<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>budiwarsito.net</title>
	<atom:link href="http://budiwarsito.net/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://budiwarsito.net</link>
	<description>esok kita jumpa pula</description>
	<lastBuildDate>Sat, 19 Jun 2010 11:22:57 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>duaribusepuluh.</title>
		<link>http://budiwarsito.net/duaribusepuluh/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/duaribusepuluh/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Jan 2010 15:15:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Rupa-rupa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=466</guid>
		<description><![CDATA[
the bells don&#8217;t ring at night. 
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><span style="color: #000000;"><img class="size-full wp-image-467 aligncenter" title="c&amp;h" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2010/02/ch.jpg" alt="c&amp;h" width="389" height="295" /></span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #000000;"><em>the bells don&#8217;t ring <a href="http://www.mediafire.com/?ygwvcjfznh3" target="_blank"><strong>at night</strong></a>. </em></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/duaribusepuluh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Chief Sitting Bull</title>
		<link>http://budiwarsito.net/chief-sitting-bull/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/chief-sitting-bull/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Dec 2009 07:20:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Rupa-rupa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=449</guid>
		<description><![CDATA[.
(cerita pendek oleh Umar Kayam)

Pagi itu tidak banyak orang yang berkerumun di sekitar carousel Central Park. Hanya ada beberapa orang anak kelihatan bertengger di atas kuda-kudaan, seperti biasa tidak sabar menunggu lonceng tanda carousel berjalan berbunyi. Di bangku-bangku sekitar carousel, ibu-ibu atau pengasuh anak-anak itu duduk mengobrol sambil sesekali mengawasi anaknya. Teng-teng-teng. Lonceng berbunyi, wajah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><span style="color: #ffffff;"><strong>.</strong></span><br />
(cerita pendek oleh Umar Kayam)</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-452" title="carousel" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2009/12/carousel1.jpg" alt="carousel" width="385" height="418" /></p>
<p>Pagi itu tidak banyak orang yang berkerumun di sekitar carousel Central Park. Hanya ada beberapa orang anak kelihatan bertengger di atas kuda-kudaan, seperti biasa tidak sabar menunggu lonceng tanda carousel berjalan berbunyi. Di bangku-bangku sekitar carousel, ibu-ibu atau pengasuh anak-anak itu duduk mengobrol sambil sesekali mengawasi anaknya. Teng-teng-teng. Lonceng berbunyi, wajah anak-anak berseri-seri, dan carousel pun bergerak. Kuda-kuda mulai naik-turun diiringi musik waltz.</p>
<p>Dari arah kebun binatang kelihatan seorang kakek berlari tergopoh. Di tangannya dijinjingnya sebuah kantong. Waktu sampai di muka loket, dengan napas sengal-sengal diberikannya uang lima puluh sen kepada perempuan yang menjual karcis.</p>
<p>&#8220;Lima, seperti biasa, Charlie?&#8221;<span id="more-449"></span></p>
<p>Charlie kembali mengangguk sambil menerima lima helai karcis yang berlaku buat naik lima kali putaran. Kemudian dia berdiri di pinggir pintu masuk. Salah seorang penjaga yang melayani anak-anak turun dari kuda, datang mendekati Charlie.</p>
<p>&#8220;Kau lambat hari ini, Charlie?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya. Mary, menantuku, tidak beres pagi ini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidak beres bagaimana?&#8221;</p>
<p>&#8220;Masa dia lupa menaruh jatahku yang $ 1 itu di meja dapur. Pagi ini aku hanya mendapatkan sandwich-ku untuk lunch di meja itu. Terpaksa aku tunggu ia sampai kembali dari laundromat. Aku labrak dia waktu dia kembali. Sampai nangis-nangis dia minta ampun.&#8221;</p>
<p>&#8220;Habis itu semua beres, kan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh, ya, tentu, tentu, Mary anak yang baik sesungguhnya. Cuma kadang-kadang dia tolol.&#8221;</p>
<p>Si penjaga tersenyum.</p>
<p>&#8220;Aku khawatir kau harus menunggu agak lama pagi ini, Charlie.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa maksudmu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Lihatlah, kudamu yang putih dipakai. Begitu juga yang hitam. Kecuali kalau kau mau naik yang lain. Maukah kau?&#8217;</p>
<p>&#8220;Tidak, tidak. Aku cuma naik yang dua itu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Jadi kau mau menunggu saja?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidak, tidak. Aku segera naik begitu putaran ini selesai.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tetapi anak-anak itu terus-menerus naik sampai enam putaran. Aku tidak tahu berapa mereka diberi uang oleh ibu mereka. Anak-anak Madison Avenue itu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ah, serahkan saja kepadaku. Masa aku kalah oleh anak ingusan. Anak ingusan tetap saja masih ingusan, biarpun dia dari Madison Avenue atau dari Avenue langit pun.&#8221;</p>
<p>Penjaga tersenyum dan meninggalkan Charlie karena lonceng telah berbunyi menandakan putaran itu telah selesai. Charlie mendekati anak yang mengunggang kuda putih.</p>
<p>&#8220;Howdy, Bill.&#8221;</p>
<p>Anak itu agak terkejut disapa seorang kakek.</p>
<p>&#8220;Namaku bukan Bill.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tetapi bukankah kau Buffalo Bill? Bill Cody?&#8221;</p>
<p>Si anak tertawa.</p>
<p>&#8220;Ya, ya, betul. Aku Buffalo Bill. Dan kau siapa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku Sitting Bull.&#8221;</p>
<p>“Chief Sitting Bull?”</p>
<p>&#8220;Ho!&#8221;</p>
<p>&#8220;Ho!&#8221;</p>
<p>Charlie menepuk-nepuk kuda putih.</p>
<p>&#8220;He, Bill. Sejak kapan kau ganti kudamu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa maksudmu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Bukankah Buffalo Bill naik kuda merah?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidak, tidak. Buffalo Bill selalu naik kuda putih.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi dia naik kuda merah waktu mengalahkan Sitting Bull.&#8221;</p>
<p>&#8220;Benarkah?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, tentu saja. Dan Sitting Bull naik kuda putih waktu itu.&#8221;</p>
<p>Si anak memandang Charlie dengan penuh keraguan.</p>
<p>&#8220;Tunggu dulu, Pak.&#8221;</p>
<p>&#8220;Chief.&#8221;</p>
<p>&#8220;Chief. Tunggu dulu, Chief. Benarkan Buffalo Bill pernah ketemu Sitting Bull?&#8221;</p>
<p>&#8220;Eh, bicara apa kau? Kau ini anak Amerika, apa anak Cina? Jawablah, apakah kau anak Amerika yang baik?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, aku anak Amerika.&#8221;</p>
<p>&#8220;Nah, kenapa belum tahu bahwa Buffalo Bill yang mengalahkan Sitting Bull?&#8221;</p>
<p>Si anak kelihatan bingung dan belum yakin betul akan kata-kata Charlie.</p>
<p>&#8220;He, Bill. Kudamu merah telah menunggu kau, &#8216;tu. Aku, Sitting Bull harus segera naik kuda putih.&#8221;</p>
<p>Si anak belum juga turun dari kudanya.</p>
<p>&#8220;Ayolah! Buffalo Bill naik kuda merah mengejar Sitting Bull yang naik kuda putih. Kalau nanti lonceng berbunyi aku akan mulai dengan wu-wu-wu-wu-wu begini dan kau, Bill, akan mulai menembak aku dari belakang. Tam, tam, tam, tam.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tetapi Buffalo Bill tidak pernah mau menembak dari belakang.&#8221;</p>
<p>“Siapa bilang? Melawan Indian dia harus menembak dari belakang. Bukankah Indian selalu lari tiap ketemu Buffalo Bill? Dan Buffalo Bill bukankah harus mengejar dan menembak dia? Ayolah! Sebentar lagi lonceng berbunyi, &#8216;tu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Baiklah, Chief.&#8221;</p>
<p>Si anak turun dari kuda putih dan berlari menuju kuda merah.</p>
<p>Charlie dengan tertawa terkekeh-kekeh buru-buru naik kuda putihnya. Teng-teng-teng. Lonceng tanda berputar berbunyi. Charlie melihat kepada si anak yang sekarang sudah naik punggung kuda merah. Charlie meletakkan telapak tangannya di mulutnya. Dan dengan berputarnya carousel, ditepuk-tepuknya telapak tangannya pada mulutnya : wu-wu-wu-wu, wu-wu-wu-wu-wu! Di belakangnya, si anak mulai menembak Charlie. Tam-tam-tam-tam-tam-tam!</p>
<p>Carousel berputar, kali itu lagu &#8220;Oklahoma&#8221; yang mengiringi.</p>
<p>Untuk kira-kira seperempat jam lamanya ruang carousel gegap gempita karena tembak menembak yang seru antara Buffalo Bill dan Chief Sitting Bull. Rupanya kedua pahlawan itu sama-sama sakti karena tak seorang pun yang jatuh karena tembak-menembak yang dahsyat itu.</p>
<p>Akhirnya Charlie pun selesai mengerjakan lima kali putaran dan turunlah dia. Si anak, karena juga telah selesai, ikut pula turun.</p>
<p>Charlie dan si anak sama-sama keluar.</p>
<p>&#8220;Itu tadi tembakan yang hebat, Chief.&#8221;</p>
<p>&#8220;Buffalo Bill selalu menang, Chief.&#8221;</p>
<p>&#8220;Betul, betul.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sekarang kau mau ke mana, Chief?&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh, aku harus kembali ke semak-semak sana.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ke semak-semak?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya. Aku harus ketemu squaw.&#8221;</p>
<p>&#8220;Squaw?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, squaw. Bukankah orang Indian laki-laki punya squaw.&#8221;</p>
<p>“Oh, ya, squaw. Pacar?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, begitulah kira-kira.&#8221;</p>
<p>Tiba-tiba seorang diantara perempuan-perempuan yang duduk di bangku memanggil anak itu.</p>
<p>&#8220;Tommy!&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, Bu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ayolah. Sudah siang sekarang. Bukankah kau harus pulang makan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi Bu, aku harus pergi.&#8221;</p>
<p>&#8220;Pergi? Pergi ke mana?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku mau ikut Chief Sitting Bull ketemu squaw.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ketemu apa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Squaw.&#8221;</p>
<p>Ibu Tommy memandang Charlie. Charlie tersenyum kemalu-maluan. Tangannya meraba-raba dasinya yang lusuh, kemudian diangkatnya topinya sedikit.</p>
<p>&#8220;Selamat siang, Nyonya.&#8221;</p>
<p>Dan Charlie dengan menjinjing kantong berjalan menuju ke kebun binatang. Tommy berteriak.</p>
<p>&#8220;Chief, Chief!&#8221;</p>
<p>Tapi Charlie tidak menoleh dan ibunya juga buru-buru menyeretnya.</p>
<p>Di kebun binatang, Charlie duduk di bangku. Di sampingnya, duduk seorang nenek yang sebaya dengan Charlie.</p>
<p>&#8220;Kau lambat hari ini, Charlie.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, maaf, Martha.&#8221;</p>
<p>&#8220;Burung-burung resah menunggumu. Tentulah mereka mengira tidak mendapat jagung dan jali hari ini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh, mereka akan mendapat. Aku tidak akan lupa. Sebabnya aku lambat karena Mary, menantuku.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kenapa dia?&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh, seperti biasa. Menantu-menantu bukankah selalu mencoba menyabot mertua-mertua mereka tiap kali ada kesempatan? Apalagi mertua yang sudah tua-tua seperti aku atau kau. Tidak pernahkah kau disabot menantumu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tiap hari, meskipun aku tidak tinggal dengan anak dan menantuku. Ada saja akal mereka untuk terus menggangguku. Bagaimana Mary menyabot kau pagi tadi?&#8221;</p>
<p>&#8220;Pertama, aku dikasih toast yang gosong-gosong saja buat sarapanku. Sudah itu dikasihnya aku cereal. Dianggapnya aku ini bayi, apa? Lalu yang terakhir, dan ini yang terlalu!&#8221;</p>
<p>&#8220;Apakah itu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Mary pura-pura lupa, tidak menyediakan uang harianku.&#8221;</p>
<p>&#8220;Terlalu!&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, bukankah sudah terlalu benar itu. Enak saja dia pergi ke laundromat, membiarkan mertuanya kelabakan di rumah, aku labrak habis dia. Aku bilang kalau memang dia tidak sudi lagi aku tinggal di situ, aku minta disewakan rumah sendiri. Kalau dia tidak berjanji menghentikan ulahnya yang tidak beres itu, aku mengancam mau mengadukannya kepada Johnny. Oh, nangis dia.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya,ya, sering kali menantu-menantu itu memang tidak tahu terima kasih.&#8221;</p>
<p>Sementara itu, sekelompok burung dara turun berkumpul di muka Charlie dan Martha. Kemudian datang lagi sekelompok, dan lagi sekelompok. Charlie mulai bersiul-siul memanggil-manggil mereka. Dikeluarkannya jagung dan jali dari kantongnya dan disebar-sebarkannya kepada burung-burung itu. Beberapa burung mulai bertengger di kedua bahunya. Mereka berebut minta makanan yang ada di tangan Charlie.</p>
<p>&#8220;Oh, oh, oh. Sabar, sabar, anak-anak. Sebentar kau juga dapat.&#8221;</p>
<p>Seekor dara putih datang bertengger di bahu Charlie dan dengan galaknya mematuk kawan-kawannya yang ada di bahu. Habislah mereka terbang, tinggal lagi si dara putih yang ada di bahu Charlie.</p>
<p>&#8220;Bukankah kau dara terlalu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, dara ini selalu nakal, Charlie. Di bawah tadi juga sudah menyikut-nyikut temannya dengan enak saja. Sekarang di bahumu begitu pula. Kita namakan saja dia, si Tamak.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, tepat sekali, Martha. Tamak, Tamak.&#8221;</p>
<p>Dan si Tamak pun terbang lagi. Lama kelamaan persediaan jagung dan jali Charlie habis. Burung-burung dara itu sudah biasa dengan jatah mereka, mulai terbang lagi.</p>
<p>Charlie lalu membuka bungkusan sandwich-nya.</p>
<p>&#8220;Apa lunch-mu hari ini, Charlie?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku mendapat sandwich salad ikan tongkol. Dan kau?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku membawa sandwich salad daging kalkun.&#8221;</p>
<p>&#8220;Mmmm, Kalkun. Rasanya, sudah seabad aku tidak makan kalkun.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku juga sudah lama tidak makan tongkol. Begini saja Charlie, kau kasih aku separo dari tongkolmu. Aku kasih kau kalkunku. Setuju?&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh, setuju sekali. Kau anak yang manis, Martha.&#8221;</p>
<p>Dan Martha tersenyum manis sekali mendengar itu.</p>
<p>Waktu jam sudah menunjukkan angka hampir setengah tiga, Charlie dan Martha berciuman dan berjanji untuk bertemu lagi esok harinya, untuk bersama-sama memberi makan burung dara.</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p style="text-align: left;">Hawa terasa panas waktu Charlie masuk rumah.</p>
<p>&#8220;Kaukah itu, Pak?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, Mary.&#8221; Dan Charlie menemui Mary di dapur.</p>
<p>&#8220;Segelas bir, Pak? Kau kelihatan haus sekali.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, tepat sekali. Bir.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku juga ada semangka. Maukah seiris?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, tepat sekali. Semangka.&#8221;</p>
<p>Mary tersenyum melihat mertuanya mulai makan semangka. Airnya berlelehan di mulutnya.</p>
<p>&#8220;Dari mana saja hari ini, Pak?&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh, dari perpustakaan, baca-baca. Lalu ke Washington Square ketemu kawan-kawan lama. Kami berdebat tentang politik.&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh, ya? Apa yang terjadi di dunia sekarang?&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh, keadaan genting, Mary. Genting.&#8221;</p>
<p>&#8220;Genting?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, Presiden Eisenhower mungkin akan memaklumkan perang kepada Stalin hari-hari ini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi, Pak. Eisenhower bukan lagi presiden. Dan Stalin sudah beberapa tahun mati, Pak.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aaaahh, kau anak perempuan ingusan tahu apa tentang politik. Kau kan pergimu cuma ke laundromat dan supermarket tiap hari. Aku saban hari melihat dunia. Jangan kau coba sangkal aku lagi.&#8221;</p>
<p>Mary mengangguk-anggukkan kepala.</p>
<p>&#8220;Ah, ya, tentulah aku khilaf lagi. Jadi sebentar lagi akan ada perang, Pak?&#8221;</p>
<p>&#8220;Belum tentu. Ini tergantung kepada Stalin. Kalau Stalin tidak berani menerima tantangan Eisenhower, bagaimana bisa terjadi perang?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ah, betul juga. Lagi, Pak, semangkanya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Boleh. Tapi sedikit saja. Habis semangka ini aku mau tidur sebentar.&#8221;</p>
<p>Waktu semangka itu sudah habis, Charlie pun pergi ke kamarnya. Sebelum masuk kamar tidak lupa Charlie berpesan agar dia dibangunkan lima menit sebelum Amos dan Andy keluar di TV. Pintu kamar ditutup dan satu siang yang sibuk sudah berlalu buat Charlie.</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p><span style="font-size: 90%;"><span style="font-family: trebuchet ms;">Dari buku <em>Seribu Kunang-kunang di Manhattan</em> (Pustaka Jaya, 1972). Gambar ilustrasi dicomot dari <a href="http://brainofalexyoung.com/" target="_blank">sini</a>.</span></span></p>
<p style="text-align: left;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/chief-sitting-bull/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>You Are What You Eat</title>
		<link>http://budiwarsito.net/you-are-what-you-eat/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/you-are-what-you-eat/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Nov 2009 19:59:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[Rupa-rupa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=402</guid>
		<description><![CDATA[.

&#8220;I&#8217;m not vegetarian because I love animals. I’m vegetarian because I hate plants.&#8221;
&#8212;A. Whitney Brown, &#8220;Saturday Night Live&#8221; cast member, Season 11-16, 1985-1991.
Saya punya banyak teman vegetarian, tapi saya tidak punya satu pun teman kanibal. Hannibal Lecter cuma hidup di dunia rekaan Hollywood, dan saya juga tidak kenal Sumanto dari Purbalingga&#8212;sebagaimana saya berharap dia juga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #ffffff;">.</span></p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-405" title="mangan_ora_mangan" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2009/11/mangan_ora_mangan1.jpg" alt="mangan_ora_mangan" width="334" height="231" /></p>
<p>&#8220;<em>I&#8217;m not vegetarian because I love animals. I’m vegetarian because I hate plants.</em>&#8221;<br />
&#8212;A. Whitney Brown, &#8220;Saturday Night Live&#8221; cast member, Season 11-16, 1985-1991.</p>
<p>Saya punya banyak teman vegetarian, tapi saya tidak punya satu pun teman kanibal. Hannibal Lecter cuma hidup di dunia rekaan Hollywood, dan saya juga tidak kenal Sumanto dari Purbalingga&#8212;sebagaimana saya berharap dia juga tidak kenal saya. Hmm, apa hubungannya vegetarian dengan kanibal? Jawabannya: mungkin memang tidak ada. Saya cuma tiba-tiba ingat, ada teman saya, seorang perempuan vegetarian yang mengaku <em>moviefreak </em>sejati, pernah membuat review film Korea berjudul <em>301, 302</em> (Cheol-su Park, 1995) dengan penuh semangat. Dan kebetulan, film itu tentang kanibal. Oops, spoiler. Saya sendiri juga suka film itu, sebuah drama tentang kesepian dan dendam, yang disajikan dengan sinematografi yang indah, dramatik, dan terus terang bikin saya lapar. Haa!<span id="more-402"></span></p>
<p>Saya juga ingat sebuah buku bagus terbitan tahun 1992, berjudul <em>Cut! Horror Writers on Horror Film</em>. Di buku itu, salah seorang kontributor, penulis fiksi horor, mengaku menyukai film kanibal padahal dia seorang vegetarian. Kathryn Ptacek, demikian nama perempuan penulis itu, mengaku doyan film dengan tayangan sadis itu tanpa harus tahu kenapa. Artinya: dia nonton, ya karena pengen nonton aja. Dia membahas dengan cukup bagus film <em>Motel Hell</em> (Kevin Connor, USA, 1980). Film horor kanibal ini tidak begitu terkenal di sini, tapi pernah diputar di sebuah bioskop kelas kambing di kota saya&#8212;sekarang bioskop itu sudah tidak ada, menjelma jadi gedung pertokoan. Saking gak ngetopnya film itu, pernah jumlah penonton di bioskop itu cuma 5 orang. Salah satunya saya, duduk di barisan tengah, masih bercelana pendek waktu itu. Empat lainnya? Dua pasang muda-mudi, mojok di kursi belakang, yang pasti tidak terlalu peduli dengan film yang diputar, sebab mereka sedang sibuk membuat &#8216;film&#8217; sendiri.</p>
<p>Meski ada dua film yang sedang diputar bersamaan&#8212;satu di layar, satu di kursi penonton&#8212;saya berusaha konsentrasi menatap ke depan. Premis film ini cukup menarik. Settingnya di sebuah penginapan bernama Motel Hello. Papan nama hotel itu, sebuah plang dengan cahaya neon, selalu kerlap-kerlip di huruf &#8220;o&#8221;-nya, sehingga lebih sering tampak terbaca &#8220;Motel Hell&#8221;. Dan sebagaimana <em>hell</em>, penginapan ini memang keparat. Pemiliknya, seorang lelaki aneh bernama Vincent, menjalankan bisnis motel yang terkenal dengan sajian daging asapnya yang teramat lezat. Sebagai film kanibal, tentulah bisa ditebak: yeah, daging asap itu ternyata terbuat dari daging manusia. Stok dagingnya, dari pengendara mobil yang lewat di depan motelnya. Vincent selalu menjebak mereka dengan memasang paku di jalan. Dan Vincent bukan seorang tukang tambal ban: dia malah menangkap si pengendara mobil, menghajarnya, lalu menyeretnya ke kebun.</p>
<p>Berikutnya adalah aksi yang sadis dan &#8217;sakit&#8217;. Vincent mengubur hidup-hidup para korban, dengan kepala dibiarkan nongol di permukaan tanah. Supaya tidak bisa menjerit, Vincent menggorok dan mengambil pita suara mereka. Hasilnya, sajian visual yang mengerikan: kepala-kepala di tanah dengan mulut yang komat kamit terbuka, tapi tak keluar suara. Lalu Vincent menentukan nasib mereka selanjutnya: menjadi bahan daging asap yang lezat, sajian khas Motel Hell.</p>
<p>Keparat. Film itu benar-benar keparat. Di tengah kegelapan, saya seringkali menjerit tertahan, menatap adegan demi adegan sadis di layar&#8212;sementara di belakang sana, dua pasang muda mudi itu juga menjerit tertahan, mungkin atas alasan yang berbeda: saya karena ketakutan, mereka karena keenakan. Keparaaat. Kanibal juga dong ya mereka, karena manusia &#8216;memakan&#8217; manusia. Haha. Saya keluar dari bioskop sambil misuh-misuh. Di jalan pulang, saya memikirkan satu kalimat di film itu, yakni ketika Vincent mencari pembenaran aksi kanibalisme-nya dengan berkata, &#8220;<em>There&#8217;s too many people in the world and not enough food. Now this takes care of both problems at the same time</em>.&#8221; Oh, well.</p>
<p>Beranjak dewasa, pura-puranya demi menghormati kenangan menonton semasa kecil, saya mulai berburu film <em>Motel Hell </em>itu, berharap menemukan DVD-nya, atau VHS, atau LaserDisc, apapun! Tapi rupanya tidak mudah. Bertahun-tahun saya mencari, hasilnya nihil. Saya malah menemukan film-film tentang kanibal lainnya. Di rak koleksi film saya, tepatnya di deretan DVD berlabel &#8220;films about food&#8221;, berjajar judul-judul seperti: <em>Cannibal Holocaust</em> (Ruggero Deodato, 1980&#8212;film kanibal &#8220;klasik&#8221; yang sampai sekarang belum pernah selesai saya tonton saking jijiknya), <em>Silence of the Lambs</em> (Jonathan Demme, 1991; ya, ya, yang pertama saja, sebab sekuel dan prekuelnya nggak oke), <em>Delicatessen</em> (Marc Caro &amp; Jean-Pierre Jeunet, France, 1991; film kanibal yang dibuat oleh orang yang juga membuat film manis <em>Amélie</em>!), <em>Cannibal Ferox</em> (aka <em>Make Them Die Slowly</em>, Umberto Lenzy, Italy, 1981; iklan promosi untuk film ini berbunyi &#8216;<em>Banned in 31 countries</em>!&#8217;&#8212;meski murni fiksi, film ini masih saja dilarang di Inggris), <em>Ravenous</em> (Antonia Bird, 1999; kritikus Ebert menyebutnya sebagai resep film vampir dan kanibal yang disajikan dengan saus baru… oh, owkay), dsb, dll, dst, etc. Terlalu panjang untuk disebutkan semuanya di sini. Oya, tentu saja termasuk karya anak negeri: <em>Kanibal Sumanto</em> (Christ Helweldery, Indonesia, 2004). Sementara DVD <em>Motel Hell</em> sendiri malah belum berhasil saya dapatkan. Ada yang kepikiran untuk membantu berburu dan menghadiahkannya ke saya? Ulang tahun saya masih bulan Juni ntar kok, dan saya suka kejutan.</p>
<p>Ngomong-ngomong soal kanibal, saya punya satu orang teman yang juga antusias tentang hal sama. Dia selalu bersemangat menceritakan pengalamannya Kuliah Kerja Nyata (KKN) di sebuah desa terpencil di kaki gunung. Menurut kabar angin yang berhembus, warga desa terpencil itu masih kanibal. Atas nama rasa ingin tahu yang mendalam (sekaligus bayangan muluk-muluk sebuah skripsi dahsyat tentang riset sosiologis atas fenomena kanibalisme di era modern), dia memutuskan untuk KKN di desa itu.</p>
<p>Setibanya di sana, teman saya itu langsung menemui Kepala Desa. Setelah memperkenalkan diri dan berbasa-basi secukupnya, dia langsung bertanya ke inti masalah, &#8220;Pak, ehmm, denger-denger katanya warga desa sini masih kanibal ya?&#8221; Pak Kepala Desa menjawab dengan tersenyum, &#8220;Wah, dari mana Adek dapat informasi seperti itu?&#8221; Teman saya menjawab &#8220;Oh, dari… ehmm, dari internet , Pak!&#8221; sambil tak yakin apakah Pak Kepala Desa itu tahu internet. Pak Kepala Desa masih tersenyum ketika melanjutkan, &#8220;Jadi gini Dek. Kebetulan, sampai minggu lalu memang masih ada <em>satu orang</em> kanibal di desa ini. Tapi sekarang sudah nggak ada lagi.&#8221; Teman saya tentu kecewa, tapi dia masih menyempatkan diri bertanya, &#8220;Sampai minggu lalu? Emangnya sekarang si orang itu ada di mana, Pak?&#8221; Pak Kepala Desa menjawab, &#8220;Sudah mati Dek, kemarin kami makan rame-rame.&#8221;</p>
<p style="text-align: center;">*</p>
<p style="text-align: center;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/you-are-what-you-eat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>O Judge Dredd, Where Art Thou?</title>
		<link>http://budiwarsito.net/o-judge-dredd-where-art-thou/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/o-judge-dredd-where-art-thou/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Nov 2009 07:05:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Rupa-rupa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=237</guid>
		<description><![CDATA[ .


&#8220;They call him Judge, his last name is Dredd.
So break the law, and you wind up dead.&#8221;
(&#8220;I Am The Law&#8221; &#8212;Anthrax, dari album Among The Living, 1987)
Perkenalan serius saya dengan dunia komik tak lepas dari andil sepotong lagu metal, seorang hakim tua, dan anak laki-lakinya. Bukan, mereka bukan karakter komik. Mereka hidup di dunia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><span style="color: #ffffff;"> </span></em><em><span style="color: #ffffff;">.</span><br />
</em></p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-303" title="komikmagnetik" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2009/11/komikmagnetik.jpg" alt="komikmagnetik" width="160" height="217" /></p>
<p><em>&#8220;They call him Judge, his last name is Dredd.<br />
</em><em>So break the law, and you wind up dead.&#8221;</em><br />
(&#8220;I Am The Law&#8221; &#8212;Anthrax, dari album <em>Among The Living</em>, 1987)</p>
<p>Perkenalan serius saya dengan dunia komik tak lepas dari andil sepotong lagu metal, seorang hakim tua, dan anak laki-lakinya. Bukan, mereka bukan karakter komik. Mereka hidup di dunia nyata, yakni tetangga saya waktu kecil&#8212;rumahnya tepat di sebelah rumah saya. Meski mereka hanya tinggal berdua (di mana gerangan sang ibu berada, rasanya tak perlu diceritakan di sini karena terlalu sedih), namun di mata saya rumah itu sungguh seru, terutama karena hal-hal kontras selalu terjadi di sana. Rumah itu cenderung sunyi senyap, apalagi sang ayah (botak, usia 50-an) dan sang anak (gondrong, akhir 20-an) itu jarang saling bertegur sapa, dan saya hanya bisa menebak-nebak obrolan kaku macam apa yang terjadi di meja makan. Namun setiap pagi tiba, tepat setelah si ayah berangkat <em>ngantor </em>demi menjaga tegaknya hukum di negeri ini, keadaan berubah 180 derajat: rumah itu mendadak hingar bingar oleh udara kebebasan. Si anak, seorang pengangguran yang tertekan, langsung merasa merdeka dan menyetel tape keras-keras. &#8220;<em>Life begins at six forty</em>!&#8221; (merujuk jam keberangkatan ayahnya), maka dimulailah rutinitas sehari-hari si <em>slacker</em>: mendengarkan musik metal sambil jingkrak-jingkrak, dan mendekam di kamar sepanjang hari sambil membaca komik. Ya, selain <em>metalhead</em>, tetangga saya itu juga seorang kolektor komik. Dan koleksinya cukup mengagumkan.<span id="more-237"></span></p>
<p>Saya, masih kelas 2 SD waktu itu, sepulang dari sekolah sering main-main ke kamarnya, yang penuh puntung rokok, tumpukan kaset, dan komik bertebaran di mana-mana. Dialah yang pertama kali mencekoki saya dengan Batman (&#8220;<em>Daripada jadi Clark Kent mending jadi Bruce Wayne, nggak usah kerja udah kaya raya</em>!&#8221;), tak menggubris protes saya saat disuruh membuang komik-komik Donal Bebek (&#8220;<em>Tapi kan Paman Gober juga nggak kalah kaya, Mas</em>!&#8221;), dan menertawakan idola saya Gundala Putra Petir (&#8220;<em>Kamu pernah baca Flash nggak sih</em>?&#8221;). Saya tahu semua sikapnya menyebalkan, tapi apa yang bisa dilakukan anak umur 8 tahun yang juga merindukan figur seorang kakak sekaligus teman? Kamarnya selalu bising dengan lagu-lagu cadas, tapi toh saya tetap datang dan datang lagi. Saya ingat betul kenapa lagu<em> </em>Anthrax &#8220;I Am The Law&#8221; terus menerus dia putar: sebab lagu itu itu bercerita sepenuhnya tentang tokoh komik favoritnya&#8212;Judge Dredd! Yeah, hampir semua tokoh komik superhero impor digemarinya, namun di atas segalanya, Judge Dredd adalah pahlawan dia nomor satu. Lagipula, adakah yang lebih membahagiakan ketimbang fakta bahwa band favorit kita berbagi cerita tentang jagoan yang sama?</p>
<p>Selama intro lagu itu&#8212;kocokan gitar tebal diadu dengan gebukan drum gagah, memakan waktu 1 menit sendiri&#8212;tetangga saya itu ber-<em>headbanging</em> heboh di atas kasur, lalu dengan lantang meneriakkan lirik demi lirik, &#8220;<em>He keeps peace with his law-giver, judge, jury, and executioners</em>!&#8221; Dan menjerit sekeras-kerasnya di bagian &#8220;<em>I am the law, you won&#8217;t fuck around no more</em>!&#8221; Ketika dia tunjukkan adegan demi adegan Judge Dredd berjibaku di lembar-lembar komik koleksinya, saya sempat melihat matanya berkaca-kaca.</p>
<p>Dalam hati&#8212;tentunya setelah bertahun-tahun kemudian&#8212;saya sering bertanya-tanya, jangan-jangan itu semua berhubungan dengan latar belakangnya sebagai anak seorang penegak hukum, ditambah kemungkinan batinnya sedang tertekan oleh persoalan hidup entah apa. Judge Dredd, sang jagoan berseragam yang menggabungkan kekuatan polisi, wibawa hakim, kebrutalan preman, teknologi mutakhir, dan sedikit aroma monster Frankenstein itu jelas mengejek sistem penegakan hukum di masyarakat masa depan. Atas nama hukum, aparat boleh bertindak apa saja, termasuk menghabisi nyawa si pelanggar hukum. Saya tidak sedang bicara moral atau soal benar salah di sini, tapi saya hanya curiga: bahwa yang dilihat tetangga saya di sosok Judge Dredd itu bukanlah kesewenang-wenangan aparat akibat kekuasaan, tapi semata-mata kebebasan bertindak. Bukankah dia mendambakan kemerdekaan, yang hanya diperoleh ketika rumahnya kosong, dan bapaknya, seorang hakim terhormat, sedang tidak berada di tempat?</p>
<p>Namun apapun itu, sejak itulah saya mulai berpikir ulang tentang persepsi primitif masa kecil saya perihal komik. Bahwa ternyata komik tak melulu tentang superhero (atau kalaupun masih, lebih sering muncul dalam parodi, atau antihero), bahwa narasi hitam putih bisa jadi sudah basi, dan bahwa telah (sedang, dan akan selalu) ada kebutuhan terciptanya format-format baru yang lebih menantang. Beranjak dewasa, saya harus berpisah selama-lamanya dengan tetangga saya itu. Saya bersekolah di luar kota, dan ada berita sedih: dia minggat dari rumahnya, lenyap tanpa kabar. Ada yang bilang dia menjadi preman di ibukota, dan kabar terbaru: dia mati ditusuk di sebuah huru-hara. Ayahnya, kini pensiun sebagai hakim, berduka untuk kedua kalinya, menghabiskan masa senja dengan berpindah domisili entah ke mana. Sementara di saat bersamaan. saya mulai &#8220;meninggalkan&#8221; komik, sedikit &#8220;beralih&#8221; dengan menemukan keasyikan di gambar bergerak alias film. Namun tiap kali tak sengaja mendapati tumpukan komik impor di toko buku, saya selalu teringat tetangga saya itu. Diam-diam saya bersyukur dia tak sempat menonton akting buruk Stallone di film <em>Judge Dredd</em> (1995)&#8212;sebuah upaya gagal memindahkan karakter komik ke pita seluloid. Bisa-bisa dia meringis kecewa.</p>
<p>Zaman makin berubah, dan perkembangan komik di negeri ini pun memasuki babak baru. Komik-komik bawah tanah mulai tumbuh subur di kota-kota besar di Indonesia. Pakem bertutur konvensional yang saya pahami, terang-terangan mereka labrak: panel-panel makin diruntuhkan, ada keliaran imajinasi yang semakin menjadi-jadi, serta imbuhan elemen lain seperti permainan kolase, baik untuk teks maupun gambar. Ada memang, yang terkesan asal-asalan, baru setengah jadi, atau cuilan-cuilan momen keseharian yang &#8216;Gak Penting&#8217; (tapi sebenarnya apa sih, yang &#8216;Penting&#8217; itu?), namun entah kenapa, beberapa di antaranya berhasil menggetarkan hati. Jangan-jangan justru di situ poinnya: mereka cuek dengan tampilan, toh yang lebih esensial adalah gagasan. Ada gairah bermain-main di situ&#8212;sebuah kesadaran penuh sebagai <em>homo ludens</em>&#8212;maka jika kemerdekaan bercerita dan ketersampaian pesan justru tercapai dengan mempreteli segala perangkat baku itu, kenapa tidak?</p>
<p>Ketika pameran komik—baik yang &#8220;lurus&#8221; maupun eksperimental&#8212;mulai menjamur di mana-mana, ingin rasanya saya ajak tetangga saya itu datang melihat-lihat. Saya penasaran apa pendapat dia. Tapi di mana dia sekarang? Saya tidak tahu. Jangan-jangan sebenarnya dia selalu &#8216;ada&#8217; menemani saya. Barangkali di alam sana, sambil menekuni halaman demi halaman komik Judge Dredd, dia tetap meneriakkan lagu Anthrax kesukaannya. Namun akankah dia bersetia pada lirik &#8220;<em>so break the law, and you wind up dead</em>&#8220;? Entahlah. Angkat gelasmu, ayo bersulang untuk kebebasan!</p>
<p style="text-align: right;"><strong>Budi Warsito<br />
</strong><em>Penikmat budaya pop, tinggal di Bandung</em></p>
<p style="text-align: left;">Ditulis sebagai catatan pendamping<em> </em>&#8220;<strong>Komik Magnetik</strong>&#8220;&#8212;Pameran Komik 10 Seniman, di RURU Gallery, ruangrupa, 14-29 November 2009. Kurator: Ifan Ismail dan Yudha Sandy.</p>
<p>[<strong>MP3</strong>]<br />
<a href="http://www.mediafire.com/?j5iy5kzkyzm" target="_blank"><strong>Anthrax &#8211; &#8220;I Am The Law&#8221;</strong></a></p>
<p style="text-align: left;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/o-judge-dredd-where-art-thou/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hikayat Si Koin Bolong</title>
		<link>http://budiwarsito.net/hikayat-si-koin-bolong/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/hikayat-si-koin-bolong/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Nov 2009 04:56:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Rupa-rupa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=82</guid>
		<description><![CDATA[.

there&#8217;s a hole in my soul that&#8217;s been killing me forever / it&#8217;s a place where a garden never grows / there&#8217;s a hole in my soul yeah, I should have known better /&#8217;cause your love’s like a thorn without a rose
&#8212;&#8221;Hole in My Soul&#8221;, Aerosmith di album Nine Lives, 1997
Dulu waktu di Shinjuku saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><span style="color: #ffffff;">.</span><br />
</em></p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-305" title="yencoinbolong" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2009/11/yencoinbolong1.jpg" alt="yencoinbolong" width="230" height="162" /><em>there&#8217;s a hole in my soul that&#8217;s been killing me forever / it&#8217;s a place where a garden never grows / there&#8217;s a hole in my soul yeah, I should have known better /&#8217;cause your love’s like a thorn without a rose<br />
</em>&#8212;&#8221;Hole in My Soul&#8221;, Aerosmith di album <em>Nine Lives</em>, 1997</p>
<p>Dulu waktu di Shinjuku saya sempat bertanya-tanya dalam hati kenapa beberapa koin uang Yen punya lubang di tengahnya. Ketika saya bertanya pada orang Jepang langsung (saya sendiri sebenarnya tak begitu yakin mereka tahu), yakni salah satunya Ibu Yamada yang cantik dan baik hati itu, yang pernah tinggal di Solo beberapa tahun, bukannya menjawab, dia malah balik bertanya ke saya apakah penjual rujak di bilangan Sriwedari masih ada. Sebagai sesama penggemar rujak, saya jawab saja &#8220;Masih ada, Bu!&#8221;&#8212;ini persoalan etika menyenangkan orang seberang&#8212;sembari berjanji dalam hati: begitu nanti saya pulang ke Solo, saya akan segera ke sana untuk mengecek ulang, dan mencicipinya tentu saja. Rujak buah yang rahasia kelezatan sambalnya terletak di kencur itu memang juara, tapi soal wisata kuliner nanti saja membahasnya. Saya masih penasaran soal koin bolong itu.<span id="more-82"></span></p>
<p>Saya yakin pasti ada pertimbangan lain yang bukan sekadar artistik belaka. Ketika tinggal di Mishima beberapa hari, menatap lebih dekat salju di pucuk gunung Fuji sambil membaca novel-novel Yukio Mishima (benar-benar kombinasi kegiatan yang sangat pas! Alias norak banget), saya bertanya ke Motonori (teman sebangku di sekolah yang suka main tamagotchi) soal koin itu, dan dia juga hanya bisa mengangkat bahu—belakangan saya baru tahu minat dia lebih ke musik dan membentuk band punk bareng tetangga sebelah rumahnya. Wuiih, ini rukun warga pangkeh bener!</p>
<p>Sampai balik ke Indonesia, pertanyaan itu tetap tidak terjawab. Saya malah menjadikan koin bolong itu sebagai bandul kalung, hingga saya masuk bangku kuliah di Bandung dan mulai nyadar bahwa ternyata <em>geuleuh</em> juga ya kalung itu (<em>pisan, jang!</em>). Akhirnya saya mendapatkan jawabannya dari sebuah buku, yang saya beli dengan harga cukup wajar di pojok Lt. 3 Gramedia Merdeka, ini dia cuplikannya:</p>
<p><em>Why do ¥5 and ¥50 coins have holes?</em></p>
<p><em>When the Japanese economy was based on the sen (¥0.01) rather than the yen, there were several coins with circular holes in the middle. During the first half of 20th century the holes disappeared and coins were distinguished by size and material. There was also a time when there were not so many denominations of coins, so one of two distinctions sufficed. Today, however, we have coins of ¥1, ¥5, ¥10, ¥50, ¥100, and ¥500 value. Size alone, even with the addition of tooled edges, is insufficient to help the user recognize the denomination. The hole was, therefore, reintroduced to help even people with limited sight distinguish between ¥5 and ¥10 coins and ¥50 and ¥100 coins by feel alone.</em></p>
<p>(<em>Japan from A to Z, Mysteries of Everyday Life Explained</em>. p.28-29. James M. Vardaman, Jr. and Michiko Sasaki Vardaman. Yenbooks, 1995)</p>
<p>Ah, dasar orang Jepang, sampai segitunya. Tapi bagus sih, niatnya mulia. Lalu apa hubungannya koin Yen dengan lagu &#8220;Hole in My Soul&#8221;-nya Aerosmith yang saya kutip di awal tulisan? Sama-sama bolong aja, gitu? Bukan. Begini ceritanya. Lagu itu sedang populer waktu saya balik ke Indonesia, dan ada seorang teman baik saya di SMA yang pacarnya lagi suka banget lagu itu. (Teman baik saya itu cuma minta &#8220;oleh-oleh&#8221; koin Yen buat koleksi mata uang dia. Hehehe, itu sih oleh-oleh yang gampang dan murah!). Di <em>sleeve</em> kasetnya rupanya tidak disertakan lirik, dan waktu itu internet belum sangat populer di tempat kami. Demi tampil heroik di mata ceweknya, jadilah saya ditodong untuk men-transkrip lirik lagu itu. Tentu saja dia nanti akan bilang ke ceweknya bahwa dia-lah yang telah bersusah payah men-transkripnya, spesial atas nama cinta. Well, taktik gombal murahan sebenarnya, tapi siapa tahu ampuh.</p>
<p>Di radio tape butut miliknya (sumpah butut banget), dengan semangat mulia &#8220;<em>a friend in need is a friend indeed</em>&#8221; membara di dada, kami memutar kaset itu berulang-ulang, mencatat kata demi kata. Sementara saya pasang kuping baik-baik (listening saya sebenarnya sama bututnya), teman saya itu malah sibuk mencabuti jenggotnya dengan dua koin Yen yang bolong tengahnya itu. Buset, kayak tukang ojek lagi nungguin penumpang aja. Liriknya mulai tercatat sedikit demi sedikit. Ketika baru sampai baris &#8220;<em>&#8230;yeah there&#8217;s a hole in my soul, but one thing I&#8217;ve learned, for every love letter written, there&#8217;s another one burned&#8230;</em>&#8221; (hmmm, dalem juga si Oom Tyler ini!) radio tape butut itu mulai batuk-batuk. Uhuk-uhuk. Well, usia lanjut tak bisa bohong. Begitu sampai lirik &#8220;<em>&#8230;is it over, is it over, ‘cause I&#8217;m blowin&#8217; out the flame&#8230;</em>&#8221; radio tape itu tiba-tiba berhenti bekerja. Sialan, pas banget sama liriknya!</p>
<p>&#8220;Tenang Bud, bentar lagi dia jalan lagi kok. Dia emang suka begitu&#8230;&#8221; ujar teman saya itu meyakinkan, sambil mengetok-ngetok bodi renta radio tape-nya. Tapi rupanya kali ini lain. Ditunggu-tunggu lama, radio tape itu tak mau hidup lagi. Diketok-ketok lagi, diam saja. Saya mulai khawatir, jangan-jangan wafat beneran. Padahal kata Chairil Anwar, &#8220;kerja belum selesai, belum apa-apa.&#8221;</p>
<p>Dengan otoritas penuh sebagai pemilik sah, akhirnya teman saya itu dengan pedenya mencoba membongkar dikit-dikit radio tape kesayangannya itu. Ini demi cewekku, katanya sambil sesekali menerawang (halo, sinetron). Maka dibukanya bodi radio tape yang sudah bau tanah itu. Beberapa sekrupnya, itupun kalau masih bisa disebut sekrup, sudah karatan dimakan usia. Waduh, saya lupa teman saya itu orangnya agak ceroboh. Bukannya ditaruh dulu, koin Yen bolong dia itu (plus beberapa helai jenggotnya menempel di situ) malah kecemplung masuk ke dalam radio tape butut itu! Yak, sempurna!</p>
<p>Koin sialan itu nyelip di antara kabel keropos dan onderdil busuk. Setelah mengumpat secukupnya, dia mengajak saya membongkar total radio tape itu. Saya sebenarnya males, tapi demi persahabatan (uhuk-uhuk!) saya menurut saja. Baiklah, ambil obeng, dsb. Bongkar sana bongkar sini, dsb. Tapi karena kami berdua tidak begitu paham soal barang-barang elektronik, jadilah duo-amatir-sok-tukang-reparasi ini cuma bisa &#8216;terima bongkar, tidak terima pasang&#8217;. Alias, &#8216;terima bongkar.. dan terima kasih&#8217;. Jadilah radio tape itu makin ancur. Operasi kami gagal total, dan bertambah satu lagi kasus malpraktik di Indonesia. Ketika kami membawanya ke tukang reparasi beneran di daerah dekat Kraton, diagnosis resmi yang kami terima adalah: &#8220;Wah, ini sih harus diganti, Dik!&#8221; … &#8220;Oh gitu? Diganti apanya ya Mas? Onderdilnya?&#8221; … &#8220;Bukan. Radio tapenya! Beli aja yang baru!&#8221;</p>
<p>Teman saya tersenyum kecut. Penuh haru, diangkutnya radio tape butut legendaris itu pulang. Didekapnya erat-erat, mungkin semacam penghormatan terakhir. Saya mengekor saja di belakang. Di perjalanan pulang, kami lebih banyak diam. Kami berkabung. Di kepala saya berkumandang lagu &#8220;Gugur Bunga&#8221;, adegan tentara baris berbaris, plus beberapa tembakan salvo. Jadilah teman baik saya itu gagal tampil heroik di depan ceweknya. Seminggu kemudian, mereka putus.</p>
<p style="text-align: left;">PS.<br />
Download di <a href="http://www.4shared.com/file/94488155/d870f688/Aerosmith_-_Hole_In_My_Soul.html" target="_blank"><strong>sini</strong></a> jika ingin mendengar lagu &#8220;Hole in My Soul&#8221;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/hikayat-si-koin-bolong/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengingat Yudi</title>
		<link>http://budiwarsito.net/mengingat-yudi/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/mengingat-yudi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Oct 2009 00:31:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Rupa-rupa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=231</guid>
		<description><![CDATA[.

Saya punya teman SMP namanya Yudi. Orangnya kurus banget, sumpah kurus BANGET, kayak Aming tapi lebih tinggi, bahkan lebih tinggi dari saya. Rambutnya lurus tipis, jatuh, nutupin jidatnya yang jenong. Giginya tonggos tapi gak tonggos-tonggos amat. Anaknya sangat bersemangat. Rumahnya agak masuk ke pelosok desa, dan untuk sampai ke sekolah, dia harus naik sepeda sekitar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #ffffff;">.</span></p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-256" title="Tradtelefon" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2009/10/Tradtelefon.jpg" alt="Tradtelefon" width="420" height="289" /></p>
<p>Saya punya teman SMP namanya Yudi. Orangnya kurus banget, sumpah kurus BANGET, kayak Aming tapi lebih tinggi, bahkan lebih tinggi dari saya. Rambutnya lurus tipis, jatuh, nutupin jidatnya yang jenong. Giginya tonggos tapi gak tonggos-tonggos amat. Anaknya sangat bersemangat. Rumahnya agak masuk ke pelosok desa, dan untuk sampai ke sekolah, dia harus naik sepeda sekitar 1 jam tiap paginya. Mungkin waktu saya baru bangun dan masih males-malesan di tempat tidur, si Yudi ini sudah harus mulai mengayuh sepedanya ke sekolah. Gokil, 2 jam bersepeda bolak-balik tiap harinya! Betis Yudi, meski kurus kering, tampak padat berisi.<span id="more-231"></span></p>
<p>Rumah boleh jauh, tapi Yudi gak pernah telat. Dia selalu datang beberapa menit sebelum bel berbunyi, lalu mengelap dahinya yang selalu bercucuran keringat. Yudi tipe murid yang selalu ngacung ketika guru melempar pertanyaan, gak peduli seberapa seringnya dia salah menjawab (dan emang lebih sering salahnya ketimbang benernya). Guru-guru menyepelekan dia untuk urusan akademis, tapi menyukainya untuk urusan disuruh-suruh. Ngambil kapur ke kantor TU? Yudi. Fotokopiin tugas sekolah? Yudi. Koordinator kerja bakti? Yudi. Dekorasi acara halal bihalal di sekolah? Yudi. (Kebetulan bapaknya punya usaha percetakan, sering terima order nyetak undangan kawinan.)</p>
<p>Yudi gak jago main voli. Selalu jadi bahan ketawaan seisi kelas tiap kali melakukan pukulan servis: bola volinya malah membumbung tinggi ke atas, lalu jatuh lagi ke tanah, hanya sejarak 1 meter dari tempat dia berdiri! Kalau main sepakbola, Yudi sering terjungkal sendiri tiap kali mau nendang. Di lapangan dia selalu gonta-ganti posisi, gak jelas, lari-lari doang ke sana ke mari. Jadi bek kanan, gak ngaruh. Jadi gelandang tengah, gak pernah nyetor bola. Jadi striker, mandul abis. Jadi bek kiri, malah bikin gol bunuh diri. Yudi pernah sekali jadi kiper, dan para pemain lawan berpesta pora di gawangnya. Kasihan Yudi.</p>
<p>Meskipun sering jadi bulan-bulanan, Yudi teman yang menyenangkan. Di lapangan dijitakin, di kelas diketawain, tapi kalau sakit dikangenin. Saya sering membonceng sepedanya, pergi les bareng sepulang sekolah. Selasa Matematika, Kamis Fisika. Lesnya jam 2 siang, tempatnya cuma 15 menit bersepeda dari rumah saya. Yudi gak pulang dulu ke rumahnya karena jauh, jadi seminggu dua kali dia makan siang masakan ibu saya. Trus berangkat les bareng. Bolos les bareng. Minum es cendol bareng. Beli majalah bekas bareng. Rasa setiakawannya pun tinggi. Saya pernah hampir dipalak preman di tempat dingdong, dan Yudi langsung buru-buru berdiri menutupi saya, berhadapan frontal dengan si preman, meski dengan ekspresi muka yang kelihatan banget ditenang-tenangin. Persuasinya mungkin gak gitu ngaruh, tapi bisa jadi si preman jatuh kasihan sama tampangnya yang memelas, keringetan, jidatnya jenong, dan giginya agak tonggos sedikit.</p>
<p>Yudi lulus dengan nilai pas-pasan, melanjutkan SMA (atau STM, saya lupa) masih di Sukoharjo. Sementara saya lulus dengan nilai terbaik, melanjutkan ke SMA favorit di Solo. Sejak saat itu Budi dan Yudi gak pernah ketemu lagi. Saya bahkan gak tahu dia kuliah di mana. Atau mungkin gak kuliah. Kadang-kadang saya dengar kabar tentang dia dari ibu saya, &#8220;Katanya Yudi sekarang jadi teknisi operator telepon seluler, kerjaannya keliling Indonesia masang tower.&#8221; Saya cuma manggut-manggut mendengarnya, soalnya inget si Yudi ini emang jago banget manjat. Bola voli yang dia pukul pernah nyangkut ke pohon, dan kecepatannya memanjat bikin gelak tawa orang-orang langsung berubah jadi decak kagum. Meskipun ada saja yang nyeletuk &#8220;Abis ini&#8230; Yudi pergi ke pasar&#8230;!&#8221; Anak SMP emang jahat-jahat.</p>
<p>&#8220;Ibu pernah ketemu Yudi di acara kawinan. Lagi sibuk benerin soundsystem. Dia nanyain kamu sekarang di mana.&#8221; Itu beberapa tahun lalu, gak lama setelah saya berhenti kuliah. &#8220;Trus Ibu jawab apa?&#8221; &#8220;Ya di Bandung. Trus Yudi bilang pengen mampir kalo lagi tugas masang menara di Jawa Barat.&#8221; Yudi menitipkan nomor HP-nya lewat Ibu, tapi saya gak pernah sekalipun ngontak. Mungkin saya malu. Ya. Yudi sudah kerja, saya malah putus kuliah.</p>
<p>Setiap habis Lebaran, di hari H+ sekian, selalu ada telepon ke rumah dari Yudi, dan selalu ada saja alasan saya untuk menghindar. Saya yakin dia gak pernah tersinggung karena hal itu. Yudi yang saya kenal adalah Yudi yang polos, baik hati, gak pernah berpikiran jelek, dan satu lagi: pantang menyerah. Ya, pasti karena sifat terakhirnya itulah, selalu ada dan akan ada lagi &#8220;Telepon dari Yudi&#8221; pasca Lebaran tiap tahunnya, meskipun jawabannya selalu gak jauh-jauh dari &#8220;Budinya lagi ke luar..”, atau “Wah, Budinya udah balik ke Bandung lagi..” Paling banter divariasikan dengan “Nitip pesen apa Mas Yudi?”</p>
<p>Ibu pernah berusaha ngasih nasihat, agak-agak tersirat, &#8220;Gak papa lah Bud, kamu ketemu Yudi.&#8221; (Mungkin maksudnya &#8220;Gak usah minder.&#8221;) &#8220;Kalian kan temen deket.&#8221; (Pasti artinya &#8220;Temen baik kok menghindar?&#8221;) &#8220;Bilang aja apa adanya, kamu kerja apa.” (Terdengar seperti &#8220;Emang kamu gak bangga nulis skrip Extravaganza?&#8221;)</p>
<p>Tapi Budi tetap gak mau ketemu Yudi.</p>
<p>Waktu berlalu, tahun demi tahun berganti. Setelah satu dasawarsa lebih, di beberapa Lebaran belakangan ini, gak ada lagi telepon-telepon dari Yudi. Mungkin lama-lama dia bosan juga. Mungkin dia lagi sibuk. Mungkin dia sudah berkeluarga. Mungkin dia masih keliling Indonesia. Tiap lihat menara ponsel tinggi, saya sering mikir “Mungkin itu yang masang Yudi.”</p>
<p>Sampai akhirnya tadi siang, telepon rumah berbunyi, dan hanya Tuhan yang tahu kenapa harus saya yang mengangkatnya. Padahal saya paling males ngangkat telepon. Terdengar di seberang sana, suara cempreng yang gak ada duanya. &#8220;<em>Halo, ini benar rumahnya Budi Warsito?</em>&#8221; Hanya butuh sepersekian detik untuk bisa mengenali suara itu: Yudi! Gawat. &#8220;<em>Halo? Halo?</em>&#8221; Aduh, harus jawab apa ya? Cepet Bud, putar otak! Beberapa detik berlalu, mungkin Yudi sudah hampir menutup teleponnya, tiba-tiba terdengar suara saya yang sudah diubah menjadi lebih berat, &#8220;Iya betul. Ini siapa ya?&#8221; Suara di seberang sana mendadak ceria, &#8220;<em>Ini temannya Pak! Yudi. Budinya ada Pak?</em>&#8221; Rasanya agak tercekat ketika saya menjawab, &#8220;Tunggu sebentar ya Mas.&#8221;</p>
<p>&#8230;.</p>
<p>(<strong>BERSAMBUNG</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/mengingat-yudi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Superman, The Ordinary Man</title>
		<link>http://budiwarsito.net/superman-the-ordinary-man/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/superman-the-ordinary-man/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Oct 2009 07:23:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=65</guid>
		<description><![CDATA[ 
.

&#8220;A lot of people ask me when I do a stunt, &#8216;Jackie, are you scared?&#8217; Of course I&#8217;m scared. I&#8217;m not Superman.&#8221;
&#8212;Jackie Chan
Christopher Reeve, pemeran legendaris Superman, duduk terpaku di kursi rodanya. Sebuah kecelakaan pada tahun 1995—dia jatuh terlempar saat menunggang kuda—menghancurkan saraf-saraf tulang belakangnya, membuatnya lumpuh dari leher sampai ujung kaki. Hampir sekujur [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #ffffff;"> </span></p>
<p><span style="color: #ffffff;">.</span></p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-460" title="reevechair" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2009/10/reevechair.jpg" alt="reevechair" width="448" height="325" /></p>
<p>&#8220;<em>A lot of people ask me when I do a stunt, &#8216;Jackie, are you scared?&#8217; Of course I&#8217;m scared. I&#8217;m not Superman</em>.&#8221;<br />
&#8212;Jackie Chan</p>
<p>Christopher Reeve, pemeran legendaris Superman, duduk terpaku di kursi rodanya. Sebuah kecelakaan pada tahun 1995—dia jatuh terlempar saat menunggang kuda—menghancurkan saraf-saraf tulang belakangnya, membuatnya lumpuh dari leher sampai ujung kaki. Hampir sekujur tubuhnya mati rasa. Para penggemar Superman yakin Reeve akan segera pulih. &#8220;<em>He&#8217;s Superman, isn&#8217;t he</em>?&#8221; Tapi kenyataan berkata lain. Tujuh tahun berlalu, dan Reeve masih belum beranjak dari kursi rodanya. Di luar layar, Reeve hanyalah manusia biasa, bukan manusia super.<span id="more-65"></span></p>
<p>Superman hanya hidup di dunia rekaan manusia. Kita kenal tokoh komik populer ini: datang dari planet Krypton, berjubah merah, berkostum ketat warna biru, dengan lambang &#8216;S&#8217; warna merah kuning di dadanya. Dia tampan dan atletis. Dan kemampuannya bikin kita takjub: dia terbang melawan gravitasi, badan kebal peluru, penglihatan tembus-pandang, telinga super-tajam, gerakan super-cepat dan segudang kemampuan super lainnya. Dengan kekuatannya itu, Superman mengalahkan musuh-musuhnya, menyelamatkan dunia dari ancaman para penjahat, membantu memadamkan kebakaran, membendung tanggul kota yang hancur, menegakkan Menara Miring Pisa, atau sekadar menyelamatkan kucing tetangga. Pendek kata, Superman adalah jagoan super yang baik hati. Dan sehari-harinya, Superman &#8220;menyamar&#8221; sebagai Clark Kent, wartawan kikuk berkacamata, yang menaruh hati pada Lois Lane, rekan kerjanya di suratkabar <em>Daily Planet</em> di kota Metropolis.</p>
<p>Jerry Siegel dan Joe Shuster menciptakan tokoh superhero ini sekitar tahun 1930-an. Muncul pertama kali di <em>Action Comics #1</em> yang terbit Juni 1938, Superman langsung merebut hati para penggemar. Sebelumnya, pembaca komik hanya disuguhi jagoan-jagoan semacam Tarzan dan Dick Tracy, yang semuanya memiliki banyak keterbatasan. Sementara Superman benar-benar memfasilitasi fantasi tergila manusia tentang seorang superhero ideal: seorang jagoan yang super-segalanya, nyaris tanpa kelemahan. Bahkan, nama Clark Kent diambil dari nama aktor ganteng kenamaan saat itu, Clark Gable, yang kemudian melegenda lewat film klasik <em>Gone With The Wind</em> (1939). Sukses komik Superman dilanjutkan dengan membuatnya &#8216;bergerak&#8217;. Film kartunnya muncul pada tahun 1941, sepanjang 17 episode garapan Fleischer Studios. Pada tahun 1947 film serialnya diproduksi, dengan aktor Kirk Alyn berperan sebagai Superman/Clark Kent, dan diteruskan oleh George Reeves di tahun 1950-an.</p>
<p>Kesuksesan film <em>Star Wars</em> (Geoge Lucas, 1977) dan <em>Close Encounters of the Third Kind</em> (Steven Spielberg, 1977) seolah membuka jalan untuk film-film fantasi layar lebar dengan efek visual memukau. Begitu juga dengan film <em>Superman: The Movie</em>, garapan sutradara Richard Donner yang dirilis pada tahun 1978, dengan Christopher Reeve sebagai pemeran utamanya. Efek visual &#8220;manusia terbang&#8221; di film ini sudah cukup halus, seolah-olah hendak membuktikan <em>tagline</em>-nya yang terkenal: &#8220;You&#8217;ll Believe a Man Can Fly!&#8221;. Film yang ceritanya ditulis oleh Mario Puzo (penulis <em>The Godfather</em>) ini meraup sukses besar, sehingga dibuat sekuelnya. Semuanya dibintangi oleh Christopher Reeve: <em>Superman II</em> (Richard Lester, 1980), <em>Superman III </em>(Richard Lester, 1983), dan <em>Superman IV: The Quest For Peace</em> (Sidney J. Furie, 1987). Setelah itu, ikon Superman seolah melekat pada diri Christopher Reeve, seperti halnya Boris Karloff adalah &#8220;standar klasik&#8221; untuk monster ciptaan Frankenstein.</p>
<p>Film yang diangkat dari komik superhero sudah dipastikan memiliki calon penontonnya sendiri, yaitu para penggemar fanatik komiknya. Mereka datang untuk menonton jagoannya &#8220;bergerak&#8221;. Sisanya adalah penonton biasa yang mungkin penasaran, yang pergi menonton karena <em>comic-book movie</em> biasanya menawarkan adegan visual dengan <em>special-effect</em> yang menarik. Mereka membeli tiket bioskop untuk sebuah tontonan penuh aksi, tentang serunya pertarungan sang jagoan melawan penjahat. Plus sedikit bumbu-bumbu percintaan, juga komedi—karena jagoan yang baik biasanya digambarkan memiliki selera humor yang cukup bagus. Dan jangan lupa: pameran kecanggihan teknologi <em>setting</em> dan kostum yang fantastis. Ditemani renyahnya <em>popcorn</em> dan sejuknya soda, penonton rela menonton sebuah bangunan cerita dengan premis sederhana: <em>good vs. evil</em>. Bahkan mereka pun tak keberatan mengakhiri &#8220;petualangannya&#8221; dengan <em>ending</em> film yang sebetulnya sangat gampang ditebak: jagoan mereka tak mungkin terkalahkan, karena dalam logika dan realitas standar komik, kebenaran akan selalu mengalahkan kejahatan.</p>
<p>Di film-film Superman, hal sama juga berlaku. Dalam <em>Superman: The Movie</em>, sejak awal penonton tahu bahwa Man of Steel itu pasti akan mengalahkan Lex Luthor, sehebat apapun usaha ilmuwan sinting yang sering menyebut dirinya sendiri sebagai &#8220;penjahat jenius Bumi paling hebat abad ini&#8221;. Penonton juga tahu, di film <em>Superman II</em>, meskipun Jenderal Zod dan dua temannya mempunyai kekuatan setara dengan Superman (karena sama-sama dari planet Krypton), tetap saja kemenangan akhir akan menjadi milik Superman.</p>
<p>Tetapi mungkin bukan itu yang ditunggu-tunggu penonton. Bisa jadi penonton lebih ingin melihat Clark Kent yang kikuk itu berlari sambil melepas kacamatanya, merobek kancing bajunya dan memperlihatkan (ke penonton, tentunya) logo &#8216;S&#8217; yang terkenal itu, lalu terbang melesat sebagai Superman. Dan penonton bertepuk tangan. Proses transformasi ini menjadi semacam <em>trademark</em> Superman sekaligus milik penonton. Penonton memaknai proses itu, sekaligus ikut memilikinya, dengan mengidentifikasi dirinya sebagai apa yang (ingin) mereka lihat. Jauh di lubuk hatinya, <em>everyone wants to be Superman</em>. Berikutnya, tentu saja adalah sajian aksi heroik yang fantastis, yang memuaskan hasrat terpendam setiap penonton untuk &#8220;menjadi lebih dari sekadar dirinya yang sekarang&#8221;. Mengenai hasrat mendasar ini, kita sepakat dengan komentar Stan Lee (kreator superhero Hulk, Spider-Man dan Daredevil) tentang popularitas Superman, &#8220;<em>Most every guy wishes he could be more than he is. Who wouldn&#8217;t love to fly? Who wouldn&#8217;t love to be bulletproof? And X-ray eyes!</em>&#8221;</p>
<p>Film adalah bentuk komunikasi dengan penonton, dan pencerita yang baik tahu betul cara memperlakukan <em>audience</em>-nya. Penonton dilibatkan, tidak dijauhkan, apalagi jika telah ada sesuatu yang terlanjur di awang-awang. Untuk itu diperlukan strategi berupa pendekatan emosional. Dalam terminologi Superman, ada sosok Clark Kent. Di satu sisi Superman adalah manusia super dengan kekuatan super-segalanya, nyaris tanpa cacat dan kelemahan (kecuali batu Kryptonite hijau, tentunya); katakanlah ini adalah sisi &#8220;sesuatu yang terlanjur di awang-awang&#8221;. Namun di sisi lain, dia adalah seorang Clark Kent, yang dengan segala kecanggungan dan kekikukannya, adalah seorang manusia biasa. Sosok Clark Kent inilah yang berperan &#8220;membumikan&#8221; karakter Superman. Di sini penonton didekatkan secara emosi, karena Clark Kent adalah &#8220;seperti kita juga&#8221;.</p>
<p>Sisi emosional ini—yang cukup manusiawi—menempati porsi cukup banyak di film <em>Superman: The Movie</em>. Clark Kent remaja, menumpahkan kekesalannya—karena ditinggal teman-temannya pulang naik mobil—dengan menendang keras-keras bola rugby ke arah langit (dan tentu saja bola itu terlontar sangat jauh). Tak cukup hanya itu, Clark pun menempuh perjalanan pulang dengan berlari secepat kilat, mendahului mobil temannya, bahkan mengalahkan kereta api yang melaju kencang. Di akhir cerita, sisi emosional ini bahkan mencapai taraf yang berlebihan. Di sebuah kerusuhan kota akibat gempa yang ditimbulkan rudal Lex Luthor, mobil Lois Lane terperosok ke dalam rekahan gempa, dan Superman terlambat menyelamatkannya. Lois meninggal terkubur pasir. Superman sedih dan marah, lalu terbang dengan emosi yang meluap-luap ke luar angkasa, mengitari bumi berulangkali dengan kecepatan tinggi&#8230; dan memutar balik waktu. Superman memutar mundur waktu sampai pada keadaan sebelum Lois terjebak gempa, sehingga sempat untuk diselamatkan dari kematian. Dalam hal ini, masalah emosi dan subjektivitas Superman dikedepankan, tak peduli apakah itu melanggar hukum alam dan nilai-nilai moralitas. Setidaknya, nilai-nilai moralitas yang selalu diajarkan oleh Jor-El (ayah Superman di Planet Krypton): &#8220;<em>My son, you are not allowed to interfere human history&#8230;</em>&#8221; Superman melanggarnya, menentukan nilai-nilai moralitasnya sendiri dengan mengedepankan perasaan. Mungkin inilah fenomena yang menurut Michel Foucault, pemikir asal Prancis, sedang terjadi di dalam masyarakat Barat kontemporer, &#8220;ranah utama moralitas, bagian dari diri kita yang paling relevan bagi moralitas, adalah perasaan-perasaan kita&#8221;.</p>
<p>Pendekatan emosi ke penonton, juga dilakukan dengan menempatkan posisi Superman sebagai bagian integral dari masyarakat. Di film <em>Superman: The Movie</em>, setelah aksi <em>go public</em>-nya yang pertama, Superman diwawancarai oleh Lois Lane. &#8220;<em>Who are you?</em>&#8221; tanya Lois Lane. Superman menjawab, &#8220;<em>A friend</em>&#8220;. Rupanya Superman ingin menunjukkan dia adalah &#8220;teman&#8221; bagi siapa saja, sebagai bagian tak terpisahkan dari masyarakat luas. Maka aksi heroik Superman pun melibas batas-batas rasial maupun geografis. Dia bisa hadir di belahan dunia manapun: menghentikan aksi teroris di Menara Eiffel Paris, menolong anak kecil di Air Terjun Niagara, atau menyelamatkan seorang pekerja kulit hitam yang jatuh dari ketinggian sebuah proyek bangunan. Superman adalah milik universal, dan karena itu Superman begitu populer. Lambang &#8216;S&#8217;-nya yang legendaris itu, muncul sebagai stiker-stiker di kaca mobil, pintu-pintu kamar, atau di baju-baju kaos di seluruh dunia. Pada tahun 1960-an, muncul film Superman versi India. Di Indonesia, pada tahun 1974 muncul film <em>Rama Superman Indonesia</em>, karya sutradara Frans Totok Ars. Epigon lainnya juga muncul di dunia komik Indonesia lewat tokoh Godam. Superhero lokal karangan komikus Wid N.S. yang populer di tahun 1970-an ini mempunyai kekuatan mirip Superman, dengan lambang &#8216;G&#8217; di dadanya.</p>
<p>Namun perlu diingat, seuniversal apapun Superman, sejatinya dia tetap milik Amerika. Jerry Siegel dan Joe Shuster menciptakan tokoh ini ketika Amerika Serikat sedang dilanda masa Depresi, dan publik membutuhkan figur panutan. Superman, dengan kostum merah birunya (mengingatkan kita pada bendera star and stripes kebanggaan warga AS) langsung tampil sebagai &#8220;pahlawan&#8221;. Publik Amerika seolah menemukan harapan pada sosok Superman. Semasa Perang Dunia II, tentara Amerika membaca komik Superman untuk membakar semangat mereka. Dalam komik, Man of Steel itu digambarkan bahu membahu dengan tentara Amerika melawan musuh-musuh perangnya. Bahkan diceritakan, Superman terbang ke Berlin menangkap Hitler, lalu ke Moskow meringkus Stalin! Di film <em>Superman: The Movie</em>, yang konon pemutaran perdananya di AS dihadiri Presiden Jimmy Carter, jelas-jelas Superman mengungkapkan alasan kemunculannya dengan kata-kata monumental, &#8220;<em>I&#8217;m here to fight for truth, justice and the American way…</em>&#8221; Superman adalah pahlawan, ikon kultural, sekaligus cerminan &#8220;kesombongan&#8221; Amerika itu sendiri.</p>
<p>Maka di beberapa filmnya, sering kita jumpai Superman terbang mengibarkan bendera Star and Stripes, mengembalikannya ke Gedung Putih, atau menancapkannya di permukaan Bulan. Atau Superman (baca: Amerika) menyelamatkan Moskow (baca: Uni Sovyet) dari ancaman bom atom Nuclear Man. Atau Superman berpidato perihal perdamaian dunia, dengan mengutip kata-kata Dwight D. Eisenhower, jenderal kebanggaan AS. Atau ketika Bumi hendak dikuasai Jenderal Zod dari planet Krypton, Presiden AS berbicara atas nama umat manusia seluruh dunia.</p>
<p>Jadi, bisa kita pahami—entah dengan rasa simpati atau geli—pernyataan Presiden George W. Bush sehubungan dengan tragedi Selasa Hitam 11 September 2001: &#8220;<em>Freedom is under attack</em>&#8220;. Yeah, &#8220;freedom&#8221;, saudara-saudara! Bukan (sekadar) Amerika. Di dunia nyata, Presiden AS itu berbicara atas nama &#8220;kebebasan&#8221; dan umat manusia—mirip kisah-kisah di komik dan film. Bedanya, di dunia nyata tak ada Superman yang menghentikan teroris menabrakkan pesawat ke gedung World Trade Center. Superman hanya hidup di dunia rekaan manusia. Di dunia nyata, gedung World Trade Center tetap luluh lantak. Di dunia nyata, yang ada hanyalah Christopher Reeve, yang duduk terpaku di kursi roda merenungi nasibnya—mungkin sambil sesekali mengenang keperkasaan Superman. Tapi pendapat Reeve, yang meredefinisi arti kata &#8216;hero&#8217;, benar-benar layak kita dengarkan: &#8220;… <em>a hero</em>, adalah manusia biasa, yang menemukan kekuatan untuk berjuang keras dan tetap bertahan, bahkan di saat-saat paling sulit sekalipun.&#8221; Musibah memang tak jarang membuat manusia lebih bijaksana. Kita, manusia biasa, tak harus jadi manusia super untuk bisa menjadi pahlawan.[]</p>
<p style="text-align: right;">Bandung, April 2002</p>
<p style="text-align: right;"><strong>Budi Warsito<br />
</strong><em>Penggemar Superman,<br />
menempelkan stiker </em>&#8216;S&#8217;<em> di pintu kamarnya</em></p>
<p style="text-align: left;">Gambar ilustrasi dicomot dari <a href="http://zone.artizans.com/product.htm?pid=291204" target="_blank">sini</a>.</p>
<p><span style="font-size: 90%;"><span style="font-family: trebuchet ms;"><strong>PS.<br />
</strong><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Christopher_reeve" target="_blank"><strong>Christopher Reeve</strong></a> akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya pada hari Minggu Kliwon, 10 Oktober 2004. Tulisan lama ini saya muat ulang untuk memperingati 5 tahun wafatnya si Manusia (bersemangat) Baja itu. Damai di sana, Pak Reeve!</span></span></p>
<p><span style="font-size: 90%;"><span style="font-family: trebuchet ms;">Banyak lagu ditulis tentang Superman. Tapi hanya satu yang saya suka, yaitu &#8220;<strong><a href="http://www.mediafire.com/?mthjlgzlonm" target="_blank">O Superman (For Massenet)</a></strong>&#8220;, dinyanyikan oleh </span></span><span style="font-size: 90%;"><span style="font-family: trebuchet ms;">Laurie Anderson.</span></span></p>
<p><span style="font-size: 90%;"><span style="font-family: trebuchet ms;"><br />
</span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/superman-the-ordinary-man/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apa yang Kau Cari, Antonioni?</title>
		<link>http://budiwarsito.net/apa-yang-kau-cari-antonioni/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/apa-yang-kau-cari-antonioni/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Jul 2009 14:56:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=55</guid>
		<description><![CDATA[.

&#8220;They don&#8217;t mean anything when I do them. Just a mess.
Afterwards, I find something to hang on to…
Then it sorts itself out and adds up.
It&#8217;s like finding a clue in a detective story.&#8221;
—Bill (John Castle), tentang lukisan-lukisan abstraknya, di film Blow-Up (Michelangelo Antonioni, UK, 1966)
London, 1966. Sebuah taman, luas dan sepi. Hijau rumput terhampar, begitu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #ffffff;">.</span></p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-262" title="BlowUp" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2009/07/BlowUp.jpg" alt="BlowUp" width="431" height="243" /></p>
<p>&#8220;<em>They don&#8217;t mean anything when I do them. Just a mess.<br />
Afterwards, I find something to hang on to…<br />
Then it sorts itself out and adds up.<br />
It&#8217;s like finding a clue in a detective story</em>.&#8221;<br />
—Bill (John Castle), tentang lukisan-lukisan abstraknya, di film <strong><em>Blow-Up</em></strong><a href="http://www.imdb.com/title/tt0060176/" target="_blank"><strong><em> </em></strong></a>(Michelangelo Antonioni, UK, 1966)</p>
<p>London, 1966. Sebuah taman, luas dan sepi. Hijau rumput terhampar, begitu syahdu, begitu damai. Seorang fotografer berambut kusut dengan sorot mata nyalang, melangkah gontai tanpa tujuan, menyisir tepi taman. Nun jauh di tengah sana, tampak sepasang manusia bermesraan. Naluri fotografer mengatakan: itu objek menarik, maka dipotretlah mereka. Merasa privasi dia dan pasangannya terganggu, sang perempuan berang, lalu berlari mengejar sang fotografer. Dimintanya roll film itu, tapi sang fotografer menolak. <span id="more-55"></span></p>
<p>Dipenuhi tanda tanya di benaknya, sang fotografer kemudian memproses roll film itu di kamar gelap studionya. Tercetaklah serangkaian foto hitam putih: sederet pemandangan puitis, yang &#8220;sangat damai, sangat tenang.&#8221; Lalu kenapa sang perempuan tadi tampak begitu terganggu? Tergerak menyelidiki, sang fotografer melakukan proses pembesaran (atau <em>blow-up</em>) atas foto-foto tersebut. Alih-alih memberi jawab, pembesaran foto malah menyodorkan tanda tanya lebih besar: jauh di semak-semak, terlihat sekilas bersembunyi sesosok manusia dengan pistol di tangannya. Apakah itu berarti aksi pemotretan telah menyelamatkan pasangan tadi dari sebuah percobaan pembunuhan? <!--more--></p>
<p>Misteri rupanya tak berhenti sampai di situ: pada proses pembesaran berikutnya, justru didapati sesosok mayat, yakni sang lelaki dari pasangan tersebut. Penasaran, sang fotografer kembali ke taman, dan ternyata mayat itu memang tergeletak di sana. Berarti bukannya menyelamatkan, dia tadi justru memberi peluang terjadi pembunuhan. Sepulang dari taman, studionya telah diobrak-abrik: seluruh negatif maupun positif foto tadi telah lenyap. Sang fotografer kembali lagi ke taman, menenteng kamera foto berniat memotret lelaki tak bernyawa tadi, mungkin dengan motif mengabadikan bukti “sebuah pembunuhan telah terjadi”. Namun bahkan si mayat pun kini lenyap. Tak ada petunjuk yang jelas: semua telah sirna tak bersisa. Maka, apa yang sebenarnya telah, sedang, dan akan terjadi?</p>
<p>Sederet tanda tanya—bisa jadi inilah yang membuat film karya Michelangelo Antonioni <em>Blow-Up</em> (1996) terasa memikat. Dalam film ini, di mana kisah di atas bergulir, tidak kunjung jelas apa yang sesungguhnya ingin disampaikan oleh sutradara dan penulis cerita.  Tak ada kejelasan maksud seperti biasa ditemukan dalam sebuah plot standar. Tapi <em>Blow-Up</em>, dianugerahi Palem Emas di Festival Film Cannes tahun 1967, memang bukan jenis film kebanyakan. Dari menit-menit awal, kita pantas curiga bahwa dia bukan jenis narasi yang gamblang bercerita. Film dibuka dengan adegan segerombolan anak muda berkostum pantomim, pupur tebal di wajah, bersorak-sorai di atas mobil yang melaju ngawur, dan beraksi teatrikal. Tak pernah diterangkan lebih lanjut siapa gerangan mereka. Cerita kemudian lebih terfokus pada Thomas, demikian nama fotografer tadi, si tokoh sentral, berusaha mencari jawab atas misteri yang muncul dari lubang kameranya.</p>
<p>Jelas, <em>Blow-Up</em> adalah film tentang fotografi. Yang kemudian menarik diperbincangkan adalah betapa Antonioni, sutradara Italia yang terkenal dengan gaya visual kuat dan cara bertutur &#8216;berbeda&#8217;, menggarapnya juga dengan perlakuan dan ketrampilan (yang nantinya juga filosofi) fotografis. Kekuatan gambar Antonioni, layaknya karya fotografi, terletak pada komposisi yang sangat cermat diperhitungkan. Film ini diwarnai estetika visual yang mumpuni: gambar romantik nan puitis, latar dominan kelabu disandingkan dengan berbagai ornamen berwarna cerah, <em>fashion</em> bernuansa Swinging London—salah satu <em>art scene</em> khas 1960-an. Semuanya diramu dalam sebuah narasi yang cenderung sepi. Bagaikan menatap beku serangkaian foto yang penuh makna, dia tak cerewet dengan kata-kata.</p>
<p>Lebih jauh, dengan segala perangkat fotografisnya, film ini justru mempertanyakan fotografi itu sendiri. Antonioni tampaknya sangat peduli dengan filosofi pameo usang: &#8220;<em>a picture paints a thousand words</em>&#8220;. Di sinilah letak persoalannya. Memilih dan menemukan makna sesungguhnya dari selembar foto, di antara ribuan kemungkinan (tafsir) makna lain yang muncul, tentu bukan perkara mudah. Dengan kata lain, sebuah misteri. Dan &#8216;misteri&#8217; inilah yang kemudian digarap secara menarik oleh Antonioni di film <em>Blow-Up</em>, yang terinspirasi dari satu cerita pendek berjudul <em>Las babas del diablo</em> (&#8220;The Droolings of the Devil&#8221;) karya pengarang Argentina, Julio Cortázar.</p>
<p>Hingga penghujung film pun, tidaklah begitu terang apa yang sebenarnya terjadi seputar foto dan pembunuhan tersebut. Antonioni kelihatan enggan menjawab teka-teki itu: dia tak berniat membungkusnya dengan akhir yang pasti. Penonton tahu bahwa ada (atau setidaknya pernah ada) sesosok mayat di taman, dan penonton pun tahu bahwa Thomas juga tahu. Tapi Thomas tak bisa menunjukkan bukti ke orang-orang bahwa pembunuhan yang dia telah lihat, atau dia rasa telah lihat melalui kameranya, memang benar-benar pernah terjadi. Tanpa bukti, bisa jadi mereka hanya akan menganggapnya berilusi. Di sinilah Thomas teralienasi, terasing dan tersisih, justru dari kenyataan di mana dia biasa diakui sebagai fotografer dengan otoritas tinggi terhadap dunianya melalui foto-foto hasil jepretannya.</p>
<p>Dengan demikian, film <em>Blow-Up</em> (dan juga bisa berarti Antonioni) sebenarnya bergulat dengan hubungan realitas dan ilusi dalam seni. Ini mengingatkan satu pertanyaan klasik: &#8220;Jika pohon tumbang jauh di tengah hutan, tapi tak seorang pun mendengar suara atau melihatnya, adakah itu benar-benar terjadi?&#8221; Benarkah di luar sana pembunuhan itu nyata terjadi, karena realitas itu pernah terekam di foto Thomas? Tapi apa yang dimaksud dengan &#8220;realitas&#8221; itu sendiri? Adakah sebuah foto bisa dikatakan menangkap realitas, atau dia hanya menciptakan ilusi tentang realitas? Mengenai ambiguitas ini, dalam kumpulan eseinya <em>On Photography</em> (1977), Susan Sontag berpendapat, &#8220;<em>It is not reality that photographs make immediately accessible, but images</em>.&#8221; Jika demikian, adakah kemungkinan perasaan Thomas (dan penonton) telah melihat &#8220;seseorang dengan pistol di tangannya&#8221; hanya efek ilusi semata yang muncul dari proses pembesaran foto? Mungkinkah itu hanya serumpun semak belukar yang selintas membentuk citra serupa sosok manusia? Kita tak pernah tahu.</p>
<p>Ketika Thomas kemudian menunjukkan hasil pembesaran foto itu kepada Patricia, istri temannya itu malah berkomentar, &#8220;Mirip lukisan-lukisan Bill.&#8221; Sementara Bill sendiri, si pelukis abstrak teman Thomas, seperti dikutip di awal tulisan ini, mengakui betapa lukisan abstrak yang dia ciptakan adalah &#8220;sesuatu yang tidak dimaksudkan apa-apa.&#8221; Mengenai proses melukisnya, Bill menyebutnya &#8216;kekacauan semata&#8217;. Hanya saja, setelah lukisan selesai, Bill mengaku mulai menemukan sesuatu. Segalanya seperti tersortir, dan dia merasa bisa mengartikannya: &#8220;Seperti menemukan satu petunjuk di cerita detektif.&#8221;</p>
<p>Namun sebagaimana kinerja detektif yang tak luput dari kekeliruan dan peluang gagal, maka adegan Thomas menyejajarkan beberapa foto sesuai narasi waktu (yang kemudian mengingatkan kita pada logika editing dalam pasca-produksi sebuah film) terasa sangat dramatis sekaligus berpotensi sia-sia: segala petunjuk itu bisa jadi tak berarti apa-apa. Terlalu banyak kemungkinan, terlalu beragam tafsir yang bisa dimunculkan. Dan Antonioni membiarkan hal itu. Tak disodorkannya jawaban final yang utuh, dia lebih bermain-main dengan perangkat estetika visual. Bahasa gambar diolahnya sedemikian rupa sehingga bermakna luas sekaligus misterius: memancing interpretasi penonton adalah tujuannya.</p>
<p>Kecerdikan Antonioni mengolah tanda-tanda dalam porsi &#8220;tidak terlalu sedikit, tapi juga tidak terlalu banyak&#8221; (dan karenanya menjadi misterius) melalui elemen-elemen dasar sinematografi, tampak pada adegan berikut. Ketika Thomas mendapati mayat di taman, tergeletak kaku di semak-semak, scene tersebut tampak disinari cahaya lampu neon yang ganjil dan datang entah dari mana. &#8220;<em>I wanted the sign to illuminate the scene</em>,&#8221; ujar Antonioni, &#8220;<em>but I didn’t want it to be of something</em>.&#8221; Tapi tentu saja sorot lampu tak wajar itu bisa berarti sesuatu, hanya saja: mungkin tidak kita mengerti. Begitu juga dengan unsur audio berupa suara angin, yang tiba-tiba bertiup menerpa semak-semak saat itu. Dan yang paling misterius: terdengar suara pistol dikokang. Thomas menoleh, dan tak ada siapa pun selain dia dan si mayat. Tapi siapa yang tahu?</p>
<p>Jika kemudian Thomas mesti menunjukkan foto mayat supaya orang percaya dengan cerita seputar pembunuhan itu, tapi ternyata mayat itu lenyap sebelum sempat dipotret, maka apa yang bisa dilakukan Thomas? Dan apa yang penonton kuasa simpulkan? Adakah pembunuhan itu benar-benar nyata, karena memang pernah ada mayat terbaring di taman yang dilihat Thomas? Ataukah itu hanya rekayasa pihak tertentu, dengan kepentingan tertentu pula, jika mempertimbangkan berbagai kejanggalan di sekitarnya, termasuk sorot lampu neon, suara desir angin, dan bunyi pistol dikokang? Lagi-lagi, Antonioni tak memberi penjelasan apa-apa. Dia bebaskan penonton menafsirkan sendiri teka-teki itu.</p>
<p>Perihal tafsir tanpa batas tampaknya juga berlaku di adegan paling terkenal menjelang akhir film, ketika segerombolan pantomim muncul kembali. Aksi teatrikal mereka kali ini: bermain tenis lapangan dengan bola imajiner. Dari kejauhan, Thomas menatap mereka dengan ekspresi datar. Namun begitu &#8220;bola&#8221; itu terlontar mendekatinya, dia pun terbawa masuk ke &#8216;permainan&#8217; itu: &#8220;dilemparkan&#8217;-nya kembali bola itu ke arah mereka. Bisa jadi, sambil tersenyum simpul penuh arti, dari ruang <em>editing</em> Antonioni menggenapi kebingungan penonton. Ditambahkannya pada adegan itu, suara pantulan bola setiap kali membentur raket dan lantai—seolah &#8220;bola&#8221; itu memang benar-benar ada. Lengkap sudah, batasan realitas dan ilusi tak lagi jelas di film ini.</p>
<p>Diiringi musik latar dari Herbert Hancock dan The Yardbirds, kamera kemudian <em>zoom-out</em>, dan Thomas pun lenyap dari pandangan kita. Meninggalkan sebuah taman rumput yang luas, hijau dan sepi. Pada akhirnya, film <em>Blow-Up</em>, mungkin sama seperti &#8220;seni&#8221;, atau bahkan &#8220;hidup&#8221; itu sendiri: tak dibiarkannya kita berhenti mencari.</p>
<p style="text-align: right;">[<strong>Budi Warsito</strong>]</p>
<p><a href="http://www.imdb.com/title/tt0060176/" target="_blank"><em><strong>Blow-Up</strong></em></a><br />
Michelangelo Antonioni, UK, 1966<br />
Color, 110 min, DVD</p>
<p><strong>PS.<br />
</strong><span style="font-size: 90%;"><span style="font-family: trebuchet ms;">Tepat dua tahun lalu, 30 Juli 2007, <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Michelangelo_Antonioni" target="_blank"><strong>Michelangelo Antonioni</strong></a> meninggal dunia di usia 94 tahun. Di hari yang sama, sutradara kenamaan lainnya asal Swedia, <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Ingmar_bergman" target="_blank"><strong>Ingmar Bergman</strong></a>, juga menghembuskan nafas terakhirnya. Tulisan ini pertama kali dimuat di majalah <em>Visual Arts</em>, edisi #13, Juni-Juli 2006, halaman 73-76.</span></span></p>
<p><span style="font-size: 90%;"><span style="font-family: trebuchet ms;">Di bagian akhir film ini, ada <a href="http://www.youtube.com/watch?v=YHNL5_2LspE" target="_blank"><strong>penampilan langka</strong></a> dari The Yardbirds di mana Jeff Beck masih tergabung di band tersebut (beberapa bulan setelah film ini dirilis, dia keluar). Di adegan tersebut, mereka merusak instrumen di atas panggung. The Who (ya, tentu saja!) dan The Velvet Underground sempat dipertimbangkan untuk mengisi peran itu.</span></span></p>
<p><span style="font-size: 90%;"><span style="font-family: trebuchet ms;">Lagu yang dibawakan di adegan tersebut adalah lagu &#8220;Stroll On&#8221;. Bisa diunduh di <a href="http://www.mediafire.com/?mgvzjnm1jhz" target="_blank"><strong>sini</strong>.</a><span style="font-family: trebuchet ms;"> </span></span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/apa-yang-kau-cari-antonioni/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kopi, TV, Popularitas</title>
		<link>http://budiwarsito.net/kopi-tv-popularitas/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/kopi-tv-popularitas/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 25 Jul 2009 01:27:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=69</guid>
		<description><![CDATA[.


&#8220;Y&#8217;know, one time coffee was believed to be the drink of the devil. When Pope Vincent III heard about this, he decided to taste the drink before banning it. In fact, he enjoyed coffee so much, he wound up baptising it, stating &#8216;coffee is so delicious, it would be a pity to let the infidels [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #ffffff;"><em>.</em></span></p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-281" title="coffeeandtvmilk2" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2009/07/coffeeandtvmilk2.JPG" alt="coffeeandtvmilk2" width="302" height="223" /></p>
<p><span><em><br />
&#8220;Y&#8217;know, one time coffee was believed to be the drink of the devil. When Pope Vincent III heard about this, he decided to taste the drink before banning it. In fact, he enjoyed coffee so much, he wound up baptising it, stating &#8216;coffee is so delicious, it would be a pity to let the infidels have exclusive use of it&#8217;. I also feel that way about coffee. And about TV. And … about Blur.</em>&#8221;<br />
&#8212;Bob Dylan, memperkenalkan &#8220;Coffee &amp; TV&#8221; di acara radionya pada tahun 2006</span></p>
<p>Sebuah kotak susu berjalan di tengah keramaian kota. Di badannya menempel selembar foto anak hilang. Susah payah ditembusnya segala rintangan perjalanan itu: jalan raya yang penuh mobil, orang-orang berlalu lalang, risiko terlindas dan terinjak. Bagaimanapun, si anak hilang harus segera ditemukan. Di rumahnya telah menunggu dengan cemas sepasang orang tua—muka mereka murung.<span id="more-69"></span> <a href="http://www.youtube.com/watch?v=L5lXGW-zO3U" target="_blank">Videoklip &#8220;Coffee &amp; TV&#8221;</a> adalah cerita tentang sebuah misi mulia. Sebuah upaya penyelamatan. Perjalanan si kotak susu menjadi sangat heroik sekaligus mengharukan. Dan perjuangannya tak sia-sia. Si anak hilang berhasil ditemukan—dia sedang bermain musik, nge-band bersama teman-temannya. Si anak hilang pun bergegas pulang, meninggalkan teman-temannya, kembali ke rumah orangtuanya. Tugas si kotak susu selesai.</p>
<p>Blur, band asal Inggris, berhasil menerjemahkan lirik lagunya ke dalam bahasa gambar videoklip dengan cara yang &#8216;berbeda&#8217;. Lirik lagu &#8220;Coffee &amp; TV&#8221; sendiri bercerita tentang seorang superstar yang lelah akan dunianya. Lirih, lagu bernuansa minor ini dilantunkan—setengah berharap, setengah mengejek. &#8220;<em>Do you feel like a chain store/ practically floored/ one of many zeros/ kicked around bored…</em>&#8221; Popularitas menjadikan seorang bintang seakan-akan (harus) hidup dalam deretan etalase toko: siap dilihat-lihat, dan oleh sebab itu harus bagus—karena konsumen adalah raja. Sang bintang pun terjebak dalam rutinitas itu: rangkaian konser yang gegap gempita, jadwal tur yang melelahkan, kejaran pers, dan histeria penggemar. Ruang gerak pun menjadi terbatas. Privasi tiba-tiba menjadi satu hal langka.  Penggemar bisa berada di mana saja, siap mengejar-ngejar untuk sekadar tanda tangan atau foto bersama. Sesuatu yang mungkin pada awalnya menyenangkan, membanggakan, tapi lama-kelamaan merepotkan juga. Sang bintang pun merasa letih. Mungkin juga jenuh—dan karenanya ingin sekali-kali hengkang dari situ. Di bagian <em>reffrain</em>, dengan teriakan setengah tertahan, keinginan itu diungkapkan: &#8220;<em>&#8230;so give me coffee and TV easily/ I’ve seen so much/ I’m going blind/ and braindead virtually…</em>&#8221; Hal-hal sepele pun kemudian menjadi sangat berharga: ditemani secangkir kopi, menonton televisi, menjalani kehidupan seperti orang lain, layaknya seorang manusia biasa.</p>
<p>Videoklip lagu ini tak lantas ber-&#8217;frontal ria&#8217;. Dia tidak hendak menerjemahkan lirik lagu begitu saja. Dipilihnya cara penyampaian yang lebih &#8216;halus&#8217;. Sebuah sudut pandang yang sedikit berbeda, tanpa harus menyimpang dari tema utama dan pesan lagu yang ingin disampaikan. Tak ada sepotong pun adegan tentang gemerlapnya dunia bintang. Tak ada kilapan blitz kamera dan lampu-lampu panggung yang menyilaukan. Tak ada kepungan mikrofon wartawan dan teriakan histeris penggemar. Sebagai gantinya, dipakainya simbol-simbol, yang cukup simpel tapi dalam: kotak susu dan foto anak hilang.  Hampir seluruh adegan adalah petualangan seru si kotak susu. Sang bintang digambarkan sebagai &#8220;si anak hilang&#8221;. Sebuah kiasan yang cukup bersahaja. Bahwa si kotak susu harus menempuh perjalanan yang cukup berat—untuk ukuran sebuah kotak susu—menggambarkan betapa misi mulia itu tidaklah mudah: &#8220;mengembalikan&#8221; sang bintang ke dunianya yang semula. Betapa tidak gampang untuk keluar dari sebuah lingkaran setan bernama &#8220;dunia <em>showbiz</em>&#8221; itu. Dunia yang penuh gemerlap, tampak menyenangkan, tapi sekaligus kejam. &#8220;<em>Take me away from this big bad world&#8230;</em>&#8220;—Blur bahkan menggambarkannya sebagai &#8220;sebuah dunia besar dan buruk&#8221;.</p>
<p>Dunia bintang ternyata tak selalu seenak kelihatannya, dan popularitas tak selamanya menyenangkan. Tak jarang mereka memaksa seorang bintang harus terus memakai topeng, demi menghibur penggemar. &#8220;<em>Your ears are full but you’re empty/ holding out out your heart/ to people who never really/ care how you are&#8230;</em>&#8221; Ada &#8216;kekosongan&#8217; di tengah ketenaran itu, menyelinap diam-diam. Ada sesuatu yang hilang.  Tapi siapa yang mau peduli &#8216;kehampaan&#8217; itu? Tiba-tiba kita teringat kisah tragis Kurt Cobain. Popularitas Nirvana—lengkap dengan segala konsekuensinya—ternyata, siapa sangka, sangat menyiksa dia. Salah satu judul lagunya yang terkenal, &#8220;I Hate Myself And I Want To Die&#8221; seakan mengisyaratkan sesuatu. Semacam beban yang berat. Bisa jadi sesuatu yang tak terjelaskan, namun menghimpit. Surat terakhirnya lebih menegaskan lagi: &#8220;<em>…kejahatan terbesar yang pernah aku lakukan adalah naik ke panggung dan mempertontonkan kepalsuan…</em>&#8221; Dan matilah si dewa grunge itu—dengan pistol ia meledakkan kepalanya sendiri. Tragis.  Blur bukannya tak tahu hal itu. Invasi pertama Blur ke Amerika di awal &#8216;90-an—mencoba mengulang kesuksesan Beatles—gagal total karena demam grunge ala Nirvana sedang kuat-kuatnya melanda Amerika. Band asal Inggris lainnya, Oasis, yang sukses menginvasi Amerika beberapa tahun kemudian, juga pernah menulis tentang risiko sebuah popularitas. Lirik lagu &#8220;Champagne Supernova&#8221; mereka menyiratkan hal itu: &#8220;<em>How many special people change/ how many lives are living strange/ where were you when we were getting high?</em>&#8221;</p>
<p>Dunia pesohor tak selamanya indah. Blur pernah menjadi bintang, merasakan popularitasnya, menanggung risikonya. Dan mereka ingin sekali-kali &#8220;keluar&#8221;—sebelum beban itu meledak. Melepaskan label-label superstar mereka, meski cuma sejenak. Mereka memilih cara yang sehat: dengan &#8220;kopi dan televisi&#8221;—bukan pistol. Pilihan yang manis. Lebih manis lagi, dengan sekotak susu yang berjalan-jalan lucu sepanjang videoklip.</p>
<p style="text-align: right;"><strong>Budi Warsito</strong> Bandung, Mei 2001</p>
<p style="text-align: left;"><strong>[MP3]</strong> <a href="http://www.mediafire.com/?ntzhaovywi3" target="_blank"><strong><br />
Blur &#8211; Coffee and TV</strong></a> (album <em>13</em>, 1999) <a href="http://www.mediafire.com/?nyygdgnvyy1" target="_blank"><strong><br />
Blur &#8211; Coffee and TV</strong></a> (Live at Hyde Park, July 2009)</p>
<p><strong>PS.</strong><br />
<span style="font-size: 90%;"><span style="font-family: trebuchet ms;">&gt;&gt; Di videoklip yang dibuat tahun 1999 ini, &#8220;si anak hilang&#8221; diperankan oleh gitaris Blur, Graham Coxon, yang juga menulis lirik &#8220;Coffee &amp; TV&#8221; dan menyanyikannya sendiri (di lagu ini vokalis Damon Albarn hanya mengiringi sebagai vokal latar). Uniknya, melalui videoklip ini Graham Coxon seolah meramalkan nasibnya sendiri. Tiga tahun setelah itu lagu itu dibuat, dia hengkang dari Blur, meninggalkan teman-temannya, dan melanjutkan proyek solonya.</span></span></p>
<p><span style="font-size: 90%;"><span style="font-family: trebuchet ms;">&gt;&gt; Setelah perpisahan itu, Blur sempat merilis album <em>Think Tank</em> (2003), untuk kemudian vakum hingga batas waktu yang tidak ditentukan. Tiap personel disibukkan dengan proyek musik dan non musik masing-masing. Berbagai rumor bercampur harapan menyebutkan kemungkinan reuni formasi lengkap (termasuk Graham Coxon) dan rencana meliris album baru Blur. Namun harapan tinggal harapan. Dalam sebuah wawancara pada Oktober 2007, Damon Albarn mengakui ada masalah internal yang tidak kunjung terpecahkan dan bahwa reuni itu tidak akan pernah ada.</span></span></p>
<p><span style="font-size: 90%;"><span style="font-family: trebuchet ms;">&gt;&gt; Namun akhirnya Blur sepakat rujuk kembali, dan mengadakan konser reuni yang fenomenal di Hyde Park, London pada 2 Juli 2009. Ketika penjualan tiket konser itu mulai dibuka via online setengah tahun sebelumnya, puluhan ribu tiket langsung ludes hanya dalam waktu 2 menit!</span></span></p>
<p><span style="font-size: 90%;"><span style="font-family: trebuchet ms;">&gt;&gt; Sutradara videoklip ini, Garth Jennings (tergabung dalam Hammer and Tongs), juga membuat videoklip keren lainnya: &#8220;Imitation of Life&#8221;-nya R.E.M (2001) yang unik, dan &#8220;Silent Sigh&#8221;-nya Badly Drawn Boy (2002) yang menyentuh.</span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/kopi-tv-popularitas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Binatang-binatang di Kepala Syd</title>
		<link>http://budiwarsito.net/binatang-binatang-di-kepala-syd/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/binatang-binatang-di-kepala-syd/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Jun 2008 19:03:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=1</guid>
		<description><![CDATA[.


An effervescing elephant
with tiny eyes, and great big trunk
once whispered to the tiny ears
the ears of one inferior
that by next June he&#8217;d die, oh yeah!
because the tiger would roam
and the little one said oh my goodness I must stay at home
and everytime I hear a growl
I&#8217;ll know the tiger&#8217;s on the prowl
and I&#8217;ll be really [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><span style="color: #ffffff;">.</span><br />
</em></p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-264" title="Syd" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2008/06/Syd.jpg" alt="Syd" width="431" height="289" /></p>
<p><em>An effervescing elephant<br />
with tiny eyes, and great big trunk<br />
once whispered to the tiny ears<br />
the ears of one inferior<br />
that by next June he&#8217;d die, oh yeah!<br />
because the tiger would roam<br />
and the little one said oh my goodness I must stay at home<br />
and everytime I hear a growl<br />
I&#8217;ll know the tiger&#8217;s on the prowl<br />
and I&#8217;ll be really safe you know<br />
The elephant he told me so<br />
And everyone was nervy, oh yeah!<br />
and the message was spread<br />
to zebra, mongoose, and the dirty hippopotamus<br />
who wallowed in the mud and chewed<br />
his spicy hippoplankton food<br />
and tended to ignore the word<br />
prefering to survey a herd<br />
of stupid water bison, oh yeah!<br />
and the jungle took fright<br />
and ran around for all the day and the night<br />
but all in vain because you see<br />
the tiger came and said to me,<br />
&#8220;You know I wouldn&#8217;t hurt not one of you<br />
I much prefer something to chew<br />
you&#8217;re all too scant, oh yeah!&#8221;<br />
He ate the elephant&#8230;<br />
</em>&#8212;lagu &#8220;Effervescing Elephant&#8221;, Syd Barrett, album <em>Barrett</em> (1970).</p>
<p>Saya tak begitu ingat apa saja yang saya lakukan di usia 16 tahun. Itu sudah bertahun-tahun silam. Mungkin membolak-balik majalah HAI, karena masih ada cerbung bubin LantanG di sana, dan saya suka. Mungkin sedang berusaha (terlalu) keras menyatakan cinta monyet pertama saya, deg-degan dan malu-malu. Oh, atau mungkin sedang terlalu antusias (antara senang sekaligus cemas) karena pergi dari rumah dan mulai hidup terpisah dari orang tua. Dan saya mulai menulis. Puisi-puisi norak, cerpen-cerpen yang tak pernah selesai, atau sekadar kata-kata patah hati yang tak tersampaikan. Saya menulis apapun, selain lagu. Ya, selain lagu. Sementara Syd Barrett, sudah menulis lagu sejak usia 16 tahun. Dan dia jenius. <span id="more-1"></span></p>
<p>Tentu saja lancang dan tolol sekali membandingkan diri saya dengan dia. Saya bukan otak kreatif awal Pink Floyd untuk kemudian dipecat dari sana (bahkan saya tidak pernah punya band, karena saya tak bisa bermain instrumen apapun selain seruling, dan itu pun hanya satu lagu, &#8220;Ibu Kita Kartini&#8221;!), saya bukan seorang Capricorn, saya tidak mengonsumsi LSD tiga sampai empat kali sehari, dan saya tak pernah secara resmi dinyatakan gila. Setidaknya psikiater saya belum sampai hati mengatakannya.</p>
<p>Untuk pertama kalinya dalam hidup saya, secara tak sengaja saya mendengar satu lagu Syd Barrett di sebuah toko musik, pada sebuah musim dingin di pinggiran Seoul. Dan kebetulan umur saya juga 16 tahun waktu itu. Ada perasaan merinding yang janggal, murung sekaligus senang, rasa penasaran menjalari kepala saya, atau kombinasi yang aneh dari semua itu. Sesuatu yang misterius. Semacam perasaan yang sukar dijelaskan. Sejak saat itu saya resmi menjadi penggemar.</p>
<p>Lagu itu adalah &#8220;Effervescing Elephant&#8221;. Sebagai <em>closing track</em> dari album solo keduanya (yang kemudian menjadi album terakhirnya), itu justru termasuk lagu paling awal yang pernah Syd tulis, ketika masih berumur 16 tahun. Tentu saja ini bukan komposisi terbaiknya, tapi lagu tersebut sangat berarti bagi saya. Dinyanyikan hanya dengan iringan gitar kopong, nada lagu ini terdengar riang sekaligus ganjil, sepintas seperti progresi lagu mars untuk anak-anak. Liriknya pun terkesan kekanak-kanakan, meski sebenarnya tidak. Dia memang bercerita soal binatang, sejenis fabel. Namun fabel macam apa, dengan pesan jenis apa, yang keluar dari kepala seorang jenius gila seperti Syd?</p>
<p>Sedikit berbeda dari kebanyakan lirik Syd lainnya yang rumit dan sulit dimengerti, &#8220;Effervescing Elephant&#8221; sebenarnya cukup mudah. Dan tumben struktur dramatiknya jelas. Seperti ada logika bertutur yang dipatuhi, semacam pola Struktur Tiga Babak. Pertama, Perkenalan Karakter dan Masalah. Tersebutlah seekor Gajah, (perhatikan deskripsinya yang teliti &#8220;<em>…with tiny eyes and great big trunk…</em>&#8220;) sedang menyampaikan kekhawatiran tentang kehidupan hutan yang ganas, kepada rekannya sesama gajah yang lebih junior. Hukum rimba berlaku mutlak: siapa kuat, dia bertahan. Dan itu selalu berarti soal siapa memangsa siapa. Dan Harimau, tentu saja, adalah ancaman besar bagi mereka. Gajah Kecil jelas ketakutan, &#8220;<em>…oh my goodness I must stay at home</em>!&#8221;, tapi lagi-lagi, rumah macam apa, di tengah hutan, yang sanggup melindungi binatang dari kejamnya predator alam bebas?</p>
<p>Masuklah babak kedua, Intensifikasi Masalah. Maka ketika Harimau datang, seisi hutan pun tegang. &#8220;<em>…and everytime I hear a growl, I&#8217;ll know the tiger&#8217;s on the prowl.</em>&#8221; Saya membayangkan sesosok loreng dengan otot-otot kaki yang ramping dan lentur, berjalan melenggang. Ya, hanya melenggang. Itu pun sudah cukup membuat sekumpulan binatang resah bukan main, dan mau tak mau mereka harus tetap bergerombol jika ingin selamat dari terkaman sang pemangsa (apakah Syd sedang menyindir konsep agung &#8220;manusia adalah makhluk sosial&#8221; sekaligus <em>homo homini lupus</em>?). Sederetan nama binatang Syd sebutkan, mulai dari Zebra, Mongoose, hingga Kuda Nil pemalas yang gemar berkubang dan mengunyah &#8220;<em>his spicy hippoplanktom food</em>&#8220;. Diksi yang amat jeli. Bahkan Greg Graffin, vokalis Bad Religion yang juga profesor biologi di UCLA, rasanya tidak akan pernah terpikir memakai kata &#8216;<em>hippoplankton</em>&#8216; untuk sebuah lirik lagu.</p>
<p>Syd terus menggenjreng gitarnya, bernyanyi dengan suara tak stabil: seperti terlalu rendah saat mengambil nada awal, lalu <em>falsetto</em> di beberapa bagian, untuk kemudian nyaris tercekik kehabisan nafas di bagian lain. Dan tibalah penghujung cerita, Penyelesaian Masalah. &#8220;<em>…and the jungle took fright/ and ran around for all the day and the night</em>.&#8221; Siapa akhirnya yang menjadi santapan Harimau? Kepada siapa Nasib Buruk akan ditimpakan oleh Sang Penguasa? Ketakutan seluruh penghuni rimba sempat terhapus oleh Sabda Raja Hutan: &#8220;<em>You know, I wouldn&#8217;t hurt one of you.</em>&#8221; (Yeah, seperti dalam hidup, harapan seringkali muncul, bukan?) Tapi tunggu dulu, &#8220;<em>I&#8217;d much prefer something to chew</em>.&#8221; (Oh sial, harapan palsu, mulai dibanting.) Pada akhirnya, well, baca saja sendiri kalimat terakhir lirik di atas, ada baiknya setelah Anda selesai mengunduh lagu tersebut di Limewire.</p>
<p>Setiap lagu itu selesai diputar, saya selalu diam termenung. Syd menyisakan 15 detik di akhir lagu hanya dengan suasana sepi, hanya ada suara jengkerik di gelapnya malam, dan sayup-sayup terdengar dari kejauhan, lolongan binatang kesakitan. Saya curiga Syd tak sekadar membicarakan binatang semata-mata. Dia sedang membahas sesuatu yang lebih besar, hal-hal yang tak pernah selesai, lebih subtil, hal-hal yang susah dijelaskan. Pada titik tertentu dalam hidup, seberapa percaya Anda terhadap Takdir (dengan &#8216;T&#8217; besar), berikut segala usaha mengakalinya? Dan hebatnya, segala narasi itu dikemas Syd secara ringkas hanya dalam durasi lagu 1 menit 52 detik. Segala ironi dan kesia-siaan bertahan itu. Nada datar, progesi tak terduga, tanpa <em>reffrain</em>, 173 kata yang padat berisi, dan setiap bait hanya dinyanyikan sekali.</p>
<p>Entah kenapa kalimat terakhir lagu itu selalu mengingatkan saya pada baris puisi Chairil Anwar yang terkenal, &#8220;<em>sekali berarti sudah itu mati</em>&#8220;. Bisa jadi hidup yang sialan ini memang seperti itu: dia hanya sekali, dan tak lebih dari sekumpulan ironi atas hal-hal percuma. Mungkin tak masuk akal, tapi saya menangkap ada kemiripan di situ: keduanya sama-sama berusaha tetap optimis dari awal, meski sekaligus tahu betul betapa semuanya akan selalu berakhir tragis. Seberapa jauh kita sanggup menyiasatinya, untuk kemudian tetap tunduk takluk tak berdaya? Logika ironi selalu diramu dari bahan-bahan menyebalkan seperti itu. Chairil berharap panjang umur (&#8220;<em>aku mau hidup seribu tahun lagi</em>&#8220;), tapi toh penyakit TBC menghentikannya di angka 27. Sementara di lagu &#8220;Dark Globe&#8221;, komposisi terbaiknya menurut saya, Syd menyanyi dengan tenggorokan sedih luar biasa, &#8220;<em>Won&#8217;t you miss me?/ Wouldn&#8217;t you miss me at all?</em>&#8221; Dan kita tahu, karir musiknya yang brilian terpaksa terhenti di rentang waktu sangat pendek, setelah dinyatakan sebagai &#8216;<em>an incurable mad man</em>&#8216; oleh dokter jiwa, untuk kemudian menghabiskan sisa hidupnya sebagai orang gila (dalam arti harfiah) dan tinggal di rumah ibunya hingga akhir hayatnya. Sering terlintas di benak saya, apa jadinya jika Chairil dan Syd, yang sama-sama tertarik tema kesepian transendental, hidup di zaman sama dan berkolaborasi? Seperti apa Chairil (dia penerjemah handal) mengalihbahasakan lirik lagu Syd &#8220;<em>when I was alone/ you promised the stone from your heart</em>&#8220;? Dengan nada minor macam apa Syd menyanyikan baris puisi Chairil &#8220;<em>aku ini binatang jalang/ dari kumpulannya terbuang</em>&#8220;?</p>
<p>Ya, saya selalu kagum pada mereka yang demikian fasih perihal binatang-binatang sebagai metafor. Selain lagu di atas, beragam satwa bertebaran di karya-karya Syd Barrett, mulai dari Angsa, Burung, Serigala, hingga Cumi-cumi. Bahkan di salah satu sampul albumnya, tergambar bermacam-macam Serangga. Sementara satu-satunya hal yang pernah saya lakukan soal binatang, hanyalah sebaris puisi tolol berikut ini, yang tak mungkin hinggap di kepala Chairil Anwar, saya tulis di usia 7 tahun: &#8220;<em>Once I had a cat. Now he’s dead</em>.&#8221; Well, setidaknya itu berima.</p>
<p style="text-align: center;">*</p>
<p><span style="font-size: 90%;"><span style="font-family: trebuchet ms;">Tulisan ini dimuat dengan nama pena <strong>Budibadabadu</strong> di majalah <em>JEUNE</em>, edisi #24 Animal Issue, Juni-Juli 2008, halaman 94-95.</span></span></p>
<p>[<strong>MP3</strong>]<br />
<a href="http://www.mediafire.com/?2ymaewitwgk" target="_blank"><strong>Syd Barrett &#8211; Effervescing Elephant</strong></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/binatang-binatang-di-kepala-syd/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>X dan/atau XXX…</title>
		<link>http://budiwarsito.net/x-dan-atau-xxx%e2%80%a6/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/x-dan-atau-xxx%e2%80%a6/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 Mar 2008 12:21:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=5</guid>
		<description><![CDATA[.

&#8216;G&#8217; means the hero gets the girl,
&#8216;R&#8217; means the villain gets the girl,
and &#8216;X&#8217; means everyone gets the girl.
&#8212;sebuah lelucon lama
Barangkali banyak di antara kita yang tak paham (dan tak peduli) apa bedanya rating G, PG-13, NC-17, R, dan sebagainya. Tapi rasanya kita punya bayangan serupa mengapa sebuah film dicap huruf X atau kelipatannya. Adegan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #ffffff;"><em>.</em></span></p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-266" title="jenna" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2008/03/jenna.JPG" alt="jenna" width="385" height="289" /></p>
<p><em>&#8216;G&#8217; means the hero gets the girl,<br />
&#8216;R&#8217; means the villain gets the girl,<br />
and &#8216;X&#8217; means everyone gets the girl</em>.<br />
&#8212;sebuah lelucon lama</p>
<p>Barangkali banyak di antara kita yang tak paham (dan tak peduli) apa bedanya rating G, PG-13, NC-17, R, dan sebagainya. Tapi rasanya kita punya bayangan serupa mengapa sebuah film dicap huruf X atau kelipatannya. Adegan polisi Detroit sekarat diberondong senapan penjahat atau Arnold Schwarzenegger kebingungan dikejar-kejar tentara di Planet Mars mungkin luput dari ingatan kita, tapi siapa yang bisa melupakan cara Sharon Stone menyilangkan kaki dan sekelebat kita tahu tak ada celana dalam di balik rok mininya? Sama-sama ditasbihkan lembaga rating MPAA sebagai ‘X-rated film’, aksi ranjang di <em>Basic Instinct</em> rasanya lebih sah di persepsi kita ketimbang aksi kekerasan di <em>RoboCop</em> atau <em>Total Recall</em>. <span id="more-5"></span></p>
<p>Tak ada catatan pasti kapan pertama kali film bergenre X (dan/atau XXX) dibuat, tapi saya curiga itu sebenarnya hanya beberapa jam setelah kamera film pertama kali diciptakan di akhir abad 19. Ciuman pertama yang pernah terekam pita seluloid memang baru muncul beberapa tahun kemudian, tapi siapa bisa menjamin Lumière Bersaudara tidak kepikiran merekam adegan asyik masyuk sesaat setelah menemukan kamera <em>cinematograph</em> pertama di tahun 1895? Mungkin mereka tidak memutarkannya di depan publik yang terhormat kala itu. Siapa tahu mereka menyimpannya saja. Jangan-jangan persis seperti kita: diam-diam menyembunyikan film-film Jenna Jameson di laci paling bawah, dan menontonnya setelah memastikan semua pintu sudah terkunci rapat.</p>
<p>Ya, setiap pria normal tentu paham siapa Jenna Jameson, kecuali jika Anda memang sangat alim dan kuper luar biasa. Bisa jadi dialah bintang film porno paling populer saat ini, meski mengaku telah pensiun. Kita sudah terlanjur hapal berapa ukuran dadanya (silikon tentunya), bagian pantat dan kaki sebelah mana yang bertato, gaya favoritnya (dia benci seks anal, tapi toh melakukannya), juga kemahiran oralnya yang tak jarang dibanjiri ludah. Goyangan dan desahannya hidup abadi di keping-keping cakram bajakan, beredar cepat dari tangan ke tangan (tergores-gores akibat terlalu sering disetel di bagian tertentu), atau menetap permanen di harddisk komputer kita. Buku otobiografinya, <em>How to Make Love Like a Porn Star</em>, digarap serius setebal hampir 600 halaman, meledak di pasaran. Orang-orang seperti Jenna (juga ribuan bintang porno lainnya) inilah yang membuat roda industri gambar bergerak pengumbar syahwat itu terus berputar. Ada <em>supply</em>, ada <em>demand</em>. Dan layaknya dunia keprofesian, banyak prasyarat harus dipenuhi: salah satunya, bisa jadi paling utama, adalah <em>size does matter</em>. Angka 36D adalah lingkar dada yang biasa ditemui, tak peduli itu asli atau palsu, dan ingat, ‘senjata’ legendaris Rocco Siffredi dikabarkan bisa mencapai panjang 23 cm! (Freud bisa tertawa dalam kubur jika tahu betapa fetisisme atas fantasi <em>phallus</em> sangat dirayakan dalam industri raksasa ini, termasuk pemilihan adegan penis ejakulasi sebagai ending abadi.)</p>
<p>Kualitas akting para aktor-aktrisnya pun tak perlu tinggi-tinggi amat, karena yang lebih penting stamina dan teknik bercinta. Toh skenario, bila itu bisa disebut skenario, tak menuntut macam-macam: hampir selalu minim dialog. Kalaupun ada dialog, biasanya simpel dan <em>cheesy</em>, tak banyak kalimat yang harus dihapal selain harus mendesah seseksi mungkin (&#8220;<em>Oh yes! Oh no!</em>&#8220;&#8212;sikap yang plin plan?). Atau melenguh (&#8220;<em>Faster! Harder!</em>&#8220;). Atau menjerit (&#8220;<em>Oh, God!</em>&#8220;&#8212;wow, apakah mereka religius?). Semuanya demi satu tujuan bersama, merangsang audiens. Para produser tahu betul kebutuhan pasar: segala preferensi dan fantasi seksual terliar manusia difasilitasi; mulai dari pasangan biasa, sesama jenis, tukar pasangan, keroyokan, bahkan jika perlu dengan binatang sekalipun. Judul-judulnya pun menggelikan, tak jarang plesetan dari film-film terkenal: <em>A Clockwork Orgy</em>, <em>Good Will Humping</em>, <em>Sex Trek: The Next Penetration</em>, <em>Black Cock Down</em>, dan sebagainya.</p>
<p>Jalan cerita di film-film porno acapkali ngawur. Logikanya busuk seperti kentut, tapi seperti halnya kentut, kita tetap membutuhkannya, bukan? Contoh plot standar: wanita pirang seksi tinggal sendirian di rumah, tak jelas apa aktivitasnya, mendadak lapar dan memesan pizza via telepon. Atau tanpa sebab pasti, tiba-tiba pipa ledeng di kamar mandinya ngadat. Kejadian &#8216;perut lapar&#8217; dan &#8216;ledeng rusak&#8217; ini hanyalah pengantar seadanya demi menghadirkan ‘lawan bertanding’ di adegan utama yang lebih esensial. Maka datanglah pria pengantar pizza atau mas-mas tukang ledeng, biasanya kekar tapi pendiam. Setelah bertukar dialog yang mengada-ada, <em>ngalor ngidul</em>, cenderung murahan dan nggak penting, mereka mulai menjurus ke &#8216;hal-hal yang kita inginkan&#8217;. Namun tempo dari segala adegan pembuka itu selalu terasa terlampau lambat (meminjam analisis nakal Umberto Eco, &#8220;<em>if, to go from A to B, the characters take longer than you would like, then the film you are seeing is pornographic</em>.&#8221;). Sehingga tak jarang tombol <em>fast-forward</em> di <em>remote control</em> menjadi pahlawan andalan kita. Fantasi dan mata kita minta segera dipuaskan, meski kadang otak suka bertanya-tanya mengapa ketika &#8216;bertempur&#8217; mereka masih mengenakan sepatu dan tak menanggalkan topi. Berterima kasihlah pada teknologi masa kini, karena segalanya sekarang menjadi jauh lebih mudah dan ringkas, setidaknya dibanding masa-masa memutar knop di VHS/Beta player bertahun-tahun silam. Dan kode rahasia klasik nan malu-malu &#8220;Ehmm, ada film Unyil?&#8221; mulai tergantikan oleh tradisi unduh-sendiri-film-bokep-pilihanmu di belantara internet.</p>
<p>Kemajuan teknologi juga membuat video porno amatir makin merajalela. Perangkat paling mutakhir dan hasrat paling purba berpadu sempurna dengan gejala narsisistik manusia: <em>now everyone </em><em>could be a porn star</em>. Pada tahun 2001, ketika Adi dan Nanda merekam percakapannya di kamar hotel, &#8220;<em>Nanda, sekarang kita sudah berapa bulan?/ Sudah 23 bulan/ Berarti sudah hampir 2 tahun, kamu maunya apa?&#8221;</em>, mungkin tak pernah terbayang oleh mereka betapa kini hampir sewindu semenjak adegan percintaan heboh mereka itu, video serupa makin biasa didapati. Tengoklah <em>folder-folder</em> di warnet, atau <em>file-sharing</em> di forum-forum. Nyalakan televisi, maka tak habis-habisnya acara gosip memberitakan video pribadi terbaru mulai dari artis ibukota hingga anak SMA di daerah, yang bisa langsung dengan mudah di-<em>search</em> di Google.</p>
<p>Jenna Jameson boleh mengaku pensiun (&#8220;<em>I will never spread my legs in this industry again!</em>&#8221; ujarnya), Adi dan Nanda mungkin sudah menikah di Kutub Utara lalu bercerai (<em>who knows?</em>), anggota DPR telah insaf dan aji mumpung Maria Eva sudah tak ampuh lagi; tapi apa boleh buat, pornografi gambar bergerak tetap melenggang kangkung. Dunia profesional dan amatir seolah berjalan serentak. Persis kata-kata yang menggema di podium Adult Video News Awards 2008, pertengahan Januari silam. Pada hajatan 25 tahun ajang penghargaan paling bergengsi industri pornografi itu, Stormy Daniels, bintang bokep yang masih aktif, menanggapi pernyataan pensiun Jenna Jameson, &#8220;<em>I love you Jenna, but I’m going to spread my legs a little longer.</em>&#8221; Industri (dan tradisi) film porno pun jalan terus.</p>
<p style="text-align: center;">*</p>
<p><span style="font-size: 90%;"><span style="font-family: trebuchet ms;">Tulisan ini dimuat dengan nama pena <strong>Budibadabadu</strong> di majalah <em>JEUNE</em>, edisi #23 (Alphabet Issue), April-May 2008.<br />
</span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/x-dan-atau-xxx%e2%80%a6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Stroszek</title>
		<link>http://budiwarsito.net/stroszek/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/stroszek/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Feb 2008 03:19:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=145</guid>
		<description><![CDATA[.

Berbekal glockenspiel dan akordeon plus pengalaman dua tahun di penjara karena alkohol, seorang penyanyi jalanan Berlin yang eksentrik mengajak seorang pelacur meninggalkan negerinya yang kaku demi menuju tanah pengharapan, Amerika. Tapi yang dia dapati justru hidup perantauan yang jauh lebih keras, kalkun beku yang ditentengnya naik kereta gantung, truk besar warna kelabu yang berjalan sendiri, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #ffffff;">.</span></p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-285" title="stroszek!" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2008/02/stroszek1.jpg" alt="stroszek!" width="267" height="193" /></p>
<p>Berbekal glockenspiel dan akordeon plus pengalaman dua tahun di penjara karena alkohol, seorang penyanyi jalanan Berlin yang eksentrik mengajak seorang pelacur meninggalkan negerinya yang kaku demi menuju tanah pengharapan, Amerika. <span id="more-145"></span>Tapi yang dia dapati justru hidup perantauan yang jauh lebih keras, kalkun beku yang ditentengnya naik kereta gantung, truk besar warna kelabu yang berjalan sendiri, dan seekor ayam yang menari-nari. Adakah yang menghargai musik yang dia mainkan sepenuh hati? Diakui sebagai &#8216;cerita balada&#8217; (!) bahkan oleh Herzog sendiri—dia menulis skripnya hanya dalam waktu 4 hari—film ini sebenarnya lebih seperti kombinasi aneh antara kisah moral (bahwa American Dream itu omong kosong) dengan komedi absurd, semuanya dalam porsi yang janggal. Dan segala bunyi-bunyian itu! Tak ada yang berubah tiap kali saya mengunjungi kembali film ini: endingnya hanya akan membuat saya menaruh kotak DVD ini pelan-pelan, mengembalikannya ke rak nyaris tanpa suara, dengan perasaan campur aduk, tak kuasa mendefinisikannya. <em>Masih. Selalu. Sama.</em> Ini film terakhir yang ditonton Ian Curtis sebelum dia bunuh diri.</p>
<p><em><strong>Stroszek<br />
</strong></em>Werner Herzog, West Germany, 1977<br />
Color, 115 min, DVD.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/stroszek/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memento Mori</title>
		<link>http://budiwarsito.net/memento-mori/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/memento-mori/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 Dec 2007 17:28:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[Rupa-rupa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=536</guid>
		<description><![CDATA[.
(a short story by Jonathan Nolan)

1
&#8220;What like a bullet can undeceive!&#8221;
—Herman Melville
Your wife always used to say you&#8217;d be late for your own funeral. Remember that? Her little joke because you were such a slob—always late, always forgetting stuff, even before the incident.
Right about now you&#8217;re probably wondering if you were late for hers.
You were [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><span style="color: #ffffff;">.</span><br />
(a short story by Jonathan Nolan)</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2010/06/mementomori.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-539" title="mementomori" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2010/06/mementomori.jpg" alt="" width="358" height="269" /></a></p>
<p>1<em><br />
&#8220;What like a bullet can undeceive!&#8221;<br />
—Herman Melville</em></p>
<p style="text-align: left;"><em>Your wife always used to say you&#8217;d be late for your own funeral. Remember that? Her little joke because you were such a slob—always late, always forgetting stuff, even before the incident.</em></p>
<p><em>Right about now you&#8217;re probably wondering if you were late for hers.</em></p>
<p><em>You were there, you can be sure of that. That&#8217;s what the picture&#8217;s for—the one tacked to the wall by the door. It&#8217;s not customary to take pictures at a funeral, but somebody, your doctors, I guess, knew you wouldn&#8217;t remember. They had it blown up nice and big and stuck it right there, next to the door, so you couldn&#8217;t help but see it every time you got up to find out where she was.</em></p>
<p><em>The guy in the picture, the one with the flowers? That&#8217;s you. And what are you doing? You&#8217;re reading the headstone, trying to figure out whose funeral you&#8217;re at, same as you&#8217;re reading it now, trying to figure why someone stuck that picture next to your door. But why bother reading something that you won&#8217;t remember?</em><span id="more-536"></span></p>
<p><em>She&#8217;s gone, gone for good, and you must be hurting right now, hearing the news. Believe me, I know how you feel. You&#8217;re probably a wreck. But give it five minutes, maybe ten. Maybe you can even go a whole half hour before you forget.</em></p>
<p><em>But you will forget—I guarantee it. A few more minutes and you&#8217;ll be heading for the door, looking for her all over again, breaking down when you find the picture. How many times do you have to hear the news before some other part of your body, other than that busted brain of yours, starts to remember?</em></p>
<p><em>Never-ending grief, never-ending anger. Useless without direction. Maybe you can&#8217;t understand what&#8217;s happened. Can&#8217;t say I really understand, either. Backwards amnesia. That&#8217;s what the sign says. CRS disease. Your guess is as good as mine.</em></p>
<p><em>Maybe you can&#8217;t understand what happened to you. But you do remember what happened to HER, don&#8217;t you? The doctors don&#8217;t want to talk about it. They won&#8217;t answer my questions. They don&#8217;t think it&#8217;s right for a man in your condition to hear about those things. But you remember enough, don&#8217;t you? You remember his face.</em></p>
<p><em>This is why I&#8217;m writing to you. Futile, maybe. I don&#8217;t know how many times you&#8217;ll have to read this before you listen to me. I don&#8217;t even know how long you&#8217;ve been locked up in this room already. Neither do you. But your advantage in forgetting is that you&#8217;ll forget to write yourself off as a lost cause.</em></p>
<p><em>Sooner or later you&#8217;ll want to do something about it. And when you do, you&#8217;ll just have to trust me, because I&#8217;m the only one who can help you.</em></p>
<p>2<br />
EARL OPENS ONE EYE after another to a stretch of white ceiling tiles interrupted by a hand-printed sign taped right above his head, large enough for him to read from the bed. An alarm clock is ringing somewhere. He reads the sign, blinks, reads it again, then takes a look at the room.</p>
<p>It&#8217;s a white room, overwhelmingly white, from the walls and the curtains to the institutional furniture and the bedspread. The alarm clock is ringing from the white desk under the window with the white curtains. At this point Earl probably notices that he is lying on top of his white comforter. He is already wearing a dressing gown and slippers.</p>
<p>He lies back and reads the sign taped to the ceiling again. It says, in crude block capitals, THIS IS YOUR ROOM. THIS IS A ROOM IN A HOSPITAL. THIS IS WHERE YOU LIVE NOW.</p>
<p>Earl rises and takes a look around. The room is large for a hospital—empty linoleum stretches out from the bed in three directions. Two doors and a window. The view isn&#8217;t very helpful, either—a close of trees in the center of a carefully manicured piece of turf that terminates in a sliver of two-lane blacktop. The trees, except for the evergreens, are bare—early spring or late fall, one or the other.</p>
<p>Every inch of the desk is covered with Post-it notes, legal pads, neatly printed lists, psychological textbooks, framed pictures. On top of the mess is a half-completed crossword puzzle. The alarm clock is riding a pile of folded newspapers. Earl slaps the snooze button and takes a cigarette from the pack taped to the sleeve of his dressing gown. He pats the empty pockets of his pajamas for a light. He rifles the papers on the desk, looks quickly through the drawers. Eventually he finds a box of kitchen matches taped to the wall next to the window. Another sign is taped just above the box. It says in loud yellow letters, CIGARETTE? CHECK FOR LIT ONES FIRST, STUPID.</p>
<p>Earl laughs at the sign, lights his cigarette, and takes a long draw. Taped to the window in front of him is another piece of looseleaf paper headed YOUR SCHEDULE.</p>
<p>It charts off the hours, every hour, in blocks: 10:00 p.m. to 8:00 a.m. is labeled go BACK TO SLEEP. Earl consults the alarm clock: 8:15. Given the light outside, it must be morning. He checks his watch: 10:30. He presses the watch to his ear and listens. He gives the watch a wind or two and sets it to match the alarm clock.</p>
<p>According to the schedule, the entire block from 8:00 to 8:30 has been labeled BRUSH YOUR TEETH. Earl laughs again and walks over to the bathroom.</p>
<p>The bathroom window is open. As he flaps his arms to keep warm, he notices the ashtray on the windowsill. A cigarette is perched on the ashtray, burning steadily through a long finger of ash. He frowns, extinguishes the old butt, and replaces it with the new one.</p>
<p>The toothbrush has already been treated to a smudge of white paste. The tap is of the push-button variety—a dose of water with each nudge. Earl pushes the brush into his cheek and fiddles it back and forth while he opens the medicine cabinet. The shelves are stocked with single-serving packages of vitamins, aspirin, antidiuretics. The mouthwash is also single-serving, about a shot-glass-worth of blue liquid in a sealed plastic bottle. Only the toothpaste is regular-sized. Earl spits the paste out of his mouth and replaces it with the mouthwash. As he lays the toothbrush next to the toothpaste, he notices a tiny wedge of paper pinched between the glass shelf and the steel backing of the medicine cabinet. He spits the frothy blue fluid into the sink and nudges for some more water to rinse it down. He closes the medicine cabinet and smiles at his reflection in the mirror.</p>
<p>&#8220;Who needs half an hour to brush their teeth?&#8221;</p>
<p>The paper has been folded down to a minuscule size with all the precision of a sixth-grader&#8217;s love note. Earl unfolds it and smooths it against the mirror. It reads—</p>
<p>IF YOU CAN STILL READ THIS, THEN YOU&#8217;RE A FUCKING COWARD.</p>
<p>Earl stares blankly at the paper, then reads it again. He turns it over. On the back it reads—</p>
<p>P.S.: AFTER YOU&#8217;VE READ THIS, HIDE IT AGAIN.</p>
<p>Earl reads both sides again, then folds the note back down to its original size and tucks it underneath the toothpaste.</p>
<p>Maybe then he notices the scar. It begins just beneath the ear, jagged and thick, and disappears abruptly into his hairline. Earl turns his head and stares out of the corner of his eye to follow the scar&#8217;s progress. He traces it with a fingertip, then looks back down at the cigarette burning in the ashtray. A thought seizes him and he spins out of the bathroom.</p>
<p>He is caught at the door to his room, one hand on the knob. Two pictures are taped to the wall by the door. Earl&#8217;s attention is caught first by the MRI, a shiny black frame for four windows into someone&#8217;s skull. In marker, the picture is labeled YOUR BRAIN. Earl stares at it. Concentric circles in different colors. He can make out the big orbs of his eyes and, behind these, the twin lobes of his brain. Smooth wrinkles, circles, semicircles. But right there in the middle of his head, circled in marker, tunneled in from the back of his neck like a maggot into an apricot, is something different. Deformed, broken, but unmistakable. A dark smudge, the shape of a flower, right there in the middle of his brain.</p>
<p>He bends to look at the other picture. It is a photograph of a man holding flowers, standing over a fresh grave. The man is bent over, reading the headstone. For a moment this looks like a hall of mirrors or the beginnings of a sketch of infinity: the one man bent over, looking at the smaller man, bent over, reading the headstone. Earl looks at the picture for a long time. Maybe he begins to cry. Maybe he just stares silently at the picture. Eventually, he makes his way back to the bed, flops down, seals his eyes shut, tries to sleep.</p>
<p>The cigarette burns steadily away in the bathroom. A circuit in the alarm clock counts down from ten, and it starts ringing again.</p>
<p>Earl opens one eye after another to a stretch of white ceiling tiles, interrupted by a hand-printed sign taped right above his head, large enough for him to read from the bed.</p>
<p>3<br />
<em>You can&#8217;t have a normal life anymore. You must know that. How can you have a girlfriend if you can&#8217;t remember her name? Can&#8217;t have kids, not unless you want them to grow up with a dad who doesn&#8217;t recognize them. Sure as hell can&#8217;t hold down a job. Not too many professions out there that value forgetfulness. Prostitution, maybe. Politics, of course.</em></p>
<p><em>No. Your life is over. You&#8217;re a dead man. The only thing the doctors are hoping to do is teach you to be less of a burden to the orderlies. And they&#8217;ll probably never let you go home, wherever that would be.</em></p>
<p><em>So the question is not &#8220;to be or not to be,&#8221; because you aren&#8217;t. The question is whether you want to do something about it. Whether revenge matters to you.</em></p>
<p><em>It does to most people. For a few weeks, they plot, they scheme, they take measures to get even. But the passage of time is all it takes to erode that initial impulse. Time is theft, isn&#8217;t that what they say? And time eventually convinces most of us that forgiveness is a virtue. Conveniently, cowardice and forgiveness look identical at a certain distance. Time steals your nerve.</em></p>
<p><em>If time and fear aren&#8217;t enough to dissuade people from their revenge, then there&#8217;s always authority, softly shaking its head and saying, We understand, but you&#8217;re the better man for letting it go. For rising above it. For not sinking to their level. And besides, says authority, if you try anything stupid, we&#8217;ll lock you up in a little room.</em></p>
<p><em>But they already put you in a little room, didn&#8217;t they? Only they don&#8217;t really lock it or even guard it too carefully because you&#8217;re a cripple. A corpse. A vegetable who probably wouldn&#8217;t remember to eat or take a shit if someone wasn&#8217;t there to remind you.</em></p>
<p><em>And as for the passage of time, well, that doesn&#8217;t really apply to you anymore, does it? Just the same ten minutes, over and over again. So how can you forgive if you can&#8217;t remember to forget?</em></p>
<p><em>You probably were the type to let it go, weren&#8217;t you? Before. But you&#8217;re not the man you used to be. Not even half. You&#8217;re a fraction; you&#8217;re the ten-minute man.</em></p>
<p><em>Of course, weakness is strong. It&#8217;s the primary impulse. You&#8217;d probably prefer to sit in your little room and cry. Live in your finite collection of memories, carefully polishing each one. Half a life set behind glass and pinned to cardboard like a collection of exotic insects. You&#8217;d like to live behind that glass, wouldn&#8217;t you? Preserved in aspic.</em></p>
<p><em>You&#8217;d like to but you can&#8217;t, can you? You can&#8217;t because of the last addition to your collection. The last thing you remember. His face. His face and your wife, looking to you for help.</em></p>
<p><em>And maybe this is where you can retire to when it&#8217;s over. Your little collection. They can lock you back up in another little room and you can live the rest of your life in the past. But only if you&#8217;ve got a little piece of paper in your hand that says you got him.</em></p>
<p><em>You know I&#8217;m right. You know there&#8217;s a lot of work to do. It may seem impossible, but I&#8217;m sure if we all do our part, we&#8217;ll figure something out. But you don&#8217;t have much time. You&#8217;ve only got about ten minutes, in fact. Then it starts all over again. So do something with the time you&#8217;ve got.</em></p>
<p>4<br />
EARL OPENS HIS EYES and blinks into the darkness. The alarm clock is ringing. It says 3:20, and the moonlight streaming through the window means it must be the early morning. Earl fumbles for the lamp, almost knocking it over in the process. Incandescent light fills the room, painting the metal furniture yellow, the walls yellow, the bedspread, too. He lies back and looks up at the stretch of yellow ceiling tiles above him, interrupted by a handwritten sign taped to the ceiling. He reads the sign two, maybe three times, then blinks at the room around him.</p>
<p>It is a bare room. Institutional, maybe. There is a desk over by the window. The desk is bare except for the blaring alarm clock. Earl probably notices, at this point, that he is fully clothed. He even has his shoes on under the sheets. He extracts himself from the bed and crosses to the desk. Nothing in the room would suggest that anyone lived there, or ever had, except for the odd scrap of tape stuck here and there to the wall. No pictures, no books, nothing. Through the window, he can see a full moon shining on carefully manicured grass.</p>
<p>Earl slaps the snooze button on the alarm clock and stares a moment at the two keys taped to the back of his hand. He picks at the tape while he searches through the empty drawers. In the left pocket of his jacket, he finds a roll of hundred-dollar bills and a letter sealed in an envelope. He checks the rest of the main room and the bathroom. Bits of tape, cigarette butts. Nothing else.</p>
<p>Earl absentmindedly plays with the lump of scar tissue on his neck and moves back toward the bed. He lies back down and stares up at the ceiling and the sign taped to it. The sign reads, GET UP, GET OUT RIGHT NOW. THESE PEOPLE ARE TRYING TO KILL YOU.</p>
<p>Earl closes his eyes.<em></p>
<p>5<br />
They tried to teach you to make lists in grade school, remember? Back when your day planner was the back of your hand. And if your assignments came off in the shower, well, then they didn&#8217;t get done. No direction, they said. No discipline. So they tried to get you to write it all down somewhere more permanent.</em></p>
<p><em>Of course, your grade-school teachers would be laughing their pants wet if they could see you now. Because you&#8217;ve become the exact product of their organizational lessons. Because you can&#8217;t even take a piss without consulting one of your lists.</em></p>
<p><em>They were right. Lists are the only way out of this mess.</em></p>
<p><em>Here&#8217;s the truth: People, even regular people, are never just any one person with one set of attributes. It&#8217;s not that simple. We&#8217;re all at the mercy of the limbic system, clouds of electricity drifting through the brain. Every man is broken into twenty-four-hour fractions, and then again within those twenty-four hours. It&#8217;s a daily pantomime, one man yielding control to the next: a backstage crowded with old hacks clamoring for their turn in the spotlight. Every week, every day. The angry man hands the baton over to the sulking man, and in turn to the sex addict, the introvert, the conversationalist. Every man is a mob, a chain gang of idiots.</em></p>
<p><em>This is the tragedy of life. Because for a few minutes of every day, every man becomes a genius. Moments of clarity, insight, whatever you want to call them. The clouds part, the planets get in a neat little line, and everything becomes obvious. I should quit smoking, maybe, or here&#8217;s how I could make a fast million, or such and such is the key to eternal happiness. That&#8217;s the miserable truth. For a few moments, the secrets of the universe are opened to us. Life is a cheap parlor trick.</em></p>
<p><em>But then the genius, the savant, has to hand over the controls to the next guy down the pike, most likely the guy who just wants to eat potato chips, and insight and brilliance and salvation are all entrusted to a moron or a hedonist or a narcoleptic.</em></p>
<p><em>The only way out of this mess, of course, is to take steps to ensure that you control the idiots that you become. To take your chain gang, hand in hand, and lead them. The best way to do this is with a list.</em></p>
<p><em>It&#8217;s like a letter you write to yourself. A master plan, drafted by the guy who can see the light, made with steps simple enough for the rest of the idiots to understand. Follow steps one through one hundred. Repeat as necessary.</em></p>
<p><em>Your problem is a little more acute, maybe, but fundamentally the same thing.</em></p>
<p><em>It&#8217;s like that computer thing, the Chinese room. You remember that? One guy sits in a little room, laying down cards with letters written on them in a language he doesn&#8217;t understand, laying them down one letter at a time in a sequence according to someone else&#8217;s instructions. The cards are supposed to spell out a joke in Chinese. The guy doesn&#8217;t speak Chinese, of course. He just follows his instructions.</em></p>
<p><em>There are some obvious differences in your situation, of course: You broke out of the room they had you in, so the whole enterprise has to be portable. And the guy giving the instructions—that&#8217;s you, too, just an earlier version of you. And the joke you&#8217;re telling, well, it&#8217;s got a punch line. I just don&#8217;t think anyone&#8217;s going to find it very funny.</em></p>
<p><em>So that&#8217;s the idea. All you have to do is follow your instructions. Like climbing a ladder or descending a staircase. One step at a time. Right down the list. Simple.</em></p>
<p><em>And the secret, of course, to any list is to keep it in a place where you&#8217;re bound to see it.</em></p>
<p>6<br />
HE CAN HEAR THE BUZZING through his eyelids. Insistent. He reaches out for the alarm clock, but he can&#8217;t move his arm.</p>
<p>Earl opens his eyes to see a large man bent double over him. The man looks up at him, annoyed, then resumes his work. Earl looks around him. Too dark for a doctor&#8217;s office.</p>
<p>Then the pain floods his brain, blocking out the other questions. He squirms again, trying to yank his forearm away, the one that feels like it&#8217;s burning. The arm doesn&#8217;t move, but the man shoots him another scowl. Earl adjusts himself in the chair to see over the top of the man&#8217;s head.</p>
<p>The noise and the pain are both coming from a gun in the man&#8217;s hand—a gun with a needle where the barrel should be. The needle is digging into the fleshy underside of Earl&#8217;s forearm, leaving a trail of puffy letters behind it.</p>
<p>Earl tries to rearrange himself to get a better view, to read the letters on his arm, but he can&#8217;t. He lies back and stares at the ceiling.</p>
<p>Eventually the tattoo artist turns off the noise, wipes Earl&#8217;s forearm with a piece of gauze, and wanders over to the back to dig up a pamphlet describing how to deal with a possible infection. Maybe later he&#8217;ll tell his wife about this guy and his little note. Maybe his wife will convince him to call the police.</p>
<p>Earl looks down at the arm. The letters are rising up from the skin, weeping a little. They run from just behind the strap of Earl&#8217;s watch all the way to the inside of his elbow. Earl blinks at the message and reads it again. It says, in careful little capitals, I RAPED AND KILLED YOUR WIFE.</p>
<p>7<br />
<em>It&#8217;s your birthday today, so I got you a little present. I would have just bought you a beer, but who knows where that would have ended?</em></p>
<p><em>So instead, I got you a bell. I think I may have had to pawn your watch to buy it, but what the hell did you need a watch for, anyway?</em></p>
<p><em>You&#8217;re probably asking yourself, Why a bell? In fact, I&#8217;m guessing you&#8217;re going to be asking yourself that question every time you find it in your pocket. Too many of these letters now. Too many for you to dig back into every time you want to know the answer to some little question.</em></p>
<p><em>It&#8217;s a joke, actually. A practical joke. But think of it this way: I&#8217;m not really laughing at you so much as with you.</em></p>
<p><em>I&#8217;d like to think that every time you take it out of your pocket and wonder, Why do I have this bell? a little part of you, a little piece of your broken brain, will remember and laugh, like I&#8217;m laughing now.</em></p>
<p><em>Besides, you do know the answer. It was something you learned before. So if you think about it, you&#8217;ll know.</em></p>
<p><em>Back in the old days, people were obsessed with the fear of being buried alive. You remember now? Medical science not being quite what it is today, it wasn&#8217;t uncommon for people to suddenly wake up in a casket. So rich folks had their coffins outfitted with breathing tubes. Little tubes running up to the mud above so that if someone woke up when they weren&#8217;t supposed to, they wouldn&#8217;t run out of oxygen. Now, they must have tested this out and realized that you could shout yourself hoarse through the tube, but it was too narrow to carry much noise. Not enough to attract attention, at least. So a string was run up the tube to a little bell attached to the headstone. If a dead person came back to life, all he had to do was ring his little bell till someone came and dug him up again.</em></p>
<p><em>I&#8217;m laughing now, picturing you on a bus or maybe in a fast-food restaurant, reaching into your pocket and finding your little bell and wondering to yourself where it came from, why you have it. Maybe you&#8217;ll even ring it.</em></p>
<p><em>Happy birthday, buddy.</em></p>
<p><em>I don&#8217;t know who figured out the solution to our mutual problem, so I don&#8217;t know whether to congratulate you or me. A bit of a lifestyle change, admittedly, but an elegant solution, nonetheless.</em></p>
<p><em>Look to yourself for the answer.</em></p>
<p><em>That sounds like something out of a Hallmark card. I don&#8217;t know when you thought it up, but my hat&#8217;s off to you. Not that you know what the hell I&#8217;m talking about. But, honestly, a real brainstorm. After all, everybody else needs mirrors to remind themselves who they are. You&#8217;re no different.</em></p>
<p>8<br />
THE LITTLE MECHANICAL VOICE PAUSES, then repeats itself. It says, &#8220;The time is 8:00 a.m. This is a courtesy call.&#8221; Earl opens his eyes and replaces the receiver. The phone is perched on a cheap veneer headboard that stretches behind the bed, curves to meet the corner, and ends at the minibar. The TV is still on, blobs of flesh color nattering away at each other. Earl lies back down and is surprised to see himself, older now, tanned, the hair pulling away from his head like solar flares. The mirror on the ceiling is cracked, the silver fading in creases. Earl continues to stare at himself, astonished by what he sees. He is fully dressed, but the clothes are old, threadbare in places.</p>
<p>Earl feels the familiar spot on his left wrist for his watch, but it&#8217;s gone. He looks down from the mirror to his arm. It is bare and the skin has changed to an even tan, as if he never owned a watch in the first place. The skin is even in color except for the solid black arrow on the inside of Earl&#8217;s wrist, pointing up his shirtsleeve. He stares at the arrow for a moment. Perhaps he doesn&#8217;t try to rub it off anymore. He rolls up his sleeve.</p>
<p>The arrow points to a sentence tattooed along Earl&#8217;s inner arm. Earl reads the sentence once, maybe twice. Another arrow picks up at the beginning of the sentence, points farther up Earl&#8217;s arm, disappearing under the rolled-up shirtsleeve. He unbuttons his shirt.</p>
<p>Looking down on his chest, he can make out the shapes but cannot bring them into focus, so he looks up at the mirror above him.</p>
<p>The arrow leads up Earl&#8217;s arm, crosses at the shoulder, and descends onto his upper torso, terminating at a picture of a man&#8217;s face that occupies most of his chest. The face is that of a large man, balding, with a mustache and a goatee. It is a particular face, but like a police sketch it has a certain unreal quality.</p>
<p>The rest of his upper torso is covered in words, phrases, bits of information, and instructions, all of them written backward on Earl, forward in the mirror.</p>
<p>Eventually Earl sits up, buttons his shirt, and crosses to the desk. He takes out a pen and a piece of notepaper from the desk drawer, sits, and begins to write.</p>
<p>9<br />
<em>I don&#8217;t know where you&#8217;ll be when you read this. I&#8217;m not even sure if you&#8217;ll bother to read this. I guess you don&#8217;t need to.</em></p>
<p><em>It&#8217;s a shame, really, that you and I will never meet. But, like the song says, &#8220;By the time you read this note, I&#8217;ll be gone.&#8221;</em></p>
<p><em>We&#8217;re so close now. That&#8217;s the way it feels. So many pieces put together, spelled out. I guess it&#8217;s just a matter of time until you find him.</em></p>
<p><em>Who knows what we&#8217;ve done to get here? Must be a hell of a story, if only you could remember any of it. I guess it&#8217;s better that you can&#8217;t.</em></p>
<p><em>I had a thought just now. Maybe you&#8217;ll find it useful.</em></p>
<p><em>Everybody is waiting for the end to come, but what if it already passed us by? What if the final joke of Judgment Day was that it had already come and gone and we were none the wiser? Apocalypse arrives quietly; the chosen are herded off to heaven, and the rest of us, the ones who failed the test, just keep on going, oblivious. Dead already, wandering around long after the gods have stopped keeping score, still optimistic about the future.</em></p>
<p><em>I guess if that&#8217;s true, then it doesn&#8217;t matter what you do. No expectations. If you can&#8217;t find him, then it doesn&#8217;t matter, because nothing matters. And if you do find him, then you can kill him without worrying about the consequences. Because there are no consequences.</em></p>
<p><em>That&#8217;s what I&#8217;m thinking about right now, in this scrappy little room. Framed pictures of ships on the wall. I don&#8217;t know, obviously, but if I had to guess, I&#8217;d say we&#8217;re somewhere up the coast. If you&#8217;re wondering why your left arm is five shades browner than your right, I don&#8217;t know what to tell you. I guess we must have been driving for a while. And, no, I don&#8217;t know what happened to your watch.</em></p>
<p><em>And all these keys: I have no idea. Not a one that I recognize. Car keys and house keys and the little fiddly keys for padlocks. What have we been up to?</em></p>
<p><em>I wonder if he&#8217;ll feel stupid when you find him. Tracked down by the ten-minute man. Assassinated by a vegetable.</em></p>
<p><em>I&#8217;ll be gone in a moment. I&#8217;ll put down the pen, close my eyes, and then you can read this through if you want.</em></p>
<p><em>I just wanted you to know that I&#8217;m proud of you. No one who matters is left to say it. No one left is going to want to.<br />
</em><br />
10<br />
EARL&#8217;S EYES ARE WIDE OPEN, staring through the window of the car. Smiling eyes. Smiling through the window at the crowd gathering across the street. The crowd gathering around the body in the doorway. The body emptying slowly across the sidewalk and into the storm drain.</p>
<p>A stocky guy, facedown, eyes open. Balding head, goatee. In death, as in police sketches, faces tend to look the same. This is definitely somebody in particular. But really, it could be anybody.</p>
<p>Earl is still smiling at the body as the car pulls away from the curb. The car? Who&#8217;s to say? Maybe it&#8217;s a police cruiser. Maybe it&#8217;s just a taxi.</p>
<p>As the car is swallowed into traffic, Earl&#8217;s eyes continue to shine out into the night, watching the body until it disappears into a circle of concerned pedestrians. He chuckles to himself as the car continues to make distance between him and the growing crowd.</p>
<p>Earl&#8217;s smile fades a little. Something has occurred to him. He begins to pat down his pockets; leisurely at first, like a man looking for his keys, then a little more desperately. Maybe his progress is impeded by a set of handcuffs. He begins to empty the contents of his pockets out onto the seat next to him. Some money. A bunch of keys. Scraps of paper.</p>
<p>A round metal lump rolls out of his pocket and slides across the vinyl seat. Earl is frantic now. He hammers at the plastic divider between him and the driver, begging the man for a pen. Perhaps the cabbie doesn&#8217;t speak much English. Perhaps the cop isn&#8217;t in the habit of talking to suspects. Either way, the divider between the man in front and the man behind remains closed. A pen is not forthcoming.</p>
<p>The car hits a pothole, and Earl blinks at his reflection in the rearview mirror. He is calm now. The driver makes another corner, and the metal lump slides back over to rest against Earl&#8217;s leg with a little jingle. He picks it up and looks at it, curious now. It is a little bell. A little metal bell. Inscribed on it are his name and a set of dates. He recognizes the first one: the year in which he was born. But the second date means nothing to him. Nothing at all.</p>
<p>As he turns the bell over in his hands, he notices the empty space on his wrist where his watch used to sit. There is a little arrow there, pointing up his arm. Earl looks at the arrow, then begins to roll up his sleeve.<br />
11<br />
<em>&#8220;You&#8217;d be late for your own funeral,&#8221; she&#8217;d say. Remember? The more I think about it, the more trite that seems. What kind of idiot, after all, is in any kind of rush to get to the end of his own story?</em></p>
<p><em>And how would I know if I were late, anyway? I don&#8217;t have a watch anymore. I don&#8217;t know what we did with it.</em></p>
<p><em>What the hell do you need a watch for, anyway? It was an antique. Deadweight tugging at your wrist. Symbol of the old you. The you that believed in time.</em></p>
<p><em>No. Scratch that. It&#8217;s not so much that you&#8217;ve lost your faith in time as that time has lost its faith in you. And who needs it, anyway? Who wants to be one of those saps living in the safety of the future, in the safety of the moment after the moment in which they felt something powerful? Living in the next moment, in which they feel nothing. Crawling down the hands of the clock, away from the people who did unspeakable things to them. Believing the lie that time will heal all wounds—which is just a nice way of saying that time deadens us.</em></p>
<p><em>But you&#8217;re different. You&#8217;re more perfect. Time is three things for most people, but for you, for us, just one. A singularity. One moment. This moment. Like you&#8217;re the center of the clock, the axis on which the hands turn. Time moves about you but never moves you. It has lost its ability to affect you. What is it they say? That time is theft? But not for you. Close your eyes and you can start all over again. Conjure up that necessary emotion, fresh as roses.</em></p>
<p><em>Time is an absurdity. An abstraction. The only thing that matters is this moment. This moment a million times over. You have to trust me. If this moment is repeated enough, if you keep trying—and you have to keep trying—eventually you will come across the next item on your list.</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>* * *</em></p>
<p><em> </em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/memento-mori/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Atas Nama Jalanan&#8230;</title>
		<link>http://budiwarsito.net/atas-nama-jalanan/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/atas-nama-jalanan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Oct 2007 02:14:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Rupa-rupa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=111</guid>
		<description><![CDATA[ .
 

&#8220;…the words of the prophets are written on the subway walls…&#8221;
&#8212;Simon and Garfunkel, &#8220;The Sound of Silence&#8221;
Jalanan, apa boleh buat, adalah sebuah drama zaman kita. Dia bukan lagi sekadar penanda lokasi (&#8220;Kantornya di jalan apa tadi, Bos?&#8221; tanya si tukang ojek sebelum tancap gas), tapi sekaligus panggung tempat orang-orang berekspresi. Ketika ojek membawa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><span style="color: #ffffff;"> </span></em><span style="color: #ffffff;">.</span><br />
<em> </em></p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-271" title="breathless" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2007/10/breathless.jpg" alt="breathless" width="380" height="289" /></p>
<p><em>&#8220;…the words of the prophets are written on the subway walls…</em>&#8221;<br />
&#8212;Simon and Garfunkel, &#8220;The Sound of Silence&#8221;</p>
<p>Jalanan, apa boleh buat, adalah sebuah drama zaman kita. Dia bukan lagi sekadar penanda lokasi (&#8220;Kantornya di jalan apa tadi, Bos?&#8221; tanya si tukang ojek sebelum tancap gas), tapi sekaligus panggung tempat orang-orang berekspresi. Ketika ojek membawa kita ngebut, meliuk-liuk menerobos kemacetan jalan yang tak masuk akal, tikung sana-sini dan hampir <em>nyerempet</em> mobil, naik ke atas trotoar, kita deg-degan dan tukang ojek tetap cuek; sesungguhnya drama <em>suspense</em> sedang terjadi.<span id="more-111"></span> Perhatikan pula sekelilingnya, sebuah ruang pentas berbagai <em>genre</em> peristiwa: dua polisi gendut duduk-duduk santai sambil <em>ngerumpi</em>, padahal lalu lintas padat jelas-jelas membutuhkan mereka (<em>komedi satir</em>); mbak-mbak pegawai kantoran tergopoh-gopoh menyusuri lorong gang sempit, cemas karena diikuti preman suruhan mantan pacarnya yang sakit hati (<em>thriller</em>); anak-anak STM tawuran, kejar-kejaran sambil menghunus pedang (<em>action</em>); atau sepasang remaja modis saling menatap malu-malu di dalam mobil mewah (jelas punya orangtua mereka) dan menunggu-nunggu kapan bisa berciuman (<em>drama remaja</em>). Segala peristiwa itu terjadi berbarengan, di sebuah <em>setting</em> besar bernama EXT. JALANAN.</p>
<p>Begitu juga pengamen di perempatan, yang <em>misuh-misuh</em> nadanya jadi agak fals lantaran harus berkelit menghindari ojek yang ugal-ugalan. Padahal gitar kopongnya (lecet kena seruduk ojek) sedang mendendangkan lagu lawas KLa Project yang merepresentasikan dirinya: &#8220;<em>…musisi jalanan mulai beraksi, seiring langkahku kehilanganmu…</em>&#8221; Barangkali dia kehilangan beberapa rupiah, atau dia sedang sentimentil. Namun kita tahu, jalanan tidak melulu soal &#8220;kehilangan&#8221;. Jalanan juga &#8220;menumbuhkan berbagai hal&#8221;. Jika tidak, bagaimana mungkin para seniman menghasilkan karya-karya mumpuni yang inspirasinya jelas-jelas dicomot dari jalan?</p>
<p>Film <em>City of God </em>(2002), misalnya, menunjukkan betapa jalanan bisa berarti keji, dan dendam pribadi mampu menjelma kekuatan kolektif yang brutal dan mengerikan. Segala drama jalanan yang keras dan penuh darah, termasuk perang antar geng di Rio de Janeiro dengan senjata api, jelas disadari sutradara Fernando Meirelles sebagai bahan dasar mengasyikkan untuk dipindahkan ke pita seluloid. Sama-sama mengangkat tema jalanan, Garin Nugroho memilih Jogja dan menghasilkan sketsa kemiskinan yang menggugah, lewat permainan akting anak jalanan non-aktor di film <em>Daun di Atas Bantal</em> (1998). Sementara di film <em>Slacker</em> (1991), Richard Linklater seperti hendak memberi aura positif kepada para <em>slacker</em> yang luntang-lantung di jalanan, bergaya bohemian dan meracau soal Dostoevsky, UFO, Marxisme, teori konspirasi JFK, dan Madonna. Perhatikan juga film <em>Breathless</em> (1960), mahakarya Jean-Luc Godard dengan <em>scene</em> legendarisnya: gadis Amerika berteriak menjajakan koran di jalanan Paris, &#8220;<em>New York</em><em> Herald Tribune! New York Herald Tribune!</em>&#8221; Menarik sekali mencermati <em>street fashion</em> di film itu: Jean Seberg tampil manis dengan model rambut <em>pixie</em>, <em>t-shirt</em> semi-turtleneck dengan lengan digulung, dipadu celana capri dan <em>flats</em>; berjalan di sebelah Jean-Paul Belmondo yang mengenakan setelan jas dan <em>ankle-high slim pants</em>, topi fedora, mengisap rokok dan merasa dirinya Humphrey Bogart.</p>
<p>Di situlah sebenarnya keunikan budaya jalanan: tak ada yang betul-betul persis satu sama lain. Apa yang khas di sudut Paris tentu berbeda dengan jalanan Amerika Latin, dan pelosok Jogja jelas lain dengan hiruk pikuk di Shinjuku. Dan tidakkah itu seru dan menantang untuk digali? Keragaman dirayakan, kebebasan berekspresi diberi tempat, dan jalanan penuh sesak dengan inspirasi. Tak heran seorang <em>filmmaker</em> pemula yang kebingungan mencari ide untuk karya pertamanya, mendapat wejangan singkat dari seniornya: &#8220;Ambil kameramu, dan pergilah ke jalan.&#8221; Mungkin dia bisa mulai dengan bertanya-tanya apa yang ada di benak Damon Albarn saat terkesima melihat kata-kata graffiti di salah satu sudut kota London. Sedemikian pentingkah suara ekspresif khas jalanan itu, hingga Albarn menjadikan graffiti tersebut judul album kedua Blur di era ’90-an: &#8220;<em>Modern life is rubbish</em>&#8220;? Bisa jadi iya. Dunia modern kian letih, monoton, butuh pencerahan-pencerahan baru. Dan bukan tidak mungkin kesegaran itu justru muncul dari jalanan: aksi manuver tukang ojek, makian khas pengamen, gaya berpakaian seenaknya, atau coretan di dinding-dinding jalan. Persis seperti &#8216;ramalan&#8217; Simon and Garfunkel: &#8220;<em>…sabda nabi-nabi tertulis di tembok-tembok subway…</em>&#8221;</p>
<p style="text-align: center;">*</p>
<p><span style="font-size: 90%;"><span style="font-family: trebuchet ms;"></span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/atas-nama-jalanan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Photocopies</title>
		<link>http://budiwarsito.net/photocopies/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/photocopies/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Aug 2007 02:21:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=116</guid>
		<description><![CDATA[.
Perihal ingatan selalu menduduki tempat istimewa dalam kerumitan peradaban manusia. Berbagai penemuan tercipta demi &#8216;menolak hilang ingatan&#8217;: jam pasir di era Mesir kuno hingga jam weker modern buatan Swiss; lukisan purba di gua prasejarah hingga tulisan blog di dunia maya; kamera pertama ciptaan Joseph Niépce hingga piranti tercanggih di katalog terbaru Canon. Semakin maju teknologi, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #ffffff;">.</span></p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-313" title="photocopies!" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2007/08/photocopies.jpg" alt="photocopies!" width="155" height="241" />Perihal ingatan selalu menduduki tempat istimewa dalam kerumitan peradaban manusia. Berbagai penemuan tercipta demi &#8216;menolak hilang ingatan&#8217;: jam pasir di era Mesir kuno hingga jam weker modern buatan Swiss; lukisan purba di gua prasejarah hingga tulisan blog di dunia maya; kamera pertama ciptaan Joseph Niépce hingga piranti tercanggih di katalog terbaru Canon. Semakin maju teknologi, semakin kompleks pula pemikiran manusia: ranah ingatan kemudian melebar dari &#8217;sekadar upaya mengawetkan&#8217; menjadi &#8217;sekaligus media berekspresi&#8217;. <span id="more-116"></span>Tak terhitung karya seni yang lahir dari persoalan ini. Sutradara Christopher Nolan membuat film <em>Memento</em>, sebuah narasi menarik tentang kamera Polaroid dan perlawanan tokohnya terhadap amnesia; penyair Goenawan Mohamad menggubah puisi “Kwatrin tentang Sebuah Poci” yang teramat menggetarkan perihal kenangan; dan pelukis Raden Saleh dengan kanvasnya menafsirkan penangkapan Pangeran Diponegoro oleh tentara Belanda.<!--more--></p>
<p>Di antara banyak pilihan medium, John Berger, seorang novelis pemenang Booker Prize sekaligus kritikus seni yang handal asal Inggris, memilih &#8216;fotokopi&#8217; sebagai lahan filosofis untuk bermain-main dengan ingatan. Dalam bukunya berjudul <em>Photocopies</em>, Berger berkisah tentang orang-orang yang pernah ia temui, baik yang sudah lama ia kenal, maupun mereka yang tak bernama dan hanya singgah dalam perjumpaan singkat tak sengaja. Sejumlah 29 esai pendek ditulis dalam gaya memoir yang mengasyikkan: perjalanan kapal feri menyusuri perairan Mediterania, musim panas yang menyiksa di Barcelona, perjumpaan dengan pianis muda asal Ukrania, dua siswi sekolah yang cerewet di dalam perjalanan bus dari Dublin, seorang wanita tuna wisma yang memelihara burung dara di sebuah taman di London, atau percakapan intelek dengan fotografer legendaris Henri Cartier-Bresson. Penggabungan kemampuan visual Berger (yang juga seorang pelukis), pemahaman atas pemikiran Marxist, juga penguasaan teknik merangkai kalimat puitis yang mengagumkan, menjadikannya bukan sekadar catatan biasa.</p>
<p>Esai pertama di buku ini, &#8220;A Woman and Man Standing by a Plum Tree&#8221; bercerita tentang perempuan yang sekilas pernah Berger lihat di Spanyol bertahun-tahun silam, tiba-tiba muncul di rumahnya di Prancis sambil menenteng kamera tua. Sebelum kembali menghilang, perempuan itu memotret dirinya bersama Berger di bawah pohon rindang. Hasil foto itu, yang dimuat di halaman pertama dan satu-satunya di buku ini, tak pernah tampak jelas. Meski menyisakan detil di beberapa titik, ia juga buram di sana-sini. Foto tersebut (yang lebih mirip hasil &#8216;fotokopi&#8217; daripada &#8216;fotografi&#8217;) sangat tepat menggambarkan nada keseluruhan buku ini: segigih apapun kita menjaga kenangan, selalu ada yang bakal mengabur.</p>
<p>&#8220;<em>The two of us stood there facing the camera. We moved, of course, but not more than the plum trees did in the wind. Minutes passed. Whilst we stood there, we reflected the light, and what we reflected went through the black hole into the dark box. It&#8217;ll be of us, she said, and we waited expectantly.</em>&#8221;</p>
<p>Teks Berger memang berkisar di wilayah abu-abu antara &#8216;mengingat&#8217; dan &#8216;melupa&#8217;. Fotokopi jelas sebentuk kepemilikan semu. Kita bisa saja memfotokopi satu dua halaman yang kita sukai dari sebuah buku tebal di perpustakaan, tapi itu sekaligus menegaskan bahwa kita tak mampu memilikinya secara utuh. Para petugas kelurahan tidak serta merta berarti mengambil alih identitas warganya (apalagi dalam arti luas dan seutuhnya) ketika kita menyerahkan fotokopi KTP untuk urusan administrasi penduduk: identitas tetaplah mutlak milik orang per orang.</p>
<p>Demikian pula dengan segala kenangan di buku ini, mereka cuma otentik di benak penulisnya. Kita, para pembaca, &#8220;hanya&#8221; berhak membaca replikanya, fotokopiannya, yang tentunya jauh dari komplet. Namun jika dituturkan dengan gaya perenungan dan selera orisinal seperti ini, rasanya sudah lebih dari cukup. Mengutip puisi Goenawan Mohamad, &#8220;Sesuatu yang kelak retak, dan kita membikinnya abadi.&#8221; Berger membikin mereka abadi. [<strong>Budi Warsito</strong>]</p>
<p><strong><em><br />
Photocopies</em></strong><br />
John Berger, 1996, Vintage International, 180 pages. Literature/Memoir.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/photocopies/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
