Kaset Djoenaidhi di Cerpen Mas Yusi

Si tokoh utama cerpen “Ular-ular Temanten” karangan Yusi Avianto Pareanom dari buku Muslihat Musang Emas (2017) diceritakan sengaja mendengarkan kaset lawas ini dengan niatan “untuk mencuri gagasan” (hlm. 208), karena ia diminta memberi ular-ular temanten atau nasihat perkawinan pada pesta pernikahan kawan lamanya. Saya cuplikkan audionya lewat potongan rekaman di bawah ini, yang saya ambil tadi pagi di rumah lewat tapedeck Tandberg tua yang saya beli dari lapak barang loak (sepertinya bekas lungsuran dari laboratorium bahasa sebuah sekolah menengah), tepat pada dialog yang diceritakan di cerpen tersebut. “Ular-ular Temanten”, juga “Pergi ke Malang” dan “Ia Pernah Membayangkan Ayahnya adalah Hengky Tornando” menurut saya adalah cerita-cerita terkuat di antologi itu. Bukan kebetulan ketiganya berlatarkan dysfunctional family, sebuah tema klasik jika bukan malah klise yang kerap muncul di dunia storytelling seperti sastra dan film. Memang dari keluargalah kekisruhan hidup biasanya bermula, disadari atau tidak, sebelum kemudian merembet ke mana-mana. Halah. Saya tidak perlu ikut-ikutan latah mengutip kata-kata Sokrates di sini, apalagi Tolstoy, yang saking seringnya dikutip di mana-mana sampai jadi terasa culun. (Lagipula berapa banyak sebetulnya yang ngeh kalau Sokrates sendiri justru suami yang payah?)

Kaset “Ular-ular Temanten Vol. 2” ini termasuk kaset Djoenaidhi Group dari era awal ‘80an favorit saya selain “Djoenaidi Turun dari Planet” (sebuah komedi sci-fi!), dagelannya mengalir riang gembira meski dari situ tetap terbayang seperti apa ribetnya acara perkawinan. Ini tipikal lawak audio yang pintar mengolah situasi-situasi tak terlihat untuk membangkitkan imajinasi kocak di benak pendengar, dan theater of the mind dari kaset keluaran Kencana Record ini memang seru, terutama yang terbangun oleh kejelian pelawak-pelawak natural itu menangkap potensi komedi dari sebuah institusi—atau setidaknya ‘peristiwa’—yang seringkali taken too seriously bernama (pesta) pernikahan. Sementara cerpen Mas Yusi bernada sedih, meski banyak diselipkan kejadian-kejadian lucu dan remah-remah pop culture, tapi undertone-nya tetap saja melankoli alias sendu.

Yang tidak diceritakan di cerpen Mas Yusi itu, karena memang tidak perlu tapi anggaplah info sepele dari saya ini dapat memperkaya khazanah trivia facts Anda, adalah bahwa si tokoh sesepuh yang memberi ular-ular temanten di kaset ini bernama… Budi.

* * *

>> Dagelan Djoenaidhi Group – “Ular-ular Temanten Vol. 2” (excerpt):

__
Beberapa kaset grup lawak itu mengeja nama frontman-nya sebagai Djoenaidhi, beberapa lainnya dieja Djoenaidi, sementara cerpen Yusi Avianto Pareanom menyebutnya Djunaedi. Buku kumpulan cerpen Muslihat Musang Emas (penerbit Banana, 2017) bisa dibeli di Kineruku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *