Category Archives: Rupa-rupa

kurang santai

di beberapa whatsapp group yang saya ikuti, selalu saja ada satu orang (atau malah lebih) yang hobinya mengoreksi penggunaan bahasa orang lain. yang paling mereka sukai adalah “di” sebagai kata depan dan “di” sebagai awalan. contoh: ada wargagrup lagi senang trus laporan ke temen-temennya dengan nada riang Continue reading

under the Blur way

Ketika Blur manggung di Jakarta pada pertengahan 2013, saya ingat di lagu ke-16 ketika Damon sedang bermain piano tiba-tiba dia menoleh ke samping ke arah penonton, lalu senyum nyengir dengan gigi emasnya. Saya menduga itu karena dia senang lagu terbaru Blur yang sedang mereka mainkan, Continue reading

Biar Rada Gaya Kayak Orang-orang di Timeline

Piala Dunia pertama saya Mexico ‘86. Frase-frase koncian macam “Tim Dinamit Denmark” “Gol Tangan Tuhan”, “Si Boncel”, memang masih membekas di saya hingga sekarang meski ketika itu saya masih TK dan cuma ikut-ikutan kakak nonton bola (dia sudah kelas 5 SD dan memang termasuk jago bal-balan di kampung saya). Piala Dunia setelahnya, Italy ‘90, malah tidak banyak saya ingat selain maskotnya yang mirip bongkaran kubus rubik itu termasuk yang paling keren menurut saya dari segi desain, Continue reading

Ali Bomaye!

Yuhuu, pernah ada lho satu masa di mana vinyl bisa diputar di mobil! Plat 7” doang sih tapi, jadi bayangkan gimana ribetnya sambil nyetir harus mengganti-ganti plat yang cuma isi 1-2 lagu. Muhammad Ali pernah punya Continue reading

Coffee + TV x – Offender = ?

Dari baca-baca lagi buku harian 1999-2000 yang beberapa halamannya sudah dimakan rayap tempo hari dia jadi ingat lagi bagaimana single pertama Blur dari album terbaru (saat itu),  Continue reading

Lagu Nostalgila Gebrak-gebrak Meja

Dua hal paling saya ingat dari cerita kakak saya tiap kali dia pulang kampung ke rumah kami di pelosok Jateng, dari kuliahnya di Bandung pada paruh pertama dekade ’90an adalah: kaos kaki murah (“Ada pasar kaget tiap Jumat, kaos kaki di situ harganya cuma Rp500!”), dan bioskop kampus (“Ada meja di tiap kursi penontonnya!”). Ketika itu saya masih SMP, dan selain bahwa kaos kaki di sekolah hanya boleh warna putih, atau hitam pada saat kegiatan Pramuka, agak sulit juga saya membayangkan apa serunya nonton film di bioskop pakai meja? Continue reading