Iringi Deru Mesin-mesin, Iringi Tangis yang Kemarin


Kalau ada semacam daftar “lagu-lagu yang dibawakan sejelek apapun tetap masih lumayan” menurut saya lagu ini harus masuk, bahkan kalau perlu di posisi teratas. Saya pernah beberapa kali merekam di handphone lama saya, lagu “Terminal” dicover oleh para pengamen di atas bis kota, di depan lampu merah perempatan, di angkringan, stasiun sepur, dan ya, tentunya di terminal; nggak ada satu pun yang gagal bikin saya merinding. Termasuk yang paling baru, beberapa waktu lalu di depan sebuah warung soto yang selalu ramai. Tetap bagus. Bagian yang paling saya tunggu-tunggu: tanjakan tipis yang bisa dijadikan barometer mutu vokal si empunya suara di lirik “…kudatangi lewat lagu/ kudatangi kamu…”, dan bukankah itu yang sebenarnya para pengamen itu sedang lakukan dengan kerongkongan, gitar, dan harmonika mereka? Franky Sahilatua dan Iwan Fals jelas adalah dua raksasa di repertoar hapalan para pengamen di seluruh penjuru negeri, bayangkan bagaimana perasaan para pekerja/seniman jalanan itu ketika mendapati pahlawan-pahlawan terbesar mereka berkolaborasi, menyanyikan lagu… tentang mereka! Salah satu trik paling tua di industri musik pop adalah gubahlah lagu sedemikian rupa sehingga para pendengar merasa seolah-olah lagu itu bercerita tentang mereka, tapi Franky dan Iwan memang bukan murni musisi pop dan mereka nggak main-main dengan apa yg mereka nyanyikan. Meski lebih mirip potret sosial yang buram, lagu ini malah meledak di jamannya, diputar on heavy rotation di radio-radio dan saya masih ingat videoklipnya di televisi bikin saya pengen punya jaket dan topi a la Franky. Dalam waktu singkat ini menjadi lagu kebangsaan bagi siapapun mereka yang pernah (atau masih sedang) bergulat dengan kerasnya hidup di terminal, yang panas, yang terik mataharinya “membakar tapak kaki”, yang bising dan penuh sesak para pedagang menawarkan barang, yang para pengemisnya meratap “bak meriam dalam perang”. Lagu “Terminal” (1993) ini juga terdengar sebagai kombinasi menarik dari “Bis Kota”-nya Franky (1978) dan “Sore Tugu Pancoran”-nya Iwan (1985). Ketika Franky dengan sengau terbaiknya mendendangkan “pejalan kaki kusut mengutuk hari/ jari-jari kekar kondektur genit goda daki” saya bisa langsung terbayang bis reyot Damar Sasongko berasap hitam setia mengantar saya (disambung jalan kaki sampai gobyos) ke tempat les di daerah Purwosari, Solo, sekitar 1993; dan tepat di lirik “bocah kurus tak berbaju/ yang tak kenal bapaknya” saya selalu teringat “si Budi kecil/ kuyup menggigil”—salah satu rima paling memorable dari katalog panjang Iwan Fals. Lirik lagu ini memang sangat visual dan efisien. Perhatikan bagaimana mereka dengan effortlessnya mendeskripsikan sebuah siang di “terminal yang tak rapi” (!) lewat imaji-imaji WC umum di sebelah warung, dalam satu dua kalimat pendek dan ringkas, “irama melayu terdengar/ akrab mengalun”. Dan reff-nya itu lho, puitik? Penyandingan “deru mesin-mesin” dengan “tangis yang kemarin” rasanya bukan sekadar mengejar rima belaka melainkan juga bisa dibaca sebagai permainan konkret-abstrak konkret-abstrak, tapi bahkan yang abstrak pun terasa begitu konkret! Poetry, dalam istilah Ferlinghetti, is the shadow cast by our streetlight imaginations. Tangis yang kemarin, dari deru mesin-mesin! Franky dan Iwan bergantian menyanyikan kalimat paling-bikin-mikir dari lagu ini, di depan dan di belakang, di antara sayatan gitar listrik Ian Antono yang menjadikan komposisi ini tak hanya gagah, sedikit riang, tapi juga sendu, yakni “…nyanyian duka nyanyian suka/ tarian duka tarian suka/ apakah ada bedanya?” Benar juga, pikir saya. Langitku memang masih biru, tapi apakah ada bedanya? Suka dan duka, di hari-hari ini, ketika jaman semakin edan, APAKAH ADA BEDANYA?

One thought on “Iringi Deru Mesin-mesin, Iringi Tangis yang Kemarin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *