Kemarin Mudik

PemeanNangSumur

Dingklik mungil itu rasa-rasanya sudah ada sejak saya dulu masih bocah. Demikian pula sapu lidi di sebelahnya, hanya ukurannya kini menyusut. Bapak biasa memakai sapu itu untuk menyapu halaman, sambil sarungan dan berkaos sporot, sementara saya sibuk memunguti jambu kamplok dan belimbing wuluh yang jatuh-jatuh, alias gogrog memenuhi pekarangan. Pengki (kami dulu biasa menyebutnya ‘ikrak’) berbahan plastik itu tentu saja bikinan baru, karena ikrak jadul biasanya terbuat dari kotak kaleng biskuit ukuran besar, dibelah arah diagonal menjadi dua, lalu dikasih bilah bambu sebagai pegangannya. Beberapa hal rupanya memilih tetap bertahan meski digerus zaman. Termasuk kenangan. Dingklik tadi itu bisa jadi adalah dingklik yang dulu sering saya pakai untuk duduk, meski sesekali harus njengking, mengipasi tungku kayu bakar dengan penuh semangat. Selalu tak sabar saya menunggu singkong yang saya selipkan ke sela-sela arang dan bara api itu matang sempurna. Ibu biasa menjerang air di atas tungku untuk bikin teh di sore hari. Tak bosan-bosannya dia ingatkan anak ragilnya supaya mandi dulu (“Ayo pakpung sik Le..”), barulah singkong bakar boleh disikat. Tentu Ibu paham betul kreasi si kecil itu bisa jadi ndak keruan rasanya, tapi bukankah kasih ibu sepanjang masa: “Piye Le, enak to pohunge?” Saya langsung mandi gebyar-gebyur. Sebentar lagi film seri Superboy diputar di TV.

*

One thought on “Kemarin Mudik

  1. Sundea

    Superboy! Iyak, baru inget lagi ada film itu dulu 😀

    ___
    Yoi Dea, ada 2 versi pemerannya: John Haymes Newton yang cool tapi kaku, dan Gerard Christopher yang lebih kocak tapi sekaligus lebih dark ceritanya. ~BW

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *