Lagu Nostalgila Gebrak-gebrak Meja

Dua hal yang paling saya ingat dari cerita kakak saya tiap kali dia pulang kampung ke rumah kami di pelosok Jateng, dari kuliahnya di Bandung pada paruh pertama dekade ’90an adalah: kaos kaki murah (“Ada pasar kaget tiap Jumat, kaos kaki di situ harganya cuma Rp500!”), dan bioskop kampus (“Ada meja di tiap kursi penontonnya!”). Ketika itu saya masih SMP,

dan selain bahwa kaos kaki di sekolah hanya boleh warna putih—atau hitam di khusus kegiatan Pramuka—agak sulit juga saya membayangkan apa serunya nonton film di bioskop pakai meja? Sampai akhirnya saya masuk SMA di Solo dan sudah berani naik bus malam antarprovinsi sendirian ke Bandung, oleh kakak diajaklah saya nonton film di bioskop kampus yang pernah dia ceritakan itu. Rupanya itu ruang kuliah umum, bangunan tua dengan ruang proyektor khusus di belakangnya. Lantainya berundak-undak, sehingga deretan-deretan kursinya punya beberapa level ketinggian, mirip tempat duduk bioskop. Ternyata memang ada meja kayu panjang di tiap kursinya, namanya juga ruang kuliah, dan desainnya cukup artsy juga! Di depan sana ada papan tulis besar, untuk kapur tentunya, yang kelihatannya dirancang sedemikian rupa sehingga bisa digeser ke samping melalui rel kecil yang beroda, menyisakan dinding di baliknya sebagai layar raksasa.

Pemutaran film di situ, biasanya tiap Rabu malam (setelah puyeng Ujian Tengah Semeter) dan Sabtu malam, kata kakak saya sering diawali terlebih dahulu dengan pemutaran lagu instrumental yang cukup seru. Dan malam itu saya menyaksikannya dengan mata kepala sendiri. Alat musik tiup mendominasi lagu pembuka itu, berkejar-kejaran ditimpali perkusi dan ada pola repetisi pada notasinya yang alih-alih mengganggu, malah intens membakar semangat. Ada beberapa bagian di lagu tersebut yang sangat cocok menjadi aba-aba penggerak massa di ruang tertutup, dan memang itulah yang terjadi: semua penonton.. ya, SEMUA PENONTON, kompak dan serentak.. tangan mereka menggebrak meja di depannya! Dengan beat-beat dan tempo tertentu! Saya merinding. Ini mirip “klothèkan” di jaman saya SD dulu, dengan dosis dilipatgandakan. Bioskop tua itu punya kapasitas maksimal 200an kursi penonton, dan di dalam gelap itulah saya seperti ikut terhisap masuk ke sebuah ritual musik tradisi yang guyub dan bergemuruh; terasa begitu primitif tapi sekaligus modern karena di saat bersamaan ada pendar-pendar cahaya sinema di layar besar di depan sana. Film yang diputar ketika itu Dead Poets Society (adegan “O Captain! My Captain!” jelas menggugah anak SMA gamang seperti saya, ciee gamang) dan setahun kemudian, 1998, saya diterima kuliah di kampus tersebut. Tak perlu menunggu lebih lama lagi untuk saya kemudian bergabung di unit film yang markasnya berada tepat di sebelah ruang kuliah/bioskop kampus itu.

Di bioskop kampus itulah saya sempat merasakan jadi seorang Joni—yoi, nama karakter Nicholas Saputra di film Janji Joni—yakni pada sekitar 1999-2000 saya pernah beberapa kali harus ngebut di atas motor dari Jl. Sudirman ke Jl. Ganesha demi mengejar waktu, sambil membawa setumpuk kaleng gepeng berisi roll-roll film seluloid 35mm. Ketika itu saya dibonceng seorang kawan, anak punk yang kuliah IT, dan malam itu kami adalah Joni sekaligus projectionists. Jika kami tak berhati-hati memasangnya, isi roll film itu bisa tumpah dari roda-roda proyektor, dan itu rasanya seperti kiamat kecil: butuh waktu berjam-jam sendiri untuk bisa merapikannya kembali, nyaris mustahil, ditambah kuping terasa panas oleh makian senior-senior penggerutu. Haha. Saya sukses jadi tukang proyektor di beberapa film sampah seperti Anna and the King, pernah juga tak sengaja menukar urutan roll film di beberapa komedi romantis ’90an yang bahkan saya sudah tak ingat lagi judul-judulnya (yang mungkin malah jadi “art films” gara-gara plotnya saya acak-acak!), sedih karena film sebagus Fight Club cuma ditonton segelintir orang (saya lupa itu musim ujian atau malah liburan ya?), dsb., dst. Saya masih ingat betul film Run Lola Run berhasil full-house penontonnya, ketika itu HTM-nya Rp1000. Projectionists malam bersejarah itu: seorang anak Matematika si kuncen ruang proyektor, dan kawan baik saya seorang gitaris dangdut yang nyambi kuliah di Teknik Kimia. Saya mondar-mandir keluar masuk, memastikan pertunjukan berjalan lancar. Masih terngiang-ngiang di kepala saya, bagaimana pada malam itu suara gebrak-gebrak meja terdengar lebih syahdu dari seharusnya, jika bukan malah mirip trance, terutama karena dialami dari balik lubang intip/sorot di Ruang Teknik yang penuh debu. Lagu instrumental itu kami setel keras-keras untuk penonton lewat tape-deck tua yang terhubung dengan speaker besar di dalam bioskop. Musik electronic yang melatari film Jerman itu makin menambah aneh suasana. Setelah penonton pulang dan layar ditutup, kami makan pecel lele sepuasnya. Itu bayaran standar (kami menyebutnya “kesra”, singkatan dari “kesejahteraan rakyat”) bagi para petugas teknik, tapi malam itu saya nambah tahu tempe dan kol goreng lebih banyak dari biasanya.

Selama bertahun-tahun, sebagian besar anggota dari unit film mahasiswa tersebut—konon berdiri sejak 1960—mengira bahwa lagu yang terekam di kaset kosong pita C30 tanpa judul itu adalah lagu mars mereka. Kuping dan intuisi detektif saya berkata “ah nggak mungkin” dan mulai menyelidiki. Kru-kru senior yang masih aktif (oya, ‘kru’ adalah sebutan anggota unit film itu) ternyata tak bisa diharapkan sama sekali. Di beberapa reuni akbar yang saya datangi, kru-kru alumni paling tualah yang kemudian saya dekati untuk saya tanya-tanya soal lagu itu. Beberapa mengaku tidak tahu, atau bahkan tidak peduli, tapi sempat ada yang bilang bahwa lagu itu diambil secara acak dari koleksi piringan hitam milik kerabat seorang kru tua. Berarti itu lagu orang! Langsung terbayang di kepala saya, sangat mungkin ini seperti acara Srimulat di televisi yang cuek saja mencomot lagu “Whisky and Soda”-nya Roberto Delgado and His Orchestra untuk dijadikan opening song mereka. Sayangnya ketika itu, paruh pertama dekade 2000an, software/aplikasi song identification seperti Shazam atau Soundhound belum ada. Jadi saya terus mencari tahu, mengais informasi sana-sini seperti arkeolog berharap cangkulnya ketemu fosil.

Di reuni kesekian, yang sejujurnya saya datangi lebih karena pengen mengulik lebih lanjut soal lagu itu, seorang kru tua dengan rambut beruban menyebut-nyebut judul yang terdengar mirip nama perempuan. Dia sendiri tidak terlalu yakin. Bagaimana pun ini titik cerah. Sepulang dari situ, saya langsung begadang sampai pagi di depan komputer, mengerahkan semua googling skills terbaik saya dari data yang hanya secuil itu. Saya coba semua variasi ejaan yang mungkin ada, dikombinasikan dengan berbagai keywords pendukung. Sampai akhirnya.. ketemu juga infonya! Setelah saya pastikan kembali informasi tersebut, saya kroscek dan kroscek lagi dengan berbagai referensi, saya yakin memang benar itu judul lagu dan nama musisinya. Yeaayyy! PR berikutnya: mencari piringan hitamnya. Ini bagian paling seru. Karena saya sendiri juga senang mengoleksi plat, semua penjual yang saya kenal baik saya mintai tolong. Di luar dugaan, hampir semuanya angkat tangan. Bisa jadi lantaran musisi tersebut kurang populer di sini. Butuh waktu lama untuk salah seorang dari penjual langganan saya itu berhasil menyodorkan beberapa rilisan, baik kaset maupun plat, tapi judul lagu yang saya cari tidak ada di situ. Pasar kaget di depan kampus tiap Jumat yang pada masanya lebih sering saya datangi untuk beli kaset bekas ketimbang kaos kaki baru pun tidak banyak membantu.

Setelah sekian tahun mengubek-ubek lapak loak di sepanjang Pulau Jawa, Lombok, dan Bali, mengontak beberapa kenalan atau bahkan mereka yang suka mengaku-ngaku kolektor, juga rajin mendatangi bazaar-bazaar musik lawas di beberapa kota besar, akhirnya saya menyerah juga. Keinginan menemukan piringan hitamnya dengan mata kepala dan tangan sendiri memang kandas, tapi saya masih tetap pengen mendengarkan lagu itu dalam format paling otentiknya; persis ketika dulu pertama kali seseorang mencomotnya dari tumpukan plat, untuk dijadikan intro sebuah bioskop kampus yang menembakkan keajaiban sinema ke dinding besar di balik papan tulis, yang sekian dekade setelahnya diyakini sebagai lagu mars unit film mereka. Bukankah itu kisah yang lucu? Kenapa ending-nya harus begini? Dengan berat hati akhirnya saya putuskan untuk membeli saja lewat internet, vinyl single 7″ tersebut, lewat bantuan Rani istri saya, dari lapak seorang penjual piringan hitam di luar negeri. Mungkin saya memang menyerah, tapi niat mulia menghadiahi diri sendiri setelah sekian lama berburu dalam senyap toh bukan ide yang buruk. Maka beberapa tahun lalu, tepat di hari ulang tahun saya (tentu sudah saya perhitungkan betul-betul waktunya), paket kecil dari Italia pun mendarat di depan pintu. Apakah saya menitikkan air mata atau tidak rasanya sudah bukan hal penting lagi di sini. Saya ingat membuka bungkusnya dengan tangan gemetar. Itu plat tua, secondhand entah bekas punya siapa, sticker labelnya sudah luntur dimakan usia, bahkan penjualnya saja barangkali tidak pernah terpikir bakal ada yang membelinya, dari jarak ribuan mil pula! Inilah dia.. satu lagu yang sangat berpengaruh bagi saya, nostalgia dari salah satu fase tergenting (ciee genting) di masa muda saya pada akhir dekade ’90an/awal 2000an: sebuah lagu instrumental tua dari pemain terompet kurang terkenal asal Inggris di era 1950-1960an.. Tuan dan Puan sekalian, mari kita sambut.. EDDIE CALVERT.. dengan lagu berjudul.. “GABBIE”!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *