5erbaLima #2: Di Dadaku
Ada Buahmu?

Begini Bung, sudah banyak rilisan bercover binatang. Percayalah, saya pernah coba menghitung. Hasilnya: tak terhingga. Mulai dari Killer-nya Alice Cooper hingga Kamar Gelap-nya Efek Rumah Kaca. Atom Heart Mother-nya Pink Floyd hingga Gadjah Dungkul-nya Titiek Puspa dan Bing Slamet. Pokoknya bejibun! Sementara kalau buah? Ternyata tak gampang untuk menemukannya. Album perdana The Velvet Underground & Nico (ketebak banget nggak sih) langsung terbayang di kepala, tapi selain itu? Saya belum pernah mendapatkan plat album pertama Silver Apples yang bergambar (apa lagi kalau bukan) apel perak. (Saya punya album keduanya, yang menurut saya juga bagus, tapi sayangnya di situ the dynamic duo itu lebih memilih mejeng di foto sampulnya, untungnya pose mereka tak senarsis Sparks.) Album ajaib Zeke Khaseli Salacca Zalacca sangat berpotensi mengisi daftar ini (the title says it all!), namun sayangnya gambar salak (dan foto Zeke yang berusaha, ehm, menelannya) cuma mejeng di bagian dalam sleeve CD-nya dan bukan di foto sampul depan. (Apakah ini akan menginspirasi Padi untuk menamai album mereka berikutnya Oryza Sativa? Tanyakan pada wereng yang bergoyang.) Salah satu seri kaset kompilasi ’90-an bercover jeruk (dan ehm, cabe di seri berikutnya, by the way, ada lagu Blur di keduanya), tapi sudahlah. Sementara Dashboard Confessional album kelima dan Con Funk Shun album self-titled jelas tidak masuk hitungan, karena musik mereka bukan selera saya. Jadi? Ini dia mereka, 5 album bersampul buah, dari koleksi pribadi saya, dijepret langsung bareng buahnya. Klik gambar untuk memperbesar. (Kecuali gambar no. 5, yang menurut saya sudah cukup besar. Hehe.)

1.

IMAGE Aneka12Vol10
V/A – Aneka 12 Vol. 10 (Remaco, 1971)

Jenis buah: Nanas, tomat, peach, anggur, pisang.

Selain album penuh, mini album, EP, atau single, saya juga senang mengumpulkan piringan hitam Indonesia lama yang berisi kompilasi lagu-lagu populer saat itu, biasanya dirilis hingga beberapa seri, seperti seri Aneka 12, seri Ini & Itu, seri Parade Popularia, dsb. Keasyikannya adalah: mencermati tracklist tiap rilisan, sambil membayangkan tren musik pop saat itu, membandingkan band-band (atau istilah zaman itu, ‘orkes’) pengiring mana yang lebih berkualitas—untuk gambaran berburu rilisan selanjutnya, di tengah minimnya dokumentasi sejarah kita soal itu—termasuk menduga-duga nama baru, dsb. Sesuai namanya, Aneka 12 selalu berisi 12 lagu, dan di Vol. 10 ini dua belas lagu itu terdiri dari 10 penyanyi dan 2 komposisi instrumental. Salah satu orkes pengiring bernama Band Vista cukup mencuri perhatian saya di lagu ciptaan Jasir Sjam “Djangan Tjoba Lagi” #sikap yang didendangkan Juzana Sulaiman—nama baru yang saya tahu pertama kali dari rilisan ini. Lagu tradisional Batak “Taluktuk” ditafsirkan cukup seru oleh The Kings diiringi Band Electrica, yang isian solo organnya mantap menyelinap di tengah sahut-sahutan suara vokal satu dan vokal dua. Sementara kepiawaian Band Pantja Nada masih terbukti, bahkan ketika harus mengiringi Alfian yang seperti ogah-ogahan mendendangkan salah satu lagu terlemahnya yang pernah saya dengar selama ini.

Trivia: Track paling nendang yang dulu bikin saya membeli plat ini adalah komposisi Muchtar Embut berjudul “Mars Pemilu”—lagu yang dipakai pemerintah untuk mengajak rakyat Indonesia ikut mencoblos di Pemilu 1971, pemilihan umum pertama di zaman Orde Baru. Band Electrica menyulapnya jadi komposisi instrumental yang mengagetkan. Nada-nada familiar dari lagu ini (masih berkumandang di TVRI hingga kini tiap menjelang pesta demokrasi lima tahunan) tiba-tiba berubah keren dengan interpretasi maut penuh gaya: sesekali ada suara mirip orang bersiul (?) di tengah instrumen petik dan betot yang dominan, dikepung beat-beat drum yang bikin kita pengen baris berbaris. Namanya juga Orba.

2.

IMAGE ExoticBirdsAndFruit
Procol Harum – Exotic Birds and Fruit (Chrysalis, 1974)

Jenis buah: Anggur, peach, labu, dan buah lain yang kalau nanti saya sudah tahu namanya akan saya update.

Sebenarnya tak ada yang berkesan dari album ketujuh Procol Harum ini, selain sebagai upaya menyedihkan untuk masih mencoba mengulang kembali—dan sia-sia tentunya—sukses album pertama, tapi dengan niat mulia (atau putus asa?) mengenyahkan gemerlapnya simfoni orkestra dan tampil basic. Atau jika mau terdengar menghargai, mereka hanya pengen lebih nge-rock. Komposisi pembuka, “Nothing but the Truth” memang terdengar lumayan, dimana bunyi-bunyian organ yang menggebrak justru ditimpali lirikus Keith Reid dengan lebih gamblang kali ini, “…Like Icarus we flew too high/ We flew too near the sun/ They caught us in that awful glare.” Yeah, tetep dong pakai istilah-istilah mitologi. Lagu kedua, “Beyond The Pale”, kenapa oh kenapa masih saja mengublek-ublek soal ‘pale’? Sementara “As Strong As Samson” jangan-jangan lebih tepat untuk menggambarkan sikap ndableg mereka. Sisanya adalah komposisi-komposisi kelas dua, yang rasanya pernah kita dengar versi lebih bagusnya di album-album sebelumnya. Seharusnya mereka legawa dan menyerah di dua atau tiga album awal saja.

Trivia: Sampul album ini diambil dari repro lukisan Jakob Bogdani (1670-1724), seniman Hungaria yang terkenal gemar melukis burung-burung eksotis dan buah-buahan. Kadang saya bertanya-tanya, sudah sempatkah Mister Jakob melihat burung cendrawasih dan buah kesemek?

3.

IMAGE PapajaManggaPisangDjambu
V/A – Papaja Mangga Pisang Djambu Volume 2 (Irama, 1958)

Jenis buah: Pepaya

Salah satu kompilasi terbaik sepanjang masa menurut saya. Pilihan lagunya, dari awal hingga akhir, nyaris tanpa cacat. Oslan Husein membuka menu dengan meliukkan “Bengawan Solo” menjadi berlagak rock ‘n’ roll diiringi Orkes Irama Cubana Teruna Ria, sementara di lagu kedua Emmy menawarkan melankolia secukupnya, “…embun pagi bertitik di daun ranting yang layu/ menyiram bumi yang kering/ serupa sedang mengadu…” Adikarso, dalam kredit rilisan ini ditulis sebagai Adi, paling banyak menyumbang lagu, yakni 6 dari total 14 lagu. Lirik-lirik Adi selalu menyentuh hati, yang menurut liner notes di sampul belakang album ini bukan karena tingginya mutu seni dia, melainkan “…kesederhanaannjalah, bagaikan anak-jang-masih-bodoh-dengan-djiwa-jang-masih-murni…” Lagu “Tukang Solder” diawali dengan, alangkah jeniusnya, suara kecrek-kecrek yang biasa dipakai tukang patri keliling untuk menjajakan jasanya. Lagu “Patung Kusangka Dia” benar-benar sepolos premisnya: dari kejauhan, sebuah arca dia kira pacarnya—”…hatiku rasa terharu/ orangnya sangat pemalu/ berdiri sambil membisu…” Nama-nama lain seperti Titiek Puspa, Mus D.S., Rien Hardjono dan Tuti Sangid menambah pasokan keren bagaikan tak bertepi. (Meski “Bisikan Alam Maja” tak semistis judulnya, suara Tante Titiek muda tetap juara!) Dan kesukaan teratas saya tetap pada dua lagu misterius Fetty Fatimah (yang sampai sekarang saya tidak pernah menemukan satupun album penuhnya), “Melati Berbunga” dan “Tiada Kasih”. Yang pertama nadanya sedikit lebih riang, sementara yang kedua benar-benar spooky bagaikan panggilan dari alam baka nan sunyi, “…sayup-sayup tiba di telingaku/ suaramu membilur dan lembayung…” Bayangkan, lirik macam apa itu! Liner notes-nya ditutup dengan kalimat, “Sekianlah, kami pertjaja piringan hitam ini akan dapat memenuhi selera ‘zaman sekarang’. Selamat mendengar.” Saya sepakat, bahkan lebih dari itu: a timeless classic.

Trivia: Laki-laki mirip Mat Solar di foto sampul itu Adikarso. Bekerja di perusahaan piringan hitam Irama di Cikini (Jakarta), lagu “Papaja Cha-cha-cha” tercipta saat keluarganya hidup pas-pasan hinggga harus memakan buah pepaya yang tumbuh di depan rumah untuk mengganjal perut. Satu siang sepulang kerja, Adikarso mendapati pohon yang telah banyak berjasa itu tumbang diterjang derasnya hujan. Kesedihan menggerakkannya menulis lagu saat itu juga, penghormatan pada pepaya dengan lirik puja-puji yang simpel dan mengundang rasa haru (“…pepaya makanan rakyat/ karena sangat bermanfaat/ harganya juga tak mengikat/ setalen Tuan boleh angkat…”) Meski sangat dipengaruhi irama cha-cha-cha yang sedang populer saat itu (salah satunya lagu Xavier Cugat – “Rico Vacilon”), bos Irama langsung menyukai lagu Adikarso ini saat pertama kali mendengarnya secara tak sengaja. And the rest is history. Menurut artikel lama yang saya temukan di koleksi pribadi saya, majalah Varia no. 104 edisi 13 April 1960 halaman 6, “…lagu “Papaja Cha-Cha-Cha” itu termasuk rekor dalam pendjualan.

4.

IMAGE StrawberryJam
Animal Collective – Strawberry Jam (Domino, 2007)

Jenis buah: Stroberi, agak penyet sih.

Ada satu fase dimana saya pernah sangat menggemari Animal Collective dan membeli semua album mereka tanpa pernah bisa hapal judul-judul lagunya. Beberapa musik memang tak butuh diingat detail tracklist-nya: putar saja, kencangkan seatbelt-mu dan terbanglah bersama mereka. Namun entah kenapa beberapa tahun belakangan ini rasa kagum itu perlahan longsor. Saya mulai melepas semua koleksi CD Animal Collective saya dengan memajangnya di rak jualan di toko saya. Kadang masih saya setel untuk para pengunjung. Lagu pembuka di album ini, “Peacebone” (videoklipnya seperti anak haram film horror ’70-an dan film alien ’80-an) memuat lirik yang terdengar seperti wanti-wanti dari luar angkasa, “It’s not my words that you should follow, it’s your insight!” Teriakan-teriakan nyinyir sekaligus putus asa dari kejauhan yang dihujani kebisingan sonik itu masih tetap terdengar solid dan bertenaga, tapi terus terang itu mulai membosankan—sebosan saya melihat CD-CD itu belum laku-laku juga. Haha! Ini bukan album Animal Collective favorit saya, tapi dari seluruh katalog mereka, ini sampul favorit saya.

Trivia: Mereka memilih selai stroberi sebagai judul album (sekaligus foto sampul) karena bagi mereka substansinya mirip spirit album ini: futuristik sekaligus organik. Bahkan menurut Avey Tare dalam sebuah wawancara,”The way light goes through jam is just real sonic-lookin‘.” Terserah lu deh sob.

5.

IMAGE ThisIsHardc_re
Pulp – This Is Hardcore (Island, 1998)

Jenis buah: Buah apa hayo? Buka saja Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi 2008 halaman 1136 lema ke-8 dari atas untuk memastikan. Agak susah juga kalau harus difoto bersanding dengan buah aslinya.

Ketika lulus SMA di Solo tahun 1998, saya menitipkan ratusan kaset koleksi saya ke seorang teman, lalu pindah ke Bandung sambil bersumpah tidak akan membeli album musik apapun sebelum lulus UMPTN. Di tengah-tengah bimbel yang membosankan, album Pulp ini malah dirilis! Sialan, sebagai penggemar setia Pulp ini jelas cobaan berat. Tiap hari (yes, I mean TIAP HARI) sepulang bimbel saya mampir ke Aquarius Dago hanya untuk menatap sendu kasetnya dan berlalu. Lagi dan lagi. Tapi saya harus kuat, karena janji adalah janji. Di hari ketujuh, pertahanan saya jebol. Dengan perasaan tak keruan saya membelinya, lalu lamat-lamat memasangnya di walkman. Kampret, bukannya membantu, lagu pembukanya malah mengejek betul, dengan lolongan vokal latar dan lirik menghantui “…this is the sound of someone losing the plot—making out they’re okay when they’re not…” Lagu-lagu berikutnya sami mawon: album ini pekat dengan gula-gula rasa jahe, kegelapan yang mengecoh. Tema liriknya meluas dari party-party-sampai-pagi (tapi sekaligus bikin mikir, “..why do we have to half kill ourselves/ just to prove we’re alive?“), libido (ah, ini tema favorit Jarvis, bukan?), niat mulia membantu lansia (“…you may see where you are headed/ and it’s such a lonely place…“), parameter #priasejati, hingga hari ketika revolusi tak ada lagi. Menyimak album sialan ini bikin saya makin cemas bakal gagal masuk ke tempat kuliah incaran saya. Di hari pengumuman kelulusan UMPTN, saya dinyatakan diterima. Saya tertawa keras-keras, menertawakan album ini. Beberapa tahun kemudian, tawa saya lenyap. Saya di-DO dari kampus. Tentu saja itu tidak seculun gara-gara saya melanggar sumpah sendiri, tapi album ini selalu mengingatkan ke masa-masa itu.

Trivia: Di toko musik di sebuah mall di Jakarta di awal 2000-an, saya pernah melihat CD album ini dengan foto sampul agak lain: badan si model perempuan itu tertutup baju hangat! Mungkin itu limited edition untuk dirilis di negara entah mana, saya kurang tahu. Ragu-ragu Icuk, saya tidak membelinya. Belakangan saya mencarinya di internet, hasilnya nihil. Berarti itu ultra-rare! Hingga kini saya masih sering menyesal, kenapa waktu itu tidak langsung beli?

*

_____
Posting terkait: 5erbaLima #1 – Lempar Cakram Sembunyi Tangan!

4 thoughts on “5erbaLima #2: Di Dadaku
Ada Buahmu?

  1. Ivan Post author

    Untung Budi sukanya Brit Pop, kalo anak Electronic ya no 5 yg dipasang cover singles nya Aphex Twin – Windowlicker

    Reply
  2. Riska Post author

    woww om Bud lulus SMA tahun 98? kok bedanya sedikit ya sama saya? hehehe. ah turut menyesal kenapa album ultra-rare Pulp itu gak dibeli, jadi gak bisa lihat wujudnya di sini 🙁

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *