1999

blur_kaset_country_sad_ballad_man

beberapa bulan sebelum pergantian abad lagu country sad ballad man dari album kelima blur sebenarnya sudah berumur dua tahun tapi tetap terdengar awet segar meski diputar terus-terusan tanpa ampun di walkman butut yang selalu dia bawa ke mana-mana di dalam tas. ketika itu dia masih duduk di semester dua, ada matakuliah olahraga cabang pilihan yang wajib diambil dan entah kenapa dia terjerumus di kelas hoki lapangan. sebenarnya formulir permohonan cabang dia isi dengan menaruh nomor anggar di pilihan pertama sembari terbayang di kepalanya bagaimana zorro beraksi dengan gagahnya sementara nomor panah dicantumkannya pada pilihan kedua dengan robin hood yang budiman sebagai role modelnya. dua-duanya meleset. suratan takdir malah mengharuskannya berlari-lari konyol di lapangan hoki terbuka di cikutra sepanjang musim penghujan di semester itu, mengejar-ngejar bola pejal tolol seberat lima setengah ons sambil menenteng stik pinjaman yang terlihat kurang asyik di genggamannya. badannya yang kerempeng kerap pegal setelahnya, dihajar hujan lebat sepanjang pertandingan yang sesungguhnya sangat membosankan, apalagi jika bola hoki sialan (aih, oxymoron) itu sedang bernafsu mengincarnya, dan sepandai-pandainya dia melompat, menghindar dan berkelit, tetap saja paha ringkih dan pantat malangnya harus menjadi korban. alhasil dia sering pulang dengan kaki pincang dan memar-memar menjengkelkan yang dia rutuki sepanjang perjalanan angkot pulang menembus jalanan bandung di akhir pekan yang untunglah masih belum semacet sekarang dan stik hoki yang mestinya tampil garang di lapangan malah berubah fungsi menjadi alat bantu jalan mirip tongkat kakek-kakek yang menyedihkan. apesnya lagi jadwal kelas hoki lapangan itu selalu jatuh pada sabtu sore, dan besoknya, minggu pagi yang harusnya dihabiskan dengan bersantai-santai di kamar kos, dia masih harus menjalani rangkaian ospek jurusan yang dipadati push-up, jalan jongkok, umpatan senior kurang kerjaan, dan segala deraan fisik mental tak relevan lainnya. dia lantas menyiasati akhir pekan yang meletihkan itu dengan dua cara. cara pertama, ini lumayan ampuh, sepulangnya dari lapangan hoki dia selalu mampir ke kios jamu di ujung jalan tubagus ismail sebelum tikungan arah simpang dago. jamu pegel linu hiji kang, ujarnya kuyu ke mamang penjaga kios yang tiap gerimis di senja berwarna oranye itu seperti menjelma tabib tua yang arif bijaksana yang kepadanya dia percayakan badan letih lesunya. sejujurnya dia lupa dari mana ide brilian itu pertama kali muncul, tapi khasiat instan nan mujarab dari bahan racikan entah apa namanya itu dari jamu bubuk sachetan yang diseduh air mendidih selalu sukses menghilangkan pegal-pegal sekujur tubuhnya, setidaknya cukup untuk rentang waktu yang diperlukan: keesokan paginya, di hari minggu yang nelangsa secara ajaib dia berhasil bangun dari ranjangnya dengan badan relatif segar. itu jelas lumayan, meski tak lama kemudian dia harus bersiap dihajar pegal berikutnya, apa lagi kalau bukan gara-gara ratusan seri push-up dan jalan jongkok perintah dari senior-senior brengsek tak tahu diuntung itu. hari-hari itu rasanya dia masih sering melihat kata-kata reformasi diumbar di televisi, karena itu dia tak habis pikir kenapa ospek primitif ini masih saja ada, setidaknya sepanjang pagi itu hingga menjelang tengah siang saat matahari sudah terlalu terik untuk dilawan. mulut senior-senior yang belum beres berevolusi itu sudah pasti kering kerontang disumpal haus belaka setelah berjam-jam meneriakkan amarah garing dengan nada arogan yang dibuat-buat dan sudah waktunya kerongkongan basi mereka diguyur teh botol dingin dari gerobak minum sebelah tukang gorengan di jalan depan kampus yang dipenuhi kotoran kuda. cara kedua, meski tak seampuh yang pertama, dia memutar terus-terusan lagu blur tadi itu. kau boleh saja tak percaya teori psikologi populer bahwa musik bisa menyembuhkan jiwa-jiwa gersang bla bla bla, bahwa musik adalah jawaban segalanya bla bla bla (lagipula apa pertanyaannya?), dan segala omong kosong lainnya, tapi pada dasarnya manusia memang senang dikibuli. lagipula lagu blur yang satu ini rasanya bukan ndobos sembarangan, ini adalah komposisi solid yang meyakinkan. ada aura ganjil yang menenangkan dari struktur lagu itu, naik turunnya seperti diseret-seret, dipenuhi mantra-mantra miring yang terdengar sumbang padahal mungkin tidak, ada kesan misterius sekaligus bersahabat, yang membuatnya sekian kali lebih tabah menjalani ratusan push-up ribuan jalan jongkok jutaan caci maki. lagu itu sering dia putar di dalam benaknya sembari melafalkan lirik dalam hati, dan menghibur diri bahwa segala deraan fisik itu bisa jadi malah bagus untuk memperbaiki perawakan supaya tidak kerempeng abadi. efek-efek gombal delusional semacam itulah yang rutin dia jejalkan di kepala, mirip pil penangkal rasa sakit yang kerap bikin kecanduan, dan biasanya mulai hitungan push-up yang kedelapan puluh dan seterusnya dia sudah tak ambil pusing lagi dengan teriakan-teriakan senior kunyuk itu meski keringat kecut yang bercucuran dari badannya sudah bisa mengisi satu ember kecil merk lionstar hingga penuh. dia selalu bersyukur sekaligus bangga atas kebiasaannya sebelum berangkat opsek yang tak pernah lupa memastikan baterai walkman-nya cukup kuat untuk menyetel kaset blur itu bolak-balik, setidaknya satu kali di perjalanan pergi naik angkot dan satu kali lagi di perjalanan pulang. jika beruntung, sepulang ospek dia bisa menumpang di mobil teman perempuan seangkatan lain jurusan yang bermata lucu dan berbibir menggemaskan, yang bernasib sedikit lebih baik di sesi ospek mungkin lantaran paras ayunya, yang justru terlihat sensual ketika rambut-rambut di dahinya kempes ditimpa keringat dan bulu-bulu halus di lengannya lengket, berkilau-kilau di atas peluh. terkadang dia berhasil memaksa temannya yang baik hati itu untuk memutarkan kaset tersebut di tape mobil, dan dengan senang hati dia akan menjelaskan panjang lebar meski tidak diminta, bahwa lagu country sad ballad man itu pada dasarnya adalah wicked annabella-nya the kinks yang dimainkan ala pavement, setidaknya itu menurut kupingnya. dia bahkan tak peduli apakah si bibir menggemaskan tadi paham siapa itu ray davies, dkk., dan siapa pula itu stephen malkmus, dkk., yang penting dia bisa ikut menikmati semilir ac mobilnya sambil mengistirahatkan sejenak batang punggungnya yang terasa patah, melesak di sandaran kursi depan yang sedikit direbahkan ke belakang. sayup-sayup dia akan mendengar temannya itu berkeluh kesah lagi soal kekasihnya yang tinggal di kota yang berbeda, dan betapa hubungan jarak jauh itu mulai membosankan. tentu dia masih cukup waras untuk tidak menyodorkan usul-usul tak bermutu seperti bolehkah aku sesekali menggantikan pacarmu, aku janji performaku takkan mengecewakanmu, kau boleh cicipi sedikit dulu kalau mau, dan sebagainya dan seterusnya, untungnya tidak, fyuh, dia hanya berusaha menjadi pendengar yang baik, tak lebih tak kurang hanya supaya perjalanan singkat dua puluh menit itu tak menjadi rusak adanya. dia berusaha tetap konsentrasi pada vokal malas-malasan terbaik damon di pita itu, dan bagaimana atraksi instrumen dari para koleganya itu seperti sengaja disetel kendor semua, atas sebuah alasan estetis yang bisa jadi tak akan dia pahami juga jika pun mereka menerangkannya pelan-pelan di salah satu kelas seni rupa. kantuk hebat kerap datang, membonceng hembusan sejuk udara buatan di mobil itu, terutama saat lengkingan falsetto damon setelah bridge terakhir dari lagu yang sebenarnya sudah dia dengarkan ribuan kali sejak pertama kali mendapatinya di sebuah kaset hadiah ulang tahun dari pacar sma-nya. samar-samar bercampur mimpi siang bolong masih diingatnya kejadian itu, kisah cinta monyet yang manis dan tak perlu-perlu amat, kadang dia berpikir si perempuan pemberi kado itu sekarang juga sedang bersenang-senang dengan potensi-potensi penggantinya di kampus nun jauh empat ratus kilometer di timur sana. jadi lebih baik nikmati saja apa yang ada di depanmu sekarang, begitu dia selalu menghibur hatinya sendiri, yang kerap risau tanpa pernah dia pahami betul apa sebabnya. wah, tau gitu jangan jamu pegel linu mas, harusnya kuku bima! si mamang kios jamu menggodanya saat melihat dia turun dari mobil tebengan yang entah kebetulan atau bukan, selalu berhenti tepat sebelum tikungan dekat kios jamu. kuku bima ndhasmu, umpatnya dalam hati, tapi dia terlalu lelah untuk sekadar meluruskan bahwa si molek tak lebih dari sekadar teman, dan yang ada di kepalanya saat itu hanyalah dia ingin segera sampai rumah dan ambruk di kasur sampai keesokan harinya atau bahkan esok lusa boleh kita tak jumpa pula. lagipula dia paham betul si tukang jamu sesungguhnya berhati lembut, boleh jadi celetukan itu hanya bagian dari rangkaian basa-basi yang tak terelakkan, dan siapa pula yang tahan tak berkomentar soal keringat bidadari rembes dari pelangi? hujan kembali turun, rintik-rintiknya beringsut menjadi besar, sambil memasang earphone dia tekan tombol rewind-fastforward-rewind beberapa kali, supaya tepat jatuh di track 3 side a saat dipencet play. dia membuka payung, meringis ke tabib gadungan itu sembari mengangguk sopan pengganti pamit, lalu bergegas menembus hujan. satu hari minggu yang pegal telah berlalu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *