Bung Chris Telah Berpulang

Jangan-jangan memang ada yang namanya bahaya laten depresi: ia hanya teredam sesaat, atau dua tiga saat, ketika lampu sorot mengatakan sebaliknya dan dunia hanya ingin menyaksikan yang baik-baik saja, sesungguhnya segala resah, amarah dan mungkin juga kekecewaan itu  m e n e t a p  selamanya nun jauh di dalam sana—mengincarmu perlahan dengan kesabaran yang menakjubkan, menunggumu lengah dan mengecohmu mentah-mentah di akhir hari. Tak ada yang bisa mengubahnya. Tidak juga pasanganmu. Ketika kaset C15 berisi hanya satu lagu bolak-balik ini dicetak (dengan typo di sampul depan yang mengharukan) dan dikirim dari Pluit ke stasiun-stasiun radio di seluruh indonesia pada penghujung 1999, barangkali tak banyak dari kita yang menyadari bahwa ada yang hendak berkata murung lewat isyarat-isyarat yang sebetulnya sudah cukup benderang, “..she’s going to change the world/ but she can’t change me/ no she can’t change me/ suddenly i can see everything that’s wrong with me/ what can i do?/ i’m the only thing i really have..” Saya masih ingat betul, betapa dengan kesadaran penuh saya memilih untuk menghindari Soundgarden saat pertama kali melihat iklan album Superunknown dicetak satu halaman full di sampul belakang majalah HAI pada sekitar 1994, hanya karena merinding oleh videoklip lagu “Black Hole Sun” di RCTI. Saya memang masih duduk di bangku SMP ketika itu, tapi indera saya rasa-rasanya sudah cukup jernih untuk bisa merasakan kegelapan pekat di lagu itu, dan saya hanya ingin menyelamatkan diri saja. Musik Nirvana cuma marah-marah belaka sambil berteriak putus asa, sementara Pearl Jam hanyalah kumpulan pria-pria jaim yang tidak tertebak apa maunya, tapi musik gelap Soundgarden jelas jauh lebih terasa menyeramkan dari semua kombinasi itu. Beberapa tahun setelahnya, ketika amarah diri kian meluap-luap saat memasuki bangku kuliah di kampus yang saya benci setengah mati sekaligus saya cinta segenap hati, album solo sialan ini malah keluar dan saya tak sempat lagi mengelak: ada hal-hal yang memang tak pernah bisa berubah, selihai apapun kau berusaha menutupi dan mengakali—bukankah muslihat paling berbahaya adalah yang justru menyerangmu tanpa banyak cingcong dan menikam telak ulu hatimu tepat di saat kau sudah merasa bisa menghindar? Pada ujungnya, setiap manusia hanya akan berakhir sendirian, sekeras apapun ia coba mengubahnya; tak ada sesiapa, karena nasib adalah kesunyian masing-masing.

RIP Chris Cornell (1962-2017)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *