Lomba Mirip Gombloh
dan Kaset Duplikat Group

DuplikatGroup_kaset

Ketika sedang mempersiapkan kaset album solonya yang kesekian, yang kemudian memuat hits pop terbesarnya “Kugadaikan Cintaku”, Gombloh pernah kepikiran satu cara promosi yang tak lazim, yakni membuat lomba mirip Gombloh. Ini mirip look-alike contests di Barat sono [salah satu yang cukup legendaris: mitos soal Chaplin pernah diam-diam menyelinap ke lomba mirip-miripan Chaplin, ikut bertanding, dan kalah! Haha. Berarti pemenangnya dianggap lebih mirip Chaplin ketimbang si Chaplin itu sendiri!]. Namun sayangnya sebelum rencana promosi unik itu sempat terwujud, Gombloh yang mengidap penyakit paru-paru kronis sudah harus dipanggil menghadap-Nya, awal Januari 1988. Atas seizin keluarga almarhum, Radio Suzana dari Surabaya berniat meneruskan rencana kocak itu, yang akhirnya terwujud pada bulan Februari 1988. Tujuannya bukan lagi untuk promosi kaset, tapi lebih untuk mengenang kepergian Gombloh yang memang sangat dicintai penggemarnya itu. Dari arsip majalah dan koran-koran lawas yang saya ubek-ubek sekian lama, akhirnya saya berhasil menemukan satu artikel di harian Kompas edisi Jumat, 4 Maret 1988, dimuat di halaman depan: pemenang lomba duplikat Gombloh itu adalah Suhardiman, 48 tahun, seorang pembuat kue klepon asal Surabaya. Dia berhak atas hadiah uang Rp 150.000,- setelah mengalahkan 98 peserta lainnya, dengan tampil di babak final membawakan lagu “Di Angan-angan”. Suhardiman sendiri mengaku didesak oleh keluarga dan teman-temannya untuk ikutan lomba mirip Gombloh itu. Bahkan topi, kacamata hitam bertali, jaket dan celana blue jeans ala Gombloh yang dipakainya beraksi di lomba tersebut adalah kostum pinjaman sana-sini. Ada foto Suhardiman “Gombloh” di artikel tersebut, tapi sayangnya itu foto hitam putih dan sudah terlihat buram, alias kurang jelas.

Bertahun-tahun kemudian, tepatnya beberapa hari lalu, di lapak musik bekas saya menemukan satu kaset aneh: Duplikat Group – Di Hatiku Ada Boom. Tampak sosok mirip Gombloh berpose di sampul depan kasetnya, berkacamata hitam dengan topi trucker, tapi bukan topi Cat Power, melainkan topi bergambar bendera merah putih. Dari nama grup-nya, jelas itu peniru Gombloh. Tak ada info sedikit pun di sleeve kasetnya, jadi saya tidak tahu apakah sosok epigon Gombloh di foto itu adalah Suhardiman si tukang klepon tadi (rasanya sih bukan), atau itu hanya satu dari sekian banyak impersonator Gombloh yang bermunculan pasca kematiannya. Di sampul kasetnya hanya ada credit-title pencipta lagu “Di Hatiku Ada Boom”, yaitu Buddi Jollong, yang juga menulis beberapa lagu Orkes Moral Pengantar Minum Racun (OM PMR); sementara departemen musik dipegang oleh Satiri M.S., Barce V.H. (mungkin maksudnya Bartje Van Houten), dan satu nama lagi: Leo Manuputty, yang saya ingat sebagai penulis lagu era ’80an yang juga menciptakan satu komposisi bossanova di album debut Nike Astrina [pra-Nike Ardilla, 1988] yang urung diedarkan, sebelum akhirnya ‘bangkit dari kubur’ dengan dirilis terbatas oleh JK Records pada 2013 lalu.

Materi lagu-lagu di kaset Duplikat Group ini sendiri cukup mengecewakan. Dari total 10 track, hanya ada 6 lagu yang dinyanyikan Duplikat Group, itu pun termasuk 1 lagu cover version “Judul-judulan” dari PMR. Sisanya oleh penyanyi lain. Terlihat ada upaya keras untuk menulis lagu sendiri dengan meniru karya-karya Gombloh, baik dari lagak vokal, ciri notasi, maupun gaya lirik. Bahkan dari judulnya! Ada lagu “Kukantongi Cintaku”, yang tentu saja diambil dari “Kugadaikan Cintaku”. Hasilnya? Jauh panggang dari api. Demikian pula lagu “Di Hatiku Ada Boom” [pelafalan di dalam lagunya sebenarnya bukan “boom” melainkan “bom”], yang terdengar seperti oplosan KW-10 dari bahan-bahan termurah Gombloh. Manis kagak, sakarin iya! Bahkan penulis liriknya pun merasa perlu memasukkan kata favorit Gombloh hari-hari itu [yaitu “gila”] dalam penggunaan yang kagok dan kurang tepat, “..hey katamu/ aku bukan pengemis cinta/ itu katamu setelah kau tidak suka/ tapi dulu waktu kau masih tergila-gila/ kau penumpang, makan sepiring ya berdua..“, disusul rap singkat yang terdengar kacangan. Sedih mendengarnya. Mungkin ini cuma album iseng, atau bahkan hanya dimaksudkan untuk bercanda (yang sayangnya tidak lucu). Album ini justru menjadi bukti keras bahwa rupa dan suara bisa saja ditiru, tapi kalau soal songwriting, kemampuan Gombloh tetap tak terkejar. Jangankan lagu-lagu era Lemon Tree’s yang cenderung lebih rumit dan filosofis, lha wong lagu-lagu pop Gombloh yang terkesan simpel, jenaka, dan ringan saja [yang oleh Gombloh sendiri diakui sebagai “fase mencari uang”] ternyata masih punya kekuatan dan ciri khas tersendiri, yang sulit diduplikasi oleh siapapun.

* * *

 

Duplikat Group – Di Hatiku Ada Boom
[kaset, Virgo Ramayana Records, tahun rilis tidak diketahui]
Side A:
1. Di Hatiku Ada Bom [cipt. Buddi Jollong, voc. Duplikat Group] 2. Kukantongi Cintaku [Buddi Jollong, Duplikat Group] 3. Dosa Siapa [Leo Waldy/Jimmy Antonius, Duplikat Group] 4. Judul2an [Kuntet Mangkulangit, Herty Sitorus] 5. Mulanya Biasa Saja [Pance Pondaag, Herty Sitorus]
Side B:
1. Aku Jatuh Cinta [Rinto Harahap, Herty Sitorus] 2. Kasih [Richard Kyoto, Herty Sitorus] 3. Rasanya Kita Sama [Buddi Jollong, Duplikat Group] 4. Ajeng Manisku [Buddi Jollong, Duplikat Group] 5. Mau Tapi Tak Berdaya [Deddy Soewito, Duplikat Group]

 

2 thoughts on “Lomba Mirip Gombloh
dan Kaset Duplikat Group

  1. Ardi Wilda

    gombloh meninggal di tahun yg sama dgn saya lahir. waktu itu bapak hampir menamakan saya gombloh, kakek dr bapak ingin menamakan saya soedarmono (wapres kala itu). bapak ingin saya terlihat nyeniman dikit, kakek ingin saya terlihat birokrat dikit. akhirnya keduanya tak terpakai.
    saat kecil saya sering denger gombloh diputer di tape bapak saat minggu pagi. sambil baca koran dia seneng bersenandung sendiri. saya kayaknya mulai paham kenapa ia pingin saya bernama gombloh. Mungkin gombloh dulu semacam mimpi orang2 dewasa yg ingin lepas dr kepenatan sehari-hari (uelok wes koyo pengamat ae iki) hehe.
    karena kisah itu saya justru tidak pernah mendengarkan gombloh dgn seksama. mengingat gombloh juga berarti mengingat soedarmono soalnya #halah

    *tur tetep tulisanmu selone niat mas bud*

    >>> Speechless aku maca komenmu We! Mulai sekarang aku juluki kamu Ardi Gombloh wae ya. Piye, mathuk? [BW]

    Reply
  2. Adi

    Kecenderungan menciptakan lirik yg bombastis membuat saya tdk bisa sepenuhnya menyukai Gombloh 😀

    >>> Sementara beberapa orang (terutama para penggemar) justru mengagumi lirik-lirik superlative ala Gombloh. [BW]

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *