Satu Mangkok (Saja), Dua Ratus Perak?

MelisaAbangTukangBakso_kaset

#nowplaying
Melisa – Tukang Bakso
didukung Tom Tam Group, Jali-jali Group
[kaset, Gajah Mada Record, tahun rilis sekitar 1990]

Siapapun yang pernah jadi anak kecil di era ’90an pasti ingat lirik lagu legendaris ini, “..bakso bulat/ seperti bola pingpong/ kalau lewat/ membikin perut kosong..” Prinsip rima di situ mirip sajak a-b-a-b di pantun jenaka menurut buku pelajaran Bahasa Indonesia, dan entah apakah si penyanyi cilik itu sedang mendeskripsikan bakso saja atau sekaligus pipinya sendiri. Sampul kasetnya menampilkan pelawak kenamaan S. Bagio sebagai abang tukang bakso (“mari mari sini/ aku mau beli..“) dengan outfit lintas jaman yang sungguh profetik: topi pancing Ian Brown, kaos tribal psychedelia, celana gulung hipster.. semuanya waaay before it was cool! Sempat diisukan meninggal gara-gara kesetrum, desas-desus kematian Melisa saat itu berhembus sama kencangnya dengan gosip Enno L*rian dihamili B*ndan Prakoso. Seingat saya tak pernah ada konfirmasi jelas soal ‘kabar burung’ (pun intended) dari dunia gosip underground artis-artis cilik tersebut. Apa jadinya kalau socmed sudah ada saat itu? Kini kabarnya Melisa udah gede, cantik, sekolah di luar negeri, bahkan mungkin sudah menikah. Seorang kawan mengomentari lagunya, “Dengan adanya bait ‘juga tidak pakai kol!’ jelas ini bukan tentang Bakso Malang.” Seorang kawan lainnya langsung menimpali, “Ada juga kok, bakso di Malang yang pakai kol, extra crunchy.” Dua kawan saya itu kebetulan dua-duanya dari Malang. Terus terang saya sempat bingung dengan logika silogisme di atas. Permintaan khusus Melisa untuk “tidak pakai kol” menyiratkan bahwa bakso yang biasa lewat di sekitar rumahnya selalu pakai kol; lalu kesimpulan kawan saya itu “bukan tentang Bakso Malang” berarti Bakso Malang biasanya tidak memuat kol.. eh tapi emang ada gitu, bakso yang pakai kol? Kalau soto mie sih memang pakai kol.. Aduh, ruwet. Lirik yang aneh! Jangan-jangan kalimat itu dipakai hanya karena pertimbangan lingua poetica semata, demi mengejar keterpenuhan slot suku kata pada liriknya. Atau anggaplah memang ada bakso semacam itu di sekitar rumah Melisa, bisa jadi itu murni keputusan prerogatif penjualnya yang absolut, dan bukankah yang namanya variasi itu sah-sah saja? Saya jadi ingat, dulu ketika pertama kali makan bakso di Bandung (lazim disebut ‘baso’, tanpa sisipan ‘k’), saya agak heran kenapa ada tauge alias kecambah. Setahu saya, bakso di Jawa Tengah tidak menyertakan thokolan atau cambah (bahasa Jawa untuk tauge) di kuahnya, atau mungkin ada di beberapa tempat tapi cukup jarang (ini dulu lho ya, entah kalau sekarang, in this borderless world…). Untunglah Sumpah Pemuda dulu tidak ada yang berbunyi, “…mengaku berbakso satu, bakso Indonesia.” Bisa ribut itu mazhab Solo dan Malang. Saya sendiri bukan penggemar berat bakso, namun jika boleh lidah ndeso saya ini berpendapat, bakso paling enak di dunia itu ya bakso gaya Solo (dan/atau kabupaten-kabupaten sekitarnya). Jika sampeyan ada waktu dan kesempatan, silakan singgah ke daerah Hegarmanah, Bandung. Ada satu penjual bakso gerobak langganan saya—woles, bermuka ramah dan kalau tidak salah asalnya dari Sragen—yang sering lewat depan tempat saya sore-sore, mangkal bentar di dekat parkiran, sebelum lanjut keliling kompleks. Ampun, itu bakso enaknya beyond belief! Ya duduh-nya, ya glindhingan-nya. Ada glindhingan kecil dan glindhingan besar (bakso urat maupun yang diisi telor rebus), dua-duanya lembut tapi masih ada unsur kenyal: tiap gigitan tetap menyisakan perlawanan. Dan aftertaste-nya hanya akan bikin kita gundah, haruskah lanjut ke mangkok berikutnya atau biarlah nikmat itu meresap sampai di sini? Harganya, porsinya, sambelnya, bahkan cengiran Mas-nya, semuanya terasa pas, ndak dibuat-buat. “Aku ki pancen nganggo bumbu rahasia, nggawe dhewe lho…” [“Saya memang pakai bumbu rahasia, bikinan sendiri..”], kata si Mas Sragen itu bangga. Saya percaya dia berkata jujur. Lagian, mana berani dia bohong? Karena “kalau bohong.. digigit nenek gondrong!

* * *

BaksoBulatSepertiBolaPingPong

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Silakan bernostalgia mendengarkan lagunya:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *