Fell in Love with Planet Zeke

Di jadwal RRRec Fest pada peringatan 10 Tahun ruangrupa awal Januari 2011 lalu, tertera jelas: Zeke Khaseli bakal bermain di panggung outdoor setelah Bangkutaman. Dari kejauhan terdengar intro lagu “Blue Bird Taxi”, saya langsung bergegas sambil menyesal kenapa datang terlambat. Sesampainya di sana ada pemandangan mengherankan. Tak ada Zeke di situ. Di atas panggung, sekelompok anak muda tampak cuek memainkan lagu itu dengan gaya indie-rock lo-fi ala Pavement. Lagu-lagu berikutnya pun dibawakan tanpa basa basi, semuanya bergulir cepat, ringkas, tanpa penjelasan. Dan tak satupun dari mereka mengenakan kostum-kostum aneh: tak ada Boylien, Obama berkepala besar, pria dengan helm dan piyama, bunyi sirene, ataupun poster salak. Ada apa ini? Kenapa bukan Zeke Khaseli dan pasukan bertopengnya yang memainkan repertoire Salacca Zalacca?

Tak jauh dari panggung, Zeke malah duduk-duduk di belakang soundsystem, memainkan pengendali video yang ditembakkan dari laptopnya ke layar panggung. Gaya visual itu sebetulnya tak jauh beda dengan kebiasaan konser Salacca Zalacca: di layar ada sosok ‘mirip Zeke’, lengkap dengan blazer hitam, kacamata bingkai tebal, dan topi khasnya. Tapi di video jelas bukan Zeke, itu orang lain yang didandani menyerupai dan berakting di depan kamera. Apa Zeke sedang bercanda? Dengan ekspresi bertanya-tanya, saya menghampiri Harlan ‘Bin’ Boer dari Jangan Marah Records. Bin hanya bisa tertawa-tawa sambil geleng-geleng kepala.

Reidvoltus, band dari Bogor, tampil di panggung mengcover lagu-lagu album Salacca Zalacca atas nama musisi aslinya dan mengecoh penonton (setidaknya saya); hanyalah satu dari sekian banyak ide aneh seorang Zeke Khaseli.

* * *

Keesokan harinya, di salah satu meja Dunkin’ Donuts Melawai, saya berusaha mengorek isi kepala Zeke Khaseli, kini 33 tahun, yang sepertinya sudah lama dipenuhi dengan lirik-lirik absurd, adegan-adegan film sci-fi klasik favoritnya, selera humor ganjil, ambisinya untuk terus menerus bermusik, serunya membuat lagu sendiri di kamar dan merilisnya rutin tiap akhir pekan.

Sambil mengaduk kopi dan menyantap sarapannya yang terlambat, Zeke membuka ceritanya.”Gue suka Reidvoltus. Attitude mereka asyik.” Dia mengaku para personel Reidvoltus hanya butuh waktu seminggu untuk berlatih lagu-lagu ciptaannya, itupun tanpa sempat sekali pun bertemu Zeke. Di konser semalam, karakter permainan mereka yang kuat berhasil menghadirkan satu lagi nuansa aneh dari sebuah album yang sebenarnya sudah aneh dari awalnya.

Apa itu berarti album Salacca Zalacca cukup diterima publik? “Gue nggak tahu. Tapi pernah di beberapa show, penonton di baris depan teriak-teriak ikut nyanyi. Orang-orang itu hapal lagu gue, bahkan bagian rap-nya. Kadang-kadang itu sudah cukup.”

April 2010 lalu, saya beruntung menjadi salah satu saksi mata dari konser perdana Zeke Khaseli dengan album Salacca Zalacca, di Bumi Sangkuriang, Bandung. Sebenarnya materi-materi lagunya yang mencampuradukkan berbagai genre itu sudah pernah dirilis gratis satu per satu sejak November 2009 di situs pribadi Zeke, tapi malam itu adalah kali pertama dia membawakannya secara live. Penonton sempat dibuat bengong dengan kemunculan aneh para pemusiknya: gitaris dan drummer dengan jubah panjang warna kuning (sebenarnya lebih mirip jas hujan), dengan muka tertutup topeng beruang. Sementara Zeke, bertopeng harimau, mengutak-atik laptop yang dipaksanya menyemburkan suara-suara aneh layaknya musik latar film-film sci-fi lama berbujet rendah. Sound-nya menggelegar—di beberapa lagu volumenya memekakkan kuping dan saya merinding—di mana segala bebunyian eklektik dan vokal aneh Zeke saling tumpang tindih dengan warna-warni video yang disorot ke backdrop.

Zeke bergumam di satu lagu, kata-katanya seperti meracau, sedikit nyinyir tapi kocak, lantas berteriak lepas di lagu lainnya. Bunyi theremin yang menyayat seperti memanggil-manggil makhluk dari galaksi lain, yang entah muram atau riang, atau kombinasi keduanya. Dia tersenyum ketika laptopnya ngadat lagi, seolah-olah itu hal biasa, mengambil gitar kecil (sumpah, saya mendengar nafas lega dari laptop itu!), lalu dengan cueknya nge-rap, “Pusing tujuh bling bling/ pump up valium/ tidur mulut senyum…” Rasanya seperti berkaraoke semalam suntuk setelah di-PHK, di lokasi syuting film Satyricon dengan kru lighting yang mabok.

Jelas dia sangat bersenang-senang malam itu. “Itu salah satu konser terbaik gue. Atmosfernya susah diulangi, bahkan di 30 kali konser setelahnya.” Tapi harus diakui, makin hari konsernya makin tak lazim. Jika tak ramai oleh penonton pun, panggungnya sudah penuh sesak dengan karnaval para kru yang bersukaria. Personel backing band-nya makin meriah (ada yang tugasnya ‘hanya’ mondar-mandir mengacungkan gambar salak, atau membunyikan megafon, tapi itu saja sudah seru!), dan ternyata semuanya menikmati menjadi anonymous di balik topeng. “Gue belinya di satu toko kostum di Jepang. Awalnya cuma pengen nonton konser reuni Pavement doang, tau-tau pulang bawa satu koper penuh isi topeng-topeng.”

Selama tur panjang artis-artis Jangan Marah Records di kota-kota sepanjang Jawa (dari Bogor hingga Malang), kekacauan mulai terjadi di hampir setiap venue, dimana makin banyak sosok berkostum aneh berseliweran di panggung, berbaur dengan penonton menari-nari di tiap lagu. “Raymond, additional player-nya Bangkutaman, awalnya cuma bantuin gitar akustik tiap kali Acum dkk manggung, tapi lama-lama dia mau juga jadi Boylien di konser Salacca Zalacca, hahaha!” tawa riang Zeke lebih mirip anak kecil menyambut anggota geng baru. Bahkan Cholil dari Efek Rumah Kaca pun tak ragu tampil memakai jas hujan warna hijau, saat Zeke membantu mengacak-acak lagu “Kenakalan Remaja di Era Informatika” dengan bunyi-bunyian theremin yang ganjil. (Zeke khusus memesan alat-musik-tanpa-disentuh ini ke Evan Storn, spesialis pembuat instrumen musik elektronik di Bandung. Ketika saya menunjukkan koleksi saya, film dokumenter tentang Leon Theremin, si ilmuwan jenius dari Rusia penemu alat itu, Zeke langsung membawa pergi DVD itu hingga kini.)

Publik mulai menanggapi album solo pertama Zeke ini, meski tak semuanya antusias. Hanya beberapa radio yang sempat memutarnya, dan media massa mainstream seperti enggan mengulasnya. Ketika seorang wartawan majalah musik terkemuka secara gegabah menyebut Salacca Zalacca sebagai album musik folk, saya mengernyitkan kening dan berpikir apakah seseorang sedang teler dan salah mengambil CD. Sementara di sisi lain, penggemar loyal mulai bermunculan. Mereka menyambangi tiap konsernya—artwork poster publikasinya selalu menarik—mungkin sambil menebak-nebak karakter baru apa lagi yang bakal muncul kali ini. Beberapa mulai mengutip lirik-liriknya di akun social media: “Dark Justice” dianggap sangat relevan dengan supremasi hukum yang makin kacau di negeri ini, “…dark justice/ sistem yang paling cuek/ bener salah/ salah bener/ yang nambah cuma masalah.” Di acara puncak Pasar Seni ITB 2010, seorang penonton ikut naik ke panggung besar dengan percaya diri, dan berbagi mikrofon dengan Zeke meneriakkan lirik “…gue mau, semua mau, jadi… man of the hour!”

Tapi lagu “Man of the Hour” bisa jadi memang paling tepat menggambarkan etos kerja Zeke. Diawali kata-kata “Jagoan selalu naik kuda putih,“ disambung dengan “Masuk kamar/ nonton DVD/ hari libur sama dengan hari kerja…”, bukankah itu terdengar seperti personifikasi dirinya sendiri: rekaman musik kamar/penggila film/full-time musician?

Film, salah satu minat terbesarnya, memang punya porsi besar di musikalitas Zeke. Sejak kemunculannya pertama kali di scene musik Indonesia bersama band LAIN, yang justru terbentuk di Seattle, sebenarnya karya-karya Zeke sudah pekat dengan aroma sinematis. Salah satu lagu terkuat di album Djakarta Goodbye (2003) memuat lirik ” …cloning, replicating with a ghost’s cell biomythical…“—terdengar seperti satu premis menjanjikan untuk film sci-fi era ’80-an. Kalimat di lagu lainnya, “…dreaming the megapolis/ big city style you’re on your own/ tuning in bali’s police/ arrest the mind the thought of young…” selalu mengingatkan saya pada robot Maria dan para pekerja di mahakarya Fritz Lang. Sementara piano di track penghujung album mengisyaratkan bakal seperti apa kira-kira film Kubrick pasca Eyes Wide Shut seandainya dia tidak keburu meninggal: “…listen big shot/ under your bed/ boogeyman…” Nada suara Zeke tak tertebak ketika mengaku kepada saya, “Yang bikin gue nyesel dari LAIN, kenapa cuma sempet bikin satu album. Rasanya kayak ada yang kepotong.”

Proyek dia berikutnya, Zeke and the Popo, juga hanya menelurkan satu EP dan satu album penuh, Space in the Headlines (2006), yang disebut majalah Tempo sebagai “The Beatles yang sakit”. Rekaman muram ini cukup imajinatif, lengkap dengan karakter ikonik si manusia berkepala tank, juga sample vocal dari serial televisi Hitchcock—salah satu sutradara favorit Zeke. (“Kalau kata gue Rebecca!” sergahnya ketika saya menyebut The Birds sebagai film terbaik Hitchcock.) Zeke and the Popo juga sempat menyumbang beberapa lagu untuk film Janji Joni (Joko Anwar, 2005), salah satunya tepat di adegan paling monumental: kamera slow motion, Sujiwo Tejo melempar tas Nicholas Saputra ke kobaran api.

Zeke terjun penuh ke dunia film dengan menulis musik latar di beberapa karya fenomenal sinema Indonesia modern: KALA (Joko Anwar, 2007) dan Rumah Dara (Mo Brothers, 2009). Di film Fiksi. (Mouly Surya, 2008), Zeke meraih Piala Citra sebagai penata musik terbaik. Bersama proyeknya yang lain, Mantra, dia ikut menggarap musik untuk Pintu Terlarang (Joko Anwar, 2009). Apakah itu semua yang membuat Salacca Zalacca sarat dengan referensi film? Lagu “Ketimur-timuran” menyebut judul-judul film seperti Kill Bill, New York I Love You, Lawrence of Arabia, juga keprihatinan Zeke pada lirik “…bikin sutradara slave produser…” Sementara lagu “Shit Is So Yesterday, Moralist Happens” lebih menohok lagi, “…sekali-kalinya ada film lokal keren/ di bioskop cuma 5 hari.

Meski bisa diartikan sebagai kritik sosial Zeke atas hal-hal di sekitarnya, rupanya dia terlalu introvert untuk membicarakan lirik-lirik lagunya. Komentarnya pendek, “Gue cuma pengen make bahasa yang seasli-aslinya. Bahasa lisan gue yang seutuh-utuhnya. Yang begitu ditulis malah jadi aneh.”

Bagaimana tidak aneh? Album Salacca Zalacca berisi 17 lagu yang tracklist-nya akhirnya disusun sesuai abjad karena terlalu banyak. Dan itu artinya 17 narasi tak beraturan tentang, well, apapun. Tapi justru di situ daya tariknya. Di lagu pembukanya, 11:01, Zeke langsung meracau soal perjalanan udara ke rumah teman dekatnya yang baru saja meninggal, dan harus menulis lagu untuk upacara pemakamannya, “Andy ninggalin pacarnya sendirian di hujan/ padahal masa depan mereka lumayan cerah/ untungnya pas sebelum mati sempet berubah/ jadi makhluk penyayang binatang.” Astaga, kisah macam apa ini?

Jika Slank formasi awal mampu menulis lirik absurd di “Pak Tani”—salah satu lagu giting terbaik mereka “…petani bajak sawah pake traktor/ kerja rutin kontrol sawah/ numpak Harley ngitung laba panen pake komputer/ ngirim order beras pake helikopter…”; maka kalimat Zeke di “Man of the Hour” bisa dipertimbangkan sebagai sekuel yang tak kalah ngaco, “…helikopter boy/ ego main lego/ ayo semua tepuk tangan buat film spesial efek/ kapten kapal api/ di laut mati…

Dan jangan lupa, sepenggal lirik di “Ballet Paranormal” adalah pick-up line abad ini: “…pelukan di halte bus/ dia senyum, hujan reda…” Obbie Messakh boleh berbangga, sekarang dia punya penerusnya.

* * *

Saya terpaksa minta pelayan di Dunkin’ Donuts mengecilkan volume TV mereka yang mulai terasa berisik, atau mungkin kami sudah terlalu capek ngobrol, sementara Zeke berdiri terhuyung memesan kopi untuk kedua kalinya, dan mengaku, “Sebenernya gue baru sempet tidur 2 jam.”

Obrolan bisa berakhir saat itu juga, tapi saya tak rela melewatkan kesempatan mengorek ambisi musikal dia selanjutnya. “Jujur gue nikmatin banget segala macem kehebohan Salacca Zalacca ini. Bener-bener bersenang-senang! Tapi sekarang, gue harus nyoba yang lain.” Dan hal-hal lain itu berarti: meneruskan merilis lagu mingguan (weekly download) dari kamarnya, menulis lirik dalam bahasa Inggris lagi, dan kembali ke akar musik yang dia sukai sejak lama, psychedelic.

Jika pengalamannya berada di lautan manusia saat konser reuni Blur di London Juli 2009 punya andil besar memacu dirinya membuat Salacca Zalacca (“Damon Albarn itu gila-gilaan produktifnya, semua wilayah musik dia coba.”), maka kali ini konser The Flaming Lips di Singapore November 2010 yang melecut semangat Zeke. “Wayne Coyne itu sinting. Energik banget! Umurnya udah hampir 50 tahun, tapi tetep aja total bikin musik dan konsernya. Bahkan dia pernah pakai darahnya sendiri untuk campuran cat poster manggungnya.”

Di konser itu Zeke sempat bertemu Coyne di belakang panggung. Dalam satu percakapan singkat, Zeke hanya sempat memperkenalkan dirinya sebagai bedroom musician, setelah menitipkan CD Salacca Zalacca ke seseorang untuk Coyne. Cita-cita sebenarnya adalah: mengajak Coyne menyanyi bareng “My Cosmic Autumn Rebellion”—kebetulan tak dibawakan The Flaming Lips malam itu—dan merekamnya dengan kamera video. Sayang permintaan unik dari sang penggemar berat itu tak sempat dilontarkan. Besoknya, kekecewaannya sedikit terobati: di bandara Zeke tak sengaja berpapasan dengan Steven Drozd, gitaris The Flaming Lips. Lucunya, Drozd langsung memuji sepatu Zeke, “Nice shoes, man.” Zeke jelas bangga setengah mati. Ketika saya ingatkan konon Damon Albarn pertama kali berkenalan dengan Graham Coxon dengan langsung mengomentari betapa jeleknya sepatu Graham, Zeke langsung bereaksi, “Oh shit, Damon bilang sepatu Graham jelek? Gawat, ini Steven kok malah bilang sepatu gue bagus! Sialan.”

Delapan lagu baru pun tercipta. Meski mood-nya kini berbeda, tapi semuanya masih kental tanda tangan Zeke. Bunyi-bunyian yang diulik, lirik-lirik pelit yang multitafsir, dan di atas segalanya: nada-nadanya tetap melodius. Sensibilitas pop masih ada di sini. Dari mana datangnya kemampuan menciptakan segala hook itu? Bin, otak di balik bergabungnya Zeke ke label Jangan Marah Records, menyebutnya sebagai musisi berkarakter traditional singer-songwriter. Menurutnya, Zeke sangat peduli dengan nada dan piawai soal melodi. Konsep weekly download bagi Bin itu brilian. “Bahkan seandainya ini dilakuin sama band Melayu paling culun pun, tetap gokil. Bayangin man, tiap minggu keluar lagu baru!”

Hasil perdana sesi psychedelic ini adalah “Fell in Love with the Wrong Planet”, lagu ke-18 dari weekly download-nya. Zeke mengaku tertarik dengan konsep kata ‘wrong‘, menurutnya batas benar atau salah sudah makin bias hari-hari ini. Proses penciptaannya masih sama dengan cara kerjanya selama ini: dia merekam nada-nada dasarnya di BlackBerry (“Kadang pakai gitar, atau mulut doang.”), lalu rekaman mentah itu dipindahkan ke komputer dan diolah dengan software musik Reason. Proses olahannya lebih banyak melalui piano, keyboard, harpsichord, dan instrumen pencet lainnya. Sembari membuat melodi dan ritem yang cocok, dia mencari-cari beat yang enak untuk drum loop. “Gue nggak bisa main drum, dan gue bukan DJ. Masalah beat selalu merepotkan gue.” Tapi toh dia berhasil. Di “Rolling Like a Stupid Stone”, komposisi paling unik di sesi ini, Zeke memasukkan beat genit absurd ala dangdut remix khas Pantura yang dicampur sedikit nuansa padang pasir, tanpa membuatnya jatuh menjadi norak. Lagu ini riuh rendah dengan sound bertumpuk-tumpuk, tempo menghentak dan meliuk, yang arti liriknya hanya Zeke dan Tuhan yang tahu.

“Beberapa lagu memang tentang kehidupan pribadi gue. Namanya musisi kamar, ya pasti nulis tentang dirinya.” Karena kali ini ditulis dalam bahasa Inggris, Zeke menemukan kompleksitas berbeda. Dia merekam kalimat-kalimat pertama yang hinggap di benaknya, baru memaknainya belakangan. Rasanya seperti memecahkan misteri, dan dia menikmati prosesnya. “Gue pernah baca di buku biografi The Beatles, John Lennon nggak pernah nutup-nutupin kalau lirik bikinan dia nggak selalu punya arti. Bahkan kadang-kadang cuma permainan kata.” Ketika saya menyebut nama Syd Barrett, dia langsung menyambar, “Apalagi itu! Siapa sih yang bisa mengartikan lirik-liriknya?”

Semangat bermain-main pun masih tetap ada. Di “Causeway Bay”, yang dibuatnya di Hong Kong di sela-sela menonton konser Gorillaz, Zeke iseng menyelipkan suara alat pemompa ASI untuk bayi di awal lagu. Menurut Zeke, “Bunyinya seperti nafas mesin.” Pilihan tepat untuk menggambarkan liriknya “…nature procreates/ machine replicates.” Seolah tak cukup dengan segala kreativitas ini, Zeke masih merasa perlu membuat video untuk setiap lagu. Dan video itu bisa berarti apa saja: rekaman dia ke dokter gigi (masih sempat-sempatnya dia memakai kacamata hitam!), iseng berkaraoke di taksi yang sedang melaju, jingkrak-jingkrak di kamar, truk pengangkut sampah, keponakannya yang masih balita berlari-lari sambil tertawa riang, hingga dokumentasi saat dia diramal seorang Chinese fortune teller di Hong Kong (“Gue sih nggak ngerti dia ngomong apa, tapi di akhir dia ngacungin jempol…”). Zeke merancang semua konsepnya, mengambil gambar, mengedit, lalu mengunggah hasilnya ke Facebook dan YouTube, satu per satu berbarengan rilisan lagu mingguan.

Dari mana dia mendapat energi untuk itu semua? “Gue selalu percaya dengan kekuatan alam. Kita semua punya itu di dalam tubuh masing-masing.” Menurut Zeke, sifat-sifat dasar manusia yang harmonis dengan alam, itulah yang akan menang. Jika seseorang bisa mengeluarkan itu dari dirinya, hasilnya adalah kekuatan luar biasa. “Seperti love, yang nggak ada batasnya.” Sementara di BlackBerry dia masih menyimpan puluhan file yang dinamai weekly potential. Kata finish sepertinya sudah lama hilang dari kamus bermusiknya. “Gue nikmatin banget hidup gue sekarang ini. Bangun tidur, denger suara burung, angin, udara pagi. Gue tinggal nunggu, alam bakal bawa gue ke mana hari ini. Kita nggak bisa melawan itu.”

* * *

Kopi dan makanan di meja kami sudah sama-sama habis. Obrolan sudah makin ngalor-ngidul. Zeke menceritakan pengalaman menonton konser pahlawannya yang lain, Daniel Johnston, di London. “Gue suka honesty-nya. Lo-fi yang paling lo-fi. Di panggung dia pernah salah main, berhenti bentar, tapi penonton teriak, ‘Daniel, keep playing! Don’t worry, we love you!‘ Semangat ‘keep playing‘ itulah yang kemudian menghantui Zeke sampai sekarang. Ketika obrolan kami berbelok membahas lagu “Tender”-nya Blur, dia tiba-tiba berkata, “Mungkin kapan-kapan gue harus bikin lagu gospel.” Ide bagi Zeke bisa muncul dari mana saja, bahkan sesepele celetukan di sela-sela obrolan. Rasanya tak ada yang mustahil.

Kabar terbaru ini mungkin bisa membuatnya tersenyum: Wayne Coyne baru saja mengumumkan The Flaming Lips bakal masuk studio awal tahun ini, lalu merilis lagu baru tiap bulannya. Semua proses itu akan diabadikan di sebuah dokumenter. Bukankah ini sebuah kebetulan yang lucu? Pada akhirnya, Zeke dan para pahlawannya berada di satu arena yang sama, melakukan hal-hal yang kurang lebih mirip. “Gue selalu look up ke musisi-musisi panutan gue itu sambil ngomong ke diri sendiri, Gak kekejar nih, gak kekejar nih…” Kalimatnya menggantung. Saya menunggu, mencari tanda-tanda menyerah di suaranya.

“Tapi gue masih pengen terus ngejar.”

Zeke Khaseli pamit pulang untuk tidur sebentar, sebelum lanjut mengunggah lagu mingguannya. Weekly download-nya sudah melaju hingga lagu ke-25. Tak seorang pun tahu di angka berapa dia bakal berhenti.

* * *

Jakarta-Bandung, Februari 2011

Budi Warsito
Pengelola perpustakaan Kineruku, Bandung

Ini adalah tulisan lama (Februari 2011), dengan foto ilustrasi lumayan baru (April 2011) yang diambil dari acara peluncuran Rolling Like a Stupid Stone EP di Kineruku. Foto oleh Meicy Sitorus. Tulisan ini juga dimuat di situs Zeke Khaseli.

2 thoughts on “Fell in Love with Planet Zeke

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *