Klab Yu Tub .03 – Te Kate Dipanah

“..te kate dipanah/ dipanah ngisor nggelagah/ ana manuk onde-onde/ mbok sri bombok mbok sri kate/ mbok sri bombok mbok sri kate..” Jika dalam bahasa Indonesia lirik tersebut bunyinya kurang lebih demikian: “..ayam kate dipanah/ dipanah di bawah pohon gelagah (sejenis alang-alang tebu)/ ada burung onde-onde (?)/ mbok sri bombok mbok sri kate..” Larik terakhir tak bisa diterjemahkan, saya duga itu semacam permainan nama belaka, racauan tanpa makna yang mungkin masuknya ke ranah lingua poetica, atau jangan-jangan malah sejenis guyon filosofis yang kok ya apesnya tingkat pemahaman saya belum cukup sakti untuk bisa mendedah falsafah Jawa yang pelik dan tak jarang berlapis-lapis itu.

Lirik ini diulang-ulang beberapa kali, dengan tempo dan beat yang persis plek, nyaris tanpa improvisasi sedikit pun bahkan hingga ujung durasi. Neurotik juga, ndes.. Lagu dolanan Jawa lawas ini cukup populer terutama di pedalaman Jateng dan sekitarnya, setidaknya ketika saya masih ingusan dulu. Sebagaimana di lagu anak tradisional lainnya, tak banyak dari kawanan bocah-bocah seumuran saya yang mempertanyakan keganjilan liriknya. Bertanya ke bapak ibu guru di kelas pun malah dianggap aneh sendiri. Padahal, come on.. kegiatan kok “memanah ayam kate”? Selow amat bro? Makhluk apa pula itu “burung onde-onde”? Siapa gerangan sebenarnya “Mbok Sri Bombok”? Ya, ya, sampeyan bisa saja bilang: justru di situlah letak pesona sekaligus misterinya, bla bla bla.. Kalau semuanya terlampau jelas, jadi nggak seru lagi dong Bud, bla bla bla…

Karenanya, saya bertanya ke Paman Yusi Avianto Pareanom, yang konon kabarnya sampai mendalami ihwal perburungan (dalam arti denotasi lho ya, mohon jangan disalahartikan) demi mengawal logika-dalam-cerita berikut akurasinya saat menggarap novel Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi yang dahsyat itu. Harapan saya, sudilah kiranya beliau memberi pencerahan perihal si ayam kate sialan ini. Jawabannya sungguh meyakinkan, dan tetap menyebalkan khas dia, berikut ini saya kutip saja plek-plekan ke sini: “Sri bombok itu sejenis kareo padi, mainnya di alang-alang (gelagah) atau persawahan. Boleh jadi manuk onde-onde itu mengacu ke gemak atau puyuh. Kate kita tahu adalah ayam berukuran kecil. Semua burung yang ada disebut di sini ukurannya ringkas dan kurang gesit. Burung-burung yang kecil dan kurang gesit berisiko kena panah. Makanya, perbesarlah, perbesarlah.” Haha. Kalimat terakhirnya itu lho, kok malah bikin saya membayangkan dia dikontak tim marketing Mak Er*t untuk jadi Duta (((Besar))) Indonesia di beberapa negeri jiran sekaligus. Semoga representatif, mutu bersaing.

Sebetulnya lagu “Te Kate Dipanah” ini secara notasi sebelas duabelas lah dengan lagu dolanan tradisional lainnya yang tak kalah populer, “Cublak-cublak Suweng”. Ini mirip kasus “Burung Kakaktua” dan “Topi Saya Bundar” yang sama persis nada-nadanya, hanya saja kalau di “Cublak…” dan “Te Kate…” ada sedikit variasi cantik yang kerap mengecoh di akhir lagu (makanya dua judul ini sering tertukar, dan cocok jadi bahan medley di ajang lawak & lagu). Lirik “Cublak..” menurut saya malah lebih ambyar lagi absurdnya: hamparan giwang diterjang kebo junior (ini sih level puitiknya sudah arthouse cinema, bro), dilanjut dengan modul praktis latihan Poker Face 101 (“..sapa ngguyu = ndelikake..“). Puncaknya ada pada momen dimana kaki dan pinggang kita, nggak bisa nggak, pastilah otomatis jingkrak-jingkrak di kalimat perlawanan penuh teka-teki “sheer../ sheer/ PUNK/ they lie/ go PUNK/ sheer..” Hehehe. Kebetulan lagu “Cublak…” ini ada di kaset yang sama dengan “Te Kate…” yang sedang saya bahas ini. Versi di kaset tersebut didendangkan secara merdu mistis oleh Nyi Ngatirah/Nyi Maryati, diiringi aransemen gending ngelangut oleh Pak Wido. Sikat ndes…
_

[Budi Warsito]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *