Kabar Mandasia untuk Kita Semua!

MANDASIA_BWnet_still

SCENE #01.

“Aku curiga, Kitab #‎RadenMandasia itu sebenarnya sudah selesai ditulis sejak berabad-abad silam (ya, persis seperti dugaanmu, Prabu Yusi MacLeod itu sebangsa highlander Melayu yang tak mati-mati), namun bisa jadi ada kendala teknis yang menyulitkan, seperti harga daun lontar yang tak kunjung stabil, atau pageblug raya berkali-kali melanda pesisir utara wilayah kekuasaannya (diduga ada sabotase). Setelah kertas ditemukan di timur jauh, disusul Pangeran Gutenberg ketiban wangsit membikin mesin cetak, aku membayangkan si raja cum pujangga yang pengennya selalu sok update itu langsung tergopoh-gopoh memerintahken semua jajaran terkait agar supaya 450 halaman daripada syair gubahannya itu segera diduplikasi sebanyak-banyaknya dengan metode klasik njelehi seperti tampak pada video sunyi di tautan ini. “Biar mbois gitu loh…” demikian beliau selalu berdalih, menanggapi muka-muka penuh tanya dari para utusan kerajaan-kerajaan sahabat. Kira-kira di dasawarsa kesekian pengerjaannya, dewan project officer yang terdiri dari para tumenggung senior di kerajaan Bananakertagama mulai pegal-pegal kecapaian dan merasa bikin piramid saja bisa lebih cepat. Mereka sadar kesabaran dan terutama kesetiaan mereka sedang diuji adanya, tapi bahkan sabar dan setia pun ada batasnya. Tak tahan dirundung encok berkepanjangan, ditambah teror mental bertahun-tahun dari para penggemar yang mengaku tak khusyuk semedi saking gelisahnya menunggu-nunggu wahyu illahi itu diterbitkan, sarekat tim ahli yang diwakili Senopati Risdi dan Adipati Yunanto akhirnya memberanikan diri berkuda tiga hari tiga malam dari padepokan produksi di pinggir hutan, menuju istana Depok untuk menghadap Sang Hyang Yusi dan memohon kebijaksanaannya. Untunglah, selain gemar menraktir dan membual sana-sini, ternyata Gusti Prabu juga maha mendengar lagi mengasihi, dan yang paling apes: mudah terharu. Menyimak para pengikut setianya berkeluh kesah sambil bergantian mengoles param kocok, air matanya hampir jatuh bercucuran jika saja tak segera ingat itu bahan abadinya dalam merisak pengikut setia lainnya, Raden Wibisono penguasa kerajaan Jember dan putra mahkota dinasti Kennedy dari negeri seberang. Akhirnya, demi kemaslahatan umat dan terlebih lagi mengamini fatwa para dukun sepuh untuk selalu mendahulukan kepentingan gerhana eh bersama di atas kepentingan pribadi atau golongan, maka sabda arif nan melegakan pun segera dirilis dan langsung disebarluasken dari congor ke congor liwat jubir istana. Kau tahu, kitab sialan itu akhirnya diperbanyak melalui percetakan modern biasa, dengan isi yang Insya Allah ndak biasa. Harganya terjangkau oleh rakyat jelata, bisa ditukar pula dengan mengirimkan upeti hasil bumi. Atas nama stabilitas nasional, buku Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi siap menjumpaimu dalam beberapa hari ke depan, cyiin..”

~ Rangga ke Cinta, via LINE, setelah tak berkabar sekian purnamuachh

SCENE #02.

Meme_RanggaCinta_AADC2_RadenMandasia_still

Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi
dongeng oleh Yusi Avianto Pareanom
Diterbitkan oleh Banana, 2016
Sampul warna, isi hitam-putih
Tebal 450 halaman
Ukuran 14 x 20,3 cm
Rp 69,000

Bisa diperoleh di Kineruku, Bandung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *