Don’t judge a man by his hat

Dari sekian banyak versi sampul The Catcher in the Rye yang pernah dibikin, konon J.D. Salinger sendiri malah paling suka sampul klise warna putih polos dengan beberapa garis warna-warni di salah satu sudutnya. Sementara sampul klasik yang paling ikonik bisa jadi adalah versi polos merah marun tanpa ilustrasi apa-apa, yang kemudian dijadikan cover story sebuah majalah lawas beberapa dekade silam. Saya juga punya versi itu, kado ultah dari seorang kawan duluuu banget, when we were young and naive, dia pernah menyarankan saya pindah kota demi ketenangan jiwa saya katanya, ke pedalaman Jateng saja (saya tidak menuruti sarannya). Edisi khusus majalahnya pun saya punya, masih tersimpan rapih di rak hingga sekarang. Tapi menurut saya pribadi tetap tak ada yang bisa mengalahkan ilustrasi sampul versi Signet Books edisi awal-awal dengan gambar Holden Caulfield tampak belakang, bermantel menenteng koper (“one thing about packing depressed me a little”), memakai topi berburu warna merah senada dengan scarf di lehernya, “it was this red hunting hat, with one of those very, very long peaks,” demikian si Holden menggambarkan topinya (saya bertahun-tahun ngidam topi itu tapi belum pernah menemukan yang betul-betul mirip), “the way I wore it, I swung the old peak way around to the back—very corny, I’ll admit, but I liked it that way. I looked good in it that way.” Sekilas edisi itu tampak seperti roman picisan atau cerita detektif murahan, apalagi dengan teks promosi yang tak kalah murahannya tercantum gede-gede di sampul buluknya, yeah it’s so corny it’s good! Edisi favorit saya lainnya, versi klasik biasa saja sebetulnya, tapi ada sedikit kesalahan di dalamnya, semacam misprint (yang kalau di dunia filateli justru sangat berharga) yakni ada sekian sentimeter kertas halamannya kepotong sejak dari sononya sehingga menghilangkan beberapa kalimat di paragraf teratas gara-gara kertasnya salah susun, terlalu melesak ke atas alias mèngslè. Percetakannya mungkin sudah bekerja dengan baik, tapi bagian finishing-nya yang luput. Barangkali para pekerjanya lagi mêlèng dikit, atau simply bosen, atau meminjam kata-kata Holden, “If you’re not in the mood, you can’t do that stuff right.” Saya sendiri malah sudah lupa bagaimana ceritanya versi itu bisa sampai ke tangan saya, sepertinya barang reject, but it’s the imperfections that make things perfect.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *