Masih Menilai Kaset dari Sampulnya?

zulkarnaen_orkesgumarang77_kaset

Pepatah klasik “don’t judge a book by its cover” rupanya bisa terjadi juga di kaset. Sekilas, foto air terjun (!) di sampul kaset ini seperti mengisyaratkan bahwa isinya tak bakal jauh-jauh dari keroncong nanggung yang membosankan, pop melayu klise nan mendayu-dayu, atau paling banter musik-musik tenang pengiring meditasi. Setidaknya itu yang terlintas di benak saat mendapatinya di lapak kaset bekas. Pun tak ada info apa-apa selain secuil nama di depan, sendirian tanpa judul album, jelas tak banyak membantu. Tapi dugaan serampangan semacam ini ternyata keliru. Side A rupanya berisi repertoir ZULKARNAEN (entah kenapa dieja “Zulkanain” di cover dan sleeve), penyanyi tunanetra legendaris Minang dari era ’70an yang piringan hitamnya dirilis label Singapore, dan jika sampeyan cukup tua, mungkin dulu sempat melihatnya tampil sesekali di TVRI. Hanya berbekal gitar kopong, melodi rancak dengan vokal percaya diri dan kadang tangannya menepuk-nepuk body gitar, lagu-lagu Zulkarnaen di kaset ini terdengar rileks sekaligus meyakinkan dengan caranya sendiri. Rasanya tak harus mengerti bahasa Minang untuk bisa menangkap nuansa jenaka di lirik-liriknya, tipe humor datar yang hanya bisa keluar dari seseorang yang level cueknya sudah melampaui manusia kebanyakan. Di lagu “Ajam Kuriak” misalnya, pembuka kaset ini, Zulkarnaen santai saja menirukan suara ayam berkotek, bahkan berkokok, dengan petikan senar yang akan membuat sampeyan bertanya-tanya apakah ini direkam di Padangpanjang ataukah di Cordoba. Di lagu “Ganto Padati”, dia bahkan bersiul-siul sedemikian rupa sehingga terdengar seperti flute, atau saluang setidaknya. Sementara side B pun tak kalah mengejutkan: ORKES GUMARANG ’71! Di album yang versi platnya bersampul hijau menyala dengan pose berdiri personelnya bak Elastica di eranya, ada mbak-mbak bule Ingrid Michel mendendangkan lirik-lirik mak jleb semacam “Mamandam Raso”, dan Elly Kasim dengan “Bapisah” (lebih lengkapnya terpampang di sampul depan plat: “Bapisah Bukannjo Batjarai”, ouch!). Tapi track andalannya tentu saja “Gasiang Tangkurak”, nomor seram secara judul, lirik, maupun sound-nya. Gasing tengkorak! Bayangkan suara-suara orang kesurupan di studio rumahan yang sedang merekam musik garage lo-fi. Jam 12 malam. Dekat kuburan. Bau kembang. Tujuh rupa. Shift studio sudah mau habis, stok kemenyan malah menipis. Sampul kaset ini mungkin mengecoh, tapi konten, Saudara-saudara, tetap nggak bisa bo’ong. Onde.. iko barang rancak bana! Kaset ini sangat layak dikoleksi.

[Budi Warsito]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *