<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>budiwarsito.net</title>
	<atom:link href="http://budiwarsito.net/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://budiwarsito.net</link>
	<description>esok kita jumpa pula</description>
	<lastBuildDate>Sat, 21 Jan 2012 12:37:23 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Fell in Love with Planet Zeke</title>
		<link>http://budiwarsito.net/fell-in-love-with-planet-zeke/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/fell-in-love-with-planet-zeke/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 Oct 2011 13:07:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Rupa-rupa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=587</guid>
		<description><![CDATA[. Di jadwal RRRec Fest pada peringatan 10 Tahun ruangrupa awal Januari 2011 lalu, tertera jelas: Zeke Khaseli bakal bermain di panggung outdoor setelah Bangkutaman. Dari kejauhan terdengar intro lagu &#8220;Blue Bird Taxi&#8221;, saya langsung bergegas sambil menyesal kenapa datang terlambat. Sesampainya di sana, ada pemandangan mengherankan. Tak ada Zeke di situ. Di atas panggung, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/09/ZekeDiRuku.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-898" title="KONICA MINOLTA DIGITAL CAMERA" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/09/ZekeDiRuku.jpg" alt="" width="448" height="297" /></a><span style="color: #ffffff;">.</span></p>
<p>Di jadwal RRRec Fest pada peringatan 10 Tahun ruangrupa awal Januari 2011 lalu, tertera jelas: Zeke Khaseli bakal bermain di panggung <em>outdoor</em> setelah Bangkutaman. Dari kejauhan terdengar intro lagu &#8220;Blue Bird Taxi&#8221;, saya langsung bergegas sambil menyesal kenapa datang terlambat. Sesampainya di sana, ada pemandangan mengherankan. Tak ada Zeke di situ. Di atas panggung, sekelompok anak muda tampak cuek memainkan lagu itu dengan gaya indie-rock lo-fi ala Pavement. Lagu-lagu berikutnya pun dibawakan tanpa basa basi, semuanya bergulir cepat, ringkas, tanpa penjelasan. Dan tak satupun dari mereka mengenakan kostum-kostum aneh: tak ada Boylien, Obama berkepala besar, pria dengan helm dan piyama, bunyi sirene, ataupun poster salak. Ada apa ini? Kenapa bukan Zeke Khaseli dan pasukan bertopengnya yang memainkan repertoire <em>Salacca Zalacca</em>?<span id="more-587"></span></p>
<p>Tak jauh dari panggung, Zeke malah duduk-duduk di belakang <em>soundsystem</em>, memainkan pengendali video yang ditembakkan dari <em>laptop</em>-nya ke layar panggung. Gaya visual itu sebetulnya tak jauh beda dengan kebiasaan konser <em>Salacca Zalacca</em>: di layar ada sosok &#8216;mirip Zeke&#8217;, lengkap dengan blazer hitam, kacamata bingkai tebal, dan topi khasnya. Tapi di video jelas bukan Zeke, itu orang lain yang didandani menyerupai dan berakting di depan kamera. Apa Zeke sedang bercanda? Dengan ekspresi bertanya-tanya, saya menghampiri Harlan &#8216;Bin&#8217; Boer dari Jangan Marah Records. Bin hanya bisa tertawa-tawa sambil geleng-geleng kepala.</p>
<p>Reidvoltus, band dari Bogor, tampil di panggung meng-<em>cover</em> lagu-lagu album <em>Salacca Zalacca</em> atas nama musisi aslinya dan mengecoh penonton (setidaknya saya); hanyalah satu dari sekian banyak ide aneh seorang Zeke Khaseli.</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p>Keesokan harinya, di salah satu meja Dunkin&#8217; Donuts Melawai, saya berusaha mengorek isi kepala Zeke Khaseli, kini 33 tahun, yang sepertinya sudah lama dipenuhi dengan lirik-lirik absurd, adegan-adegan film sci-fi klasik favoritnya, selera humor ganjil, ambisinya untuk terus menerus bermusik, serunya membuat lagu sendiri di kamar dan merilisnya rutin tiap akhir pekan.</p>
<p>Sambil mengaduk kopi dan menyantap sarapannya yang terlambat, Zeke membuka ceritanya.&#8221;Gue suka Reidvoltus. <em>Attitude </em>mereka asyik.&#8221; Dia mengaku para personel Reidvoltus hanya butuh waktu seminggu untuk berlatih lagu-lagu ciptaannya, itupun tanpa sempat sekali pun bertemu Zeke. Di konser semalam, karakter permainan mereka yang kuat berhasil menghadirkan satu lagi nuansa aneh dari sebuah album yang sebenarnya sudah aneh dari awalnya.</p>
<p>Apa itu berarti album <em>Salacca Zalacca</em> cukup diterima publik? &#8220;Gue nggak tahu. Tapi pernah di beberapa <em>show</em>, penonton di baris depan teriak-teriak ikut nyanyi. Orang-orang itu hapal lagu gue, bahkan bagian rap-nya. Kadang-kadang itu sudah cukup.&#8221;</p>
<p>April 2010 lalu, saya beruntung menjadi salah satu saksi mata dari konser perdana Zeke Khaseli dengan album <em>Salacca Zalacca</em>, di Bumi Sangkuriang, Bandung. Sebenarnya materi-materi lagunya yang mencampuradukkan berbagai <em>genre</em> itu sudah pernah dirilis gratis satu per satu sejak November 2009 di situs pribadi Zeke, tapi malam itu adalah kali pertama dia membawakannya secara <em>live</em>. Penonton sempat dibuat bengong dengan kemunculan aneh para pemusiknya: gitaris dan drummer dengan jubah panjang warna kuning (sebenarnya lebih mirip jas hujan), dengan muka tertutup topeng beruang. Sementara Zeke, bertopeng harimau, mengutak-atik <em>laptop</em> yang dipaksanya menyemburkan suara-suara aneh layaknya musik latar film-film sci-fi lama berbujet rendah. <em>Sound</em>-nya menggelegar—di beberapa lagu volumenya memekakkan kuping dan saya merinding—di mana segala bebunyian eklektik dan vokal aneh Zeke saling tumpang tindih dengan warna-warni video yang disorot ke <em>backdrop</em>.</p>
<p>Zeke bergumam di satu lagu, kata-katanya seperti meracau, sedikit nyinyir tapi kocak, lantas berteriak lepas di lagu lainnya. Bunyi theremin yang menyayat seperti memanggil-manggil makhluk dari galaksi lain, yang entah muram atau riang, atau kombinasi keduanya. Dia tersenyum ketika <em>laptop</em>-nya ngadat lagi, seolah-olah itu hal biasa, mengambil gitar kecil (sumpah, saya mendengar nafas lega dari <em>laptop</em> itu!), lalu dengan cueknya nge-rap, &#8220;<em>Pusing tujuh bling bling/ pump up valium/ tidur mulut senyum…</em>&#8221; Rasanya seperti berkaraoke semalam suntuk setelah di-PHK, di lokasi syuting film <em>Satyricon</em> dengan kru <em>lighting</em> yang mabok. <em>What a freakshow</em>!</p>
<p>Jelas dia sangat bersenang-senang di malam <em>launching</em> itu. &#8220;Itu salah satu konser terbaik gue. Atmosfernya susah diulangi, bahkan di 30 kali konser setelahnya.&#8221; Tapi tak bisa dipungkiri, makin hari konsernya makin tak lazim. Jika tak ramai oleh penonton pun, panggungnya sudah penuh sesak dengan karnaval para kru yang bersukaria. Personel <em>backing band</em>-nya makin meriah (ada yang tugasnya &#8216;hanya&#8217; mondar-mandir mengacungkan gambar salak, atau membunyikan megafon, tapi itu saja sudah seru!), dan ternyata semuanya menikmati menjadi <em>anonymous</em> di balik topeng. &#8220;Gue belinya di satu toko kostum di Jepang. Awalnya cuma pengen nonton konser reuni Pavement doang, tau-tau pulang bawa satu koper penuh isi topeng-topeng.&#8221;</p>
<p>Selama tur panjang artis-artis Jangan Marah Records di kota-kota sepanjang Jawa (dari Bogor hingga Malang), kekacauan mulai terjadi di hampir setiap <em>venue</em>, dimana makin banyak sosok berkostum aneh berseliweran di panggung, berbaur dengan penonton menari-nari di tiap lagu. &#8220;Raymond, <em>additional player</em>-nya Bangkutaman, awalnya cuma bantuin gitar akustik tiap kali Acum dkk manggung, tapi lama-lama dia mau juga jadi Boylien di konser <em>Salacca Zalacca</em>, hahaha!&#8221; tawa riang Zeke lebih mirip anak kecil menyambut anggota geng baru. Bahkan Cholil dari Efek Rumah Kaca pun tak ragu tampil memakai jas hujan warna hijau, saat Zeke membantu mengacak-acak lagu &#8220;Kenakalan Remaja di Era Informatika&#8221; dengan bunyi-bunyian theremin yang ganjil. (Zeke khusus memesan alat-musik-tanpa-disentuh ini ke Evan Storn, spesialis pembuat instrumen musik elektronik di Bandung. Ketika saya menunjukkan koleksi saya, film dokumenter tentang Leon Theremin, si ilmuwan jenius dari Rusia penemu alat itu, Zeke langsung membawa pergi DVD itu hingga kini.)</p>
<p>Publik mulai menanggapi album solo pertama Zeke ini, meski tak semuanya antusias. Hanya beberapa radio yang sempat memutarnya, dan media massa <em>mainstream</em> seperti enggan mengulasnya. Ketika seorang wartawan majalah musik terkemuka secara gegabah menyebut <em>Salacca Zalacca</em> sebagai album musik folk, saya mengernyitkan kening dan berpikir apakah seseorang sedang teler dan salah mengambil CD. Sementara di sisi lain, penggemar loyal mulai bermunculan. Mereka menyambangi tiap konsernya—<em>artwork</em> poster publikasinya selalu menarik—mungkin sambil menebak-nebak karakter baru apa lagi yang bakal muncul kali ini. Beberapa mulai mengutip lirik-liriknya di akun <em>social media</em>: &#8220;Dark Justice&#8221; dianggap sangat relevan dengan supremasi hukum yang makin kacau di negeri ini, &#8220;…<em>dark justice/ sistem yang paling cuek/ bener salah/ salah bener/ yang nambah cuma masalah</em>.&#8221; Di acara puncak Pasar Seni ITB 2010, seorang penonton ikut naik ke panggung besar dengan percaya diri, dan berbagi mikrofon dengan Zeke meneriakkan lirik &#8220;…<em>gue mau, semua mau, jadi</em>…<em> man of the hour!</em>&#8221;</p>
<p>Tapi lagu &#8220;Man of the Hour&#8221; bisa jadi memang paling tepat menggambarkan etos kerja Zeke. Diawali kata-kata &#8220;<em>Jagoan selalu naik kuda putih,</em>&#8220;, disambung dengan &#8220;<em>Masuk kamar/ nonton DVD/ hari libur sama dengan hari kerja</em>…&#8221;, bukankah itu terdengar seperti personifikasi dirinya sendiri: rekaman musik kamar/ penggila film/ <em>full-time musician</em>?</p>
<p>Film, salah satu minat terbesarnya, memang punya porsi besar di musikalitas Zeke. Sejak kemunculannya pertama kali di <em>scene</em> musik Indonesia bersama band LAIN, yang justru terbentuk di Seattle, sebenarnya karya-karya Zeke sudah pekat dengan aroma sinematis. Salah satu lagu terkuat di album <em>Djakarta Goodbye</em> (2003) memuat lirik &#8221; …<em>cloning, replicating with a ghost&#8217;s cell biomythical…</em>&#8220;—terdengar seperti satu premis menjanjikan untuk film sci-fi era &#8217;80-an. Kalimat di lagu lainnya, &#8220;<em>…dreaming the megapolis/ big city style you&#8217;re on your own/ tuning in bali’s police/ arrest the mind the thought of young…</em>&#8221; selalu mengingatkan saya pada robot Maria dan para pekerja di mahakarya Fritz Lang. Sementara piano di <em>track</em> penghujung album mengisyaratkan bakal seperti apa kira-kira film Kubrick pasca <em>Eyes Wide Shut</em> seandainya dia tidak keburu meninggal: &#8220;…<em>listen big shot/ under your bed/ boogeyman</em>…&#8221; Nada suara Zeke tak tertebak ketika mengaku kepada saya, &#8220;Yang bikin gue nyesel dari LAIN, kenapa cuma sempet bikin satu album. Rasanya kayak ada yang kepotong.&#8221;</p>
<p>Proyek dia berikutnya, Zeke and the Popo, juga hanya menelurkan satu EP dan satu album penuh, <em>Space in the Headlines</em> (2006), yang disebut majalah <em>Tempo</em> sebagai &#8220;The Beatles yang sakit&#8221;. Rekaman muram ini cukup imajinatif, lengkap dengan karakter ikonik si manusia berkepala tank, juga <em>sample vocal</em> dari serial televisi Hitchcock—salah satu sutradara favorit Zeke. (&#8220;Kalau kata gue <em>Rebecca</em>!&#8221; sergahnya ketika saya menyebut <em>The Birds</em> sebagai film terbaik Hitchcock.) Zeke and the Popo juga sempat menyumbang beberapa lagu untuk film <em>Janji Joni</em> (Joko Anwar, 2005), salah satunya tepat di adegan paling monumental: kamera <em>slow motion</em>, Sujiwo Tejo melempar tas Nicholas Saputra ke kobaran api.</p>
<p>Zeke terjun penuh ke dunia film dengan menulis musik latar di beberapa karya fenomenal sinema Indonesia modern: <em>KALA </em>(Joko Anwar, 2007) dan <em>Rumah Dara</em> (Mo Brothers, 2009). Di film <em>Fiksi. </em>(Mouly Surya, 2008), Zeke meraih Piala Citra sebagai penata musik terbaik. Bersama proyeknya yang lain, Mantra, dia ikut menggarap musik untuk <em>Pintu Terlarang</em> (Joko Anwar, 2009). Apakah itu semua yang membuat <em>Salacca Zalacca</em> sarat dengan referensi film? Lagu &#8220;Ketimur-timuran&#8221; menyebut judul-judul film seperti <em>Kill Bill, New York I Love You, Lawrence of Arabia,</em> juga keprihatinan Zeke pada lirik &#8220;…<em>bikin sutradara slave produser…</em>&#8221; Sementara lagu &#8220;Shit Is So Yesterday, Moralist Happens&#8221; lebih menohok lagi, &#8220;<em>…sekali-kalinya ada film lokal keren/ di bioskop cuma 5 hari.</em>&#8221;</p>
<p>Meski bisa diartikan sebagai kritik sosial Zeke atas hal-hal di sekitarnya, rupanya dia terlalu introvert untuk membicarakan lirik-lirik lagunya. Komentarnya pendek, &#8220;Gue cuma pengen make bahasa yang seasli-aslinya. Bahasa lisan gue yang seutuh-utuhnya. Yang begitu ditulis malah jadi aneh.&#8221;</p>
<p>Bagaimana tidak aneh? Album <em>Salacca Zalacca</em> berisi 17 lagu yang <em>track listing</em>-nya akhirnya disusun sesuai abjad karena terlalu banyak. Dan itu artinya 17 narasi tak beraturan tentang, <em>well</em>, apapun. Tapi justru di situ daya tariknya. Di lagu pembukanya, <em>11:01,</em> Zeke langsung meracau soal perjalanan udara ke rumah teman dekatnya yang baru saja meninggal, dan harus menulis lagu untuk upacara pemakamannya, &#8220;<em>Andy ninggalin pacarnya sendirian di hujan/ padahal masa depan mereka lumayan cerah/ untungnya pas sebelum mati sempet berubah/ jadi makhluk penyayang binatang.</em>&#8221; Astaga, kisah macam apa ini?</p>
<p>Jika Slank formasi awal mampu menulis lirik absurd di &#8220;Pak Tani&#8221;—salah satu lagu <em>giting</em> terbaik mereka &#8220;&#8230;<em>petani bajak sawah pake traktor/ kerja rutin kontrol sawah/ numpak Harley ngitung laba panen pake komputer/ ngirim order beras pake helikopter</em>&#8230;&#8221;; maka kalimat Zeke di &#8220;Man of the Hour&#8221; bisa dipertimbangkan sebagai sekuel yang tak kalah <em>ngaco</em>, &#8220;&#8230;<em>helikopter boy/ ego main lego/ ayo semua tepuk tangan buat film spesial efek/ kapten kapal api/ di laut mati</em>&#8230;&#8221;</p>
<p>Dan jangan lupa, sepenggal lirik di &#8220;Pig Paranoia&#8221; adalah <em>pick-up line</em> abad ini: &#8220;<em>…pelukan di halte bus/ dia senyum, hujan reda…</em>&#8221; Obbie Messakh boleh berbangga, sekarang dia punya penerusnya.</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p>Saya terpaksa minta pelayan di Dunkin&#8217; Donuts mengecilkan volume TV mereka yang mulai terasa berisik, atau mungkin kami sudah terlalu capek ngobrol, sementara Zeke berdiri terhuyung memesan kopi untuk kedua kalinya, dan mengaku, &#8220;Sebenernya gue baru sempet tidur 2 jam.&#8221;</p>
<p>Obrolan bisa berakhir saat itu juga, tapi saya tak rela melewatkan kesempatan mengorek ambisi musikal dia selanjutnya. &#8220;Jujur gue nikmatin banget segala macem kehebohan <em>Salacca Zalacca</em> ini. Bener-bener bersenang-senang! Tapi sekarang, gue harus nyoba yang lain.&#8221; Dan hal-hal lain itu berarti: meneruskan merilis lagu mingguan (<em>weekly download</em>) dari kamarnya, menulis lirik dalam bahasa Inggris lagi, dan kembali ke akar musik yang dia sukai sejak lama, <em>psychedelic</em>.</p>
<p>Jika pengalamannya berada di lautan manusia saat konser reuni Blur di London Juli 2009 punya andil besar memacu dirinya membuat <em>Salacca Zalacca </em>(&#8220;Damon Albarn itu gila-gilaan produktifnya, semua wilayah musik dia coba.&#8221;), maka kali ini konser The Flaming Lips di Singapore November 2010 yang melecut semangat Zeke. &#8220;Wayne Coyne itu sinting. Energik banget! Umurnya udah hampir 50 tahun, tapi tetep aja total bikin musik dan konsernya. Bahkan dia pernah pakai darahnya sendiri untuk campuran cat poster manggungnya.&#8221;</p>
<p>Di konser itu Zeke sempat bertemu Coyne di belakang panggung. Dalam satu percakapan singkat, Zeke hanya sempat memperkenalkan dirinya sebagai <em>bedroom musician</em>, setelah menitipkan CD <em>Salacca Zalacca</em> ke seseorang untuk Coyne. Cita-cita sebenarnya adalah: mengajak Coyne menyanyi bareng &#8220;My Cosmic Autumn Rebellion&#8221;—kebetulan tak dibawakan The Flaming Lips malam itu—dan merekamnya dengan kamera video. Sayang permintaan unik dari sang penggemar berat itu tak sempat dilontarkan. Besoknya, kekecewaannya sedikit terobati: di bandara Zeke tak sengaja berpapasan dengan Steven Drozd, gitaris The Flaming Lips. Lucunya, Drozd langsung memuji sepatu Zeke, &#8220;<em>Nice shoes, man</em>.&#8221; Zeke jelas bangga setengah mati. Ketika saya ingatkan konon Damon Albarn pertama kali berkenalan dengan Graham Coxon dengan langsung mengomentari betapa jeleknya sepatu Graham, Zeke langsung bereaksi, &#8220;Oh <em>shit</em>, Damon bilang sepatu Graham jelek? Gawat, ini Steven kok malah bilang sepatu gue bagus! Sialan.&#8221;</p>
<p>Delapan lagu baru pun tercipta. Meski <em>mood</em>-nya kini berbeda, tapi semuanya masih kental tanda tangan Zeke. Bunyi-bunyian yang diulik, lirik-lirik pelit yang multitafsir, dan di atas segalanya: nada-nadanya tetap melodius. Sensibilitas pop masih ada di sini. Dari mana datangnya kemampuan menciptakan segala <em>hook</em> itu? Bin, otak di balik bergabungnya Zeke ke label Jangan Marah Records, menyebutnya sebagai musisi berkarakter <em>traditional singer-songwriter</em>. Menurutnya, Zeke sangat peduli dengan nada dan piawai soal melodi. Konsep <em>weekly download</em> bagi Bin itu brilian. &#8220;Bahkan seandainya ini dilakuin sama band Melayu paling culun pun, tetap gokil. Bayangin <em>man</em>, tiap minggu keluar lagu baru!&#8221;</p>
<p>Hasil perdana sesi <em>psychedelic</em> ini adalah &#8220;Fell in Love with the Wrong Planet&#8221;, lagu ke-18 dari <em>weekly download</em>-nya. Zeke mengaku tertarik dengan konsep kata &#8216;<em>wrong</em>&#8216;, menurutnya batas benar atau salah sudah makin bias hari-hari ini. Proses penciptaannya masih sama dengan cara kerjanya selama ini: dia merekam nada-nada dasarnya di BlackBerry (&#8220;Kadang pakai gitar, atau mulut doang.&#8221;), lalu rekaman mentah itu dipindahkan ke komputer dan diolah dengan <em>software</em> musik Reason. Proses olahannya lebih banyak melalui piano, keyboard, harpsichord, dan instrumen pencet lainnya. Sembari membuat melodi dan <em>rhythm</em> yang cocok, dia mencari-cari <em>beat</em> yang enak untuk <em>drum loop</em>. &#8220;Gue nggak bisa main drum, dan gue bukan DJ. Masalah <em>beat</em> selalu merepotkan gue.&#8221; Tapi toh dia berhasil. Di &#8220;Rolling Like a Stupid Stone&#8221;, komposisi paling unik di sesi ini, Zeke memasukkan <em>beat</em> genit absurd ala dangdut remix khas Pantura yang dicampur sedikit nuansa padang pasir, tanpa membuatnya jatuh menjadi norak. Lagu ini riuh rendah dengan <em>sound</em> bertumpuk-tumpuk, tempo menghentak dan meliuk, yang arti liriknya hanya Zeke dan Tuhan yang tahu.</p>
<p>&#8220;Beberapa lagu memang tentang kehidupan pribadi gue. Namanya musisi kamar, ya pasti nulis tentang dirinya.&#8221; Karena kali ini ditulis dalam bahasa Inggris, Zeke menemukan kompleksitas berbeda. Dia merekam kalimat-kalimat pertama yang hinggap di benaknya, baru memaknainya belakangan. Rasanya seperti memecahkan misteri, dan dia menikmati prosesnya. &#8220;Gue pernah baca di buku biografi The Beatles, John Lennon nggak pernah nutup-nutupin kalau lirik bikinan dia nggak selalu punya arti. Bahkan kadang-kadang cuma permainan kata.&#8221; Ketika saya menyebut nama Syd Barrett, dia langsung menyambar, &#8220;Apalagi itu! Siapa sih yang bisa mengartikan lirik-liriknya?&#8221;</p>
<p>Semangat bermain-main pun masih tetap ada. Di &#8220;Causeway Bay&#8221;, yang dibuatnya di Hong Kong di sela-sela menonton konser Gorillaz, Zeke iseng menyelipkan suara alat pemompa ASI untuk bayi di awal lagu. Menurut Zeke, &#8220;Bunyinya seperti nafas mesin.&#8221; Pilihan tepat untuk menggambarkan liriknya &#8220;<em>…nature procreates/ machine replicates.</em>&#8221; Seolah tak cukup dengan segala kreativitas ini, Zeke masih merasa perlu membuat video untuk setiap lagu. Dan video itu bisa berarti apa saja: rekaman dia ke dokter gigi (masih sempat-sempatnya dia memakai kacamata hitam!), iseng berkaraoke di taksi yang sedang melaju, jingkrak-jingkrak di kamar, truk pengangkut sampah, keponakannya yang masih balita berlari-lari sambil tertawa riang, hingga dokumentasi saat dia diramal seorang <em>Chinese fortune teller</em> di Hong Kong (&#8220;Gue sih nggak ngerti dia ngomong apa, tapi di akhir dia ngacungin jempol&#8230;&#8221;). Zeke merancang semua konsepnya, mengambil gambar, mengedit, lalu mengunggah hasilnya ke Facebook dan YouTube, satu per satu berbarengan rilisan lagu mingguan.</p>
<p>Dari mana dia mendapat energi untuk itu semua? &#8220;Gue selalu percaya dengan kekuatan alam. Kita semua punya itu di dalam tubuh masing-masing.&#8221; Menurut Zeke, sifat-sifat dasar manusia yang harmonis dengan alam, itulah yang akan menang. Jika seseorang bisa mengeluarkan itu dari dirinya, hasilnya adalah kekuatan luar biasa. &#8220;Seperti <em>love</em>, yang nggak ada batasnya.&#8221; Sementara di BlackBerry dia masih menyimpan puluhan <em>file</em> yang dinamai <em>weekly potential</em>. Kata <em>finish</em> sepertinya sudah lama hilang dari kamus bermusiknya. &#8220;Gue nikmatin banget hidup gue sekarang ini. Bangun tidur, denger suara burung, angin, udara pagi. Gue tinggal nunggu, alam bakal bawa gue ke mana hari ini. Kita nggak bisa melawan itu.&#8221;</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p>Kopi dan makanan di meja kami sudah sama-sama habis. Obrolan sudah makin <em>ngalor-ngidul</em>. Zeke menceritakan pengalaman menonton konser pahlawannya yang lain, Daniel Johnston, di London. &#8220;Gue suka <em>honesty</em>-nya. Lo-fi yang paling lo-fi. Di panggung dia pernah salah main, berhenti bentar, tapi penonton teriak, &#8216;<em>Daniel, keep playing! Don&#8217;t worry, we love you!</em>&#8216; Semangat &#8216;<em>keep playing</em>&#8216; itulah yang kemudian menghantui Zeke sampai sekarang. Ketika obrolan kami berbelok membahas lagu &#8220;Tender&#8221;-nya Blur, dia tiba-tiba berkata, &#8220;Mungkin kapan-kapan gue harus bikin lagu gospel.&#8221; Ide bagi Zeke bisa muncul dari mana saja, bahkan sesepele celetukan di sela-sela obrolan. Rasanya tak ada yang mustahil.</p>
<p>Kabar terbaru ini mungkin bisa membuatnya tersenyum: Wayne Coyne baru saja mengumumkan The Flaming Lips bakal masuk studio awal tahun ini, lalu merilis lagu baru tiap bulannya. Semua proses itu akan diabadikan di sebuah dokumenter. Bukankah ini sebuah kebetulan yang lucu? Pada akhirnya, Zeke dan para pahlawannya berada di satu arena yang sama, melakukan hal-hal yang kurang lebih mirip. &#8220;Gue selalu <em>look up</em> ke musisi-musisi panutan gue itu sambil ngomong ke diri sendiri, <em>Gak kekejar nih, gak kekejar nih…</em>&#8221; Kalimatnya menggantung. Saya menunggu, mencari tanda-tanda menyerah di suaranya.</p>
<p>&#8220;Tapi gue masih pengen terus ngejar.&#8221;</p>
<p>Zeke Khaseli pamit pulang untuk tidur sebentar, lalu melanjutkan mengunggah lagu mingguannya. <em>Weekly download</em>-nya sudah melaju hingga lagu ke-25. Tak seorang pun tahu, di angka berapa dia bakal berhenti.</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p style="text-align: right;">Jakarta-Bandung, Februari 2011</p>
<p style="text-align: right;"><strong>Budi Warsito</strong><br />
<em>Pengelola perpustakaan Kineruku, Bandung</em></p>
<p style="text-align: left;">Ini adalah tulisan lama (Februari 2011), dengan foto ilustrasi lumayan baru (April 2011) yang diambil dari acara peluncuran <a href="http://kineruku.com/zeke-khaseli-rolling-like-a-stupid-stone-ep-release-party/"><strong><em>Rolling Like a Stupid Stone EP</em></strong></a> di <strong>Kineruku</strong>. Foto oleh <a href="http://meicysitorus.co.cc/" target="_blank"><strong>Meicy Sitorus</strong></a>. Tulisan ini juga dimuat di situs <a href="http://zekekhaseli.com/" target="_blank"><strong>Zeke Khaseli</strong></a>.</p>
<p style="text-align: left;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/fell-in-love-with-planet-zeke/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>[Cerpen Favorit] Kandang Babi, Rendez-Vous</title>
		<link>http://budiwarsito.net/cerpen-favorit-kandang-babi-rendez-vous/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/cerpen-favorit-kandang-babi-rendez-vous/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Oct 2011 08:33:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Rupa-rupa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=779</guid>
		<description><![CDATA[. (cerita pendek oleh Eka Kurniawan) Edi Idiot menjaga kampus siang dan malam, tapi ia bukan satpam. Terutama kalau malam, ia adalah raja yang berkuasa di kegelapan pohon-pohon rindang, tapi sungguh, ia bukan jin Iprit. Ia seperti kita juga: suka makan, beol, bercerita, berteriak menyanyikan Obladi Oblada, atau jika ia sedang tidak bersemangat, ia akan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #ffffff;">.</span><br />
(cerita pendek oleh <a href="http://ekakurniawan.com/" target="_blank"><strong>Eka Kurniawan</strong></a>)</p>
<p><a href="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/07/kandangbabi_still.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-781" title="kandangbabi_still" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/07/kandangbabi_still.jpg" alt="" width="432" height="324" /></a><br />
Edi Idiot menjaga kampus siang dan malam, tapi ia bukan satpam. Terutama kalau malam, ia adalah raja yang berkuasa di kegelapan pohon-pohon rindang, tapi sungguh, ia bukan jin Iprit. Ia seperti kita juga: suka makan, beol, bercerita, berteriak menyanyikan <em>Obladi Oblada</em>, atau jika ia sedang tidak bersemangat, ia akan duduk manis menatap jauh pada segerombolan gadis yang tengah duduk berkerumun: berharap satu atau dua orang tersingkap roknya.</p>
<p>Ia tinggal di satu sudut fakultas yang nyaman&#8212;senyaman kandang babi. Dulu ruangan itu dipakai untuk mengoperasikan mesin stensil yang belakangan tergusur setelah penemuan teknologi komputer yang edan-edanan. Kematian mesin stensil adalah berkat bagi Edi Idiot yang berharap menghemat banyak dengan pondokan gratis. Di sanalah ia tidur kalau ngantuk, bercinta kalau punya kekasih, atau mencoba bunuh diri kalau sedang gila.<span id="more-779"></span></p>
<p>Empat tahun telah berlalu, dan itu membuatnya betah tetap tinggal di kandang babinya; istananya yang paling hebat. Tak ada Induk Semang yang Bengis yang siap monyong dan melotot jika ia membawa gadis cantik ke dalam kamarnya (kemudian pintunya dikunci dan mereka berdua menabung bekal untuk di neraka). Juga tak ada Induk Semang yang Serakah yang akan menagih uang pondokan (atau uang listrik, atau uang iuran penyemprotan nyamuk deman berdarah, atau juga sedikit sumbangan untuk langganan koran). Tapi yang lebih hebat dari semua itu adalah fakta bahwa tak ada Induk Semang yang Cerewet yang akan melarang dia membuat keributan macam apa pun bersama sahabat-sahabatnya tercinta.</p>
<p>Hobinya memang membuat keributan yang tak termaafkan induk semang mana pun. Bernyanyi keras-keras diiringi petikan gitar yang sebenarnya tak pernah nyambung. Atau membacakan puisi-puisi cinta yang memilukan hati. Atau lain kali ia mengundang beberapa temannya sesama nomaden (mereka juga tinggal di kandang-kandang babi, atau ada juga yang di kandang ayam, kandang anjing, atau kandang dedemit, yang tersebar hampir di setiap sudut universitas) untuk sekedar beranjangsana ke pondokannya yang, &#8220;Aih, maaf, agak berantakan. Maklum pembantu sedang mudik.&#8221; Berkumpul merupakan saat-saat yang paling indah baginya. Dengan sedikit mabok karena arak putih yang dijual murah di pinggir jalan, mereka membicarakan kebusukan Hegel dan Heidegger sebebas membicarakan kebusukan artis-artis porno. Mereka adalah orang-orang kreatif yang tak pernah membaca Voltaire atau Cervantes namun memunculkan istilah-istilah inovatif melebihi sastrawan manapun: &#8220;Mesin Penjilat Bibir&#8221; untuk pelacur, dan &#8220;Pipis Enak&#8221; untuk suatu kondisi yang disebut ejakulasi pada puncak orgasme.</p>
<p>Dialah Edi Idiot. Menyelesaikan sekolah dasar selama sembilan tahun, sekolah menengah pertama empat tahun, dan sekolah menengah atas selama lima tahun; hanya Tuhan yang tahu bagaimana orang yang menurut sistem pendidikan nasional dibilang goblok ini bisa masuk universitas. Itulah mengapa ia mendapat gelar idiot, semakin terlihat idiot ketika ia kuliah di filsafat dan tak tahu tanggal berapa Aristoteles lahir! Namun di atas semuanya, ia sahabat yang menyenangkan: tak pernah malu pinjam uang, matanya melotot jika bicara dengan seorang gadis yang kebetulan kancing kemejanya sedikit terbuka, dan tidur di ruang kuliah (ia baik karena tidak mengganggu sang dosen menjual omongan yang selalu diulang di setiap semester, bukan?). Ia mudah dikenali dari pandangan pertama: pakaian yang ia kenakan adalah empat pasang jeans dan kemeja yang merupakan serangkaian siklus empat mingguan, karena itu selalu tampak kucel dan jorok kecuali di dua hari minggu pertama. Rambutnya merupakan satu hal yang jauh lebih mudah dikenali; panjang dengan model rasta seperti Bob Marley yang dibuat bukan dengan pergi ke salon, atau resep mandi dengan air laut, atau apalagi dengan beragam ramuan yang tak meyakinkan, namun sungguh-sungguh menjadi rasta karena ia belum keramas selama delapan bulan satu minggu tiga hari! Jangan tanya berapa batalion kutu di kepalanya…</p>
<p style="text-align: center;">*</p>
<p>Malam hari merupakan saat-saat yang paling merdeka buatnya. Ia bisa pergi nonton konser lalu pulang menjelang dini hari. Atau kalau tak ada hiburan di mana pun di segenap pelosok kota, ia dan para sahabatnya menghibur diri sendiri dengan judi kiu-kiu menggunakan kartu domino. Awalnya mereka bertaruh dengan duit receh, namun jika kebangkrutan sudah menghantam, kekasih-kekasih khayalan mulai jadi taruhan. Edi Idiot doyan mempertaruhkan Ayu Azhari, namun jika ia kalah ia dilarang mengaku sebagai kekasih Ayu Azhari selama seminggu ke depan&#8230; kenyataan tragis bagi laki-laki yang justru seringkali tak memiliki kekasih yang sesungguhnya.</p>
<p>Namun jika ia sedang baik hati, ia akan mengingatkan dirinya sendiri, &#8220;Edi, sudah jam sembilan malam. Waktunya tidur.&#8221;</p>
<p>Ia segera akan membereskan kandang babinya. Ketiga jeans dan ketiga kemejanya yang tidak sedang dipakai ia gantungkan di paku-paku yang menancap di dinding. Kemudian ia membersihkan tikar, menggebukinya dengan sebatang tongkat pendek untuk mengusir debu dan kecoa, sebelum dihamparkan di pojok kandang babi itu. Bantalnya sudah sangat lembek sekali, ia temukan dahulu kala di kantor senat mahasiswa, sempat jadi rebutan dengan seorang temannya yang kini tinggal di gudang lain tak jauh dari kandang babi mantan gudang stensilnya, namun ia menangkan setelah bertaruh siapa yang berani masuk ke ruang dosen di pagi hari sebelum cuci muka. Sementara itu selimutnya merupakan hadiah istimewa dari kekasihnya di semester kedua; berwarna coklat muda dan ketebalannya cukup menghangatkan di musim dingin yang sangat ekstrim; suatu penghibur jika ia mengenang bagaimana cintanya diputuskan oleh gadis tersebut padahal demi Tuhan bahwa gadis itu jeleknya minta ampun&#8212;tak lebih cantik dari lubang kloset.</p>
<p>Jika semua ritual itu sudah ia laksanakan, ia akan berbaring perlahan di atas tikar tersebut. Sejenak ia merenung-renung dan berkata pada diri sendiri:</p>
<p>&#8220;Kau kan mahasiswa, sebaiknya membaca satu atau dua menit sebelum tidur.&#8221;</p>
<p>Maka ia mengambil satu-satunya buku yang ada di kandang babi itu, tergeletak di meja kecil tak jauh dari tempat di mana ia berbaring. Buku itu adalah buku tulis, sudah lecek karena nyaris seumur ia kuliah hanya itulah buku andalannya. Sambil tiduran, ia membuka dan membaca catatannya:</p>
<p>&#8220;Nasi sayur satu, tempe dua, teh hangat; kopi dan bakwan dua; nasi pecel satu tambah telur satu dan es teh; nasi sayur tambah tempe satu dan tahu satu dan jeruk hangat; nasi sayur satu tambah tempe dua dan kerupuk dua tambah es jeruk; nasi pecel satu, perkedel dua dan kerupuk satu tambah es teh…&#8221; Itu adalah catatan hutangnya pada bu Kantin yang Gendut di Kantin yang Jorok. Ia akan melanjutkan sebelum benar-benar tidur: &#8220;Belum mengkhawatirkan, pasti bisa aku lunasi.&#8221;</p>
<p>Maka tidurlah ia dengan damai, tanpa perlu didongengi dengan cerita <em>Lutung Kasarung</em> atau <em>Bawang Putih dan Bawang Merah</em>. Ia tak punya jam weker yang akan menjerit membangunkannya di pagi hari. Ia pun tak pernah merasakan kehangatan sinar matahari pagi menghantam tubuhnya yang tidur karena jendela kandang babinya selalu tertutup. Maka satu-satunya tanda bahwa ia harus bangun adalah keributan mahasiswa dan dosen; saat itu biasanya sudah pukul tujuh pagi.</p>
<p>Ia akan menggeliat-geliat sebentar, lalu bangun dan membuka pintu. Pak Dekan baru keluar dari mobil, Edi Idiot tersenyum ramah, dan pak Dekan membalasnya dengan muka masam. Lalu muncul si Cantik adik kelas, Edi Idiot tersenyum juga, dan si Cantik ngibrit. Ia tak pernah sakit hati. Ia dengan santai menuju kran air dan cuci muka, dan dengan langkah seorang pemalas bergerak menuju Kantin yang Jorok untuk memesan kopi dan nongkrong habis sampai siang hari.</p>
<p>Banyak desas-desus dan omong-kosong bisa didapatkan di Kantin yang Jorok: misalnya siapa yang paling bertanggung jawab atas perut bunting Nurul?, atau laki-laki tua berkumis baplang yang manakah yang ternyata intel dan sedang memantau mahasiswa-mahasiswa yang membahayakan keselamatan negara?, atau manakah yang perlu dibela: apakah orang Timor hitam yang pro Indonesia atau orang Timor hitam yang lebih suka merdeka (namun jelas mereka tak akan membela minoritas keturunan Portugis yang berkuasa)?, namun di atas tema-tema berat macam begitu, hanya satu yang bisa membuat mahasiswa-mahasiswa nomaden heboh:</p>
<p>&#8220;Konon, rektorat akan melarang kita tidur lagi di kampus.&#8221;</p>
<p>Edi Idiot bahkan sukses semaput di belakang pantat bu Kantin yang Gendut.</p>
<p style="text-align: center;">*</p>
<p>Hal itu benar-benar terjadi di suatu hari. Edi Idiot pulang pada suatu senja dari sedikit pengembaraan yang agak melelahkan. Ia mendapati kandang babinya terkunci, dan semua barangnya teronggok di atas kursi reyot di depan gudang tersebut. Ia panik dan melesat ke ruang satpam penjaga gedung.</p>
<p>&#8220;Si-siapa yang mengunci gudang?&#8221; tanyanya, antara marah dan ngeri.</p>
<p>&#8220;Mana aku tahu,&#8221; kata pak satpam. &#8220;Konon mau dijadikan dapur kantin ibu darmawanita.&#8221;</p>
<p>&#8220;Anjing-anjing itu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Siapa yang anjing?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya babi-babi itu.&#8221;</p>
<p>Apa pun yang terjadi, pak satpam jelas tak bisa mengembalikan istana hebat itu kepadanya. Edi Idiot berjalan gontai kembali ke kandang yang terkunci, mengumpulkan barang-barangnya. Ia memasukkan bantal lepetnya ke dalam tas gendong yang sudah dekil; juga ketiga pasang jeans dan kemeja kesayangannya. Tikar ia gulung dan simpan di tiang penopang langit-langit, kapan-kapan ia ambil. Lalu meja kecil… ah, biarkan saja di situ, siapa tahu ada kemungkinan kembali berkuasa di kandang babi. Terakhir ia melipat selimut kenangannya dan mengapitnya di ketiak.</p>
<p>Dan, lalu?</p>
<p>Ia berdiri bengong di gerbang fakultas. Ia tak tahu harus ngeloyor ke mana. Ia tak punya pondokan selama empat tahun ini, dan lebih parah dari segalanya, ia tak punya uang untuk menyewa pondokan baru. Kakinya kemudian membawa dia menuju ke gelanggang mahasiswa, tempat di mana lebih banyak mahasiswa nomaden memanfaatkan ruangan-ruangan yang tak terpakai di malam hari. Tapi yang ia temukan hanyalah pintu-pintu yang terkunci, dan gerombolan mahasiswa terusir yang putus asa. Satu-dua anak mencoba memprovokasi untuk membuat sedikit pemberontakan pada keadaan yang sungguh tak adil, namun yang lainnya begitu lelah dan ngantuk&#8212;dan kehilangan motivasi&#8212;sehingga tak merespon dengan baik. Dan Edi Idiot, jelas ia lebih suka segera berlalu untuk menemukan satu tempat tidur yang nyaman di malam ini.</p>
<p>Ia berkeliling dari satu gedung ke gedung lain di segenap pelosok universitas. Ia memang menemukan teman-teman malamnya, sama-sama kehilangan harapan, namun tak menemukan ruangan yang layak untuk tempat tidur. Sampai ketika tengah malam datang, ia tersasar di gedung rektorat dan menemukan satu pos satpam kosong di sebelah utara. Yeah, bukan kandang babi memang, pikirnya; kandang monyet pun tak apalah!</p>
<p>Maka tidurlah ia di sana ditemani hantu wanita yang bunuh diri, dedemit, sundel bolong, dan semua makhluk horor lainnya. Namun semua keangkeran tempat tersebut tak mengganggu tidurnya sedikitpun. Ia lelap, selelap paku yang menempel di pintu. Namun di pagi hari, ia terbangun mendadak ketika seekor anjing kudisan mengendus-endus pantatnya. Anjing itu sama kagetnya, mundur sedikit, dan terkaing-kaing berlari ketika Edi Idiot menendangnya dengan penuh nafsu.</p>
<p>Ia sendiri kemudian terduduk, membiarkan cahaya matahari pagi memandikan tubuhnya. Nafasnya tersenggal-senggal, dan sambil memegang dada ia berbisik pelan:</p>
<p>&#8220;Oh Tuhan, terima kasih. Betapa mengerikan jika anjing sialan itu menyodomiku!&#8221;</p>
<p>Ia segera mencangklong tas punggungnya dan mengapit selimutnya, lalu berjalan pergi ke Kantin yang Jorok untuk mendapat segelas kopi sebagaimana biasa. Semua itu kemudian menjadi rutinitas barunya; tidur di kandang monyet ditemani makhluk-makluk horor, lalu terbangun dipermainkan anjing buduk pengendus. Selain itu pemandangan ini menjadi pemandangan umum di setiap pagi selama beberapa hari: seorang pemuda kurus kerempeng berambut rasta berjalan dari gedung rektorat ke Kantin yang Jorok sambil menggendong tas punggung berisi pakaian dan bantal dan di tangan kirinya mengapit selimut coklat muda. Dialah kawan kita si Edi Idiot yang karena nasib harus memerankan antagonis yang menyedihkan seperti itu.</p>
<p>Namun ternyata, bukan hanya orang-orang yang berpapasan dengannya saja yang kemudian merasa bersimpati dan kasihan; ia sendiri mulai mengkhawatirkan dirinya sendiri. Ia mulai menghitung-hitung buruknya tidur di kandang monyet itu; dalam satu atau dua bulan ke depan bisa dipastikan ia terserang paru-paru basah yang akut. Selain itu, meskipun ia punya selimut tebal kenangan, udara dingin di kandang yang tak punya dinding itu bisa membuatnya terserang rematik; alasan kuat untuk menyongsong hari tua yang mengerikan. Ia juga mengkhawatirkan gangguan makhluk-makhluk horor itu lama-kelamaan memberi trauma buruk pada kejiwaannya. Tapi yang paling membuatnya cemas adalah kengeriannya pada kemungkinan terburuk ini: suatu pagi anjing buduk itu benar-benar berhasil menyodominya!</p>
<p>Sambil minum kopi di Kantin yang Jorok ia menghitung sisa uangnya: ada tiga ribu empat ratus perak. Ia mencoba memikirkan banyak cara bagaimana melipatgandakan uang sekecil itu agar bisa menyewa pondokan barang satu atau dua bulan saja. Namun jiwa kapitalistik tak sungguh-sungguh mampir di otaknya yang bebal; yang terpikirkan adalah mempertaruhkan uang itu di meja judi kiu-kiu. Ia segera menukar uangnya dengan recehan seratus perak pada bu Kantin yang Gendut, dan segera kembali ke fakultas mengumpulkan teman-teman perjudiannya. Permainan berlangsung alot di belakang kantin, di mana dosen-dosen yang sok usil ikut campur urusan orang lain tak akan melihat kelakukan biadab mereka. Di setengah jam pertama, Edi Idiot bisa mengumpulkan keuntungan enam ratus perak, namun ketika permainan berlangsung lebih lama, ia mulai kehilangan receh demi receh hingga temannya yang lebih jago judi benar-benar menghabiskan seluruh modalnya.</p>
<p>Edi Idiot masih penasaran dan menjerit:</p>
<p>&#8220;Jalan terus!&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau bertaruh dengan apa?”</p>
<p>“Apa boleh buat, kutawarkan Ayu Azhari.&#8221;</p>
<p>&#8220;Mana bisa, tiga hari yang lalu Ayu Azhari sudah dipasang dan kau kalah.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kalau begitu Sarah Azhari.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ngawur, dia bukan kekasihmu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Peduli amat.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau mulai curang. Ayo, bubar!&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi…&#8221;</p>
<p>Teman-temannya sudah bubar dan pergi ke segala penjuru. Tinggal Edi Idiot yang mulai putus asa memikirkan bagaimana caranya memperoleh uang untuk menyewa pondokan baru. Pondokan yang aman dari pelecehan seksual anjing kudisan.</p>
<p style="text-align: center;">*</p>
<p>Selama beberapa waktu ia mencoba mengamen di perempatan jalan, namun hasilnya jauh dari cukup untuk mencapai cita-citanya punya pondokan baru. Ia bahkan pernah tergoda untuk melakukan sedikit pencurian; namun nyali kecilnya ciut ketika membaca berita di koran yang menyebutkan seorang pencuri dibakar massa beramai-ramai. Hasilnya, Edi Idiot mulai tampak redup. Romannya yang riang dan seringkali menghibur sahabat-sahabatnya mulai tampak jauh lebih tua. Ia menjadi seorang perenung, tapi jelas bukan filsuf. Sering berdeklamasi seorang diri, namun jelas bukan penyair juga, mungkin hanya karena kegilaannya sedikit sedang kumat.</p>
<p>Ia juga mulai memikirkan kemungkinan-kemungkinan untuk bunuh diri. Atau kadang terpikir untuk pulang ke kampung halaman, menyerah pada semua usahanya untuk jadi seorang sarjana yang dihormati. Namun semuanya tidak ia lakukan. Ia masih mencintai universitasnya, kotanya, dan juga para sahabatnya. Ia harus bisa bertahan, betapapun menyedihkannya hidup yang harus ia lakoni.</p>
<p>Kadang ia merasa betapa ruginya dia: hidup di dunia dalam keadaan buruk, dan kalau mati kemungkinan besar masuk neraka. Namun kemurungannya berubah seketika saat di suatu pagi, ketika ia sedang berjalan dari gedung rektorat menuju Kantin yang Jorok sambil menggendong tas punggung dan mengapit selimut pemberian mantan kekasihnya, ia bertemu seorang gadis di tengah jalan. Namanya Widy, sahabatnya satu angkatan namun nasib membuat jalan hidup keduanya berbeda. Widy sudah menyelesaikan kuliah dan sekarang bahkan sudah menjadi dosen di fakultasnya sendiri.</p>
<p>&#8220;Oh, Sahabatku, Widy, apa kabar?&#8221; Edi Idiot dengan muka yang ceria menghampirinya dan menjabat tangan.</p>
<p>Widy yang sedang dalam perjalanan ke kantor dosen menatapnya dengan prihatin. &#8220;Aduh, Edi, sudah berapa lama kau tidak mandi?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ah, Sahabatku, jangan tanyakan soal itu. Ngomong-ngomong, kau jarang terlihat akhir-akhir ini?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku? Seandainya kau rajin masuk kuliah, setidaknya aku mengajar kau satu minggu sekali.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku jadi malu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau tampaknya lapar, mau kutraktir?&#8221; tanya Widy.</p>
<p>&#8220;Demi Tuhan, aku menunggu tawaran seperti itu.&#8221;</p>
<p>Mereka kemudian mampir di Kantin yang Jorok sekedar melepas rindu sebagai dua sahabat yang lama tak berjumpa. Sarapan bersama sambil bicara mengenai banyak hal. Teman kita yang botak, si Agus, sekarang di mana? Aha, dia sudah kerja di Jakarta. Ya, betul, si Iwan sudah jadi wartawan, hebat betul dia. Dan Sinta, kudengar dia sudah kawin; punya anak tapi kemudian cerai, nasibnya agak malang. Aku tak tahu kalau soal Andi, katanya dia pergi ke Kalimantan; ya goblok sekali dia, kuliahnya ditinggal begitu saja, mungkin bisnis, tapi setahuku bisnis apapun dia selalu gagal. Dan kau? Masya Allah, hanya tinggal kau angkatan kita yang masih bertahan jadi mahasiswa?</p>
<p>Edi Idiot tersenyum dan bertanya:</p>
<p>&#8220;Dengar-dengar kau mau kawin?&#8221;</p>
<p>Widy tersenyum dan mengangguk. &#8220;Tentu saja,&#8221; katanya. &#8220;Sekarang masih nabung-nabung buat rumah dan tetek-bengeknya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kupikir kau mau tunggu aku.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sayang kau terlambat.&#8221;</p>
<p>Edi Idiot menyelesaikan sarapannya dengan perasaan puas, karena untuk pertama kali setelah beberapa waktu, ia boleh mengambil porsi makan sebanyak yang ia suka. &#8220;Tapi ngomong-ngomong,&#8221; katanya. &#8220;Kalau di hari perkawinan calon suamimu minggat, aku tak keberatan jadi pengganti.&#8221;</p>
<p>Widy tertawa dan menjawab, &#8220;Aku pertimbangkan.&#8221;</p>
<p>Mata Edi Idiot berbinar-binar menatap sahabatnya. Bukan, bukan karena harapan pada kemungkinan menjadi pengganti calon suami yang minggat, tapi karena ia menganggap saat inilah saat yang tepat untuk menyerang Widy dengan satu permintaan yang selama makan ia persiapkan:</p>
<p>&#8220;Sahabatku,&#8221; katanya pelan, takut terdengar penghuni Kantin yang Jorok yang lain. &#8220;Untuk sahabatmu yang malang dan mengibakan ini, maukah kau pinjami aku uang?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau pinjam uang?&#8221;</p>
<p>&#8220;Jangan keras-keras, Sayang… ya, itulah yang aku maksud.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau tidak dalam kesulitan besar, kan?&#8221;</p>
<p>Edi Idiot bercelingukan, lalu menatap sahabatnya lagi. Matanya sedikit berkaca-kaca (aduh, tak terkira dia agak cengeng juga). Lalu perlahan-lahan mengadu, &#8220;Kau tahu kan aku tinggal di kandang babi.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kandang babi di fakultas peternakan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Maksudku gudang bekas tempat mesin stensil.&#8221;</p>
<p>&#8220;Semua orang sudah tahu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi sekarang aku sudah tidak tinggal di sana.&#8221;</p>
<p>&#8220;Pantas saja aku jarang lihat kau.&#8221;</p>
<p>&#8220;Pihak universitas melarang kami tinggal di kampus lagi. Aku sekarang tinggal di kandang monyet, ditemani genderwo dan kuntilanak, serta dikeloni anjing kudisan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Di mana pula itu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Pos satpam dekat gedung rektorat.&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh Tuhan, itu mengerikan, Sayang.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, begitulah,&#8221; kata Edi Idiot. Dan dengan semangat ia mendramatisir, &#8220;Aku mulai menderita paru-paru basah, mungkin juga demam berdarah dan gagal jantung. Bahkan aku menduga aku sudah kehilangan satu ginjal. Aku khawatir lebih lama di sana bisa terkena AIDS juga.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sebaiknya kau menyewa pondokan saja.&#8221;</p>
<p>Ini dia! Dengan sedikit menahan diri, Edi Idiot berbisik, &#8220;Itulah mengapa aku mau pinjam duit ke kau. Atau kalaupun kau tak punya duit, setidaknya kau sudi berbagi tempat tidur denganku.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ah, aku lebih suka meminjami uang.&#8221;</p>
<p>&#8220;Itu pun tak apa.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi aku cuma bawa seratus ribu perak.&#8221;</p>
<p>&#8220;Itu lebih dari cukup.&#8221;</p>
<p>Transaksi berjalan dengan diam-diam. Selama itu berlangsung, Edi Idiot beribu kali mengucapkan terima kasih. Kau memang sahabat sejati, Widy. Semoga kau tambah cantik selalu, katanya. Semoga kau cepat naik pangkat&#8212;kalau perlu jadi rektor yang berpihak pada mahasiswa-mahasiswa malang seperti dirinya. Semoga amal-ibadahnya diterima Tuhan, dan semoga kau tertarik menjadikan aku sebagai suamimu.</p>
<p>Widy hanya tersenyum dengan segala puja-puji itu, dan berkata bahwa ia harus segera masuk ruang kuliah untuk mengajar.</p>
<p>&#8220;Ya, ya, selamat jalan, Sahabatku!&#8221;</p>
<p>Widy berlalu dan Edi Idiot melambaikan tangannya dengan bahagia.</p>
<p>Kini ada uang seratus ribu di tangannya. Edi Idiot termenung-menung seorang diri di Kantin yang Jorok yang hiruk-pikuk itu. Yeah, cukup untuk menyewa kamar dua bulan, pikirnya. Mungkin tiga bulan, kalau mau mencari yang agak jauh dari kampus. Ia mulai mempertimbangkan hal-hal tersebut. Yeah, ia bakal punya Induk Semang yang Bengis, juga Induk Semang yang Rakus, dan tentunya Induk Semang yang Cerewet. Kecil kemungkinan memperoleh Induk Semang yang Pemurah.</p>
<p>Jika ia punya pondokan, ia tak boleh lagi berteriak sesuka hati di tengah malam. Juga pasti dilarang keras mabok. Lebih mengerikan kalau ada aturan harus pulang jam sembilan. Ngomong-ngomong, ia jadi ragu dan ngeri memikirkan harus punya rumah pondokan.</p>
<p>Namun bagaimana lagi? Sahabatnya yang baik itu sudah meminjami dia uang, dan duit tersebut kini tergenggam erat di tangannya. Dan lagi pula, adalah mengerikan terus-menerus tinggal di kandang monyet: ia bisa mati memalukan.</p>
<p>Ketika sedang memikirkan hal itu, matanya menatap bu Kantin yang Gendut. Ia sedang melayani seorang pembeli. &#8220;Satu atau separoh? Pakai sayur? Oh, pecel.&#8221; Kemudian pembeli yang lain. &#8220;Dengan apa? Nasi sayur tambah telur goreng, tempe dua dan es teh, dua ribu lima ratus. Terima kasih.&#8221; Edi Idiot tiba-tiba teringat sesuatu. Ia membuka tasnya dan menemukan buku catatan itu. Ketika bu Kantin yang Gendut sedang beristirahat tanpa gangguan satu pembeli pun, Edi Idiot menghampirinya.</p>
<p>&#8220;Ini hutangku,&#8221; kata Edi Idiot pelan-pelan dan malu-malu.</p>
<p>Bu Kantin yang Gendut menghitungnya, dan Edi Idiot kehilangan lebih dari separoh uang yang dipegangnya.</p>
<p>Namun ia bahagia sekali bisa melunasi hutang itu. Ia berjalan ke sana-ke mari sambil bersiul-siul. Lagu-lagu riang kembali muncul di mulutnya. Ia telah lupa pada rencana punya pondokan. Lalu apa yang telah merasuk di otaknya? Apakah ia memiliki suatu rencana yang gemilang. Begitulah. Di sore hari, ia membayar seorang tukang kunci untuk membuka pintu kandang babinya. Dan di malam hari ia menghabiskan uangnya dengan membeli arak putih murahan dan sekeresek nasi bungkus dari warung angkringan serta mengundang seluruh sahabat malamnya. Mereka pesta gila-gilaan, bernyanyi dan mabok serta kembali tertidur dengan penuh kedamaian. Sebelum benar-benar tertidur, Edi Idiot tak lupa berdoa, &#8220;Semoga bisa melunasi hutang pada Widy… Grok, grok, grok.&#8221;</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p style="text-align: left;"><span style="font-size: 90%;"><span style="font-family: trebuchet ms;">Copyright <a href="http://ekakurniawan.com" target="_blank"><strong>Eka Kurniawan</strong></a>, 2000. Salah satu karya awal Eka Kurniawan ini saya salin dari <em>Kumpulan Cerpen Terbaik Balairung</em> (2000), buku oleh-oleh dari Sigit G.W. (Jogja) dalam kunjungannya ke Bandung sekitar tahun 2001. (<em>Thanks Git! Bukunya udah lecek sekarang, hehe</em>.) Foto ilustrasi dicomot dari <a href="http://www.flickr.com/photos/dewfall/2576246064/" target="_blank">sini</a>.</span></span></p>
<p style="text-align: left;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/cerpen-favorit-kandang-babi-rendez-vous/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Why Brazil, someone once said</title>
		<link>http://budiwarsito.net/why-brazil-she-once-said/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/why-brazil-she-once-said/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Sep 2011 09:14:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[Musik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=436</guid>
		<description><![CDATA[. &#8220;return i will to old brazil&#8221; yeah it simply started with a book and a movie, i mean i heart orwell&#8217;s 1984 and i saw gilliam&#8217;s brazil like years ago, what a hunk!, and still i&#8217;m amazed how the director delivers the romantic flight of dark imagination scored with that latin-flavored title tune which [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-438 aligncenter" title="ButtleTuttle!" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2009/12/ButtleTuttle.jpg" alt="ButtleTuttle!" width="431" height="244" /></p>
<p><span style="color: #ffffff;">.</span></p>
<p style="text-align: center;"><em>&#8220;return i will<br />
to old brazil&#8221;</em></p>
<p style="text-align: left;"><em></em><span id="more-436"></span>yeah it simply started with a book and a movie, i mean i heart orwell&#8217;s <em>1984 </em>and i saw gilliam&#8217;s <em>brazil</em> like years ago, what a hunk!, and still i&#8217;m amazed how the director delivers the romantic flight of dark imagination scored with that latin-flavored title tune which kills me again and again; softly for sure, you know, those blah blah blah cheesy words in the first lines (Geoff did it the best, IMHO, with the intro and the whistling-like sound), &#8216;<em>june</em>&#8216;, &#8216;<em>ambermoon</em>&#8216;, &#8216;<em>someday soon</em>&#8216;, rhyming never gets tiring, huh?, suddenly &#8220;<em>then tomorrow was another day</em>&#8221; (!), and finally &#8220;<em>return, i will, to old Brazil</em>&#8220;&#8212;should i say, the Past? or is it the Future? with sam lowry, you&#8217;ll never know.</p>
<p>[MP3s]<br />
<a href="http://www.mediafire.com/?yz5lzwyydwd" target="_blank"><strong>Kate Bush</strong> &#8211; &#8220;Brazil&#8221; &#8211; <em>Brazil OST</em></a><br />
<a href="http://www.mediafire.com/?qtgz2zejhjk" target="_blank"><strong>Geoff &amp; Maria Muldaur</strong> &#8211; &#8220;Brazil&#8221; &#8211; </a><em><a href="http://www.mediafire.com/?qtgz2zejhjk" target="_blank">Pottery Pie</a><br />
</em><a href="http://www.mediafire.com/?ztmz3d1m1ej" target="_blank"><strong>Arcade Fire</strong> &#8211; &#8220;Brazil&#8221; &#8211; <em>Rebellion (Lies)</em></a><br />
<a href="http://www.mediafire.com/?mzd0mdya3tm" target="_blank"><strong>Beirut</strong> &#8211; &#8220;Brazil&#8221; &#8211; <em>Live at KLRU Studios<br />
</em></a><a href="http://www.mediafire.com/?yyzywm2zmeq" target="_blank"><strong>Antonio Carlos Jobim</strong> &#8211; &#8220;Brazil&#8221; &#8211; <em>Aquarela Do Brasil</em></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/why-brazil-she-once-said/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anak Band Beranak Band</title>
		<link>http://budiwarsito.net/anak-band-beranak-band/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/anak-band-beranak-band/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Aug 2011 20:29:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Rupa-rupa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=577</guid>
		<description><![CDATA[. &#8220;Set your guitars and banjos on fire, and before you write a song: smoke a pack of whiskey and it’ll all take care of itself.&#8221; —Beck Kami bertiga (Budi, Bada, dan Badu) di Kompleks Timbuktu Permai ini merasa melihat betapa nge-band sepertinya cool. Padahal tak satupun dari kami yang bisa memainkan instrumen musik apapun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/02/ABBB02.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-597" title="ABBB0" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/02/ABBB02.jpg" alt="" width="424" height="242" /></a><span style="color: #ffffff;">.</span></p>
<p style="text-align: left;">&#8220;<em>Set your guitars and banjos on fire,<br />
and before you write a song: smoke a pack of whiskey<br />
and it’ll all take care of itself</em>.&#8221;<br />
—Beck</p>
<p>Kami bertiga (Budi, Bada, dan Badu) di Kompleks Timbuktu Permai ini merasa melihat betapa nge-band sepertinya cool. Padahal tak satupun dari kami yang bisa memainkan instrumen musik apapun dengan benar. Tapi kami cuek, karena denger-denger &#8216;cuek&#8217; itu juga cool.</p>
<p>Segepok rencana pun disusun, dan rencana kami paling dekat adalah: &#8216;menjadi band terkenal&#8217;. Kalau bisa secepatnya. Karena itu kami berniat untuk berlatih keras di garasi tua bobrok di bawah rumah pohon kami, sebab denger-denger banyak band terkenal yang memulai karirnya dari tempat-tempat cool semacam itu. <span id="more-577"></span>Badu pun terpaksa merelakan VW Combi-nya—yang lebih mirip rongsokan besi tua ketimbang mobil—dipindahkan dari garasi. Ya, ya, ya, harus dengan didorong, tentu saja. Terlalu lama dia mogok, dan semua tukang bengkel di seluruh dunia sudah angkat tangan. Ketika kami dorong rongsokan itu keluar, bodinya berderit-derit menyakiti telinga. Saya ingat betul, bahkan ketika si VW Combi sialan ini masih jalan pun (itu artinya waktu Muhammad Ali masih perkasa di ring tinju), bunyinya juga udah nggak keruan. Mesinnya berderak-derak. Bannya koclak. Jendela kacanya gemeretak. Pokoknya semuanya bunyi kecuali klakson. Tak ada yang bisa dibanggakan dari rongsokan itu, kecuali jika menurut Badu, adalah plat nomornya: B 4 DU. Itupun sebenarnya kami nggak bangga. Biasa aja.</p>
<p>Persiapan pun dimulai. Kami harus menyulap garasi tua itu demi tujuan mulia: punya studio latihan sendiri. Ayo bagi tugas! Badu kebagian memindahkan barang-barang sambil menggerutu (peti-peti kemas milik papanya Badu sebenarnya cool sih, tapi kami selalu curiga salah satu di antaranya berisi mayat, jadi kami nggak mau ambil risiko latihan band metal kami yang bising nanti bakal membangunkan arwah-arwah yang penasaran). Saya kebagian tugas menyapu dan mengepel lantai, memperbaiki atap bocor (untung ada <em>how to</em>-nya di internet), dan menyemprotkan pewangi ruangan (yang juga bisa kamu pesan via online). Bada mendapat kehormatan (okay, sebenarnya itu hasil undian, karena kami rebutan) untuk menyebar undangan ke kos-kos cewek di sekitar rumah pohon kami, demi menjajaki kemungkinan awal adanya groupies band kami yang soon-to-be-famous ini. Hoho, pede dong. Sebab pede itu juga cool.</p>
<p>Setelah menjaga garasi itu supaya tetap dalam kondisi &#8220;nggak terlalu kotor, tapi juga nggak bersih-bersih amat&#8221; (sebab kami denger agak kumuh itu juga cool), maka kami pun siap latihan! Badu tampak siap dengan celana jeans robek-robeknya (katanya ini juga cool), Bada memakai topi panjang ala Slash (atau mungkin Mr. Robin, saya suka ketuker), karena katanya ciri khas penampilan itu penting, demi image band (tapi kok nyontek yang sudah ada ya?). Sementara saya, sudah siap dengan… bekal makan siang. Lho? Yoi, kalau rocker kena maag juga nggak cool bukan?</p>
<p>Setelah sambutan dari Bada (kami bertiga memang sepakat menuakan dia), dan sepatah dua patah kata dari Badu (kami anggap dia perwakilan anak muda dari karang taruna setempat), dilanjutkan acara gunting pita dan tabuh gong, potong nasi tumpeng dan minum jus wortel, maka studio latihan (d/h garasi) kami pun resmi dibuka. Kami bertiga sepakat menamakan studio baru itu dengan: &#8220;Latihan&#8221;. Nama yang lumayan cool, bukan? Jadi kalau dibaca lengkap: Studio &#8220;Latihan&#8221;. Edan! Alangkah brilian ide kami ini, yang memang kurang suka istilah-istilah yang sok berat penuh kiasan. Kami bertiga ini orangnya lugas-lugas saja. Okay, sedikit bodoh memang. Tapi peduli setan, pokoknya kami siap ngeband dan mengguncang dunia!</p>
<p>Di saat itulah kami baru menyadari sesuatu: kami belum punya alat musik satu pun.</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p>Damn! Kami merasa sangat bodoh. Ini esensial, Bung! Bagaimana kami bisa latihan kalau nggak ada alat musik satu pun? Bahkan sekadar kicrik-kicrik pun kami nggak punya. Setelah saling tuding saling menyalahkan (Badu: &#8220;Elu sih Bud, mikirinnya interior dapur mulu! Budi: &#8220;Heh, enak aja, gue kan juga harus mikirin logistik dan konsumi, tauk!&#8221; Mulai panas: &#8220;Elu tuh yang kerjanya nggak bener! Dasar NATO!&#8221; Debat kusir: &#8220;Nggak&#8230; lu tuh!&#8221; &#8220;Yee&#8230; elu!&#8221; Nyaris tonjok-tonjokan: &#8220;Elu!!!&#8221; … &#8220;Elu!!!&#8221;), akhirnya Bada berhasil melerai kami berdua dan mengaku salah, &#8220;Sudah, sudah. Jangan berantem. Ini salah saya. Harusnya kemarin saya survey alat-alat band, tapi malah keliru beli alat pancing dan penggorengan ikan.&#8221;</p>
<p>Saya dan Badu melongo berdua. Arghhh. Kita ini mau ngeband atau magang jadi koki? Dasar bodoh! Tapi karena Bada adalah anggota yang kami tuakan, jadi segala makian itu cukup diucapkan dalam hati saja, supaya lebih afdol dan tidak memicu konflik. Amin. Akhirnya, setelah memasang senyum palsu secukupnya, kami sepakat untuk pergi ke toko alat musik dan belanja segala keperluan kami di sana. Tapi problemnya adalah: kami semua lagi bokek. Kas persaudaraan kami sudah ludes untuk merenovasi garasi menjadi studio, dan sisanya sudah kami habiskan di meja judi. Gawat.</p>
<p>&#8220;Ada usul, <em>guys</em>, gimana caranya kita beli alat musik?&#8221;</p>
<p>&#8220;Gue tahu!&#8221; Badu bangkit dari duduknya, tangannya mengepal dan matanya berbinar-binar. Saya dan Bada langsung berdoa dalam hati, semoga usul Badu kali ini bermutu. &#8220;Gimana kalo kita ke toko musik, lalu kita pecahin semua alat di sana?&#8221;</p>
<p>Saya dan Bada saling berpandangan, bingung. &#8220;Ehmm, maksudnya…?&#8221;</p>
<p>Badu tampak kesal. &#8220;Ah, dasar bodoh kalian ini. Di toko kan suka ada tulisan &#8216;<em>Pecah Berarti Membeli</em>&#8216;! Jadi kalo kita pecahin alat musik di sana, berarti kita membelinya!&#8221;</p>
<p>Astaga. &#8220;DUITNYA, monyooooongggg!!!&#8221;</p>
<p>Sampai sekarang kami masih suka heran, apa sebenarnya yang ada di pikiran Tuhan ketika Dia menciptakan Badu.</p>
<p>Setelah melalui musyawarah untuk mufakat (awww, betapa kami menjaga nilai-nilai luhur bangsa!), keputusan bersamanya adalah: kami harus bekerja terlebih dahulu, mengumpulkan dana untuk membeli alat-alat musik idaman kami. Pokoknya kami harus bisa nge-band!</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p>Besoknya, kami pun mulai mencari uang dengan kemampuan kami masing-masing. Ada yang &#8216;terpaksa&#8217; kembali menulis naskah komedi untuk salah satu acara lawak paling fenomenal di sejarah pertelevisian negeri ini (ahem!). Ada yang pulang kampung dan diam-diam menjual kerbau-kerbau peninggalan kakek. Pokoknya kami kumpulkan uang &#8220;sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit&#8221;. Hmm, ngomong-ngomong itu peribahasa yang agak aneh ya: maunya ngumpulin duit, kok dapetnya malah bukit? Apa bukitnya harus kita jual dulu, baru kita dapet duit? Ah rumit.</p>
<p>Sementara Badu berusaha mencari uang dengan jualan balon di SD-SD. Kasihan, rupanya dia belum tahu, bahwa ketimbang lagu &#8220;<em>Balonku ada limaaa, rupa-rupa warnanyaaa…</em>&#8220;, anak-anak jaman sekarang lebih akrab dengan &#8220;<em>Aku punya teman… uh, uh… Teman tapi mesraaa…</em>&#8221; Begitu tahu, Badu langsung banting setir, jualan lotre di bungkus permen karet. &#8220;Gimanapun juga, judi itu abadi, Bos. Nggak kenal jaman.&#8221; Walhasil, bukannya untung malah buntung. Dia berurusan dengan pihak sekolah dan kepolisian, karena menjanjikan hadiah motor padahal bohong. Badu pun dijebloskan ke penjara dengan pasal penipuan. Tapi dengan bantuan Setan, yang kebetulan dikurung di sel sebelah atas tuduhan pemaksiatan umat, Badu berhasil kabur dari penjara.</p>
<p>Sebagai ucapan terimakasihnya, Badu mendirikan usaha baru: atraksi Tong Setan. Itu lho, akrobat naik motor muter-muter di dalam tong raksasa. Dia sendiri yang jadi penunggang motornya. &#8220;Gini-gini, gue kan ada bakat pembalap,&#8221; kata Badu pede. Padahal seingat kami, satu-satunya balapan yang pernah dia ikuti adalah karapan sapi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/02/TongSetan1.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-600" title="TongSetan" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/02/TongSetan1.jpg" alt="" width="454" height="302" /></a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sialnya, usaha Tong Setan ini pun tak banyak menghasilkan uang. Malah lebih sering nombok, karena harga BBM selalu naik dan naik terus. Dan rasanya kok sayang aja gitu, buang-buang bensin cuman buat muter-muter bloon di tong bego kayak gitu. Dirundung putus asa, plus bisikan Setan tentunya, akhirnya Badu memutuskan untuk (maaf) jual diri. Sayang caranya salah: dia berteriak-teriak sambil menjajakan dagangannya, &#8220;<em>Diri, diri! Diri!</em>&#8221; Bukannya laku, orang-orang malah menganggapnya gila. Mungkin mereka benar.</p>
<p>Saya dan Bada merasa kasihan. Bagaimanapun, Badu bagian dari kami. Dia hanya khilaf. Akhirnya dengan semangat persaudaraan, penuh haru kami merangkul Badu. Kami mengajaknya insyaf, menggandengnya pulang. Trio Budi Bada Badu utuh lagi, dan kabar bagusnya, awas, kami akan memakai huruf kapital: UANG KAMI SUDAH CUKUP UNTUK BELANJA ALAT MUSIK!</p>
<p>Kami bertiga pun berangkat ke toko alat musik yang sudah kami incar dari dulu. Sepanjang jalan, saya dan Bada bernyanyi-nyanyi riang (sekaligus mengasah persediaan stok lagu-lagu awal kami, yang sebenarnya sudah cukup banyak untuk sekadar <em>double album</em>), sementara Badu hanya diam saja dari tadi. Mungkin dia masih merasa nggak enak dengan kejadian tempo hari, apalagi secara finansial dia tidak ikut berkontribusi. Ketika pelan-pelan kami yakinkan bahwa itu beneran nggak papa, dia malah heran, &#8220;Kalian ini kenapa sih? Gue kan lagi mikir, gitar merk apa yang sebaiknya kita beli nanti!&#8221;</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p>Setibanya di toko (wah, namanya Toko &#8220;Musik&#8221;!, hohoho kami langsung merasa satu frekuensi!), atas rekomendasi kuat—untuk tidak mengatakan setengah memaksa—dari petugas parkirnya, akhirnya Badu memilih satu gitar lusuh di pojok toko. &#8220;Itu gitar legendaris peninggalan musisi terkenal di jamannya!&#8221; demikian katanya sambil menyodorkan kartu parkir kami. Lalu gitar itu pun kami periksa dengan seksama dan dalam tempo sesingkat-singkatnya. Tampak di stikernya yang sudah kusam, nama merk-nya: &#8220;Tua&#8221;. Well, ini pertanda bagus. Dengan gitar &#8220;Tua&#8221; ini, Badu pasti kan merasa seperti Rhoma Irama. Kami jadi curiga, jangan-jangan Pak-Petugas-Parkir tadi mantan anggota Soneta.</p>
<p>Bada, sebagai musisi spesialis alat tiup, mulai mencari-cari saksofon. Kami memang sempat terpikir mengubah aliran band kami menjadi jazz (karena kata sebuah lagu, &#8220;<em>&#8230;daripada musik metal lebih baik musik jazz&#8230;</em>&#8220;), tapi rupanya Toko &#8220;Musik&#8221; ini tidak menjual saksofon. Di etalase musik tiup kami hanya menemukan harmonika (yang segera kami hindari, karena mengingatkan pada pengamen country blues di warung sop kaki kambing langganan kami), pianika (aduh, memangnya anak SD ujian EBTA praktek?), seruling bambu (oh no, kami bukan band si gembala sapi!), dan&#8230; terompet bekas sisa Tahun Baru kemarin.</p>
<p>Astaga, kami salah memilih toko. Dengan suara tercekat, Bada bertanya, &#8220;Alat musik tiupnya cuman ada ini doang, Mbak?&#8221; Si Mbak-Pelayan-Yang-Lumayan mengangguk sambil tersenyum manis kayak tebu. Tapi dia mendadak seperti teringat sesuatu, lalu bergegas ke arah salah satu lemari. Dikeluarkannya kotak hitam lusuh, sambil berkata, &#8220;Ini ada satu lagi, Dek&#8230;&#8221; (Wah, ge-er juga dipanggil &#8220;Dek&#8221;. Pasti wajah imut kami inilah penyebabnya!)</p>
<p>Tapi ketika kotak hitam itu dibuka, lemaslah kami bertiga demi melihat isinya: peluit!</p>
<p>&#8220;Gimana, Dek, tertarik? Ini alat tiup juga kan? Kata distributornya, ini <em>limited edition</em> lho! Bisa dibilang <em>rare</em> lah!&#8221;</p>
<p>Tunggu. Peluit? Distributor? Tanpa aba-aba, kami bertiga serentak menoleh ke luar. Tampak Pak-Petugas-Parkir cepat-cepat melengos sambil bersiul-siul layaknya tak mendengar percakapan kami. Damn, apa yang bisa kami harapkan dari toko musik sialan ini?</p>
<p>Akhirnya, malas-malasan Bada mengambil seruling bambu. &#8220;Jangan kuatir, teman-teman. Saya akan memodifikasinya biar sedikit lebih berkelas. Band besar sekaliber Jethro Tull saja juga memakai seruling.&#8221; Okay bro, terserah kamu deh. Toh Bada adalah anggota persaudaraan yang kami tuakan, dan bagaimanapun, menghormati orang tua adalah sikap terpuji.</p>
<p>Oya, sebagai vokalis, supaya nggak terlalu nganggur waktu manggung ntar, saya pikir saya butuh kicrik-kicrik. Tapi lagi-lagi stok toko lagi kosong. Alasan Mbak-Pelayan-yang-Lumayan kali ini adalah, &#8220;Lagi nge-trend di kalangan musisi indie sekarang. <em>Sold-out</em> terus dari bulan kemarin.&#8221; Okay deh. Sebagai gantinya, saya beli <em>game-watch</em> Tetris. Toh fungsinya sama: supaya saya nggak terlalu nganggur di atas panggung. Jadi saya bayangkan, ketika membawakan salah satu lagu hits kami, yaitu sehabis saya menyanyikan bagian <em>reffrain</em> dua kali, lalu Badu akan bersolo gitar (yang pasti akan memakan waktu cukup lama, karena dia krisis eksistensi), maka selama itulah saya akan main Tetris. Cool.</p>
<p>Saatnya membayar. Di kasir, kami gagal meminta diskon. Padahal Badu sudah menyamar menjadi fakir miskin dan anak terlantar yang dipelihara oleh negara. Lihat, celananya dekil, kaosnya robek-robek, tapi sialnya bermerk mahal. Tentu saja pihak toko nggak percaya. Hmm, Mbak Kasir cantik juga (potensial groupies awal?), tapi kok kayak judes dan pelit. Dan bener aja. Waktu nggak ada kembalian, kami dikasih permen. Bayangkan!</p>
<p>&#8220;Kembaliannya permen aja ya? <em>Sok atuh</em>, kalian masing-masing ambil 1 permen!&#8221;</p>
<p>Kami kesal bukan main. Enak aja kembalian tiga ratus perak diganti permen.  &#8220;Kenapa sih Mbak, kembaliannya mesti permen?&#8221;</p>
<p>Jujur aja, kejudesannya tadi sudah lumayan mengurangi kecantikannya. Apalagi setelah dia menjawab, &#8220;Karena kalian masih kecil, masih anak-anak. Jadi kembaliannya pakai permen…&#8221;</p>
<p><em>Oh man</em>, meski berwajah imut-imut, kami bukan anak-anak! Badu tampak kesal dan dari hidungnya keluar api, &#8220;JADI KALO KITA NTAR UDAH GEDE, KEMBALIANNYA PAKE BIR?!?!”</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p>Di jalan pulang, kami masih agak kesal dengan perlakuan toko yang aneh tadi. Tapi kami mencoba tetap fokus dengan cita-cita luhur kami semula: Menjadi Anak Band! Oh, cool. Di kepala kami tersusun lagi rencana-rencana awal: latihan di garasi, manggung di gig-gig indie, upload lagu kami di internet, dilirik produser idealis yang mumpuni, kontrak rekaman yang menggiurkan, masuk TV dan terkenal, jadwal manggung yang padat, dikerubutin cowok-cowok, eh cewek-cewek, dsb., dst., dll., etc&#8230;</p>
<p>Sayang seribu sayang, mimpi tinggal mimpi. Semuanya terpaksa kandas, bahkan sebelum kami mulai. Ini gara-gara satu musibah absurd yang menimpa kami. Di jalan pulang tadi, kami bertemu, ehmm&#8230; well, seekor naga.</p>
<p>Ya, ya, ya, saya tahu kalian pasti tidak akan percaya. Selama ini kami juga berpikir naga hanya hidup di cerita-cerita dongeng belaka. Tapi sekarang, kami melihatnya dengan mata kepala sendiri. Besar, sangat besar, dan nyata. <em>ASTAGA NAGA RAKSASA</em>!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/02/naganaganyadragon.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-595" title="naganaganyadragon!" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/02/naganaganyadragon.jpg" alt="" width="300" height="299" /></a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sebelum kami sempat berpikir mengambil langkah seribu, Sang Naga sudah terlanjur mendenguskan nafas api, membakar habis semua alat musik kami! Kami sangat marah, tapi terlebih lagi, sebenarnya, kami sangat takut. Dia lalu membuka mulutnya lebar-lebar, mau memakan kami! Tak sempat menjerit, kami bertiga saling berpelukan seperti finalis AFI yang dieliminasi, sambil berikrar sehidup semati. Naga itu pun menelan kami!</p>
<p>Di saat itulah kami mulai paham arti istilah &#8220;<em>mulut lu bau naga, bro</em>.&#8221; Apalagi kami belajar langsung di lapangan, langsung dari sumber yang paling terpercaya. Tak kuat menahan bau naga mulut Sang Naga, kami bertiga pun jatuh pingsan. Ketika siuman, kami baru menyadari sudah berada di dalam perut Sang Naga.</p>
<p>Sejak saat itu, kami harus menjalani sisa umur kami di sana. Sampai detik ini. Kami masih berpikir keras, bagaimana caranya bisa keluar dari  tempat ini. Mungkin dengan menuliskan cerita ini, sidang pembaca menjadi tergerak menolong kami. Kalian bisa mengirimkan saran-saran lewat surat pembaca, ke PO BOX N464. Kami tunggu ya. Terima kasih lho.</p>
<p style="text-align: right;">Salam,<br />
Budi, mewakili Bada dan Badu.</p>
<p><span style="font-size: 90%;"><span style="font-family: trebuchet ms;">*) Judul cerita ini diilhami dari judul film dokumenter <strong><em>Anak Naga Beranak Naga</em></strong> (2006), karya <a href="http://arianidarmawan.net"><strong>Ariani Darmawan</strong></a>. Tulisan ini pertama kali muncul di <a href="http://budibadabadu.blogspot.com/2006/05/anak-band-beranak-band.html" target="_blank"><strong>blog lama</strong></a> saya.</span></span></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/anak-band-beranak-band/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sepuluh Besar Sembilan Puluhan Menurut Saya</title>
		<link>http://budiwarsito.net/sepuluh-besar-sembilan-puluhan-menurut-saya/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/sepuluh-besar-sembilan-puluhan-menurut-saya/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Aug 2011 04:51:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=805</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;The grunge ended when everyone in Seattle discovered dry-cleaning.&#8221; &#8212; Mo Rocca Licorice Roots &#8211; Melodeon (Mood Food, 1997). Neutral Milk Hotel &#8211; In The Aeroplane Over The Sea (Domino, 1998). Bongwater &#8211; The Power Of Pussy (Shimmy Disc, 1990). Milk &#8211; Succeeding/Receding (Spanish Fly, 1994). Blur &#8211; Modern Life Is Rubbish (Food, 1993). The [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/08/Top90s-comp.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-804" title="Top90s-comp" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/08/Top90s-comp.jpg" alt="" width="448" height="336" /></a></p>
<p>&#8220;<em>The grunge ended when everyone in Seattle discovered dry-cleaning</em>.&#8221;<br />
&#8212; Mo Rocca</p>
<p><span id="more-805"></span></p>
<p><strong>Licorice Roots</strong> &#8211; <em>Melodeon</em> (Mood Food, 1997). <strong>Neutral Milk Hotel</strong> &#8211; <em>In The Aeroplane Over The Sea</em> (Domino, 1998). <strong>Bongwater</strong> &#8211; <em>The Power Of Pussy</em> (Shimmy Disc, 1990). <strong>Milk</strong> &#8211; <em>Succeeding/Receding</em> (Spanish Fly, 1994). <strong>Blur</strong> &#8211; <em>Modern Life Is Rubbish</em> (Food, 1993). <strong>The Jean-Paul Sartre Experience</strong> &#8211; <em>s/t compilation</em> (Flying Nun, 1995). <strong>Slint</strong> &#8211; <em>Spiderland</em> (Touch and Go, 1991). <strong>East River Pipe</strong> &#8211; <em>Shining Hours In A Can</em> (Merge, 1994). <strong>Scott Walker</strong> &#8211; <em>Tilt</em> (Mercury, 1995). <strong>Thomas Jefferson Slave Apartments</strong> &#8211; <em>Bait And Switch</em> (Onion, 1995).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/sepuluh-besar-sembilan-puluhan-menurut-saya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pada Mulanya adalah Stroszek</title>
		<link>http://budiwarsito.net/pada-mulanya-adalah-stroszek/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/pada-mulanya-adalah-stroszek/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Jul 2011 17:23:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[Musik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=725</guid>
		<description><![CDATA[he&#8217;s watching him watching stroszek. happy 55th birthday, ian! &#160;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/05/watchstrosz.jpg"><img class="size-full wp-image-726 aligncenter" title="watchstrosz!" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/05/watchstrosz.jpg" alt="" width="448" height="336" /></a><span style="font-size: 90%;"><span style="font-family: trebuchet ms;"><em></em>he&#8217;s watching him watching <a href="http://budiwarsito.net/stroszek/" target="_blank"><strong>stroszek</strong></a>.</span></span></p>
<p><span id="more-725"></span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #c0c0c0;">happy 55th birthday, ian!</span></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/pada-mulanya-adalah-stroszek/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Di Ruang Itu</title>
		<link>http://budiwarsito.net/di-ruang-itu/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/di-ruang-itu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Jun 2011 03:49:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Rupa-rupa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=750</guid>
		<description><![CDATA[. Bapak pernah sangat marah padaku, dan tak sengaja beliau menjatuhkan Kamus Besar Bahasa Indonesia yang luar biasa tebal dari rak buku, tepat mengenai luka yang belum kering di lutut kananku. Beberapa hari sebelumnya lutut kananku memang cedera parah, jatuh terpeleset dari pohon belimbing di halaman depan, akibat menaiki kursi dingklik bikinan Bapak yang tentu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/06/whenwewereyoung.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-752" title="whenwewereyoung" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/06/whenwewereyoung.jpg" alt="" width="336" height="352" /></a><span style="color: #ffffff;">.</span></p>
<p>Bapak pernah sangat marah padaku, dan tak sengaja beliau menjatuhkan Kamus Besar Bahasa Indonesia yang luar biasa tebal dari rak buku, tepat mengenai luka yang belum kering di lutut kananku. Beberapa hari sebelumnya lutut kananku memang cedera parah, jatuh terpeleset dari pohon belimbing di halaman depan, <span id="more-750"></span>akibat menaiki kursi dingklik bikinan Bapak yang tentu saja tidak sempurna sebab beliau memang bukan seorang tukang kayu. Luka itu kemudian terbuka lagi, tertimpa ratusan halaman kata-kata, dan darah segarnya mengucur. Merembes ke bawah, terus ke bawah, melewati betisku, menyelusup di antara jari kaki, berakhir membasahi lantai. Aku ingat bagaimana Bapak kemudian mengelap basah yang amis itu dan membungkus lututku dengan perban baru, merawatnya dengan obat-obatan. Bapak melakukannya dengan penuh rasa sesal, bercampur kasih sayang yang tersamar, dan muka keras yang murung. Beliau menangis. Aku, masih sangat kecil waktu itu, sibuk menggigiti bibirku, badanku gemetar menahan supaya tangis tak ikut pecah. Antara rasa pedih akibat luka itu, penglihatan atas raut wajahnya yang tua dan lelah, dan terutama pengetahuan bahwa hidup beliau memang tidak mudah. Aku mengerti.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p style="text-align: center;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/di-ruang-itu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>[Cerpen Favorit] Sahabat Saya Cordiaz</title>
		<link>http://budiwarsito.net/cerpen-favorit-sahabat-saya-cordiaz/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/cerpen-favorit-sahabat-saya-cordiaz/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Jun 2011 12:26:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=839</guid>
		<description><![CDATA[. (cerita pendek oleh Asrul Sani) Cerita ini mulai sebulan yang lalu, yaitu waktu saya memperoleh sebuah kamar baru. Kamar itu baik. Agak besar, cukup luas untuk tempat tidur dan rak-rak buku saya. Hawanya pun baik. Kalau hari siang ia amat panas dan kalau hari malam ia amat dingin. Sekiranya angin tidak ada, terbau bau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #ffffff;">.</span><br />
(cerita pendek oleh <strong>Asrul Sani</strong>)</p>
<p><a href="../wp-content/uploads/2011/06/cordiazrul.jpg"><img class="aligncenter" title="cordiazrul" src="../wp-content/uploads/2011/06/cordiazrul.jpg" alt="" width="403" height="302" /></a><br />
Cerita ini mulai sebulan yang lalu, yaitu waktu saya memperoleh sebuah kamar baru. Kamar itu baik. Agak besar, cukup luas untuk tempat tidur dan rak-rak buku saya. Hawanya pun baik. Kalau hari siang ia amat panas dan kalau hari malam ia amat dingin. Sekiranya angin tidak ada, terbau bau tengik yang mesti saya atasi dengan bau obat nyamuk. Selain dari itu, ada lagi tikus. Tikus-tikus ini berusaha untuk hidup dan untuk dapat beranak-bercucu. Jadi mereka tidak lebih dari kaum proletar. Saya juga seorang proletar. Dan karena proletar seluruh dunia harus bersatu, maka akan dapatlah kami sekiranya hidup rukun dalam kamar itu. Tetapi kawan-kawan serikat saya ini, suka berpesta. Kalau kegembiraan mereka sudah naik marak, maka dimakannya buku-buku saya. Sehingga tak mengherankan, jika saya pagi-pagi harus menemui de Maupassant tak berkepala atau Dos Passos tak berpunggung.<span id="more-839"></span></p>
<p>Suatu hari datang seorang anak muda bersepatu putih, bertopi hitam, bajunya belang-belang dan ia memperkenalkan diri kepada saya sebagai: C. Darla. Ia tidak mengatakan apakah ia seorang Indo-Spanyol, atau Manila ataupun orang Indonesia yang berasal dari pulau Enggano (saya mendengar kabar, bahwa orang-orang Enggano masih memakai nama-nama Spanyol). Ia beroleh kamar yang letaknya lebih dekat ke kamar mandi. Bahasa Indonesianya langgam-langgam Singapura bercampur bahasa Inggeris sedikit-sedikit. Demikian ia bercerita tentang &#8220;British nébi yang léndid di Singapure.&#8221; Saya tertarik kepadanya, karena ia pandai berbicara tentang macam-macam pengalaman yan didapatnya di Singapura. Tentang bajingan-bajingan, &#8220;geng&#8221; katanya, tentang kaum komunis dan sebagainya. Waktu ia menyusun buku-bukunya, diberikannya buku &#8220;Atlantic Charter&#8221; kepada saya. Saya makin kagum. Tetapi kemudian hari dikatakannya, bahwa buku roman yang sebagus-bagusnya, ialah buku &#8220;Elang Mas&#8221; karangan Jusuf Sou&#8217;yb. Segera hilang kagum saya. Sungguhpun demikian kami tetap bersahabat.</p>
<p>Pergaulan kami amat rapat, sehingga banyaklah yang berkecil-kecil yang diceritakannya kepada saya. Ia menceritakan, bahwa ia mempunyai darah Spanyol, tetapi ia telah lama tinggal di Indonesia. Sebelum ia datang ke mari, ia berdiam di Singapura. Kedatangannya ke Jakarta membawa kisah sedih. Ia harus meninggalkan kekasihnya seorang gadis Pilipina di Singapura. Sesudah menceritakan itu ia mengetik ucapan-ucapan pernyataan-cinta dalam bahasa Inggeris yang tunggang-balik, lalu ditinggalkan di kamar saya. Tentang pekerjaannya ia tidak pernah berbicara. Hanya ia berangkat pukul 9 dari rumah dan pukul 1 telah ada pula. Tetapi rupanya pekerjaannya amat banyak, sehingga setiap sore ia meminjam mesin ketik, lalu mengetik terus-menerus. Sesudah itu lalu dibakarnya segala kertas yang diketiknya tadi. Lalu ia bersungut-sungut. Kemudian ia datang kepada saya untuk mengatakan, bahwa mesin ketik saya kurang &#8220;enak&#8221;. Kalau boleh ia hendak membawanya ke bengkel supaya diminyaki. Ini saya izinkan. Lalu ia hendak membelikan saya pita mesin ketik yang berwarna merah-hitam. Itupun saya setujui dengan hati yang tulus-ikhlas. Demikian ia melakukan perbuatan-perbuatan yang ganjil-ganjil dan yang penuh simbolik, sehingga menarik perhatian segala isi rumah. Ia menjadi pusat perhatian. Entah memang itu maksudnya, saya tidak tahu. Tetapi ia berhasil benar, sehingga tiada lagi orang yang menghiraukan keluhan-keluhan saya setiap pagi tentang pengarang anu yang kehilangan kepala atau yang kehabisan punggung ataupun yang pecah-pecah kulit. Demikian saya tinggal dengan teman-teman serikat saya yang menjadi musuh saya dan saya C. Darla yang mengalahkan saya.</p>
<p>Pernah Darla bertanya tentang cinta kepada saya, dan apakah telah banyak pengalaman saya tentang hal ini. Rupanya sangat tertarik benar hatinya akan pokok percakapan ini, sehingga kadang-kadang samoai sekerat malam kami bercakap-cakap. Katanya, ia masih muda, masih ingin melihat dunia dan belum mau kawin. Tetapi ia sekarang sedang tersangkut pada suatu perkara yang sulit. Perkara itu, ialah perkara kasih-sayang juga.</p>
<p>Sekali ia pulang membawa sebuah gelang rantai perak, seperti yang biasa saya lihat dipakai oleh serdadu-serdadu India atau Australia. Gelang itu diperlihatkannya kepada saya. Di sana tertulis: Cordiaz Darla. Jadi sahabat saya itu ialah: Cordiaz. Bukan nama Indonesia. Saya tidak tahu berbahasa Spanyol, tetapi kalau mendengar-dengar bunyinya, ada juga mengarah-arah sedikit. Sama enak kedengarannya, seperti perkataan Ortega dalam buku Ortega y Gasset dan perkataan Fernando dalam nama Fernando Poe. Percakapan kami malam itu dimulainya dengan ketawa besar. Sesudah itu ia berbicara tentan Arni. Saya tidak kenal Arni. Katanya, Arni, ialah &#8220;bekas&#8221; kekasihnya, dan sekarang gadis itu sudah kurus kering, karena ia tidak pernah datang lagi ke rumahnya. &#8220;Tidak ada orang yang dapat menggantikan saya,&#8221; katanya. &#8220;Huh!! Awak kire awak punya negeri! Ayahnya mesti datang kepada saya, minta ampun, baru saya datang ke sana. Ia mesti mendapat ajaran sedikit.&#8221;</p>
<p>&#8220;Jadi, menang lagi?&#8221; tanya saya.</p>
<p>&#8220;Siapa bilang kalah,&#8221; katanya.</p>
<p>Saya ikut tertawa karena sahabat saya menang. Tapi, Arni panjang umurnya di rumah kami, karena sahabat saya itu, mempercakapkan Arni saja kerjanya. &#8220;Ia tidak dapat bercerai dengan saya. Hatinya hancur luluh,&#8221; katanya. &#8220;Semua salah bapaknya. Sekarang anaknya makan hati.&#8221; Ia makin hari makin tidak senang diam. Surat-surat yang diketiknya makin lama makin banyak. Tetapi sebanyak itu yang diketiknya, sebanyak itu pula yang dibakarnya. Kalau ia tidak menyeterika celananya, ia mengetik, kalau ia tidak mengetik, ia ke luar rumah. Perginya terburu-buru. Tetapi secepat itu perginya, selekas itu pula kembalinya. Kalau sedang makan ia bercerita tentang saya-kasihan-sama-Arni.</p>
<p>Suatu malam ia pulang bergegas-gegas. Terus ke kamar saya.</p>
<p>&#8220;Ia mencari dukun,&#8221; katanya. &#8220;Saya mau diberi guna-guna. Bangsat! Saya juga ada dukun.&#8221;</p>
<p>Entah dari mana ia mendapat kemauan untuk pergi kepada dukun, entah dari ibunya, entah dari neneknya orang Spanyol, saya tidak tahu. Pendeknya&#8212;ia pergi kepada dukun. Sore-sore itu ia mengirim surat dan suatu bungkusan kepada Arni. Surat dan bungkusan itu kembali malam itu juga. Sesudah menerima itu, rupanya runtuh segala pasak-pasak tubuhnya. Dengan terbungkuk-bungkuk ia masuk ke kamarnya, lalu dikuncinya pintu erat-erat. Esok harinya, waktu saya kembali dari berjalan-jalan, saya lihat kopornya tidak ada lagi. Di atas meja saya ada surat. Di dalamnya tertulis: &#8220;Saya tidak tahan lagi tinggal di sini. Rumah ini terlampau ribut buat saya.&#8221; Kasihan! Rupanya banyak juga tikus-tikus dalam kamarnya. Dan kawan-kawan serikat saya ini rupanya bertindak sebagai kaum kapitalis, sehingga sahabat saya yang sama proletarnya dengan saya, tidak dapat bersatu dengan mereka&#8212;lalu pergi.</p>
<p>Sangka saya selesailah riwayat Cordiaz Darla. Tetapi minggu yang lampau saya mendengar kabar, bahwa ia telah kawin dengan seorang janda yang beranak lima. Saya pergi ke rumahnya. Agak merumuk ia sedikit waktu saya temui. Saya tanyakan bagaimana mereka kawin. &#8220;Bagaimana orang Indonesia kawin,&#8221; kata istrinya. Perempuan ini peramah betul dan ia lebih berpengalaman dari Darla, sehingga tak dibiarkannya Darla banyak cakap. Ia memperlihatkan surat kawin mereka kepada saya. Saya baca di sana nama: Chaidir Darla, jadi huruf C itu tidak berarti Cordiaz. Namanya memang Chaidir, karena istrinya memanggil, &#8220;Dir, Dir!&#8221; Jadi ia bukan orang Spanyol atau Pilipina. Waktu saya mau pergi saya katakan kepada Darla, bahwa saya ikut berbesar hati. Saya berjanji akan mendoa-doakan supaya mereka lebih banyak mendapat anak. &#8220;Ingat,&#8221; kata saya, &#8220;Orang tua-tua bilang: banyak anak, banyak padi!&#8221; Istrinya tersenyum berseri-seri.</p>
<p>Dua hari yang lalu saya menerima surat dari Darla. Dalam surat itu tertulis: &#8220;Saya tidak tahan lagi tinggal di sini. Tolonglah saya!&#8221;</p>
<p>Saya maklum sudah. Bagaimana ia akan tahan, kalau hatinya keras untuk jadi orang Spanyol atau orang Pilipina, sedang orang menganggap dia orang Indonesia. Lagi pula apalah salahnya. Bangsa saya banyak sudah yang menjadi orang Belanda, mengapa pula tidak akan diberi kesempatan kepadanya untuk menjadi orang Spanyol. Orang Indonesia belum banyak yang jadi orang Spanyol. Sebab itu saya kirimkan uang 50 rupiah dan saya tulis pada surat pengantarnya: &#8220;Untuk ongkos menjadi orang Spanyol.&#8221; Surat ini tidak berbalas. Menurut kira-kira saya sudah berhasil kehendaknya.</p>
<p>Tapi tadi pagi, saya lewat bersepeda di depan rumah Darla. Kebetulan saya bertemu dengan bujang perempuannya, lalu saya tanyakan kalau-kalau ia tahu tentang amplop berisi uang yang saya kirimkan.</p>
<p>&#8220;Ya, saya sendiri yang kasih sama nyonya,&#8221; jawabnya.</p>
<p>&#8220;Sama nyonya? Jadi&#8230;?&#8221;</p>
<p>&#8220;Nyonya terus beli kebaya baru.&#8221;</p>
<p>&#8220;O, bagus, bagus.&#8221; (Hati saya berkata, celaka tiga belas).</p>
<p>&#8220;Tuan sekarang di mana?&#8221;</p>
<p>&#8220;Katanya, kerja di bagian distribusi. Masuk dulu tuan!&#8221;</p>
<p>&#8220;Ndak, ndak. Lain kali saja.&#8221;</p>
<p>Saya pergi.</p>
<p>Ah, kandas. Tragis betul. Belum juga rupanya sampai cita-cita Darla untuk bernama: Cordiaz Darla. Tetapi tidak apa, siapa tahu ia besok menjadi orang Jerman atau orang Amerika.</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p><span style="font-size: 90%;"><span style="font-family: trebuchet ms;">Diketik ulang dari buku kumpulan cerita pendek Asrul Sani, <em><strong>Dari Suatu Masa Dari Suatu Tempat</strong></em> (Pustaka Jaya, cetakan pertama 1972). Asrul Sani juga menulis beberapa naskah film Indonesia yang kemudian menjadi klasik. Salah satu di antaranya adalah, yang juga dia sutradarai, film Indonesia dengan judul paling magis sepanjang sejarah perfilman nasional: <em>Apa jang Kau Tjari, Palupi</em>? (1969).</span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/cerpen-favorit-sahabat-saya-cordiaz/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Janji? #1</title>
		<link>http://budiwarsito.net/janji-1/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/janji-1/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 May 2011 03:10:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=720</guid>
		<description><![CDATA[Hmm, lucu juga idenya. 10 Penyanyi Perempuan Terfavorit? Baiklah, daftarnya diubah sedikiiit menjadi: [01] Rebecca Schiffman [02] Sibylle Baier [03] Josephine Foster [04] Wheatie Mattiasich [05] Soelih Soejatno [06] Ann Magnuson (of Bongwater) [07] Fursaxa [08] soap&#38;skin [09] Sharon Van Etten [10] Freya Hollick [11] Jeri Rossi (of Your Funeral) [12] Ana da Silva &#38; [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/05/SS.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-721" title="SS" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/05/SS.jpg" alt="" width="401" height="146" /></a></p>
<p>Hmm, lucu juga idenya. <em>10 Penyanyi Perempuan Terfavorit</em>?<em> </em>Baiklah, daftarnya diubah sedikiiit menjadi:<span id="more-720"></span></p>
<p>[01] Rebecca Schiffman<br />
[02] Sibylle Baier<br />
[03] Josephine Foster<br />
[04] Wheatie Mattiasich<br />
[05] Soelih Soejatno<br />
[06] Ann Magnuson (of Bongwater)<br />
[07] Fursaxa<br />
[08] soap&amp;skin<br />
[09] Sharon Van Etten<br />
[10] Freya Hollick<br />
[11] Jeri Rossi (of Your Funeral)<br />
[12] Ana da Silva &amp; Gina Birch (of The Raincoats)</p>
<p>Dan ya, tetep kelebihan dua! Kapan-kapan ditulisnya. Semoga ini bisa lebih dari sekadar janji-janji tukang jahit.</p>
<p><a href="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/05/SS1.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-739" title="SS!" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/05/SS1.jpg" alt="" width="448" height="336" /></a></p>
<p>[MP3]<br />
<a href="http://www.mediafire.com/?a0w6ru4yveus7f4" target="_blank"><strong>Soelih Soejatno &#8211; &#8220;Nyanyian Musafir&#8221;</strong></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/janji-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Super Funky Animals</title>
		<link>http://budiwarsito.net/super-funky-animals/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/super-funky-animals/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Feb 2011 19:11:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Rupa-rupa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=566</guid>
		<description><![CDATA[FADE IN. EXT. Poskamling Desa Sukarmaju &#8211; DAY Seperti biasa, Pak Ogah dan Pak Ableh selalu menyempatkan diri mengobrol di sela-sela kesibukan mereka yang padat (bo&#8217;ong banget). Dalam sebuah hubungan, komunikasi itu penting, demikian kata mereka. OGAH Bleh, lu tau nggak, ada binatang yang cuma terdiri dari satu huruf? ABLEH Ah, mana mungkin. Ada gitu? [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><a href="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/01/Ogah-Ableh.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-569" title="Ogah-Ableh" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/01/Ogah-Ableh-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" /></a></p>
<p style="text-align: left;"><strong>FADE IN.</strong></p>
<p><strong>EXT. Poskamling Desa Sukarmaju &#8211; DAY</strong></p>
<p>Seperti biasa, Pak Ogah dan Pak Ableh selalu menyempatkan diri mengobrol di sela-sela kesibukan mereka yang padat (<em>bo&#8217;ong banget</em>). Dalam sebuah hubungan, komunikasi itu penting, demikian kata mereka.</p>
<p style="text-align: center;">OGAH<br />
Bleh, lu tau nggak, ada binatang yang cuma terdiri dari satu huruf?</p>
<p style="text-align: center;">ABLEH<br />
Ah, mana mungkin. Ada gitu?</p>
<p style="text-align: center;">OGAH<br />
Ada dong. Gajah.</p>
<p style="text-align: center;">ABLEH<br />
Gajah? Kok bisa?</p>
<p><span id="more-566"></span></p>
<p style="text-align: center;">OGAH<br />
‘G’ ajah gituuuh…</p>
<p style="text-align: left;">2 menit kemudian.</p>
<p style="text-align: center;">OGAH<br />
Kalo yang dua huruf, lu tau nggak?</p>
<p style="text-align: center;">ABLEH<br />
Buset. Apa lagi nih?<br />
(<em>jeda, mikir</em>)<br />
Nyerah deh.</p>
<p style="text-align: center;">OGAH<br />
Udang!<br />
(<em>jeda, semangat</em>)<br />
Lu nanya dong, &#8216;Kok bisa&#8217;?</p>
<p style="text-align: center;">ABLEH<br />
Okay. Kok bisa?</p>
<p style="text-align: center;">OGAH<br />
Udang. ‘U’ dan ‘G’. Hihihi.</p>
<p style="text-align: left;">1 menit kemudian.</p>
<p style="text-align: center;">OGAH<br />
Eh, eh, ada lagi! Kalo 3 huruf?</p>
<p style="text-align: center;">ABLEH<br />
(<em>menguap</em>)</p>
<p style="text-align: center;">OGAH<br />
Tau nggaaak?</p>
<p style="text-align: center;">ABLEH<br />
(<em>menguap lagi</em>)<br />
Ogah aaaah…</p>
<p style="text-align: center;">OGAH<br />
Ah, belum juga nyoba… Lagian itu kan line gue!</p>
<p style="text-align: center;">ABLEH<br />
(<em>menguap besar sekali</em>)<br />
Nyerah deh. Apaan?</p>
<p style="text-align: center;">OGAH<br />
Beo, hiu, asu… Hahaha.</p>
<p style="text-align: center;">ABLEH<br />
(<em>tidur</em>)</p>
<p style="text-align: left;">Mereka pun melanjutkan tidur siang sambil berpelukan. Mesra sekali.</p>
<p><strong>FADE OUT.</strong></p>
<p style="text-align: right;"><strong>THE END.</strong></p>
<p style="text-align: left;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/super-funky-animals/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Binatang-binatang di Kepala Syd</title>
		<link>http://budiwarsito.net/binatang-binatang-di-kepala-syd/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/binatang-binatang-di-kepala-syd/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Nov 2010 12:03:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=1</guid>
		<description><![CDATA[. An effervescing elephant with tiny eyes, and great big trunk once whispered to the tiny ears the ears of one inferior that by next June he&#8217;d die, oh yeah! because the tiger would roam and the little one said oh my goodness I must stay at home and everytime I hear a growl I&#8217;ll [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-264" title="Syd" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2008/06/Syd.jpg" alt="Syd" width="431" height="289" /></p>
<p><em><span style="color: #ffffff;">.</span><br />
An effervescing elephant<br />
with tiny eyes, and great big trunk<br />
once whispered to the tiny ears<br />
the ears of one inferior<br />
that by next June he&#8217;d die, oh yeah!<br />
because the tiger would roam<br />
and the little one said oh my goodness I must stay at home<br />
and everytime I hear a growl<br />
I&#8217;ll know the tiger&#8217;s on the prowl<br />
and I&#8217;ll be really safe you know<br />
The elephant he told me so<br />
And everyone was nervy, oh yeah!<br />
and the message was spread<br />
to zebra, mongoose, and the dirty hippopotamus<br />
who wallowed in the mud and chewed<br />
his spicy hippoplankton food<br />
and tended to ignore the word<br />
prefering to survey a herd<br />
of stupid water bison, oh yeah!<br />
and the jungle took fright<br />
and ran around for all the day and the night<br />
but all in vain because you see<br />
the tiger came and said to me,<br />
&#8220;You know I wouldn&#8217;t hurt not one of you<br />
I much prefer something to chew<br />
you&#8217;re all too scant, oh yeah!&#8221;<br />
He ate the elephant&#8230;<br />
</em>&#8212;lagu &#8220;Effervescing Elephant&#8221;, Syd Barrett, album <em>Barrett</em> (1970).</p>
<p>Saya tak begitu ingat apa saja yang saya lakukan di usia 16 tahun. Itu sudah bertahun-tahun silam. Mungkin membolak-balik majalah HAI, karena masih ada cerbung bubin LantanG di sana, dan saya suka. Mungkin sedang berusaha (terlalu) keras menyatakan cinta monyet pertama saya, deg-degan dan malu-malu. Oh, atau mungkin sedang terlalu antusias (antara senang sekaligus cemas) karena pergi dari rumah dan mulai hidup terpisah dari orang tua. Dan saya mulai menulis. Puisi-puisi norak, cerpen-cerpen yang tak pernah selesai, atau sekadar kata-kata patah hati yang tak tersampaikan. Saya menulis apapun, selain lagu. Ya, selain lagu. Sementara Syd Barrett, sudah menulis lagu sejak usia 16 tahun. Dan dia jenius. <span id="more-1"></span></p>
<p>Tentu saja lancang dan tolol sekali membandingkan diri saya dengan dia. Saya bukan otak kreatif awal Pink Floyd untuk kemudian dipecat dari sana (bahkan saya tidak pernah punya band, karena saya tak bisa bermain instrumen apapun selain seruling, dan itu pun hanya satu lagu, &#8220;Ibu Kita Kartini&#8221;!), saya bukan seorang Capricorn, saya tidak mengonsumsi LSD tiga sampai empat kali sehari, dan saya tak pernah secara resmi dinyatakan gila. Setidaknya psikiater saya belum sampai hati mengatakannya.</p>
<p>Untuk pertama kalinya dalam hidup saya, secara tak sengaja saya mendengar satu lagu Syd Barrett di sebuah toko musik, pada sebuah musim dingin di pinggiran Seoul. Dan kebetulan umur saya juga 16 tahun waktu itu. Ada perasaan merinding yang janggal, murung sekaligus senang, rasa penasaran menjalari kepala saya, atau kombinasi yang aneh dari semua itu. Sesuatu yang misterius. Semacam perasaan yang sukar dijelaskan. Sejak saat itu saya resmi menjadi penggemar.</p>
<p>Lagu itu adalah &#8220;Effervescing Elephant&#8221;. Sebagai <em>closing track</em> dari album solo keduanya (yang kemudian menjadi album terakhirnya), itu justru termasuk lagu paling awal yang pernah Syd tulis, ketika masih berumur 16 tahun. Tentu saja ini bukan komposisi terbaiknya, tapi lagu tersebut sangat berarti bagi saya. Dinyanyikan hanya dengan iringan gitar kopong, nada lagu ini terdengar riang sekaligus ganjil, sepintas seperti progresi lagu mars untuk anak-anak. Liriknya pun terkesan kekanak-kanakan, meski sebenarnya tidak. Dia memang bercerita soal binatang, sejenis fabel. Namun fabel macam apa, dengan pesan jenis apa, yang keluar dari kepala seorang jenius gila seperti Syd?</p>
<p>Sedikit berbeda dari kebanyakan lirik Syd lainnya yang rumit dan sulit dimengerti, &#8220;Effervescing Elephant&#8221; sebenarnya cukup mudah. Dan tumben struktur dramatiknya jelas. Seperti ada logika bertutur yang dipatuhi, semacam pola Struktur Tiga Babak. Pertama, Perkenalan Karakter dan Masalah. Tersebutlah seekor Gajah, (perhatikan deskripsinya yang teliti &#8220;<em>…with tiny eyes and great big trunk…</em>&#8220;) sedang menyampaikan kekhawatiran tentang kehidupan hutan yang ganas, kepada rekannya sesama gajah yang lebih junior. Hukum rimba berlaku mutlak: siapa kuat, dia bertahan. Dan itu selalu berarti soal siapa memangsa siapa. Dan Harimau, tentu saja, adalah ancaman besar bagi mereka. Gajah Kecil jelas ketakutan, &#8220;<em>…oh my goodness I must stay at home</em>!&#8221;, tapi lagi-lagi, rumah macam apa, di tengah hutan, yang sanggup melindungi binatang dari kejamnya predator alam bebas?</p>
<p>Masuklah babak kedua, Intensifikasi Masalah. Maka ketika Harimau datang, seisi hutan pun tegang. &#8220;<em>…and everytime I hear a growl, I&#8217;ll know the tiger&#8217;s on the prowl.</em>&#8221; Saya membayangkan sesosok loreng dengan otot-otot kaki yang ramping dan lentur, berjalan melenggang. Ya, hanya melenggang. Itu pun sudah cukup membuat sekumpulan binatang resah bukan main, dan mau tak mau mereka harus tetap bergerombol jika ingin selamat dari terkaman sang pemangsa (apakah Syd sedang menyindir konsep agung &#8220;manusia adalah makhluk sosial&#8221; sekaligus <em>homo homini lupus</em>?). Sederetan nama binatang Syd sebutkan, mulai dari Zebra, Mongoose, hingga Kuda Nil pemalas yang gemar berkubang dan mengunyah &#8220;<em>his spicy hippoplankton food</em>&#8220;. Diksi yang amat jeli. Bahkan Greg Graffin, vokalis Bad Religion yang juga profesor biologi di UCLA, rasanya tidak akan pernah terpikir memakai kata &#8216;<em>hippoplankton</em>&#8216; untuk sebuah lirik lagu.</p>
<p>Syd terus menggenjreng gitarnya, bernyanyi dengan suara tak stabil: seperti terlalu rendah saat mengambil nada awal, lalu <em>falsetto</em> di beberapa bagian, untuk kemudian nyaris tercekik kehabisan nafas di bagian lain. Dan tibalah penghujung cerita, Penyelesaian Masalah. &#8220;<em>…and the jungle took fright/ and ran around for all the day and the night</em>.&#8221; Siapa akhirnya yang menjadi santapan Harimau? Kepada siapa Nasib Buruk akan ditimpakan oleh Sang Penguasa? Ketakutan seluruh penghuni rimba sempat terhapus oleh Sabda Raja Hutan: &#8220;<em>You know, I wouldn&#8217;t hurt one of you.</em>&#8221; (Yeah, seperti dalam hidup, harapan seringkali muncul, bukan?) Tapi tunggu dulu, &#8220;<em>I&#8217;d much prefer something to chew</em>.&#8221; (Oh sial, harapan palsu, mulai dibanting.) Pada akhirnya, well, baca saja sendiri kalimat terakhir lirik di atas, ada baiknya setelah Anda selesai mengunduh lagu tersebut di Limewire.</p>
<p>Setiap lagu itu selesai diputar, saya selalu diam termenung. Syd menyisakan 15 detik di akhir lagu hanya dengan suasana sepi, hanya ada suara jengkerik di gelapnya malam, dan sayup-sayup terdengar dari kejauhan, lolongan binatang kesakitan. Saya curiga Syd tak sekadar membicarakan binatang semata-mata. Dia sedang membahas sesuatu yang lebih besar, hal-hal yang tak pernah selesai, lebih subtil, hal-hal yang susah dijelaskan. Pada titik tertentu dalam hidup, seberapa percaya Anda terhadap Takdir (dengan &#8216;T&#8217; besar), berikut segala usaha mengakalinya? Dan hebatnya, segala narasi itu dikemas Syd secara ringkas hanya dalam durasi lagu 1 menit 52 detik. Segala ironi dan kesia-siaan bertahan itu. Nada datar, progesi tak terduga, tanpa <em>reffrain</em>, 173 kata yang padat berisi, dan setiap bait hanya dinyanyikan sekali.</p>
<p>Entah kenapa kalimat terakhir lagu itu selalu mengingatkan saya pada baris puisi Chairil Anwar yang terkenal, &#8220;<em>sekali berarti sudah itu mati</em>&#8220;. Bisa jadi hidup yang sialan ini memang seperti itu: dia hanya sekali, dan tak lebih dari sekumpulan ironi atas hal-hal percuma. Mungkin tak masuk akal, tapi saya menangkap ada kemiripan di situ: keduanya sama-sama berusaha tetap optimis dari awal, meski sekaligus tahu betul betapa semuanya akan selalu berakhir tragis. Seberapa jauh kita sanggup menyiasatinya, untuk kemudian tetap tunduk takluk tak berdaya? Logika ironi selalu diramu dari bahan-bahan menyebalkan seperti itu. Chairil berharap panjang umur (&#8220;<em>aku mau hidup seribu tahun lagi</em>&#8220;), tapi toh penyakit TBC menghentikannya di angka 27. Sementara di lagu &#8220;Dark Globe&#8221;, komposisi terbaiknya menurut saya, Syd menyanyi dengan tenggorokan sedih luar biasa, &#8220;<em>Won&#8217;t you miss me?/ Wouldn&#8217;t you miss me at all?</em>&#8221; Dan kita tahu, karir musiknya yang brilian terpaksa terhenti di rentang waktu sangat pendek, setelah dinyatakan sebagai &#8216;<em>an incurable mad man</em>&#8216; oleh dokter jiwa, untuk kemudian menghabiskan sisa hidupnya sebagai orang gila (dalam arti harfiah) dan tinggal di rumah ibunya hingga akhir hayatnya. Sering terlintas di benak saya, apa jadinya jika Chairil dan Syd, yang sama-sama tertarik tema kesepian transendental, hidup di zaman sama dan berkolaborasi? Seperti apa Chairil (dia penerjemah andal) mengalihbahasakan lirik lagu Syd &#8220;<em>when I was alone/ you promised the stone from your heart</em>&#8220;? Dengan nada minor macam apa Syd menyanyikan baris puisi Chairil &#8220;<em>aku ini binatang jalang/ dari kumpulannya terbuang</em>&#8220;?</p>
<p>Ya, saya selalu kagum pada mereka yang demikian fasih perihal binatang-binatang sebagai metafor. Selain lagu di atas, beragam satwa bertebaran di karya-karya Syd Barrett, mulai dari Angsa, Burung, Serigala, hingga Cumi-cumi. Bahkan di salah satu sampul albumnya, tergambar bermacam-macam Serangga. Sementara satu-satunya hal yang pernah saya lakukan soal binatang, hanyalah sebaris puisi tolol berikut ini, yang tak mungkin hinggap di kepala Chairil Anwar, saya tulis di usia 7 tahun: &#8220;<em>Once I had a cat. Now he’s dead</em>.&#8221; Well, setidaknya itu berima.</p>
<p style="text-align: right;">[<strong>Budibadabadu</strong>]</p>
<p>[<strong>MP3</strong>]<br />
<a href="http://www.mediafire.com/?2ymaewitwgk" target="_blank"><strong>Syd Barrett &#8211; Effervescing Elephant</strong></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/binatang-binatang-di-kepala-syd/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Superman, The Ordinary Man</title>
		<link>http://budiwarsito.net/superman-the-ordinary-man/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/superman-the-ordinary-man/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 10 Oct 2010 00:23:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=65</guid>
		<description><![CDATA[. &#8220;A lot of people ask me when I do a stunt, &#8216;Jackie, are you scared?&#8217; Of course I&#8217;m scared. I&#8217;m not Superman.&#8221; &#8212;Jackie Chan Christopher Reeve, pemeran legendaris Superman, duduk terpaku di kursi rodanya. Sebuah kecelakaan pada tahun 1995—dia jatuh terlempar saat menunggang kuda—menghancurkan saraf-saraf tulang belakangnya, membuatnya lumpuh dari leher sampai ujung kaki. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #ffffff;"> </span></p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-460" title="reevechair" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2009/10/reevechair.jpg" alt="reevechair" width="448" height="325" /></p>
<p><span style="color: #ffffff;">.</span><br />
&#8220;<em>A lot of people ask me when I do a stunt, &#8216;Jackie, are you scared?&#8217; Of course I&#8217;m scared. I&#8217;m not Superman</em>.&#8221;<br />
&#8212;Jackie Chan</p>
<p>Christopher Reeve, pemeran legendaris Superman, duduk terpaku di kursi rodanya. Sebuah kecelakaan pada tahun 1995—dia jatuh terlempar saat menunggang kuda—menghancurkan saraf-saraf tulang belakangnya, membuatnya lumpuh dari leher sampai ujung kaki. Hampir sekujur tubuhnya mati rasa. Para penggemar Superman yakin Reeve akan segera pulih. &#8220;<em>He&#8217;s Superman, isn&#8217;t he</em>?&#8221; Tapi kenyataan berkata lain. Tujuh tahun berlalu, dan Reeve masih belum beranjak dari kursi rodanya. Di luar layar, Reeve hanyalah manusia biasa, bukan manusia super.<span id="more-65"></span></p>
<p>Superman hanya hidup di dunia rekaan manusia. Kita kenal tokoh komik populer ini: datang dari planet Krypton, berjubah merah, berkostum ketat warna biru, dengan lambang &#8216;S&#8217; warna merah kuning di dadanya. Dia tampan dan atletis. Dan kemampuannya bikin kita takjub: dia terbang melawan gravitasi, badan kebal peluru, penglihatan tembus-pandang, telinga super-tajam, gerakan super-cepat dan segudang kemampuan super lainnya. Dengan kekuatannya itu, Superman mengalahkan musuh-musuhnya, menyelamatkan dunia dari ancaman para penjahat, membantu memadamkan kebakaran, membendung tanggul kota yang hancur, menegakkan Menara Miring Pisa, atau sekadar menyelamatkan kucing tetangga. Pendek kata, Superman adalah jagoan super yang baik hati. Dan sehari-harinya, Superman &#8220;menyamar&#8221; sebagai Clark Kent, wartawan kikuk berkacamata, yang menaruh hati pada Lois Lane, rekan kerjanya di suratkabar <em>Daily Planet</em> di kota Metropolis.</p>
<p>Jerry Siegel dan Joe Shuster menciptakan tokoh superhero ini sekitar tahun 1930-an. Muncul pertama kali di <em>Action Comics #1</em> yang terbit Juni 1938, Superman langsung merebut hati para penggemar. Sebelumnya, pembaca komik hanya disuguhi jagoan-jagoan semacam Tarzan dan Dick Tracy, yang semuanya memiliki banyak keterbatasan. Sementara Superman benar-benar memfasilitasi fantasi tergila manusia tentang seorang superhero ideal: seorang jagoan yang super-segalanya, nyaris tanpa kelemahan. Bahkan, nama Clark Kent diambil dari nama aktor ganteng kenamaan saat itu, Clark Gable, yang kemudian melegenda lewat film klasik <em>Gone With The Wind</em> (1939). Sukses komik Superman dilanjutkan dengan membuatnya &#8216;bergerak&#8217;. Film kartunnya muncul pada tahun 1941, sepanjang 17 episode garapan Fleischer Studios. Pada tahun 1947 film serialnya diproduksi, dengan aktor Kirk Alyn berperan sebagai Superman/Clark Kent, dan diteruskan oleh George Reeves di tahun 1950-an.</p>
<p>Kesuksesan film <em>Star Wars</em> (Geoge Lucas, 1977) dan <em>Close Encounters of the Third Kind</em> (Steven Spielberg, 1977) seolah membuka jalan untuk film-film fantasi layar lebar dengan efek visual memukau. Begitu juga dengan film <em>Superman: The Movie</em>, garapan sutradara Richard Donner yang dirilis pada tahun 1978, dengan Christopher Reeve sebagai pemeran utamanya. Efek visual &#8220;manusia terbang&#8221; di film ini sudah cukup halus, seolah-olah hendak membuktikan <em>tagline</em>-nya yang terkenal: &#8220;You&#8217;ll Believe a Man Can Fly!&#8221;. Film yang ceritanya ditulis oleh Mario Puzo (penulis <em>The Godfather</em>) ini meraup sukses besar, sehingga dibuat sekuelnya. Semuanya dibintangi oleh Christopher Reeve: <em>Superman II</em> (Richard Lester, 1980), <em>Superman III </em>(Richard Lester, 1983), dan <em>Superman IV: The Quest For Peace</em> (Sidney J. Furie, 1987). Setelah itu, ikon Superman seolah melekat pada diri Christopher Reeve, seperti halnya Boris Karloff adalah &#8220;standar klasik&#8221; untuk monster ciptaan Frankenstein.</p>
<p>Film yang diangkat dari komik superhero sudah dipastikan memiliki calon penontonnya sendiri, yaitu para penggemar fanatik komiknya. Mereka datang untuk menonton jagoannya &#8220;bergerak&#8221;. Sisanya adalah penonton biasa yang mungkin penasaran, yang pergi menonton karena <em>comic-book movie</em> biasanya menawarkan adegan visual dengan <em>special-effect</em> yang menarik. Mereka membeli tiket bioskop untuk sebuah tontonan penuh aksi, tentang serunya pertarungan sang jagoan melawan penjahat. Plus sedikit bumbu-bumbu percintaan, juga komedi—karena jagoan yang baik biasanya digambarkan memiliki selera humor yang cukup bagus. Dan jangan lupa: pameran kecanggihan teknologi <em>setting</em> dan kostum yang fantastis. Ditemani renyahnya <em>popcorn</em> dan sejuknya soda, penonton rela menonton sebuah bangunan cerita dengan premis sederhana: <em>good vs. evil</em>. Bahkan mereka pun tak keberatan mengakhiri &#8220;petualangannya&#8221; dengan <em>ending</em> film yang sebetulnya sangat gampang ditebak: jagoan mereka tak mungkin terkalahkan, karena dalam logika dan realitas standar komik, kebenaran akan selalu mengalahkan kejahatan.</p>
<p>Di film-film Superman, hal sama juga berlaku. Dalam <em>Superman: The Movie</em>, sejak awal penonton tahu bahwa Man of Steel itu pasti akan mengalahkan Lex Luthor, sehebat apapun usaha ilmuwan sinting yang sering menyebut dirinya sendiri sebagai &#8220;penjahat jenius Bumi paling hebat abad ini&#8221;. Penonton juga tahu, di film <em>Superman II</em>, meskipun Jenderal Zod dan dua temannya mempunyai kekuatan setara dengan Superman (karena sama-sama dari planet Krypton), tetap saja kemenangan akhir akan menjadi milik Superman.</p>
<p>Tetapi mungkin bukan itu yang ditunggu-tunggu penonton. Bisa jadi penonton lebih ingin melihat Clark Kent yang kikuk itu berlari sambil melepas kacamatanya, merobek kancing bajunya dan memperlihatkan (ke penonton, tentunya) logo &#8216;S&#8217; yang terkenal itu, lalu terbang melesat sebagai Superman. Dan penonton bertepuk tangan. Proses transformasi ini menjadi semacam <em>trademark</em> Superman sekaligus milik penonton. Penonton memaknai proses itu, sekaligus ikut memilikinya, dengan mengidentifikasi dirinya sebagai apa yang (ingin) mereka lihat. Jauh di lubuk hatinya, <em>everyone wants to be Superman</em>. Berikutnya, tentu saja adalah sajian aksi heroik yang fantastis, yang memuaskan hasrat terpendam setiap penonton untuk &#8220;menjadi lebih dari sekadar dirinya yang sekarang&#8221;. Mengenai hasrat mendasar ini, kita sepakat dengan komentar Stan Lee (kreator superhero Hulk, Spider-Man dan Daredevil) tentang popularitas Superman, &#8220;<em>Most every guy wishes he could be more than he is. Who wouldn&#8217;t love to fly? Who wouldn&#8217;t love to be bulletproof? And X-ray eyes!</em>&#8221;</p>
<p>Film adalah bentuk komunikasi dengan penonton, dan pencerita yang baik tahu betul cara memperlakukan <em>audience</em>-nya. Penonton dilibatkan, tidak dijauhkan, apalagi jika telah ada sesuatu yang terlanjur di awang-awang. Untuk itu diperlukan strategi berupa pendekatan emosional. Dalam terminologi Superman, ada sosok Clark Kent. Di satu sisi Superman adalah manusia super dengan kekuatan super-segalanya, nyaris tanpa cacat dan kelemahan (kecuali batu Kryptonite hijau, tentunya); katakanlah ini adalah sisi &#8220;sesuatu yang terlanjur di awang-awang&#8221;. Namun di sisi lain, dia adalah seorang Clark Kent, yang dengan segala kecanggungan dan kekikukannya, adalah seorang manusia biasa. Sosok Clark Kent inilah yang berperan &#8220;membumikan&#8221; karakter Superman. Di sini penonton didekatkan secara emosi, karena Clark Kent adalah &#8220;seperti kita juga&#8221;.</p>
<p>Sisi emosional ini—yang cukup manusiawi—menempati porsi cukup banyak di film <em>Superman: The Movie</em>. Clark Kent remaja, menumpahkan kekesalannya—karena ditinggal teman-temannya pulang naik mobil—dengan menendang keras-keras bola rugby ke arah langit (dan tentu saja bola itu terlontar sangat jauh). Tak cukup hanya itu, Clark pun menempuh perjalanan pulang dengan berlari secepat kilat, mendahului mobil temannya, bahkan mengalahkan kereta api yang melaju kencang. Di akhir cerita, sisi emosional ini bahkan mencapai taraf yang berlebihan. Di sebuah kerusuhan kota akibat gempa yang ditimbulkan rudal Lex Luthor, mobil Lois Lane terperosok ke dalam rekahan gempa, dan Superman terlambat menyelamatkannya. Lois meninggal terkubur pasir. Superman sedih dan marah, lalu terbang dengan emosi yang meluap-luap ke luar angkasa, mengitari bumi berulangkali dengan kecepatan tinggi&#8230; dan memutar balik waktu. Superman memutar mundur waktu sampai pada keadaan sebelum Lois terjebak gempa, sehingga sempat untuk diselamatkan dari kematian. Dalam hal ini, masalah emosi dan subjektivitas Superman dikedepankan, tak peduli apakah itu melanggar hukum alam dan nilai-nilai moralitas. Setidaknya, nilai-nilai moralitas yang selalu diajarkan oleh Jor-El (ayah Superman di Planet Krypton): &#8220;<em>My son, you are not allowed to interfere human history&#8230;</em>&#8221; Superman melanggarnya, menentukan nilai-nilai moralitasnya sendiri dengan mengedepankan perasaan. Mungkin inilah fenomena yang menurut Michel Foucault, pemikir asal Prancis, sedang terjadi di dalam masyarakat Barat kontemporer, &#8220;ranah utama moralitas, bagian dari diri kita yang paling relevan bagi moralitas, adalah perasaan-perasaan kita&#8221;.</p>
<p>Pendekatan emosi ke penonton, juga dilakukan dengan menempatkan posisi Superman sebagai bagian integral dari masyarakat. Di film <em>Superman: The Movie</em>, setelah aksi <em>go public</em>-nya yang pertama, Superman diwawancarai oleh Lois Lane. &#8220;<em>Who are you?</em>&#8221; tanya Lois Lane. Superman menjawab, &#8220;<em>A friend</em>&#8220;. Rupanya Superman ingin menunjukkan dia adalah &#8220;teman&#8221; bagi siapa saja, sebagai bagian tak terpisahkan dari masyarakat luas. Maka aksi heroik Superman pun melibas batas-batas rasial maupun geografis. Dia bisa hadir di belahan dunia manapun: menghentikan aksi teroris di Menara Eiffel Paris, menolong anak kecil di Air Terjun Niagara, atau menyelamatkan seorang pekerja kulit hitam yang jatuh dari ketinggian sebuah proyek bangunan. Superman adalah milik universal, dan karena itu Superman begitu populer. Lambang &#8216;S&#8217;-nya yang legendaris itu, muncul sebagai stiker-stiker di kaca mobil, pintu-pintu kamar, atau di baju-baju kaos di seluruh dunia. Pada tahun 1960-an, muncul film Superman versi India. Di Indonesia, pada tahun 1974 muncul film <em>Rama Superman Indonesia</em>, karya sutradara Frans Totok Ars. Epigon lainnya juga muncul di dunia komik Indonesia lewat tokoh Godam. Superhero lokal karangan komikus Wid N.S. yang populer di tahun 1970-an ini mempunyai kekuatan mirip Superman, dengan lambang &#8216;G&#8217; di dadanya.</p>
<p>Namun perlu diingat, seuniversal apapun Superman, sejatinya dia tetap milik Amerika. Jerry Siegel dan Joe Shuster menciptakan tokoh ini ketika Amerika Serikat sedang dilanda masa Depresi, dan publik membutuhkan figur panutan. Superman, dengan kostum merah birunya (mengingatkan kita pada bendera star and stripes kebanggaan warga AS) langsung tampil sebagai &#8220;pahlawan&#8221;. Publik Amerika seolah menemukan harapan pada sosok Superman. Semasa Perang Dunia II, tentara Amerika membaca komik Superman untuk membakar semangat mereka. Dalam komik, Man of Steel itu digambarkan bahu membahu dengan tentara Amerika melawan musuh-musuh perangnya. Bahkan diceritakan, Superman terbang ke Berlin menangkap Hitler, lalu ke Moskow meringkus Stalin! Di film <em>Superman: The Movie</em>, yang konon pemutaran perdananya di AS dihadiri Presiden Jimmy Carter, jelas-jelas Superman mengungkapkan alasan kemunculannya dengan kata-kata monumental, &#8220;<em>I&#8217;m here to fight for truth, justice and the American way…</em>&#8221; Superman adalah pahlawan, ikon kultural, sekaligus cerminan &#8220;kesombongan&#8221; Amerika itu sendiri.</p>
<p>Maka di beberapa filmnya, sering kita jumpai Superman terbang mengibarkan bendera Star and Stripes, mengembalikannya ke Gedung Putih, atau menancapkannya di permukaan Bulan. Atau Superman (baca: Amerika) menyelamatkan Moskow (baca: Uni Sovyet) dari ancaman bom atom Nuclear Man. Atau Superman berpidato perihal perdamaian dunia, dengan mengutip kata-kata Dwight D. Eisenhower, jenderal kebanggaan AS. Atau ketika Bumi hendak dikuasai Jenderal Zod dari planet Krypton, Presiden AS berbicara atas nama umat manusia seluruh dunia.</p>
<p>Jadi, bisa kita pahami—entah dengan rasa simpati atau geli—pernyataan Presiden George W. Bush sehubungan dengan tragedi Selasa Hitam 11 September 2001: &#8220;<em>Freedom is under attack</em>&#8220;. Yeah, &#8220;freedom&#8221;, saudara-saudara! Bukan (sekadar) Amerika. Di dunia nyata, Presiden AS itu berbicara atas nama &#8220;kebebasan&#8221; dan umat manusia—mirip kisah-kisah di komik dan film. Bedanya, di dunia nyata tak ada Superman yang menghentikan teroris menabrakkan pesawat ke gedung World Trade Center. Superman hanya hidup di dunia rekaan manusia. Di dunia nyata, gedung World Trade Center tetap luluh lantak. Di dunia nyata, yang ada hanyalah Christopher Reeve, yang duduk terpaku di kursi roda merenungi nasibnya—mungkin sambil sesekali mengenang keperkasaan Superman. Tapi pendapat Reeve, yang meredefinisi arti kata &#8216;hero&#8217;, benar-benar layak kita dengarkan: &#8220;… <em>a hero</em>, adalah manusia biasa, yang menemukan kekuatan untuk berjuang keras dan tetap bertahan, bahkan di saat-saat paling sulit sekalipun.&#8221; Musibah memang tak jarang membuat manusia lebih bijaksana. Kita, manusia biasa, tak harus jadi manusia super untuk bisa menjadi pahlawan.[]</p>
<p style="text-align: right;">Bandung, April 2002</p>
<p style="text-align: right;"><strong>Budi Warsito<br />
</strong><em>Penggemar Superman,<br />
menempelkan stiker </em>&#8216;S&#8217;<em> di pintu kamarnya</em></p>
<p style="text-align: left;">Gambar ilustrasi dicomot dari <a href="http://zone.artizans.com/product.htm?pid=291204" target="_blank">sini</a>.</p>
<p><span style="font-size: 90%;"><span style="font-family: trebuchet ms;"><strong>PS.<br />
</strong><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Christopher_reeve" target="_blank"><strong>Christopher Reeve</strong></a> akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya pada hari Minggu Kliwon, 10 Oktober 2004. Tulisan lama ini saya muat ulang untuk memperingati 6 tahun wafatnya si Manusia (bersemangat) Baja itu. Damai di sana, Pak Reeve!</span></span></p>
<p><span style="font-size: 90%;"><span style="font-family: trebuchet ms;">Banyak lagu ditulis tentang Superman. Tapi hanya satu yang saya suka, yaitu &#8220;<strong><a href="http://www.mediafire.com/?mthjlgzlonm" target="_blank">O Superman (For Massenet)</a></strong>&#8220;, dinyanyikan oleh </span></span><span style="font-size: 90%;"><span style="font-family: trebuchet ms;">Laurie Anderson.</span></span></p>
<p><span style="font-size: 90%;"><span style="font-family: trebuchet ms;"><br />
</span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/superman-the-ordinary-man/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>You Are What You Eat</title>
		<link>http://budiwarsito.net/you-are-what-you-eat/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/you-are-what-you-eat/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Nov 2009 19:59:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[Rupa-rupa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=402</guid>
		<description><![CDATA[. &#8220;I&#8217;m not vegetarian because I love animals. I’m vegetarian because I hate plants.&#8221; &#8212;A. Whitney Brown, &#8220;Saturday Night Live&#8221; cast member, Season 11-16, 1985-1991. Saya punya banyak teman vegetarian, tapi saya tidak punya satu pun teman kanibal. Hannibal Lecter cuma hidup di dunia rekaan Hollywood, dan saya juga tidak kenal Sumanto dari Purbalingga&#8212;sebagaimana saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-405" title="mangan_ora_mangan" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2009/11/mangan_ora_mangan1.jpg" alt="mangan_ora_mangan" width="334" height="231" /></p>
<p><span style="color: #ffffff;">.</span><br />
&#8220;<em>I&#8217;m not vegetarian because I love animals. I’m vegetarian because I hate plants.</em>&#8221;<br />
&#8212;A. Whitney Brown, &#8220;Saturday Night Live&#8221; cast member, Season 11-16, 1985-1991.</p>
<p>Saya punya banyak teman vegetarian, tapi saya tidak punya satu pun teman kanibal. Hannibal Lecter cuma hidup di dunia rekaan Hollywood, dan saya juga tidak kenal Sumanto dari Purbalingga&#8212;sebagaimana saya berharap dia juga tidak kenal saya. Hmm, apa hubungannya vegetarian dengan kanibal? Jawabannya: mungkin memang tidak ada. Saya cuma tiba-tiba ingat, ada teman saya, seorang perempuan vegetarian yang mengaku <em>moviefreak </em>sejati, pernah membuat review film Korea berjudul <em>301, 302</em> (Cheol-su Park, 1995) dengan penuh semangat. Dan kebetulan, film itu tentang kanibal. Oops, spoiler. Saya sendiri juga suka film itu, sebuah drama tentang kesepian dan dendam, yang disajikan dengan sinematografi yang indah, dramatik, dan terus terang bikin saya lapar. Haa!<span id="more-402"></span></p>
<p>Saya juga ingat sebuah buku bagus terbitan tahun 1992, berjudul <em>Cut! Horror Writers on Horror Film</em>. Di buku itu, salah seorang kontributor, penulis fiksi horor, mengaku menyukai film kanibal padahal dia seorang vegetarian. Kathryn Ptacek, demikian nama perempuan penulis itu, mengaku doyan film dengan tayangan sadis itu tanpa harus tahu kenapa. Artinya: dia nonton, ya karena pengen nonton aja. Dia membahas dengan cukup bagus film <em>Motel Hell</em> (Kevin Connor, USA, 1980). Film horor kanibal ini tidak begitu terkenal di sini, tapi pernah diputar di sebuah bioskop kelas kambing di kota saya&#8212;sekarang bioskop itu sudah tidak ada, menjelma jadi gedung pertokoan. Saking gak ngetopnya film itu, pernah jumlah penonton di bioskop itu cuma 5 orang. Salah satunya saya, duduk di barisan tengah, masih bercelana pendek waktu itu. Empat lainnya? Dua pasang muda-mudi, mojok di kursi belakang, yang pasti tidak terlalu peduli dengan film yang diputar, sebab mereka sedang sibuk membuat &#8216;film&#8217; sendiri.</p>
<p>Meski ada dua film yang sedang diputar bersamaan&#8212;satu di layar, satu di kursi penonton&#8212;saya berusaha konsentrasi menatap ke depan. Premis film ini cukup menarik. Settingnya di sebuah penginapan bernama Motel Hello. Papan nama hotel itu, sebuah plang dengan cahaya neon, selalu kerlap-kerlip di huruf &#8220;o&#8221;-nya, sehingga lebih sering tampak terbaca &#8220;Motel Hell&#8221;. Dan sebagaimana <em>hell</em>, penginapan ini memang keparat. Pemiliknya, seorang lelaki aneh bernama Vincent, menjalankan bisnis motel yang terkenal dengan sajian daging asapnya yang teramat lezat. Sebagai film kanibal, tentulah bisa ditebak: yeah, daging asap itu ternyata terbuat dari daging manusia. Stok dagingnya, dari pengendara mobil yang lewat di depan motelnya. Vincent selalu menjebak mereka dengan memasang paku di jalan. Dan Vincent bukan seorang tukang tambal ban: dia malah menangkap si pengendara mobil, menghajarnya, lalu menyeretnya ke kebun.</p>
<p>Berikutnya adalah aksi yang sadis dan &#8216;sakit&#8217;. Vincent mengubur hidup-hidup para korban, dengan kepala dibiarkan nongol di permukaan tanah. Supaya tidak bisa menjerit, Vincent menggorok dan mengambil pita suara mereka. Hasilnya, sajian visual yang mengerikan: kepala-kepala di tanah dengan mulut yang komat kamit terbuka, tapi tak keluar suara. Lalu Vincent menentukan nasib mereka selanjutnya: menjadi bahan daging asap yang lezat, sajian khas Motel Hell.</p>
<p>Keparat. Film itu benar-benar keparat. Di tengah kegelapan, saya seringkali menjerit tertahan, menatap adegan demi adegan sadis di layar&#8212;sementara di belakang sana, dua pasang muda mudi itu juga menjerit tertahan, mungkin atas alasan yang berbeda: saya karena ketakutan, mereka karena keenakan. Keparaaat. Kanibal juga dong ya mereka, karena manusia &#8216;memakan&#8217; manusia. Haha. Saya keluar dari bioskop sambil misuh-misuh. Di jalan pulang, saya memikirkan satu kalimat di film itu, yakni ketika Vincent mencari pembenaran aksi kanibalisme-nya dengan berkata, &#8220;<em>There&#8217;s too many people in the world and not enough food. Now this takes care of both problems at the same time</em>.&#8221; Oh, well.</p>
<p>Beranjak dewasa, pura-puranya demi menghormati kenangan menonton semasa kecil, saya mulai berburu film <em>Motel Hell </em>itu, berharap menemukan DVD-nya, atau VHS, atau LaserDisc, apapun! Tapi rupanya tidak mudah. Bertahun-tahun saya mencari, hasilnya nihil. Saya malah menemukan film-film tentang kanibal lainnya. Di rak koleksi film saya, tepatnya di deretan DVD berlabel &#8220;films about food&#8221;, berjajar judul-judul seperti: <em>Cannibal Holocaust</em> (Ruggero Deodato, 1980&#8212;film kanibal &#8220;klasik&#8221; yang sampai sekarang belum pernah selesai saya tonton saking jijiknya), <em>Silence of the Lambs</em> (Jonathan Demme, 1991; ya, ya, yang pertama saja, sebab sekuel dan prekuelnya nggak oke), <em>Delicatessen</em> (Marc Caro &amp; Jean-Pierre Jeunet, France, 1991; film kanibal yang dibuat oleh orang yang juga membuat film manis <em>Amélie</em>!), <em>Cannibal Ferox</em> (aka <em>Make Them Die Slowly</em>, Umberto Lenzy, Italy, 1981; iklan promosi untuk film ini berbunyi &#8216;<em>Banned in 31 countries</em>!&#8217;&#8212;meski murni fiksi, film ini masih saja dilarang di Inggris), <em>Ravenous</em> (Antonia Bird, 1999; kritikus Ebert menyebutnya sebagai resep film vampir dan kanibal yang disajikan dengan saus baru… oh, owkay), dsb, dll, dst, etc. Terlalu panjang untuk disebutkan semuanya di sini. Oya, tentu saja termasuk karya anak negeri: <em>Kanibal Sumanto</em> (Christ Helweldery, Indonesia, 2004). Sementara DVD <em>Motel Hell</em> sendiri malah belum berhasil saya dapatkan. Ada yang kepikiran untuk membantu berburu dan menghadiahkannya ke saya? Ulang tahun saya masih bulan Juni ntar kok, dan saya suka kejutan.</p>
<p>Ngomong-ngomong soal kanibal, saya punya satu orang teman yang juga antusias tentang hal sama. Dia selalu bersemangat menceritakan pengalamannya Kuliah Kerja Nyata (KKN) di sebuah desa terpencil di kaki gunung. Menurut kabar angin yang berhembus, warga desa terpencil itu masih kanibal. Atas nama rasa ingin tahu yang mendalam (sekaligus bayangan muluk-muluk sebuah skripsi dahsyat tentang riset sosiologis atas fenomena kanibalisme di era modern), dia memutuskan untuk KKN di desa itu.</p>
<p>Setibanya di sana, teman saya itu langsung menemui Kepala Desa. Setelah memperkenalkan diri dan berbasa-basi secukupnya, dia langsung bertanya ke inti masalah, &#8220;Pak, ehmm, denger-denger katanya warga desa sini masih kanibal ya?&#8221; Pak Kepala Desa menjawab dengan tersenyum, &#8220;Wah, dari mana Adek dapat informasi seperti itu?&#8221; Teman saya menjawab &#8220;Oh, dari… ehmm, dari internet , Pak!&#8221; sambil tak yakin apakah Pak Kepala Desa itu tahu internet. Pak Kepala Desa masih tersenyum ketika melanjutkan, &#8220;Jadi gini Dek. Kebetulan, sampai minggu lalu memang masih ada <em>satu orang</em> kanibal di desa ini. Tapi sekarang sudah nggak ada lagi.&#8221; Teman saya tentu kecewa, tapi dia masih menyempatkan diri bertanya, &#8220;Sampai minggu lalu? Emangnya sekarang si orang itu ada di mana, Pak?&#8221; Pak Kepala Desa menjawab, &#8220;Sudah mati Dek, kemarin kami makan rame-rame.&#8221;</p>
<p style="text-align: right;">[<strong>Budi Warsito</strong>]</p>
<p style="text-align: center;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/you-are-what-you-eat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengingat Yudi</title>
		<link>http://budiwarsito.net/mengingat-yudi/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/mengingat-yudi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Nov 2009 17:31:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Rupa-rupa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=231</guid>
		<description><![CDATA[. Saya punya teman SMP namanya Yudi. Orangnya kurus banget, sumpah kurus BANGET, kayak Aming tapi lebih tinggi, bahkan lebih tinggi dari saya. Rambutnya lurus tipis, jatuh, nutupin jidatnya yang jenong. Giginya tonggos tapi gak tonggos-tonggos amat. Anaknya sangat bersemangat. Rumahnya agak masuk ke pelosok desa, dan untuk sampai ke sekolah, dia harus naik sepeda [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-256" title="Tradtelefon" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2009/10/Tradtelefon.jpg" alt="Tradtelefon" width="420" height="289" /></p>
<p><span style="color: #ffffff;">.</span><br />
Saya punya teman SMP namanya Yudi. Orangnya kurus banget, sumpah kurus BANGET, kayak Aming tapi lebih tinggi, bahkan lebih tinggi dari saya. Rambutnya lurus tipis, jatuh, nutupin jidatnya yang jenong. Giginya tonggos tapi gak tonggos-tonggos amat. Anaknya sangat bersemangat. Rumahnya agak masuk ke pelosok desa, dan untuk sampai ke sekolah, dia harus naik sepeda sekitar 1 jam tiap paginya. Mungkin waktu saya baru bangun dan masih males-malesan di tempat tidur, si Yudi ini sudah harus mulai mengayuh sepedanya ke sekolah. Gokil, 2 jam bersepeda bolak-balik tiap harinya! Betis Yudi, meski kurus kering, tampak padat berisi.<span id="more-231"></span></p>
<p>Rumah boleh jauh, tapi Yudi gak pernah telat. Dia selalu datang beberapa menit sebelum bel berbunyi, lalu mengelap dahinya yang selalu bercucuran keringat. Yudi tipe murid yang selalu ngacung ketika guru melempar pertanyaan, gak peduli seberapa seringnya dia salah menjawab (dan emang lebih sering salahnya ketimbang benernya). Guru-guru menyepelekan dia untuk urusan akademis, tapi menyukainya untuk urusan disuruh-suruh. Ngambil kapur ke kantor TU? Yudi. Fotokopiin tugas sekolah? Yudi. Koordinator kerja bakti? Yudi. Dekorasi acara halal bihalal di sekolah? Yudi. (Kebetulan bapaknya punya usaha percetakan, sering terima order nyetak undangan kawinan.)</p>
<p>Yudi gak jago main voli. Selalu jadi bahan ketawaan seisi kelas tiap kali melakukan pukulan servis: bola volinya malah membumbung tinggi ke atas, lalu jatuh lagi ke tanah, hanya sejarak 1 meter dari tempat dia berdiri! Kalau main sepakbola, Yudi sering terjungkal sendiri tiap kali mau nendang. Di lapangan dia selalu gonta-ganti posisi, gak jelas, lari-lari doang ke sana ke mari. Jadi bek kanan, gak ngaruh. Jadi gelandang tengah, gak pernah nyetor bola. Jadi striker, mandul abis. Jadi bek kiri, malah bikin gol bunuh diri. Yudi pernah sekali jadi kiper, dan para pemain lawan berpesta pora di gawangnya. Kasihan Yudi.</p>
<p>Meskipun sering jadi bulan-bulanan, Yudi teman yang menyenangkan. Di lapangan dijitakin, di kelas diketawain, tapi kalau sakit dikangenin. Saya sering membonceng sepedanya, pergi les bareng sepulang sekolah. Selasa Matematika, Kamis Fisika. Lesnya jam 2 siang, tempatnya cuma 15 menit bersepeda dari rumah saya. Yudi gak pulang dulu ke rumahnya karena jauh, jadi seminggu dua kali dia makan siang masakan ibu saya. Trus berangkat les bareng. Bolos les bareng. Minum es cendol bareng. Beli majalah bekas bareng. Rasa setiakawannya pun tinggi. Saya pernah hampir dipalak preman di tempat dingdong, dan Yudi langsung buru-buru berdiri menutupi saya, berhadapan frontal dengan si preman, meski dengan ekspresi muka yang kelihatan banget ditenang-tenangin. Persuasinya mungkin gak gitu ngaruh, tapi bisa jadi si preman jatuh kasihan sama tampangnya yang memelas, keringetan, jidatnya jenong, dan giginya agak tonggos sedikit.</p>
<p>Yudi lulus dengan nilai pas-pasan, melanjutkan SMA (atau STM, saya lupa) masih di Sukoharjo. Sementara saya lulus dengan nilai terbaik, melanjutkan ke SMA favorit di Solo. Sejak saat itu Budi dan Yudi gak pernah ketemu lagi. Saya bahkan gak tahu dia kuliah di mana. Atau mungkin gak kuliah. Kadang-kadang saya dengar kabar tentang dia dari ibu saya, &#8220;Katanya Yudi sekarang jadi teknisi operator telepon seluler, kerjaannya keliling Indonesia masang tower.&#8221; Saya cuma manggut-manggut mendengarnya, soalnya inget si Yudi ini emang jago banget manjat. Bola voli yang dia pukul pernah nyangkut ke pohon, dan kecepatannya memanjat bikin gelak tawa orang-orang langsung berubah jadi decak kagum. Meskipun ada saja yang nyeletuk &#8220;Abis ini&#8230; Yudi pergi ke pasar&#8230;!&#8221; Anak SMP emang jahat-jahat.</p>
<p>&#8220;Ibu pernah ketemu Yudi di acara kawinan. Lagi sibuk benerin soundsystem. Dia nanyain kamu sekarang di mana.&#8221; Itu beberapa tahun lalu, gak lama setelah saya berhenti kuliah. &#8220;Trus Ibu jawab apa?&#8221; &#8220;Ya di Bandung. Trus Yudi bilang pengen mampir kalo lagi tugas masang menara di Jawa Barat.&#8221; Yudi menitipkan nomor HP-nya lewat Ibu, tapi saya gak pernah sekalipun ngontak. Mungkin saya malu. Ya. Yudi sudah kerja, saya malah putus kuliah.</p>
<p>Setiap habis Lebaran, di hari H+ sekian, selalu ada telepon ke rumah dari Yudi, dan selalu ada saja alasan saya untuk menghindar. Saya yakin dia gak pernah tersinggung karena hal itu. Yudi yang saya kenal adalah Yudi yang polos, baik hati, gak pernah berpikiran jelek, dan satu lagi: pantang menyerah. Ya, pasti karena sifat terakhirnya itulah, selalu ada dan akan ada lagi &#8220;Telepon dari Yudi&#8221; pasca Lebaran tiap tahunnya, meskipun jawabannya selalu gak jauh-jauh dari &#8220;Budinya lagi ke luar..”, atau “Wah, Budinya udah balik ke Bandung lagi..” Paling banter divariasikan dengan “Nitip pesen apa Mas Yudi?”</p>
<p>Ibu pernah berusaha ngasih nasihat, agak-agak tersirat, &#8220;Gak papa lah Bud, kamu ketemu Yudi.&#8221; (Mungkin maksudnya &#8220;Gak usah minder.&#8221;) &#8220;Kalian kan temen deket.&#8221; (Pasti artinya &#8220;Temen baik kok menghindar?&#8221;) &#8220;Bilang aja apa adanya, kamu kerja apa.” (Terdengar seperti &#8220;Emang kamu gak bangga nulis skrip Extravaganza?&#8221;)</p>
<p>Tapi Budi tetap gak mau ketemu Yudi.</p>
<p>Waktu berlalu, tahun demi tahun berganti. Setelah satu dasawarsa lebih, di beberapa Lebaran belakangan ini, gak ada lagi telepon-telepon dari Yudi. Mungkin lama-lama dia bosan juga. Mungkin dia lagi sibuk. Mungkin dia sudah berkeluarga. Mungkin dia masih keliling Indonesia. Tiap lihat menara ponsel tinggi, saya sering mikir “Mungkin itu yang masang Yudi.”</p>
<p>Sampai akhirnya tadi siang, telepon rumah berbunyi, dan hanya Tuhan yang tahu kenapa harus saya yang mengangkatnya. Padahal saya paling males ngangkat telepon. Terdengar di seberang sana, suara cempreng yang gak ada duanya. &#8220;<em>Halo, ini benar rumahnya Budi Warsito?</em>&#8221; Hanya butuh sepersekian detik untuk bisa mengenali suara itu: Yudi! Gawat. &#8220;<em>Halo? Halo?</em>&#8221; Aduh, harus jawab apa ya? Cepet Bud, putar otak! Beberapa detik berlalu, mungkin Yudi sudah hampir menutup teleponnya, tiba-tiba terdengar suara saya yang sudah diubah menjadi lebih berat, &#8220;Iya betul. Ini siapa ya?&#8221; Suara di seberang sana mendadak ceria, &#8220;<em>Ini temannya Pak! Yudi. Budinya ada Pak?</em>&#8221; Rasanya agak tercekat ketika saya menjawab, &#8220;Tunggu sebentar ya Mas.&#8221;</p>
<p>&#8230;.</p>
<p>(<strong>BERSAMBUNG</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/mengingat-yudi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>X dan/atau XXX…</title>
		<link>http://budiwarsito.net/x-dan-atau-xxx%e2%80%a6/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/x-dan-atau-xxx%e2%80%a6/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Nov 2009 05:21:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=5</guid>
		<description><![CDATA[. &#8216;G&#8217; means the hero gets the girl, &#8216;R&#8217; means the villain gets the girl, and &#8216;X&#8217; means everyone gets the girl. &#8212;sebuah lelucon lama Barangkali banyak di antara kita yang tak paham (dan tak peduli) apa bedanya rating G, PG-13, NC-17, R, dan sebagainya. Tapi rasanya kita punya bayangan serupa mengapa sebuah film dicap [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-266" title="jenna" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2008/03/jenna.JPG" alt="jenna" width="385" height="289" /></p>
<p><em><span style="color: #ffffff;">.</span><br />
&#8216;G&#8217; means the hero gets the girl,<br />
&#8216;R&#8217; means the villain gets the girl,<br />
and &#8216;X&#8217; means everyone gets the girl</em>.<br />
&#8212;sebuah lelucon lama</p>
<p>Barangkali banyak di antara kita yang tak paham (dan tak peduli) apa bedanya rating G, PG-13, NC-17, R, dan sebagainya. Tapi rasanya kita punya bayangan serupa mengapa sebuah film dicap huruf X atau kelipatannya. Adegan polisi Detroit sekarat diberondong senapan penjahat atau Arnold Schwarzenegger kebingungan dikejar-kejar tentara di Planet Mars mungkin luput dari ingatan kita, tapi siapa yang bisa melupakan cara Sharon Stone menyilangkan kaki dan sekelebat kita tahu tak ada celana dalam di balik rok mininya? <span id="more-5"></span>Sama-sama ditasbihkan lembaga rating MPAA sebagai ‘X-rated film’, aksi ranjang di <em>Basic Instinct</em> rasanya lebih sah di persepsi kita ketimbang aksi kekerasan di <em>RoboCop</em> atau <em>Total Recall</em>. </p>
<p>Tak ada catatan pasti kapan pertama kali film bergenre X (dan/atau XXX) dibuat, tapi saya curiga itu sebenarnya hanya beberapa jam setelah kamera film pertama kali diciptakan di akhir abad 19. Ciuman pertama yang pernah terekam pita seluloid memang baru muncul beberapa tahun kemudian, tapi siapa bisa menjamin Lumière Bersaudara tidak kepikiran merekam adegan asyik masyuk sesaat setelah menemukan kamera <em>cinematograph</em> pertama di tahun 1895? Mungkin mereka tidak memutarkannya di depan publik yang terhormat kala itu. Siapa tahu mereka menyimpannya saja. Jangan-jangan persis seperti kita: diam-diam menyembunyikan film-film Jenna Jameson di laci paling bawah, dan menontonnya setelah memastikan semua pintu sudah terkunci rapat.</p>
<p>Ya, setiap pria normal tentu paham siapa Jenna Jameson, kecuali jika Anda memang sangat alim dan kuper luar biasa. Bisa jadi dialah bintang film porno paling populer saat ini, meski mengaku telah pensiun. Kita sudah terlanjur hapal berapa ukuran dadanya (silikon tentunya), bagian pantat dan kaki sebelah mana yang bertato, gaya favoritnya (dia benci seks anal, tapi toh melakukannya), juga kemahiran oralnya yang tak jarang dibanjiri ludah. Goyangan dan desahannya hidup abadi di keping-keping cakram bajakan, beredar cepat dari tangan ke tangan (tergores-gores akibat terlalu sering disetel di bagian tertentu), atau menetap permanen di harddisk komputer kita. Buku otobiografinya, <em>How to Make Love Like a Porn Star</em>, digarap serius setebal hampir 600 halaman, meledak di pasaran. Orang-orang seperti Jenna (juga ribuan bintang porno lainnya) inilah yang membuat roda industri gambar bergerak pengumbar syahwat itu terus berputar. Ada <em>supply</em>, ada <em>demand</em>. Dan layaknya dunia keprofesian, banyak prasyarat harus dipenuhi: salah satunya, bisa jadi paling utama, adalah <em>size does matter</em>. Angka 36D adalah lingkar dada yang biasa ditemui, tak peduli itu asli atau palsu, dan ingat, ‘senjata’ legendaris Rocco Siffredi dikabarkan bisa mencapai panjang 23 cm! (Freud bisa tertawa dalam kubur jika tahu betapa fetisisme atas fantasi <em>phallus</em> sangat dirayakan dalam industri raksasa ini, termasuk pemilihan adegan penis ejakulasi sebagai ending abadi.)</p>
<p>Kualitas akting para aktor-aktrisnya pun tak perlu tinggi-tinggi amat, karena yang lebih penting stamina dan teknik bercinta. Toh skenario, bila itu bisa disebut skenario, tak menuntut macam-macam: hampir selalu minim dialog. Kalaupun ada dialog, biasanya simpel dan <em>cheesy</em>, tak banyak kalimat yang harus dihapal selain harus mendesah seseksi mungkin (&#8220;<em>Oh yes! Oh no!</em>&#8220;&#8212;sikap yang plin plan?). Atau melenguh (&#8220;<em>Faster! Harder!</em>&#8220;). Atau menjerit (&#8220;<em>Oh, God!</em>&#8220;&#8212;wow, apakah mereka religius?). Semuanya demi satu tujuan bersama, merangsang audiens. Para produser tahu betul kebutuhan pasar: segala preferensi dan fantasi seksual terliar manusia difasilitasi; mulai dari pasangan biasa, sesama jenis, tukar pasangan, keroyokan, bahkan jika perlu dengan binatang sekalipun. Judul-judulnya pun menggelikan, tak jarang plesetan dari film-film terkenal: <em>A Clockwork Orgy</em>, <em>Good Will Humping</em>, <em>Sex Trek: The Next Penetration</em>, <em>Black Cock Down</em>, dan sebagainya.</p>
<p>Jalan cerita di film-film porno acapkali ngawur. Logikanya busuk seperti kentut, tapi seperti halnya kentut, kita tetap membutuhkannya, bukan? Contoh plot standar: wanita pirang seksi tinggal sendirian di rumah, tak jelas apa aktivitasnya, mendadak lapar dan memesan pizza via telepon. Atau tanpa sebab pasti, tiba-tiba pipa ledeng di kamar mandinya ngadat. Kejadian &#8216;perut lapar&#8217; dan &#8216;ledeng rusak&#8217; ini hanyalah pengantar seadanya demi menghadirkan ‘lawan bertanding’ di adegan utama yang lebih esensial. Maka datanglah pria pengantar pizza atau mas-mas tukang ledeng, biasanya kekar tapi pendiam. Setelah bertukar dialog yang mengada-ada, <em>ngalor ngidul</em>, cenderung murahan dan nggak penting, mereka mulai menjurus ke &#8216;hal-hal yang kita inginkan&#8217;. Namun tempo dari segala adegan pembuka itu selalu terasa terlampau lambat (meminjam analisis nakal Umberto Eco, &#8220;<em>if, to go from A to B, the characters take longer than you would like, then the film you are seeing is pornographic</em>.&#8221;). Sehingga tak jarang tombol <em>fast-forward</em> di <em>remote control</em> menjadi pahlawan andalan kita. Fantasi dan mata kita minta segera dipuaskan, meski kadang otak suka bertanya-tanya mengapa ketika &#8216;bertempur&#8217; mereka masih mengenakan sepatu dan tak menanggalkan topi. Berterima kasihlah pada teknologi masa kini, karena segalanya sekarang menjadi jauh lebih mudah dan ringkas, setidaknya dibanding masa-masa memutar knop di VHS/Beta player bertahun-tahun silam. Dan kode rahasia klasik nan malu-malu &#8220;Ehmm, ada film Unyil?&#8221; mulai tergantikan oleh tradisi unduh-sendiri-film-bokep-pilihanmu di belantara internet.</p>
<p>Kemajuan teknologi juga membuat video porno amatir makin merajalela. Perangkat paling mutakhir dan hasrat paling purba berpadu sempurna dengan gejala narsisistik manusia: <em>now everyone </em><em>could be a porn star</em>. Pada tahun 2001, ketika Adi dan Nanda merekam percakapannya di kamar hotel, &#8220;<em>Nanda, sekarang kita sudah berapa bulan?/ Sudah 23 bulan/ Berarti sudah hampir 2 tahun, kamu maunya apa?&#8221;</em>, mungkin tak pernah terbayang oleh mereka betapa kini hampir sewindu semenjak adegan percintaan heboh mereka itu, video serupa makin biasa didapati. Tengoklah <em>folder-folder</em> di warnet, atau <em>file-sharing</em> di forum-forum. Nyalakan televisi, maka tak habis-habisnya acara gosip memberitakan video pribadi terbaru mulai dari artis ibukota hingga anak SMA di daerah, yang bisa langsung dengan mudah di-<em>search</em> di Google.</p>
<p>Jenna Jameson boleh mengaku pensiun (&#8220;<em>I will never spread my legs in this industry again!</em>&#8221; ujarnya), Adi dan Nanda mungkin sudah menikah di Kutub Utara lalu bercerai (<em>who knows?</em>), anggota DPR telah insaf dan aji mumpung Maria Eva sudah tak ampuh lagi; tapi apa boleh buat, pornografi gambar bergerak tetap melenggang kangkung. Dunia profesional dan amatir seolah berjalan serentak. Persis kata-kata yang menggema di podium Adult Video News Awards 2008, pertengahan Januari silam. Pada hajatan 25 tahun ajang penghargaan paling bergengsi industri pornografi itu, Stormy Daniels, bintang bokep yang masih aktif, menanggapi pernyataan pensiun Jenna Jameson, &#8220;<em>I love you Jenna, but I’m going to spread my legs a little longer.</em>&#8221; Industri (dan tradisi) film porno pun jalan terus.</p>
<p style="text-align: right;">[<strong>Budibadabadu</strong>]</p>
<p><span style="font-size: 90%;"><span style="font-family: trebuchet ms;"><br />
</span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/x-dan-atau-xxx%e2%80%a6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

