HBD Mas Graham

Kira-kira 100 tahun setelah Kartini menulis “Kita dapat menjadi manusia sepenuhnya, tanpa berhenti menjadi wanita sepenuhnya..” di salah satu surat-menyuratnya dengan Abendanon (Agustus 1900), Blur memasukkan lirik “Aah don’t stop me now/ Aah don’t stop me now/ Aah don’t stop me now…” untuk reff lagu aneh mereka berjudul “Music is My Radar” (Oktober 2000). Saya tidak tahu persis apa yang dirasakan Kartini atas keterpukauannya pada Barat dan pergulatan nyatanya dengan Timur pada tahun pergantian abad itu, tapi saya kira-kira bisa menangkap keresahan zaman yang menguar halus di sekitar saya setelah kalender di tembok mengabarkan milenium baru: heboh isu komputer bakal lumpuh diserang hama alaf Y2K ternyata tak terbukti, biaya semesteran di ITB untuk pertama kalinya tembus di atas sejuta rupiah, dan segala keganjilan di track terakhir album kompilasi Blur The Best Of itu, juga videoklip yang tak kalah ganjil yang sering tiba-tiba nongol di MTV Asia ketika itu. Selain sekujur beat-nya yang groovy sepanjang durasi, aksi gitar Graham menemukan sound mléyot-mléyot quirky terbaiknya setelah “Beetlebum” dan gitar solo di pertengahan “Coffee & TV”, Alex bermain bass slap (!), dan Dave memamerkan permainan rumit yang selama ini skill bermain drumnya seolah hanya dipandang sebelah mata, memang ada hawa-hawa “baru” di lagu itu: bahwa secara kasual, indie rock ternyata bisa berkelindan cantik dengan beat-beat Latin dan tradisional Afrika (jauh sebelum Vampire Weekend yang centil itu muncul ke permukaan) yang oleh Damon pra-Gorillaz dicampurlah segala potensi eklektisisme itu dengan sedikit sentuhan electronica. Zaman baru rasanya telah tiba dan sudah ada di depan mata, bukan kebetulan Kid A-nya Radiohead juga keluar di masa-masa itu, dan tak lama setelah itu muncul kanal eksplorasi tak bertepi bernama YouTube (2005) dan blog-blog penggali harta karun seperti Awesome Tapes from Africa (2006), dsb. Saya pribadi lebih suka membayangkan bahwa semua itu dimulai dari lagu ajaib ini. Bertahun-tahun kemudian saya baru kesampaian mengoleksi berbagai format rilisan single-nya. Artwork-nya yang cool, menyerupai sosok perempuan (Kartini abad 21?) di persimpangan arah Barat dan Timur, dibikin oleh Graham Coxon, yang tepat pada hari ini berulang tahun ke-49. Mugi panjenengan tansah pinaringan bagas waras nggih Kang!

* * *

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *