Klab Yu Tub: Salaman Ndhisik, Ndes…

simonreynolds_youtube

Perkenalkan, ini rubrik baru namanya Klab Yu Tub. Ini adalah ikhtiar kesekian setelah upaya sok-sokan bikin rubrik-rubrik rutin di blog ini hampir selalu gagal total. Rubrik #5erbaLima dan #CatatanIsengHari Ini, misalnya, masing-masing hanya bertahan 2 episode. Yang paling mending cuma rubrik #KasetHariIni, itupun karena terpaksa dan ditarget ketat. Ah ndak papa lah, namanya juga manusia, tempatnya khilaf dan ehm, kemalasan. Btw, nama rubrik baru ini sebetulnya tidak ada hubungannya dengan wafatnya Yu Djum sang legenda gudeg tempo hari (RIP). Ini hanya ikhtiar saya mengumpulkan remah-remah dari jejak saya di beberapa platform media sosial, seperti komentar iseng di postingan status teman yang saya anggap menarik, coret-coretan di notes ponsel saat buang air besar di pagi hari, draft-draft pendek yang mangkrak di laptop, dsb. Intinya: mengomentari tentang postingan-postingan YouTube yang saya sukai. Ketimbang berserakan di mana-mana dan tercecer, lebih baik saya kumpulkan jadi satu di sini. Itung-itung buat celengan ayam (mecahinnya kapan nih brooo…). Saya sendiri lupa kapan tepatnya mulai intens ngulik-ulik YouTube terutama untuk mencari lagu-lagu nostalgia, tapi saya ingat betul momen pertama kali saya mendengar kata “YouTube”. Waktu itu, sekitar akhir 2005, saya masih mencoba peruntungan nasib di ibukota dengan menawar-nawarkan naskah komedi televisi ke stasiun-stasiun tv swasta nasional. Berdesak-desakan di mobil tua milik kepala suku kami waktu itu bersama beberapa kawan pengangguran senasib sepenanggungan, keluar dari pelataran parkir berbayar, seorang dari kami nyeletuk, “Eh tau nggak, sekarang ada website baru yang bisa bikin kita lihat apapun! Isinya macem-macem. Videoklip musik-musik lama, ada banyak di situ!” Mendengar kata “videoklip lama”, kuping saya langsung tegak, “Beneran? Apa namanya?” Kawan saya itu, kini karirnya di bidang digital strategic planning kian melesat dan bisa dibilang sekarang sudah masuk ke lingkaran dalam istana, menjawab antusias, “YouTube dotcom. Coba cek deh.” Saya ingat saya langsung pengen turun dari mobil saat itu juga (tentu tidak bisa) untuk pergi ke warnet terdekat. Begitu dapat akses internet, saya langsung mencari videoklip “Gerimis”-nya KLa Project di situ, yang kala itu sudah berumur sekitar sepuluh tahun. Gagal. Tidak ada. Atau lebih tepatnya, belum ada. Debut Dian Sastro yang masih imut sebagai bintang videoklip itu baru bisa saya temukan di YouTube sekitar tahun 2008. Saya lupa bagaimana detail urutan kejadiannya, tapi seperti kebanyakan orang sekarang, banyak ilmu pengetahuan dan hiburan melimpah yang bisa saya dapatkan dari YouTube, mulai dari cara mengupas nanas yang efektif, membersihkan piringan hitam, arsip-arsip lama Srimulat, hingga tips menyetir mobil. Yoi, saya ini termasuknya telat banget soal kemampuan mengemudikan roda empat, dan sebelum berangkat hari pertama kursus nyetir, saya browsing-browsing dulu di YouTube hanya supaya saya nggak culun-culun amat di depan instruktur. Dan tentu saja seperti kata Simon Reynolds di buku Retromania (2011), kemajuan teknologi modern terutama internet menariknya malah bikin manusia cenderung menengok kembali ke belakang, menggali-gali artefak lama (musik dan hal-hal lain dengan segala keganjilannya yang memikat) yang dengan sukarela dipasok para netizen ke dunia maya. Di satu bab khusus soal YouTube di situ, “Total Recall: Music and Memory in the Time of YouTube”, Reynolds mengutip perkataan seorang seniman muda yang membayangkan bagaimana seribu atau duaribu tahun yang akan datang, manusia barangkali akan memperlakukan YouTube sebagaimana kita ini saat ini terhadap hieroglif Mesir kuno, “It’s basically the inventory of who we are. All our mundane and insane dreams, collected. Things we’re interested in and things we found funny. Especially as a lot of YouTube seems to be diaries or weird confession-booth stuff.” Saya kenal The Tielman Brothers pertama kali pun dari YouTube, yang aksi liarnya main gitar di belakang punggung memukau seisi ruang meeting naskah lawak yang mampet di jam dua dini hari, dan pesona ganjil itu lumayan bikin melek lagi kami para penulis yang sudah kelelahan, ngantuk bukan main, perang batin (eh itu sih saya aja), garing dan kehabisan ide. Atau aksi absurd Darto Helm dkk naik permadani terbang (!) di acara tahun baru 1984 di TVRI yang sungguh menghibur. Dan masih banyak lagi. Asemik, kok malah jadi panjang lebar begini sepatah dua patah kata pengantar saya. Sesungguhnya nenek bilang kakehan cangkem itu berbahaya, ehmm lebih tepatnya sih ora ilok. Sikat, ndes…

_

[Budi Warsito]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *