God is a DJ

Gambar ilustrasi ini saya potret dari sebuah majalah Bobo edisi 4 Oktober 1980, yang ketika nomor ini terbit saya masih bayi kecil sekian bulan. Mungkin kakak-kakak saya yang membacanya. Rubrik di halaman 8-9 ini bernama “Apa yang Ada di Sekitarmu”, yang kelak pada sekitar 1986 saat saya sedang belajar membaca di bangku TK sudah berubah jadi “Cici Bercerita tentang”. Dari kolom ilmu pengetahuan populer bergambar ini saya belajar banyak hal, mulai dari asal-usul keong hingga mimpi bikin-sendiri-sirene-sepedamu, yang tentu saja gagal karena komponen-komponen elektroniknya sulit ditemukan di toko-toko listrik di kota kecil. Lagipula saat itu saya belum punya sepedanya, karena hadiah sepeda mini BMX belum kunjung meluncur ke rumah meski saya selalu rajin mengirimkan jawaban TTS Bobo ke kotak surat. Untuk beberapa generasi, majalah Bobo jelas salah satu agen kebudayaan terpenting di negeri ini. Di foto ini rubrik tersebut sedang menjelaskan serangkaian proses kerja stasiun radio. Panel ini berbicara bagaimana staf perpustakaan (mungkin semacam litbang) radio bekerja memilih lagu-lagu yang akan diputar selama siaran berlangsung. Mereka adalah para DJ tak bernama yang bergerak senyap membentuk selera musik publik saat itu, dan kepada merekalah sudah sepantasnya kita berterima kasih. Di akhir dekade ’70an hingga awal ’80an tentunya stasiun-stasiun radio masih banyak menggunakan format piringan hitam (dan juga kaset pita yang muncul belakangan) sebagai sumber utama database-nya. Saya membayangkan apakah lagu “Mereka Mencari Tuhan” dari Kelompok Kampungan atau piringan hitam Sengketa Keraton Demak-nya Johnny Alexander pernah mendapat kesempatan mengudara saat itu. Menurut kesaksian seorang kenalan yang tumbuh remaja di era tersebut, lagu “Malaria“-nya Harry Roesli kerap ia dengar diputar di radio. Bahkan nomor instrumental “Don’t Talk About Freedom” yang catchy dan bertenaga itu pernah dijadikan musik pembuka dan penutup untuk sebuah program radio berdurasi sejam yang khusus memutarkan lagu-lagu Indonesia. Bertahun-tahun lalu saya iseng membeli album Kelompok Kampungan tanpa tahu sebelumnya siapa mereka, cuma gara-gara alasan sepele yang mungkin konyol: ia dirilis hanya selang beberapa hari dari kelahiran saya di dunia fana ini. Dan saya tidak menyesal.

__

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *