<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>budiwarsito.net</title>
	<atom:link href="http://budiwarsito.net/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://budiwarsito.net</link>
	<description>esok kita jumpa pula</description>
	<lastBuildDate>Sun, 22 Apr 2012 22:01:57 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Mari Funk, Rebut Kembali?</title>
		<link>http://budiwarsito.net/mari-funk-rebut-kembali/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/mari-funk-rebut-kembali/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Apr 2012 06:37:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=1161</guid>
		<description><![CDATA[. Ada satu dua momen dimana secara tak terduga Anto Arief tiba-tiba muncul di depan pintu kantor saya—ruangan di sudut sebuah perpustakaan di Bandung—dan prasangka yang selalu berkelebat di kepala saya adalah: apakah itu Dian Pramana Poetra, sedang berkunjung mau pinjam buku? Di beberapa kondisi tertentu, misalnya kurang tidur atau alpa memakai kacamata, penglihatan saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2012/04/70sOC_2.jpg"><img class="aligncenter wp-image-1167" title="70sOC!" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2012/04/70sOC_2.jpg" alt="" width="429" height="304" /></a><span style="color: #ffffff;">.</span></p>
<p>Ada satu dua momen dimana secara tak terduga Anto Arief tiba-tiba muncul di depan pintu kantor saya—ruangan di sudut sebuah perpustakaan di Bandung—dan prasangka yang selalu berkelebat di kepala saya adalah: apakah itu Dian Pramana Poetra, sedang berkunjung mau pinjam buku? Di beberapa kondisi tertentu, misalnya kurang tidur atau alpa memakai kacamata, penglihatan saya (dan mungkin juga Anda) sekilas bakal terkecoh mengiranya sebagai Dian Pramana Poetra dalam versi yang tertukar; lebih muda, langsing, sedikit canggung dan peragu. Tapi memang selalu begitu: Anto akan tetap berdiri mematung tepat di depan pintu, seperti ragu-ragu harus menyapa dulu atau lebih baik menunggu, hingga akhirnya saya benar-benar menoleh dan melambaikan tangan; dan dia pun nyengir, senyumnya setipis kumisnya.</p>
<p>Akhir-akhir ini saya mulai sering membicarakan musik funk bersamanya, membahas film-film <em>blaxploitation</em>, menghadiahi <em>laserdisc</em> konser Gil Scott-Heron (salah satu pahlawan musik terbesarnya) di hari ulang tahunnya, tapi minat Anto Arief terhadap genre musik itu rasanya sudah diketahui banyak orang. <span id="more-1161"></span>Ketika 70’s Orgasm Club, trio rock-blues-funk yang digawanginya belakangan mulai jarang naik panggung komplet bertiga (hanya Tuhan yang tahu kenapa rencana rilis album perdana mereka selalu tertunda-tunda), Anto masih saja ngotot tampil di beberapa gigs kecil, cuek sendirian menenteng gitar kopong, jika dia merasa perlu maka barulah hadir pemain saksofon cabutan-entah-dari-mana, menemaninya menaklukkan mikrofon dan kualitas <em>soundsystem</em> dari panitia yang, apa boleh buat, seringkali seadanya.</p>
<p>Kegigihannya patut diacungi jempol. Penontonnya kadang bisa dihitung dengan jari (lagipula apa yang bisa diharapkan dari acara <em>workshop</em> yang membosankan?), namun di saat lain dengan santainya dia membuka konser tunggal Koil di hadapan ratusan penonton berbaju hitam-hitam di satu panggung besar. Dari sekadar genjreng-genjreng akustikan tiap Sabtu pagi di taman lansia di Bandung (setelah malamnya bikin open <em>mic rutin</em> di sebuah kafe), atau <em>jam session</em> dadakan di sebuah bazaar komunitas seni di Jakarta (melibatkan permainan terompet); menjadi <em>additional player</em> di band pengiring penyanyi Tulus yang sedang naik daun (selain bermain gitar dan ikut tur, Anto juga mencipta lagu di rekaman itu), hingga yang terakhir saya lewatkan—untung ada YouTube!—yaitu menyumbangkan permainan gitar singkat, monoton, tapi anehnya justru menggetarkan, untuk mengiringi penampilan langka Morgue Vanguard a.k.a. Ucok &#8216;Homicide&#8217; di penutupan pameran mengenang seorang seniman Bandung yang mati muda.</p>
<p>Meski tampil dengan mengenakan topi yang berbeda-beda di setiap penampilannya (fedora, <em>trilby</em>, <em>flat cap</em>, Anda tinggal sebut jenisnya), tapi ada racauan khas Anto yang nyaris selalu sama saat berusaha menguasai corong pengeras suara, yakni: &#8220;<em>Cinta, cinta, cinta!</em>&#8221; Nada pelafalannya susah digambarkan lewat tulisan, tapi beberapa dari Anda pasti sudah pernah mendengarnya. Sambil meringis tiap kali mendengarnya, saya selalu bertanya-tanya dalam hati, apakah saya sendirian di planet ini yang penasaran, kenapa dari jutaan kosakata lainnya di kamus, selalu itu-itu lagi yang dipilihnya? Mungkin sekarang momen yang tepat untuk bertanya. Dan yang paling penting, menyelidiki apa sebenarnya isi kepala Antruefunk di balik topinya.</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p>Anto Arief, kini 33 tahun, sudah lupa apa nama band pertamanya ketika masih duduk di bangku SMP, awal ’90-an di Jakarta. Yang masih jelas terekam di ingatannya, di situ dia bermain gitar membawakan repertoar Nirvana (tumbuh remaja di kala grunge deras melanda dunia, mau apa lagi?), dan seolah itu belum cukup: dia menorehkan nama &#8216;Kurt Cobain&#8217; di bodi gitar akustik merk Yamaha pertamanya. &#8220;Ada tren di sekolah gue waktu itu, semua cowok kelas 2 SMP harus bisa main gitar. Banyak yang tiba-tiba bisa (atau terpaksa harus bisa) main gitar karena tuntutan pergaulan,&#8221; senyum Anto lebih mirip seseorang sedang mengenang cinta monyetnya. Bukannya terpaksa, dia malah kepincut. Tapi cinta pertamanya tentang musik—atau bahkan cinta abadinya—saya rasa bukan pada grunge, bukan juga pada Kurt Cobain, melainkan pada gitar. Bertahun-tahun kemudian, Acong a.k.a. Sir Dandy memuja Anto sebagai &#8220;dewa gitar&#8221; di dua lagu spontan ciptaannya &#8220;Ode to Antruefunk Part I &amp; II&#8221;, menyebutnya mahaguru yang dimintanya mengajari &#8220;jurus kunci gitarmu&#8221;, dicampur mitos asal-asalan soal Mus Mujiono di YouTube. Kita tahu itu cuma bisa-bisanya Acong, tapi saya yakin banyak orang termakan bualan itu.</p>
<p>Senjata elektrik pertamanya, gitar Fender Mustang, memang Anto beli gara-gara Kurt Cobain juga memakai jenis itu, tapi ada alasan lain yang lebih spesifik: bentuk bodinya dia anggap agak berbeda saat itu. &#8220;Meski ternyata kualitasnya jelek. Mungkin karena gue belinya Fender yang kelas pelajar!&#8221; Kali ini gelak tawanya lebih terdengar seperti pemakluman bijak nan dewasa, tapi sekali lagi, masih atas nama cinta. Ketika demam grunge menyurut, Anto menghabiskan masa SMA ketika scene musik bawah tanah di Jakarta sedang didera demam Britpop, atau istilah bekennya waktu itu: indies. Anto ingat betul pengalaman joget keramas dan <em>crowd surfing</em> pertamanya di Poster Cafe. Di masa-masa indies itulah band-nya di SMA getol membawakan lagu-lagu Oasis, posisi dia tetap pada gitar, mungkin sambil sesekali membayangkan dirinya Noel Gallagher.</p>
<p>Batal masuk Institut Kesenian Jakarta, Anto hijrah ke Bandung tahun 1997 dan memilih kuliah desain di FSRD Itenas. Seolah tak mau buang waktu lebih lama lagi, dia menerima tawaran bergabung sebagai gitaris di band indies bernama Shelley, spesialis lagu-lagu Shed Seven. (Lucunya, baru belasan tahun kemudian Shed Seven akhirnya manggung di Bandung, dan saya berani bertaruh: di konser itu Anto pasti berada di barisan terdepan penonton, khusyuk <em>sing along</em> demi menjadi haji yang mabrur.) Anto lalu bergabung dengan The Bride, band lokal yang cukup fenomenal waktu itu, bentukan orang-orang Balubur Stone Complex yang gemar membawakan The Stone Roses era <em>Second Coming</em> dan Primal Scream. Cintanya pada gitar semakin menggebu-gebu: di situlah dia mulai dijuluki Anto Melody, lantaran kebiasaannya menyisipkan permainan melodi gitar berpanjang-panjang ngawur di tiap performa, duel maut dengan gitaris tandem-nya, sesuatu yang jarang dilakukan band-band indies saat itu. &#8220;Bersenang-senang banget deh pokoknya. <em>Skill</em> bodor-bodoran gitu. Dari situ gue mulai tertarik ngulik blues dan psychedelic.&#8221;</p>
<p>Jika cinta kemudian harus membawamu melangkah lebih jauh, maka itulah yang terjadi. Anto merasa butuh ruang ekspresi yang lebih luas, ketika menyadari minat musikalnya lebih pada &#8220;semua yang nge-<em>groove</em>.&#8221; Karena tak tahu bagaimana caranya ngomong langsung, akhirnya Anto memutuskan menulis surat resmi permohonan resign dari The Bride (yang justru ditertawakan para personel lainnya—saya kira-kira bisa mengerti kenapa: beberapa orang memang terlahir dengan pembawaan lebih serius ketimbang orang-orang lainnya). Setelah keluar dari band lamanya, Anto pun mantap membulatkan tekad, serius bikin band baru yang lebih mewadahi cinta terbesarnya yang bertahan hingga kini: funk rock, yang terinspirasi musik funk/soul klasik.</p>
<p>&#8220;Dari awal, sambil mencari-cari pemain bass dan drum yang cocok, di kepala gue sudah ada kandidat nama band.&#8221; Sejak pertama kali berkenalan dengan Rio Novtriansyah dan Endi Sutendi sekitar tahun 2004, mereka langsung nyambung. Anto Arief pun segera menyodorkan calon nama itu: 70’s Orgasm Club. Gayung bersambut, Endi dan Rio langsung tertarik bergabung gara-gara nama unik itu, yang sebenarnya dicomot begitu saja dari judul lagu &#8220;Orgasm Club&#8221; milik Corduroy, band acid jazz asal London yang sedang digandrungi Anto. Sementara penambahan kata 70’s di depannya, semata-mata lantaran &#8220;Gue demen banget musik funk ’70-an!&#8221; Rio sendiri menggilai The Jackson 5 dan Ben Folds Five, dan setuju untuk bermain bass. Sementara pada aksi drum, Endi menggemari beat-beat reggae ’70-an. Selain lagu-lagu Corduroy, frontman Anto langsung mencekoki dua teman barunya itu dengan Marvin Gaye, Jimi Hendrix, dan tentu saja, semua katalog funk kesukaannya. Sama-sama penggemar genre film detektif ’70-an dan juga <em>Star Wars</em>, mereka lantas membayangkan ‘70s Orgasm Club sebagai satu film dimana mereka bertiga memerankan karakter tetap di dalamnya. Muncul ide konyol seru-seruan, bikin nama panggung untuk tiap karakter: Anto adalah Antruefunk, Rio sebagai Roy Jefferson, dan Endi disebut Endy Echo.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2012/04/70sOC_casts.jpg"><img class="aligncenter wp-image-1168" title="70sOC_casts" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2012/04/70sOC_casts.jpg" alt="" width="420" height="280" /></a></p>
<p>Mereka mulai rajin latihan dan menulis lagu sendiri. Menurut Endi dan Rio, prosesnya sesimpel &#8220;Anto selalu datang dengan ide lagu-lagu yang dia tulis di kamarnya, lalu kami berdua siap merusaknya!&#8221; Tawaran manggung dari manapun mereka sikat. Mulai dari pensi di sekolah-sekolah, acara <em>tribute to</em> Benyamin S., ulang tahun stasiun radio, peluncuran seri terbaru ponsel, acara <em>Superbad!</em> edisi awal-awal, mengambil risiko tampil di panggung Bakar-bakaran IKJ yang audiens-nya terkenal kritis dan brutal, hingga membuka konser The S.I.G.I.T. tahun 2006—yang bagi Anto cukup membanggakan, karena menurutnya, &#8220;Rekti dkk jelas band rock ‘n’ roll terbaik nasional saat ini.&#8221;</p>
<p>Nama 70’s Orgasm Club mulai terangkat ke permukaan ketika mereka menjadi finalis di L.A. Lights Indie Fest tahun 2007. Satu lagu mereka masuk di album kompilasi pertama <em>event</em> kompetisi tahunan itu. Mereka sempat tampil <em>live</em> untuk pertama kalinya (sekaligus yang terakhir) di sebuah stasiun televisi swasta nasional, dimana mereka dipaksa <em>lip-sync</em>, dan akhirnya mereka malah memilih bersenang-senang dengan sengaja tidak melakukannya secara benar.</p>
<p>Layaknya impian anak band pada umumnya, harus ada rilisan fisik. Lagu-lagu 70’s Orgasm Club sebenarnya sudah cukup untuk materi satu album penuh, atau setidaknya mini-album. Namun yang sering terjadi adalah plot klasik di tiap cerita: manusia punya rencana, Tuhan jua yang menentukan. Selalu ada aral melintang, dan tiga sekawan itu tenggelam dengan kesibukan masing-masing: Anto Arief sempat menekuni karier menulisnya sebagai editor majalah <em>Ripple</em> (rubrik tetap dia di antaranya: komik konyol dan horoskop seru), juga beberapa penerbitan lainnya sambil menjadi seniman paruh waktu; sementara Rio dan Endi mulai berkeluarga, menikah dan bekerja di bidang non-musik. Sempat ada kawan baik yang bersedia menalangi semua biaya produksi album perdana yang terkatung-katung lama itu, namun entah hujan angin macam apa yang kemudian merontokkan segala niat mulia itu.</p>
<p>Petuah &#8220;semua bakal indah pada waktunya&#8221; mungkin terdengar klise. Anto dkk pasti sudah bosan mendengarnya, atau malah mereka sendiri yang terus menerus melafalkannya di dalam hati? Tapi percayalah, klise adalah hal-hal yang justru sudah teruji kebenarannya. Dan kabar gembira yang dinanti-nanti itu akhirnya hinggap juga di meja saya: setelah diundur bertahun-tahun, akhirnya rilisan fisik pertama 70’s Orgasm Club, <em>Supersonicloveisticated</em> EP resmi diluncurkan akhir April 2012 ini. Ironisnya, ini sekaligus album perpisahan Anto dengan dua personel lainnya. Setelah itu mereka sepakat untuk jalan sendiri-sendiri.</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p>Barangkali saya punya antusiasme agak berlebihan dalam menyelidiki lirik-lirik sebuah album. Karena itu saya segera meminta Anto mengirim lirik lengkap EP ini via <em>e-mail</em>, karena dialah yang bertanggung jawab penuh di departemen lirik. Setelah di-<em>print</em> dan saya pelajari dengan seksama sambil menyetel keras-keras materi lagunya (total ada 5 <em>track</em>), saya merasa apa yang saya lakukan kali ini percuma. Ternyata Anto tak berbicara banyak lewat lirik-liriknya, yang kebetulan memang irit kata-kata dari awal hingga ujung. Mengaku terpengaruh Jarvis Cocker dalam penulisan lirik, toh kenakalan khas Pulp yang suka <em>nyerempet-nyerempet</em> hanya muncul secuil di &#8220;Libido Schizophrenia&#8221;, &#8220;<em>Can I come to your place, maybe we could make it there?/ Throw your clothes on the floor, maybe we could get it on in your kitchen</em>.&#8221;</p>
<p>Sementara intro lagu pembukanya, &#8220;Supersonicloveisticated&#8221;—bisa jadi ini lagu paling tua di katalog mereka—terdengar seperti salah satu versi lain dari intro &#8220;Sunshine Of Your Love&#8221;-nya Cream. Ketika Anto meneriakkan kalimat &#8220;<em>&#8230;when you feel me inside, I’ve got nothing to hide&#8230;</em>&#8221; sebelum disusul suara &#8220;<em>hu-hu-hu</em>&#8221; di bagian <em>bridge</em>-nya, saya mulai berpikir jangan-jangan Anto memang tidak punya hal-hal untuk disembunyikan. Lagipula buat apa? &#8220;Sebenarnya <em>line</em> bass-nya gue ambil dari salah satu lagu Corduroy,&#8221; katanya dengan enteng dan blak-blakan, &#8220;tentunya dengan sedikit modifikasi.&#8221; Menurut Anto, lagu ini tentang kebangkitan seseorang dari keterpurukan. &#8220;<em>…you got to know everything turns yellow, you got to find the cure to heal the mellow…</em>&#8221;</p>
<p>Selain demi mengejar rima lagu, tampaknya &#8220;<em>yellow</em>&#8221; dan &#8220;<em>mellow</em>&#8221; adalah kata-kata favorit Anto, karena itu muncul lagi di akhir EP bahkan sebagai judul lagu, &#8220;Yellow Mellow&#8221;, satu-satunya lagu akustik di situ. &#8220;<em>You make me realize, you set my soul on fire</em>,&#8221; dalam petikan gitar yang tenang. Tapi seperti kata peribahasa, air tenang menghanyutkan, dan saya ingin tahu udang apa yang ada di balik batu. &#8220;Itu lebih tentang rasa bersyukur. Seringkali kita baru sadar apa yang kita punya setelah kita kehilangan, bukan?&#8221; Daripada perbincangan kami berbelok ke arah sentimentil yang tak perlu, saya lebih tertarik pada struktur lagunya yang terpengaruh komposisi akustik &#8220;For What Reason&#8221;-nya Supergroove. Band funk asal Selandia Baru itu juga salah satu pahlawan musik terbesar Anto. Mereka pernah datang ke Jakarta dan konser di M-Club, di kawasan Blok M pada tahun 1995, yang dalam istilah Anto, &#8220;Itu salah satu konser paling pecah yang pernah gue tonton!&#8221; Sementara judul &#8220;Yellow Mellow&#8221; itu malah mengingatkan saya pada lagu Donovan yang berjudul hampir sama, &#8220;Mellow Yellow&#8221; (1967), yang sempat ditengarai sebagai dukungan atas pengisapan kulit pisang sebagai alternatif legal dari mariyuana.</p>
<p>Anto sendiri bersikap netral soal drugs. Dia mengaku bisa mengerti jika orang-orang mengonsumsinya dalam batas <em>recreational drugs</em>, karena toh baginya semua itu lebih tentang pikiran. Substansi halusinogenik hanya perkara memperpanjang kesadaran hingga batas tak terhingga, dan itu soal pilihan. Anto juga menyukai musik-musik psychedelic, tapi dia lebih mempercayai <em>the power of mind</em>, termasuk konsep <em>The Secret</em>, buku motivasional yang sempat menghebohkan itu. Saya harus berhenti tertawa karena mimiknya berubah serius ketika mengaku: dia pernah mempraktikkan metode yang disarankan buku tersebut. &#8220;Gue pernah pengen banget punya satu gitar. Gue pasang gambarnya sebagai <em>screensaver</em> di <em>laptop</em>, gue <em>print</em> fotonya untuk ditempel di tembok. Bahkan gue udah sediain satu <em>stand</em> kosong di kamar gue, khusus buat gitar itu kelak. Dengan cara yang aneh, gitar itu akhirnya terbeli juga! Gimana gue nggak percaya?&#8221;</p>
<p>Mungkin itu juga yang mengilhami lirik &#8220;Peppermint Insect&#8221;, lagu <em>catchy</em> paling simpel dari 70’s Orgasm Club. &#8220;<em>Can’t get you out of my head, cause you’re always on my mind…</em>&#8221; Semuanya soal pikiran. Untuk ilustrasi sampul EP-nya, Anto memilih foto sayap kiri pesawat terbang, dengan latar belakang awan mendung separuh gelap. Lebih jeli dicermati, ada tiga &#8220;benda terbang aneh&#8221; di situ. Foto itu hasil jepretan seorang temannya, Dimas Theodora, murni tanpa rekayasa, diambil dari atas pesawat di perjalanan pulang dari Malaysia ke Indonesia. Sang teman mengaku seringkali &#8220;didatangi benda terbang aneh&#8221; di setiap foto hasil jepretannya. Anto yang juga tertarik perihal UFO, langsung antusias membuat karya seni dalam beberapa medium untuk merespon foto itu. Saya meminjamkan buku karya psikoanalis Jung berjudul <em>Flying Saucers</em> dari perpustakaan saya, yang antara lain berpendapat bahwa kesaksian seseorang yang merasa melihat penampakan UFO tak bisa dilepaskan dari kondisi psikologis yang bersangkutan. Lagi-lagi, <em>it’s all in your mind</em>. Saya yakin kekuatan pikiranlah yang membuatnya berhasil menyelesaikan total 10 karya (<em>pencil drawing</em>, foto, lukisan cat air, instalasi, dsb), dan semuanya akan muncul sebagai <em>limited edition</em> sampul EP berbeda-beda, yang hanya akan dirilis dalam bentuk CD sejumlah 100 keping saja. Lebih dari setengahnya sudah ludes dipesan melalui <em>pre-sale order</em>. Masing-masing karya itu juga akan dipamerkan dalam format medium sesungguhnya, selama 3 hari berturut-turut di eksebisi seni Anto Arief berbarengan dengan peluncuran EP 70’s Orgasm Club ini. Bahkan ditambah diskusi dengan tema “Antara Cinta, Benda Terbang Aneh, dan Psikadelia”. Seolah tak ada hari senggang di buku agendanya.</p>
<p>Bagaimana dia seorang diri bisa menjaga semangatnya untuk menjalani itu semua? Dia berbagi kiat melalui pesan pendek ke ponsel saya, &#8220;<em>Giving up is not an option for me</em>.&#8221; Sempat dibesarkan di lingkungan yang sering pesimis dan berpikir negatif, dia selalu menjaga untuk tetap ber-<em>positive thinking</em>-ria. Sebenarnya ada banyak perang batin dan pergulatan emosional yang berusaha diredam dan dipendamnya, tapi toh akun Twitter-nya justru lebih dipenuhi <em>tweet-tweet</em> optimistik memulai hari (&#8216;Gut em!&#8217; &#8216;Semangat, kaka…&#8217;), candaan jayus dalam kadar akut (&#8216;kelelawar rendah&#8217; sebagai padanan &#8216;habis batre&#8217; alias ‘<em>low-bat</em>&#8216;), hingga tebak-tebakan garing (‘Sayur apa yang buang badan?&#8217; &#8216;Lodeh!&#8217;). Selera humornya unik dan sering tak terduga. Mungkin karena itulah, di tengah segala kekacauan hari-hari ini, Anto mengajak kita tetap bertahan waras di dunia yang makin gila ini dengan naik bus cinta di lagu &#8220;Love Bus&#8221;, &#8220;<em>Leave all the hatred, sorrow far behind. We’re going on a bus of love!</em>&#8221;</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p><em>Supersonicloveisticated</em> EP sejatinya adalah ajang pemanasan sebelum nantinya bakal dirilis album penuh 70’s Orgasm Club, yang juga entah kapan selesainya. Semua musik di album penuh itu sudah beres direkam, saya sempat mendengar utuh versi instrumental-nya, dengan vokal mentah Anto sebagai <em>rough guide</em>-nya. Departemen musik di calon album penuh itu memang lebih menjanjikan, sound-nya terdengar makin tebal dan lebih meyakinkan, dengan unsur soul/funk lebih kental lagi. Rio dan Endi terlibat terakhir kalinya di rekaman album setengah jadi itu, dimana <em>live show</em> ke depannya Anto bakal mencari backing band baru lagi. &#8220;Sebenarnya untuk rekaman album penuh itu gue tinggal <em>take vocal</em> doang. Tapi gue masih merasa perlu belajar nyanyi.&#8221; Anto tersenyum <em>legowo</em> mengakui kekurangannya. Suaranya memang masih tipis dan kadang fals di beberapa kesempatan, dan dia bukannya tidak menyadari itu. &#8220;Sekarang gue latihan nyanyi terus tiap habis bangun pagi. Pernah sampai les vokal segala di seorang <em>vocal coach</em> ternama di Jakarta. Tapi cuma bentar, karena ternyata mahal banget dan duit gue nggak cukup.&#8221;</p>
<p>Apapun itu, saya menghargai kejujurannya. Saya sudah memesan 2 buah CD <em>Supersonicloveisticated E</em>P jauh-jauh hari, dengan edisi sampul yang berbeda, tentunya. Satu untuk koleksi pribadi, satu lagi sebagai arsip perpustakaan yang saya kelola untuk publik. Ya, khalayak harus bisa mengakses dokumentasi terbatas yang sudah pasti bakal segera <em>out of print</em> ini. Entah kenapa, saya yakin ketulusan seorang Anto Arief itu (dalam banyak hal, itu lantas bersinonim dengan kegigihan) yang bakal membawanya ke satu titik yang lebih terang. Termasuk kejujurannya menantang diri sendiri di garis perbatasan: setelah ini, apakah dia akan menyeberang, atau tetap tinggal diam di tempat dia sekarang? Pasca konser perpisahan Antruefunk dengan Roy Jefferson dan Endy Echo di peluncuran <em>Supersonicloveisticated EP</em> ini, akankah Anto Arief tetap bersikeras mengibarkan bendera funk? Tidakkah dia tergoda mencoba petualangan lain? Ketika mendengar salah satu impian musikalnya adalah meng-<em>cover</em> penuh album legendaris Koes Plus <em>Dheg Dheg Plas</em> (1969)—itu album lokal favoritnya sepanjang masa dan piringan hitam koleksinya telah sah ditandatangani langsung oleh Yon Koeswoyo sendiri—saya tak bisa berkata apa-apa selain berjanji akan mendukung sepenuhnya jika sewaktu-waktu dibutuhkan.</p>
<p>Mungkin suatu hari nanti, dia tiba-tiba muncul lagi di kantor saya, berdiri di depan pintu, semoga kali ini tanpa ragu-ragu. Apakah dia mantap merebut kembali funk, atau justru sebaliknya, tulus ikhlas melepasnya (karena bukankah &#8220;<em>to love is to let go</em>&#8220;), atau apapun itu yang memang sudah seharusnya? Mungkin terdengar klise, tapi justru di situ serunya. Saya akan tunggu kelanjutan kisah ini.</p>
<p style="text-align: right;">Bandung, Maret-April 2012</p>
<p style="text-align: right;"><strong>Budi Warsito</strong><br />
<em>Pemilik dan pengelola perpustakaan Kineruku, Bandung</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/mari-funk-rebut-kembali/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>[Cerpen Favorit] Kalau Bung Seniman, Jangan Tinggal di Kampung</title>
		<link>http://budiwarsito.net/cerpen-favorit-kalau-bung-seniman/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/cerpen-favorit-kalau-bung-seniman/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Apr 2012 06:31:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Rupa-rupa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=1175</guid>
		<description><![CDATA[. (cerita pendek oleh Misbach Jusa Biran) &#8220;Kalau Bung seorang seniman, jangan tinggal di kampung,&#8221; kata seorang pemuda dengan penuh kesungguhan. Pemuda itu belum pernah saya kenal dan pada suatu malam kami ditakdirkan Tuhan duduk berhadapan di warung kue putu merek &#8220;Cirebon&#8221; yang menetap dekat teng bensin di Pasar Senen. Dari cara dia duduk yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2012/04/TukangLoak.jpg"><img class="aligncenter wp-image-1188" title="TukangLoak" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2012/04/TukangLoak.jpg" alt="" width="448" height="336" /></a></p>
<p><span style="color: #ffffff;">.</span><br />
(cerita pendek oleh <strong>Misbach Jusa Biran</strong>)</p>
<p>&#8220;Kalau Bung seorang seniman, jangan tinggal di kampung,&#8221; kata seorang pemuda dengan penuh kesungguhan. Pemuda itu belum pernah saya kenal dan pada suatu malam kami ditakdirkan Tuhan duduk berhadapan di warung kue putu merek &#8220;Cirebon&#8221; yang menetap dekat teng bensin di Pasar Senen. Dari cara dia duduk yang semaunya itu, dari semula sudah saya duga bahwa ini tentunya termasuk bangsa-bangsa seniman. Oleh karena malam itu saya mengenakan baju yang siangnya saya tidur, lecek, maka saya pun tidak menyalahkan kalau dia sebaliknya mengira saya seniman pula. Dan memenuhi kebiasaan di antara seniman, yakni meskipun belum pernah kenal atau berkenalan dapat saja bicara dengan intimnya, maka saya tidak ragu-ragu lagi.</p>
<p>&#8220;Kenapa?&#8221; tanya saya sambil menghembuskan asap rokok dengan gaya bebas, menggaruk-garuk rambut semaunya. Gaya yang saya sesuaikan dengan keadaan saya malam itu: seniman.<span id="more-1175"></span></p>
<p>&#8220;Saya sudah mencobanya. Saya tinggal di kampung,&#8221; jawabnya sedih.</p>
<p>&#8220;Saudara seniman ya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Pengarang,&#8221; jawabnya tandas, tapi segera disusul dengan helaan napas yang dalam, seperti ia tengah menjalani suatu takdir yang amat berat.</p>
<p>&#8220;O, pengarang. Mengarang apa? Barangkali saya pernah baca tulisan Saudara di majalah.&#8221;</p>
<p>Kawan itu tidak menjawab. Ia pura-pura tidak mendenga pertanyaan saya, buang muka. Saya yakin ia telah menyesal membuka pembicaraan dengan saya. Kebetulan saya segera sadar bahwa saya telah membuat kekeliruan yang amat besar. Karena saya pernah tahu, bahwa pertanyaan &#8220;yang mana karangan Saudara&#8221; adalah pertanyaan yang paling tabu diajukan pada seniman-seniman muda. Sebab besar kemungkinan seniman tersebut telah menjadi seniman sebelummenulis satu karangan pun. Pertanyaan itu akan sangat melukai hati. Kalau sampai ketahuan bahwa ia belum mengarang apa-apa, kan tentunya sulit buat pemuda yang ditanya untuk tetap mengaku seniman. Maka, saya pun cepat-cepat membelokkan pertanyaan itu. &#8220;Maksud saya, nama Saudara siapa? Tentunya saya pernah dengar-dengar.&#8221;</p>
<p>&#8220;Duka,&#8221; jawabnya tak bernafsu sambil tetap memandang ke arah lain.</p>
<p>&#8220;Cuma Duka saja?&#8221; tanya saya dengan suara yang saya buat-buat supaya kedengarannya betul-betul kepingin tahu.</p>
<p>&#8220;A. Indra Dukawan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Betul! Saya sering dengar nama itu, sering disebut-sebut orang.&#8221; Apa boleh buat, saya terpaksa berdusta. Tapi karenanya saya bisa menebus kesalahan tadi. Ia kembali tertarik pada saya. Malah lebih dari itu ia jadi baik sekali, membayari kopi dan dua potong kue putu. Dan pembicaraan menjadi lancar, terus sampai malam. Rupanya malam itu ia sedang betul-betul pantas memakai nama Dukawan. Sedang dirundung kesusahan. Yang menjadi soal adalah asmara. Tetapi menurut A. Indra Dukawan, yang menjadi pokok utama adalah karena ia tinggal di kampung.</p>
<p>&#8220;Bagaimana mereka bisa mengerti kalaupun saya terangkan kepada orang-orang kampung itu?&#8221; katanya dengan suara yang betul-betul menunjukkan kesulitan. &#8220;Bagaimana saya bisa menjelaskan kepada mereka, bahwa pekerjaan seorang seniman tidak sama dengan pegawai-pegawai biasa yang pernah mereka kenal? Menurut anggapan mereka, orang yang baik dan rajin itu kalau pagi-pagi menenteng tas pergi ke kantor. Sedangkan saya yang mencari inspirasi setengah mati, bermenung-menung di kebun belakang, mereka katakan pengangguran, sinting, kurang waras. Malah ada yang mengira bahwa saya belajar ilmu sihir, tetapi tidak kesampaian, jadi agak linglung. Betul saya tidak bekerja, tapi saya mengarang terus. Bekerja keras. Tetapi tidak ada yang bisa memahami. Dan tambah menyedihkan lagi karena saya sering keluar malam, ada pula yang menyangka bahwa saya adalah OKD. Sama sekali saya tidak menganggap hina pekerjaan OKD yang tidak menerima gaji itu, saya sendiri juga tidak pernah punya uang, tetapi saya bukan OKD. Saya pengarang. Keluyuran malam yang saya lakukan adalah tugas yang sulit, mencari ilham, inspirasi. Dan kalau berhasil&#8230;? Ya, kalau berhasil saya bisa bikin buku&#8230;, bisa&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Bisa kaya&#8230;,&#8221; saya telanjur lagi, tetapi cepat bisa saya tutupi, &#8220;Maksud saya, biarkan sajalah orang-orang kampung itu, nanti juga kalau sudah terbukti&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Tetapi ini justru soal sekarang, bukan nanti. Sekarang! Saya punya pacar di kampung tempat tinggal saya. Orang tua si gadis terlalu menganggap sepele pada saya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sepele bagaimana?&#8221;</p>
<p>&#8220;Orang tuanya yang pertama-tama menganggap saya ini OKD, dan menyiar-nyiarkannya kepada tetangga.&#8221;</p>
<p>&#8220;Yang penting kekasih Saudara itu bisa mengerti. Habis perkara. Persetan dengan orang tuanya,&#8221; kata saya rada bernafsu. Memang panas juga hati mendengar seniman disangka yang tidak-tidak. &#8220;Sering-sering jumpai gadis itu, jeksi terus agar tidak kena pengaruh orang lain yang bodoh-bodoh itu. Ada kesempatan tidak, untuk sering-sering ketemu dan bicara?&#8221;</p>
<p>Dukawan diam saja selama dua menit. Dan setelah ia menggelengkan kepala sekian kali, berbisiklah dia, &#8220;Dia tak akan mau kepada saya, orang tuanya sudah menghasut dia begitu rupa&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Pernah Bung menyatakan cinta Bung terus terang?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya&#8230;,&#8221; jawabnya tidak begitu jelas. &#8220;Melalui sajak-sajak yang dimuat dalam majalah <em>Rindu Damai</em> keluaran Kalimantan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Barangkali dia belum baca sajak itu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Barangkali,&#8221; jawabnya. Menghela napas panjang. &#8220;Saya sendiri pun belum pernah melihat majalah itu beredar di Jakarta.&#8221;</p>
<p>&#8220;Jadi bagaimana dia bisa tahu pasti bahwa Bung mencintai dia?&#8221;</p>
<p>&#8220;Dia sudah seharusnya tahu. Cinta yang besar dan suci pasti akan sampai ke alamatnya,&#8221; kata Dukawan dalam tekanan yang berirama.</p>
<p>&#8220;Apa saja yang gadis itu bilang kalau kebetulan ketemu?&#8221;</p>
<p>Dukawan menggeleng. Setelah selesai menepuk nyamuk yang menggigit kakinya, baru ia menggumam, &#8220;Kami belum pernah ada kesempatan  bicara.&#8221;</p>
<p>Saya kira tidak terlalu sulit untuk memahami, bagaimana sebenarnya duduk perkara percintaan kawan saya ini.</p>
<p>&#8220;Dia tetap adem saja?&#8221; tanya saya untuk lebih meyakinkan.</p>
<p>Dukawan mengangguk.</p>
<p>&#8220;Pantas,&#8221; sambut saya dalam hati. Nyata letak kesalahan tidaklah seluruhnya pada orang tua si gadis. Karena, walaupun ayahnya tidak mengira Dukawan ini sinting lantaran belajar ilmu sihir atau mengatakan ia OKD, tetapi kalau Dukawan diam-diam saja, yaaa&#8230;.</p>
<p>&#8220;Barangkali perlu dicari jalan lain?&#8221;</p>
<p>&#8220;Bagaimana?&#8221;</p>
<p>&#8220;Pakailah baju yang&#8230;&#8221; Tak jadi kalimat ini saya selesaikan.</p>
<p>&#8220;Saya mengerti! Saya tidak punya pakaian bagus. Dan saya tidak mau ia cinta kepada saya karena pakaian saya,&#8221; sedih benar kata-kata ini diucapkannya.</p>
<p>&#8220;Saya belum habis bicara tadi,&#8221; kata saya.</p>
<p>&#8220;Teruskan, teruskan!&#8221;</p>
<p>&#8220;Saya mau meminjamkan pakaian saya&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidak&#8230;,&#8221; jawabnya lesu sambil menundukkan kepala. Jelas ia merasa tersinggung sekali.&#8221;</p>
<p>&#8220;Maksud saya,&#8221; kata saya buru-buru, &#8220;saya sedia menolong. Bicaralah terus terang pada gadis itu agar jelas. Saya mau menolong kalau diperlukan. Nanti&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Nanti, nanti!&#8221; katanya agak membentak. &#8220;Sekarang! Soalnya adalah sekarang ini!&#8221; Usul saya hanya menaikkan darahnya saja. &#8220;Sekarang-sekarang ini saya harussekaligus kasih lihat kekuatan. Kenapa? Minggu depan dia akan diajak ke Puncak oleh si Achmad, pemuda otak kosong yang sekadar punya motor itu. Saya juga harus sanggup mengajaknya ke Puncak! Kenapa tidak? Berapa kira-kira ongkos jalan ke Puncak?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kalau jalan kaki sih, murah,&#8221; jawab saya tak sengaja bercanda. Betul-betul kurang ajar kelakuan saya ini, tak pantas bermain-main juga dalam keadaan begitu.</p>
<p>&#8220;Taksi!&#8221; bentaknya bernafsu. &#8220;Pakai taksi berapa? Dengan makan-makan sedikit di restoran Puncak. Berapa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Besar, Bung&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Yaaa, berapa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Seribu&#8230;. Mungkin kurang sedikit. Sewa taksinya saja kira-kira lima ratus. Makan-makannya&#8230;, oleh-olehnya&#8230;.&#8221; Terhenti saya karena tiba-tiba mata Dukawan memindahkan pandangan ke arah lain, redup matanya. Tersumbat kerongkongan saya. Kadang-kadang ia melihat ke arah tanah di bawahnya, entah melihat apa, sekali ia menoleh sekilas pada saya dan tersenyum sedikit. Entah apa maksudnya. Tapi semua itu menimbulkan suasana yang menyayat hati. Sekuat tenaga saya memeras otak, bagaimana caranya mengembalikan mata Dukawan agar agak bersinar lagi. Paling tidak seperti sebelum ia berkenalan dengan saya tadi.</p>
<p>&#8220;Begini, Bung, ada jalan,&#8221; kata saya. Ia hanya melirik sedikit saja. &#8220;Kalau naik bus barangkali bisa dikejar juga ongkosnya. Makanan, Saudara bawa saja dari rumah.&#8221; Usaha saya berhasil, perlahan-lahan tatapan matanya bertambah tajam pada saya. Malah sedikit senyum yang jernih mengembang pula.</p>
<p>&#8220;Berapa kira-kira,&#8221; tanyanya harap-harap cemas. &#8220;Berapa kira-kira ongkosnya semua sampai kembali lagi ke Jakarta?&#8221;</p>
<p>&#8220;Saya kira, yaaa, saya kira seratus rupiah cukup.&#8221;</p>
<p>&#8220;Seratus?&#8221; ulangnya perlahan sambil berpikir keras, lalu mukanya dihiasi senyum lagi. Dipegangnya tangan saya, &#8220;Mau Bung membantu saya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Mau!&#8221; jawab saya kontan. Tentu saya harus bersedia membantu dia karena sejak tadi kerja saya hanya membuat ia kecil hati, sedih, atau tersinggung.</p>
<p>&#8220;Bagaimana? Katakanlah!&#8221;</p>
<p>&#8220;Saya punya sepasang sepatu dan satu celana wol yang jarang sekali ada gunanya buat saya. Tolong kaujualkan ke tukang loak. Saya malu menjualnya.&#8221; Saya sangat terkejut, Dukawan tidak melihat. &#8220;Saya kira akan laku semua itu seratus perak. Cocok dengan ongkos yang diperlukan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Mampuslah kau!&#8221; bisik saya dalam hati pada diri sendiri. Tetapi saya sudah menyatakan bersedia membantu. Besok sorenya saya suruh si Sarpan, tukang becak kenalan saya untuk membawa celana wol dan sepatu Dukawan ke pasar loak di Gang Jagal. Saya menunggu saja di ujung gang.</p>
<p>Semua harta-harta Dukawan laku Rp 97,50. Saya beri Sarpan seringgit sebagai upah. Lalu saya tambah dari kantong sendiri Rp 5,00 maka genaplah jumlah yang dibutuhkan A. Indra Dukawan. Senang hatinya. Rasanya cukup terbalas juga segala kesalahan saya membuat ia terus-menerus duka tempo hari itu. Tetapi saya harus berbuat sesuatu yang lebih baik lagi. Dia tidak boleh meneruskan rencana mengajak gadis kecintaan pergi ke Puncak dengan naik bus dan membawa makanan dari rumah. Pasti ia akan ditertawai habis-habisan. Tentu hal itu akan terasa jauh lebih pedih daripada sekadar disangka jadi OKD.</p>
<p>&#8220;Kenapa Saudara harus bersusah-payah menyaingi si Achmad yang otaknya kosong itu? Tidak tepat kalau jalan yang kita ambil adalah justru apa yang padanya lebih kuat,&#8221; kata saya dengan tekanan-tekanan yang amat sungguh-sungguh meyakinkan.</p>
<p>&#8220;Apa maksud Bung? Diam-diam saja seperti yang sudah-sudah?&#8221;</p>
<p>&#8220;Bukan. Nyatakan cinta Bung itu dengan kesanggupan yang ada pada Saudara, mengarang. Kesanggupan yang pasti lebih daripada si Achmad yang kepalanyakosong itu. Dengan uang seratus ini belilah kertas dan karbon ketengan dan pita mesin ketik. Bikin cerita atau sajak. Persembahkn kepada kekasih itu.&#8221;</p>
<p>A. Indra Dukawan terdiam mendengar usul saya itu, ia berpikir dan berpikir.</p>
<p>&#8220;Betul juga,&#8221; katanya kemudian. &#8220;Dia tidak boleh jatuh pada saya karena saya dikiranya kaya, tapi harus karena kagum akan kesanggupan saya, pada bakat saya, pada cita-cita saya&#8230;.&#8221;</p>
<p>Sebulan kemudian, kami ketemu lagi di Pasar Senen, di samping warung si Kecil, warung Cina yang menjual buah dingin. Disodorkannya selembar majalah yang dilipat terbuka pada bagian yang memuat tulisan Dukawan. Hampir saya berteriak gembira melihatnya. Betapa tidak? Setahu saya, itulah tulisan Dukawan yang pertama, yang berhasil diterima oleh majalah, dan itu terjadi karena dorongan saya.</p>
<p>&#8220;Kapan ini dimuat, Bung?&#8221; tanya saya dengan sungguh-sungguh gembira.</p>
<p>&#8220;Seminggu yang lalu,&#8221; jawabnya sambil tersenyum sedikit, lalu agak menunduk, &#8220;Maaf, uang honorariumnya sudah habis buat beli obat, tidak bisa mentraktir Bung.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aaah, tidak apa. Sungguh mati tidak apa-apa.&#8221;</p>
<p>Di bawah kepala karangan itu tertulis &#8220;untuk si jantung hati, Rina&#8221;.</p>
<p>&#8220;Rina nama gadis itu, Bung?&#8221; tanya saya sambil agak tersenyum nakal, mengajak sedikit bercanda. Dukawan hanya mengangguk kecil saja. &#8220;Jadi, apa katanya? Dan bagaimana kata orang-orang kampung setelah mereka tahu bahwa Bung seorang pengarang?&#8221;</p>
<p>&#8220;Rupanya pengarang tidak boleh tinggal di kampung,&#8221; tukasnya dengan nada jengkel, &#8220;Mereka tidak bisa menghargai seni! Tambah buruk lagi pandangan mereka terhadap saya sekarang. Katanya tukang karang adalah tukang bohong, tukang berhutang. Memang sulit.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tetapi, Bung jangan mundur!&#8221; nasihat saya yang kembali merasa terbakar dan jatuh kasihan pada Dukawan yang melamun saja sambil menggulung-gulung majalah di tangannya. &#8220;Masing-masing orang punya bakat sendiri-sendiri. Dan bakat yang jarang pada manusia ini jangan dibikin urung hanya karena pandangan orang kampung saja.&#8221;</p>
<p>Dukawan tidak segera memberi reaksi. Ia berpikir dan berpikir. Sesudah saya sodori rokok, barulah ia ada napsu untuk bicara. &#8220;Memang, saya tidak boleh mundur hanya karena si Rina tidak mau sama saya. Bung benar, masing-masing orang punya bakat sendiri-sendiri, betul. Mau menolong saya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tentu. Saya akan tolong Bung sebisa-bisanya agar terus menjadi pengarang yang hebat!&#8221; jawab saya penuh napsu. &#8220;Biar orang-orang kampung itu tahu bahwa mereka orang bodoh. Biar mereka betul-betul menyesal nanti karena menghina Bung, sekarang. Bagaimana, tolong bagaimana?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kertas tik saya sudah habis,&#8221; jawab Dukawan segera, &#8220;Saya masih punya barang yang kira-kira bisa laku Rp 45,00. Mau tolong menjualkannya ke tukang loak?&#8221;</p>
<p>Masing-masing orang punya bakat sendiri-sendiri, memang, dan bakat saya menurut penglihatan A. Indra Dukawan rupanya adalah bakat untuk berurusan dengan tukang loak.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p style="text-align: left;"><a href="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2012/04/KeadjaibanDiPasarSenen.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1194" title="KeadjaibanDiPasarSenen" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2012/04/KeadjaibanDiPasarSenen-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: left;"><span style="font-size: 90%;"><span style="font-family: trebuchet ms;">Cerita pendek ini saya ketik ulang dari buku kumpulan cerpen <strong><em>Keadjaiban Pasar Senen</em></strong> (Pustaka Jaya, Tjetakan Pertama 1971), dengan mengubah ejaan lamanya menjadi EYD, beberapa hari sesudah mendengar kabar <a href="http://filmindonesia.or.id/post/misbach-jusa-biran-sejarah-adalah-ilmu" target="_blank"><strong>Misbach Jusa Biran telah berpulang</strong></a>. Buku ini satu dari sedikit buku kumpulan cerita pengarang Indonesia yang saya letakkan khusus di samping ranjang untuk dibaca lagi dan lagi hampir tiap malam menjelang tidur, bergantian dengan <em>Impian Amerika</em> karya Kuntowijoyo (1998). Kedua buku itu, dengan caranya sendiri, selalu berhasil memompa semangat saya untuk kembali bangun keesokan harinya dengan percaya hidup ini memang seru dan lucu. <em>Urip mung mampir ngguyu</em>.</span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/cerpen-favorit-kalau-bung-seniman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ira Hamil Lima Hari</title>
		<link>http://budiwarsito.net/ira-hamil-lima-hari/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/ira-hamil-lima-hari/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Feb 2012 14:12:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Rupa-rupa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=1055</guid>
		<description><![CDATA[. Berhubung hari ini tanggalnya istimewa, yakni 21-02-2012, dan itu angka palindrome yang tidak akan terulang lagi tahun depan, maka saya repost di sini satu tulisan iseng blog lama saya soal itu. Cekidot. Senin, 4 April, 2005 ::: palindrome! Ini berawal dari Badu yang mampir ke blogombal Mas Kere Sukemplu, dan suatu saat mendapati dirinya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2012/03/Palindromes.jpg"><img class="aligncenter wp-image-1061" title="Palindromes" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2012/03/Palindromes.jpg" alt="" width="466" height="320" /></a><span style="color: #ffffff;">.</span></p>
<p><em>Berhubung hari ini tanggalnya istimewa, yakni <strong>21-02-2012</strong>, dan itu angka <strong>palindrome</strong> yang tidak akan terulang lagi tahun depan, maka saya repost di sini satu tulisan iseng blog lama saya soal itu. Cekidot.</em></p>
<p>Senin, 4 April, 2005<br />
<strong>::: palindrome!</strong></p>
<p>Ini berawal dari Badu yang mampir ke blogombal <a href="http://gombal.blogdrive.com/" target="_blank"><strong>Mas Kere Sukemplu</strong></a>, dan suatu saat mendapati dirinya adalah pengunjung ke-39493. &#8220;Aah, palindrome,&#8221; batin saya waktu itu. Yeah, Badu mengangguk, seolah bisa membaca pikiran saya. Lalu semacam flashback: saya ingat masa kanak, ketika seorang Budi kecil tercenung membaca merk sabun colek OMO, yang dibeli Ibu dari warung sebelah. &#8220;Bu, lihat merk itu! Kalau dibaca dari belakang pun tetap &#8216;<strong>OMO</strong>&#8216;! Hebat ya?&#8221; Ibu diam saja, tapi tetap tersenyum&#8212;mungkin sambil membatin, &#8220;Hebatnya opo to, Le? Wong cuma gitu aja kok.&#8221; <span id="more-1055"></span>Juga ingatan ketika saya dan teman-teman ramai-ramai membaca komik lokal murahan dengan antusias di sekolah (kelas 2 SD Inpres di sebuah kota kecil), dan mendapati halaman terakhir sambil mendesah kecewa, &#8220;Yaah, kok udah tamat sih?&#8221; Tapi saya melihat sesuatu, dan berteriak semangat, &#8220;Hey, kata <strong>&#8216;TAMAT</strong>&#8216; kalau dibaca terbalik dari belakang tetap saja terbaca &#8216;<strong>TAMAT</strong>&#8216;! Hebaaat!!&#8221;&#8212;dan tak ada satu pun teman yang mendukung ketertarikan saya itu. &#8220;Biasa aja, ah!&#8221; demikian selalu kata mereka, sambil berhamburan keluar begitu lonceng tanda pulang berbunyi.</p>
<p>Baiklah, baiklah. Tak ada yang peduli. Tapi saya peduli. Sepulang dari sekolah, saya bisa menghabiskan waktu sesorean (kadang sampai malam) hanya untuk menemukan &#8220;susunan kata atau kalimat yang jika dieja dari belakang tetap terbaca sama&#8221;. Tentu saja kala itu saya belum tahu namanya <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Palindrome" target="_blank"><strong>palindrome</strong></a>. Mulai dari yang sangat sederhana: bunyi kentut (&#8216;<strong>Tuut</strong>&#8216;), sifat orang yang kata Ibu kurang bagus (&#8216;<strong>iri</strong>&#8216; dan &#8216;<strong>sinis</strong>&#8216;), sampai merk permen kesukaan yang lengket di gigi (&#8216;<strong>Sugus</strong>&#8216;). Juga nama-nama orang: tetangga depan rumah saya persis, namanya <strong>Anna</strong>; dan di gang sebelah ada yang namanya <strong>Totot</strong>. Begitu naik ke kelas 3, saya mulai mendapat mata pelajaran IPS alias Ilmu Pengetahuan Sosial (ehm, dari situ saya baru tahu bahwa di Indonesia ini ada suku lain selain Jawa), dan yeah, saya menemukan nama <strong>Nababan</strong>!</p>
<p>Saya ingat betul, hobi baru itu bikin saya lupa waktu. Lupa belajar, lupa bikin PR (terutama Tugas Prakarya, yang memang saya benci setengah mati karena susahnya suka keterlaluan!). Lupa main kasti bareng teman sekompleks. Lupa mengaji. Pokoknya lupa segalanya. Sampai-sampai Ibu mengingatkan, &#8220;Makan dulu, Le&#8230;&#8221; Jawaban saya malah, &#8220;Hmm, &#8216;makan&#8217;? Nggak, Bu! Itu nggak bisa! Kalo &#8216;<strong>makam</strong>&#8216;&#8230; nah, itu baru bisa!&#8221; Saya tidak tahu apakah sejak saat itu Ibu mulai khawatir saya tidak akan naik kelas.</p>
<p>Kelas 4 SD (haa, berarti saya naik!), saya menemukan frase &#8220;<strong>kasur rusak</strong>&#8220;. Saya senang sekali, karena bisa menemukan susunan lebih dari 1 kata. Kelas 5 SD, Maya, teman sekelas yang paling cantik, merayakan ulang tahun ke-10. Saya memberanikan diri memberinya kado berupa celengan ayam dari tanah liat. Bukan karena pengen mengajak dia untuk ikut Gerakan Nasional Gemar Menabung, melainkan supaya saya bisa melampirkan kartu ucapan bertuliskan &#8220;<strong>Maya, ini ayam</strong>.&#8221; plus gambar panah terbalik dan tulisan NB: &#8216;Coba kamu baca dari belakang&#8217;. Saya bangga bukan main atas kejeniusan saya itu, meski Maya ternyata malah bersikap biasa saja.</p>
<p>Kelas 1 SMP, saya menemukan susunan 4 kata, &#8220;<strong>Ira hamil lima hari</strong>&#8220;. Ini mulai keterlaluan. Ketika saya tunjukkan ke Ira, yang pintar dan juara umum, yang saya dapatkan malah muka cemberut. Mungkin dia pikir saya ini siswa bodoh yang aneh, nakal, tak pantas belajar satu sekolah dengannya. Kelas 3 SMP, ketika kebiasaan melamun saya makin menjadi-jadi, bersama imaginary friend saya, seorang bajak laut bernama Sersan Jab (figurnya mirip Kapten Hook, tapi kait besinya bukan di tangan, melainkan di kaki; sedangkan saya sendiri adalah Sinbud si Pelaut), kami berlayar ke Negeri Dongeng, bertualang melawan monster laut yang ganas demi mencari harta karun, menggunakan kapal rakit istimewa. Istimewa? Ya, karena ini &#8220;<strong>rakit idaman, ada nama di tikar</strong>&#8220;. Yeah!</p>
<p>Itu kenangan masa kecil. Saya kemudian tahu, bahwa memang ada fenomena kata seperti itu. Ya itu tadi, namanya palindrome. Di bahasa Inggris saya menemukan ruang gerak yang lebih bebas, dengan peluang jauh lebih besar. Saya sering terheran-heran dengan keisengan orang-orang Barat ini (keisengan yang jenius, atau kejeniusan yang iseng?). Para pekerja film di Hollywood sudah menemukan palindrome kata-kata kesal seperti (silakan cek, baca dari belakang!), &#8220;<strong>Dammit, I&#8217;m mad!</strong>&#8220;, atau &#8220;<strong>Here so long? No loser, eh?</strong>&#8221; Lalu jawaban ngawur dari pihak manajemen artisnya, &#8220;<strong>No, Mel Gibson is a casino&#8217;s big lemon</strong>.&#8221; Ada juga palindrome di kancah politik internasional, &#8220;<strong>Star comedy by Democrats</strong>&#8220;. Atau SMS dari Kompleks Neraka Blok 7 a.k.a. Jahanam, &#8220;<strong>Devil Natasha, ah, Satan lived</strong>!&#8221; Atau cewek-cewek seksi nan polos yang beraksi eksibisionis, menatap sayu ke kamera sambil mendesah, &#8220;<strong>Oh, cameras are macho&#8230;</strong>&#8221; (Haha, bisa-bisanya <a href="http://garingbasi.blogsome.com/2005/04/01/religius/" target="_blank"><strong>Mas Garing Subasi</strong></a> menyebutnya sebagai genre film religius! Kalo yang ini religius nggak Mas, &#8220;<strong>A Santa lived as a devil at NASA</strong>&#8220;?)</p>
<p>Yang paling gila, mungkin adalah karya <a href="http://kirjasto.sci.fi/perec.htm" target="_blank"><strong>George Perec</strong></a> (1936-1982), berjudul &#8220;ça ne va pas sans dire&#8221;, yang disebut-sebut sebagai salah satu palindrome terpanjang di masanya yang pernah ditulis manusia, terdiri dari sekitar 5.000 kata! Astaga, LIMA RIBU KATA! Sinting! Tapi dia memang tergabung di <a href="http://www.nous.org.uk/oulipo.html" target="_blank"><strong>Oulipo</strong></a> (Ouvrier de Littérature Potentielle, atau Workshop of Potential Literature), sebuah komunitas penulis-penulis &#8220;sinting&#8221; di Paris. Ini semacam laboratorium struktur literer yang menghidupkan bentuk-bentuk sastra lama dan mencari bentuk-bentuk sastra baru yang yang tumbuh dari sejumlah algoritma. Karya-karya mereka unik, ganjil, ajaib. Salah satu anggotanya yang terkenal adalah <a href="http://kirjasto.sci.fi/calvino.htm" target="_blank"><strong>Italo Calvino</strong></a> (1923-1985), yang selalu Badu yakini sebagai <a href="http://budibadabadu.blogspot.com/2005/02/in-mood-for-laugh.html" target="_blank"><strong>alien</strong></a>.</p>
<p>Udah ah, saya pamit dulu. <strong>Yo wis, si woy</strong>!</p>
<p><strong>Don&#8217;t nod</strong>.<br />
(yeah, palindrome sampai akhir!)</p>
<p style="text-align: right;"><a href="http://budibadabadu.blogspot.com/2005/04/palindrome.html" target="_blank"><strong>budibadabadu</strong></a> © 2005</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p><span style="font-size: 90%;"><span style="font-family: trebuchet ms;">Demikianlah. Gambar ilustrasi dicomot dari buku Jon Agee, <em>Palindromania</em>. Oya, sedikit promosi, buku-buku fiksi dan nonfiksi karya Georges Perec dan Italo Calvino ada banyak di perpustakaan saya, <a href="http://kineruku.com" target="_blank"><strong>Kineruku</strong></a>.</span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/ira-hamil-lima-hari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengenang Suwargi Pak Chaplin</title>
		<link>http://budiwarsito.net/mengenang-suwargi-pak-chaplin/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/mengenang-suwargi-pak-chaplin/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Dec 2011 20:33:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=558</guid>
		<description><![CDATA[. Tepat di hari Natal 34 tahun lalu, Chaplin meninggal dunia. Usianya 88 tahun. Tapi karyanya bakal tetap hidup seribu tahun lagi. Saya menemukan ini di buku harian saya, corat-coret 7 tahun lalu. Terasa naif di sana-sini. Maklum, masih muda. Ini dia. *tutup muka* Thursday &#124; September 16, 2004 &#124; 01:36 AM &#8220;Buck up &#8211; [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/02/CC11.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-604" title="CC1!" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/02/CC11.jpg" alt="" width="435" height="336" /></a></p>
<p><span style="color: #ffffff;">.</span><br />
Tepat di hari Natal 34 tahun lalu, Chaplin meninggal dunia. Usianya 88 tahun. Tapi karyanya bakal tetap hidup seribu tahun lagi. Saya menemukan ini di buku harian saya, corat-coret 7 tahun lalu. Terasa naif di sana-sini. Maklum, masih muda. Ini dia. *tutup muka*</p>
<blockquote style="text-align: left;"><p><em>Thursday | September 16, 2004 | 01:36 AM</em></p>
<p><em>&#8220;Buck up &#8211; never say die! We&#8217;ll get along.&#8221;<br />
(Modern Times’ closing intertitle. Charles Chaplin. USA. 1936)</em></p>
<p><em>Kampus J. adalah kampus terik gersang nggak mutu. Minggu lalu harus ke sana untuk sebuah keperluan: diundang berbicara di acara pemutaran film dan diskusi dalam rangka penerimaan mahasiswa baru. Bercucuran keringat ke sana, naik Jupe dibakar matahari, diasapi bis Damri. Sesampainya di lokasi, sempat minum teh-botol-dingin-menyegarkan di kantin Sastra, mendaftar kembali film apa saja di tas (waduh, DVD Man Bites Dog nyelip di mana ya?), kirim SMS sana sini (”halo-hai-saya-sudah-sampai-nih”), mengecek buku agenda, meraut pensil bujel kesayangan, Tyler (?) iseng mencoba menghitung jumlah pohon, sampai akhirnya seorang panitia datang juga menjemput. Astaga, masih muda banget (punten-kang-terlambat-dan-sebagainya-aku-sih-tersenyum-simpul-saja). Baik, baik. Tidak apa. Kami naik ke lantai dua. Tajuk acara kecil-kecilan itu kurang lebih: Chaplin, Film, dan Sejarah. Hmmm.</em><span id="more-558"></span></p>
<p><em>Panitia sempat mengajukan pilihan untuk memutar film Chaplin yang mana: The Circus (1928), atau The Kid (1925). Bahkan di layar proyektor (belakangan baru tahu mereka menyewanya dari Ruku!) sudah tersorot gambar potongan beberapa scene dari dua film itu. Tapi aku keberatan. Kupikir bukan dua-duanya. The Circus memang kental nuansa komedinya, sebuah jalan pintas yang tepat untuk berkenalan dengan karya-karya jenius Chaplin. (Adegan berjalan-di-atas-tali-digangguin-monyet-dan-celana-melorot di film itu, what a brilliant tightrope sequence!) Sementara The Kid bolehlah populer karena hubungan emosionalnya dengan si kecil Jackie yang sangat menyentuh. (Adegan penyelamatan yang heroik dan dramatis di akhir film itu—diputar kembali di malam Academy Award, Los Angeles, April 1972 when 83-year-old-Chaplin was invited to return to America to receive a special Oscar—masih saja membuatku merinding dan berkaca-kaca setiap kali menontonnya.) Tapi ngomongin Chaplin dalam konteks sejarah dunia (termasuk sinema), jelas lebih tepat jika memakai film Modern Times (1936). Ini bukan sekadar film komedi, Bung. Ini potret sosial yang jeli, sarat dengan satir. Dari film itu kita bisa membahas banyak hal: mekanisasi pabrik-pabrik dan dehumanisasi pekerja, perkembangan teknologi film (silent vs. talkie), kelas-kelas sosial masyarakat Amerika di era Depresi, perkembangan ideologi dunia, dsb, dsb. (Well, memang ada The Great Dictator (1940) yang memparodikan Hitler dan fasisme—yang tentu saja bisa memancing diskusi politik yang lebih seru—tapi ada masalah durasi yang terlalu panjang, dan hey, there’s no little tramp our little fellow there!) Dan tentu saja, di film Modern Times masih tetap bertaburan ketrampilan fisik khas Chaplin: pameran ketangkasan jasmani yang memukau, dengan pengaturan timing yang sempurna—hurts and humor, hard works and hard-knocks, it’s all there! Semuanya dirangkai dalam plot cerita yang logis dan rapi, in a really careful display. Setelah mempertimbangkan segala masukan (atau paksaan?) itu, panitia mau nggak mau akhirnya setuju.</em></p>
<p><em>Acara dimulai. Senyum-senyum melihat mahasiwa-mahasiswa baru masuk ruangan, beberapa tampak ragu-ragu dan malu-malu. Tyler (?) berbisik ke telingaku, “Hehe, coba kalo mereka tau elo juga angk-…” Ucapannya terpotong sodokan sikutku ke perutnya. Tyler (?) mesti diam meski dia tak suka Chaplin. (“I prefer Keaton,” he once said. “..or Lloyd.”) Whatever, Tyler (?), just keep your mouth shut. De gustibus non est disputandum. Di ruangan yang lantainya berundak-undak itu, aku memilih duduk di pojok. Lampu dimatikan, film diputar. Masih saja tergetar menatap opening title berupa jam besar dan musik pengiringnya yang terasa betul menampar-nampar hati&#8230; Melemparku kembali ke sebuah kamar sempit di Shinjuku, saat pertama kali menonton film ini bertahun-tahun silam&#8230; (&#8220;Kudamono ga doko desu ka?&#8221; Tokyo-dingin-sekali, dan sepi-menggelembung-seperti-babi. Yeah, right.) &#8230; Cahaya-berpendar-pendar-tak-rata, Chaplin beraksi, garis-semburat-tanda-tlah-lama, penonton tergelak-gelak, panitia meringis sesekali&#8230; oh oh, benar-benar hitam-putih yang seksi!</em></p>
<p><em>Di sesi diskusi, aku dan <a href="http://wulandari-photostory.blogspot.com/" target="_blank"><strong>Maneka</strong></a>—teman baik sesama penggemar Chaplin yang juga diundang berbicara—bergantian menjelaskan simbol-simbol di film itu. I said like City Lights (another Chaplin’s masterpiece in the talkies-era, 1931), Modern Times was to be essentially a silent film with sound effects and a musical score … We talked about the Great Depression and the new problems of the 1930s—poverty and unemployments (“We’re not burglars. We’re hungry.”); the tyranny of the machine (one of the most memorable film scenes of all time: Chaplin getting caught up in the cogs of a giant machine, haha), strikes and political intolerance (the red flag, anyone?), even narcotics (Chaplin-getting-high-in-jail is a very funny sequence!) … Maneka quoted Barthes to approach the proletarian theme. She admired the smart opening scene (a very cynical one, actually), a symbolic juxtaposition of shots of sheep being herded and of workers streaming out of a factory… Blah blah blah… Mulut kami berbusa-busa. (Ternyata siaran di radio dan ngomong langsung di depan audiens adalah dua hal yang sama sekali berbeda.)</em></p>
<p><em>Kampus J. benar-benar panas, terik gersang nggak mutu. (Senang juga ketika mereka cerita salah satu program ospek mereka adalah menanam pohon-pohon di kampus. Langsung terkenang kampus rindang G. yang pernah aku akrabi.. all right you sentimental prick!) Kami lalu mendapat sekotak konsumsi, meneguk air mineral, dan melanjutkan ocehan. Berikutnya benar-benar ke mana-mana&#8230; Bahwa Chaplin pernah ke Bandung dan nginep di Savoy-Homann (sempat menimbulkan kericuhan hingga terpaksa didatangkan Chaplin palsu dari seniman jalan Braga untuk mengecoh massa yang histeris). Bahwa Chaplin dituduh komunis dan diusir dari Amerika. Bahwa Chaplin adalah womanizer (uhuk-uhuk!). Bahwa Chaplin pernah ke Candi Prambanan dan tersentuh saat melihat pertunjukan Sendratari Ramayana. Bahwa Jojon-Asmuni-Gogon adalah sekumpulan epigon yang gagal, Chaplin-wannabes yang ampun-deh-muke-lu-jauuh! Gosip-gosip-nggak-mutu bahwa Che Guevara (!) pernah ke Indonesia, dan Hitler (!!) hidup lama bersembunyi di Lombok. Astaga. Astaga. Kok jauh amat melencengnya? Lalu seseorang ngacung dan bertanya, soal kumis Chaplin dan Hitler, siapa meniru siapa? Waduh, nggak ada pertanyaan lain, apa? Tapi lucu juga sih. I said both had chosen to wear similar moustaches, even if only one of them was real… Well, Chaplin dan Hitler memang banyak kemiripan sih. Mereka lahir hanya selisih empat hari (!) pada April 1889. What a coincidence! Keduanya pun sama-sama mengalami masa kecil yang suram, sama-sama bergulat melawan kemiskinan, until they reached great success in their different respective fields—perhaps the best loved and the most hated men in the world. Maneka lalu menyambung, blah blah blah…</em></p>
<p><em>Acara selesai, dan sewaktu pulang, baru sadar kalau di luar turun hujan. Baiklah, kalo tadi berangkat kepanasan, sekarang pulang pun harus kehujanan. Kota ini memang aneh. Tapi aku menikmatinya, sementara Tyler (?) terus saja menggerutu. Ini perjalanan pulang yang seru: Timbuktu ke arah Barat, waktu itu sudah sore, senja kemerahan dan matahari kuning bulat. Persis sekali adegan terakhir film-film Chaplin: gelandangan itu berjalan ke arah horizon. Artinya, sesial apapun hari ini, masih ada secercah harap esok hari. Ya, ya, ya, Chaplin selalu mengajariku soal optimisme. Tiba-tiba teringat Tuan Polan, di mana dia sekarang ya? Dia benar-benar harus menonton film ini!</em></p>
<p><em><br />
</em></p></blockquote>
<p><strong>Damai di sana, Pak Chaplin. Gusti Allah mberkahi.</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/mengenang-suwargi-pak-chaplin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Orang Sial jang Menemukan Saxofon</title>
		<link>http://budiwarsito.net/orang-sial-jang-menemukan-saxofon/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/orang-sial-jang-menemukan-saxofon/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Dec 2011 05:18:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Rupa-rupa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=1000</guid>
		<description><![CDATA[. Di saat yang hampir berbarengan dengan seorang kawan baik menuliskan pengamatannya yang jeli tentang tren saksofon di kancah musik populer 2011, saya membuka-buka koleksi majalah tua saya yang menumpuk di gudang dan menemukan sesuatu. Majalah Intisari no. 52, Nopember [sic] 1967 memuat artikel lima halaman tentang sejarah penemuan saksofon. Ceritanya seru dan mengundang rasa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2012/03/Adolphe-Sax-di-Intisari-52-Nopember-1967.jpg"><img class="aligncenter wp-image-1101" title="Adolphe Sax di Intisari 52, Nopember 1967" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2012/03/Adolphe-Sax-di-Intisari-52-Nopember-1967.jpg" alt="" width="432" height="324" /></a><span style="color: #ffffff;">.</span></p>
<p>Di saat yang hampir berbarengan dengan seorang kawan baik menuliskan pengamatannya yang jeli tentang <a href="http://madahbakti.blogspot.com/2011/12/2011-tahun-saxophone.html" target="_blank"><strong>tren saksofon di kancah musik populer 2011</strong></a>, saya membuka-buka koleksi majalah tua saya yang menumpuk di gudang dan menemukan sesuatu. Majalah <em>Intisari</em> no. 52, Nopember [sic] 1967 memuat artikel lima halaman tentang sejarah penemuan saksofon. Ceritanya seru dan mengundang rasa haru. Penuh semangat saya mengetiknya ulang&#8212;secara manual, bukan memindainya dengan perangkat lunak tertentu&#8212;untuk di-<em>post</em> di sini. Saya sengaja mempertahankan ejaan lamanya. Eh, maksud saya: Saja sengadja mempertahankan edjaan lamanja. Selamat membatja.<span id="more-1000"></span></p>
<h1 style="text-align: center;"><strong><span style="font-family: times new roman;">ORANG SIAL JANG MENEMUKAN SAXOFON</span></strong></h1>
<p><span style="font-family: times new roman; font-size: small;">— DJUARA DALAM MENDAPAT KETJELAKAAN<br />
— TUSUKAN PENITI JG MENENTUKAN<br />
— KLARINET KAJU DAN EMAS BEDAKAH SUARANJA?</span></p>
<p>Seorang kritikus musik bangsa Perantjis sedang ngobrol dengan kawan2nja tentang Adolphe Sax, penemu Saxofon. Mereka menjebutkan kemalangan2 jang menimpa orang itu sedjak ketjil sampai usia 30 tahun. Tetapi kritikus itu pada achirnja memberi komentar: “Kalian lupa akan ketjelakaannja jang terbesar !” Semua kawan2 memandangnja dengan mata bertanja. “Jaitu bahwa ia pernah menemukan alat musik itu”. Memang sampai achir hidupnja Sax banjak menderita karena penemuannja itu.</p>
<p><strong>Ramalan jang suram</strong><br />
Satu tahun sebelum pertempuran Waterloo (1815) lahirlah Adolph Sax dikota Dinant, jang terletak dipinggir sungai Maas di Belgi… Ajahnja seorang tukang membuat alat2 musik membuka bengkel di Brussel. Alat2 musiknja tjukup terkenal disana. Dari ajahnja itulah Adolphe mendapat keahlian membuat instrumen dan djuga pengetahuan jang mendalam tentang musik.</p>
<p>Ibunja kerapkali berkata : “Adolphe tidak akan hidup lama”. Utjapan itu bisa dimengerti kalau orang mengingat betapa hidup Adolphe penuh dengan kemalangan. Ketika hampir berumur 2 tahun, Adolphe menggelinding djatuh dari tingkat tiga lewat tangga dan kepalanja membentur batu. Tidak lama kemudian ia sudah tjukup kuat untuk menelan sebuah peniti, dan duduk diatas tungku sehingga lambungnja terbakar setjara mengerikan.</p>
<p>Pengalaman jang pahit ini tidak mampu mengekang anak jang bandel itu untuk selalu mentjoba2. Ketika ia berumur 3 tahun Adolphe minum asam belerang timah sari jang dikiranja susu. Hanja dengan disuapi banjak minjak, ususnja berhasil dibasuh dari ratjun jang berbahaja itu. Tetapi setelah sembuh ketjelakaan lain menerkamnja lagi. Ia main2 dengan mesiu bedil dan terluka karena terbakar. Kemudian ia berulang2 kena ratjun, seperti ratjun timah, kuningan dan warangan.</p>
<p>Suatu hari orang mengeringkan medja-kursi jang baru sadja dipernis dalam kamar Adolphe. Ketika ia tidur barang2 itu lupa dikeluarkan, sehingga paginja anak jang malang itu kedapatan lemas dirandjangnja kehabisan napas. Segalanja itu seolah-olah belum tjukup menjiksa hidup jang masih muda itu. Suatu hari sebuah batu djatuh dari atap tepat pada kepalanja, sehingga seumur hidupnja Adolphe menderita tjatjat karenanja, meski pikirannja jang gesit tak sedikitpun terpengaruh. Kemudian ketika bermain dengan teman2 ia djatuh kesungai dan tentu tertelan pusaran pintu air seandainja pada saat terachir tidak ada tangan penolong menjambarnja.</p>
<p>Itulah latar belakang dari ramalan ibunja jang suram itu. Seakan2 kemalangan itu belum tjukup pada umur 40 tahun ia diserang kanker pada bibirnja, namun Adolphe berhasil mentjapai usia 80 tahun. Dan setelah dewasa hidupnja tidak terantjam oleh keratjunan timah, ataupun warangan lagi, tetapi ada ratjun2 lain jang selalu mengganggunja: fitnah2 serta tuduhan.</p>
<p><strong>Kemenangan klarinet jang bolong</strong><br />
Saxofon bukanlah instrumen tunggal. Keluarga saxofon terdiri dari : saxofon sopran, alt, tenor, bariton dan bas. Semua memakai nama Saxofon. Pembuatan serta sifat2njapun tidak djauh berbeda. Tetapi tjoba bandingkan saxofon sopran dengan saxofon bas. Seperti baji dengan orang dewasa. Begitu djuga perbandingan suaranja.</p>
<p>Bagaimana asal mula Sax mentjiptakan alat2 itu ? Suatu hari sedang memainkan klarinetnja ia memutuskan hendak memperbaikinja. Ia selalu tidak puas dengan suaranja. Ia mentjoba2. Bas-klarinetnja di bolongi sebesar tusukan peniti. Lalu ditiupnja lagi. Sax jang muda itu melondjak kegirangan. Eksperimennja berhasil.</p>
<p>Dengan semangat Adolphe menundjukkan penemuannja itu pada dirigen orkes Philharmonis di Brussel. Ia diterima baik dan ditawari supaja memainkan alatnja jang baru itu dalam orkes tersebut. Tetapi seorang pemain klarinet pertama bentji melihat Sax jang begitu muda dan begitu pertjaja pada kemampuannja sendiri. Ia mengantjam akan keluar bila orkes jang sampai waktu itu begitu baik namanja direndahkan oleh masuknja seorang murid jang konjol.</p>
<p>Sax tidak putus asa. Ia menantang pemain itu untuk bertanding setjara terbuka. Pemain musik jang kenamaan itu dengan klarinetnja jang biasa, sedang ia akan memakai klarinetnja jang bolong. “Akan saja lumatkan dia seperti seekor lalat” begitu kata pemain klarinet itu dengan sombongnja. Tetapi 4000 orang penonton jang menghadiri pertandingan itu mengakui bahwa ia dikalahkan setjara mentjolok oleh pendatang baru jang pembrani itu. Pendidikan Sax disini membuktikan kegunaannja ! Tidak sia2 ia telah beladjar meniup alat2 musik.</p>
<p><strong>Long March 300 km.</strong><br />
Mana jang lebih indah suaranja : klarinet emas atau klarinet kaju ? Tentu banjak diantara anda jang mengira bahwa klarinet emaslah jang lebih unggul. Tetapi tidak demikian pendapat Adolphe Sax jang menjelesaikan penemuannja pada 27 tahun.</p>
<p>“Pada alat musik-tiup tinggi rendahnja nada ditentukan oleh pandjangnja kolom udara jang bergetar dalam bedjana instrumen itu. Bahan darimana bedjana itu dibuat samasekali tidak mempengaruhi nada suara”. Begitulah asas pertama jang mendasari penemuan Sax. Suatu asas jang memantjing ketidakpertjajaan banjak lawan2nja.</p>
<p>Untuk membuktikan thesisnja itu ia membangun sebuah klarinet kuningan. Suaranja samasekali tidak berbeda dari klarinet kaju jang biasa digunakan waktu itu. Dhadi bahan dari bedjana itu tidak mendjadi soal, asal ukuran2nja samasekali sama, demikian djuga permukaannja haruslah sama halusnja. Selain itu dengan pertjobaan ini ia djuga membuktikan bahwa peranan bahan pada alat tiup tidak sama pada instrumen gesek. Pada biola misalnja, rongga badannja merupakan basis suara jang memperbesar getaran tali2nja, maka dasar suara itu mempengaruhi rona nadanja.</p>
<p>Pertimbangan2 ini membawa Sax kepada asas jang kedua. “Supaja kolom udara dalam bedjana itu bergetar dengan bebas, maka pada instrumen tiup bedjana itu semakin mendekati udjung haruslah semakin besar. Demikian djuga mengenai lubang2 nadanja.</p>
<p>Kalau seruling dan klarinet dimana2 pada tubuhnja sama besar, maka pada penampang bedjana saxofon alat jang pada bagian mulut hanja sebesar 2 milimeter pada tjorong makin membesar sampai 10 kali lipat. Ini memberikan bentuk jang chas: tubuh jang rundjung makin ke udjung makin menggembung. Tetapi djuga menjebabkan saxofon memiliki “suara manusia” dan luwes untuk dimainkan.</p>
<p>Sax berumur 28 tahun ketika ia mengemasi instrumennja, mengantongi uang sebanjak 7 dollar dan berangkat ke Paris. Djalan kaki 300 km untuk menjiarkan penemuannja kepada dunia.</p>
<p><strong>Orkes jang diboikot.</strong><br />
Pertemuannja dengan komponis Berlioz sangat menggembirakan hati Sax. Ia mendapat kesempatan mempertundjukkan penemuannja. Berlioz terharu dan menulis artikel pandjang tentang Sax dan instrumennja. Tetapi hal ini hanja membangkitkan iri hati dari saingan2nja jang menggunakan segala tjara untuk menggagalkan Sax. Misalnja sadja ketika komponis Donizetti, pentjipta “Lucia di Lamermoor” mau menggunakan bermatjam2 instrumen jang telah diperbaiki Sax untuk gala premiere suatu opera baru di Paris. Lawan2 Sax mendekati pemain2 musik opera tersebut dengan sogokan supaja mereka memprotes rentjana Donizetti. Dan mereka berhasil.</p>
<p>Sementara menelan kegetiran dari kegagalannja, Sax terus berusaha. Dalam tahun 1845 ia mengadjukan usul kepada pemerintahan Perantjis untuk mengorganisir orkes militer dengan saxofon. Usulnja diterima, tetapi terlebih dahulu harus melewati udjian. Ia diminta memimpin satu orkes jang dikurangi 8 klarinet, semua hobo dan fagotnja dan diganti dengan “keluarga” Saxofon. Orkes ini akan bertanding dengan suatu orkes lengkap dimana 14 klarinet ambil bagian penting dibawah pimpinan Carafa, jang setjara fanatik melawan Sax.</p>
<p>Pada hari jang ditentukan penonton berdujun2 pergi ke Champs de Mars di Paris untuk menjaksikan perlombaan dua orkes Militer itu. Djuri djenderal de Rumingny telah hadir. Demikian pula Carafa dengan orkesnja jang komplit. Tetapi dalam orkes Adolphe tudjuh kursi kosong : para pemain jang harus memegang saxofon tidak hadir. Mereka mengingkari kontraknja karena sogokan lawan2 Sax.</p>
<p>Perlombaan tetap berlangsung. Sax sendiri berganti2 memainkan saxofonnja. Pada waktu orkesnja mulai beraksi, timbul keributan demonstrasi2 mengatjau. Tetapi pada achirnja meledak tepuk sorak jang mengguntur untuk menghormatinja. Ia menang. Surat kabar2 muntjul dengan artikel2 jang memudjinja. Setelah ditimbang matang2, perbaikan dari Sax diterima oleh pemerintah Perantjis.</p>
<p><strong>Ditantang sampai achir.</strong><br />
Tetapi dengan kemenangannja itu belum selesailah pertjobaan hidup Adolphe Sax. Tuduhan demi tuduhan dilantjarkan oleh lawan2nja jang djahat untuk mendjatuhkannja. Ia mendjadi bulan2an fitnah dan sampai achir hidupnja ia terlibat dalam proses2 pengadilan jang banjak menghasilkan waktu dan uang. Waktu itu haktjipta dan hak patent lebih mudah digelapkan dari pada sekarang. Bersamaan dengan usaha mendjelekkan nama Sax, para lawannja djuga mentjuri menggunakan penemuannja pada instrumennja sendiri tanpa memberinja bajaran.</p>
<p>Sepandjang sedjarah Adolphe Sax adalah penemu jang paling djago dalam soal bertanding. Setiap tantangan diterimanja dan tak sebuah serangan dibiarkan tanpa balasan. Perkara2nja banjak menggerogoti modalnja. Tetapi achirnja ia berhasil : Tidak hanja saxofon2nja tetapi semua penemuan2 lainnja mendapat pengakuan. Sekarang ini tak bisa dibajangkan orkes harmoni atau fanfare (orkes tiup) tanpa adanja saxofon. Begitu djuga orkes hiburan.</p>
<p><span style="font-size: 90%;">&#8212;Diketik ulang dengan sukarela oleh Budi Warsito dari majalah <em>Intisari</em> no. 52, Nopember 1967 hlm. 85-89.</span></p>
<p><a href="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2012/03/Intisari-nomor-52-Nopember-1967.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1103" title="Intisari nomor 52, Nopember 1967" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2012/03/Intisari-nomor-52-Nopember-1967-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/orang-sial-jang-menemukan-saxofon/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Empat Menit, Sehat Sempurna</title>
		<link>http://budiwarsito.net/empat-menit-sehat-sempurna/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/empat-menit-sehat-sempurna/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Nov 2011 07:53:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Rupa-rupa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=970</guid>
		<description><![CDATA[. Aku senam, maka aku ada. Mengenang kembali Senam Kesegaran Jasmani (SKJ), senam wajib yang sempat populer di era Orde Baru, sejatinya adalah mengulang pengalaman-olahraga-empat-menit yang absurd. Atas nama nostalgia, saya mengunduh file musik pengiring SKJ &#8217;88 dari internet, berdurasi 04:19, lalu menyetelnya keras-keras di kamar. Mendapati intro lagunya berupa bunyi peluit yang bersahut-sahutan—saya baru [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2012/02/SKJ_still.jpg"><img class="aligncenter wp-image-1069" title="SKJ_still" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2012/02/SKJ_still.jpg" alt="" width="448" height="336" /></a><span style="color: #ffffff;">.</span></p>
<p style="text-align: center;"><em>Aku senam, maka aku ada.</em></p>
<p>Mengenang kembali Senam Kesegaran Jasmani (SKJ), senam wajib yang sempat populer di era Orde Baru, sejatinya adalah mengulang pengalaman-olahraga-empat-menit yang absurd. Atas nama nostalgia, saya mengunduh <em>file</em> musik pengiring SKJ &#8217;88 dari internet, berdurasi 04:19, lalu menyetelnya keras-keras di kamar.</p>
<p>Mendapati intro lagunya berupa bunyi peluit yang bersahut-sahutan—saya baru menyadarinya sekarang—langsung muncul prasangka di kepala saya: jangan-jangan itu semacam perlambang obsesi Orde Baru atas ketertiban dan stabilitas, karena bukankah itu gunanya peluit? Pak Polantas nan gendut meniupnya di jalan raya demi menyetop sepeda motor yang melanggar lampu merah. Wasit sepakbola memakainya di lapangan untuk menyemprit bek kiri yang terlalu keras mengganjal penyerang lawan. Dan bagaimana mungkin saya lupa guru olahraga di SD dulu, yang setelan baju <em>training</em> dan wibawanya terasa kurang afdol jika tanpa kalung peluit di lehernya? Dialah yang biasa berteriak-teriak lewat pengeras suara setiap Jumat pagi, sambil sesekali membunyikan peluit saktinya, gusar karena murid-muridnya sangat susah untuk sekadar berjejer rapi di halaman sekolah. Setelah barisan dirasa cukup solid dan enak dipandang, barulah semuanya—guru, murid, karyawan TU, tanpa terkecuali—dengan semangat &#8220;tiada hari tanpa olahraga&#8221; tunduk patuh pada <em>tape compo</em> butut yang mengumandangkan komposisi gagah karya <a href="http://hurek.blogspot.com/2007/01/n-simanungkalit-bapak-paduan-suara.html" target="_blank"><strong>N. Simanungkalit</strong></a> itu.<span id="more-970"></span></p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/11/Kaset-SKJ-88.jpg"><img class="aligncenter wp-image-1075" title="Kaset SKJ '88" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/11/Kaset-SKJ-88.jpg" alt="" width="432" height="324" /></a></p>
<p>Namun ketika tiba di menit kedua dari sesi mendengar <em>file</em> unduhan tadi, yang kemudian berkelebat di pikiran saya justru kenangan-kenangan masa kecil yang langsung meruntuhkan prasangka tentang obsesi ketertiban tersebut. Adegannya seperti ini: setelah berjalan di tempat selama 2 x 8 hitungan untuk pemanasan, menurut aturan baku, peserta senam seharusnya bergerak serentak berbalik menghadap ke kanan. Tapi selalu saja ada di antara kami, namanya juga anak SD, yang malah sengaja menghadap ke arah sebaliknya. Jadilah beberapa muka saling berhadap-hadapan, dan kami pasti tertawa cekikikan karenanya. Juga di gerakan-gerakan selanjutnya: sengaja mendorong tangan ke samping secara berlebihan hingga menyenggol bahu teman di sebelah, dan seabrek adegan <em>slapstick</em> lainnya. Kepatuhan ternyata tak selalu berjalan dengan semestinya. Di negeri yang penuh bakat-bakat pelawak ini, kepatuhan yang dipaksakan hanya akan menghasilkan lelucon.</p>
<p>Mungkin SKJ memang bukan soal kepatuhan, melainkan tentang bersenang-senang. Jumat pagi bisa berarti kesempatan emas melihat kecengan di luar kelas. Meski hanya bisa menatapnya dari jauh, itu pun dari belakang, tapi pemandangan sang pujaan melompat-lompat lucu mengikuti irama lagu tak jarang bikin hati ini ikut melompat-lompat. Apalagi di gerakan tertentu, yang apa boleh buat selalu sukses bikin rok dia sedikit tersingkap, jelas adalah bonus vitamin A yang luar biasa untuk ukuran saat itu. Tak kalah menyenangkan, ketika mendapati guru matematika berkacamata tebal yang biasanya tampil menakutkan dengan penggaris besi di depan kelas, tiba-tiba melenggak-lenggok jenaka ke kanan dan ke kiri. Rasanya absurd.</p>
<p>Menengok sejarahnya, bisa jadi SKJ memang lahir dari keinginan untuk lebih bersenang-senang. Ia semacam koreksi dari senam massal sebelumnya, Senam Pagi Indonesia (SPI). Masyarakat kita mulai mengenal SPI ketika Presiden Soeharto menyebutkannya dalam <a href="http://www.bappenas.go.id/node/42/1812/pidato-kenegaraan-tahun-1975/" target="_blank"><strong>pidato kenegaraan</strong></a> di depan sidang DPR, 16 Agustus 1975, &#8220;&#8230;<em>ini sangat besar manfaatnya bagi pembinaan raga, juga agar kita tetap sehat dan lincah, serta untuk menggerakkan dan menggelorakan lagi semangat berolah raga.</em>&#8221; Sejak itulah pemerintah mewajibkan sekolah-sekolah melakukan senam pagi sebelum pelajaran dimulai. Gerakannya diramu dari jurus-jurus silat asli Indonesia (konon beberapa pengurus Ikatan Pencak Silat Indonesia banyak terlibat di perumusannya), dengan sedikit banyak pengaruh taisho, yakni senam khas Jepang yang biasa dilakukan pagi-pagi dengan menghadap ke arah matahari sebelum beraktivitas sehari-hari.</p>
<p>Tapi masalahnya, meski ada siaran petunjuk gerakan SPI di TVRI setiap hari Minggu pagi, bagi beberapa kalangan gerakan senam ini tetap dirasa sulit. Salah satunya, Ismail Marahimin, di majalah <a href="http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/1983/04/02/KL/mbm.19830402.KL45636.id.html" target="_blank"><strong><em>Tempo</em>, 2 April 1983</strong></a>, menuliskan kritiknya, &#8220;<em>Gerakan-gerakannya sangat tidak sederhana. Dalam satu hitungan terdapat dua, tiga, bahkan empat gerakan, yang jika dilaksanakan dengan baik memang akan menghasilkan sederetan gerakan indah. Namun sangat rumit, sehingga akan menimbulkan perasaan kikuk pada orang awam</em>.&#8221; Ismail yang kebetulan sempat mengalami masa wajib taisho di zaman pendudukan Jepang, bahkan menilai urutan gerakan SPI tak memenuhi standar dalam melatih otot-otot tubuh secara nyaman. Dia mengusulkan perlu adanya senam baru yang lebih sederhana, logis, dan populer. Jika perlu, imbuhnya, ajak artis terkenal untuk ikut kampanye, seperti Bob Tutupoly atau Gepeng. Maka lahirlah SKJ, yang pertama kali diperkenalkan pemerintah pada 11 Maret 1984 (perhatikan tanggalnya, keramat ala Orde Baru), di era Menpora legendaris Abdul Gafur.</p>
<p>Berhasilkah usaha SKJ ini, terutama dalam &#8220;memasyarakatkan olahraga, dan mengolahragakan masyarakat&#8221;? Seorang ibu dari Cilacap cukup serius menulis surat pembaca di harian <em>Kompas</em>, 8 Mei 1984, &#8220;<em>&#8230;kami menghimbau agar TVRI juga menyajikan peragaan dan petunjuk untuk SKJ secara gerak lambat. Sehingga seluruh lapisan masyarakat yang berminat dapat belajar sendiri.</em>&#8221;</p>
<p><a href="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/11/SKJ-klipingKompas.jpg"><img class="aligncenter" title="SKJ-klipingKompas" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/11/SKJ-klipingKompas.jpg" alt="" width="414" height="426" /></a></p>
<p>Sementara dari obrolan dengan teman-teman sebaya saya yang mengalami olahraga semi-didaktis ini, hampir semuanya tersenyum ketika mengingat kesan mereka tentang SKJ: kocak, <em>fun</em>, seru! Beberapa menjawab: nggak penting; tetap sambil cengengesan. Rupanya bagi beberapa siswa, empat menit yang harus rutin dilalui tiap pekan itu bukanlah beban. Itu hanya formalitas santai layaknya jadwal piket kelas yang penuh dengan lempar-lemparan kapur, penghapus, bahkan sapu. Jika Warkop DKI saja sampai merasa perlu memasukkan adegan senam nasional ini di <a href="http://youtu.be/5Cp_WmxTg5I" target="_blank"><strong>salah satu film mereka</strong></a>—pemerannya Eva Arnaz berkaos yukensi, lengkap dengan pameran bulu keteknya—bukankah itu kian menegaskan kekocakan senam ini?</p>
<p>Mungkin Anda pernah juga mendengar tebak-tebakan garing ini, yang sempat beredar luas di pergaulan, &#8220;Tank apa yang bikin sehat?&#8221; Jawabannya menyebalkan, &#8220;<em>Tank, teng, teng, teng, teng, teng&#8230;</em>&#8221; yang harus diucapkan sesuai nada SKJ ’84. Boleh jadi tak semua orang tertawa karenanya. Tapi guyonan itu, selain jahilnya yang khas Indonesia, juga bisa dibaca sebagai pengakuan kolektif bawah sadar kita bahwa SKJ <em>memang</em> bikin sehat. Sampai hari ini, tiap kali mau berolahraga dan harus melakukan gerak pemanasan sebelumnya, disadari atau tidak, yang saya pakai adalah <a href="http://youtu.be/ECn1Q_hXvlc" target="_blank"><strong>langkah-langkah SKJ</strong></a>. Rupanya, setelah sekian tahun, seri gerakan itu tetap bersemayam di ingatan.</p>
<p>Mengenangnya kembali, kali ini dengan lebih serius dan dahi berkerut, berat hati saya harus mengakui: jangan-jangan ucapan Soeharto tentang &#8220;agar kita tetap sehat dan lincah&#8221; itu benar adanya. Karena setiap beres ber-SKJ-ria, saya yang termasuk cukup serius dalam menjalaninya langsung merasa lebih semangat dan lincah di kelas sepanjang hari. Bisa jadi itu cuma efek dari melihat singkapan rok pujaan hati atau tertawa karena tingkah konyol teman-teman ketimbang kesehatan jasmani, tapi bukankah jiwa dan raga saling berhubungan? Jargon paling beken di dunia olahraga ini rasanya harus sedikit dipelintir: <em>mens senam in corpore sano.</em> Dalam senam yang sehat, terdapat jiwa yang kuat.</p>
<p style="text-align: right;">[<strong>Budi Warsito</strong>]</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p><span style="font-size: 90%;">Tulisan ini dimuat di rubrik Olahraga majalah <strong><em>Bung!</em></strong> edisi perdana, Oktober 2011, hlm. 77-78. Majalah pria dewasa dwibulanan terbitan ruangrupa ini bisa didapatkan di <a href="http://www.twitter.com/rurushop" target="_blank"><strong>Ruru Shop</strong></a> (Jakarta) dan <a href="http://kineruku.com" target="_blank"><strong>Kineruku</strong></a> (Bandung).</span></p>
<p><a href="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/11/SKJ-MajalahBung.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1084" title="SKJ-MajalahBung" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/11/SKJ-MajalahBung-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p><span style="color: #000000;">&gt;&gt; Yuk, unduh <a href="http://www.4shared.com/audio/ETpXRN50/SENAM_SKJ_88.htm" target="_blank"><strong>musik SKJ &#8217;88</strong></a> untuk memulai pagi-pagi Anda dengan lebih semangat!</span></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/empat-menit-sehat-sempurna/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Fell in Love with Planet Zeke</title>
		<link>http://budiwarsito.net/fell-in-love-with-planet-zeke/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/fell-in-love-with-planet-zeke/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 Oct 2011 13:07:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Rupa-rupa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=587</guid>
		<description><![CDATA[. Di jadwal RRRec Fest pada peringatan 10 Tahun ruangrupa awal Januari 2011 lalu, tertera jelas: Zeke Khaseli bakal bermain di panggung outdoor setelah Bangkutaman. Dari kejauhan terdengar intro lagu &#8220;Blue Bird Taxi&#8221;, saya langsung bergegas sambil menyesal kenapa datang terlambat. Sesampainya di sana, ada pemandangan mengherankan. Tak ada Zeke di situ. Di atas panggung, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/09/ZekeDiRuku.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-898" title="KONICA MINOLTA DIGITAL CAMERA" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/09/ZekeDiRuku.jpg" alt="" width="448" height="297" /></a><span style="color: #ffffff;">.</span></p>
<p>Di jadwal RRRec Fest pada peringatan 10 Tahun ruangrupa awal Januari 2011 lalu, tertera jelas: Zeke Khaseli bakal bermain di panggung <em>outdoor</em> setelah Bangkutaman. Dari kejauhan terdengar intro lagu &#8220;Blue Bird Taxi&#8221;, saya langsung bergegas sambil menyesal kenapa datang terlambat. Sesampainya di sana, ada pemandangan mengherankan. Tak ada Zeke di situ. Di atas panggung, sekelompok anak muda tampak cuek memainkan lagu itu dengan gaya indie-rock lo-fi ala Pavement. Lagu-lagu berikutnya pun dibawakan tanpa basa basi, semuanya bergulir cepat, ringkas, tanpa penjelasan. Dan tak satupun dari mereka mengenakan kostum-kostum aneh: tak ada Boylien, Obama berkepala besar, pria dengan helm dan piyama, bunyi sirene, ataupun poster salak. Ada apa ini? Kenapa bukan Zeke Khaseli dan pasukan bertopengnya yang memainkan repertoire <em>Salacca Zalacca</em>?<span id="more-587"></span></p>
<p>Tak jauh dari panggung, Zeke malah duduk-duduk di belakang <em>soundsystem</em>, memainkan pengendali video yang ditembakkan dari <em>laptop</em>-nya ke layar panggung. Gaya visual itu sebetulnya tak jauh beda dengan kebiasaan konser <em>Salacca Zalacca</em>: di layar ada sosok &#8216;mirip Zeke&#8217;, lengkap dengan blazer hitam, kacamata bingkai tebal, dan topi khasnya. Tapi di video jelas bukan Zeke, itu orang lain yang didandani menyerupai dan berakting di depan kamera. Apa Zeke sedang bercanda? Dengan ekspresi bertanya-tanya, saya menghampiri Harlan &#8216;Bin&#8217; Boer dari Jangan Marah Records. Bin hanya bisa tertawa-tawa sambil geleng-geleng kepala.</p>
<p>Reidvoltus, band dari Bogor, tampil di panggung meng-<em>cover</em> lagu-lagu album <em>Salacca Zalacca</em> atas nama musisi aslinya dan mengecoh penonton (setidaknya saya); hanyalah satu dari sekian banyak ide aneh seorang Zeke Khaseli.</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p>Keesokan harinya, di salah satu meja Dunkin&#8217; Donuts Melawai, saya berusaha mengorek isi kepala Zeke Khaseli, kini 33 tahun, yang sepertinya sudah lama dipenuhi dengan lirik-lirik absurd, adegan-adegan film sci-fi klasik favoritnya, selera humor ganjil, ambisinya untuk terus menerus bermusik, serunya membuat lagu sendiri di kamar dan merilisnya rutin tiap akhir pekan.</p>
<p>Sambil mengaduk kopi dan menyantap sarapannya yang terlambat, Zeke membuka ceritanya.&#8221;Gue suka Reidvoltus. <em>Attitude </em>mereka asyik.&#8221; Dia mengaku para personel Reidvoltus hanya butuh waktu seminggu untuk berlatih lagu-lagu ciptaannya, itupun tanpa sempat sekali pun bertemu Zeke. Di konser semalam, karakter permainan mereka yang kuat berhasil menghadirkan satu lagi nuansa aneh dari sebuah album yang sebenarnya sudah aneh dari awalnya.</p>
<p>Apa itu berarti album <em>Salacca Zalacca</em> cukup diterima publik? &#8220;Gue nggak tahu. Tapi pernah di beberapa <em>show</em>, penonton di baris depan teriak-teriak ikut nyanyi. Orang-orang itu hapal lagu gue, bahkan bagian rap-nya. Kadang-kadang itu sudah cukup.&#8221;</p>
<p>April 2010 lalu, saya beruntung menjadi salah satu saksi mata dari konser perdana Zeke Khaseli dengan album <em>Salacca Zalacca</em>, di Bumi Sangkuriang, Bandung. Sebenarnya materi-materi lagunya yang mencampuradukkan berbagai <em>genre</em> itu sudah pernah dirilis gratis satu per satu sejak November 2009 di situs pribadi Zeke, tapi malam itu adalah kali pertama dia membawakannya secara <em>live</em>. Penonton sempat dibuat bengong dengan kemunculan aneh para pemusiknya: gitaris dan drummer dengan jubah panjang warna kuning (sebenarnya lebih mirip jas hujan), dengan muka tertutup topeng beruang. Sementara Zeke, bertopeng harimau, mengutak-atik <em>laptop</em> yang dipaksanya menyemburkan suara-suara aneh layaknya musik latar film-film sci-fi lama berbujet rendah. <em>Sound</em>-nya menggelegar—di beberapa lagu volumenya memekakkan kuping dan saya merinding—di mana segala bebunyian eklektik dan vokal aneh Zeke saling tumpang tindih dengan warna-warni video yang disorot ke <em>backdrop</em>.</p>
<p>Zeke bergumam di satu lagu, kata-katanya seperti meracau, sedikit nyinyir tapi kocak, lantas berteriak lepas di lagu lainnya. Bunyi theremin yang menyayat seperti memanggil-manggil makhluk dari galaksi lain, yang entah muram atau riang, atau kombinasi keduanya. Dia tersenyum ketika <em>laptop</em>-nya ngadat lagi, seolah-olah itu hal biasa, mengambil gitar kecil (sumpah, saya mendengar nafas lega dari <em>laptop</em> itu!), lalu dengan cueknya nge-rap, &#8220;<em>Pusing tujuh bling bling/ pump up valium/ tidur mulut senyum…</em>&#8221; Rasanya seperti berkaraoke semalam suntuk setelah di-PHK, di lokasi syuting film <em>Satyricon</em> dengan kru <em>lighting</em> yang mabok. <em>What a freakshow</em>!</p>
<p>Jelas dia sangat bersenang-senang di malam <em>launching</em> itu. &#8220;Itu salah satu konser terbaik gue. Atmosfernya susah diulangi, bahkan di 30 kali konser setelahnya.&#8221; Tapi tak bisa dipungkiri, makin hari konsernya makin tak lazim. Jika tak ramai oleh penonton pun, panggungnya sudah penuh sesak dengan karnaval para kru yang bersukaria. Personel <em>backing band</em>-nya makin meriah (ada yang tugasnya &#8216;hanya&#8217; mondar-mandir mengacungkan gambar salak, atau membunyikan megafon, tapi itu saja sudah seru!), dan ternyata semuanya menikmati menjadi <em>anonymous</em> di balik topeng. &#8220;Gue belinya di satu toko kostum di Jepang. Awalnya cuma pengen nonton konser reuni Pavement doang, tau-tau pulang bawa satu koper penuh isi topeng-topeng.&#8221;</p>
<p>Selama tur panjang artis-artis Jangan Marah Records di kota-kota sepanjang Jawa (dari Bogor hingga Malang), kekacauan mulai terjadi di hampir setiap <em>venue</em>, dimana makin banyak sosok berkostum aneh berseliweran di panggung, berbaur dengan penonton menari-nari di tiap lagu. &#8220;Raymond, <em>additional player</em>-nya Bangkutaman, awalnya cuma bantuin gitar akustik tiap kali Acum dkk manggung, tapi lama-lama dia mau juga jadi Boylien di konser <em>Salacca Zalacca</em>, hahaha!&#8221; tawa riang Zeke lebih mirip anak kecil menyambut anggota geng baru. Bahkan Cholil dari Efek Rumah Kaca pun tak ragu tampil memakai jas hujan warna hijau, saat Zeke membantu mengacak-acak lagu &#8220;Kenakalan Remaja di Era Informatika&#8221; dengan bunyi-bunyian theremin yang ganjil. (Zeke khusus memesan alat-musik-tanpa-disentuh ini ke Evan Storn, spesialis pembuat instrumen musik elektronik di Bandung. Ketika saya menunjukkan koleksi saya, film dokumenter tentang Leon Theremin, si ilmuwan jenius dari Rusia penemu alat itu, Zeke langsung membawa pergi DVD itu hingga kini.)</p>
<p>Publik mulai menanggapi album solo pertama Zeke ini, meski tak semuanya antusias. Hanya beberapa radio yang sempat memutarnya, dan media massa <em>mainstream</em> seperti enggan mengulasnya. Ketika seorang wartawan majalah musik terkemuka secara gegabah menyebut <em>Salacca Zalacca</em> sebagai album musik folk, saya mengernyitkan kening dan berpikir apakah seseorang sedang teler dan salah mengambil CD. Sementara di sisi lain, penggemar loyal mulai bermunculan. Mereka menyambangi tiap konsernya—<em>artwork</em> poster publikasinya selalu menarik—mungkin sambil menebak-nebak karakter baru apa lagi yang bakal muncul kali ini. Beberapa mulai mengutip lirik-liriknya di akun <em>social media</em>: &#8220;Dark Justice&#8221; dianggap sangat relevan dengan supremasi hukum yang makin kacau di negeri ini, &#8220;…<em>dark justice/ sistem yang paling cuek/ bener salah/ salah bener/ yang nambah cuma masalah</em>.&#8221; Di acara puncak Pasar Seni ITB 2010, seorang penonton ikut naik ke panggung besar dengan percaya diri, dan berbagi mikrofon dengan Zeke meneriakkan lirik &#8220;…<em>gue mau, semua mau, jadi</em>…<em> man of the hour!</em>&#8221;</p>
<p>Tapi lagu &#8220;Man of the Hour&#8221; bisa jadi memang paling tepat menggambarkan etos kerja Zeke. Diawali kata-kata &#8220;<em>Jagoan selalu naik kuda putih,</em>&#8220;, disambung dengan &#8220;<em>Masuk kamar/ nonton DVD/ hari libur sama dengan hari kerja</em>…&#8221;, bukankah itu terdengar seperti personifikasi dirinya sendiri: rekaman musik kamar/ penggila film/ <em>full-time musician</em>?</p>
<p>Film, salah satu minat terbesarnya, memang punya porsi besar di musikalitas Zeke. Sejak kemunculannya pertama kali di <em>scene</em> musik Indonesia bersama band LAIN, yang justru terbentuk di Seattle, sebenarnya karya-karya Zeke sudah pekat dengan aroma sinematis. Salah satu lagu terkuat di album <em>Djakarta Goodbye</em> (2003) memuat lirik &#8221; …<em>cloning, replicating with a ghost&#8217;s cell biomythical…</em>&#8220;—terdengar seperti satu premis menjanjikan untuk film sci-fi era &#8217;80-an. Kalimat di lagu lainnya, &#8220;<em>…dreaming the megapolis/ big city style you&#8217;re on your own/ tuning in bali’s police/ arrest the mind the thought of young…</em>&#8221; selalu mengingatkan saya pada robot Maria dan para pekerja di mahakarya Fritz Lang. Sementara piano di <em>track</em> penghujung album mengisyaratkan bakal seperti apa kira-kira film Kubrick pasca <em>Eyes Wide Shut</em> seandainya dia tidak keburu meninggal: &#8220;…<em>listen big shot/ under your bed/ boogeyman</em>…&#8221; Nada suara Zeke tak tertebak ketika mengaku kepada saya, &#8220;Yang bikin gue nyesel dari LAIN, kenapa cuma sempet bikin satu album. Rasanya kayak ada yang kepotong.&#8221;</p>
<p>Proyek dia berikutnya, Zeke and the Popo, juga hanya menelurkan satu EP dan satu album penuh, <em>Space in the Headlines</em> (2006), yang disebut majalah <em>Tempo</em> sebagai &#8220;The Beatles yang sakit&#8221;. Rekaman muram ini cukup imajinatif, lengkap dengan karakter ikonik si manusia berkepala tank, juga <em>sample vocal</em> dari serial televisi Hitchcock—salah satu sutradara favorit Zeke. (&#8220;Kalau kata gue <em>Rebecca</em>!&#8221; sergahnya ketika saya menyebut <em>The Birds</em> sebagai film terbaik Hitchcock.) Zeke and the Popo juga sempat menyumbang beberapa lagu untuk film <em>Janji Joni</em> (Joko Anwar, 2005), salah satunya tepat di adegan paling monumental: kamera <em>slow motion</em>, Sujiwo Tejo melempar tas Nicholas Saputra ke kobaran api.</p>
<p>Zeke terjun penuh ke dunia film dengan menulis musik latar di beberapa karya fenomenal sinema Indonesia modern: <em>KALA </em>(Joko Anwar, 2007) dan <em>Rumah Dara</em> (Mo Brothers, 2009). Di film <em>Fiksi. </em>(Mouly Surya, 2008), Zeke meraih Piala Citra sebagai penata musik terbaik. Bersama proyeknya yang lain, Mantra, dia ikut menggarap musik untuk <em>Pintu Terlarang</em> (Joko Anwar, 2009). Apakah itu semua yang membuat <em>Salacca Zalacca</em> sarat dengan referensi film? Lagu &#8220;Ketimur-timuran&#8221; menyebut judul-judul film seperti <em>Kill Bill, New York I Love You, Lawrence of Arabia,</em> juga keprihatinan Zeke pada lirik &#8220;…<em>bikin sutradara slave produser…</em>&#8221; Sementara lagu &#8220;Shit Is So Yesterday, Moralist Happens&#8221; lebih menohok lagi, &#8220;<em>…sekali-kalinya ada film lokal keren/ di bioskop cuma 5 hari.</em>&#8221;</p>
<p>Meski bisa diartikan sebagai kritik sosial Zeke atas hal-hal di sekitarnya, rupanya dia terlalu introvert untuk membicarakan lirik-lirik lagunya. Komentarnya pendek, &#8220;Gue cuma pengen make bahasa yang seasli-aslinya. Bahasa lisan gue yang seutuh-utuhnya. Yang begitu ditulis malah jadi aneh.&#8221;</p>
<p>Bagaimana tidak aneh? Album <em>Salacca Zalacca</em> berisi 17 lagu yang <em>track listing</em>-nya akhirnya disusun sesuai abjad karena terlalu banyak. Dan itu artinya 17 narasi tak beraturan tentang, <em>well</em>, apapun. Tapi justru di situ daya tariknya. Di lagu pembukanya, <em>11:01,</em> Zeke langsung meracau soal perjalanan udara ke rumah teman dekatnya yang baru saja meninggal, dan harus menulis lagu untuk upacara pemakamannya, &#8220;<em>Andy ninggalin pacarnya sendirian di hujan/ padahal masa depan mereka lumayan cerah/ untungnya pas sebelum mati sempet berubah/ jadi makhluk penyayang binatang.</em>&#8221; Astaga, kisah macam apa ini?</p>
<p>Jika Slank formasi awal mampu menulis lirik absurd di &#8220;Pak Tani&#8221;—salah satu lagu <em>giting</em> terbaik mereka &#8220;&#8230;<em>petani bajak sawah pake traktor/ kerja rutin kontrol sawah/ numpak Harley ngitung laba panen pake komputer/ ngirim order beras pake helikopter</em>&#8230;&#8221;; maka kalimat Zeke di &#8220;Man of the Hour&#8221; bisa dipertimbangkan sebagai sekuel yang tak kalah <em>ngaco</em>, &#8220;&#8230;<em>helikopter boy/ ego main lego/ ayo semua tepuk tangan buat film spesial efek/ kapten kapal api/ di laut mati</em>&#8230;&#8221;</p>
<p>Dan jangan lupa, sepenggal lirik di &#8220;Ballet Paranormal&#8221; adalah <em>pick-up line</em> abad ini: &#8220;<em>…pelukan di halte bus/ dia senyum, hujan reda…</em>&#8221; Obbie Messakh boleh berbangga, sekarang dia punya penerusnya.</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p>Saya terpaksa minta pelayan di Dunkin&#8217; Donuts mengecilkan volume TV mereka yang mulai terasa berisik, atau mungkin kami sudah terlalu capek ngobrol, sementara Zeke berdiri terhuyung memesan kopi untuk kedua kalinya, dan mengaku, &#8220;Sebenernya gue baru sempet tidur 2 jam.&#8221;</p>
<p>Obrolan bisa berakhir saat itu juga, tapi saya tak rela melewatkan kesempatan mengorek ambisi musikal dia selanjutnya. &#8220;Jujur gue nikmatin banget segala macem kehebohan <em>Salacca Zalacca</em> ini. Bener-bener bersenang-senang! Tapi sekarang, gue harus nyoba yang lain.&#8221; Dan hal-hal lain itu berarti: meneruskan merilis lagu mingguan (<em>weekly download</em>) dari kamarnya, menulis lirik dalam bahasa Inggris lagi, dan kembali ke akar musik yang dia sukai sejak lama, <em>psychedelic</em>.</p>
<p>Jika pengalamannya berada di lautan manusia saat konser reuni Blur di London Juli 2009 punya andil besar memacu dirinya membuat <em>Salacca Zalacca </em>(&#8220;Damon Albarn itu gila-gilaan produktifnya, semua wilayah musik dia coba.&#8221;), maka kali ini konser The Flaming Lips di Singapore November 2010 yang melecut semangat Zeke. &#8220;Wayne Coyne itu sinting. Energik banget! Umurnya udah hampir 50 tahun, tapi tetep aja total bikin musik dan konsernya. Bahkan dia pernah pakai darahnya sendiri untuk campuran cat poster manggungnya.&#8221;</p>
<p>Di konser itu Zeke sempat bertemu Coyne di belakang panggung. Dalam satu percakapan singkat, Zeke hanya sempat memperkenalkan dirinya sebagai <em>bedroom musician</em>, setelah menitipkan CD <em>Salacca Zalacca</em> ke seseorang untuk Coyne. Cita-cita sebenarnya adalah: mengajak Coyne menyanyi bareng &#8220;My Cosmic Autumn Rebellion&#8221;—kebetulan tak dibawakan The Flaming Lips malam itu—dan merekamnya dengan kamera video. Sayang permintaan unik dari sang penggemar berat itu tak sempat dilontarkan. Besoknya, kekecewaannya sedikit terobati: di bandara Zeke tak sengaja berpapasan dengan Steven Drozd, gitaris The Flaming Lips. Lucunya, Drozd langsung memuji sepatu Zeke, &#8220;<em>Nice shoes, man</em>.&#8221; Zeke jelas bangga setengah mati. Ketika saya ingatkan konon Damon Albarn pertama kali berkenalan dengan Graham Coxon dengan langsung mengomentari betapa jeleknya sepatu Graham, Zeke langsung bereaksi, &#8220;Oh <em>shit</em>, Damon bilang sepatu Graham jelek? Gawat, ini Steven kok malah bilang sepatu gue bagus! Sialan.&#8221;</p>
<p>Delapan lagu baru pun tercipta. Meski <em>mood</em>-nya kini berbeda, tapi semuanya masih kental tanda tangan Zeke. Bunyi-bunyian yang diulik, lirik-lirik pelit yang multitafsir, dan di atas segalanya: nada-nadanya tetap melodius. Sensibilitas pop masih ada di sini. Dari mana datangnya kemampuan menciptakan segala <em>hook</em> itu? Bin, otak di balik bergabungnya Zeke ke label Jangan Marah Records, menyebutnya sebagai musisi berkarakter <em>traditional singer-songwriter</em>. Menurutnya, Zeke sangat peduli dengan nada dan piawai soal melodi. Konsep <em>weekly download</em> bagi Bin itu brilian. &#8220;Bahkan seandainya ini dilakuin sama band Melayu paling culun pun, tetap gokil. Bayangin <em>man</em>, tiap minggu keluar lagu baru!&#8221;</p>
<p>Hasil perdana sesi <em>psychedelic</em> ini adalah &#8220;Fell in Love with the Wrong Planet&#8221;, lagu ke-18 dari <em>weekly download</em>-nya. Zeke mengaku tertarik dengan konsep kata &#8216;<em>wrong</em>&#8216;, menurutnya batas benar atau salah sudah makin bias hari-hari ini. Proses penciptaannya masih sama dengan cara kerjanya selama ini: dia merekam nada-nada dasarnya di BlackBerry (&#8220;Kadang pakai gitar, atau mulut doang.&#8221;), lalu rekaman mentah itu dipindahkan ke komputer dan diolah dengan <em>software</em> musik Reason. Proses olahannya lebih banyak melalui piano, keyboard, harpsichord, dan instrumen pencet lainnya. Sembari membuat melodi dan <em>rhythm</em> yang cocok, dia mencari-cari <em>beat</em> yang enak untuk <em>drum loop</em>. &#8220;Gue nggak bisa main drum, dan gue bukan DJ. Masalah <em>beat</em> selalu merepotkan gue.&#8221; Tapi toh dia berhasil. Di &#8220;Rolling Like a Stupid Stone&#8221;, komposisi paling unik di sesi ini, Zeke memasukkan <em>beat</em> genit absurd ala dangdut remix khas Pantura yang dicampur sedikit nuansa padang pasir, tanpa membuatnya jatuh menjadi norak. Lagu ini riuh rendah dengan <em>sound</em> bertumpuk-tumpuk, tempo menghentak dan meliuk, yang arti liriknya hanya Zeke dan Tuhan yang tahu.</p>
<p>&#8220;Beberapa lagu memang tentang kehidupan pribadi gue. Namanya musisi kamar, ya pasti nulis tentang dirinya.&#8221; Karena kali ini ditulis dalam bahasa Inggris, Zeke menemukan kompleksitas berbeda. Dia merekam kalimat-kalimat pertama yang hinggap di benaknya, baru memaknainya belakangan. Rasanya seperti memecahkan misteri, dan dia menikmati prosesnya. &#8220;Gue pernah baca di buku biografi The Beatles, John Lennon nggak pernah nutup-nutupin kalau lirik bikinan dia nggak selalu punya arti. Bahkan kadang-kadang cuma permainan kata.&#8221; Ketika saya menyebut nama Syd Barrett, dia langsung menyambar, &#8220;Apalagi itu! Siapa sih yang bisa mengartikan lirik-liriknya?&#8221;</p>
<p>Semangat bermain-main pun masih tetap ada. Di &#8220;Causeway Bay&#8221;, yang dibuatnya di Hong Kong di sela-sela menonton konser Gorillaz, Zeke iseng menyelipkan suara alat pemompa ASI untuk bayi di awal lagu. Menurut Zeke, &#8220;Bunyinya seperti nafas mesin.&#8221; Pilihan tepat untuk menggambarkan liriknya &#8220;<em>…nature procreates/ machine replicates.</em>&#8221; Seolah tak cukup dengan segala kreativitas ini, Zeke masih merasa perlu membuat video untuk setiap lagu. Dan video itu bisa berarti apa saja: rekaman dia ke dokter gigi (masih sempat-sempatnya dia memakai kacamata hitam!), iseng berkaraoke di taksi yang sedang melaju, jingkrak-jingkrak di kamar, truk pengangkut sampah, keponakannya yang masih balita berlari-lari sambil tertawa riang, hingga dokumentasi saat dia diramal seorang <em>Chinese fortune teller</em> di Hong Kong (&#8220;Gue sih nggak ngerti dia ngomong apa, tapi di akhir dia ngacungin jempol&#8230;&#8221;). Zeke merancang semua konsepnya, mengambil gambar, mengedit, lalu mengunggah hasilnya ke Facebook dan YouTube, satu per satu berbarengan rilisan lagu mingguan.</p>
<p>Dari mana dia mendapat energi untuk itu semua? &#8220;Gue selalu percaya dengan kekuatan alam. Kita semua punya itu di dalam tubuh masing-masing.&#8221; Menurut Zeke, sifat-sifat dasar manusia yang harmonis dengan alam, itulah yang akan menang. Jika seseorang bisa mengeluarkan itu dari dirinya, hasilnya adalah kekuatan luar biasa. &#8220;Seperti <em>love</em>, yang nggak ada batasnya.&#8221; Sementara di BlackBerry dia masih menyimpan puluhan <em>file</em> yang dinamai <em>weekly potential</em>. Kata <em>finish</em> sepertinya sudah lama hilang dari kamus bermusiknya. &#8220;Gue nikmatin banget hidup gue sekarang ini. Bangun tidur, denger suara burung, angin, udara pagi. Gue tinggal nunggu, alam bakal bawa gue ke mana hari ini. Kita nggak bisa melawan itu.&#8221;</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p>Kopi dan makanan di meja kami sudah sama-sama habis. Obrolan sudah makin <em>ngalor-ngidul</em>. Zeke menceritakan pengalaman menonton konser pahlawannya yang lain, Daniel Johnston, di London. &#8220;Gue suka <em>honesty</em>-nya. Lo-fi yang paling lo-fi. Di panggung dia pernah salah main, berhenti bentar, tapi penonton teriak, &#8216;<em>Daniel, keep playing! Don&#8217;t worry, we love you!</em>&#8216; Semangat &#8216;<em>keep playing</em>&#8216; itulah yang kemudian menghantui Zeke sampai sekarang. Ketika obrolan kami berbelok membahas lagu &#8220;Tender&#8221;-nya Blur, dia tiba-tiba berkata, &#8220;Mungkin kapan-kapan gue harus bikin lagu gospel.&#8221; Ide bagi Zeke bisa muncul dari mana saja, bahkan sesepele celetukan di sela-sela obrolan. Rasanya tak ada yang mustahil.</p>
<p>Kabar terbaru ini mungkin bisa membuatnya tersenyum: Wayne Coyne baru saja mengumumkan The Flaming Lips bakal masuk studio awal tahun ini, lalu merilis lagu baru tiap bulannya. Semua proses itu akan diabadikan di sebuah dokumenter. Bukankah ini sebuah kebetulan yang lucu? Pada akhirnya, Zeke dan para pahlawannya berada di satu arena yang sama, melakukan hal-hal yang kurang lebih mirip. &#8220;Gue selalu <em>look up</em> ke musisi-musisi panutan gue itu sambil ngomong ke diri sendiri, <em>Gak kekejar nih, gak kekejar nih…</em>&#8221; Kalimatnya menggantung. Saya menunggu, mencari tanda-tanda menyerah di suaranya.</p>
<p>&#8220;Tapi gue masih pengen terus ngejar.&#8221;</p>
<p>Zeke Khaseli pamit pulang untuk tidur sebentar, lalu melanjutkan mengunggah lagu mingguannya. <em>Weekly download</em>-nya sudah melaju hingga lagu ke-25. Tak seorang pun tahu, di angka berapa dia bakal berhenti.</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p style="text-align: right;">Jakarta-Bandung, Februari 2011</p>
<p style="text-align: right;"><strong>Budi Warsito</strong><br />
<em>Pengelola perpustakaan Kineruku, Bandung</em></p>
<p style="text-align: left;">Ini adalah tulisan lama (Februari 2011), dengan foto ilustrasi lumayan baru (April 2011) yang diambil dari acara peluncuran <a href="http://kineruku.com/zeke-khaseli-rolling-like-a-stupid-stone-ep-release-party/"><strong><em>Rolling Like a Stupid Stone EP</em></strong></a> di <strong>Kineruku</strong>. Foto oleh <a href="http://meicysitorus.co.cc/" target="_blank"><strong>Meicy Sitorus</strong></a>. Tulisan ini juga dimuat di situs <a href="http://zekekhaseli.com/" target="_blank"><strong>Zeke Khaseli</strong></a>.</p>
<p style="text-align: left;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/fell-in-love-with-planet-zeke/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>[Cerpen Favorit] Kandang Babi, Rendez-Vous</title>
		<link>http://budiwarsito.net/cerpen-favorit-kandang-babi-rendez-vous/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/cerpen-favorit-kandang-babi-rendez-vous/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Oct 2011 08:33:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Rupa-rupa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=779</guid>
		<description><![CDATA[. (cerita pendek oleh Eka Kurniawan) Edi Idiot menjaga kampus siang dan malam, tapi ia bukan satpam. Terutama kalau malam, ia adalah raja yang berkuasa di kegelapan pohon-pohon rindang, tapi sungguh, ia bukan jin Iprit. Ia seperti kita juga: suka makan, beol, bercerita, berteriak menyanyikan Obladi Oblada, atau jika ia sedang tidak bersemangat, ia akan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #ffffff;">.</span><br />
(cerita pendek oleh <a href="http://ekakurniawan.com/" target="_blank"><strong>Eka Kurniawan</strong></a>)</p>
<p><a href="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/07/kandangbabi_still.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-781" title="kandangbabi_still" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/07/kandangbabi_still.jpg" alt="" width="432" height="324" /></a><br />
Edi Idiot menjaga kampus siang dan malam, tapi ia bukan satpam. Terutama kalau malam, ia adalah raja yang berkuasa di kegelapan pohon-pohon rindang, tapi sungguh, ia bukan jin Iprit. Ia seperti kita juga: suka makan, beol, bercerita, berteriak menyanyikan <em>Obladi Oblada</em>, atau jika ia sedang tidak bersemangat, ia akan duduk manis menatap jauh pada segerombolan gadis yang tengah duduk berkerumun: berharap satu atau dua orang tersingkap roknya.</p>
<p>Ia tinggal di satu sudut fakultas yang nyaman&#8212;senyaman kandang babi. Dulu ruangan itu dipakai untuk mengoperasikan mesin stensil yang belakangan tergusur setelah penemuan teknologi komputer yang edan-edanan. Kematian mesin stensil adalah berkat bagi Edi Idiot yang berharap menghemat banyak dengan pondokan gratis. Di sanalah ia tidur kalau ngantuk, bercinta kalau punya kekasih, atau mencoba bunuh diri kalau sedang gila.<span id="more-779"></span></p>
<p>Empat tahun telah berlalu, dan itu membuatnya betah tetap tinggal di kandang babinya; istananya yang paling hebat. Tak ada Induk Semang yang Bengis yang siap monyong dan melotot jika ia membawa gadis cantik ke dalam kamarnya (kemudian pintunya dikunci dan mereka berdua menabung bekal untuk di neraka). Juga tak ada Induk Semang yang Serakah yang akan menagih uang pondokan (atau uang listrik, atau uang iuran penyemprotan nyamuk deman berdarah, atau juga sedikit sumbangan untuk langganan koran). Tapi yang lebih hebat dari semua itu adalah fakta bahwa tak ada Induk Semang yang Cerewet yang akan melarang dia membuat keributan macam apa pun bersama sahabat-sahabatnya tercinta.</p>
<p>Hobinya memang membuat keributan yang tak termaafkan induk semang mana pun. Bernyanyi keras-keras diiringi petikan gitar yang sebenarnya tak pernah nyambung. Atau membacakan puisi-puisi cinta yang memilukan hati. Atau lain kali ia mengundang beberapa temannya sesama nomaden (mereka juga tinggal di kandang-kandang babi, atau ada juga yang di kandang ayam, kandang anjing, atau kandang dedemit, yang tersebar hampir di setiap sudut universitas) untuk sekedar beranjangsana ke pondokannya yang, &#8220;Aih, maaf, agak berantakan. Maklum pembantu sedang mudik.&#8221; Berkumpul merupakan saat-saat yang paling indah baginya. Dengan sedikit mabok karena arak putih yang dijual murah di pinggir jalan, mereka membicarakan kebusukan Hegel dan Heidegger sebebas membicarakan kebusukan artis-artis porno. Mereka adalah orang-orang kreatif yang tak pernah membaca Voltaire atau Cervantes namun memunculkan istilah-istilah inovatif melebihi sastrawan manapun: &#8220;Mesin Penjilat Bibir&#8221; untuk pelacur, dan &#8220;Pipis Enak&#8221; untuk suatu kondisi yang disebut ejakulasi pada puncak orgasme.</p>
<p>Dialah Edi Idiot. Menyelesaikan sekolah dasar selama sembilan tahun, sekolah menengah pertama empat tahun, dan sekolah menengah atas selama lima tahun; hanya Tuhan yang tahu bagaimana orang yang menurut sistem pendidikan nasional dibilang goblok ini bisa masuk universitas. Itulah mengapa ia mendapat gelar idiot, semakin terlihat idiot ketika ia kuliah di filsafat dan tak tahu tanggal berapa Aristoteles lahir! Namun di atas semuanya, ia sahabat yang menyenangkan: tak pernah malu pinjam uang, matanya melotot jika bicara dengan seorang gadis yang kebetulan kancing kemejanya sedikit terbuka, dan tidur di ruang kuliah (ia baik karena tidak mengganggu sang dosen menjual omongan yang selalu diulang di setiap semester, bukan?). Ia mudah dikenali dari pandangan pertama: pakaian yang ia kenakan adalah empat pasang jeans dan kemeja yang merupakan serangkaian siklus empat mingguan, karena itu selalu tampak kucel dan jorok kecuali di dua hari minggu pertama. Rambutnya merupakan satu hal yang jauh lebih mudah dikenali; panjang dengan model rasta seperti Bob Marley yang dibuat bukan dengan pergi ke salon, atau resep mandi dengan air laut, atau apalagi dengan beragam ramuan yang tak meyakinkan, namun sungguh-sungguh menjadi rasta karena ia belum keramas selama delapan bulan satu minggu tiga hari! Jangan tanya berapa batalion kutu di kepalanya…</p>
<p style="text-align: center;">*</p>
<p>Malam hari merupakan saat-saat yang paling merdeka buatnya. Ia bisa pergi nonton konser lalu pulang menjelang dini hari. Atau kalau tak ada hiburan di mana pun di segenap pelosok kota, ia dan para sahabatnya menghibur diri sendiri dengan judi kiu-kiu menggunakan kartu domino. Awalnya mereka bertaruh dengan duit receh, namun jika kebangkrutan sudah menghantam, kekasih-kekasih khayalan mulai jadi taruhan. Edi Idiot doyan mempertaruhkan Ayu Azhari, namun jika ia kalah ia dilarang mengaku sebagai kekasih Ayu Azhari selama seminggu ke depan&#8230; kenyataan tragis bagi laki-laki yang justru seringkali tak memiliki kekasih yang sesungguhnya.</p>
<p>Namun jika ia sedang baik hati, ia akan mengingatkan dirinya sendiri, &#8220;Edi, sudah jam sembilan malam. Waktunya tidur.&#8221;</p>
<p>Ia segera akan membereskan kandang babinya. Ketiga jeans dan ketiga kemejanya yang tidak sedang dipakai ia gantungkan di paku-paku yang menancap di dinding. Kemudian ia membersihkan tikar, menggebukinya dengan sebatang tongkat pendek untuk mengusir debu dan kecoa, sebelum dihamparkan di pojok kandang babi itu. Bantalnya sudah sangat lembek sekali, ia temukan dahulu kala di kantor senat mahasiswa, sempat jadi rebutan dengan seorang temannya yang kini tinggal di gudang lain tak jauh dari kandang babi mantan gudang stensilnya, namun ia menangkan setelah bertaruh siapa yang berani masuk ke ruang dosen di pagi hari sebelum cuci muka. Sementara itu selimutnya merupakan hadiah istimewa dari kekasihnya di semester kedua; berwarna coklat muda dan ketebalannya cukup menghangatkan di musim dingin yang sangat ekstrim; suatu penghibur jika ia mengenang bagaimana cintanya diputuskan oleh gadis tersebut padahal demi Tuhan bahwa gadis itu jeleknya minta ampun&#8212;tak lebih cantik dari lubang kloset.</p>
<p>Jika semua ritual itu sudah ia laksanakan, ia akan berbaring perlahan di atas tikar tersebut. Sejenak ia merenung-renung dan berkata pada diri sendiri:</p>
<p>&#8220;Kau kan mahasiswa, sebaiknya membaca satu atau dua menit sebelum tidur.&#8221;</p>
<p>Maka ia mengambil satu-satunya buku yang ada di kandang babi itu, tergeletak di meja kecil tak jauh dari tempat di mana ia berbaring. Buku itu adalah buku tulis, sudah lecek karena nyaris seumur ia kuliah hanya itulah buku andalannya. Sambil tiduran, ia membuka dan membaca catatannya:</p>
<p>&#8220;Nasi sayur satu, tempe dua, teh hangat; kopi dan bakwan dua; nasi pecel satu tambah telur satu dan es teh; nasi sayur tambah tempe satu dan tahu satu dan jeruk hangat; nasi sayur satu tambah tempe dua dan kerupuk dua tambah es jeruk; nasi pecel satu, perkedel dua dan kerupuk satu tambah es teh…&#8221; Itu adalah catatan hutangnya pada bu Kantin yang Gendut di Kantin yang Jorok. Ia akan melanjutkan sebelum benar-benar tidur: &#8220;Belum mengkhawatirkan, pasti bisa aku lunasi.&#8221;</p>
<p>Maka tidurlah ia dengan damai, tanpa perlu didongengi dengan cerita <em>Lutung Kasarung</em> atau <em>Bawang Putih dan Bawang Merah</em>. Ia tak punya jam weker yang akan menjerit membangunkannya di pagi hari. Ia pun tak pernah merasakan kehangatan sinar matahari pagi menghantam tubuhnya yang tidur karena jendela kandang babinya selalu tertutup. Maka satu-satunya tanda bahwa ia harus bangun adalah keributan mahasiswa dan dosen; saat itu biasanya sudah pukul tujuh pagi.</p>
<p>Ia akan menggeliat-geliat sebentar, lalu bangun dan membuka pintu. Pak Dekan baru keluar dari mobil, Edi Idiot tersenyum ramah, dan pak Dekan membalasnya dengan muka masam. Lalu muncul si Cantik adik kelas, Edi Idiot tersenyum juga, dan si Cantik ngibrit. Ia tak pernah sakit hati. Ia dengan santai menuju kran air dan cuci muka, dan dengan langkah seorang pemalas bergerak menuju Kantin yang Jorok untuk memesan kopi dan nongkrong habis sampai siang hari.</p>
<p>Banyak desas-desus dan omong-kosong bisa didapatkan di Kantin yang Jorok: misalnya siapa yang paling bertanggung jawab atas perut bunting Nurul?, atau laki-laki tua berkumis baplang yang manakah yang ternyata intel dan sedang memantau mahasiswa-mahasiswa yang membahayakan keselamatan negara?, atau manakah yang perlu dibela: apakah orang Timor hitam yang pro Indonesia atau orang Timor hitam yang lebih suka merdeka (namun jelas mereka tak akan membela minoritas keturunan Portugis yang berkuasa)?, namun di atas tema-tema berat macam begitu, hanya satu yang bisa membuat mahasiswa-mahasiswa nomaden heboh:</p>
<p>&#8220;Konon, rektorat akan melarang kita tidur lagi di kampus.&#8221;</p>
<p>Edi Idiot bahkan sukses semaput di belakang pantat bu Kantin yang Gendut.</p>
<p style="text-align: center;">*</p>
<p>Hal itu benar-benar terjadi di suatu hari. Edi Idiot pulang pada suatu senja dari sedikit pengembaraan yang agak melelahkan. Ia mendapati kandang babinya terkunci, dan semua barangnya teronggok di atas kursi reyot di depan gudang tersebut. Ia panik dan melesat ke ruang satpam penjaga gedung.</p>
<p>&#8220;Si-siapa yang mengunci gudang?&#8221; tanyanya, antara marah dan ngeri.</p>
<p>&#8220;Mana aku tahu,&#8221; kata pak satpam. &#8220;Konon mau dijadikan dapur kantin ibu darmawanita.&#8221;</p>
<p>&#8220;Anjing-anjing itu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Siapa yang anjing?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya babi-babi itu.&#8221;</p>
<p>Apa pun yang terjadi, pak satpam jelas tak bisa mengembalikan istana hebat itu kepadanya. Edi Idiot berjalan gontai kembali ke kandang yang terkunci, mengumpulkan barang-barangnya. Ia memasukkan bantal lepetnya ke dalam tas gendong yang sudah dekil; juga ketiga pasang jeans dan kemeja kesayangannya. Tikar ia gulung dan simpan di tiang penopang langit-langit, kapan-kapan ia ambil. Lalu meja kecil… ah, biarkan saja di situ, siapa tahu ada kemungkinan kembali berkuasa di kandang babi. Terakhir ia melipat selimut kenangannya dan mengapitnya di ketiak.</p>
<p>Dan, lalu?</p>
<p>Ia berdiri bengong di gerbang fakultas. Ia tak tahu harus ngeloyor ke mana. Ia tak punya pondokan selama empat tahun ini, dan lebih parah dari segalanya, ia tak punya uang untuk menyewa pondokan baru. Kakinya kemudian membawa dia menuju ke gelanggang mahasiswa, tempat di mana lebih banyak mahasiswa nomaden memanfaatkan ruangan-ruangan yang tak terpakai di malam hari. Tapi yang ia temukan hanyalah pintu-pintu yang terkunci, dan gerombolan mahasiswa terusir yang putus asa. Satu-dua anak mencoba memprovokasi untuk membuat sedikit pemberontakan pada keadaan yang sungguh tak adil, namun yang lainnya begitu lelah dan ngantuk&#8212;dan kehilangan motivasi&#8212;sehingga tak merespon dengan baik. Dan Edi Idiot, jelas ia lebih suka segera berlalu untuk menemukan satu tempat tidur yang nyaman di malam ini.</p>
<p>Ia berkeliling dari satu gedung ke gedung lain di segenap pelosok universitas. Ia memang menemukan teman-teman malamnya, sama-sama kehilangan harapan, namun tak menemukan ruangan yang layak untuk tempat tidur. Sampai ketika tengah malam datang, ia tersasar di gedung rektorat dan menemukan satu pos satpam kosong di sebelah utara. Yeah, bukan kandang babi memang, pikirnya; kandang monyet pun tak apalah!</p>
<p>Maka tidurlah ia di sana ditemani hantu wanita yang bunuh diri, dedemit, sundel bolong, dan semua makhluk horor lainnya. Namun semua keangkeran tempat tersebut tak mengganggu tidurnya sedikitpun. Ia lelap, selelap paku yang menempel di pintu. Namun di pagi hari, ia terbangun mendadak ketika seekor anjing kudisan mengendus-endus pantatnya. Anjing itu sama kagetnya, mundur sedikit, dan terkaing-kaing berlari ketika Edi Idiot menendangnya dengan penuh nafsu.</p>
<p>Ia sendiri kemudian terduduk, membiarkan cahaya matahari pagi memandikan tubuhnya. Nafasnya tersenggal-senggal, dan sambil memegang dada ia berbisik pelan:</p>
<p>&#8220;Oh Tuhan, terima kasih. Betapa mengerikan jika anjing sialan itu menyodomiku!&#8221;</p>
<p>Ia segera mencangklong tas punggungnya dan mengapit selimutnya, lalu berjalan pergi ke Kantin yang Jorok untuk mendapat segelas kopi sebagaimana biasa. Semua itu kemudian menjadi rutinitas barunya; tidur di kandang monyet ditemani makhluk-makluk horor, lalu terbangun dipermainkan anjing buduk pengendus. Selain itu pemandangan ini menjadi pemandangan umum di setiap pagi selama beberapa hari: seorang pemuda kurus kerempeng berambut rasta berjalan dari gedung rektorat ke Kantin yang Jorok sambil menggendong tas punggung berisi pakaian dan bantal dan di tangan kirinya mengapit selimut coklat muda. Dialah kawan kita si Edi Idiot yang karena nasib harus memerankan antagonis yang menyedihkan seperti itu.</p>
<p>Namun ternyata, bukan hanya orang-orang yang berpapasan dengannya saja yang kemudian merasa bersimpati dan kasihan; ia sendiri mulai mengkhawatirkan dirinya sendiri. Ia mulai menghitung-hitung buruknya tidur di kandang monyet itu; dalam satu atau dua bulan ke depan bisa dipastikan ia terserang paru-paru basah yang akut. Selain itu, meskipun ia punya selimut tebal kenangan, udara dingin di kandang yang tak punya dinding itu bisa membuatnya terserang rematik; alasan kuat untuk menyongsong hari tua yang mengerikan. Ia juga mengkhawatirkan gangguan makhluk-makhluk horor itu lama-kelamaan memberi trauma buruk pada kejiwaannya. Tapi yang paling membuatnya cemas adalah kengeriannya pada kemungkinan terburuk ini: suatu pagi anjing buduk itu benar-benar berhasil menyodominya!</p>
<p>Sambil minum kopi di Kantin yang Jorok ia menghitung sisa uangnya: ada tiga ribu empat ratus perak. Ia mencoba memikirkan banyak cara bagaimana melipatgandakan uang sekecil itu agar bisa menyewa pondokan barang satu atau dua bulan saja. Namun jiwa kapitalistik tak sungguh-sungguh mampir di otaknya yang bebal; yang terpikirkan adalah mempertaruhkan uang itu di meja judi kiu-kiu. Ia segera menukar uangnya dengan recehan seratus perak pada bu Kantin yang Gendut, dan segera kembali ke fakultas mengumpulkan teman-teman perjudiannya. Permainan berlangsung alot di belakang kantin, di mana dosen-dosen yang sok usil ikut campur urusan orang lain tak akan melihat kelakukan biadab mereka. Di setengah jam pertama, Edi Idiot bisa mengumpulkan keuntungan enam ratus perak, namun ketika permainan berlangsung lebih lama, ia mulai kehilangan receh demi receh hingga temannya yang lebih jago judi benar-benar menghabiskan seluruh modalnya.</p>
<p>Edi Idiot masih penasaran dan menjerit:</p>
<p>&#8220;Jalan terus!&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau bertaruh dengan apa?”</p>
<p>“Apa boleh buat, kutawarkan Ayu Azhari.&#8221;</p>
<p>&#8220;Mana bisa, tiga hari yang lalu Ayu Azhari sudah dipasang dan kau kalah.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kalau begitu Sarah Azhari.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ngawur, dia bukan kekasihmu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Peduli amat.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau mulai curang. Ayo, bubar!&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi…&#8221;</p>
<p>Teman-temannya sudah bubar dan pergi ke segala penjuru. Tinggal Edi Idiot yang mulai putus asa memikirkan bagaimana caranya memperoleh uang untuk menyewa pondokan baru. Pondokan yang aman dari pelecehan seksual anjing kudisan.</p>
<p style="text-align: center;">*</p>
<p>Selama beberapa waktu ia mencoba mengamen di perempatan jalan, namun hasilnya jauh dari cukup untuk mencapai cita-citanya punya pondokan baru. Ia bahkan pernah tergoda untuk melakukan sedikit pencurian; namun nyali kecilnya ciut ketika membaca berita di koran yang menyebutkan seorang pencuri dibakar massa beramai-ramai. Hasilnya, Edi Idiot mulai tampak redup. Romannya yang riang dan seringkali menghibur sahabat-sahabatnya mulai tampak jauh lebih tua. Ia menjadi seorang perenung, tapi jelas bukan filsuf. Sering berdeklamasi seorang diri, namun jelas bukan penyair juga, mungkin hanya karena kegilaannya sedikit sedang kumat.</p>
<p>Ia juga mulai memikirkan kemungkinan-kemungkinan untuk bunuh diri. Atau kadang terpikir untuk pulang ke kampung halaman, menyerah pada semua usahanya untuk jadi seorang sarjana yang dihormati. Namun semuanya tidak ia lakukan. Ia masih mencintai universitasnya, kotanya, dan juga para sahabatnya. Ia harus bisa bertahan, betapapun menyedihkannya hidup yang harus ia lakoni.</p>
<p>Kadang ia merasa betapa ruginya dia: hidup di dunia dalam keadaan buruk, dan kalau mati kemungkinan besar masuk neraka. Namun kemurungannya berubah seketika saat di suatu pagi, ketika ia sedang berjalan dari gedung rektorat menuju Kantin yang Jorok sambil menggendong tas punggung dan mengapit selimut pemberian mantan kekasihnya, ia bertemu seorang gadis di tengah jalan. Namanya Widy, sahabatnya satu angkatan namun nasib membuat jalan hidup keduanya berbeda. Widy sudah menyelesaikan kuliah dan sekarang bahkan sudah menjadi dosen di fakultasnya sendiri.</p>
<p>&#8220;Oh, Sahabatku, Widy, apa kabar?&#8221; Edi Idiot dengan muka yang ceria menghampirinya dan menjabat tangan.</p>
<p>Widy yang sedang dalam perjalanan ke kantor dosen menatapnya dengan prihatin. &#8220;Aduh, Edi, sudah berapa lama kau tidak mandi?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ah, Sahabatku, jangan tanyakan soal itu. Ngomong-ngomong, kau jarang terlihat akhir-akhir ini?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku? Seandainya kau rajin masuk kuliah, setidaknya aku mengajar kau satu minggu sekali.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku jadi malu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau tampaknya lapar, mau kutraktir?&#8221; tanya Widy.</p>
<p>&#8220;Demi Tuhan, aku menunggu tawaran seperti itu.&#8221;</p>
<p>Mereka kemudian mampir di Kantin yang Jorok sekedar melepas rindu sebagai dua sahabat yang lama tak berjumpa. Sarapan bersama sambil bicara mengenai banyak hal. Teman kita yang botak, si Agus, sekarang di mana? Aha, dia sudah kerja di Jakarta. Ya, betul, si Iwan sudah jadi wartawan, hebat betul dia. Dan Sinta, kudengar dia sudah kawin; punya anak tapi kemudian cerai, nasibnya agak malang. Aku tak tahu kalau soal Andi, katanya dia pergi ke Kalimantan; ya goblok sekali dia, kuliahnya ditinggal begitu saja, mungkin bisnis, tapi setahuku bisnis apapun dia selalu gagal. Dan kau? Masya Allah, hanya tinggal kau angkatan kita yang masih bertahan jadi mahasiswa?</p>
<p>Edi Idiot tersenyum dan bertanya:</p>
<p>&#8220;Dengar-dengar kau mau kawin?&#8221;</p>
<p>Widy tersenyum dan mengangguk. &#8220;Tentu saja,&#8221; katanya. &#8220;Sekarang masih nabung-nabung buat rumah dan tetek-bengeknya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kupikir kau mau tunggu aku.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sayang kau terlambat.&#8221;</p>
<p>Edi Idiot menyelesaikan sarapannya dengan perasaan puas, karena untuk pertama kali setelah beberapa waktu, ia boleh mengambil porsi makan sebanyak yang ia suka. &#8220;Tapi ngomong-ngomong,&#8221; katanya. &#8220;Kalau di hari perkawinan calon suamimu minggat, aku tak keberatan jadi pengganti.&#8221;</p>
<p>Widy tertawa dan menjawab, &#8220;Aku pertimbangkan.&#8221;</p>
<p>Mata Edi Idiot berbinar-binar menatap sahabatnya. Bukan, bukan karena harapan pada kemungkinan menjadi pengganti calon suami yang minggat, tapi karena ia menganggap saat inilah saat yang tepat untuk menyerang Widy dengan satu permintaan yang selama makan ia persiapkan:</p>
<p>&#8220;Sahabatku,&#8221; katanya pelan, takut terdengar penghuni Kantin yang Jorok yang lain. &#8220;Untuk sahabatmu yang malang dan mengibakan ini, maukah kau pinjami aku uang?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau pinjam uang?&#8221;</p>
<p>&#8220;Jangan keras-keras, Sayang… ya, itulah yang aku maksud.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau tidak dalam kesulitan besar, kan?&#8221;</p>
<p>Edi Idiot bercelingukan, lalu menatap sahabatnya lagi. Matanya sedikit berkaca-kaca (aduh, tak terkira dia agak cengeng juga). Lalu perlahan-lahan mengadu, &#8220;Kau tahu kan aku tinggal di kandang babi.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kandang babi di fakultas peternakan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Maksudku gudang bekas tempat mesin stensil.&#8221;</p>
<p>&#8220;Semua orang sudah tahu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi sekarang aku sudah tidak tinggal di sana.&#8221;</p>
<p>&#8220;Pantas saja aku jarang lihat kau.&#8221;</p>
<p>&#8220;Pihak universitas melarang kami tinggal di kampus lagi. Aku sekarang tinggal di kandang monyet, ditemani genderwo dan kuntilanak, serta dikeloni anjing kudisan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Di mana pula itu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Pos satpam dekat gedung rektorat.&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh Tuhan, itu mengerikan, Sayang.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, begitulah,&#8221; kata Edi Idiot. Dan dengan semangat ia mendramatisir, &#8220;Aku mulai menderita paru-paru basah, mungkin juga demam berdarah dan gagal jantung. Bahkan aku menduga aku sudah kehilangan satu ginjal. Aku khawatir lebih lama di sana bisa terkena AIDS juga.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sebaiknya kau menyewa pondokan saja.&#8221;</p>
<p>Ini dia! Dengan sedikit menahan diri, Edi Idiot berbisik, &#8220;Itulah mengapa aku mau pinjam duit ke kau. Atau kalaupun kau tak punya duit, setidaknya kau sudi berbagi tempat tidur denganku.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ah, aku lebih suka meminjami uang.&#8221;</p>
<p>&#8220;Itu pun tak apa.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi aku cuma bawa seratus ribu perak.&#8221;</p>
<p>&#8220;Itu lebih dari cukup.&#8221;</p>
<p>Transaksi berjalan dengan diam-diam. Selama itu berlangsung, Edi Idiot beribu kali mengucapkan terima kasih. Kau memang sahabat sejati, Widy. Semoga kau tambah cantik selalu, katanya. Semoga kau cepat naik pangkat&#8212;kalau perlu jadi rektor yang berpihak pada mahasiswa-mahasiswa malang seperti dirinya. Semoga amal-ibadahnya diterima Tuhan, dan semoga kau tertarik menjadikan aku sebagai suamimu.</p>
<p>Widy hanya tersenyum dengan segala puja-puji itu, dan berkata bahwa ia harus segera masuk ruang kuliah untuk mengajar.</p>
<p>&#8220;Ya, ya, selamat jalan, Sahabatku!&#8221;</p>
<p>Widy berlalu dan Edi Idiot melambaikan tangannya dengan bahagia.</p>
<p>Kini ada uang seratus ribu di tangannya. Edi Idiot termenung-menung seorang diri di Kantin yang Jorok yang hiruk-pikuk itu. Yeah, cukup untuk menyewa kamar dua bulan, pikirnya. Mungkin tiga bulan, kalau mau mencari yang agak jauh dari kampus. Ia mulai mempertimbangkan hal-hal tersebut. Yeah, ia bakal punya Induk Semang yang Bengis, juga Induk Semang yang Rakus, dan tentunya Induk Semang yang Cerewet. Kecil kemungkinan memperoleh Induk Semang yang Pemurah.</p>
<p>Jika ia punya pondokan, ia tak boleh lagi berteriak sesuka hati di tengah malam. Juga pasti dilarang keras mabok. Lebih mengerikan kalau ada aturan harus pulang jam sembilan. Ngomong-ngomong, ia jadi ragu dan ngeri memikirkan harus punya rumah pondokan.</p>
<p>Namun bagaimana lagi? Sahabatnya yang baik itu sudah meminjami dia uang, dan duit tersebut kini tergenggam erat di tangannya. Dan lagi pula, adalah mengerikan terus-menerus tinggal di kandang monyet: ia bisa mati memalukan.</p>
<p>Ketika sedang memikirkan hal itu, matanya menatap bu Kantin yang Gendut. Ia sedang melayani seorang pembeli. &#8220;Satu atau separoh? Pakai sayur? Oh, pecel.&#8221; Kemudian pembeli yang lain. &#8220;Dengan apa? Nasi sayur tambah telur goreng, tempe dua dan es teh, dua ribu lima ratus. Terima kasih.&#8221; Edi Idiot tiba-tiba teringat sesuatu. Ia membuka tasnya dan menemukan buku catatan itu. Ketika bu Kantin yang Gendut sedang beristirahat tanpa gangguan satu pembeli pun, Edi Idiot menghampirinya.</p>
<p>&#8220;Ini hutangku,&#8221; kata Edi Idiot pelan-pelan dan malu-malu.</p>
<p>Bu Kantin yang Gendut menghitungnya, dan Edi Idiot kehilangan lebih dari separoh uang yang dipegangnya.</p>
<p>Namun ia bahagia sekali bisa melunasi hutang itu. Ia berjalan ke sana-ke mari sambil bersiul-siul. Lagu-lagu riang kembali muncul di mulutnya. Ia telah lupa pada rencana punya pondokan. Lalu apa yang telah merasuk di otaknya? Apakah ia memiliki suatu rencana yang gemilang. Begitulah. Di sore hari, ia membayar seorang tukang kunci untuk membuka pintu kandang babinya. Dan di malam hari ia menghabiskan uangnya dengan membeli arak putih murahan dan sekeresek nasi bungkus dari warung angkringan serta mengundang seluruh sahabat malamnya. Mereka pesta gila-gilaan, bernyanyi dan mabok serta kembali tertidur dengan penuh kedamaian. Sebelum benar-benar tertidur, Edi Idiot tak lupa berdoa, &#8220;Semoga bisa melunasi hutang pada Widy… Grok, grok, grok.&#8221;</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p style="text-align: left;"><span style="font-size: 90%;"><span style="font-family: trebuchet ms;">Copyright <a href="http://ekakurniawan.com" target="_blank"><strong>Eka Kurniawan</strong></a>, 2000. Salah satu karya awal Eka Kurniawan ini saya salin dari <em>Kumpulan Cerpen Terbaik Balairung</em> (2000), buku oleh-oleh dari Sigit G.W. (Jogja) dalam kunjungannya ke Bandung sekitar tahun 2001. (<em>Thanks Git! Bukunya udah lecek sekarang, hehe</em>.) Foto ilustrasi dicomot dari <a href="http://www.flickr.com/photos/dewfall/2576246064/" target="_blank">sini</a>.</span></span></p>
<p style="text-align: left;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/cerpen-favorit-kandang-babi-rendez-vous/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Why Brazil, someone once said</title>
		<link>http://budiwarsito.net/why-brazil-she-once-said/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/why-brazil-she-once-said/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Sep 2011 09:14:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[Musik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=436</guid>
		<description><![CDATA[. &#8220;return i will to old brazil&#8221; yeah it simply started with a book and a movie, i mean i heart orwell&#8217;s 1984 and i saw gilliam&#8217;s brazil like years ago, what a hunk!, and still i&#8217;m amazed how the director delivers the romantic flight of dark imagination scored with that latin-flavored title tune which [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-438 aligncenter" title="ButtleTuttle!" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2009/12/ButtleTuttle.jpg" alt="ButtleTuttle!" width="431" height="244" /></p>
<p><span style="color: #ffffff;">.</span></p>
<p style="text-align: center;"><em>&#8220;return i will<br />
to old brazil&#8221;</em></p>
<p style="text-align: left;"><em></em><span id="more-436"></span>yeah it simply started with a book and a movie, i mean i heart orwell&#8217;s <em>1984 </em>and i saw gilliam&#8217;s <em>brazil</em> like years ago, what a hunk!, and still i&#8217;m amazed how the director delivers the romantic flight of dark imagination scored with that latin-flavored title tune which kills me again and again; softly for sure, you know, those blah blah blah cheesy words in the first lines (Geoff did it the best, IMHO, with the intro and the whistling-like sound), &#8216;<em>june</em>&#8216;, &#8216;<em>ambermoon</em>&#8216;, &#8216;<em>someday soon</em>&#8216;, rhyming never gets tiring, huh?, suddenly &#8220;<em>then tomorrow was another day</em>&#8221; (!), and finally &#8220;<em>return, i will, to old Brazil</em>&#8220;&#8212;should i say, the Past? or is it the Future? with sam lowry, you&#8217;ll never know.</p>
<p>[MP3s]<br />
<a href="http://www.mediafire.com/?yz5lzwyydwd" target="_blank"><strong>Kate Bush</strong> &#8211; &#8220;Brazil&#8221; &#8211; <em>Brazil OST</em></a><br />
<a href="http://www.mediafire.com/?qtgz2zejhjk" target="_blank"><strong>Geoff &amp; Maria Muldaur</strong> &#8211; &#8220;Brazil&#8221; &#8211; </a><em><a href="http://www.mediafire.com/?qtgz2zejhjk" target="_blank">Pottery Pie</a><br />
</em><a href="http://www.mediafire.com/?ztmz3d1m1ej" target="_blank"><strong>Arcade Fire</strong> &#8211; &#8220;Brazil&#8221; &#8211; <em>Rebellion (Lies)</em></a><br />
<a href="http://www.mediafire.com/?mzd0mdya3tm" target="_blank"><strong>Beirut</strong> &#8211; &#8220;Brazil&#8221; &#8211; <em>Live at KLRU Studios<br />
</em></a><a href="http://www.mediafire.com/?yyzywm2zmeq" target="_blank"><strong>Antonio Carlos Jobim</strong> &#8211; &#8220;Brazil&#8221; &#8211; <em>Aquarela Do Brasil</em></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/why-brazil-she-once-said/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anak Band Beranak Band</title>
		<link>http://budiwarsito.net/anak-band-beranak-band/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/anak-band-beranak-band/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Aug 2011 20:29:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Rupa-rupa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=577</guid>
		<description><![CDATA[. &#8220;Set your guitars and banjos on fire, and before you write a song: smoke a pack of whiskey and it’ll all take care of itself.&#8221; —Beck Kami bertiga (Budi, Bada, dan Badu) di Kompleks Timbuktu Permai ini merasa melihat betapa nge-band sepertinya cool. Padahal tak satupun dari kami yang bisa memainkan instrumen musik apapun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/02/ABBB02.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-597" title="ABBB0" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/02/ABBB02.jpg" alt="" width="424" height="242" /></a><span style="color: #ffffff;">.</span></p>
<p style="text-align: left;">&#8220;<em>Set your guitars and banjos on fire,<br />
and before you write a song: smoke a pack of whiskey<br />
and it’ll all take care of itself</em>.&#8221;<br />
—Beck</p>
<p>Kami bertiga (Budi, Bada, dan Badu) di Kompleks Timbuktu Permai ini merasa melihat betapa nge-band sepertinya cool. Padahal tak satupun dari kami yang bisa memainkan instrumen musik apapun dengan benar. Tapi kami cuek, karena denger-denger &#8216;cuek&#8217; itu juga cool.</p>
<p>Segepok rencana pun disusun, dan rencana kami paling dekat adalah: &#8216;menjadi band terkenal&#8217;. Kalau bisa secepatnya. Karena itu kami berniat untuk berlatih keras di garasi tua bobrok di bawah rumah pohon kami, sebab denger-denger banyak band terkenal yang memulai karirnya dari tempat-tempat cool semacam itu. <span id="more-577"></span>Badu pun terpaksa merelakan VW Combi-nya—yang lebih mirip rongsokan besi tua ketimbang mobil—dipindahkan dari garasi. Ya, ya, ya, harus dengan didorong, tentu saja. Terlalu lama dia mogok, dan semua tukang bengkel di seluruh dunia sudah angkat tangan. Ketika kami dorong rongsokan itu keluar, bodinya berderit-derit menyakiti telinga. Saya ingat betul, bahkan ketika si VW Combi sialan ini masih jalan pun (itu artinya waktu Muhammad Ali masih perkasa di ring tinju), bunyinya juga udah nggak keruan. Mesinnya berderak-derak. Bannya koclak. Jendela kacanya gemeretak. Pokoknya semuanya bunyi kecuali klakson. Tak ada yang bisa dibanggakan dari rongsokan itu, kecuali jika menurut Badu, adalah plat nomornya: B 4 DU. Itupun sebenarnya kami nggak bangga. Biasa aja.</p>
<p>Persiapan pun dimulai. Kami harus menyulap garasi tua itu demi tujuan mulia: punya studio latihan sendiri. Ayo bagi tugas! Badu kebagian memindahkan barang-barang sambil menggerutu (peti-peti kemas milik papanya Badu sebenarnya cool sih, tapi kami selalu curiga salah satu di antaranya berisi mayat, jadi kami nggak mau ambil risiko latihan band metal kami yang bising nanti bakal membangunkan arwah-arwah yang penasaran). Saya kebagian tugas menyapu dan mengepel lantai, memperbaiki atap bocor (untung ada <em>how to</em>-nya di internet), dan menyemprotkan pewangi ruangan (yang juga bisa kamu pesan via online). Bada mendapat kehormatan (okay, sebenarnya itu hasil undian, karena kami rebutan) untuk menyebar undangan ke kos-kos cewek di sekitar rumah pohon kami, demi menjajaki kemungkinan awal adanya groupies band kami yang soon-to-be-famous ini. Hoho, pede dong. Sebab pede itu juga cool.</p>
<p>Setelah menjaga garasi itu supaya tetap dalam kondisi &#8220;nggak terlalu kotor, tapi juga nggak bersih-bersih amat&#8221; (sebab kami denger agak kumuh itu juga cool), maka kami pun siap latihan! Badu tampak siap dengan celana jeans robek-robeknya (katanya ini juga cool), Bada memakai topi panjang ala Slash (atau mungkin Mr. Robin, saya suka ketuker), karena katanya ciri khas penampilan itu penting, demi image band (tapi kok nyontek yang sudah ada ya?). Sementara saya, sudah siap dengan… bekal makan siang. Lho? Yoi, kalau rocker kena maag juga nggak cool bukan?</p>
<p>Setelah sambutan dari Bada (kami bertiga memang sepakat menuakan dia), dan sepatah dua patah kata dari Badu (kami anggap dia perwakilan anak muda dari karang taruna setempat), dilanjutkan acara gunting pita dan tabuh gong, potong nasi tumpeng dan minum jus wortel, maka studio latihan (d/h garasi) kami pun resmi dibuka. Kami bertiga sepakat menamakan studio baru itu dengan: &#8220;Latihan&#8221;. Nama yang lumayan cool, bukan? Jadi kalau dibaca lengkap: Studio &#8220;Latihan&#8221;. Edan! Alangkah brilian ide kami ini, yang memang kurang suka istilah-istilah yang sok berat penuh kiasan. Kami bertiga ini orangnya lugas-lugas saja. Okay, sedikit bodoh memang. Tapi peduli setan, pokoknya kami siap ngeband dan mengguncang dunia!</p>
<p>Di saat itulah kami baru menyadari sesuatu: kami belum punya alat musik satu pun.</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p>Damn! Kami merasa sangat bodoh. Ini esensial, Bung! Bagaimana kami bisa latihan kalau nggak ada alat musik satu pun? Bahkan sekadar kicrik-kicrik pun kami nggak punya. Setelah saling tuding saling menyalahkan (Badu: &#8220;Elu sih Bud, mikirinnya interior dapur mulu! Budi: &#8220;Heh, enak aja, gue kan juga harus mikirin logistik dan konsumi, tauk!&#8221; Mulai panas: &#8220;Elu tuh yang kerjanya nggak bener! Dasar NATO!&#8221; Debat kusir: &#8220;Nggak&#8230; lu tuh!&#8221; &#8220;Yee&#8230; elu!&#8221; Nyaris tonjok-tonjokan: &#8220;Elu!!!&#8221; … &#8220;Elu!!!&#8221;), akhirnya Bada berhasil melerai kami berdua dan mengaku salah, &#8220;Sudah, sudah. Jangan berantem. Ini salah saya. Harusnya kemarin saya survey alat-alat band, tapi malah keliru beli alat pancing dan penggorengan ikan.&#8221;</p>
<p>Saya dan Badu melongo berdua. Arghhh. Kita ini mau ngeband atau magang jadi koki? Dasar bodoh! Tapi karena Bada adalah anggota yang kami tuakan, jadi segala makian itu cukup diucapkan dalam hati saja, supaya lebih afdol dan tidak memicu konflik. Amin. Akhirnya, setelah memasang senyum palsu secukupnya, kami sepakat untuk pergi ke toko alat musik dan belanja segala keperluan kami di sana. Tapi problemnya adalah: kami semua lagi bokek. Kas persaudaraan kami sudah ludes untuk merenovasi garasi menjadi studio, dan sisanya sudah kami habiskan di meja judi. Gawat.</p>
<p>&#8220;Ada usul, <em>guys</em>, gimana caranya kita beli alat musik?&#8221;</p>
<p>&#8220;Gue tahu!&#8221; Badu bangkit dari duduknya, tangannya mengepal dan matanya berbinar-binar. Saya dan Bada langsung berdoa dalam hati, semoga usul Badu kali ini bermutu. &#8220;Gimana kalo kita ke toko musik, lalu kita pecahin semua alat di sana?&#8221;</p>
<p>Saya dan Bada saling berpandangan, bingung. &#8220;Ehmm, maksudnya…?&#8221;</p>
<p>Badu tampak kesal. &#8220;Ah, dasar bodoh kalian ini. Di toko kan suka ada tulisan &#8216;<em>Pecah Berarti Membeli</em>&#8216;! Jadi kalo kita pecahin alat musik di sana, berarti kita membelinya!&#8221;</p>
<p>Astaga. &#8220;DUITNYA, monyooooongggg!!!&#8221;</p>
<p>Sampai sekarang kami masih suka heran, apa sebenarnya yang ada di pikiran Tuhan ketika Dia menciptakan Badu.</p>
<p>Setelah melalui musyawarah untuk mufakat (awww, betapa kami menjaga nilai-nilai luhur bangsa!), keputusan bersamanya adalah: kami harus bekerja terlebih dahulu, mengumpulkan dana untuk membeli alat-alat musik idaman kami. Pokoknya kami harus bisa nge-band!</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p>Besoknya, kami pun mulai mencari uang dengan kemampuan kami masing-masing. Ada yang &#8216;terpaksa&#8217; kembali menulis naskah komedi untuk salah satu acara lawak paling fenomenal di sejarah pertelevisian negeri ini (ahem!). Ada yang pulang kampung dan diam-diam menjual kerbau-kerbau peninggalan kakek. Pokoknya kami kumpulkan uang &#8220;sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit&#8221;. Hmm, ngomong-ngomong itu peribahasa yang agak aneh ya: maunya ngumpulin duit, kok dapetnya malah bukit? Apa bukitnya harus kita jual dulu, baru kita dapet duit? Ah rumit.</p>
<p>Sementara Badu berusaha mencari uang dengan jualan balon di SD-SD. Kasihan, rupanya dia belum tahu, bahwa ketimbang lagu &#8220;<em>Balonku ada limaaa, rupa-rupa warnanyaaa…</em>&#8220;, anak-anak jaman sekarang lebih akrab dengan &#8220;<em>Aku punya teman… uh, uh… Teman tapi mesraaa…</em>&#8221; Begitu tahu, Badu langsung banting setir, jualan lotre di bungkus permen karet. &#8220;Gimanapun juga, judi itu abadi, Bos. Nggak kenal jaman.&#8221; Walhasil, bukannya untung malah buntung. Dia berurusan dengan pihak sekolah dan kepolisian, karena menjanjikan hadiah motor padahal bohong. Badu pun dijebloskan ke penjara dengan pasal penipuan. Tapi dengan bantuan Setan, yang kebetulan dikurung di sel sebelah atas tuduhan pemaksiatan umat, Badu berhasil kabur dari penjara.</p>
<p>Sebagai ucapan terimakasihnya, Badu mendirikan usaha baru: atraksi Tong Setan. Itu lho, akrobat naik motor muter-muter di dalam tong raksasa. Dia sendiri yang jadi penunggang motornya. &#8220;Gini-gini, gue kan ada bakat pembalap,&#8221; kata Badu pede. Padahal seingat kami, satu-satunya balapan yang pernah dia ikuti adalah karapan sapi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/02/TongSetan1.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-600" title="TongSetan" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/02/TongSetan1.jpg" alt="" width="454" height="302" /></a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sialnya, usaha Tong Setan ini pun tak banyak menghasilkan uang. Malah lebih sering nombok, karena harga BBM selalu naik dan naik terus. Dan rasanya kok sayang aja gitu, buang-buang bensin cuman buat muter-muter bloon di tong bego kayak gitu. Dirundung putus asa, plus bisikan Setan tentunya, akhirnya Badu memutuskan untuk (maaf) jual diri. Sayang caranya salah: dia berteriak-teriak sambil menjajakan dagangannya, &#8220;<em>Diri, diri! Diri!</em>&#8221; Bukannya laku, orang-orang malah menganggapnya gila. Mungkin mereka benar.</p>
<p>Saya dan Bada merasa kasihan. Bagaimanapun, Badu bagian dari kami. Dia hanya khilaf. Akhirnya dengan semangat persaudaraan, penuh haru kami merangkul Badu. Kami mengajaknya insyaf, menggandengnya pulang. Trio Budi Bada Badu utuh lagi, dan kabar bagusnya, awas, kami akan memakai huruf kapital: UANG KAMI SUDAH CUKUP UNTUK BELANJA ALAT MUSIK!</p>
<p>Kami bertiga pun berangkat ke toko alat musik yang sudah kami incar dari dulu. Sepanjang jalan, saya dan Bada bernyanyi-nyanyi riang (sekaligus mengasah persediaan stok lagu-lagu awal kami, yang sebenarnya sudah cukup banyak untuk sekadar <em>double album</em>), sementara Badu hanya diam saja dari tadi. Mungkin dia masih merasa nggak enak dengan kejadian tempo hari, apalagi secara finansial dia tidak ikut berkontribusi. Ketika pelan-pelan kami yakinkan bahwa itu beneran nggak papa, dia malah heran, &#8220;Kalian ini kenapa sih? Gue kan lagi mikir, gitar merk apa yang sebaiknya kita beli nanti!&#8221;</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p>Setibanya di toko (wah, namanya Toko &#8220;Musik&#8221;!, hohoho kami langsung merasa satu frekuensi!), atas rekomendasi kuat—untuk tidak mengatakan setengah memaksa—dari petugas parkirnya, akhirnya Badu memilih satu gitar lusuh di pojok toko. &#8220;Itu gitar legendaris peninggalan musisi terkenal di jamannya!&#8221; demikian katanya sambil menyodorkan kartu parkir kami. Lalu gitar itu pun kami periksa dengan seksama dan dalam tempo sesingkat-singkatnya. Tampak di stikernya yang sudah kusam, nama merk-nya: &#8220;Tua&#8221;. Well, ini pertanda bagus. Dengan gitar &#8220;Tua&#8221; ini, Badu pasti kan merasa seperti Rhoma Irama. Kami jadi curiga, jangan-jangan Pak-Petugas-Parkir tadi mantan anggota Soneta.</p>
<p>Bada, sebagai musisi spesialis alat tiup, mulai mencari-cari saksofon. Kami memang sempat terpikir mengubah aliran band kami menjadi jazz (karena kata sebuah lagu, &#8220;<em>&#8230;daripada musik metal lebih baik musik jazz&#8230;</em>&#8220;), tapi rupanya Toko &#8220;Musik&#8221; ini tidak menjual saksofon. Di etalase musik tiup kami hanya menemukan harmonika (yang segera kami hindari, karena mengingatkan pada pengamen country blues di warung sop kaki kambing langganan kami), pianika (aduh, memangnya anak SD ujian EBTA praktek?), seruling bambu (oh no, kami bukan band si gembala sapi!), dan&#8230; terompet bekas sisa Tahun Baru kemarin.</p>
<p>Astaga, kami salah memilih toko. Dengan suara tercekat, Bada bertanya, &#8220;Alat musik tiupnya cuman ada ini doang, Mbak?&#8221; Si Mbak-Pelayan-Yang-Lumayan mengangguk sambil tersenyum manis kayak tebu. Tapi dia mendadak seperti teringat sesuatu, lalu bergegas ke arah salah satu lemari. Dikeluarkannya kotak hitam lusuh, sambil berkata, &#8220;Ini ada satu lagi, Dek&#8230;&#8221; (Wah, ge-er juga dipanggil &#8220;Dek&#8221;. Pasti wajah imut kami inilah penyebabnya!)</p>
<p>Tapi ketika kotak hitam itu dibuka, lemaslah kami bertiga demi melihat isinya: peluit!</p>
<p>&#8220;Gimana, Dek, tertarik? Ini alat tiup juga kan? Kata distributornya, ini <em>limited edition</em> lho! Bisa dibilang <em>rare</em> lah!&#8221;</p>
<p>Tunggu. Peluit? Distributor? Tanpa aba-aba, kami bertiga serentak menoleh ke luar. Tampak Pak-Petugas-Parkir cepat-cepat melengos sambil bersiul-siul layaknya tak mendengar percakapan kami. Damn, apa yang bisa kami harapkan dari toko musik sialan ini?</p>
<p>Akhirnya, malas-malasan Bada mengambil seruling bambu. &#8220;Jangan kuatir, teman-teman. Saya akan memodifikasinya biar sedikit lebih berkelas. Band besar sekaliber Jethro Tull saja juga memakai seruling.&#8221; Okay bro, terserah kamu deh. Toh Bada adalah anggota persaudaraan yang kami tuakan, dan bagaimanapun, menghormati orang tua adalah sikap terpuji.</p>
<p>Oya, sebagai vokalis, supaya nggak terlalu nganggur waktu manggung ntar, saya pikir saya butuh kicrik-kicrik. Tapi lagi-lagi stok toko lagi kosong. Alasan Mbak-Pelayan-yang-Lumayan kali ini adalah, &#8220;Lagi nge-trend di kalangan musisi indie sekarang. <em>Sold-out</em> terus dari bulan kemarin.&#8221; Okay deh. Sebagai gantinya, saya beli <em>game-watch</em> Tetris. Toh fungsinya sama: supaya saya nggak terlalu nganggur di atas panggung. Jadi saya bayangkan, ketika membawakan salah satu lagu hits kami, yaitu sehabis saya menyanyikan bagian <em>reffrain</em> dua kali, lalu Badu akan bersolo gitar (yang pasti akan memakan waktu cukup lama, karena dia krisis eksistensi), maka selama itulah saya akan main Tetris. Cool.</p>
<p>Saatnya membayar. Di kasir, kami gagal meminta diskon. Padahal Badu sudah menyamar menjadi fakir miskin dan anak terlantar yang dipelihara oleh negara. Lihat, celananya dekil, kaosnya robek-robek, tapi sialnya bermerk mahal. Tentu saja pihak toko nggak percaya. Hmm, Mbak Kasir cantik juga (potensial groupies awal?), tapi kok kayak judes dan pelit. Dan bener aja. Waktu nggak ada kembalian, kami dikasih permen. Bayangkan!</p>
<p>&#8220;Kembaliannya permen aja ya? <em>Sok atuh</em>, kalian masing-masing ambil 1 permen!&#8221;</p>
<p>Kami kesal bukan main. Enak aja kembalian tiga ratus perak diganti permen.  &#8220;Kenapa sih Mbak, kembaliannya mesti permen?&#8221;</p>
<p>Jujur aja, kejudesannya tadi sudah lumayan mengurangi kecantikannya. Apalagi setelah dia menjawab, &#8220;Karena kalian masih kecil, masih anak-anak. Jadi kembaliannya pakai permen…&#8221;</p>
<p><em>Oh man</em>, meski berwajah imut-imut, kami bukan anak-anak! Badu tampak kesal dan dari hidungnya keluar api, &#8220;JADI KALO KITA NTAR UDAH GEDE, KEMBALIANNYA PAKE BIR?!?!”</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p>Di jalan pulang, kami masih agak kesal dengan perlakuan toko yang aneh tadi. Tapi kami mencoba tetap fokus dengan cita-cita luhur kami semula: Menjadi Anak Band! Oh, cool. Di kepala kami tersusun lagi rencana-rencana awal: latihan di garasi, manggung di gig-gig indie, upload lagu kami di internet, dilirik produser idealis yang mumpuni, kontrak rekaman yang menggiurkan, masuk TV dan terkenal, jadwal manggung yang padat, dikerubutin cowok-cowok, eh cewek-cewek, dsb., dst., dll., etc&#8230;</p>
<p>Sayang seribu sayang, mimpi tinggal mimpi. Semuanya terpaksa kandas, bahkan sebelum kami mulai. Ini gara-gara satu musibah absurd yang menimpa kami. Di jalan pulang tadi, kami bertemu, ehmm&#8230; well, seekor naga.</p>
<p>Ya, ya, ya, saya tahu kalian pasti tidak akan percaya. Selama ini kami juga berpikir naga hanya hidup di cerita-cerita dongeng belaka. Tapi sekarang, kami melihatnya dengan mata kepala sendiri. Besar, sangat besar, dan nyata. <em>ASTAGA NAGA RAKSASA</em>!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/02/naganaganyadragon.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-595" title="naganaganyadragon!" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/02/naganaganyadragon.jpg" alt="" width="300" height="299" /></a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sebelum kami sempat berpikir mengambil langkah seribu, Sang Naga sudah terlanjur mendenguskan nafas api, membakar habis semua alat musik kami! Kami sangat marah, tapi terlebih lagi, sebenarnya, kami sangat takut. Dia lalu membuka mulutnya lebar-lebar, mau memakan kami! Tak sempat menjerit, kami bertiga saling berpelukan seperti finalis AFI yang dieliminasi, sambil berikrar sehidup semati. Naga itu pun menelan kami!</p>
<p>Di saat itulah kami mulai paham arti istilah &#8220;<em>mulut lu bau naga, bro</em>.&#8221; Apalagi kami belajar langsung di lapangan, langsung dari sumber yang paling terpercaya. Tak kuat menahan bau naga mulut Sang Naga, kami bertiga pun jatuh pingsan. Ketika siuman, kami baru menyadari sudah berada di dalam perut Sang Naga.</p>
<p>Sejak saat itu, kami harus menjalani sisa umur kami di sana. Sampai detik ini. Kami masih berpikir keras, bagaimana caranya bisa keluar dari  tempat ini. Mungkin dengan menuliskan cerita ini, sidang pembaca menjadi tergerak menolong kami. Kalian bisa mengirimkan saran-saran lewat surat pembaca, ke PO BOX N464. Kami tunggu ya. Terima kasih lho.</p>
<p style="text-align: right;">Salam,<br />
Budi, mewakili Bada dan Badu.</p>
<p><span style="font-size: 90%;"><span style="font-family: trebuchet ms;">*) Judul cerita ini diilhami dari judul film dokumenter <strong><em>Anak Naga Beranak Naga</em></strong> (2006), karya <a href="http://arianidarmawan.net"><strong>Ariani Darmawan</strong></a>. Tulisan ini pertama kali muncul di <a href="http://budibadabadu.blogspot.com/2006/05/anak-band-beranak-band.html" target="_blank"><strong>blog lama</strong></a> saya.</span></span></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/anak-band-beranak-band/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sepuluh Besar Sembilan Puluhan Menurut Saya</title>
		<link>http://budiwarsito.net/sepuluh-besar-sembilan-puluhan-menurut-saya/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/sepuluh-besar-sembilan-puluhan-menurut-saya/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Aug 2011 04:51:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=805</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;The grunge ended when everyone in Seattle discovered dry-cleaning.&#8221; &#8212; Mo Rocca Licorice Roots &#8211; Melodeon (Mood Food, 1997). Neutral Milk Hotel &#8211; In The Aeroplane Over The Sea (Domino, 1998). Bongwater &#8211; The Power Of Pussy (Shimmy Disc, 1990). Milk &#8211; Succeeding/Receding (Spanish Fly, 1994). Blur &#8211; Modern Life Is Rubbish (Food, 1993). The [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/08/Top90s-comp.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-804" title="Top90s-comp" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/08/Top90s-comp.jpg" alt="" width="448" height="336" /></a></p>
<p>&#8220;<em>The grunge ended when everyone in Seattle discovered dry-cleaning</em>.&#8221;<br />
&#8212; Mo Rocca</p>
<p><span id="more-805"></span></p>
<p><strong>Licorice Roots</strong> &#8211; <em>Melodeon</em> (Mood Food, 1997). <strong>Neutral Milk Hotel</strong> &#8211; <em>In The Aeroplane Over The Sea</em> (Domino, 1998). <strong>Bongwater</strong> &#8211; <em>The Power Of Pussy</em> (Shimmy Disc, 1990). <strong>Milk</strong> &#8211; <em>Succeeding/Receding</em> (Spanish Fly, 1994). <strong>Blur</strong> &#8211; <em>Modern Life Is Rubbish</em> (Food, 1993). <strong>The Jean-Paul Sartre Experience</strong> &#8211; <em>s/t compilation</em> (Flying Nun, 1995). <strong>Slint</strong> &#8211; <em>Spiderland</em> (Touch and Go, 1991). <strong>East River Pipe</strong> &#8211; <em>Shining Hours In A Can</em> (Merge, 1994). <strong>Scott Walker</strong> &#8211; <em>Tilt</em> (Mercury, 1995). <strong>Thomas Jefferson Slave Apartments</strong> &#8211; <em>Bait And Switch</em> (Onion, 1995).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/sepuluh-besar-sembilan-puluhan-menurut-saya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pada Mulanya adalah Stroszek</title>
		<link>http://budiwarsito.net/pada-mulanya-adalah-stroszek/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/pada-mulanya-adalah-stroszek/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Jul 2011 17:23:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[Musik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=725</guid>
		<description><![CDATA[he&#8217;s watching him watching stroszek. happy 55th birthday, ian! &#160;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/05/watchstrosz.jpg"><img class="size-full wp-image-726 aligncenter" title="watchstrosz!" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/05/watchstrosz.jpg" alt="" width="448" height="336" /></a><span style="font-size: 90%;"><span style="font-family: trebuchet ms;"><em></em>he&#8217;s watching him watching <a href="http://budiwarsito.net/stroszek/" target="_blank"><strong>stroszek</strong></a>.</span></span></p>
<p><span id="more-725"></span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #c0c0c0;">happy 55th birthday, ian!</span></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/pada-mulanya-adalah-stroszek/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Di Ruang Itu</title>
		<link>http://budiwarsito.net/di-ruang-itu/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/di-ruang-itu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Jun 2011 03:49:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Rupa-rupa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=750</guid>
		<description><![CDATA[. Bapak pernah sangat marah padaku, dan tak sengaja beliau menjatuhkan Kamus Besar Bahasa Indonesia yang luar biasa tebal dari rak buku, tepat mengenai luka yang belum kering di lutut kananku. Beberapa hari sebelumnya lutut kananku memang cedera parah, jatuh terpeleset dari pohon belimbing di halaman depan, akibat menaiki kursi dingklik bikinan Bapak yang tentu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/06/whenwewereyoung.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-752" title="whenwewereyoung" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/06/whenwewereyoung.jpg" alt="" width="336" height="352" /></a><span style="color: #ffffff;">.</span></p>
<p>Bapak pernah sangat marah padaku, dan tak sengaja beliau menjatuhkan Kamus Besar Bahasa Indonesia yang luar biasa tebal dari rak buku, tepat mengenai luka yang belum kering di lutut kananku. Beberapa hari sebelumnya lutut kananku memang cedera parah, jatuh terpeleset dari pohon belimbing di halaman depan, <span id="more-750"></span>akibat menaiki kursi dingklik bikinan Bapak yang tentu saja tidak sempurna sebab beliau memang bukan seorang tukang kayu. Luka itu kemudian terbuka lagi, tertimpa ratusan halaman kata-kata, dan darah segarnya mengucur. Merembes ke bawah, terus ke bawah, melewati betisku, menyelusup di antara jari kaki, berakhir membasahi lantai. Aku ingat bagaimana Bapak kemudian mengelap basah yang amis itu dan membungkus lututku dengan perban baru, merawatnya dengan obat-obatan. Bapak melakukannya dengan penuh rasa sesal, bercampur kasih sayang yang tersamar, dan muka keras yang murung. Beliau menangis. Aku, masih sangat kecil waktu itu, sibuk menggigiti bibirku, badanku gemetar menahan supaya tangis tak ikut pecah. Antara rasa pedih akibat luka itu, penglihatan atas raut wajahnya yang tua dan lelah, dan terutama pengetahuan bahwa hidup beliau memang tidak mudah. Aku mengerti.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p style="text-align: center;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/di-ruang-itu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>[Cerpen Favorit] Sahabat Saya Cordiaz</title>
		<link>http://budiwarsito.net/cerpen-favorit-sahabat-saya-cordiaz/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/cerpen-favorit-sahabat-saya-cordiaz/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Jun 2011 12:26:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=839</guid>
		<description><![CDATA[. (cerita pendek oleh Asrul Sani) Cerita ini mulai sebulan yang lalu, yaitu waktu saya memperoleh sebuah kamar baru. Kamar itu baik. Agak besar, cukup luas untuk tempat tidur dan rak-rak buku saya. Hawanya pun baik. Kalau hari siang ia amat panas dan kalau hari malam ia amat dingin. Sekiranya angin tidak ada, terbau bau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #ffffff;">.</span><br />
(cerita pendek oleh <strong>Asrul Sani</strong>)</p>
<p><a href="../wp-content/uploads/2011/06/cordiazrul.jpg"><img class="aligncenter" title="cordiazrul" src="../wp-content/uploads/2011/06/cordiazrul.jpg" alt="" width="403" height="302" /></a><br />
Cerita ini mulai sebulan yang lalu, yaitu waktu saya memperoleh sebuah kamar baru. Kamar itu baik. Agak besar, cukup luas untuk tempat tidur dan rak-rak buku saya. Hawanya pun baik. Kalau hari siang ia amat panas dan kalau hari malam ia amat dingin. Sekiranya angin tidak ada, terbau bau tengik yang mesti saya atasi dengan bau obat nyamuk. Selain dari itu, ada lagi tikus. Tikus-tikus ini berusaha untuk hidup dan untuk dapat beranak-bercucu. Jadi mereka tidak lebih dari kaum proletar. Saya juga seorang proletar. Dan karena proletar seluruh dunia harus bersatu, maka akan dapatlah kami sekiranya hidup rukun dalam kamar itu. Tetapi kawan-kawan serikat saya ini, suka berpesta. Kalau kegembiraan mereka sudah naik marak, maka dimakannya buku-buku saya. Sehingga tak mengherankan, jika saya pagi-pagi harus menemui de Maupassant tak berkepala atau Dos Passos tak berpunggung.<span id="more-839"></span></p>
<p>Suatu hari datang seorang anak muda bersepatu putih, bertopi hitam, bajunya belang-belang dan ia memperkenalkan diri kepada saya sebagai: C. Darla. Ia tidak mengatakan apakah ia seorang Indo-Spanyol, atau Manila ataupun orang Indonesia yang berasal dari pulau Enggano (saya mendengar kabar, bahwa orang-orang Enggano masih memakai nama-nama Spanyol). Ia beroleh kamar yang letaknya lebih dekat ke kamar mandi. Bahasa Indonesianya langgam-langgam Singapura bercampur bahasa Inggeris sedikit-sedikit. Demikian ia bercerita tentang &#8220;British nébi yang léndid di Singapure.&#8221; Saya tertarik kepadanya, karena ia pandai berbicara tentang macam-macam pengalaman yan didapatnya di Singapura. Tentang bajingan-bajingan, &#8220;geng&#8221; katanya, tentang kaum komunis dan sebagainya. Waktu ia menyusun buku-bukunya, diberikannya buku &#8220;Atlantic Charter&#8221; kepada saya. Saya makin kagum. Tetapi kemudian hari dikatakannya, bahwa buku roman yang sebagus-bagusnya, ialah buku &#8220;Elang Mas&#8221; karangan Jusuf Sou&#8217;yb. Segera hilang kagum saya. Sungguhpun demikian kami tetap bersahabat.</p>
<p>Pergaulan kami amat rapat, sehingga banyaklah yang berkecil-kecil yang diceritakannya kepada saya. Ia menceritakan, bahwa ia mempunyai darah Spanyol, tetapi ia telah lama tinggal di Indonesia. Sebelum ia datang ke mari, ia berdiam di Singapura. Kedatangannya ke Jakarta membawa kisah sedih. Ia harus meninggalkan kekasihnya seorang gadis Pilipina di Singapura. Sesudah menceritakan itu ia mengetik ucapan-ucapan pernyataan-cinta dalam bahasa Inggeris yang tunggang-balik, lalu ditinggalkan di kamar saya. Tentang pekerjaannya ia tidak pernah berbicara. Hanya ia berangkat pukul 9 dari rumah dan pukul 1 telah ada pula. Tetapi rupanya pekerjaannya amat banyak, sehingga setiap sore ia meminjam mesin ketik, lalu mengetik terus-menerus. Sesudah itu lalu dibakarnya segala kertas yang diketiknya tadi. Lalu ia bersungut-sungut. Kemudian ia datang kepada saya untuk mengatakan, bahwa mesin ketik saya kurang &#8220;enak&#8221;. Kalau boleh ia hendak membawanya ke bengkel supaya diminyaki. Ini saya izinkan. Lalu ia hendak membelikan saya pita mesin ketik yang berwarna merah-hitam. Itupun saya setujui dengan hati yang tulus-ikhlas. Demikian ia melakukan perbuatan-perbuatan yang ganjil-ganjil dan yang penuh simbolik, sehingga menarik perhatian segala isi rumah. Ia menjadi pusat perhatian. Entah memang itu maksudnya, saya tidak tahu. Tetapi ia berhasil benar, sehingga tiada lagi orang yang menghiraukan keluhan-keluhan saya setiap pagi tentang pengarang anu yang kehilangan kepala atau yang kehabisan punggung ataupun yang pecah-pecah kulit. Demikian saya tinggal dengan teman-teman serikat saya yang menjadi musuh saya dan saya C. Darla yang mengalahkan saya.</p>
<p>Pernah Darla bertanya tentang cinta kepada saya, dan apakah telah banyak pengalaman saya tentang hal ini. Rupanya sangat tertarik benar hatinya akan pokok percakapan ini, sehingga kadang-kadang samoai sekerat malam kami bercakap-cakap. Katanya, ia masih muda, masih ingin melihat dunia dan belum mau kawin. Tetapi ia sekarang sedang tersangkut pada suatu perkara yang sulit. Perkara itu, ialah perkara kasih-sayang juga.</p>
<p>Sekali ia pulang membawa sebuah gelang rantai perak, seperti yang biasa saya lihat dipakai oleh serdadu-serdadu India atau Australia. Gelang itu diperlihatkannya kepada saya. Di sana tertulis: Cordiaz Darla. Jadi sahabat saya itu ialah: Cordiaz. Bukan nama Indonesia. Saya tidak tahu berbahasa Spanyol, tetapi kalau mendengar-dengar bunyinya, ada juga mengarah-arah sedikit. Sama enak kedengarannya, seperti perkataan Ortega dalam buku Ortega y Gasset dan perkataan Fernando dalam nama Fernando Poe. Percakapan kami malam itu dimulainya dengan ketawa besar. Sesudah itu ia berbicara tentan Arni. Saya tidak kenal Arni. Katanya, Arni, ialah &#8220;bekas&#8221; kekasihnya, dan sekarang gadis itu sudah kurus kering, karena ia tidak pernah datang lagi ke rumahnya. &#8220;Tidak ada orang yang dapat menggantikan saya,&#8221; katanya. &#8220;Huh!! Awak kire awak punya negeri! Ayahnya mesti datang kepada saya, minta ampun, baru saya datang ke sana. Ia mesti mendapat ajaran sedikit.&#8221;</p>
<p>&#8220;Jadi, menang lagi?&#8221; tanya saya.</p>
<p>&#8220;Siapa bilang kalah,&#8221; katanya.</p>
<p>Saya ikut tertawa karena sahabat saya menang. Tapi, Arni panjang umurnya di rumah kami, karena sahabat saya itu, mempercakapkan Arni saja kerjanya. &#8220;Ia tidak dapat bercerai dengan saya. Hatinya hancur luluh,&#8221; katanya. &#8220;Semua salah bapaknya. Sekarang anaknya makan hati.&#8221; Ia makin hari makin tidak senang diam. Surat-surat yang diketiknya makin lama makin banyak. Tetapi sebanyak itu yang diketiknya, sebanyak itu pula yang dibakarnya. Kalau ia tidak menyeterika celananya, ia mengetik, kalau ia tidak mengetik, ia ke luar rumah. Perginya terburu-buru. Tetapi secepat itu perginya, selekas itu pula kembalinya. Kalau sedang makan ia bercerita tentang saya-kasihan-sama-Arni.</p>
<p>Suatu malam ia pulang bergegas-gegas. Terus ke kamar saya.</p>
<p>&#8220;Ia mencari dukun,&#8221; katanya. &#8220;Saya mau diberi guna-guna. Bangsat! Saya juga ada dukun.&#8221;</p>
<p>Entah dari mana ia mendapat kemauan untuk pergi kepada dukun, entah dari ibunya, entah dari neneknya orang Spanyol, saya tidak tahu. Pendeknya&#8212;ia pergi kepada dukun. Sore-sore itu ia mengirim surat dan suatu bungkusan kepada Arni. Surat dan bungkusan itu kembali malam itu juga. Sesudah menerima itu, rupanya runtuh segala pasak-pasak tubuhnya. Dengan terbungkuk-bungkuk ia masuk ke kamarnya, lalu dikuncinya pintu erat-erat. Esok harinya, waktu saya kembali dari berjalan-jalan, saya lihat kopornya tidak ada lagi. Di atas meja saya ada surat. Di dalamnya tertulis: &#8220;Saya tidak tahan lagi tinggal di sini. Rumah ini terlampau ribut buat saya.&#8221; Kasihan! Rupanya banyak juga tikus-tikus dalam kamarnya. Dan kawan-kawan serikat saya ini rupanya bertindak sebagai kaum kapitalis, sehingga sahabat saya yang sama proletarnya dengan saya, tidak dapat bersatu dengan mereka&#8212;lalu pergi.</p>
<p>Sangka saya selesailah riwayat Cordiaz Darla. Tetapi minggu yang lampau saya mendengar kabar, bahwa ia telah kawin dengan seorang janda yang beranak lima. Saya pergi ke rumahnya. Agak merumuk ia sedikit waktu saya temui. Saya tanyakan bagaimana mereka kawin. &#8220;Bagaimana orang Indonesia kawin,&#8221; kata istrinya. Perempuan ini peramah betul dan ia lebih berpengalaman dari Darla, sehingga tak dibiarkannya Darla banyak cakap. Ia memperlihatkan surat kawin mereka kepada saya. Saya baca di sana nama: Chaidir Darla, jadi huruf C itu tidak berarti Cordiaz. Namanya memang Chaidir, karena istrinya memanggil, &#8220;Dir, Dir!&#8221; Jadi ia bukan orang Spanyol atau Pilipina. Waktu saya mau pergi saya katakan kepada Darla, bahwa saya ikut berbesar hati. Saya berjanji akan mendoa-doakan supaya mereka lebih banyak mendapat anak. &#8220;Ingat,&#8221; kata saya, &#8220;Orang tua-tua bilang: banyak anak, banyak padi!&#8221; Istrinya tersenyum berseri-seri.</p>
<p>Dua hari yang lalu saya menerima surat dari Darla. Dalam surat itu tertulis: &#8220;Saya tidak tahan lagi tinggal di sini. Tolonglah saya!&#8221;</p>
<p>Saya maklum sudah. Bagaimana ia akan tahan, kalau hatinya keras untuk jadi orang Spanyol atau orang Pilipina, sedang orang menganggap dia orang Indonesia. Lagi pula apalah salahnya. Bangsa saya banyak sudah yang menjadi orang Belanda, mengapa pula tidak akan diberi kesempatan kepadanya untuk menjadi orang Spanyol. Orang Indonesia belum banyak yang jadi orang Spanyol. Sebab itu saya kirimkan uang 50 rupiah dan saya tulis pada surat pengantarnya: &#8220;Untuk ongkos menjadi orang Spanyol.&#8221; Surat ini tidak berbalas. Menurut kira-kira saya sudah berhasil kehendaknya.</p>
<p>Tapi tadi pagi, saya lewat bersepeda di depan rumah Darla. Kebetulan saya bertemu dengan bujang perempuannya, lalu saya tanyakan kalau-kalau ia tahu tentang amplop berisi uang yang saya kirimkan.</p>
<p>&#8220;Ya, saya sendiri yang kasih sama nyonya,&#8221; jawabnya.</p>
<p>&#8220;Sama nyonya? Jadi&#8230;?&#8221;</p>
<p>&#8220;Nyonya terus beli kebaya baru.&#8221;</p>
<p>&#8220;O, bagus, bagus.&#8221; (Hati saya berkata, celaka tiga belas).</p>
<p>&#8220;Tuan sekarang di mana?&#8221;</p>
<p>&#8220;Katanya, kerja di bagian distribusi. Masuk dulu tuan!&#8221;</p>
<p>&#8220;Ndak, ndak. Lain kali saja.&#8221;</p>
<p>Saya pergi.</p>
<p>Ah, kandas. Tragis betul. Belum juga rupanya sampai cita-cita Darla untuk bernama: Cordiaz Darla. Tetapi tidak apa, siapa tahu ia besok menjadi orang Jerman atau orang Amerika.</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p><span style="font-size: 90%;"><span style="font-family: trebuchet ms;">Diketik ulang dari buku kumpulan cerita pendek Asrul Sani, <em><strong>Dari Suatu Masa Dari Suatu Tempat</strong></em> (Pustaka Jaya, cetakan pertama 1972). Asrul Sani juga menulis beberapa naskah film Indonesia yang kemudian menjadi klasik. Salah satu di antaranya adalah, yang juga dia sutradarai, film Indonesia dengan judul paling magis sepanjang sejarah perfilman nasional: <em>Apa jang Kau Tjari, Palupi</em>? (1969).</span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/cerpen-favorit-sahabat-saya-cordiaz/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Janji? #1</title>
		<link>http://budiwarsito.net/janji-1/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/janji-1/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 May 2011 03:10:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=720</guid>
		<description><![CDATA[Hmm, lucu juga idenya. 10 Penyanyi Perempuan Terfavorit? Baiklah, daftarnya diubah sedikiiit menjadi: [01] Rebecca Schiffman [02] Sibylle Baier [03] Josephine Foster [04] Wheatie Mattiasich [05] Soelih Soejatno [06] Ann Magnuson (of Bongwater) [07] Fursaxa [08] soap&#38;skin [09] Sharon Van Etten [10] Freya Hollick [11] Jeri Rossi (of Your Funeral) [12] Ana da Silva &#38; [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/05/SS.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-721" title="SS" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/05/SS.jpg" alt="" width="401" height="146" /></a></p>
<p>Hmm, lucu juga idenya. <em>10 Penyanyi Perempuan Terfavorit</em>?<em> </em>Baiklah, daftarnya diubah sedikiiit menjadi:<span id="more-720"></span></p>
<p>[01] Rebecca Schiffman<br />
[02] Sibylle Baier<br />
[03] Josephine Foster<br />
[04] Wheatie Mattiasich<br />
[05] Soelih Soejatno<br />
[06] Ann Magnuson (of Bongwater)<br />
[07] Fursaxa<br />
[08] soap&amp;skin<br />
[09] Sharon Van Etten<br />
[10] Freya Hollick<br />
[11] Jeri Rossi (of Your Funeral)<br />
[12] Ana da Silva &amp; Gina Birch (of The Raincoats)</p>
<p>Dan ya, tetep kelebihan dua! Kapan-kapan ditulisnya. Semoga ini bisa lebih dari sekadar janji-janji tukang jahit.</p>
<p><a href="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/05/SS1.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-739" title="SS!" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/05/SS1.jpg" alt="" width="448" height="336" /></a></p>
<p>[MP3]<br />
<a href="http://www.mediafire.com/?a0w6ru4yveus7f4" target="_blank"><strong>Soelih Soejatno &#8211; &#8220;Nyanyian Musafir&#8221;</strong></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/janji-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

