Boleh Diulangi Pesanannya?

Lagu-lagu tentang tempat makan/minum selalu menarik karena pada dasarnya ia bercerita tentang manusia. Seperti kata Kasino di theme song “Warung Kopi”, spesies manusia dengan segala polah tingkahnya berusaha memaknai diri mereka sambil menyesap kafein “..ngobrol sane-sini/ sambil ngaduk-ngaduk kupi/ e.. jangan bawa ke hati (ntar sakit)…” Keresahan jelas amunisi terbesar manusia menciptakan seni, bahkan mungkin bukan keindahan, sehingga lagu-lagu tentang restoran/kafe/bar, tempat memasukkan sesuatu ke mulut kita (asupan makan/minum) adalah sekaligus tempat mengeluarkan sesuatu dari mulut kita (curhat/gosip, dsb), yang tak jarang muncul justru dari sudut-sudut tergelap jiwa kita. Di lagu Pulp “Bar Italia” (1995) misalnya, Jarvis Cocker si penyair urban itu menyelipkan pesan-pesan halus tentang #lyfe “..let’s get out of this place/ before they tell us that we’ve just died..” dan kalimat yang terasa makin jleb hari-hari ini “..oh look at you, you/ you’re looking so confused/ what did you lose?/ oh, it’s ok it’s just your mind..” Kesepian, atau rasa suwung, tema abadi seni manusia, juga muncul di puisi “Di Restoran”-nya Sapardi Djoko Damono, yang dilagukan oleh Umar Muslim dan didendangkan oleh Nana Tatyana di kaset Hujan Bulan Juni (1989), “..aku memesan rasa sakit/ yang tak putus dan nyaring lengkingnya..” Favorit saya adalah “O’Malley’s Bar”-nya Nick Cave and the Bad Seeds (1996), lagu seperempat jam dengan lirik depresif dan melibatkan pembunuhan dimana Nick Cave terdengar seperti Tom Waits; dan tentu saja lagu protes 1967 “Alice’s Restaurant”-nya Arlo Guthrie sepanjang 18 menit ini—salah satu spoken words terbaik di sejarah musik.

__

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *