkan album Michael Jackson dari singgasana saat itu, dan sekaligus menaklukkan puluhan ribu penonton di festival besar, rasanya terjawab di penampilan itu: energi mereka memang terlalu besar dan benar-benar meledak di saat yang tepat. “Lithium”, yang sebetulnya salah satu komposisi paling ‘riang’ mereka (“I’m so happy/ ’cause today I’ve found my friends—…“), tetaplah berisikan ironi kelam (…”—they’re in my head“) yang terinspirasi dari pengalaman Kurt tentang bagaimana agama bergerak mempengaruhi keluarga temannya; dan apakah manusia memang cenderung kecanduan dengan apapun yang terkesan ‘menenangkan’? Tentu saja tetap ada humor gelap, “..I’m so ugly, that’s okay, ’cause so are you..” di sela-sela pengakuan (“..light my candles in a daze/ ’cause I’ve found God…”) dan pengharapan yang entah murni atau palsu (…I’m so excited/ can’t wait to meet you there…”) yang malah mengingatkan saya pada perjumpaan spiritual Chairil Anwar, “…di pintu-Mu aku mengetuk/ aku tidak bisa berpaling.” Ouch. Hari ini, tepat 25 tahun setelah penampilan live monumental itu, 30 Agustus 1992; sekaligus duapuluh sekian tahun setelah momen sihir laserdisc itu, circa 1994-1995 di pinggiran Solo yang lengang, hanya Al-Fatihah yang bisa saya panjatkan untuk Mas-mas Tukang Laserdisc keliling tadi, semoga di atas sana sampeyan ketemu Kurt dan tulung Mz sampaikan salam saya!

__

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *