Koper Lokal Terbaik

Di hari kesekian jaman now (nang omah wae) ini seorang teman bertanya via chat WA japri ke saya, apa cover version paling favorit saya dari artis lokal? Saya menjawab dengan sebuah cerita bertele-tele. Begini. Di acara infotainment sebuah TV swasta, sekitar pertengahan 2005, ayah dari Glenn Fredly menceritakan bagaimana James Brown (!) memuji anaknya, “Kalau tidak ada saya, tidak ada Michael Jackson. Saya keliling dunia ke mana-mana, baru di Indonesia saya ketemu orang yg lebih hebat dari Michael Jackson, yaitu Glenn Fredly.” Saya tidak tahu persisnya kenapa the Godfather of Soul sampai bilang begitu. Saya jadi membayang-bayangkan di alam khayal, pujian itu mungkin mirip dengan seandainya Remy Sylado bilang Jason Ranti lebih hebat ketimbang Harry Roesli misalnya. Ya, tentu saja itu cuma seandainya, alias hanya perumpamaan; meski saya pernah lihat di dunia nyata bagaimana Jason Ranti mengiringi live Hari Pochang dan Indra Rivai di membawakan lagu dari album Harry Roesli Philosophy Gang di peluncuran reissue piringan hitamnya. Lalu saya teringat satu malam di Jakarta di tahun 2009, Efek Rumah Kaca tampil bersama Doel Sumbang membawakan “Arti Kehidupan” (1989). Asyik juga penafsiran Cholil-Adrian-Akbar atas lagu populer Doel Sumbang itu, ada twist di nada-nada bridge-nya sehingga part itu jadi terdengar seperti lagu mereka sendiri. Kolaborasi tak terduga itu juga menampilkan lagu “Martini” Doel Sumbang, yang aslinya adalah lagu Remy Sylado “Anak Laki Bernama Kartini”, yang sebetulnya juga adalah interpretasi Remy Sylado atas lagu Johnny Cash “A Boy Named Sue”! Itu levelnya makin berlapis-lapis lagi, mirip kulit bawang. Saya selalu tertarik hal-hal multi-layered semacam itu, mengupasnya selapis demi selapis, tak jarang sampai tersesat sendiri, mengingatkan pada judul album kesukaan saya The 5000 Spirits or the Layers of the Onion. Di Bandung pertengahan 2009, ERK pernah mengcover nomor klasik Leonard Cohen dengan mengikuti versi Jeff Buckley (yang mana Buckley sebetulnya juga terinspirasi dari interpretasi John Cale). Di show akustik itu ERK memainkan empat cover version, salah satu di antaranya ada lagu Fleet Foxes. Soal cover mengcover, ERK memang tak perlu diragukan lagi, karena mereka bahkan pernah bikin ‘cover version’ atas lagu-lagu mereka sendiri (!) menjadi project keren bernama Pandai Besi, dan beberapa interpretasi di situ justru berhasil melampaui mutu lagu-lagu aslinya. Double LP Daur, Baur (2012) itu masih jadi salah satu plat Indonesia favorit saya sepanjang masa. Lapis-lapis menarik lainnya juga bisa temui di lagu Bandempo berjudul “Nonton Srimulat“. Kita tahu nama band indie legendaris IKJ era awal 2000 itu, Bandempo, memang mengambil dari nama pelawak Srimulat, Bandempo. Mereka juga sengaja memasukkan ke dalam lagu “Nonton Srimulat” itu, nada-nada dari sebuah lagu yang biasa dipakai Srimulat untuk mengawali pertunjukannya. Lucunya, “opening theme song” Srimulat itu juga asal comot aja dari lagu orang! Berlapis-lapis juga iniiii. Teman yang bertanya tadi mulai nggak sabar dan buru-buru memotong: okay, jadi cover version lokal favorit lo apa Bud?! Saya nyengir dan mengirim sticker WA kesukaan saya, “Rahasia…”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *