December 10th, 2005 »
.
Pada tahun 1996, Blur menulis lagu “Ernold Same”, sebuah perlambang yang bagus tentang rutinitas. Dilantunkan dengan ekspresi datar, demikian bunyi liriknya: “Ernold Same awoke from the same dream, in the same bed, at the same time, looked in the same mirror, made the same frown, and felt the same way as he did everyday.” » Read the rest of this entry «
July 25th, 2005 »

.
Ini adalah kisah tentang dua ‘A’.
‘A’ yang pertama, adalah Aming. Seorang pemuda kurus berambut gondrong dan berkacamata. Dia sedang belajar seni rupa di sebuah perguruan tinggi terkemuka di Bandung. Kita tidak mengenalnya sebagai mahasiswa, kita lebih mengenalnya sebagai “komedian”—istilah yang seolah-olah lebih elegan ketimbang “pelawak” meski intinya sama saja. Wajahnya menghiasi layar televisi hari-hari ini, tampil dalam dandanan perempuan—plus gincu berlebihan dan buah dada palsu—berusaha mengocok perut kita. Cara melempar senyum genitnya, juga jeritannya yang khas, jelas sebuah usaha-bikin-ketawa. » Read the rest of this entry «
January 17th, 2005 »

.
Ada satu banyolan yang bisa jadi tak semua orang tertawa karenanya. Seperti lazimnya tebak-tebakan garing, formulanya adalah “pertanyaan dan jawaban”. Pertanyaan: “Mengapa hari Minggu pagi adalah saat yang paling tepat untuk melewati jalan bebas hambatan di Los Angeles?” Jawabannya, ternyata sederet panjang stereotip yang menjengkelkan: “Karena orang-orang Katolik sedang berada di gereja, orang-orang Protestan masih tidur, orang-orang Yahudi sedang berada di Palm Springs, orang-orang Indian tidak boleh keluar dari suaka-suakanya, orang-orang Cina sedang memasak di restoran-restorannya, orang-orang Negro sedang mencuri ban mobil, dan orang-orang Meksiko tidak dapat menghidupkan mobil-mobil mereka…” » Read the rest of this entry «
December 26th, 2004 »
.
apakah kau ingat dulu kita (okay, kamu) pernah berusaha memainkannya semirip mungkin juga sebebas mungkin yang artinya justru sengawur mungkin sesalah mungkin dan paling penting sekeras mungkin karena yang kau pikirkan justru bagian gamelan yang menghantui sepanjang lagu (juga ‘duck duck duck’ dan kau ingat bali padahal kau benci bali—kau pikir aku tidak?) dan hey siapa yang harus meniup apa-itu-namanya,-klarinet? » Read the rest of this entry «
November 9th, 2004 »
.
Sebenarnya, apakah “m u d i k” itu? Apa? Mudiko, ergo sum, “saya mudik maka saya ada”, begitu? Pulang kampung, maka eksistensi menggelembung? Anda penjual bakso di sekitar Monas, yang mudik ke kampung halaman di kaki gunung dengan tas pinggang penuh uang, siap dibagi-bagikan pada sanak famili sampai habis tak bersisa tapi rasa bangga membuncah di dada? Anda scriptwriter sebuah variety-show-tayang-seminggu-sekali-dengan-rating-dan-share-lumayan, yang pulang ke dusun gersang kering kerontang, membagi-bagikan kartu nama lengkap-dengan-profesi-nomor HP-dan-alamat-email ke para tetangga yang tidak pernah menonton acara Anda karena bahkan antena paling tinggi pun tetap gagal menangkap siaran televisi swasta? Anda mantan kembang desa yang mengadu nasib di belantara ibukota bermodal kepolosan dan ijazah SMEA, yang mudik ke desa tertinggal dengan lipstick tebal, kuku kaki di-kutex, dan rambut model mutakhir warna pirang? Anda aktivis mahasiswa, rajin turun ke jalan dan lantang meneriakkan anti kemapanan, yang pulang bersimpuh ke kaki ibunda yang makin renta, yang tak suka anaknya berambut gondrong dan tak kunjung diwisuda?
October 2nd, 2003 »
.
(a short story by Martin Amis)

SUDDENLY DENTON REALIZED that there would be three of them, that they would come after dark, that their leader would have his own key, and that they would be calm and deliberate, confident that they had all the time they needed to do what had to be done. He knew that they would be courtly, deferential, urbane—whatever state he happened to be in when they arrived—and that he would be allowed to make himself comfortable; perhaps he would even be offered a last cigarette. He never seriously doubted that he would warm to and admire all three at once, and wish only that he could have been their friend. He knew that they used a machine. As if prompted by some special hindsight, Denton thought often and poignantly about the moment when the leader would consent to take his hand as the machine began to work. He knew that they were out there already, seeing people, making telephone calls; and he knew that they must be very expensive. » Read the rest of this entry «
January 11th, 2003 »

.
(based on true story)
Sekitar jam 3-an di suatu sore, saya makan di Rudi, Jalan Ganesha.
Pesanan saya sudah datang dan siap saya santap, ketika 4 cewek imut masuk dan memesan makanan untuk dibungkus. Sambil menunggu dan menonton si Rudi beraksi unjuk kebolehan masak-memasak (bagi Rudi ini semata-mata “masalah reputasi”), mereka duduk manis dan mengobrol di meja yang sama dengan saya. Volume obrolan mereka disetel cukup keras. Jadi, please, bukan salah saya menjadi “penguping”. » Read the rest of this entry «
February 21st, 2002 »
.

(sebuah surat tanpa alamat)
Nirmala kekasihku,
Di hari-hari seperti ini, aku teringat padamu: awal musim penghujan, pagi yang basah, dan betapa kenangan atas dirimu terasa semakin mengental. Kerinduan yang kian memuncak, dan untuk itu kutulis sepucuk surat. Puluhan surat telah kukirim padamu, Nirmala. Dan tak satupun yang kau balas. Aku mencoba untuk mengerti. Kau pasti terlalu sibuk dengan lingkungan barumu. Apakah teman-teman barumu lebih asyik diajak bertukar pikiran ketimbang aku, Nirmala? Aku tak tahu, apakah mereka juga suka menonton film seperti aku. Kau tak pernah cerita padaku. Tapi tak apa, toh aku takkan pernah bosan menulis surat untukmu. Bukankah cinta hanya butuh kesetiaan, meski logika tak mau mengerti? » Read the rest of this entry «