October 29th, 2007 »

.
“…the words of the prophets are written on the subway walls…”
—Simon and Garfunkel, “The Sound of Silence”
Jalanan, apa boleh buat, adalah sebuah drama zaman kita. Dia bukan lagi sekadar penanda lokasi (“Kantornya di jalan apa tadi, Bos?” tanya si tukang ojek sebelum tancap gas), tapi sekaligus panggung tempat orang-orang berekspresi. Ketika ojek membawa kita ngebut, meliuk-liuk menerobos kemacetan jalan yang tak masuk akal, tikung sana-sini dan hampir nyerempet mobil, naik ke atas trotoar, kita deg-degan dan tukang ojek tetap cuek; sesungguhnya drama suspense sedang terjadi. » Read the rest of this entry «
January 17th, 2007 »
.
“We all know that nostalgia is dangerous,
but I remember those days with a clear conscience.”
—The Toughest Indian in The World. Sherman Alexie, 2000.
Meskipun sudah diperingatkan, saya masih keukeuh ber-nostalgia (nostalgila?) mengingat dengan jelas hari-hari saya bisa sampai ke hadapan kutipan sendu ini. Masa-masa itu adalah periode di mana saya, yang baru lulus setelah 5 tahun berkutat di bangku perkuliahan, dan akibat ketakutan irasional untuk masuk dunia kerja malah terjun bebas ke dalam dunia malam, maksudnya, dunia begadang; atau kerennya: dunia insomnia. Dunia malam dan dunia maya layaknya partners in crime, menggoda saya untuk bergaul dengan makhluk-makhluk gentayangan yang eksis di dua dunia tersebut. Salah satunya bernama Budie. » Read the rest of this entry «
November 18th, 2006 »
.
(a short story by Jonathan Nolan)

1
“What like a bullet can undeceive!”
—Herman Melville
Your wife always used to say you’d be late for your own funeral. Remember that? Her little joke because you were such a slob—always late, always forgetting stuff, even before the incident.
Right about now you’re probably wondering if you were late for hers.
You were there, you can be sure of that. That’s what the picture’s for—the one tacked to the wall by the door. It’s not customary to take pictures at a funeral, but somebody, your doctors, I guess, knew you wouldn’t remember. They had it blown up nice and big and stuck it right there, next to the door, so you couldn’t help but see it every time you got up to find out where she was.
The guy in the picture, the one with the flowers? That’s you. And what are you doing? You’re reading the headstone, trying to figure out whose funeral you’re at, same as you’re reading it now, trying to figure why someone stuck that picture next to your door. But why bother reading something that you won’t remember? » Read the rest of this entry «
July 12th, 2006 »
.
(cerita pendek oleh Sony Karsono)

Bapak adalah hantu asing, seperti juga bayang yang kutemukan dalam cermin bila menggosok gigi waktu pagi. Aku masih gemar menghisap es krim di halaman rumah bersama ayam-ayam, ketika suatu hari Bapak menghilang di ujung gang menyandang ransel. Ia sangat tergesa, hingga lupa mengelus kepalaku, seperti yang biasa dilakukan seorang bapak dalam film atau puisi taman kanak-kanak. Aku bertanya, “Ibu, ke mana Bapak?” “Bapak cari uang,” sahut Ibu seraya menjemur kutang di jemuran. “Kelak ia datang bawa oleh-oleh untukmu.’ » Read the rest of this entry «
June 6th, 2006 »
.
“I want to cut you up, I want to watch you bleed, ever so slowly.”
—Adorable “Homeboy”
pagi itu, mungkin sepuluh atau sebelas tahun yang lalu, atas nama embun-embun tak bertuan dan bisikan setan yang tak beralasan, aku berniat meracuni sarapanmu. semua telah siap, segala bakal beres: secawan racun dari mulut ular paling berbisa di dunia, kata-kata terakhir dengan senyum sinis yang dilatih ratusan kali di depan kaca, juga segenap detil lainnya dengan pengaruh film-film detektif murahan di sana-sini. namun seperti kisah-kisah klise di buku dongeng, ternyata gelas kita tertukar: tanpa sadar aku menenggak racunku sendiri. (ah, ‘ternyata’—bukankah itu kata sialan yang sudah lama berusaha kita hapus dari kamus?) » Read the rest of this entry «
December 10th, 2005 »
.
Pada tahun 1996, Blur menulis lagu “Ernold Same”, sebuah perlambang yang bagus tentang rutinitas. Dilantunkan dengan ekspresi datar, demikian bunyi liriknya: “Ernold Same awoke from the same dream, in the same bed, at the same time, looked in the same mirror, made the same frown, and felt the same way as he did everyday.” » Read the rest of this entry «
July 25th, 2005 »

.
Ini adalah kisah tentang dua ‘A’.
‘A’ yang pertama, adalah Aming. Seorang pemuda kurus berambut gondrong dan berkacamata. Dia sedang belajar seni rupa di sebuah perguruan tinggi terkemuka di Bandung. Kita tidak mengenalnya sebagai mahasiswa, kita lebih mengenalnya sebagai “komedian”—istilah yang seolah-olah lebih elegan ketimbang “pelawak” meski intinya sama saja. Wajahnya menghiasi layar televisi hari-hari ini, tampil dalam dandanan perempuan—plus gincu berlebihan dan buah dada palsu—berusaha mengocok perut kita. Cara melempar senyum genitnya, juga jeritannya yang khas, jelas sebuah usaha-bikin-ketawa. » Read the rest of this entry «
January 17th, 2005 »

.
Ada satu banyolan yang bisa jadi tak semua orang tertawa karenanya. Seperti lazimnya tebak-tebakan garing, formulanya adalah “pertanyaan dan jawaban”. Pertanyaan: “Mengapa hari Minggu pagi adalah saat yang paling tepat untuk melewati jalan bebas hambatan di Los Angeles?” Jawabannya, ternyata sederet panjang stereotip yang menjengkelkan: “Karena orang-orang Katolik sedang berada di gereja, orang-orang Protestan masih tidur, orang-orang Yahudi sedang berada di Palm Springs, orang-orang Indian tidak boleh keluar dari suaka-suakanya, orang-orang Cina sedang memasak di restoran-restorannya, orang-orang Negro sedang mencuri ban mobil, dan orang-orang Meksiko tidak dapat menghidupkan mobil-mobil mereka…” » Read the rest of this entry «
December 26th, 2004 »
.
apakah kau ingat dulu kita (okay, kamu) pernah berusaha memainkannya semirip mungkin juga sebebas mungkin yang artinya justru sengawur mungkin sesalah mungkin dan paling penting sekeras mungkin karena yang kau pikirkan justru bagian gamelan yang menghantui sepanjang lagu (juga ‘duck duck duck’ dan kau ingat bali padahal kau benci bali—kau pikir aku tidak?) dan hey siapa yang harus meniup apa-itu-namanya,-klarinet? » Read the rest of this entry «
November 9th, 2004 »
.
Sebenarnya, apakah “m u d i k” itu? Apa? Mudiko, ergo sum, “saya mudik maka saya ada”, begitu? Pulang kampung, maka eksistensi menggelembung? Anda penjual bakso di sekitar Monas, yang mudik ke kampung halaman di kaki gunung dengan tas pinggang penuh uang, siap dibagi-bagikan pada sanak famili sampai habis tak bersisa tapi rasa bangga membuncah di dada? Anda scriptwriter sebuah variety-show-tayang-seminggu-sekali-dengan-rating-dan-share-lumayan, yang pulang ke dusun gersang kering kerontang, membagi-bagikan kartu nama lengkap-dengan-profesi-nomor HP-dan-alamat-email ke para tetangga yang tidak pernah menonton acara Anda karena bahkan antena paling tinggi pun tetap gagal menangkap siaran televisi swasta? Anda mantan kembang desa yang mengadu nasib di belantara ibukota bermodal kepolosan dan ijazah SMEA, yang mudik ke desa tertinggal dengan lipstick tebal, kuku kaki di-kutex, dan rambut model mutakhir warna pirang? Anda aktivis mahasiswa, rajin turun ke jalan dan lantang meneriakkan anti kemapanan, yang pulang bersimpuh ke kaki ibunda yang makin renta, yang tak suka anaknya berambut gondrong dan tak kunjung diwisuda?