Cawang Plinthêng Jambu Kluthuk

Ketika guru ngaji saya waktu SD dulu bercerita tentang keutamaan berkuda, berenang, dan memanah, yang langsung terbayang di benak polos saya saat itu adalah justru peluang praktiknya dalam keseharian (baca: bermain), yakni pit-pitan, adus kali, dan dolanan plinthêng. Perihal naik sepeda, saya termasuk lambat belajar numpak pit onthel dibanding teman-teman sekampung—baru setelah naik kelas 3 SD saya bisa, dan itu malunya bukan main. Soal berenang di sungai, prestasi terbesar saya cuma pernah satu kali dipaksa ikut naik rakit dari gedebok pisang ramai-ramai, yang berakhir dengan rakit amatir itu terbalik dan kami semua tercebur ke sungai. Untung kejadiannya masih di area yang relatif dangkal, dan saya berhasil keluar hidup-hidup dari dalam air dengan seekor yuyu kangkang menempel di leher.

Nah, untuk urusan terakhir, yakni dolanan plinthêng atau main ketapel, portfolio saya cukup lumayan. Keren tidaknya kamu dalam liga perketapelan di kampung salah satunya diukur dari mutu senjatamu, yang kebanyakan memang DIY alias bikin sendiri. Tali karet pèntil satu lapis doang artinya culun. Tali pèntil dua lapis, standar. Tali pèntil tiga lapis, wah kamu disegani kawan dan lawan. Itu masuknya sudah kelas berat, dalam arti sebenar-benarnya: si ketapel memang jadi berat saat ditarik. Selain butuh otot bisep yang prima, si ketapel tiga pèntil juga mensyaratkan material batang kayu yang cabangnya harus kokoh sempurna. Jika tidak, ya bakal patah duluan sebelum bertanding.

Di kampung saya, cabang kayu berbentuk mirip huruf Y itu lazim disebut ‘cawang’. Beruntunglah bapak ibu saya suka menanam bermacam-macam pohon di halaman rumah kami, alhasil saya jadi punya banyak pilihan dalam mencari cawang terbaik. Favorit saya selalu jatuh pada pohon jambu kluthuk (Psidium guajava), yang jika ditinjau dari ketahanan serat, massa kayu dan tekstur dahannya, semua terbilang sempurna. Ia kokoh, beratnya pas, halus pula permukaannya. Menarik secara estetik, juga fungsional. Bahkan kalau mau dicari-cari kelebihannya lainnya yang sebetulnya kurang nyambung dengan dunia perketapelan, daun dari pohon ini bisa dijadikan ramuan tradisional untuk menyembuhkan batuk dan diare, demikian kata almarhum pakdhe saya yang kelahiran tahun 1935.

Tak ada yang lebih mengasyikkan ketimbang memotong dahan jambu itu dengan sangat berhati-hati dan penuh cinta kasih, mengupas kulit batangnya dan meraut isinya, menghaluskannya menjadi cawang. Membuat cekungan di kedua ujungnya, melilitkan si tali pèntil. Menggunting karet bekas ban dalam dari sepeda, membentuknya persegi panjang sebagai sabuk pelontar untuk peluru yang khusus dibikin dari bulatan-bulatan tanah liat yang dikeringkan. Semua craftmanship itu dikerjakan sambil mengunyah daging buah jambu yang warnanya merah segar, lezat penuh biji. Astaga, nikmat woh-wohan mana lagi yang hendak kau dustakan? Sampai sekarang saya kok masih heran kenapa tak banyak musisi yang menggubah lagu mengenai atau minimal menulis lirik yang menyebutkan soal jambu (kalau puisi sih ada), selain Yth. Bapak Adikarso, duo maut Tetangga Pak Gesang, dan errr, Matta Band. Sebetulnya saya pengen bercerita lebih banyak lagi soal itu tapi kamu tahu saya kadang-kadang malas.

Sebetulnya saya cuma mau bilang, bahwa ketika tiga tahun lalu ada bangunan kecil mulai dibangun di taman belakang perpustakaan Kineruku di Bandung, saya gembira betul dengan fakta bahwa pohon jambu batu yang sudah lama tumbuh di situ tidak ikut ditebang. Ia tetap dipertahankan, berdiri anteng di sebelah pintu, tampak kikuk dimakan usia, dan tiap kali saya memandangi dedaunan dan ranting-rantingnya yang menjulur ke atas menantang langit, diam-diam saya teringat obsesi masa kecil yang hingga kini belum kunjung berhasil. Mengetapel bulan.

* * *

..kita tak perlu ke kota/ kita ‘kan membuat kota..

One thought on “Cawang Plinthêng Jambu Kluthuk

  1. Wawan

    Ooooh yeah! Pertamax!

    Pertamax2, tos dulu soal mandi di kali. Saya satu-satunya yg tdk bisa renang sepantaran saya, dan pernah juga mengalami kecelakaan rakit gedebok di kali lumpur sepinggang. Tapi sudahlah, saya sudah move on dan sudah berusaha ngeleskan renang anak saya.

    Btw, di daerah sampean namanya “cawang” (yang sepertinya secara etimologi mestinya tidak berbeda dengan “cabang” ya?). Di tempat saya namanya “congkok.” Sekarang jadi bertanya2, kenapa hanya cabang jambu yg dianjurkan untuk ketapel? Seingat saya pohon “keres” “kersen” atau “ceri” juga punya cabang2 bagus dan simetris. Kenapa yg populer jambu? Apakah ada kearifan lokal di sana, ataukah kita cuma taklid buta?

    Semoga suatu saat cita-cita mengetapel bulan itu bisa hilang, dan diganti dengan cita-cita untuk tetap tinggal di desa sebagai Hokage ketujuh.

    Salaam,

    ======

    Halah, sampeyan ini ada-ada aja, Cak Wawan. Lha wong sepi komentar gini kok blog ini, ya pasti gampang to jadi yang pertamax. Hihihi.

    Betul, secara etimologis ‘cawang’ itu rasanya kok ya sami mawon dengan cabang, semacam ‘belas kasih’ dan ‘welas asih’. Kalau ‘congkok’ apakah ada hubungannya dengan ‘cangkok’? (Setiap praktik mencangkok itu kan sebetulnya mirip ‘membentuk cabang baru’ ya? Hehe.)

    Soal kenapa jambu, dan bukan kersen (yang di tempat saya biasa disebut ‘talok’), sepertinya simply karena pohon jambu lebih lazim saja dijumpai. Pohon talok agak langka di tempat saya, ada satu saja di RT sebelah, itu pun di depan rumah seorang pensiunan pulisi. Ya gentar juga kalau mau sembarangan ngambil dahannya. Hehe.

    Waduh, Hokage! *langsung semedi* —BW

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *