Cerpen Favorit: Chief Sitting Bull

(cerita pendek oleh Umar Kayam)

Pagi itu tidak banyak orang yang berkerumun di sekitar carousel Central Park. Hanya ada beberapa orang anak kelihatan bertengger di atas kuda-kudaan, seperti biasa tidak sabar menunggu lonceng tanda carousel berjalan berbunyi. Di bangku-bangku sekitar carousel, ibu-ibu atau pengasuh anak-anak itu duduk mengobrol sambil sesekali mengawasi anaknya. Teng-teng-teng. Lonceng berbunyi, wajah anak-anak berseri-seri, dan carousel pun bergerak. Kuda-kuda mulai naik-turun diiringi musik waltz.

Dari arah kebun binatang kelihatan seorang kakek berlari tergopoh. Di tangannya dijinjingnya sebuah kantong. Waktu sampai di muka loket, dengan napas sengal-sengal diberikannya uang lima puluh sen kepada perempuan yang menjual karcis.

“Lima, seperti biasa, Charlie?” Charlie kembali mengangguk sambil menerima lima helai karcis yang berlaku buat naik lima kali putaran. Kemudian dia berdiri di pinggir pintu masuk. Salah seorang penjaga yang melayani anak-anak turun dari kuda, datang mendekati Charlie.

“Kau lambat hari ini, Charlie?”

“Ya. Mary, menantuku, tidak beres pagi ini.”

“Tidak beres bagaimana?”

“Masa dia lupa menaruh jatahku yang $1 itu di meja dapur. Pagi ini aku hanya mendapatkan sandwich-ku untuk lunch di meja itu. Terpaksa aku tunggu ia sampai kembali dari laundromat. Aku labrak dia waktu dia kembali. Sampai nangis-nangis dia minta ampun.”

“Habis itu semua beres, kan?”

“Oh, ya, tentu, tentu, Mary anak yang baik sesungguhnya. Cuma kadang-kadang dia tolol.”

Si penjaga tersenyum.

“Aku khawatir kau harus menunggu agak lama pagi ini, Charlie.”

“Apa maksudmu?”

“Lihatlah, kudamu yang putih dipakai. Begitu juga yang hitam. Kecuali kalau kau mau naik yang lain. Maukah kau?’

“Tidak, tidak. Aku cuma naik yang dua itu.”

“Jadi kau mau menunggu saja?”

“Tidak, tidak. Aku segera naik begitu putaran ini selesai.”

“Tetapi anak-anak itu terus-menerus naik sampai enam putaran. Aku tidak tahu berapa mereka diberi uang oleh ibu mereka. Anak-anak Madison Avenue itu.”

“Ah, serahkan saja kepadaku. Masa aku kalah oleh anak ingusan. Anak ingusan tetap saja masih ingusan, biarpun dia dari Madison Avenue atau dari Avenue langit pun.”

Penjaga tersenyum dan meninggalkan Charlie karena lonceng telah berbunyi menandakan putaran itu telah selesai. Charlie mendekati anak yang menunggang kuda putih.

“Howdy, Bill.”

Anak itu agak terkejut disapa seorang kakek.

“Namaku bukan Bill.”

“Tetapi bukankah kau Buffalo Bill? Bill Cody?”

Si anak tertawa.

“Ya, ya, betul. Aku Buffalo Bill. Dan kau siapa?”

“Aku Sitting Bull.”

“Chief Sitting Bull?”

“Ho!”

“Ho!”

Charlie menepuk-nepuk kuda putih.

“He, Bill. Sejak kapan kau ganti kudamu?”

“Apa maksudmu?”

“Bukankah Buffalo Bill naik kuda merah?”

“Tidak, tidak. Buffalo Bill selalu naik kuda putih.”

“Tapi dia naik kuda merah waktu mengalahkan Sitting Bull.”

“Benarkah?”

“Ya, tentu saja. Dan Sitting Bull naik kuda putih waktu itu.”

Si anak memandang Charlie dengan penuh keraguan.

“Tunggu dulu, Pak.”

“Chief.”

“Chief. Tunggu dulu, Chief. Benarkan Buffalo Bill pernah ketemu Sitting Bull?”

“Eh, bicara apa kau? Kau ini anak Amerika, apa anak Cina? Jawablah, apakah kau anak Amerika yang baik?”

“Ya, aku anak Amerika.”

“Nah, kenapa belum tahu bahwa Buffalo Bill yang mengalahkan Sitting Bull?”

Si anak kelihatan bingung dan belum yakin betul akan kata-kata Charlie.

“He, Bill. Kudamu merah telah menunggu kau, ‘tu. Aku, Sitting Bull harus segera naik kuda putih.”

Si anak belum juga turun dari kudanya.

“Ayolah! Buffalo Bill naik kuda merah mengejar Sitting Bull yang naik kuda putih. Kalau nanti lonceng berbunyi aku akan mulai dengan wu-wu-wu-wu-wu begini dan kau, Bill, akan mulai menembak aku dari belakang. Tam, tam, tam, tam.”

“Tetapi Buffalo Bill tidak pernah mau menembak dari belakang.”

“Siapa bilang? Melawan Indian dia harus menembak dari belakang. Bukankah Indian selalu lari tiap ketemu Buffalo Bill? Dan Buffalo Bill bukankah harus mengejar dan menembak dia? Ayolah! Sebentar lagi lonceng berbunyi, ‘tu.”

“Baiklah, Chief.”

Si anak turun dari kuda putih dan berlari menuju kuda merah.

Charlie dengan tertawa terkekeh-kekeh buru-buru naik kuda putihnya. Teng-teng-teng. Lonceng tanda berputar berbunyi. Charlie melihat kepada si anak yang sekarang sudah naik punggung kuda merah. Charlie meletakkan telapak tangannya di mulutnya. Dan dengan berputarnya carousel, ditepuk-tepuknya telapak tangannya pada mulutnya : wu-wu-wu-wu, wu-wu-wu-wu-wu! Di belakangnya, si anak mulai menembak Charlie. Tam-tam-tam-tam-tam-tam!

Carousel berputar, kali itu lagu “Oklahoma” yang mengiringi.

Untuk kira-kira seperempat jam lamanya ruang carousel gegap gempita karena tembak menembak yang seru antara Buffalo Bill dan Chief Sitting Bull. Rupanya kedua pahlawan itu sama-sama sakti karena tak seorang pun yang jatuh karena tembak-menembak yang dahsyat itu.

Akhirnya Charlie pun selesai mengerjakan lima kali putaran dan turunlah dia. Si anak, karena juga telah selesai, ikut pula turun. Charlie dan si anak sama-sama keluar.

“Itu tadi tembakan yang hebat, Chief.”

“Buffalo Bill selalu menang, Chief.”

“Betul, betul.”

“Sekarang kau mau ke mana, Chief?”

“Oh, aku harus kembali ke semak-semak sana.”

“Ke semak-semak?”

“Ya. Aku harus ketemu squaw.”

“Squaw?”

“Ya, squaw. Bukankah orang Indian laki-laki punya squaw.”

“Oh, ya, squaw. Pacar?”

“Ya, begitulah kira-kira.”

Tiba-tiba seorang diantara perempuan-perempuan yang duduk di bangku memanggil anak itu.

“Tommy!”

“Ya, Bu.”

“Ayolah. Sudah siang sekarang. Bukankah kau harus pulang makan?”

“Tapi Bu, aku harus pergi.”

“Pergi? Pergi ke mana?”

“Aku mau ikut Chief Sitting Bull ketemu squaw.”

“Ketemu apa?”

“Squaw.”

Ibu Tommy memandang Charlie. Charlie tersenyum kemalu-maluan. Tangannya meraba-raba dasinya yang lusuh, kemudian diangkatnya topinya sedikit.

“Selamat siang, Nyonya.”

Dan Charlie dengan menjinjing kantong berjalan menuju ke kebun binatang. Tommy berteriak.

“Chief, Chief!”

Tapi Charlie tidak menoleh dan ibunya juga buru-buru menyeretnya.

Di kebun binatang, Charlie duduk di bangku. Di sampingnya, duduk seorang nenek yang sebaya dengan Charlie.

“Kau lambat hari ini, Charlie.”

“Ya, maaf, Martha.”

“Burung-burung resah menunggumu. Tentulah mereka mengira tidak mendapat jagung dan jali hari ini.”

“Oh, mereka akan mendapat. Aku tidak akan lupa. Sebabnya aku lambat karena Mary, menantuku.”

“Kenapa dia?”

“Oh, seperti biasa. Menantu-menantu bukankah selalu mencoba menyabot mertua-mertua mereka tiap kali ada kesempatan? Apalagi mertua yang sudah tua-tua seperti aku atau kau. Tidak pernahkah kau disabot menantumu?”

“Tiap hari, meskipun aku tidak tinggal dengan anak dan menantuku. Ada saja akal mereka untuk terus menggangguku. Bagaimana Mary menyabot kau pagi tadi?”

“Pertama, aku dikasih toast yang gosong-gosong saja buat sarapanku. Sudah itu dikasihnya aku cereal. Dianggapnya aku ini bayi, apa? Lalu yang terakhir, dan ini yang terlalu!”

“Apakah itu?”

“Mary pura-pura lupa, tidak menyediakan uang harianku.”

“Terlalu!”

“Ya, bukankah sudah terlalu benar itu. Enak saja dia pergi ke laundromat, membiarkan mertuanya kelabakan di rumah, aku labrak habis dia. Aku bilang kalau memang dia tidak sudi lagi aku tinggal di situ, aku minta disewakan rumah sendiri. Kalau dia tidak berjanji menghentikan ulahnya yang tidak beres itu, aku mengancam mau mengadukannya kepada Johnny. Oh, nangis dia.”

“Ya,ya, sering kali menantu-menantu itu memang tidak tahu terima kasih.”

Sementara itu, sekelompok burung dara turun berkumpul di muka Charlie dan Martha. Kemudian datang lagi sekelompok, dan lagi sekelompok. Charlie mulai bersiul-siul memanggil-manggil mereka. Dikeluarkannya jagung dan jali dari kantongnya dan disebar-sebarkannya kepada burung-burung itu. Beberapa burung mulai bertengger di kedua bahunya. Mereka berebut minta makanan yang ada di tangan Charlie.

“Oh, oh, oh. Sabar, sabar, anak-anak. Sebentar kau juga dapat.”

Seekor dara putih datang bertengger di bahu Charlie dan dengan galaknya mematuk kawan-kawannya yang ada di bahu. Habislah mereka terbang, tinggal lagi si dara putih yang ada di bahu Charlie.

“Bukankah kau dara terlalu?”

“Ya, dara ini selalu nakal, Charlie. Di bawah tadi juga sudah menyikut-nyikut temannya dengan enak saja. Sekarang di bahumu begitu pula. Kita namakan saja dia, si Tamak.”

“Ya, tepat sekali, Martha. Tamak, Tamak.”

Dan si Tamak pun terbang lagi. Lama kelamaan persediaan jagung dan jali Charlie habis. Burung-burung dara itu sudah biasa dengan jatah mereka, mulai terbang lagi.

Charlie lalu membuka bungkusan sandwich-nya.

“Apa lunch-mu hari ini, Charlie?”

“Aku mendapat sandwich salad ikan tongkol. Dan kau?”

“Aku membawa sandwich salad daging kalkun.”

“Mmmm, Kalkun. Rasanya, sudah seabad aku tidak makan kalkun.”

“Aku juga sudah lama tidak makan tongkol. Begini saja Charlie, kau kasih aku separo dari tongkolmu. Aku kasih kau kalkunku. Setuju?”

“Oh, setuju sekali. Kau anak yang manis, Martha.”

Dan Martha tersenyum manis sekali mendengar itu.

Waktu jam sudah menunjukkan angka hampir setengah tiga, Charlie dan Martha berciuman dan berjanji untuk bertemu lagi esok harinya, untuk bersama-sama memberi makan burung dara.

* * *

Hawa terasa panas waktu Charlie masuk rumah.

“Kaukah itu, Pak?”

“Ya, Mary.” Dan Charlie menemui Mary di dapur.

“Segelas bir, Pak? Kau kelihatan haus sekali.”

“Ya, tepat sekali. Bir.”

“Aku juga ada semangka. Maukah seiris?”

“Ya, tepat sekali. Semangka.”

Mary tersenyum melihat mertuanya mulai makan semangka. Airnya berlelehan di mulutnya.

“Dari mana saja hari ini, Pak?”

“Oh, dari perpustakaan, baca-baca. Lalu ke Washington Square ketemu kawan-kawan lama. Kami berdebat tentang politik.”

“Oh, ya? Apa yang terjadi di dunia sekarang?”

“Oh, keadaan genting, Mary. Genting.”

“Genting?”

“Ya, Presiden Eisenhower mungkin akan memaklumkan perang kepada Stalin hari-hari ini.”

“Tapi, Pak. Eisenhower bukan lagi presiden. Dan Stalin sudah beberapa tahun mati, Pak.”

“Aaaahh, kau anak perempuan ingusan tahu apa tentang politik. Kau kan pergimu cuma ke laundromat dan supermarket tiap hari. Aku saban hari melihat dunia. Jangan kau coba sangkal aku lagi.”

Mary mengangguk-anggukkan kepala.

“Ah, ya, tentulah aku khilaf lagi. Jadi sebentar lagi akan ada perang, Pak?”

“Belum tentu. Ini tergantung kepada Stalin. Kalau Stalin tidak berani menerima tantangan Eisenhower, bagaimana bisa terjadi perang?”

“Ah, betul juga. Lagi, Pak, semangkanya?”

“Boleh. Tapi sedikit saja. Habis semangka ini aku mau tidur sebentar.”

Waktu semangka itu sudah habis, Charlie pun pergi ke kamarnya. Sebelum masuk kamar tidak lupa Charlie berpesan agar dia dibangunkan lima menit sebelum Amos dan Andy keluar di TV. Pintu kamar ditutup dan satu siang yang sibuk sudah berlalu buat Charlie.

* * *

Diketik ulang dari buku kumpulan cerita pendek Umar Kayam, Seribu Kunang-kunang di Manhattan (Pustaka Jaya, cetakan pertama 1972). Gambar ilustrasi dicomot dari sini.

>> Untuk melihat arsip Cerpen Favorit lainnya silakan klik di sini.

8 thoughts on “Cerpen Favorit: Chief Sitting Bull

  1. Beby Post author

    Cerita ini miris. Saya punya nih, buku yang masih ejaan lama. Cover-nya warna pastel merah tanah bergambar sketsa gedung2 bertingkat. Harganya cuma 3 ribu perak! Haha.. Suka yang ‘There Goes Tatum’. Tapi lupa apakah judul itu ada di buku yang sama atau gak.

    Reply
  2. Wawan Post author

    makasih, mas budi. saya lagi cari-cari softcopy cerpen-cerpen di buku ini hehehe. lumayan baru dapat 2.. 😀

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *