Kucing yang Tak Terjelaskan

Saya pernah beberapa kali antusias menanyakan band dari Italia ini ke beberapa orang Italia yang saya temui di Indonesia, tapi semua mengaku tidak tahu. Kejadiannya sudah dari belasan tahun silam, tapi bahkan sampai dua tahun lalu pun saya masih terus mencoba. Salah satu orang Italia yang saya tanyai itu padahal anak band juga, meski dia ngeband-nya malah di sebuah kolektif musik berumur pendek di Jakarta. Saya pernah pula minta bantuan ke seorang kawan baik, orang Depok, yang ketika itu mau berangkat ke Italia untuk sebuah urusan dan tanpa ba-bi-bu saya titip pesan, “Tolong belikan saya rilisan mereka ya Mas, album mana pun terserah, tinggal merem dan tunjuk satu, toh semua sama bagusnya.” Eh, boro-boro merem, tak satu pun berhasil dia jumpai selama melek di sana, meski album mereka ada sepuluh! Baiklah. Saya malah makin gregetan, makin semangat, makin deg-degan, dan persis seperti nasihat mbah kakung “good things come to those who wait” akhirnya saya berhasil dapet juga piringan hitamnya, dengan mata kepala sendiri malah dan tangan gemetar, satu album paling terkenal (jika bisa dibilang demikian!) dari katalog panjang mereka, yang menjadikan mereka band Italia pertama bahkan Eropa yang dikontrak Sub Pop, label rekaman legendaris dari Seattle. Tentu saja sudah saya mendengarkan mereka bahkan jauh sebelum mereka dipinang Sub Pop! Nama mereka dicomot dari karakter perempuan penyihir di lirik sebuah lagu Pink Floyd era Syd Barrett, dan musik mereka pun jelas-jelas terpengaruh Syd, bahkan pernah di beberapa kesempatan muka si frontman terlihat sangat mirip Syd! Apa yang mereka mainkan di sepuluh album itu terdengar seperti gerombolan penyihir tak kenal lelah di kuping saya (halah), vokal cemprengnya jelek-jelek gimanaaa gitu, kadang melengking kekanak-kanakan kadang malah terlalu dewasa, musiknya kadang pelan ngelangut kadang histeris dirubung kebisingan gula-gula psikadelia yang membius dan ehmm.. meruang? Ya ampun, lebay dan klise sekali deskripsi saya ini, persis seperti kolom-kolom review membosankan dan gampang ketebak di media-media musik lokal negeri ini. Hehehe. Jennifer Gentle ini pernah manggung di tempat-tempat nggak populer yang pilihan namanya bikin kening berkerut, seperti di Kunming—ibukota provinsi Yunnan, konon tempat asal-usul nenek moyang kita manusia Indonesia—dan Chengdu, keduanya di RRC! Jangan-jangan di sana malah ada rilisan-rilisan mereka? Lagu di tautan di bawah ini memang bukan dari album Sub Pop tadi, tapi seperti yang saya sudah bilang di awal, semua sama bagusnya. Ini salah satu komposisi terpanjang mereka, dan ketika saya mengikuti beberapa aksi live dari sebuah band anak-anak muda Tangerang Selatan bernama lucu The Cat Police di YouTube (saya juga sudah beli CD mereka lewat website mereka, seru!), ada satu-dua nomor yang langsung mengingatkan saya pada spirit Jennifer Gentle ini. Secara musikalitas barangkali mereka berbeda, tapi samar-samar ada nilai rasa (tuh kan, deskripsinya klise lagi!) yang tak terjelaskan, yang sanggup mempertemukan keduanya di satu kelas estetika yang sama. Bahkan di lagu Pink Floyd “Lucifer Sam” tadi itu, selain nama “Jennifer Gentle” ada juga kata “cat”!

___

*

___

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *