Belut-belut Sendu

Beberapa orang memang ‘dikaruniai’ keapesan lebih ketimbang rata-rata orang lainnya. Mark Oliver Everett alias E, misalnya, pada usia 19 tahun harus menemukan tubuh ayahnya terbaring tanpa nyawa gara-gara serangan jantung, lalu kakak perempuannya mati bunuh diri beberapa tahun kemudian, ibunya meninggal karena kanker paru-paru, dan seolah itu semua belum cukup, sepupunya ada di salah satu pesawat yang ditabrakkan ketika tragedi 9/11. Dia pun kemudian juga harus bercerai dengan istrinya. Saya rasa E ini terus-terusan membuat musik juga untuk bertahan tetap waras di tengah potensi terpuruk yang datang beruntun; dan sebagaimana Sparklehorse, atau minimal Grandaddy lah, musik Eels adalah gabungan antara keriangan dan kemurungan. Kau perlu bersenang-senang untuk bisa tidak terus berkubang dalam kesedihan, tapi sekaligus kau tahu bahwa sepenuhnya bergembira bukan juga hal mudah dan kalaupun iya, rasa-rasanya kok malah palsu dan tidak pada tempatnya; seperti mahasiswa DO yang tetap berusaha sok asik dengan malah rutin dateng ke wisuda-wisuda kawannya. Semacam “yaelah nggak usah segitunya juga kali broo..” Eels bukan seperti itu. Dia tetap berduka, meski rasa berkabung itu tidak sepekat Sparklehorse yang kegalauannya memang sudah pada tingkat mengkhawatirkan (yang bukan kebetulan berakhir dengan bunuh diri) dan melankolia itu bisa juga berarti pemilihan sampul album yang justru ceria seperti Daisies of the Galaxy (2000) ini, dengan gambar ilustrasi vintage yang manis, nada-nada yang lebih ceria ketimbang album-album sebelumnya meski album ini tetap dimulai dengan nomor pembuka berupa lagu pemakaman! “..but me I’m feeling pretty good as of now/ I’m not so sure when I got here/ or how sun melting the fake smile away/ I think you know I’ll be OK..” Ini adalah album ke-5 Eels, dan E terus melaju hingga belasan album sekarang; tetap bersedih dan bergembira dalam takaran-takaran ketabahan yang mengagumkan.

__

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *