John & Don

Yang paling menarik perhatian saya dari segala puja-puji atas sosok John Peel adalah justru cerita-cerita ‘kecil’ di seputar hidupnya, karena kurasi musiknya cepat atau lambat toh bakal sampai juga ke saya, bakal saya temukan juga suatu hari nanti dan itu tidak musti lewat dia, demikian waktu itu saya pikir. Rupanya bibit-bibit sombong atau simply blo’on ini sudah ada bahkan ketika saya masih anak ingusan dan belum mengenal internet! Tentu saya menulis ini karena kemarin lusa adalah tepat 13 tahun kematian penyiar radio legendaris itu. Saya ingat sempat bersedih saat mendengar berita duka itu dari sebuah warnet di tahun 2004, dan lebih sedih lagi mendapati Damon Albarn mengaransemen ulang satu nomor Blur favorit saya, “Strange News from Another Star”, menjadi lagu berkabung di kematian John Peel. Contoh narasi kecil yang membekas di saya adalah bagaimana John Peel membela Captain Beefheart di sebuah kolomnya di International Times, publikasi paling cool di scene bawah tanah Inggris Raya akhir 1960an, “Chris Welch dari Melody Maker pernah bilang Magic Band adalah band terjelek yang pernah dia lihat di atas panggung; sementara menurut saya justru yang terbaik.” Rasa-rasanya itu bukan sekadar pembelaan atas nama persahabatan, meski John Peel dan Don Van Vliet, si kepala suku Captain Beefheart, memang berkawan baik. Salah satu kisah magis dalam pertemanan mereka pernah diceritakan Peel, “Van Vliet tiba-tiba bangkit dari duduknya, beringsut menuju meja telepon, aku bingung kenapa dia ke situ.. dan tak lama kemudian telepon itu berdering! Lalu dia mengangkatnya.” Atau ketika mereka sedang naik mobil, tiba-tiba Van Vliet meminta Peel meminggirkan mobilnya, Peel bertanya untuk apa; jawab Van Vliet, “Aku mau mendengarkan pohon…” Bayangkan, MENDENGARKAN POHON! Jangan-jangan semua kesintingan musik Captain Beefheart memang berakar dari hasrat-hasrat ganjil di kepala untuk menyimak bunyi ranting dan dedaunan dan suara-suara tak terdeteksi lainnya; yang kemudian diolahnya lewat vokal sember yang jauh lebih mengganggu ketimbang parade kodok dilanda birahi yang kawin massal di atas comberan. Saya selalu membayangkan algoritma estetis mereka sebagai kombinasi rumit dari sosok cenayang purba yang sangat yakin dengan dirinya dan musisi blues penggerutu yang terlampau modern di jamannya, dengan beat-beat ambyar yang tak semua orang bisa mencernanya. Pernah suatu kali saya sengaja memperdengarkan lagu Beefheart yang sebetulnya cukup normal menurut saya, “I Love You, You Big Dummy“, ke seseorang yang mengaku penggila funk dan saat itu sedang berupaya keras bikin album funk, tapi komentarnya malah, “Beatnya salah semua ini!” Yeah right, some people just don’t get it. Padahal bukankah terkadang kita justru perlu belok-belok dulu, méngslé (mléngsé?), gèsrèk, untuk bisa beringsut maju ketimbang sok lurus-lurus aja tapi sebetulnya jalan di tempat? Itu lebih ke persoalan state of mind nggak sih. Saya jadi ingat beberapa tahun lalu ketika ada tugas besar di kampus dan deadline sudah menyeringai di depan mata, saya terpaksa begadang semalaman demi mengerjakan berpuluh-puluh halaman laporan penelitian dengan memutar semua album Captain Beefheart, berurutan dan sengaja saya ulang-ulang terus menerus belasan album itu dengan volume paling keras hanya supaya saya bisa terus terjaga. Saya berhasil menyelesaikan tugas nyaris mustahil itu menjelang azan subuh berkumandang. Setelah beres-beres untuk persiapan presentasi pagi itu juga, saya berangkat ke kampus dengan perasaan ganjil dan ritme otak yang sulit dijelaskan. Saya jatuh pingsan di depan kelas, teman-teman kebingungan dan menggotong saya masuk ke ruangan, tapi anehnya begitu siuman saya bisa langsung nyerocos lancar di depan dosen penguji! Rasanya saya tidak pernah secerdas itu. Teman-teman makin bingung, apalagi saya, tapi saya pulang dari sidang presentasi itu dengan nilai A sempurna dan kepala berdenyut-denyut sakit, seperti memar otak yang tetap awet hingga berhari-hari setelahnya. Belakangan saya malah curiga barangkali seperti itulah salah satu cara kerja musik Captain Beefheart yang penuh bau dupa dan misteri: ia mampu merasuki alam pikiran kita sedalam-dalamnya, terlalu dalam bahkan hingga ke palung-palung yang tak pernah terjamah sebelumnya dan ‘menghidupkan’ apa yang selama ini terlelap pulas tanpa kita sadari kita punyai. Kepadanya saya musti berterima kasih. Beberapa tahun setelah kejadian itu, saya membeli sebuah piringan hitam lawas yang harus saya akui, bahwa terlepas dari semua kesombongan masa remaja yang saya sebutkan di awal tadi, khusus untuk yang ini saya memang sudah lancar incar semata-mata karena ke-John Peel-an belaka: album kedua dari sebuah band psikedelik blues bernama Stack Waddy, Bugger Off! (1972), yang direkam mentah-mentah secara live dan dibiarkan tetap mentah tanpa polesan di meja mixing, termasuk teriakan-teriakan di studio yang dibiarkan begitu saja, dan dirilis oleh Dandelion Records—sebuah label rekaman berumur pendek yang tak lain dan tak bukan adalah milik John Peel. Dan kepada siapapun di negeri ini yang suka mengaku-ngaku atau kalaupun bukan self-proclaimed tapi dielu-elukan sekitarnya sebagai “John Peel-nya Indonesia”, saya ketawa ngakak dan pengen banget bilang, “Sori bro, lo masih jauh. Jauuuh banget.” Long live, John. Met siaran lagi di atas sana. See you soon.

___

Berlebihankah saya jika masih memimpikan musik-musik semacam ini bakal kembali muncul di televisi?

___
Damon Albarn memainkan piano syahdu di kematian John Peel:

___
Blur jam session bersama Silver Apples (gilak, gilak!) di salah satu Peel session, memainkan nomor “Essex Dogs” dari album Blur kesukaan John Peel dan lirik puisi Damon di situ mencapai daya ledak maksimumnya di sini:

___
Beberapa Peel session lainnya yang “remarkable” menurut majalah MOJO bisa dicek di sini. Sayang beberapa tautan di situ kini sudah rusak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *