Jeruk Kok Makan Orange?

Intisari-Jeruk

Kebetulan sehabis santap siang tadi saya makan jeruk. Warna oranye-nya cerah menggoda, tekstur kulitnya mrengkel-mrengkel gimanaa gitu, minta dibahas banget. Setelah dikupas dan daging buahnya saya emplok, rasa asem-manis-segar-nya langsung lumer di belantara gigi dan gusi, digerus dan dilumat, airnya pun muncrat-muncrat di dalam mulut. Serat-serat surgawi itu kemudian terjun bebas melewati lika-liku kerongkongan, menyebarkan misi-misi mulia vitamin C, lalu bersemayam khidmat di perut. Rangkaian prosedural khas omnivora ini sukses bikin saya nyengir bahagia, meraih tissue di atas meja, lalu bersendawa. Benar kata pepatah: kendang gendut tali kecapi, kenyang perut senanglah hati. Kulit-kulit oranye sisa jeruk itu tergeletak tanpa daya, meninggalkan bau khas, dan saya malah jadi teringat satu pertanyaan klasik jaman dulu, mungkin dari segelintir homo sapiens cum homo ludens yang iseng sekaligus haus ilmu pengetahuan, “What came first: orange the colour or orange the fruit?” Ini kira-kira sama mutunya dengan pertanyaan-kurang-kerjaan lainnya: “Sebelum buah jeruk ditemukan, warna oranye itu disebutnya apa?”

Beberapa referensi menyebutkan bahwa buah jeruk berasal dari dari daratan China, bahkan bahasa Belanda untuk “jeruk” adalah “sinaasappels”, alias Chinese apple atau apel Cina. Pantesan aja saat perayaan Imlek dan di tempat-tempat sembahyang orang Tionghoa sering terlihat ada jeruk di mana-mana. Kata dalam bahasa Inggris untuk menyebut buah jeruk, “orange”, konon berasal dari bahasa Arab “naaranj”, yang kemudian diserap bahasa Inggris sebagai “narange”, dan lama kelamaan konsonan ‘n’-nya luluh dan vokal depannya dipelintir sedemikian rupa hingga tersisa menjadi “orange”. Nama buah itu, “orange”, kemudian jamak dipakai untuk menyebut warna “orange”. Sebenarnya sebelum warna itu dinamai “orange”, orang jaman dulu sudah mengenal kata “geolurēad” (alias “yellow-read”) untuk menyebut warna di antara kuning dan merah tersebut. Saya jadi curiga, jangan-jangan kata “jeruk” di bahasa Indonesia adalah semacam pelafalan lokal dari “geolurēad” tadi. Coba deh Bos, lafalkan berkali-kali: “geoluread-jeruk-geoluread-jeruk…” pasti lama-lama terdengar mirip dan jadi masuk akal, bukan? Hehe. Kapan-kapan mau saya tanyain ke Remy Sylado ah. Sementara “limau”, sinonim atau salah satu varian dari jeruk, dengan mudah bisa kita tebak berasal dari kata “lime”; sebagaimana “lemonade” dilokalkan dan dipopulerkan sebagai “limun” oleh si Paman Gembul dan keluarga kelinci di majalah Bobo. Beberapa orang tua dari generasi lawas masih sering menyebut jeruk sebagai “limau”. Bapak saya, pensiunan guru Bahasa Indonesia dan sedikit lebih tua dari Bob Dylan, masih sering memakai kata itu. Kepada teman-teman saya yang main ke rumah, beliau sering menawarkan sajian buah itu dengan tata bahasa resmi yang baik dan benar, “Ayo Nak, jangan malu-malu, silakan dicicipi (((limau)))-nya…”

Mumpung sekarang masih dalam suasana hari raya Cassette Store Day, yang tahun lalu saya ikuti di Jakarta dan tahun ini di Bandung, saya mencoba mencari-cari apa hubungan jeruk dengan kaset. Saya ingat ada kaset kompilasi legendaris di era akhir ’90an yang sampulnya bergambar buah tersebut, sayangnya saya sudah tidak lagi menyimpannya. Saya lalu menyisir rak-rak koleksi di rumah, dan terlintas begitu saja untuk mencomot satu per satu kaset-kaset yang sampulnya cenderung berwarna oranye. Hasilnya ada beberapa, dan kebetulan warna musiknya beraneka ragam. Ada Mexican folk, pop kreatif Indonesia, folk-rock, gambang kromong asli, indie rock, dangdut, post-punk, dsb. Kalau mau othak athik gathuk, alias disambung-sambungin, sebenarnya mirip juga dengan buah jeruk, yang juga banyak macamnya: ada jeruk keprok, jeruk nipis, jeruk purut, jeruk pecel, jeruk bali, dsb… Saya susun kaset-kaset itu sedemikian rupa, sok-sokannya biar ada semacam gradasi warna: dari oranye cerah ke oranye tua. Anda boleh juga membacanya sebagai urutan keniscayaan: dari awalnya jeruk segar, berangsur-angsur jadi jeruk busuk. Kalau pengen terdengar (sok) filosofis, bukankah itu semua seperti hidup kita yang fana belaka ini, wahai para pembaca yang budiman? Kita semua, tanpa terkecuali dan tak terhindarkan, sedang menuju kekisutan alami…

Semoga Tuhan menyertai Anda, dan jeruk-jeruk eh kaset-kaset di sekitar kita. Amin.

Kaset_Oranye_Jeruk

Foto jeruk dicomot dari Intisari. Foto kaset dijepret dari koleksi pribadi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *