Hikayat Malam Seribu Pepaya

Tentu saja ini adalah foto irisan pepaya, yang buahnya semalam saya gigit-gigit cantik menjelang midnight. Buah tropis ini oleh Columbus disebut “the fruit of the angels”—boleh jadi karena lekuk bentuk dan liuk warnanya menggiurkan sekaligus anggun bak bidadari, dengan tekstur daging buah yang halus saat dipandang, lembut jika dikunyah, dan aftertaste-nya bikin kita susah move on. Coba potong-potong jadi tujuh puluh sekian iris, niscaya kita bisa bikin pesta rujak di surga. Eh, di dunia juga bisa sih.. tapi saya sudah keburu ngantuk. Adikarso di akhir dekade 1950an mengambil inspirasi dari buah ini yang keberadaan pohonnya kerap menyelamatkan keluarganya dari kelaparan, menjadi satu lagu yang sangat populer di masanya, “Papaja Cha-Cha-Cha”. Lagu manis riang ini justru ditulis oleh singer/songwriter asal Jember tersebut dengan hati hancur, tepat setelah hujan lebat menumbangkan pohon di depan rumahnya yang sudah banyak berjasa itu. Menurut majalah Varia edisi 13 April 1960, sang bos besar di tempat Adikarso saat itu bekerja (yakni perusahaan rekaman N.V. “Irama” di Cikini, Jakarta) langsung jatuh hati pada lagu karangan anak buahnya, “..direktur Irama setjara kebetulan ikut pula mendengarkan. Beliau tertarik dan menjuruhnja lagu itu dimainkan betul untuk direkam diatas piringan hitam. Djadi sudah!” (hlm. 6), and the rest is history. Lagu “Papaja Cha-Cha-Cha” pertama kali dicetak dalam bentuk plat gramofon 78rpm (shellac) 10″ dengan lagu “Marjamah” di sisi sebaliknya. Setelah masuk era vinyl, lagu itu dicetak lagi di piringan hitam 33rpm 12″ Papaja Mangga Pisang Djambu, sebuah kompilasi mega-hits di jamannya dengan Adikarso sebagai fotomodel di sampul depannya: berpose nyengir, memegang buah pepaya yang sudah diiris setengah dan masih ada biji-bijinya. Di Jawa Tengah buah surgawi ini disebut “kates”, sementara orang Sunda menyebutnya “gedang”—yang artinya justru pisang bagi orang Jawa. Pepaya dikenal melancarkan pencernaan, sehingga saya kadang bertanya-tanya: jika buah pepaya dimakan bersamaan dengan buah salak, apakah otak/usus/dubur kita jadi kebingungan menerjemahkannya, output-nya kudu licin atau sembelit nih bos?

*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *