Klab Yu Tub .05 – Suk Kapan

December 10th, 2016 | 1

Video ini adalah kiriman Paman Yusi Avianto Pareanom. Menurutnya, ini lagu pop Jawa Is Haryanto yang paling dia suka. “Pernah dinyanyikan Titik Sandhora dan Mus Mulyadi,” ujarnya sendu, “Tapi paling enak ya versi Arie Koesmiran ini. Lagu paling sedih sepanjang masa.” Wuidih, atos ndes… Maka Klab Yu Tub kesayangan kita semua kembali hadir untuk membahas video kiriman dari Depok ini, sambil kirim-kirim salam dengan ucapan, “Met siang aja.”
__

Tidakkah Saudara sadari, tata cahaya psychedelic yang dominan warna merah-biru-lembayung nan temaram di beberapa scene indoor videoklip ini membuktikan betapa para hippies dari flower generation tak pernah menyerah kalah dan tetap berusaha relevan di tiap jaman? Liriknya jelas 100% galau, waaay before it was cool (gak cool juga sih.. *keluh*), namun efektif bikin ngakak di adegan ‘Tidak Ada Lowongan’, sebuah twist cerdas justru di saat pemirsa wis kebacut terlena akan syahdunya saksofon kenes yang dikit-dikit permisi minta lewat. Jempol ke atas untuk model peraga pria, yang duduk diam menerawang saja sudah artistik. Jempol ke bawah untuk wardrobe Bulik Koesmiran, yang tata rias menornya dengan pupur tebal sanggul tinggi giwang kempling terasa kontras betul dengan narasi lirik yang jelas-jelas bersimpati pada perjuangan kelas pe(ncari)kerja. Kredit khusus harus disematkan pada Is Haryanto, penyair liris yang menyamar jadi musisi pop, yang tepat di kalimat “..pacobaning urip nganti tekan (((sunar)))..” sukses bikin saya membuka-buka lagi Kamoes Baoesastra Mlajoe-Djawi. Paman Yusi memberitahu saya bahwa ada dua versi lirik soal “sunar” ini, yakni versi “nganti sunar madangi dalan” (“hingga sinar menerangi jalan”) dan versi “nganti sunar ngadangi dalan” (“hingga sinar menghalangi jalan”). Makna keduanya sangat jauh berbeda. Lebih total yang “ngadangi”, demikian menurut Paman Yusi, bayangkan, sinar saja sampai menghalangi. Saya sepakat belaka. Sekiranya ada infotainment atau clickbait mengabarkan “Terkuak! Is Haryanto Jebulnya Demen Fisika!” berikut info bahwa beliau paham soal dualisme sifat cahaya sebagai gelombang sekaligus partikel, saya pasti manut-manut saja. Ora maido. Lagipula frasa “ngadangi dalan” jauh lebih puitik dan menantang multitafsir ketimbang “madangi dalan” apalagi “ngebaki dalan” (oops, super damai!). Pak Is ini levelnya sudah meta. Dan itu shot terakhirnya, ya amplop.. brengsek betul, kian menegaskan premis awal ulasan ini: generasi bunga refuses to die!
_

[Budi Warsito]

One Response to Klab Yu Tub .05 – Suk Kapan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *