<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>budiwarsito.net &#187; Rupa-rupa</title>
	<atom:link href="http://budiwarsito.net/category/rupa-rupa/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://budiwarsito.net</link>
	<description>esok kita jumpa pula</description>
	<lastBuildDate>Sun, 22 Apr 2012 22:01:57 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>[Cerpen Favorit] Kalau Bung Seniman, Jangan Tinggal di Kampung</title>
		<link>http://budiwarsito.net/cerpen-favorit-kalau-bung-seniman/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/cerpen-favorit-kalau-bung-seniman/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Apr 2012 06:31:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Rupa-rupa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=1175</guid>
		<description><![CDATA[. (cerita pendek oleh Misbach Jusa Biran) &#8220;Kalau Bung seorang seniman, jangan tinggal di kampung,&#8221; kata seorang pemuda dengan penuh kesungguhan. Pemuda itu belum pernah saya kenal dan pada suatu malam kami ditakdirkan Tuhan duduk berhadapan di warung kue putu merek &#8220;Cirebon&#8221; yang menetap dekat teng bensin di Pasar Senen. Dari cara dia duduk yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2012/04/TukangLoak.jpg"><img class="aligncenter wp-image-1188" title="TukangLoak" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2012/04/TukangLoak.jpg" alt="" width="448" height="336" /></a></p>
<p><span style="color: #ffffff;">.</span><br />
(cerita pendek oleh <strong>Misbach Jusa Biran</strong>)</p>
<p>&#8220;Kalau Bung seorang seniman, jangan tinggal di kampung,&#8221; kata seorang pemuda dengan penuh kesungguhan. Pemuda itu belum pernah saya kenal dan pada suatu malam kami ditakdirkan Tuhan duduk berhadapan di warung kue putu merek &#8220;Cirebon&#8221; yang menetap dekat teng bensin di Pasar Senen. Dari cara dia duduk yang semaunya itu, dari semula sudah saya duga bahwa ini tentunya termasuk bangsa-bangsa seniman. Oleh karena malam itu saya mengenakan baju yang siangnya saya tidur, lecek, maka saya pun tidak menyalahkan kalau dia sebaliknya mengira saya seniman pula. Dan memenuhi kebiasaan di antara seniman, yakni meskipun belum pernah kenal atau berkenalan dapat saja bicara dengan intimnya, maka saya tidak ragu-ragu lagi.</p>
<p>&#8220;Kenapa?&#8221; tanya saya sambil menghembuskan asap rokok dengan gaya bebas, menggaruk-garuk rambut semaunya. Gaya yang saya sesuaikan dengan keadaan saya malam itu: seniman.<span id="more-1175"></span></p>
<p>&#8220;Saya sudah mencobanya. Saya tinggal di kampung,&#8221; jawabnya sedih.</p>
<p>&#8220;Saudara seniman ya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Pengarang,&#8221; jawabnya tandas, tapi segera disusul dengan helaan napas yang dalam, seperti ia tengah menjalani suatu takdir yang amat berat.</p>
<p>&#8220;O, pengarang. Mengarang apa? Barangkali saya pernah baca tulisan Saudara di majalah.&#8221;</p>
<p>Kawan itu tidak menjawab. Ia pura-pura tidak mendenga pertanyaan saya, buang muka. Saya yakin ia telah menyesal membuka pembicaraan dengan saya. Kebetulan saya segera sadar bahwa saya telah membuat kekeliruan yang amat besar. Karena saya pernah tahu, bahwa pertanyaan &#8220;yang mana karangan Saudara&#8221; adalah pertanyaan yang paling tabu diajukan pada seniman-seniman muda. Sebab besar kemungkinan seniman tersebut telah menjadi seniman sebelummenulis satu karangan pun. Pertanyaan itu akan sangat melukai hati. Kalau sampai ketahuan bahwa ia belum mengarang apa-apa, kan tentunya sulit buat pemuda yang ditanya untuk tetap mengaku seniman. Maka, saya pun cepat-cepat membelokkan pertanyaan itu. &#8220;Maksud saya, nama Saudara siapa? Tentunya saya pernah dengar-dengar.&#8221;</p>
<p>&#8220;Duka,&#8221; jawabnya tak bernafsu sambil tetap memandang ke arah lain.</p>
<p>&#8220;Cuma Duka saja?&#8221; tanya saya dengan suara yang saya buat-buat supaya kedengarannya betul-betul kepingin tahu.</p>
<p>&#8220;A. Indra Dukawan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Betul! Saya sering dengar nama itu, sering disebut-sebut orang.&#8221; Apa boleh buat, saya terpaksa berdusta. Tapi karenanya saya bisa menebus kesalahan tadi. Ia kembali tertarik pada saya. Malah lebih dari itu ia jadi baik sekali, membayari kopi dan dua potong kue putu. Dan pembicaraan menjadi lancar, terus sampai malam. Rupanya malam itu ia sedang betul-betul pantas memakai nama Dukawan. Sedang dirundung kesusahan. Yang menjadi soal adalah asmara. Tetapi menurut A. Indra Dukawan, yang menjadi pokok utama adalah karena ia tinggal di kampung.</p>
<p>&#8220;Bagaimana mereka bisa mengerti kalaupun saya terangkan kepada orang-orang kampung itu?&#8221; katanya dengan suara yang betul-betul menunjukkan kesulitan. &#8220;Bagaimana saya bisa menjelaskan kepada mereka, bahwa pekerjaan seorang seniman tidak sama dengan pegawai-pegawai biasa yang pernah mereka kenal? Menurut anggapan mereka, orang yang baik dan rajin itu kalau pagi-pagi menenteng tas pergi ke kantor. Sedangkan saya yang mencari inspirasi setengah mati, bermenung-menung di kebun belakang, mereka katakan pengangguran, sinting, kurang waras. Malah ada yang mengira bahwa saya belajar ilmu sihir, tetapi tidak kesampaian, jadi agak linglung. Betul saya tidak bekerja, tapi saya mengarang terus. Bekerja keras. Tetapi tidak ada yang bisa memahami. Dan tambah menyedihkan lagi karena saya sering keluar malam, ada pula yang menyangka bahwa saya adalah OKD. Sama sekali saya tidak menganggap hina pekerjaan OKD yang tidak menerima gaji itu, saya sendiri juga tidak pernah punya uang, tetapi saya bukan OKD. Saya pengarang. Keluyuran malam yang saya lakukan adalah tugas yang sulit, mencari ilham, inspirasi. Dan kalau berhasil&#8230;? Ya, kalau berhasil saya bisa bikin buku&#8230;, bisa&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Bisa kaya&#8230;,&#8221; saya telanjur lagi, tetapi cepat bisa saya tutupi, &#8220;Maksud saya, biarkan sajalah orang-orang kampung itu, nanti juga kalau sudah terbukti&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Tetapi ini justru soal sekarang, bukan nanti. Sekarang! Saya punya pacar di kampung tempat tinggal saya. Orang tua si gadis terlalu menganggap sepele pada saya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sepele bagaimana?&#8221;</p>
<p>&#8220;Orang tuanya yang pertama-tama menganggap saya ini OKD, dan menyiar-nyiarkannya kepada tetangga.&#8221;</p>
<p>&#8220;Yang penting kekasih Saudara itu bisa mengerti. Habis perkara. Persetan dengan orang tuanya,&#8221; kata saya rada bernafsu. Memang panas juga hati mendengar seniman disangka yang tidak-tidak. &#8220;Sering-sering jumpai gadis itu, jeksi terus agar tidak kena pengaruh orang lain yang bodoh-bodoh itu. Ada kesempatan tidak, untuk sering-sering ketemu dan bicara?&#8221;</p>
<p>Dukawan diam saja selama dua menit. Dan setelah ia menggelengkan kepala sekian kali, berbisiklah dia, &#8220;Dia tak akan mau kepada saya, orang tuanya sudah menghasut dia begitu rupa&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Pernah Bung menyatakan cinta Bung terus terang?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya&#8230;,&#8221; jawabnya tidak begitu jelas. &#8220;Melalui sajak-sajak yang dimuat dalam majalah <em>Rindu Damai</em> keluaran Kalimantan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Barangkali dia belum baca sajak itu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Barangkali,&#8221; jawabnya. Menghela napas panjang. &#8220;Saya sendiri pun belum pernah melihat majalah itu beredar di Jakarta.&#8221;</p>
<p>&#8220;Jadi bagaimana dia bisa tahu pasti bahwa Bung mencintai dia?&#8221;</p>
<p>&#8220;Dia sudah seharusnya tahu. Cinta yang besar dan suci pasti akan sampai ke alamatnya,&#8221; kata Dukawan dalam tekanan yang berirama.</p>
<p>&#8220;Apa saja yang gadis itu bilang kalau kebetulan ketemu?&#8221;</p>
<p>Dukawan menggeleng. Setelah selesai menepuk nyamuk yang menggigit kakinya, baru ia menggumam, &#8220;Kami belum pernah ada kesempatan  bicara.&#8221;</p>
<p>Saya kira tidak terlalu sulit untuk memahami, bagaimana sebenarnya duduk perkara percintaan kawan saya ini.</p>
<p>&#8220;Dia tetap adem saja?&#8221; tanya saya untuk lebih meyakinkan.</p>
<p>Dukawan mengangguk.</p>
<p>&#8220;Pantas,&#8221; sambut saya dalam hati. Nyata letak kesalahan tidaklah seluruhnya pada orang tua si gadis. Karena, walaupun ayahnya tidak mengira Dukawan ini sinting lantaran belajar ilmu sihir atau mengatakan ia OKD, tetapi kalau Dukawan diam-diam saja, yaaa&#8230;.</p>
<p>&#8220;Barangkali perlu dicari jalan lain?&#8221;</p>
<p>&#8220;Bagaimana?&#8221;</p>
<p>&#8220;Pakailah baju yang&#8230;&#8221; Tak jadi kalimat ini saya selesaikan.</p>
<p>&#8220;Saya mengerti! Saya tidak punya pakaian bagus. Dan saya tidak mau ia cinta kepada saya karena pakaian saya,&#8221; sedih benar kata-kata ini diucapkannya.</p>
<p>&#8220;Saya belum habis bicara tadi,&#8221; kata saya.</p>
<p>&#8220;Teruskan, teruskan!&#8221;</p>
<p>&#8220;Saya mau meminjamkan pakaian saya&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidak&#8230;,&#8221; jawabnya lesu sambil menundukkan kepala. Jelas ia merasa tersinggung sekali.&#8221;</p>
<p>&#8220;Maksud saya,&#8221; kata saya buru-buru, &#8220;saya sedia menolong. Bicaralah terus terang pada gadis itu agar jelas. Saya mau menolong kalau diperlukan. Nanti&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Nanti, nanti!&#8221; katanya agak membentak. &#8220;Sekarang! Soalnya adalah sekarang ini!&#8221; Usul saya hanya menaikkan darahnya saja. &#8220;Sekarang-sekarang ini saya harussekaligus kasih lihat kekuatan. Kenapa? Minggu depan dia akan diajak ke Puncak oleh si Achmad, pemuda otak kosong yang sekadar punya motor itu. Saya juga harus sanggup mengajaknya ke Puncak! Kenapa tidak? Berapa kira-kira ongkos jalan ke Puncak?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kalau jalan kaki sih, murah,&#8221; jawab saya tak sengaja bercanda. Betul-betul kurang ajar kelakuan saya ini, tak pantas bermain-main juga dalam keadaan begitu.</p>
<p>&#8220;Taksi!&#8221; bentaknya bernafsu. &#8220;Pakai taksi berapa? Dengan makan-makan sedikit di restoran Puncak. Berapa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Besar, Bung&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Yaaa, berapa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Seribu&#8230;. Mungkin kurang sedikit. Sewa taksinya saja kira-kira lima ratus. Makan-makannya&#8230;, oleh-olehnya&#8230;.&#8221; Terhenti saya karena tiba-tiba mata Dukawan memindahkan pandangan ke arah lain, redup matanya. Tersumbat kerongkongan saya. Kadang-kadang ia melihat ke arah tanah di bawahnya, entah melihat apa, sekali ia menoleh sekilas pada saya dan tersenyum sedikit. Entah apa maksudnya. Tapi semua itu menimbulkan suasana yang menyayat hati. Sekuat tenaga saya memeras otak, bagaimana caranya mengembalikan mata Dukawan agar agak bersinar lagi. Paling tidak seperti sebelum ia berkenalan dengan saya tadi.</p>
<p>&#8220;Begini, Bung, ada jalan,&#8221; kata saya. Ia hanya melirik sedikit saja. &#8220;Kalau naik bus barangkali bisa dikejar juga ongkosnya. Makanan, Saudara bawa saja dari rumah.&#8221; Usaha saya berhasil, perlahan-lahan tatapan matanya bertambah tajam pada saya. Malah sedikit senyum yang jernih mengembang pula.</p>
<p>&#8220;Berapa kira-kira,&#8221; tanyanya harap-harap cemas. &#8220;Berapa kira-kira ongkosnya semua sampai kembali lagi ke Jakarta?&#8221;</p>
<p>&#8220;Saya kira, yaaa, saya kira seratus rupiah cukup.&#8221;</p>
<p>&#8220;Seratus?&#8221; ulangnya perlahan sambil berpikir keras, lalu mukanya dihiasi senyum lagi. Dipegangnya tangan saya, &#8220;Mau Bung membantu saya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Mau!&#8221; jawab saya kontan. Tentu saya harus bersedia membantu dia karena sejak tadi kerja saya hanya membuat ia kecil hati, sedih, atau tersinggung.</p>
<p>&#8220;Bagaimana? Katakanlah!&#8221;</p>
<p>&#8220;Saya punya sepasang sepatu dan satu celana wol yang jarang sekali ada gunanya buat saya. Tolong kaujualkan ke tukang loak. Saya malu menjualnya.&#8221; Saya sangat terkejut, Dukawan tidak melihat. &#8220;Saya kira akan laku semua itu seratus perak. Cocok dengan ongkos yang diperlukan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Mampuslah kau!&#8221; bisik saya dalam hati pada diri sendiri. Tetapi saya sudah menyatakan bersedia membantu. Besok sorenya saya suruh si Sarpan, tukang becak kenalan saya untuk membawa celana wol dan sepatu Dukawan ke pasar loak di Gang Jagal. Saya menunggu saja di ujung gang.</p>
<p>Semua harta-harta Dukawan laku Rp 97,50. Saya beri Sarpan seringgit sebagai upah. Lalu saya tambah dari kantong sendiri Rp 5,00 maka genaplah jumlah yang dibutuhkan A. Indra Dukawan. Senang hatinya. Rasanya cukup terbalas juga segala kesalahan saya membuat ia terus-menerus duka tempo hari itu. Tetapi saya harus berbuat sesuatu yang lebih baik lagi. Dia tidak boleh meneruskan rencana mengajak gadis kecintaan pergi ke Puncak dengan naik bus dan membawa makanan dari rumah. Pasti ia akan ditertawai habis-habisan. Tentu hal itu akan terasa jauh lebih pedih daripada sekadar disangka jadi OKD.</p>
<p>&#8220;Kenapa Saudara harus bersusah-payah menyaingi si Achmad yang otaknya kosong itu? Tidak tepat kalau jalan yang kita ambil adalah justru apa yang padanya lebih kuat,&#8221; kata saya dengan tekanan-tekanan yang amat sungguh-sungguh meyakinkan.</p>
<p>&#8220;Apa maksud Bung? Diam-diam saja seperti yang sudah-sudah?&#8221;</p>
<p>&#8220;Bukan. Nyatakan cinta Bung itu dengan kesanggupan yang ada pada Saudara, mengarang. Kesanggupan yang pasti lebih daripada si Achmad yang kepalanyakosong itu. Dengan uang seratus ini belilah kertas dan karbon ketengan dan pita mesin ketik. Bikin cerita atau sajak. Persembahkn kepada kekasih itu.&#8221;</p>
<p>A. Indra Dukawan terdiam mendengar usul saya itu, ia berpikir dan berpikir.</p>
<p>&#8220;Betul juga,&#8221; katanya kemudian. &#8220;Dia tidak boleh jatuh pada saya karena saya dikiranya kaya, tapi harus karena kagum akan kesanggupan saya, pada bakat saya, pada cita-cita saya&#8230;.&#8221;</p>
<p>Sebulan kemudian, kami ketemu lagi di Pasar Senen, di samping warung si Kecil, warung Cina yang menjual buah dingin. Disodorkannya selembar majalah yang dilipat terbuka pada bagian yang memuat tulisan Dukawan. Hampir saya berteriak gembira melihatnya. Betapa tidak? Setahu saya, itulah tulisan Dukawan yang pertama, yang berhasil diterima oleh majalah, dan itu terjadi karena dorongan saya.</p>
<p>&#8220;Kapan ini dimuat, Bung?&#8221; tanya saya dengan sungguh-sungguh gembira.</p>
<p>&#8220;Seminggu yang lalu,&#8221; jawabnya sambil tersenyum sedikit, lalu agak menunduk, &#8220;Maaf, uang honorariumnya sudah habis buat beli obat, tidak bisa mentraktir Bung.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aaah, tidak apa. Sungguh mati tidak apa-apa.&#8221;</p>
<p>Di bawah kepala karangan itu tertulis &#8220;untuk si jantung hati, Rina&#8221;.</p>
<p>&#8220;Rina nama gadis itu, Bung?&#8221; tanya saya sambil agak tersenyum nakal, mengajak sedikit bercanda. Dukawan hanya mengangguk kecil saja. &#8220;Jadi, apa katanya? Dan bagaimana kata orang-orang kampung setelah mereka tahu bahwa Bung seorang pengarang?&#8221;</p>
<p>&#8220;Rupanya pengarang tidak boleh tinggal di kampung,&#8221; tukasnya dengan nada jengkel, &#8220;Mereka tidak bisa menghargai seni! Tambah buruk lagi pandangan mereka terhadap saya sekarang. Katanya tukang karang adalah tukang bohong, tukang berhutang. Memang sulit.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tetapi, Bung jangan mundur!&#8221; nasihat saya yang kembali merasa terbakar dan jatuh kasihan pada Dukawan yang melamun saja sambil menggulung-gulung majalah di tangannya. &#8220;Masing-masing orang punya bakat sendiri-sendiri. Dan bakat yang jarang pada manusia ini jangan dibikin urung hanya karena pandangan orang kampung saja.&#8221;</p>
<p>Dukawan tidak segera memberi reaksi. Ia berpikir dan berpikir. Sesudah saya sodori rokok, barulah ia ada napsu untuk bicara. &#8220;Memang, saya tidak boleh mundur hanya karena si Rina tidak mau sama saya. Bung benar, masing-masing orang punya bakat sendiri-sendiri, betul. Mau menolong saya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tentu. Saya akan tolong Bung sebisa-bisanya agar terus menjadi pengarang yang hebat!&#8221; jawab saya penuh napsu. &#8220;Biar orang-orang kampung itu tahu bahwa mereka orang bodoh. Biar mereka betul-betul menyesal nanti karena menghina Bung, sekarang. Bagaimana, tolong bagaimana?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kertas tik saya sudah habis,&#8221; jawab Dukawan segera, &#8220;Saya masih punya barang yang kira-kira bisa laku Rp 45,00. Mau tolong menjualkannya ke tukang loak?&#8221;</p>
<p>Masing-masing orang punya bakat sendiri-sendiri, memang, dan bakat saya menurut penglihatan A. Indra Dukawan rupanya adalah bakat untuk berurusan dengan tukang loak.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p style="text-align: left;"><a href="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2012/04/KeadjaibanDiPasarSenen.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1194" title="KeadjaibanDiPasarSenen" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2012/04/KeadjaibanDiPasarSenen-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: left;"><span style="font-size: 90%;"><span style="font-family: trebuchet ms;">Cerita pendek ini saya ketik ulang dari buku kumpulan cerpen <strong><em>Keadjaiban Pasar Senen</em></strong> (Pustaka Jaya, Tjetakan Pertama 1971), dengan mengubah ejaan lamanya menjadi EYD, beberapa hari sesudah mendengar kabar <a href="http://filmindonesia.or.id/post/misbach-jusa-biran-sejarah-adalah-ilmu" target="_blank"><strong>Misbach Jusa Biran telah berpulang</strong></a>. Buku ini satu dari sedikit buku kumpulan cerita pengarang Indonesia yang saya letakkan khusus di samping ranjang untuk dibaca lagi dan lagi hampir tiap malam menjelang tidur, bergantian dengan <em>Impian Amerika</em> karya Kuntowijoyo (1998). Kedua buku itu, dengan caranya sendiri, selalu berhasil memompa semangat saya untuk kembali bangun keesokan harinya dengan percaya hidup ini memang seru dan lucu. <em>Urip mung mampir ngguyu</em>.</span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/cerpen-favorit-kalau-bung-seniman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ira Hamil Lima Hari</title>
		<link>http://budiwarsito.net/ira-hamil-lima-hari/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/ira-hamil-lima-hari/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Feb 2012 14:12:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Rupa-rupa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=1055</guid>
		<description><![CDATA[. Berhubung hari ini tanggalnya istimewa, yakni 21-02-2012, dan itu angka palindrome yang tidak akan terulang lagi tahun depan, maka saya repost di sini satu tulisan iseng blog lama saya soal itu. Cekidot. Senin, 4 April, 2005 ::: palindrome! Ini berawal dari Badu yang mampir ke blogombal Mas Kere Sukemplu, dan suatu saat mendapati dirinya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2012/03/Palindromes.jpg"><img class="aligncenter wp-image-1061" title="Palindromes" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2012/03/Palindromes.jpg" alt="" width="466" height="320" /></a><span style="color: #ffffff;">.</span></p>
<p><em>Berhubung hari ini tanggalnya istimewa, yakni <strong>21-02-2012</strong>, dan itu angka <strong>palindrome</strong> yang tidak akan terulang lagi tahun depan, maka saya repost di sini satu tulisan iseng blog lama saya soal itu. Cekidot.</em></p>
<p>Senin, 4 April, 2005<br />
<strong>::: palindrome!</strong></p>
<p>Ini berawal dari Badu yang mampir ke blogombal <a href="http://gombal.blogdrive.com/" target="_blank"><strong>Mas Kere Sukemplu</strong></a>, dan suatu saat mendapati dirinya adalah pengunjung ke-39493. &#8220;Aah, palindrome,&#8221; batin saya waktu itu. Yeah, Badu mengangguk, seolah bisa membaca pikiran saya. Lalu semacam flashback: saya ingat masa kanak, ketika seorang Budi kecil tercenung membaca merk sabun colek OMO, yang dibeli Ibu dari warung sebelah. &#8220;Bu, lihat merk itu! Kalau dibaca dari belakang pun tetap &#8216;<strong>OMO</strong>&#8216;! Hebat ya?&#8221; Ibu diam saja, tapi tetap tersenyum&#8212;mungkin sambil membatin, &#8220;Hebatnya opo to, Le? Wong cuma gitu aja kok.&#8221; <span id="more-1055"></span>Juga ingatan ketika saya dan teman-teman ramai-ramai membaca komik lokal murahan dengan antusias di sekolah (kelas 2 SD Inpres di sebuah kota kecil), dan mendapati halaman terakhir sambil mendesah kecewa, &#8220;Yaah, kok udah tamat sih?&#8221; Tapi saya melihat sesuatu, dan berteriak semangat, &#8220;Hey, kata <strong>&#8216;TAMAT</strong>&#8216; kalau dibaca terbalik dari belakang tetap saja terbaca &#8216;<strong>TAMAT</strong>&#8216;! Hebaaat!!&#8221;&#8212;dan tak ada satu pun teman yang mendukung ketertarikan saya itu. &#8220;Biasa aja, ah!&#8221; demikian selalu kata mereka, sambil berhamburan keluar begitu lonceng tanda pulang berbunyi.</p>
<p>Baiklah, baiklah. Tak ada yang peduli. Tapi saya peduli. Sepulang dari sekolah, saya bisa menghabiskan waktu sesorean (kadang sampai malam) hanya untuk menemukan &#8220;susunan kata atau kalimat yang jika dieja dari belakang tetap terbaca sama&#8221;. Tentu saja kala itu saya belum tahu namanya <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Palindrome" target="_blank"><strong>palindrome</strong></a>. Mulai dari yang sangat sederhana: bunyi kentut (&#8216;<strong>Tuut</strong>&#8216;), sifat orang yang kata Ibu kurang bagus (&#8216;<strong>iri</strong>&#8216; dan &#8216;<strong>sinis</strong>&#8216;), sampai merk permen kesukaan yang lengket di gigi (&#8216;<strong>Sugus</strong>&#8216;). Juga nama-nama orang: tetangga depan rumah saya persis, namanya <strong>Anna</strong>; dan di gang sebelah ada yang namanya <strong>Totot</strong>. Begitu naik ke kelas 3, saya mulai mendapat mata pelajaran IPS alias Ilmu Pengetahuan Sosial (ehm, dari situ saya baru tahu bahwa di Indonesia ini ada suku lain selain Jawa), dan yeah, saya menemukan nama <strong>Nababan</strong>!</p>
<p>Saya ingat betul, hobi baru itu bikin saya lupa waktu. Lupa belajar, lupa bikin PR (terutama Tugas Prakarya, yang memang saya benci setengah mati karena susahnya suka keterlaluan!). Lupa main kasti bareng teman sekompleks. Lupa mengaji. Pokoknya lupa segalanya. Sampai-sampai Ibu mengingatkan, &#8220;Makan dulu, Le&#8230;&#8221; Jawaban saya malah, &#8220;Hmm, &#8216;makan&#8217;? Nggak, Bu! Itu nggak bisa! Kalo &#8216;<strong>makam</strong>&#8216;&#8230; nah, itu baru bisa!&#8221; Saya tidak tahu apakah sejak saat itu Ibu mulai khawatir saya tidak akan naik kelas.</p>
<p>Kelas 4 SD (haa, berarti saya naik!), saya menemukan frase &#8220;<strong>kasur rusak</strong>&#8220;. Saya senang sekali, karena bisa menemukan susunan lebih dari 1 kata. Kelas 5 SD, Maya, teman sekelas yang paling cantik, merayakan ulang tahun ke-10. Saya memberanikan diri memberinya kado berupa celengan ayam dari tanah liat. Bukan karena pengen mengajak dia untuk ikut Gerakan Nasional Gemar Menabung, melainkan supaya saya bisa melampirkan kartu ucapan bertuliskan &#8220;<strong>Maya, ini ayam</strong>.&#8221; plus gambar panah terbalik dan tulisan NB: &#8216;Coba kamu baca dari belakang&#8217;. Saya bangga bukan main atas kejeniusan saya itu, meski Maya ternyata malah bersikap biasa saja.</p>
<p>Kelas 1 SMP, saya menemukan susunan 4 kata, &#8220;<strong>Ira hamil lima hari</strong>&#8220;. Ini mulai keterlaluan. Ketika saya tunjukkan ke Ira, yang pintar dan juara umum, yang saya dapatkan malah muka cemberut. Mungkin dia pikir saya ini siswa bodoh yang aneh, nakal, tak pantas belajar satu sekolah dengannya. Kelas 3 SMP, ketika kebiasaan melamun saya makin menjadi-jadi, bersama imaginary friend saya, seorang bajak laut bernama Sersan Jab (figurnya mirip Kapten Hook, tapi kait besinya bukan di tangan, melainkan di kaki; sedangkan saya sendiri adalah Sinbud si Pelaut), kami berlayar ke Negeri Dongeng, bertualang melawan monster laut yang ganas demi mencari harta karun, menggunakan kapal rakit istimewa. Istimewa? Ya, karena ini &#8220;<strong>rakit idaman, ada nama di tikar</strong>&#8220;. Yeah!</p>
<p>Itu kenangan masa kecil. Saya kemudian tahu, bahwa memang ada fenomena kata seperti itu. Ya itu tadi, namanya palindrome. Di bahasa Inggris saya menemukan ruang gerak yang lebih bebas, dengan peluang jauh lebih besar. Saya sering terheran-heran dengan keisengan orang-orang Barat ini (keisengan yang jenius, atau kejeniusan yang iseng?). Para pekerja film di Hollywood sudah menemukan palindrome kata-kata kesal seperti (silakan cek, baca dari belakang!), &#8220;<strong>Dammit, I&#8217;m mad!</strong>&#8220;, atau &#8220;<strong>Here so long? No loser, eh?</strong>&#8221; Lalu jawaban ngawur dari pihak manajemen artisnya, &#8220;<strong>No, Mel Gibson is a casino&#8217;s big lemon</strong>.&#8221; Ada juga palindrome di kancah politik internasional, &#8220;<strong>Star comedy by Democrats</strong>&#8220;. Atau SMS dari Kompleks Neraka Blok 7 a.k.a. Jahanam, &#8220;<strong>Devil Natasha, ah, Satan lived</strong>!&#8221; Atau cewek-cewek seksi nan polos yang beraksi eksibisionis, menatap sayu ke kamera sambil mendesah, &#8220;<strong>Oh, cameras are macho&#8230;</strong>&#8221; (Haha, bisa-bisanya <a href="http://garingbasi.blogsome.com/2005/04/01/religius/" target="_blank"><strong>Mas Garing Subasi</strong></a> menyebutnya sebagai genre film religius! Kalo yang ini religius nggak Mas, &#8220;<strong>A Santa lived as a devil at NASA</strong>&#8220;?)</p>
<p>Yang paling gila, mungkin adalah karya <a href="http://kirjasto.sci.fi/perec.htm" target="_blank"><strong>George Perec</strong></a> (1936-1982), berjudul &#8220;ça ne va pas sans dire&#8221;, yang disebut-sebut sebagai salah satu palindrome terpanjang di masanya yang pernah ditulis manusia, terdiri dari sekitar 5.000 kata! Astaga, LIMA RIBU KATA! Sinting! Tapi dia memang tergabung di <a href="http://www.nous.org.uk/oulipo.html" target="_blank"><strong>Oulipo</strong></a> (Ouvrier de Littérature Potentielle, atau Workshop of Potential Literature), sebuah komunitas penulis-penulis &#8220;sinting&#8221; di Paris. Ini semacam laboratorium struktur literer yang menghidupkan bentuk-bentuk sastra lama dan mencari bentuk-bentuk sastra baru yang yang tumbuh dari sejumlah algoritma. Karya-karya mereka unik, ganjil, ajaib. Salah satu anggotanya yang terkenal adalah <a href="http://kirjasto.sci.fi/calvino.htm" target="_blank"><strong>Italo Calvino</strong></a> (1923-1985), yang selalu Badu yakini sebagai <a href="http://budibadabadu.blogspot.com/2005/02/in-mood-for-laugh.html" target="_blank"><strong>alien</strong></a>.</p>
<p>Udah ah, saya pamit dulu. <strong>Yo wis, si woy</strong>!</p>
<p><strong>Don&#8217;t nod</strong>.<br />
(yeah, palindrome sampai akhir!)</p>
<p style="text-align: right;"><a href="http://budibadabadu.blogspot.com/2005/04/palindrome.html" target="_blank"><strong>budibadabadu</strong></a> © 2005</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p><span style="font-size: 90%;"><span style="font-family: trebuchet ms;">Demikianlah. Gambar ilustrasi dicomot dari buku Jon Agee, <em>Palindromania</em>. Oya, sedikit promosi, buku-buku fiksi dan nonfiksi karya Georges Perec dan Italo Calvino ada banyak di perpustakaan saya, <a href="http://kineruku.com" target="_blank"><strong>Kineruku</strong></a>.</span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/ira-hamil-lima-hari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Orang Sial jang Menemukan Saxofon</title>
		<link>http://budiwarsito.net/orang-sial-jang-menemukan-saxofon/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/orang-sial-jang-menemukan-saxofon/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Dec 2011 05:18:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Rupa-rupa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=1000</guid>
		<description><![CDATA[. Di saat yang hampir berbarengan dengan seorang kawan baik menuliskan pengamatannya yang jeli tentang tren saksofon di kancah musik populer 2011, saya membuka-buka koleksi majalah tua saya yang menumpuk di gudang dan menemukan sesuatu. Majalah Intisari no. 52, Nopember [sic] 1967 memuat artikel lima halaman tentang sejarah penemuan saksofon. Ceritanya seru dan mengundang rasa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2012/03/Adolphe-Sax-di-Intisari-52-Nopember-1967.jpg"><img class="aligncenter wp-image-1101" title="Adolphe Sax di Intisari 52, Nopember 1967" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2012/03/Adolphe-Sax-di-Intisari-52-Nopember-1967.jpg" alt="" width="432" height="324" /></a><span style="color: #ffffff;">.</span></p>
<p>Di saat yang hampir berbarengan dengan seorang kawan baik menuliskan pengamatannya yang jeli tentang <a href="http://madahbakti.blogspot.com/2011/12/2011-tahun-saxophone.html" target="_blank"><strong>tren saksofon di kancah musik populer 2011</strong></a>, saya membuka-buka koleksi majalah tua saya yang menumpuk di gudang dan menemukan sesuatu. Majalah <em>Intisari</em> no. 52, Nopember [sic] 1967 memuat artikel lima halaman tentang sejarah penemuan saksofon. Ceritanya seru dan mengundang rasa haru. Penuh semangat saya mengetiknya ulang&#8212;secara manual, bukan memindainya dengan perangkat lunak tertentu&#8212;untuk di-<em>post</em> di sini. Saya sengaja mempertahankan ejaan lamanya. Eh, maksud saya: Saja sengadja mempertahankan edjaan lamanja. Selamat membatja.<span id="more-1000"></span></p>
<h1 style="text-align: center;"><strong><span style="font-family: times new roman;">ORANG SIAL JANG MENEMUKAN SAXOFON</span></strong></h1>
<p><span style="font-family: times new roman; font-size: small;">— DJUARA DALAM MENDAPAT KETJELAKAAN<br />
— TUSUKAN PENITI JG MENENTUKAN<br />
— KLARINET KAJU DAN EMAS BEDAKAH SUARANJA?</span></p>
<p>Seorang kritikus musik bangsa Perantjis sedang ngobrol dengan kawan2nja tentang Adolphe Sax, penemu Saxofon. Mereka menjebutkan kemalangan2 jang menimpa orang itu sedjak ketjil sampai usia 30 tahun. Tetapi kritikus itu pada achirnja memberi komentar: “Kalian lupa akan ketjelakaannja jang terbesar !” Semua kawan2 memandangnja dengan mata bertanja. “Jaitu bahwa ia pernah menemukan alat musik itu”. Memang sampai achir hidupnja Sax banjak menderita karena penemuannja itu.</p>
<p><strong>Ramalan jang suram</strong><br />
Satu tahun sebelum pertempuran Waterloo (1815) lahirlah Adolph Sax dikota Dinant, jang terletak dipinggir sungai Maas di Belgi… Ajahnja seorang tukang membuat alat2 musik membuka bengkel di Brussel. Alat2 musiknja tjukup terkenal disana. Dari ajahnja itulah Adolphe mendapat keahlian membuat instrumen dan djuga pengetahuan jang mendalam tentang musik.</p>
<p>Ibunja kerapkali berkata : “Adolphe tidak akan hidup lama”. Utjapan itu bisa dimengerti kalau orang mengingat betapa hidup Adolphe penuh dengan kemalangan. Ketika hampir berumur 2 tahun, Adolphe menggelinding djatuh dari tingkat tiga lewat tangga dan kepalanja membentur batu. Tidak lama kemudian ia sudah tjukup kuat untuk menelan sebuah peniti, dan duduk diatas tungku sehingga lambungnja terbakar setjara mengerikan.</p>
<p>Pengalaman jang pahit ini tidak mampu mengekang anak jang bandel itu untuk selalu mentjoba2. Ketika ia berumur 3 tahun Adolphe minum asam belerang timah sari jang dikiranja susu. Hanja dengan disuapi banjak minjak, ususnja berhasil dibasuh dari ratjun jang berbahaja itu. Tetapi setelah sembuh ketjelakaan lain menerkamnja lagi. Ia main2 dengan mesiu bedil dan terluka karena terbakar. Kemudian ia berulang2 kena ratjun, seperti ratjun timah, kuningan dan warangan.</p>
<p>Suatu hari orang mengeringkan medja-kursi jang baru sadja dipernis dalam kamar Adolphe. Ketika ia tidur barang2 itu lupa dikeluarkan, sehingga paginja anak jang malang itu kedapatan lemas dirandjangnja kehabisan napas. Segalanja itu seolah-olah belum tjukup menjiksa hidup jang masih muda itu. Suatu hari sebuah batu djatuh dari atap tepat pada kepalanja, sehingga seumur hidupnja Adolphe menderita tjatjat karenanja, meski pikirannja jang gesit tak sedikitpun terpengaruh. Kemudian ketika bermain dengan teman2 ia djatuh kesungai dan tentu tertelan pusaran pintu air seandainja pada saat terachir tidak ada tangan penolong menjambarnja.</p>
<p>Itulah latar belakang dari ramalan ibunja jang suram itu. Seakan2 kemalangan itu belum tjukup pada umur 40 tahun ia diserang kanker pada bibirnja, namun Adolphe berhasil mentjapai usia 80 tahun. Dan setelah dewasa hidupnja tidak terantjam oleh keratjunan timah, ataupun warangan lagi, tetapi ada ratjun2 lain jang selalu mengganggunja: fitnah2 serta tuduhan.</p>
<p><strong>Kemenangan klarinet jang bolong</strong><br />
Saxofon bukanlah instrumen tunggal. Keluarga saxofon terdiri dari : saxofon sopran, alt, tenor, bariton dan bas. Semua memakai nama Saxofon. Pembuatan serta sifat2njapun tidak djauh berbeda. Tetapi tjoba bandingkan saxofon sopran dengan saxofon bas. Seperti baji dengan orang dewasa. Begitu djuga perbandingan suaranja.</p>
<p>Bagaimana asal mula Sax mentjiptakan alat2 itu ? Suatu hari sedang memainkan klarinetnja ia memutuskan hendak memperbaikinja. Ia selalu tidak puas dengan suaranja. Ia mentjoba2. Bas-klarinetnja di bolongi sebesar tusukan peniti. Lalu ditiupnja lagi. Sax jang muda itu melondjak kegirangan. Eksperimennja berhasil.</p>
<p>Dengan semangat Adolphe menundjukkan penemuannja itu pada dirigen orkes Philharmonis di Brussel. Ia diterima baik dan ditawari supaja memainkan alatnja jang baru itu dalam orkes tersebut. Tetapi seorang pemain klarinet pertama bentji melihat Sax jang begitu muda dan begitu pertjaja pada kemampuannja sendiri. Ia mengantjam akan keluar bila orkes jang sampai waktu itu begitu baik namanja direndahkan oleh masuknja seorang murid jang konjol.</p>
<p>Sax tidak putus asa. Ia menantang pemain itu untuk bertanding setjara terbuka. Pemain musik jang kenamaan itu dengan klarinetnja jang biasa, sedang ia akan memakai klarinetnja jang bolong. “Akan saja lumatkan dia seperti seekor lalat” begitu kata pemain klarinet itu dengan sombongnja. Tetapi 4000 orang penonton jang menghadiri pertandingan itu mengakui bahwa ia dikalahkan setjara mentjolok oleh pendatang baru jang pembrani itu. Pendidikan Sax disini membuktikan kegunaannja ! Tidak sia2 ia telah beladjar meniup alat2 musik.</p>
<p><strong>Long March 300 km.</strong><br />
Mana jang lebih indah suaranja : klarinet emas atau klarinet kaju ? Tentu banjak diantara anda jang mengira bahwa klarinet emaslah jang lebih unggul. Tetapi tidak demikian pendapat Adolphe Sax jang menjelesaikan penemuannja pada 27 tahun.</p>
<p>“Pada alat musik-tiup tinggi rendahnja nada ditentukan oleh pandjangnja kolom udara jang bergetar dalam bedjana instrumen itu. Bahan darimana bedjana itu dibuat samasekali tidak mempengaruhi nada suara”. Begitulah asas pertama jang mendasari penemuan Sax. Suatu asas jang memantjing ketidakpertjajaan banjak lawan2nja.</p>
<p>Untuk membuktikan thesisnja itu ia membangun sebuah klarinet kuningan. Suaranja samasekali tidak berbeda dari klarinet kaju jang biasa digunakan waktu itu. Dhadi bahan dari bedjana itu tidak mendjadi soal, asal ukuran2nja samasekali sama, demikian djuga permukaannja haruslah sama halusnja. Selain itu dengan pertjobaan ini ia djuga membuktikan bahwa peranan bahan pada alat tiup tidak sama pada instrumen gesek. Pada biola misalnja, rongga badannja merupakan basis suara jang memperbesar getaran tali2nja, maka dasar suara itu mempengaruhi rona nadanja.</p>
<p>Pertimbangan2 ini membawa Sax kepada asas jang kedua. “Supaja kolom udara dalam bedjana itu bergetar dengan bebas, maka pada instrumen tiup bedjana itu semakin mendekati udjung haruslah semakin besar. Demikian djuga mengenai lubang2 nadanja.</p>
<p>Kalau seruling dan klarinet dimana2 pada tubuhnja sama besar, maka pada penampang bedjana saxofon alat jang pada bagian mulut hanja sebesar 2 milimeter pada tjorong makin membesar sampai 10 kali lipat. Ini memberikan bentuk jang chas: tubuh jang rundjung makin ke udjung makin menggembung. Tetapi djuga menjebabkan saxofon memiliki “suara manusia” dan luwes untuk dimainkan.</p>
<p>Sax berumur 28 tahun ketika ia mengemasi instrumennja, mengantongi uang sebanjak 7 dollar dan berangkat ke Paris. Djalan kaki 300 km untuk menjiarkan penemuannja kepada dunia.</p>
<p><strong>Orkes jang diboikot.</strong><br />
Pertemuannja dengan komponis Berlioz sangat menggembirakan hati Sax. Ia mendapat kesempatan mempertundjukkan penemuannja. Berlioz terharu dan menulis artikel pandjang tentang Sax dan instrumennja. Tetapi hal ini hanja membangkitkan iri hati dari saingan2nja jang menggunakan segala tjara untuk menggagalkan Sax. Misalnja sadja ketika komponis Donizetti, pentjipta “Lucia di Lamermoor” mau menggunakan bermatjam2 instrumen jang telah diperbaiki Sax untuk gala premiere suatu opera baru di Paris. Lawan2 Sax mendekati pemain2 musik opera tersebut dengan sogokan supaja mereka memprotes rentjana Donizetti. Dan mereka berhasil.</p>
<p>Sementara menelan kegetiran dari kegagalannja, Sax terus berusaha. Dalam tahun 1845 ia mengadjukan usul kepada pemerintahan Perantjis untuk mengorganisir orkes militer dengan saxofon. Usulnja diterima, tetapi terlebih dahulu harus melewati udjian. Ia diminta memimpin satu orkes jang dikurangi 8 klarinet, semua hobo dan fagotnja dan diganti dengan “keluarga” Saxofon. Orkes ini akan bertanding dengan suatu orkes lengkap dimana 14 klarinet ambil bagian penting dibawah pimpinan Carafa, jang setjara fanatik melawan Sax.</p>
<p>Pada hari jang ditentukan penonton berdujun2 pergi ke Champs de Mars di Paris untuk menjaksikan perlombaan dua orkes Militer itu. Djuri djenderal de Rumingny telah hadir. Demikian pula Carafa dengan orkesnja jang komplit. Tetapi dalam orkes Adolphe tudjuh kursi kosong : para pemain jang harus memegang saxofon tidak hadir. Mereka mengingkari kontraknja karena sogokan lawan2 Sax.</p>
<p>Perlombaan tetap berlangsung. Sax sendiri berganti2 memainkan saxofonnja. Pada waktu orkesnja mulai beraksi, timbul keributan demonstrasi2 mengatjau. Tetapi pada achirnja meledak tepuk sorak jang mengguntur untuk menghormatinja. Ia menang. Surat kabar2 muntjul dengan artikel2 jang memudjinja. Setelah ditimbang matang2, perbaikan dari Sax diterima oleh pemerintah Perantjis.</p>
<p><strong>Ditantang sampai achir.</strong><br />
Tetapi dengan kemenangannja itu belum selesailah pertjobaan hidup Adolphe Sax. Tuduhan demi tuduhan dilantjarkan oleh lawan2nja jang djahat untuk mendjatuhkannja. Ia mendjadi bulan2an fitnah dan sampai achir hidupnja ia terlibat dalam proses2 pengadilan jang banjak menghasilkan waktu dan uang. Waktu itu haktjipta dan hak patent lebih mudah digelapkan dari pada sekarang. Bersamaan dengan usaha mendjelekkan nama Sax, para lawannja djuga mentjuri menggunakan penemuannja pada instrumennja sendiri tanpa memberinja bajaran.</p>
<p>Sepandjang sedjarah Adolphe Sax adalah penemu jang paling djago dalam soal bertanding. Setiap tantangan diterimanja dan tak sebuah serangan dibiarkan tanpa balasan. Perkara2nja banjak menggerogoti modalnja. Tetapi achirnja ia berhasil : Tidak hanja saxofon2nja tetapi semua penemuan2 lainnja mendapat pengakuan. Sekarang ini tak bisa dibajangkan orkes harmoni atau fanfare (orkes tiup) tanpa adanja saxofon. Begitu djuga orkes hiburan.</p>
<p><span style="font-size: 90%;">&#8212;Diketik ulang dengan sukarela oleh Budi Warsito dari majalah <em>Intisari</em> no. 52, Nopember 1967 hlm. 85-89.</span></p>
<p><a href="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2012/03/Intisari-nomor-52-Nopember-1967.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1103" title="Intisari nomor 52, Nopember 1967" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2012/03/Intisari-nomor-52-Nopember-1967-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/orang-sial-jang-menemukan-saxofon/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Empat Menit, Sehat Sempurna</title>
		<link>http://budiwarsito.net/empat-menit-sehat-sempurna/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/empat-menit-sehat-sempurna/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Nov 2011 07:53:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Rupa-rupa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=970</guid>
		<description><![CDATA[. Aku senam, maka aku ada. Mengenang kembali Senam Kesegaran Jasmani (SKJ), senam wajib yang sempat populer di era Orde Baru, sejatinya adalah mengulang pengalaman-olahraga-empat-menit yang absurd. Atas nama nostalgia, saya mengunduh file musik pengiring SKJ &#8217;88 dari internet, berdurasi 04:19, lalu menyetelnya keras-keras di kamar. Mendapati intro lagunya berupa bunyi peluit yang bersahut-sahutan—saya baru [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2012/02/SKJ_still.jpg"><img class="aligncenter wp-image-1069" title="SKJ_still" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2012/02/SKJ_still.jpg" alt="" width="448" height="336" /></a><span style="color: #ffffff;">.</span></p>
<p style="text-align: center;"><em>Aku senam, maka aku ada.</em></p>
<p>Mengenang kembali Senam Kesegaran Jasmani (SKJ), senam wajib yang sempat populer di era Orde Baru, sejatinya adalah mengulang pengalaman-olahraga-empat-menit yang absurd. Atas nama nostalgia, saya mengunduh <em>file</em> musik pengiring SKJ &#8217;88 dari internet, berdurasi 04:19, lalu menyetelnya keras-keras di kamar.</p>
<p>Mendapati intro lagunya berupa bunyi peluit yang bersahut-sahutan—saya baru menyadarinya sekarang—langsung muncul prasangka di kepala saya: jangan-jangan itu semacam perlambang obsesi Orde Baru atas ketertiban dan stabilitas, karena bukankah itu gunanya peluit? Pak Polantas nan gendut meniupnya di jalan raya demi menyetop sepeda motor yang melanggar lampu merah. Wasit sepakbola memakainya di lapangan untuk menyemprit bek kiri yang terlalu keras mengganjal penyerang lawan. Dan bagaimana mungkin saya lupa guru olahraga di SD dulu, yang setelan baju <em>training</em> dan wibawanya terasa kurang afdol jika tanpa kalung peluit di lehernya? Dialah yang biasa berteriak-teriak lewat pengeras suara setiap Jumat pagi, sambil sesekali membunyikan peluit saktinya, gusar karena murid-muridnya sangat susah untuk sekadar berjejer rapi di halaman sekolah. Setelah barisan dirasa cukup solid dan enak dipandang, barulah semuanya—guru, murid, karyawan TU, tanpa terkecuali—dengan semangat &#8220;tiada hari tanpa olahraga&#8221; tunduk patuh pada <em>tape compo</em> butut yang mengumandangkan komposisi gagah karya <a href="http://hurek.blogspot.com/2007/01/n-simanungkalit-bapak-paduan-suara.html" target="_blank"><strong>N. Simanungkalit</strong></a> itu.<span id="more-970"></span></p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/11/Kaset-SKJ-88.jpg"><img class="aligncenter wp-image-1075" title="Kaset SKJ '88" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/11/Kaset-SKJ-88.jpg" alt="" width="432" height="324" /></a></p>
<p>Namun ketika tiba di menit kedua dari sesi mendengar <em>file</em> unduhan tadi, yang kemudian berkelebat di pikiran saya justru kenangan-kenangan masa kecil yang langsung meruntuhkan prasangka tentang obsesi ketertiban tersebut. Adegannya seperti ini: setelah berjalan di tempat selama 2 x 8 hitungan untuk pemanasan, menurut aturan baku, peserta senam seharusnya bergerak serentak berbalik menghadap ke kanan. Tapi selalu saja ada di antara kami, namanya juga anak SD, yang malah sengaja menghadap ke arah sebaliknya. Jadilah beberapa muka saling berhadap-hadapan, dan kami pasti tertawa cekikikan karenanya. Juga di gerakan-gerakan selanjutnya: sengaja mendorong tangan ke samping secara berlebihan hingga menyenggol bahu teman di sebelah, dan seabrek adegan <em>slapstick</em> lainnya. Kepatuhan ternyata tak selalu berjalan dengan semestinya. Di negeri yang penuh bakat-bakat pelawak ini, kepatuhan yang dipaksakan hanya akan menghasilkan lelucon.</p>
<p>Mungkin SKJ memang bukan soal kepatuhan, melainkan tentang bersenang-senang. Jumat pagi bisa berarti kesempatan emas melihat kecengan di luar kelas. Meski hanya bisa menatapnya dari jauh, itu pun dari belakang, tapi pemandangan sang pujaan melompat-lompat lucu mengikuti irama lagu tak jarang bikin hati ini ikut melompat-lompat. Apalagi di gerakan tertentu, yang apa boleh buat selalu sukses bikin rok dia sedikit tersingkap, jelas adalah bonus vitamin A yang luar biasa untuk ukuran saat itu. Tak kalah menyenangkan, ketika mendapati guru matematika berkacamata tebal yang biasanya tampil menakutkan dengan penggaris besi di depan kelas, tiba-tiba melenggak-lenggok jenaka ke kanan dan ke kiri. Rasanya absurd.</p>
<p>Menengok sejarahnya, bisa jadi SKJ memang lahir dari keinginan untuk lebih bersenang-senang. Ia semacam koreksi dari senam massal sebelumnya, Senam Pagi Indonesia (SPI). Masyarakat kita mulai mengenal SPI ketika Presiden Soeharto menyebutkannya dalam <a href="http://www.bappenas.go.id/node/42/1812/pidato-kenegaraan-tahun-1975/" target="_blank"><strong>pidato kenegaraan</strong></a> di depan sidang DPR, 16 Agustus 1975, &#8220;&#8230;<em>ini sangat besar manfaatnya bagi pembinaan raga, juga agar kita tetap sehat dan lincah, serta untuk menggerakkan dan menggelorakan lagi semangat berolah raga.</em>&#8221; Sejak itulah pemerintah mewajibkan sekolah-sekolah melakukan senam pagi sebelum pelajaran dimulai. Gerakannya diramu dari jurus-jurus silat asli Indonesia (konon beberapa pengurus Ikatan Pencak Silat Indonesia banyak terlibat di perumusannya), dengan sedikit banyak pengaruh taisho, yakni senam khas Jepang yang biasa dilakukan pagi-pagi dengan menghadap ke arah matahari sebelum beraktivitas sehari-hari.</p>
<p>Tapi masalahnya, meski ada siaran petunjuk gerakan SPI di TVRI setiap hari Minggu pagi, bagi beberapa kalangan gerakan senam ini tetap dirasa sulit. Salah satunya, Ismail Marahimin, di majalah <a href="http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/1983/04/02/KL/mbm.19830402.KL45636.id.html" target="_blank"><strong><em>Tempo</em>, 2 April 1983</strong></a>, menuliskan kritiknya, &#8220;<em>Gerakan-gerakannya sangat tidak sederhana. Dalam satu hitungan terdapat dua, tiga, bahkan empat gerakan, yang jika dilaksanakan dengan baik memang akan menghasilkan sederetan gerakan indah. Namun sangat rumit, sehingga akan menimbulkan perasaan kikuk pada orang awam</em>.&#8221; Ismail yang kebetulan sempat mengalami masa wajib taisho di zaman pendudukan Jepang, bahkan menilai urutan gerakan SPI tak memenuhi standar dalam melatih otot-otot tubuh secara nyaman. Dia mengusulkan perlu adanya senam baru yang lebih sederhana, logis, dan populer. Jika perlu, imbuhnya, ajak artis terkenal untuk ikut kampanye, seperti Bob Tutupoly atau Gepeng. Maka lahirlah SKJ, yang pertama kali diperkenalkan pemerintah pada 11 Maret 1984 (perhatikan tanggalnya, keramat ala Orde Baru), di era Menpora legendaris Abdul Gafur.</p>
<p>Berhasilkah usaha SKJ ini, terutama dalam &#8220;memasyarakatkan olahraga, dan mengolahragakan masyarakat&#8221;? Seorang ibu dari Cilacap cukup serius menulis surat pembaca di harian <em>Kompas</em>, 8 Mei 1984, &#8220;<em>&#8230;kami menghimbau agar TVRI juga menyajikan peragaan dan petunjuk untuk SKJ secara gerak lambat. Sehingga seluruh lapisan masyarakat yang berminat dapat belajar sendiri.</em>&#8221;</p>
<p><a href="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/11/SKJ-klipingKompas.jpg"><img class="aligncenter" title="SKJ-klipingKompas" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/11/SKJ-klipingKompas.jpg" alt="" width="414" height="426" /></a></p>
<p>Sementara dari obrolan dengan teman-teman sebaya saya yang mengalami olahraga semi-didaktis ini, hampir semuanya tersenyum ketika mengingat kesan mereka tentang SKJ: kocak, <em>fun</em>, seru! Beberapa menjawab: nggak penting; tetap sambil cengengesan. Rupanya bagi beberapa siswa, empat menit yang harus rutin dilalui tiap pekan itu bukanlah beban. Itu hanya formalitas santai layaknya jadwal piket kelas yang penuh dengan lempar-lemparan kapur, penghapus, bahkan sapu. Jika Warkop DKI saja sampai merasa perlu memasukkan adegan senam nasional ini di <a href="http://youtu.be/5Cp_WmxTg5I" target="_blank"><strong>salah satu film mereka</strong></a>—pemerannya Eva Arnaz berkaos yukensi, lengkap dengan pameran bulu keteknya—bukankah itu kian menegaskan kekocakan senam ini?</p>
<p>Mungkin Anda pernah juga mendengar tebak-tebakan garing ini, yang sempat beredar luas di pergaulan, &#8220;Tank apa yang bikin sehat?&#8221; Jawabannya menyebalkan, &#8220;<em>Tank, teng, teng, teng, teng, teng&#8230;</em>&#8221; yang harus diucapkan sesuai nada SKJ ’84. Boleh jadi tak semua orang tertawa karenanya. Tapi guyonan itu, selain jahilnya yang khas Indonesia, juga bisa dibaca sebagai pengakuan kolektif bawah sadar kita bahwa SKJ <em>memang</em> bikin sehat. Sampai hari ini, tiap kali mau berolahraga dan harus melakukan gerak pemanasan sebelumnya, disadari atau tidak, yang saya pakai adalah <a href="http://youtu.be/ECn1Q_hXvlc" target="_blank"><strong>langkah-langkah SKJ</strong></a>. Rupanya, setelah sekian tahun, seri gerakan itu tetap bersemayam di ingatan.</p>
<p>Mengenangnya kembali, kali ini dengan lebih serius dan dahi berkerut, berat hati saya harus mengakui: jangan-jangan ucapan Soeharto tentang &#8220;agar kita tetap sehat dan lincah&#8221; itu benar adanya. Karena setiap beres ber-SKJ-ria, saya yang termasuk cukup serius dalam menjalaninya langsung merasa lebih semangat dan lincah di kelas sepanjang hari. Bisa jadi itu cuma efek dari melihat singkapan rok pujaan hati atau tertawa karena tingkah konyol teman-teman ketimbang kesehatan jasmani, tapi bukankah jiwa dan raga saling berhubungan? Jargon paling beken di dunia olahraga ini rasanya harus sedikit dipelintir: <em>mens senam in corpore sano.</em> Dalam senam yang sehat, terdapat jiwa yang kuat.</p>
<p style="text-align: right;">[<strong>Budi Warsito</strong>]</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p><span style="font-size: 90%;">Tulisan ini dimuat di rubrik Olahraga majalah <strong><em>Bung!</em></strong> edisi perdana, Oktober 2011, hlm. 77-78. Majalah pria dewasa dwibulanan terbitan ruangrupa ini bisa didapatkan di <a href="http://www.twitter.com/rurushop" target="_blank"><strong>Ruru Shop</strong></a> (Jakarta) dan <a href="http://kineruku.com" target="_blank"><strong>Kineruku</strong></a> (Bandung).</span></p>
<p><a href="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/11/SKJ-MajalahBung.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1084" title="SKJ-MajalahBung" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/11/SKJ-MajalahBung-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p><span style="color: #000000;">&gt;&gt; Yuk, unduh <a href="http://www.4shared.com/audio/ETpXRN50/SENAM_SKJ_88.htm" target="_blank"><strong>musik SKJ &#8217;88</strong></a> untuk memulai pagi-pagi Anda dengan lebih semangat!</span></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/empat-menit-sehat-sempurna/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Fell in Love with Planet Zeke</title>
		<link>http://budiwarsito.net/fell-in-love-with-planet-zeke/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/fell-in-love-with-planet-zeke/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 Oct 2011 13:07:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Rupa-rupa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=587</guid>
		<description><![CDATA[. Di jadwal RRRec Fest pada peringatan 10 Tahun ruangrupa awal Januari 2011 lalu, tertera jelas: Zeke Khaseli bakal bermain di panggung outdoor setelah Bangkutaman. Dari kejauhan terdengar intro lagu &#8220;Blue Bird Taxi&#8221;, saya langsung bergegas sambil menyesal kenapa datang terlambat. Sesampainya di sana, ada pemandangan mengherankan. Tak ada Zeke di situ. Di atas panggung, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/09/ZekeDiRuku.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-898" title="KONICA MINOLTA DIGITAL CAMERA" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/09/ZekeDiRuku.jpg" alt="" width="448" height="297" /></a><span style="color: #ffffff;">.</span></p>
<p>Di jadwal RRRec Fest pada peringatan 10 Tahun ruangrupa awal Januari 2011 lalu, tertera jelas: Zeke Khaseli bakal bermain di panggung <em>outdoor</em> setelah Bangkutaman. Dari kejauhan terdengar intro lagu &#8220;Blue Bird Taxi&#8221;, saya langsung bergegas sambil menyesal kenapa datang terlambat. Sesampainya di sana, ada pemandangan mengherankan. Tak ada Zeke di situ. Di atas panggung, sekelompok anak muda tampak cuek memainkan lagu itu dengan gaya indie-rock lo-fi ala Pavement. Lagu-lagu berikutnya pun dibawakan tanpa basa basi, semuanya bergulir cepat, ringkas, tanpa penjelasan. Dan tak satupun dari mereka mengenakan kostum-kostum aneh: tak ada Boylien, Obama berkepala besar, pria dengan helm dan piyama, bunyi sirene, ataupun poster salak. Ada apa ini? Kenapa bukan Zeke Khaseli dan pasukan bertopengnya yang memainkan repertoire <em>Salacca Zalacca</em>?<span id="more-587"></span></p>
<p>Tak jauh dari panggung, Zeke malah duduk-duduk di belakang <em>soundsystem</em>, memainkan pengendali video yang ditembakkan dari <em>laptop</em>-nya ke layar panggung. Gaya visual itu sebetulnya tak jauh beda dengan kebiasaan konser <em>Salacca Zalacca</em>: di layar ada sosok &#8216;mirip Zeke&#8217;, lengkap dengan blazer hitam, kacamata bingkai tebal, dan topi khasnya. Tapi di video jelas bukan Zeke, itu orang lain yang didandani menyerupai dan berakting di depan kamera. Apa Zeke sedang bercanda? Dengan ekspresi bertanya-tanya, saya menghampiri Harlan &#8216;Bin&#8217; Boer dari Jangan Marah Records. Bin hanya bisa tertawa-tawa sambil geleng-geleng kepala.</p>
<p>Reidvoltus, band dari Bogor, tampil di panggung meng-<em>cover</em> lagu-lagu album <em>Salacca Zalacca</em> atas nama musisi aslinya dan mengecoh penonton (setidaknya saya); hanyalah satu dari sekian banyak ide aneh seorang Zeke Khaseli.</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p>Keesokan harinya, di salah satu meja Dunkin&#8217; Donuts Melawai, saya berusaha mengorek isi kepala Zeke Khaseli, kini 33 tahun, yang sepertinya sudah lama dipenuhi dengan lirik-lirik absurd, adegan-adegan film sci-fi klasik favoritnya, selera humor ganjil, ambisinya untuk terus menerus bermusik, serunya membuat lagu sendiri di kamar dan merilisnya rutin tiap akhir pekan.</p>
<p>Sambil mengaduk kopi dan menyantap sarapannya yang terlambat, Zeke membuka ceritanya.&#8221;Gue suka Reidvoltus. <em>Attitude </em>mereka asyik.&#8221; Dia mengaku para personel Reidvoltus hanya butuh waktu seminggu untuk berlatih lagu-lagu ciptaannya, itupun tanpa sempat sekali pun bertemu Zeke. Di konser semalam, karakter permainan mereka yang kuat berhasil menghadirkan satu lagi nuansa aneh dari sebuah album yang sebenarnya sudah aneh dari awalnya.</p>
<p>Apa itu berarti album <em>Salacca Zalacca</em> cukup diterima publik? &#8220;Gue nggak tahu. Tapi pernah di beberapa <em>show</em>, penonton di baris depan teriak-teriak ikut nyanyi. Orang-orang itu hapal lagu gue, bahkan bagian rap-nya. Kadang-kadang itu sudah cukup.&#8221;</p>
<p>April 2010 lalu, saya beruntung menjadi salah satu saksi mata dari konser perdana Zeke Khaseli dengan album <em>Salacca Zalacca</em>, di Bumi Sangkuriang, Bandung. Sebenarnya materi-materi lagunya yang mencampuradukkan berbagai <em>genre</em> itu sudah pernah dirilis gratis satu per satu sejak November 2009 di situs pribadi Zeke, tapi malam itu adalah kali pertama dia membawakannya secara <em>live</em>. Penonton sempat dibuat bengong dengan kemunculan aneh para pemusiknya: gitaris dan drummer dengan jubah panjang warna kuning (sebenarnya lebih mirip jas hujan), dengan muka tertutup topeng beruang. Sementara Zeke, bertopeng harimau, mengutak-atik <em>laptop</em> yang dipaksanya menyemburkan suara-suara aneh layaknya musik latar film-film sci-fi lama berbujet rendah. <em>Sound</em>-nya menggelegar—di beberapa lagu volumenya memekakkan kuping dan saya merinding—di mana segala bebunyian eklektik dan vokal aneh Zeke saling tumpang tindih dengan warna-warni video yang disorot ke <em>backdrop</em>.</p>
<p>Zeke bergumam di satu lagu, kata-katanya seperti meracau, sedikit nyinyir tapi kocak, lantas berteriak lepas di lagu lainnya. Bunyi theremin yang menyayat seperti memanggil-manggil makhluk dari galaksi lain, yang entah muram atau riang, atau kombinasi keduanya. Dia tersenyum ketika <em>laptop</em>-nya ngadat lagi, seolah-olah itu hal biasa, mengambil gitar kecil (sumpah, saya mendengar nafas lega dari <em>laptop</em> itu!), lalu dengan cueknya nge-rap, &#8220;<em>Pusing tujuh bling bling/ pump up valium/ tidur mulut senyum…</em>&#8221; Rasanya seperti berkaraoke semalam suntuk setelah di-PHK, di lokasi syuting film <em>Satyricon</em> dengan kru <em>lighting</em> yang mabok. <em>What a freakshow</em>!</p>
<p>Jelas dia sangat bersenang-senang di malam <em>launching</em> itu. &#8220;Itu salah satu konser terbaik gue. Atmosfernya susah diulangi, bahkan di 30 kali konser setelahnya.&#8221; Tapi tak bisa dipungkiri, makin hari konsernya makin tak lazim. Jika tak ramai oleh penonton pun, panggungnya sudah penuh sesak dengan karnaval para kru yang bersukaria. Personel <em>backing band</em>-nya makin meriah (ada yang tugasnya &#8216;hanya&#8217; mondar-mandir mengacungkan gambar salak, atau membunyikan megafon, tapi itu saja sudah seru!), dan ternyata semuanya menikmati menjadi <em>anonymous</em> di balik topeng. &#8220;Gue belinya di satu toko kostum di Jepang. Awalnya cuma pengen nonton konser reuni Pavement doang, tau-tau pulang bawa satu koper penuh isi topeng-topeng.&#8221;</p>
<p>Selama tur panjang artis-artis Jangan Marah Records di kota-kota sepanjang Jawa (dari Bogor hingga Malang), kekacauan mulai terjadi di hampir setiap <em>venue</em>, dimana makin banyak sosok berkostum aneh berseliweran di panggung, berbaur dengan penonton menari-nari di tiap lagu. &#8220;Raymond, <em>additional player</em>-nya Bangkutaman, awalnya cuma bantuin gitar akustik tiap kali Acum dkk manggung, tapi lama-lama dia mau juga jadi Boylien di konser <em>Salacca Zalacca</em>, hahaha!&#8221; tawa riang Zeke lebih mirip anak kecil menyambut anggota geng baru. Bahkan Cholil dari Efek Rumah Kaca pun tak ragu tampil memakai jas hujan warna hijau, saat Zeke membantu mengacak-acak lagu &#8220;Kenakalan Remaja di Era Informatika&#8221; dengan bunyi-bunyian theremin yang ganjil. (Zeke khusus memesan alat-musik-tanpa-disentuh ini ke Evan Storn, spesialis pembuat instrumen musik elektronik di Bandung. Ketika saya menunjukkan koleksi saya, film dokumenter tentang Leon Theremin, si ilmuwan jenius dari Rusia penemu alat itu, Zeke langsung membawa pergi DVD itu hingga kini.)</p>
<p>Publik mulai menanggapi album solo pertama Zeke ini, meski tak semuanya antusias. Hanya beberapa radio yang sempat memutarnya, dan media massa <em>mainstream</em> seperti enggan mengulasnya. Ketika seorang wartawan majalah musik terkemuka secara gegabah menyebut <em>Salacca Zalacca</em> sebagai album musik folk, saya mengernyitkan kening dan berpikir apakah seseorang sedang teler dan salah mengambil CD. Sementara di sisi lain, penggemar loyal mulai bermunculan. Mereka menyambangi tiap konsernya—<em>artwork</em> poster publikasinya selalu menarik—mungkin sambil menebak-nebak karakter baru apa lagi yang bakal muncul kali ini. Beberapa mulai mengutip lirik-liriknya di akun <em>social media</em>: &#8220;Dark Justice&#8221; dianggap sangat relevan dengan supremasi hukum yang makin kacau di negeri ini, &#8220;…<em>dark justice/ sistem yang paling cuek/ bener salah/ salah bener/ yang nambah cuma masalah</em>.&#8221; Di acara puncak Pasar Seni ITB 2010, seorang penonton ikut naik ke panggung besar dengan percaya diri, dan berbagi mikrofon dengan Zeke meneriakkan lirik &#8220;…<em>gue mau, semua mau, jadi</em>…<em> man of the hour!</em>&#8221;</p>
<p>Tapi lagu &#8220;Man of the Hour&#8221; bisa jadi memang paling tepat menggambarkan etos kerja Zeke. Diawali kata-kata &#8220;<em>Jagoan selalu naik kuda putih,</em>&#8220;, disambung dengan &#8220;<em>Masuk kamar/ nonton DVD/ hari libur sama dengan hari kerja</em>…&#8221;, bukankah itu terdengar seperti personifikasi dirinya sendiri: rekaman musik kamar/ penggila film/ <em>full-time musician</em>?</p>
<p>Film, salah satu minat terbesarnya, memang punya porsi besar di musikalitas Zeke. Sejak kemunculannya pertama kali di <em>scene</em> musik Indonesia bersama band LAIN, yang justru terbentuk di Seattle, sebenarnya karya-karya Zeke sudah pekat dengan aroma sinematis. Salah satu lagu terkuat di album <em>Djakarta Goodbye</em> (2003) memuat lirik &#8221; …<em>cloning, replicating with a ghost&#8217;s cell biomythical…</em>&#8220;—terdengar seperti satu premis menjanjikan untuk film sci-fi era &#8217;80-an. Kalimat di lagu lainnya, &#8220;<em>…dreaming the megapolis/ big city style you&#8217;re on your own/ tuning in bali’s police/ arrest the mind the thought of young…</em>&#8221; selalu mengingatkan saya pada robot Maria dan para pekerja di mahakarya Fritz Lang. Sementara piano di <em>track</em> penghujung album mengisyaratkan bakal seperti apa kira-kira film Kubrick pasca <em>Eyes Wide Shut</em> seandainya dia tidak keburu meninggal: &#8220;…<em>listen big shot/ under your bed/ boogeyman</em>…&#8221; Nada suara Zeke tak tertebak ketika mengaku kepada saya, &#8220;Yang bikin gue nyesel dari LAIN, kenapa cuma sempet bikin satu album. Rasanya kayak ada yang kepotong.&#8221;</p>
<p>Proyek dia berikutnya, Zeke and the Popo, juga hanya menelurkan satu EP dan satu album penuh, <em>Space in the Headlines</em> (2006), yang disebut majalah <em>Tempo</em> sebagai &#8220;The Beatles yang sakit&#8221;. Rekaman muram ini cukup imajinatif, lengkap dengan karakter ikonik si manusia berkepala tank, juga <em>sample vocal</em> dari serial televisi Hitchcock—salah satu sutradara favorit Zeke. (&#8220;Kalau kata gue <em>Rebecca</em>!&#8221; sergahnya ketika saya menyebut <em>The Birds</em> sebagai film terbaik Hitchcock.) Zeke and the Popo juga sempat menyumbang beberapa lagu untuk film <em>Janji Joni</em> (Joko Anwar, 2005), salah satunya tepat di adegan paling monumental: kamera <em>slow motion</em>, Sujiwo Tejo melempar tas Nicholas Saputra ke kobaran api.</p>
<p>Zeke terjun penuh ke dunia film dengan menulis musik latar di beberapa karya fenomenal sinema Indonesia modern: <em>KALA </em>(Joko Anwar, 2007) dan <em>Rumah Dara</em> (Mo Brothers, 2009). Di film <em>Fiksi. </em>(Mouly Surya, 2008), Zeke meraih Piala Citra sebagai penata musik terbaik. Bersama proyeknya yang lain, Mantra, dia ikut menggarap musik untuk <em>Pintu Terlarang</em> (Joko Anwar, 2009). Apakah itu semua yang membuat <em>Salacca Zalacca</em> sarat dengan referensi film? Lagu &#8220;Ketimur-timuran&#8221; menyebut judul-judul film seperti <em>Kill Bill, New York I Love You, Lawrence of Arabia,</em> juga keprihatinan Zeke pada lirik &#8220;…<em>bikin sutradara slave produser…</em>&#8221; Sementara lagu &#8220;Shit Is So Yesterday, Moralist Happens&#8221; lebih menohok lagi, &#8220;<em>…sekali-kalinya ada film lokal keren/ di bioskop cuma 5 hari.</em>&#8221;</p>
<p>Meski bisa diartikan sebagai kritik sosial Zeke atas hal-hal di sekitarnya, rupanya dia terlalu introvert untuk membicarakan lirik-lirik lagunya. Komentarnya pendek, &#8220;Gue cuma pengen make bahasa yang seasli-aslinya. Bahasa lisan gue yang seutuh-utuhnya. Yang begitu ditulis malah jadi aneh.&#8221;</p>
<p>Bagaimana tidak aneh? Album <em>Salacca Zalacca</em> berisi 17 lagu yang <em>track listing</em>-nya akhirnya disusun sesuai abjad karena terlalu banyak. Dan itu artinya 17 narasi tak beraturan tentang, <em>well</em>, apapun. Tapi justru di situ daya tariknya. Di lagu pembukanya, <em>11:01,</em> Zeke langsung meracau soal perjalanan udara ke rumah teman dekatnya yang baru saja meninggal, dan harus menulis lagu untuk upacara pemakamannya, &#8220;<em>Andy ninggalin pacarnya sendirian di hujan/ padahal masa depan mereka lumayan cerah/ untungnya pas sebelum mati sempet berubah/ jadi makhluk penyayang binatang.</em>&#8221; Astaga, kisah macam apa ini?</p>
<p>Jika Slank formasi awal mampu menulis lirik absurd di &#8220;Pak Tani&#8221;—salah satu lagu <em>giting</em> terbaik mereka &#8220;&#8230;<em>petani bajak sawah pake traktor/ kerja rutin kontrol sawah/ numpak Harley ngitung laba panen pake komputer/ ngirim order beras pake helikopter</em>&#8230;&#8221;; maka kalimat Zeke di &#8220;Man of the Hour&#8221; bisa dipertimbangkan sebagai sekuel yang tak kalah <em>ngaco</em>, &#8220;&#8230;<em>helikopter boy/ ego main lego/ ayo semua tepuk tangan buat film spesial efek/ kapten kapal api/ di laut mati</em>&#8230;&#8221;</p>
<p>Dan jangan lupa, sepenggal lirik di &#8220;Ballet Paranormal&#8221; adalah <em>pick-up line</em> abad ini: &#8220;<em>…pelukan di halte bus/ dia senyum, hujan reda…</em>&#8221; Obbie Messakh boleh berbangga, sekarang dia punya penerusnya.</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p>Saya terpaksa minta pelayan di Dunkin&#8217; Donuts mengecilkan volume TV mereka yang mulai terasa berisik, atau mungkin kami sudah terlalu capek ngobrol, sementara Zeke berdiri terhuyung memesan kopi untuk kedua kalinya, dan mengaku, &#8220;Sebenernya gue baru sempet tidur 2 jam.&#8221;</p>
<p>Obrolan bisa berakhir saat itu juga, tapi saya tak rela melewatkan kesempatan mengorek ambisi musikal dia selanjutnya. &#8220;Jujur gue nikmatin banget segala macem kehebohan <em>Salacca Zalacca</em> ini. Bener-bener bersenang-senang! Tapi sekarang, gue harus nyoba yang lain.&#8221; Dan hal-hal lain itu berarti: meneruskan merilis lagu mingguan (<em>weekly download</em>) dari kamarnya, menulis lirik dalam bahasa Inggris lagi, dan kembali ke akar musik yang dia sukai sejak lama, <em>psychedelic</em>.</p>
<p>Jika pengalamannya berada di lautan manusia saat konser reuni Blur di London Juli 2009 punya andil besar memacu dirinya membuat <em>Salacca Zalacca </em>(&#8220;Damon Albarn itu gila-gilaan produktifnya, semua wilayah musik dia coba.&#8221;), maka kali ini konser The Flaming Lips di Singapore November 2010 yang melecut semangat Zeke. &#8220;Wayne Coyne itu sinting. Energik banget! Umurnya udah hampir 50 tahun, tapi tetep aja total bikin musik dan konsernya. Bahkan dia pernah pakai darahnya sendiri untuk campuran cat poster manggungnya.&#8221;</p>
<p>Di konser itu Zeke sempat bertemu Coyne di belakang panggung. Dalam satu percakapan singkat, Zeke hanya sempat memperkenalkan dirinya sebagai <em>bedroom musician</em>, setelah menitipkan CD <em>Salacca Zalacca</em> ke seseorang untuk Coyne. Cita-cita sebenarnya adalah: mengajak Coyne menyanyi bareng &#8220;My Cosmic Autumn Rebellion&#8221;—kebetulan tak dibawakan The Flaming Lips malam itu—dan merekamnya dengan kamera video. Sayang permintaan unik dari sang penggemar berat itu tak sempat dilontarkan. Besoknya, kekecewaannya sedikit terobati: di bandara Zeke tak sengaja berpapasan dengan Steven Drozd, gitaris The Flaming Lips. Lucunya, Drozd langsung memuji sepatu Zeke, &#8220;<em>Nice shoes, man</em>.&#8221; Zeke jelas bangga setengah mati. Ketika saya ingatkan konon Damon Albarn pertama kali berkenalan dengan Graham Coxon dengan langsung mengomentari betapa jeleknya sepatu Graham, Zeke langsung bereaksi, &#8220;Oh <em>shit</em>, Damon bilang sepatu Graham jelek? Gawat, ini Steven kok malah bilang sepatu gue bagus! Sialan.&#8221;</p>
<p>Delapan lagu baru pun tercipta. Meski <em>mood</em>-nya kini berbeda, tapi semuanya masih kental tanda tangan Zeke. Bunyi-bunyian yang diulik, lirik-lirik pelit yang multitafsir, dan di atas segalanya: nada-nadanya tetap melodius. Sensibilitas pop masih ada di sini. Dari mana datangnya kemampuan menciptakan segala <em>hook</em> itu? Bin, otak di balik bergabungnya Zeke ke label Jangan Marah Records, menyebutnya sebagai musisi berkarakter <em>traditional singer-songwriter</em>. Menurutnya, Zeke sangat peduli dengan nada dan piawai soal melodi. Konsep <em>weekly download</em> bagi Bin itu brilian. &#8220;Bahkan seandainya ini dilakuin sama band Melayu paling culun pun, tetap gokil. Bayangin <em>man</em>, tiap minggu keluar lagu baru!&#8221;</p>
<p>Hasil perdana sesi <em>psychedelic</em> ini adalah &#8220;Fell in Love with the Wrong Planet&#8221;, lagu ke-18 dari <em>weekly download</em>-nya. Zeke mengaku tertarik dengan konsep kata &#8216;<em>wrong</em>&#8216;, menurutnya batas benar atau salah sudah makin bias hari-hari ini. Proses penciptaannya masih sama dengan cara kerjanya selama ini: dia merekam nada-nada dasarnya di BlackBerry (&#8220;Kadang pakai gitar, atau mulut doang.&#8221;), lalu rekaman mentah itu dipindahkan ke komputer dan diolah dengan <em>software</em> musik Reason. Proses olahannya lebih banyak melalui piano, keyboard, harpsichord, dan instrumen pencet lainnya. Sembari membuat melodi dan <em>rhythm</em> yang cocok, dia mencari-cari <em>beat</em> yang enak untuk <em>drum loop</em>. &#8220;Gue nggak bisa main drum, dan gue bukan DJ. Masalah <em>beat</em> selalu merepotkan gue.&#8221; Tapi toh dia berhasil. Di &#8220;Rolling Like a Stupid Stone&#8221;, komposisi paling unik di sesi ini, Zeke memasukkan <em>beat</em> genit absurd ala dangdut remix khas Pantura yang dicampur sedikit nuansa padang pasir, tanpa membuatnya jatuh menjadi norak. Lagu ini riuh rendah dengan <em>sound</em> bertumpuk-tumpuk, tempo menghentak dan meliuk, yang arti liriknya hanya Zeke dan Tuhan yang tahu.</p>
<p>&#8220;Beberapa lagu memang tentang kehidupan pribadi gue. Namanya musisi kamar, ya pasti nulis tentang dirinya.&#8221; Karena kali ini ditulis dalam bahasa Inggris, Zeke menemukan kompleksitas berbeda. Dia merekam kalimat-kalimat pertama yang hinggap di benaknya, baru memaknainya belakangan. Rasanya seperti memecahkan misteri, dan dia menikmati prosesnya. &#8220;Gue pernah baca di buku biografi The Beatles, John Lennon nggak pernah nutup-nutupin kalau lirik bikinan dia nggak selalu punya arti. Bahkan kadang-kadang cuma permainan kata.&#8221; Ketika saya menyebut nama Syd Barrett, dia langsung menyambar, &#8220;Apalagi itu! Siapa sih yang bisa mengartikan lirik-liriknya?&#8221;</p>
<p>Semangat bermain-main pun masih tetap ada. Di &#8220;Causeway Bay&#8221;, yang dibuatnya di Hong Kong di sela-sela menonton konser Gorillaz, Zeke iseng menyelipkan suara alat pemompa ASI untuk bayi di awal lagu. Menurut Zeke, &#8220;Bunyinya seperti nafas mesin.&#8221; Pilihan tepat untuk menggambarkan liriknya &#8220;<em>…nature procreates/ machine replicates.</em>&#8221; Seolah tak cukup dengan segala kreativitas ini, Zeke masih merasa perlu membuat video untuk setiap lagu. Dan video itu bisa berarti apa saja: rekaman dia ke dokter gigi (masih sempat-sempatnya dia memakai kacamata hitam!), iseng berkaraoke di taksi yang sedang melaju, jingkrak-jingkrak di kamar, truk pengangkut sampah, keponakannya yang masih balita berlari-lari sambil tertawa riang, hingga dokumentasi saat dia diramal seorang <em>Chinese fortune teller</em> di Hong Kong (&#8220;Gue sih nggak ngerti dia ngomong apa, tapi di akhir dia ngacungin jempol&#8230;&#8221;). Zeke merancang semua konsepnya, mengambil gambar, mengedit, lalu mengunggah hasilnya ke Facebook dan YouTube, satu per satu berbarengan rilisan lagu mingguan.</p>
<p>Dari mana dia mendapat energi untuk itu semua? &#8220;Gue selalu percaya dengan kekuatan alam. Kita semua punya itu di dalam tubuh masing-masing.&#8221; Menurut Zeke, sifat-sifat dasar manusia yang harmonis dengan alam, itulah yang akan menang. Jika seseorang bisa mengeluarkan itu dari dirinya, hasilnya adalah kekuatan luar biasa. &#8220;Seperti <em>love</em>, yang nggak ada batasnya.&#8221; Sementara di BlackBerry dia masih menyimpan puluhan <em>file</em> yang dinamai <em>weekly potential</em>. Kata <em>finish</em> sepertinya sudah lama hilang dari kamus bermusiknya. &#8220;Gue nikmatin banget hidup gue sekarang ini. Bangun tidur, denger suara burung, angin, udara pagi. Gue tinggal nunggu, alam bakal bawa gue ke mana hari ini. Kita nggak bisa melawan itu.&#8221;</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p>Kopi dan makanan di meja kami sudah sama-sama habis. Obrolan sudah makin <em>ngalor-ngidul</em>. Zeke menceritakan pengalaman menonton konser pahlawannya yang lain, Daniel Johnston, di London. &#8220;Gue suka <em>honesty</em>-nya. Lo-fi yang paling lo-fi. Di panggung dia pernah salah main, berhenti bentar, tapi penonton teriak, &#8216;<em>Daniel, keep playing! Don&#8217;t worry, we love you!</em>&#8216; Semangat &#8216;<em>keep playing</em>&#8216; itulah yang kemudian menghantui Zeke sampai sekarang. Ketika obrolan kami berbelok membahas lagu &#8220;Tender&#8221;-nya Blur, dia tiba-tiba berkata, &#8220;Mungkin kapan-kapan gue harus bikin lagu gospel.&#8221; Ide bagi Zeke bisa muncul dari mana saja, bahkan sesepele celetukan di sela-sela obrolan. Rasanya tak ada yang mustahil.</p>
<p>Kabar terbaru ini mungkin bisa membuatnya tersenyum: Wayne Coyne baru saja mengumumkan The Flaming Lips bakal masuk studio awal tahun ini, lalu merilis lagu baru tiap bulannya. Semua proses itu akan diabadikan di sebuah dokumenter. Bukankah ini sebuah kebetulan yang lucu? Pada akhirnya, Zeke dan para pahlawannya berada di satu arena yang sama, melakukan hal-hal yang kurang lebih mirip. &#8220;Gue selalu <em>look up</em> ke musisi-musisi panutan gue itu sambil ngomong ke diri sendiri, <em>Gak kekejar nih, gak kekejar nih…</em>&#8221; Kalimatnya menggantung. Saya menunggu, mencari tanda-tanda menyerah di suaranya.</p>
<p>&#8220;Tapi gue masih pengen terus ngejar.&#8221;</p>
<p>Zeke Khaseli pamit pulang untuk tidur sebentar, lalu melanjutkan mengunggah lagu mingguannya. <em>Weekly download</em>-nya sudah melaju hingga lagu ke-25. Tak seorang pun tahu, di angka berapa dia bakal berhenti.</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p style="text-align: right;">Jakarta-Bandung, Februari 2011</p>
<p style="text-align: right;"><strong>Budi Warsito</strong><br />
<em>Pengelola perpustakaan Kineruku, Bandung</em></p>
<p style="text-align: left;">Ini adalah tulisan lama (Februari 2011), dengan foto ilustrasi lumayan baru (April 2011) yang diambil dari acara peluncuran <a href="http://kineruku.com/zeke-khaseli-rolling-like-a-stupid-stone-ep-release-party/"><strong><em>Rolling Like a Stupid Stone EP</em></strong></a> di <strong>Kineruku</strong>. Foto oleh <a href="http://meicysitorus.co.cc/" target="_blank"><strong>Meicy Sitorus</strong></a>. Tulisan ini juga dimuat di situs <a href="http://zekekhaseli.com/" target="_blank"><strong>Zeke Khaseli</strong></a>.</p>
<p style="text-align: left;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/fell-in-love-with-planet-zeke/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>[Cerpen Favorit] Kandang Babi, Rendez-Vous</title>
		<link>http://budiwarsito.net/cerpen-favorit-kandang-babi-rendez-vous/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/cerpen-favorit-kandang-babi-rendez-vous/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Oct 2011 08:33:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Rupa-rupa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=779</guid>
		<description><![CDATA[. (cerita pendek oleh Eka Kurniawan) Edi Idiot menjaga kampus siang dan malam, tapi ia bukan satpam. Terutama kalau malam, ia adalah raja yang berkuasa di kegelapan pohon-pohon rindang, tapi sungguh, ia bukan jin Iprit. Ia seperti kita juga: suka makan, beol, bercerita, berteriak menyanyikan Obladi Oblada, atau jika ia sedang tidak bersemangat, ia akan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #ffffff;">.</span><br />
(cerita pendek oleh <a href="http://ekakurniawan.com/" target="_blank"><strong>Eka Kurniawan</strong></a>)</p>
<p><a href="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/07/kandangbabi_still.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-781" title="kandangbabi_still" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/07/kandangbabi_still.jpg" alt="" width="432" height="324" /></a><br />
Edi Idiot menjaga kampus siang dan malam, tapi ia bukan satpam. Terutama kalau malam, ia adalah raja yang berkuasa di kegelapan pohon-pohon rindang, tapi sungguh, ia bukan jin Iprit. Ia seperti kita juga: suka makan, beol, bercerita, berteriak menyanyikan <em>Obladi Oblada</em>, atau jika ia sedang tidak bersemangat, ia akan duduk manis menatap jauh pada segerombolan gadis yang tengah duduk berkerumun: berharap satu atau dua orang tersingkap roknya.</p>
<p>Ia tinggal di satu sudut fakultas yang nyaman&#8212;senyaman kandang babi. Dulu ruangan itu dipakai untuk mengoperasikan mesin stensil yang belakangan tergusur setelah penemuan teknologi komputer yang edan-edanan. Kematian mesin stensil adalah berkat bagi Edi Idiot yang berharap menghemat banyak dengan pondokan gratis. Di sanalah ia tidur kalau ngantuk, bercinta kalau punya kekasih, atau mencoba bunuh diri kalau sedang gila.<span id="more-779"></span></p>
<p>Empat tahun telah berlalu, dan itu membuatnya betah tetap tinggal di kandang babinya; istananya yang paling hebat. Tak ada Induk Semang yang Bengis yang siap monyong dan melotot jika ia membawa gadis cantik ke dalam kamarnya (kemudian pintunya dikunci dan mereka berdua menabung bekal untuk di neraka). Juga tak ada Induk Semang yang Serakah yang akan menagih uang pondokan (atau uang listrik, atau uang iuran penyemprotan nyamuk deman berdarah, atau juga sedikit sumbangan untuk langganan koran). Tapi yang lebih hebat dari semua itu adalah fakta bahwa tak ada Induk Semang yang Cerewet yang akan melarang dia membuat keributan macam apa pun bersama sahabat-sahabatnya tercinta.</p>
<p>Hobinya memang membuat keributan yang tak termaafkan induk semang mana pun. Bernyanyi keras-keras diiringi petikan gitar yang sebenarnya tak pernah nyambung. Atau membacakan puisi-puisi cinta yang memilukan hati. Atau lain kali ia mengundang beberapa temannya sesama nomaden (mereka juga tinggal di kandang-kandang babi, atau ada juga yang di kandang ayam, kandang anjing, atau kandang dedemit, yang tersebar hampir di setiap sudut universitas) untuk sekedar beranjangsana ke pondokannya yang, &#8220;Aih, maaf, agak berantakan. Maklum pembantu sedang mudik.&#8221; Berkumpul merupakan saat-saat yang paling indah baginya. Dengan sedikit mabok karena arak putih yang dijual murah di pinggir jalan, mereka membicarakan kebusukan Hegel dan Heidegger sebebas membicarakan kebusukan artis-artis porno. Mereka adalah orang-orang kreatif yang tak pernah membaca Voltaire atau Cervantes namun memunculkan istilah-istilah inovatif melebihi sastrawan manapun: &#8220;Mesin Penjilat Bibir&#8221; untuk pelacur, dan &#8220;Pipis Enak&#8221; untuk suatu kondisi yang disebut ejakulasi pada puncak orgasme.</p>
<p>Dialah Edi Idiot. Menyelesaikan sekolah dasar selama sembilan tahun, sekolah menengah pertama empat tahun, dan sekolah menengah atas selama lima tahun; hanya Tuhan yang tahu bagaimana orang yang menurut sistem pendidikan nasional dibilang goblok ini bisa masuk universitas. Itulah mengapa ia mendapat gelar idiot, semakin terlihat idiot ketika ia kuliah di filsafat dan tak tahu tanggal berapa Aristoteles lahir! Namun di atas semuanya, ia sahabat yang menyenangkan: tak pernah malu pinjam uang, matanya melotot jika bicara dengan seorang gadis yang kebetulan kancing kemejanya sedikit terbuka, dan tidur di ruang kuliah (ia baik karena tidak mengganggu sang dosen menjual omongan yang selalu diulang di setiap semester, bukan?). Ia mudah dikenali dari pandangan pertama: pakaian yang ia kenakan adalah empat pasang jeans dan kemeja yang merupakan serangkaian siklus empat mingguan, karena itu selalu tampak kucel dan jorok kecuali di dua hari minggu pertama. Rambutnya merupakan satu hal yang jauh lebih mudah dikenali; panjang dengan model rasta seperti Bob Marley yang dibuat bukan dengan pergi ke salon, atau resep mandi dengan air laut, atau apalagi dengan beragam ramuan yang tak meyakinkan, namun sungguh-sungguh menjadi rasta karena ia belum keramas selama delapan bulan satu minggu tiga hari! Jangan tanya berapa batalion kutu di kepalanya…</p>
<p style="text-align: center;">*</p>
<p>Malam hari merupakan saat-saat yang paling merdeka buatnya. Ia bisa pergi nonton konser lalu pulang menjelang dini hari. Atau kalau tak ada hiburan di mana pun di segenap pelosok kota, ia dan para sahabatnya menghibur diri sendiri dengan judi kiu-kiu menggunakan kartu domino. Awalnya mereka bertaruh dengan duit receh, namun jika kebangkrutan sudah menghantam, kekasih-kekasih khayalan mulai jadi taruhan. Edi Idiot doyan mempertaruhkan Ayu Azhari, namun jika ia kalah ia dilarang mengaku sebagai kekasih Ayu Azhari selama seminggu ke depan&#8230; kenyataan tragis bagi laki-laki yang justru seringkali tak memiliki kekasih yang sesungguhnya.</p>
<p>Namun jika ia sedang baik hati, ia akan mengingatkan dirinya sendiri, &#8220;Edi, sudah jam sembilan malam. Waktunya tidur.&#8221;</p>
<p>Ia segera akan membereskan kandang babinya. Ketiga jeans dan ketiga kemejanya yang tidak sedang dipakai ia gantungkan di paku-paku yang menancap di dinding. Kemudian ia membersihkan tikar, menggebukinya dengan sebatang tongkat pendek untuk mengusir debu dan kecoa, sebelum dihamparkan di pojok kandang babi itu. Bantalnya sudah sangat lembek sekali, ia temukan dahulu kala di kantor senat mahasiswa, sempat jadi rebutan dengan seorang temannya yang kini tinggal di gudang lain tak jauh dari kandang babi mantan gudang stensilnya, namun ia menangkan setelah bertaruh siapa yang berani masuk ke ruang dosen di pagi hari sebelum cuci muka. Sementara itu selimutnya merupakan hadiah istimewa dari kekasihnya di semester kedua; berwarna coklat muda dan ketebalannya cukup menghangatkan di musim dingin yang sangat ekstrim; suatu penghibur jika ia mengenang bagaimana cintanya diputuskan oleh gadis tersebut padahal demi Tuhan bahwa gadis itu jeleknya minta ampun&#8212;tak lebih cantik dari lubang kloset.</p>
<p>Jika semua ritual itu sudah ia laksanakan, ia akan berbaring perlahan di atas tikar tersebut. Sejenak ia merenung-renung dan berkata pada diri sendiri:</p>
<p>&#8220;Kau kan mahasiswa, sebaiknya membaca satu atau dua menit sebelum tidur.&#8221;</p>
<p>Maka ia mengambil satu-satunya buku yang ada di kandang babi itu, tergeletak di meja kecil tak jauh dari tempat di mana ia berbaring. Buku itu adalah buku tulis, sudah lecek karena nyaris seumur ia kuliah hanya itulah buku andalannya. Sambil tiduran, ia membuka dan membaca catatannya:</p>
<p>&#8220;Nasi sayur satu, tempe dua, teh hangat; kopi dan bakwan dua; nasi pecel satu tambah telur satu dan es teh; nasi sayur tambah tempe satu dan tahu satu dan jeruk hangat; nasi sayur satu tambah tempe dua dan kerupuk dua tambah es jeruk; nasi pecel satu, perkedel dua dan kerupuk satu tambah es teh…&#8221; Itu adalah catatan hutangnya pada bu Kantin yang Gendut di Kantin yang Jorok. Ia akan melanjutkan sebelum benar-benar tidur: &#8220;Belum mengkhawatirkan, pasti bisa aku lunasi.&#8221;</p>
<p>Maka tidurlah ia dengan damai, tanpa perlu didongengi dengan cerita <em>Lutung Kasarung</em> atau <em>Bawang Putih dan Bawang Merah</em>. Ia tak punya jam weker yang akan menjerit membangunkannya di pagi hari. Ia pun tak pernah merasakan kehangatan sinar matahari pagi menghantam tubuhnya yang tidur karena jendela kandang babinya selalu tertutup. Maka satu-satunya tanda bahwa ia harus bangun adalah keributan mahasiswa dan dosen; saat itu biasanya sudah pukul tujuh pagi.</p>
<p>Ia akan menggeliat-geliat sebentar, lalu bangun dan membuka pintu. Pak Dekan baru keluar dari mobil, Edi Idiot tersenyum ramah, dan pak Dekan membalasnya dengan muka masam. Lalu muncul si Cantik adik kelas, Edi Idiot tersenyum juga, dan si Cantik ngibrit. Ia tak pernah sakit hati. Ia dengan santai menuju kran air dan cuci muka, dan dengan langkah seorang pemalas bergerak menuju Kantin yang Jorok untuk memesan kopi dan nongkrong habis sampai siang hari.</p>
<p>Banyak desas-desus dan omong-kosong bisa didapatkan di Kantin yang Jorok: misalnya siapa yang paling bertanggung jawab atas perut bunting Nurul?, atau laki-laki tua berkumis baplang yang manakah yang ternyata intel dan sedang memantau mahasiswa-mahasiswa yang membahayakan keselamatan negara?, atau manakah yang perlu dibela: apakah orang Timor hitam yang pro Indonesia atau orang Timor hitam yang lebih suka merdeka (namun jelas mereka tak akan membela minoritas keturunan Portugis yang berkuasa)?, namun di atas tema-tema berat macam begitu, hanya satu yang bisa membuat mahasiswa-mahasiswa nomaden heboh:</p>
<p>&#8220;Konon, rektorat akan melarang kita tidur lagi di kampus.&#8221;</p>
<p>Edi Idiot bahkan sukses semaput di belakang pantat bu Kantin yang Gendut.</p>
<p style="text-align: center;">*</p>
<p>Hal itu benar-benar terjadi di suatu hari. Edi Idiot pulang pada suatu senja dari sedikit pengembaraan yang agak melelahkan. Ia mendapati kandang babinya terkunci, dan semua barangnya teronggok di atas kursi reyot di depan gudang tersebut. Ia panik dan melesat ke ruang satpam penjaga gedung.</p>
<p>&#8220;Si-siapa yang mengunci gudang?&#8221; tanyanya, antara marah dan ngeri.</p>
<p>&#8220;Mana aku tahu,&#8221; kata pak satpam. &#8220;Konon mau dijadikan dapur kantin ibu darmawanita.&#8221;</p>
<p>&#8220;Anjing-anjing itu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Siapa yang anjing?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya babi-babi itu.&#8221;</p>
<p>Apa pun yang terjadi, pak satpam jelas tak bisa mengembalikan istana hebat itu kepadanya. Edi Idiot berjalan gontai kembali ke kandang yang terkunci, mengumpulkan barang-barangnya. Ia memasukkan bantal lepetnya ke dalam tas gendong yang sudah dekil; juga ketiga pasang jeans dan kemeja kesayangannya. Tikar ia gulung dan simpan di tiang penopang langit-langit, kapan-kapan ia ambil. Lalu meja kecil… ah, biarkan saja di situ, siapa tahu ada kemungkinan kembali berkuasa di kandang babi. Terakhir ia melipat selimut kenangannya dan mengapitnya di ketiak.</p>
<p>Dan, lalu?</p>
<p>Ia berdiri bengong di gerbang fakultas. Ia tak tahu harus ngeloyor ke mana. Ia tak punya pondokan selama empat tahun ini, dan lebih parah dari segalanya, ia tak punya uang untuk menyewa pondokan baru. Kakinya kemudian membawa dia menuju ke gelanggang mahasiswa, tempat di mana lebih banyak mahasiswa nomaden memanfaatkan ruangan-ruangan yang tak terpakai di malam hari. Tapi yang ia temukan hanyalah pintu-pintu yang terkunci, dan gerombolan mahasiswa terusir yang putus asa. Satu-dua anak mencoba memprovokasi untuk membuat sedikit pemberontakan pada keadaan yang sungguh tak adil, namun yang lainnya begitu lelah dan ngantuk&#8212;dan kehilangan motivasi&#8212;sehingga tak merespon dengan baik. Dan Edi Idiot, jelas ia lebih suka segera berlalu untuk menemukan satu tempat tidur yang nyaman di malam ini.</p>
<p>Ia berkeliling dari satu gedung ke gedung lain di segenap pelosok universitas. Ia memang menemukan teman-teman malamnya, sama-sama kehilangan harapan, namun tak menemukan ruangan yang layak untuk tempat tidur. Sampai ketika tengah malam datang, ia tersasar di gedung rektorat dan menemukan satu pos satpam kosong di sebelah utara. Yeah, bukan kandang babi memang, pikirnya; kandang monyet pun tak apalah!</p>
<p>Maka tidurlah ia di sana ditemani hantu wanita yang bunuh diri, dedemit, sundel bolong, dan semua makhluk horor lainnya. Namun semua keangkeran tempat tersebut tak mengganggu tidurnya sedikitpun. Ia lelap, selelap paku yang menempel di pintu. Namun di pagi hari, ia terbangun mendadak ketika seekor anjing kudisan mengendus-endus pantatnya. Anjing itu sama kagetnya, mundur sedikit, dan terkaing-kaing berlari ketika Edi Idiot menendangnya dengan penuh nafsu.</p>
<p>Ia sendiri kemudian terduduk, membiarkan cahaya matahari pagi memandikan tubuhnya. Nafasnya tersenggal-senggal, dan sambil memegang dada ia berbisik pelan:</p>
<p>&#8220;Oh Tuhan, terima kasih. Betapa mengerikan jika anjing sialan itu menyodomiku!&#8221;</p>
<p>Ia segera mencangklong tas punggungnya dan mengapit selimutnya, lalu berjalan pergi ke Kantin yang Jorok untuk mendapat segelas kopi sebagaimana biasa. Semua itu kemudian menjadi rutinitas barunya; tidur di kandang monyet ditemani makhluk-makluk horor, lalu terbangun dipermainkan anjing buduk pengendus. Selain itu pemandangan ini menjadi pemandangan umum di setiap pagi selama beberapa hari: seorang pemuda kurus kerempeng berambut rasta berjalan dari gedung rektorat ke Kantin yang Jorok sambil menggendong tas punggung berisi pakaian dan bantal dan di tangan kirinya mengapit selimut coklat muda. Dialah kawan kita si Edi Idiot yang karena nasib harus memerankan antagonis yang menyedihkan seperti itu.</p>
<p>Namun ternyata, bukan hanya orang-orang yang berpapasan dengannya saja yang kemudian merasa bersimpati dan kasihan; ia sendiri mulai mengkhawatirkan dirinya sendiri. Ia mulai menghitung-hitung buruknya tidur di kandang monyet itu; dalam satu atau dua bulan ke depan bisa dipastikan ia terserang paru-paru basah yang akut. Selain itu, meskipun ia punya selimut tebal kenangan, udara dingin di kandang yang tak punya dinding itu bisa membuatnya terserang rematik; alasan kuat untuk menyongsong hari tua yang mengerikan. Ia juga mengkhawatirkan gangguan makhluk-makhluk horor itu lama-kelamaan memberi trauma buruk pada kejiwaannya. Tapi yang paling membuatnya cemas adalah kengeriannya pada kemungkinan terburuk ini: suatu pagi anjing buduk itu benar-benar berhasil menyodominya!</p>
<p>Sambil minum kopi di Kantin yang Jorok ia menghitung sisa uangnya: ada tiga ribu empat ratus perak. Ia mencoba memikirkan banyak cara bagaimana melipatgandakan uang sekecil itu agar bisa menyewa pondokan barang satu atau dua bulan saja. Namun jiwa kapitalistik tak sungguh-sungguh mampir di otaknya yang bebal; yang terpikirkan adalah mempertaruhkan uang itu di meja judi kiu-kiu. Ia segera menukar uangnya dengan recehan seratus perak pada bu Kantin yang Gendut, dan segera kembali ke fakultas mengumpulkan teman-teman perjudiannya. Permainan berlangsung alot di belakang kantin, di mana dosen-dosen yang sok usil ikut campur urusan orang lain tak akan melihat kelakukan biadab mereka. Di setengah jam pertama, Edi Idiot bisa mengumpulkan keuntungan enam ratus perak, namun ketika permainan berlangsung lebih lama, ia mulai kehilangan receh demi receh hingga temannya yang lebih jago judi benar-benar menghabiskan seluruh modalnya.</p>
<p>Edi Idiot masih penasaran dan menjerit:</p>
<p>&#8220;Jalan terus!&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau bertaruh dengan apa?”</p>
<p>“Apa boleh buat, kutawarkan Ayu Azhari.&#8221;</p>
<p>&#8220;Mana bisa, tiga hari yang lalu Ayu Azhari sudah dipasang dan kau kalah.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kalau begitu Sarah Azhari.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ngawur, dia bukan kekasihmu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Peduli amat.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau mulai curang. Ayo, bubar!&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi…&#8221;</p>
<p>Teman-temannya sudah bubar dan pergi ke segala penjuru. Tinggal Edi Idiot yang mulai putus asa memikirkan bagaimana caranya memperoleh uang untuk menyewa pondokan baru. Pondokan yang aman dari pelecehan seksual anjing kudisan.</p>
<p style="text-align: center;">*</p>
<p>Selama beberapa waktu ia mencoba mengamen di perempatan jalan, namun hasilnya jauh dari cukup untuk mencapai cita-citanya punya pondokan baru. Ia bahkan pernah tergoda untuk melakukan sedikit pencurian; namun nyali kecilnya ciut ketika membaca berita di koran yang menyebutkan seorang pencuri dibakar massa beramai-ramai. Hasilnya, Edi Idiot mulai tampak redup. Romannya yang riang dan seringkali menghibur sahabat-sahabatnya mulai tampak jauh lebih tua. Ia menjadi seorang perenung, tapi jelas bukan filsuf. Sering berdeklamasi seorang diri, namun jelas bukan penyair juga, mungkin hanya karena kegilaannya sedikit sedang kumat.</p>
<p>Ia juga mulai memikirkan kemungkinan-kemungkinan untuk bunuh diri. Atau kadang terpikir untuk pulang ke kampung halaman, menyerah pada semua usahanya untuk jadi seorang sarjana yang dihormati. Namun semuanya tidak ia lakukan. Ia masih mencintai universitasnya, kotanya, dan juga para sahabatnya. Ia harus bisa bertahan, betapapun menyedihkannya hidup yang harus ia lakoni.</p>
<p>Kadang ia merasa betapa ruginya dia: hidup di dunia dalam keadaan buruk, dan kalau mati kemungkinan besar masuk neraka. Namun kemurungannya berubah seketika saat di suatu pagi, ketika ia sedang berjalan dari gedung rektorat menuju Kantin yang Jorok sambil menggendong tas punggung dan mengapit selimut pemberian mantan kekasihnya, ia bertemu seorang gadis di tengah jalan. Namanya Widy, sahabatnya satu angkatan namun nasib membuat jalan hidup keduanya berbeda. Widy sudah menyelesaikan kuliah dan sekarang bahkan sudah menjadi dosen di fakultasnya sendiri.</p>
<p>&#8220;Oh, Sahabatku, Widy, apa kabar?&#8221; Edi Idiot dengan muka yang ceria menghampirinya dan menjabat tangan.</p>
<p>Widy yang sedang dalam perjalanan ke kantor dosen menatapnya dengan prihatin. &#8220;Aduh, Edi, sudah berapa lama kau tidak mandi?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ah, Sahabatku, jangan tanyakan soal itu. Ngomong-ngomong, kau jarang terlihat akhir-akhir ini?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku? Seandainya kau rajin masuk kuliah, setidaknya aku mengajar kau satu minggu sekali.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku jadi malu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau tampaknya lapar, mau kutraktir?&#8221; tanya Widy.</p>
<p>&#8220;Demi Tuhan, aku menunggu tawaran seperti itu.&#8221;</p>
<p>Mereka kemudian mampir di Kantin yang Jorok sekedar melepas rindu sebagai dua sahabat yang lama tak berjumpa. Sarapan bersama sambil bicara mengenai banyak hal. Teman kita yang botak, si Agus, sekarang di mana? Aha, dia sudah kerja di Jakarta. Ya, betul, si Iwan sudah jadi wartawan, hebat betul dia. Dan Sinta, kudengar dia sudah kawin; punya anak tapi kemudian cerai, nasibnya agak malang. Aku tak tahu kalau soal Andi, katanya dia pergi ke Kalimantan; ya goblok sekali dia, kuliahnya ditinggal begitu saja, mungkin bisnis, tapi setahuku bisnis apapun dia selalu gagal. Dan kau? Masya Allah, hanya tinggal kau angkatan kita yang masih bertahan jadi mahasiswa?</p>
<p>Edi Idiot tersenyum dan bertanya:</p>
<p>&#8220;Dengar-dengar kau mau kawin?&#8221;</p>
<p>Widy tersenyum dan mengangguk. &#8220;Tentu saja,&#8221; katanya. &#8220;Sekarang masih nabung-nabung buat rumah dan tetek-bengeknya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kupikir kau mau tunggu aku.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sayang kau terlambat.&#8221;</p>
<p>Edi Idiot menyelesaikan sarapannya dengan perasaan puas, karena untuk pertama kali setelah beberapa waktu, ia boleh mengambil porsi makan sebanyak yang ia suka. &#8220;Tapi ngomong-ngomong,&#8221; katanya. &#8220;Kalau di hari perkawinan calon suamimu minggat, aku tak keberatan jadi pengganti.&#8221;</p>
<p>Widy tertawa dan menjawab, &#8220;Aku pertimbangkan.&#8221;</p>
<p>Mata Edi Idiot berbinar-binar menatap sahabatnya. Bukan, bukan karena harapan pada kemungkinan menjadi pengganti calon suami yang minggat, tapi karena ia menganggap saat inilah saat yang tepat untuk menyerang Widy dengan satu permintaan yang selama makan ia persiapkan:</p>
<p>&#8220;Sahabatku,&#8221; katanya pelan, takut terdengar penghuni Kantin yang Jorok yang lain. &#8220;Untuk sahabatmu yang malang dan mengibakan ini, maukah kau pinjami aku uang?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau pinjam uang?&#8221;</p>
<p>&#8220;Jangan keras-keras, Sayang… ya, itulah yang aku maksud.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau tidak dalam kesulitan besar, kan?&#8221;</p>
<p>Edi Idiot bercelingukan, lalu menatap sahabatnya lagi. Matanya sedikit berkaca-kaca (aduh, tak terkira dia agak cengeng juga). Lalu perlahan-lahan mengadu, &#8220;Kau tahu kan aku tinggal di kandang babi.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kandang babi di fakultas peternakan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Maksudku gudang bekas tempat mesin stensil.&#8221;</p>
<p>&#8220;Semua orang sudah tahu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi sekarang aku sudah tidak tinggal di sana.&#8221;</p>
<p>&#8220;Pantas saja aku jarang lihat kau.&#8221;</p>
<p>&#8220;Pihak universitas melarang kami tinggal di kampus lagi. Aku sekarang tinggal di kandang monyet, ditemani genderwo dan kuntilanak, serta dikeloni anjing kudisan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Di mana pula itu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Pos satpam dekat gedung rektorat.&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh Tuhan, itu mengerikan, Sayang.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, begitulah,&#8221; kata Edi Idiot. Dan dengan semangat ia mendramatisir, &#8220;Aku mulai menderita paru-paru basah, mungkin juga demam berdarah dan gagal jantung. Bahkan aku menduga aku sudah kehilangan satu ginjal. Aku khawatir lebih lama di sana bisa terkena AIDS juga.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sebaiknya kau menyewa pondokan saja.&#8221;</p>
<p>Ini dia! Dengan sedikit menahan diri, Edi Idiot berbisik, &#8220;Itulah mengapa aku mau pinjam duit ke kau. Atau kalaupun kau tak punya duit, setidaknya kau sudi berbagi tempat tidur denganku.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ah, aku lebih suka meminjami uang.&#8221;</p>
<p>&#8220;Itu pun tak apa.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi aku cuma bawa seratus ribu perak.&#8221;</p>
<p>&#8220;Itu lebih dari cukup.&#8221;</p>
<p>Transaksi berjalan dengan diam-diam. Selama itu berlangsung, Edi Idiot beribu kali mengucapkan terima kasih. Kau memang sahabat sejati, Widy. Semoga kau tambah cantik selalu, katanya. Semoga kau cepat naik pangkat&#8212;kalau perlu jadi rektor yang berpihak pada mahasiswa-mahasiswa malang seperti dirinya. Semoga amal-ibadahnya diterima Tuhan, dan semoga kau tertarik menjadikan aku sebagai suamimu.</p>
<p>Widy hanya tersenyum dengan segala puja-puji itu, dan berkata bahwa ia harus segera masuk ruang kuliah untuk mengajar.</p>
<p>&#8220;Ya, ya, selamat jalan, Sahabatku!&#8221;</p>
<p>Widy berlalu dan Edi Idiot melambaikan tangannya dengan bahagia.</p>
<p>Kini ada uang seratus ribu di tangannya. Edi Idiot termenung-menung seorang diri di Kantin yang Jorok yang hiruk-pikuk itu. Yeah, cukup untuk menyewa kamar dua bulan, pikirnya. Mungkin tiga bulan, kalau mau mencari yang agak jauh dari kampus. Ia mulai mempertimbangkan hal-hal tersebut. Yeah, ia bakal punya Induk Semang yang Bengis, juga Induk Semang yang Rakus, dan tentunya Induk Semang yang Cerewet. Kecil kemungkinan memperoleh Induk Semang yang Pemurah.</p>
<p>Jika ia punya pondokan, ia tak boleh lagi berteriak sesuka hati di tengah malam. Juga pasti dilarang keras mabok. Lebih mengerikan kalau ada aturan harus pulang jam sembilan. Ngomong-ngomong, ia jadi ragu dan ngeri memikirkan harus punya rumah pondokan.</p>
<p>Namun bagaimana lagi? Sahabatnya yang baik itu sudah meminjami dia uang, dan duit tersebut kini tergenggam erat di tangannya. Dan lagi pula, adalah mengerikan terus-menerus tinggal di kandang monyet: ia bisa mati memalukan.</p>
<p>Ketika sedang memikirkan hal itu, matanya menatap bu Kantin yang Gendut. Ia sedang melayani seorang pembeli. &#8220;Satu atau separoh? Pakai sayur? Oh, pecel.&#8221; Kemudian pembeli yang lain. &#8220;Dengan apa? Nasi sayur tambah telur goreng, tempe dua dan es teh, dua ribu lima ratus. Terima kasih.&#8221; Edi Idiot tiba-tiba teringat sesuatu. Ia membuka tasnya dan menemukan buku catatan itu. Ketika bu Kantin yang Gendut sedang beristirahat tanpa gangguan satu pembeli pun, Edi Idiot menghampirinya.</p>
<p>&#8220;Ini hutangku,&#8221; kata Edi Idiot pelan-pelan dan malu-malu.</p>
<p>Bu Kantin yang Gendut menghitungnya, dan Edi Idiot kehilangan lebih dari separoh uang yang dipegangnya.</p>
<p>Namun ia bahagia sekali bisa melunasi hutang itu. Ia berjalan ke sana-ke mari sambil bersiul-siul. Lagu-lagu riang kembali muncul di mulutnya. Ia telah lupa pada rencana punya pondokan. Lalu apa yang telah merasuk di otaknya? Apakah ia memiliki suatu rencana yang gemilang. Begitulah. Di sore hari, ia membayar seorang tukang kunci untuk membuka pintu kandang babinya. Dan di malam hari ia menghabiskan uangnya dengan membeli arak putih murahan dan sekeresek nasi bungkus dari warung angkringan serta mengundang seluruh sahabat malamnya. Mereka pesta gila-gilaan, bernyanyi dan mabok serta kembali tertidur dengan penuh kedamaian. Sebelum benar-benar tertidur, Edi Idiot tak lupa berdoa, &#8220;Semoga bisa melunasi hutang pada Widy… Grok, grok, grok.&#8221;</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p style="text-align: left;"><span style="font-size: 90%;"><span style="font-family: trebuchet ms;">Copyright <a href="http://ekakurniawan.com" target="_blank"><strong>Eka Kurniawan</strong></a>, 2000. Salah satu karya awal Eka Kurniawan ini saya salin dari <em>Kumpulan Cerpen Terbaik Balairung</em> (2000), buku oleh-oleh dari Sigit G.W. (Jogja) dalam kunjungannya ke Bandung sekitar tahun 2001. (<em>Thanks Git! Bukunya udah lecek sekarang, hehe</em>.) Foto ilustrasi dicomot dari <a href="http://www.flickr.com/photos/dewfall/2576246064/" target="_blank">sini</a>.</span></span></p>
<p style="text-align: left;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/cerpen-favorit-kandang-babi-rendez-vous/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anak Band Beranak Band</title>
		<link>http://budiwarsito.net/anak-band-beranak-band/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/anak-band-beranak-band/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Aug 2011 20:29:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Rupa-rupa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=577</guid>
		<description><![CDATA[. &#8220;Set your guitars and banjos on fire, and before you write a song: smoke a pack of whiskey and it’ll all take care of itself.&#8221; —Beck Kami bertiga (Budi, Bada, dan Badu) di Kompleks Timbuktu Permai ini merasa melihat betapa nge-band sepertinya cool. Padahal tak satupun dari kami yang bisa memainkan instrumen musik apapun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/02/ABBB02.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-597" title="ABBB0" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/02/ABBB02.jpg" alt="" width="424" height="242" /></a><span style="color: #ffffff;">.</span></p>
<p style="text-align: left;">&#8220;<em>Set your guitars and banjos on fire,<br />
and before you write a song: smoke a pack of whiskey<br />
and it’ll all take care of itself</em>.&#8221;<br />
—Beck</p>
<p>Kami bertiga (Budi, Bada, dan Badu) di Kompleks Timbuktu Permai ini merasa melihat betapa nge-band sepertinya cool. Padahal tak satupun dari kami yang bisa memainkan instrumen musik apapun dengan benar. Tapi kami cuek, karena denger-denger &#8216;cuek&#8217; itu juga cool.</p>
<p>Segepok rencana pun disusun, dan rencana kami paling dekat adalah: &#8216;menjadi band terkenal&#8217;. Kalau bisa secepatnya. Karena itu kami berniat untuk berlatih keras di garasi tua bobrok di bawah rumah pohon kami, sebab denger-denger banyak band terkenal yang memulai karirnya dari tempat-tempat cool semacam itu. <span id="more-577"></span>Badu pun terpaksa merelakan VW Combi-nya—yang lebih mirip rongsokan besi tua ketimbang mobil—dipindahkan dari garasi. Ya, ya, ya, harus dengan didorong, tentu saja. Terlalu lama dia mogok, dan semua tukang bengkel di seluruh dunia sudah angkat tangan. Ketika kami dorong rongsokan itu keluar, bodinya berderit-derit menyakiti telinga. Saya ingat betul, bahkan ketika si VW Combi sialan ini masih jalan pun (itu artinya waktu Muhammad Ali masih perkasa di ring tinju), bunyinya juga udah nggak keruan. Mesinnya berderak-derak. Bannya koclak. Jendela kacanya gemeretak. Pokoknya semuanya bunyi kecuali klakson. Tak ada yang bisa dibanggakan dari rongsokan itu, kecuali jika menurut Badu, adalah plat nomornya: B 4 DU. Itupun sebenarnya kami nggak bangga. Biasa aja.</p>
<p>Persiapan pun dimulai. Kami harus menyulap garasi tua itu demi tujuan mulia: punya studio latihan sendiri. Ayo bagi tugas! Badu kebagian memindahkan barang-barang sambil menggerutu (peti-peti kemas milik papanya Badu sebenarnya cool sih, tapi kami selalu curiga salah satu di antaranya berisi mayat, jadi kami nggak mau ambil risiko latihan band metal kami yang bising nanti bakal membangunkan arwah-arwah yang penasaran). Saya kebagian tugas menyapu dan mengepel lantai, memperbaiki atap bocor (untung ada <em>how to</em>-nya di internet), dan menyemprotkan pewangi ruangan (yang juga bisa kamu pesan via online). Bada mendapat kehormatan (okay, sebenarnya itu hasil undian, karena kami rebutan) untuk menyebar undangan ke kos-kos cewek di sekitar rumah pohon kami, demi menjajaki kemungkinan awal adanya groupies band kami yang soon-to-be-famous ini. Hoho, pede dong. Sebab pede itu juga cool.</p>
<p>Setelah menjaga garasi itu supaya tetap dalam kondisi &#8220;nggak terlalu kotor, tapi juga nggak bersih-bersih amat&#8221; (sebab kami denger agak kumuh itu juga cool), maka kami pun siap latihan! Badu tampak siap dengan celana jeans robek-robeknya (katanya ini juga cool), Bada memakai topi panjang ala Slash (atau mungkin Mr. Robin, saya suka ketuker), karena katanya ciri khas penampilan itu penting, demi image band (tapi kok nyontek yang sudah ada ya?). Sementara saya, sudah siap dengan… bekal makan siang. Lho? Yoi, kalau rocker kena maag juga nggak cool bukan?</p>
<p>Setelah sambutan dari Bada (kami bertiga memang sepakat menuakan dia), dan sepatah dua patah kata dari Badu (kami anggap dia perwakilan anak muda dari karang taruna setempat), dilanjutkan acara gunting pita dan tabuh gong, potong nasi tumpeng dan minum jus wortel, maka studio latihan (d/h garasi) kami pun resmi dibuka. Kami bertiga sepakat menamakan studio baru itu dengan: &#8220;Latihan&#8221;. Nama yang lumayan cool, bukan? Jadi kalau dibaca lengkap: Studio &#8220;Latihan&#8221;. Edan! Alangkah brilian ide kami ini, yang memang kurang suka istilah-istilah yang sok berat penuh kiasan. Kami bertiga ini orangnya lugas-lugas saja. Okay, sedikit bodoh memang. Tapi peduli setan, pokoknya kami siap ngeband dan mengguncang dunia!</p>
<p>Di saat itulah kami baru menyadari sesuatu: kami belum punya alat musik satu pun.</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p>Damn! Kami merasa sangat bodoh. Ini esensial, Bung! Bagaimana kami bisa latihan kalau nggak ada alat musik satu pun? Bahkan sekadar kicrik-kicrik pun kami nggak punya. Setelah saling tuding saling menyalahkan (Badu: &#8220;Elu sih Bud, mikirinnya interior dapur mulu! Budi: &#8220;Heh, enak aja, gue kan juga harus mikirin logistik dan konsumi, tauk!&#8221; Mulai panas: &#8220;Elu tuh yang kerjanya nggak bener! Dasar NATO!&#8221; Debat kusir: &#8220;Nggak&#8230; lu tuh!&#8221; &#8220;Yee&#8230; elu!&#8221; Nyaris tonjok-tonjokan: &#8220;Elu!!!&#8221; … &#8220;Elu!!!&#8221;), akhirnya Bada berhasil melerai kami berdua dan mengaku salah, &#8220;Sudah, sudah. Jangan berantem. Ini salah saya. Harusnya kemarin saya survey alat-alat band, tapi malah keliru beli alat pancing dan penggorengan ikan.&#8221;</p>
<p>Saya dan Badu melongo berdua. Arghhh. Kita ini mau ngeband atau magang jadi koki? Dasar bodoh! Tapi karena Bada adalah anggota yang kami tuakan, jadi segala makian itu cukup diucapkan dalam hati saja, supaya lebih afdol dan tidak memicu konflik. Amin. Akhirnya, setelah memasang senyum palsu secukupnya, kami sepakat untuk pergi ke toko alat musik dan belanja segala keperluan kami di sana. Tapi problemnya adalah: kami semua lagi bokek. Kas persaudaraan kami sudah ludes untuk merenovasi garasi menjadi studio, dan sisanya sudah kami habiskan di meja judi. Gawat.</p>
<p>&#8220;Ada usul, <em>guys</em>, gimana caranya kita beli alat musik?&#8221;</p>
<p>&#8220;Gue tahu!&#8221; Badu bangkit dari duduknya, tangannya mengepal dan matanya berbinar-binar. Saya dan Bada langsung berdoa dalam hati, semoga usul Badu kali ini bermutu. &#8220;Gimana kalo kita ke toko musik, lalu kita pecahin semua alat di sana?&#8221;</p>
<p>Saya dan Bada saling berpandangan, bingung. &#8220;Ehmm, maksudnya…?&#8221;</p>
<p>Badu tampak kesal. &#8220;Ah, dasar bodoh kalian ini. Di toko kan suka ada tulisan &#8216;<em>Pecah Berarti Membeli</em>&#8216;! Jadi kalo kita pecahin alat musik di sana, berarti kita membelinya!&#8221;</p>
<p>Astaga. &#8220;DUITNYA, monyooooongggg!!!&#8221;</p>
<p>Sampai sekarang kami masih suka heran, apa sebenarnya yang ada di pikiran Tuhan ketika Dia menciptakan Badu.</p>
<p>Setelah melalui musyawarah untuk mufakat (awww, betapa kami menjaga nilai-nilai luhur bangsa!), keputusan bersamanya adalah: kami harus bekerja terlebih dahulu, mengumpulkan dana untuk membeli alat-alat musik idaman kami. Pokoknya kami harus bisa nge-band!</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p>Besoknya, kami pun mulai mencari uang dengan kemampuan kami masing-masing. Ada yang &#8216;terpaksa&#8217; kembali menulis naskah komedi untuk salah satu acara lawak paling fenomenal di sejarah pertelevisian negeri ini (ahem!). Ada yang pulang kampung dan diam-diam menjual kerbau-kerbau peninggalan kakek. Pokoknya kami kumpulkan uang &#8220;sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit&#8221;. Hmm, ngomong-ngomong itu peribahasa yang agak aneh ya: maunya ngumpulin duit, kok dapetnya malah bukit? Apa bukitnya harus kita jual dulu, baru kita dapet duit? Ah rumit.</p>
<p>Sementara Badu berusaha mencari uang dengan jualan balon di SD-SD. Kasihan, rupanya dia belum tahu, bahwa ketimbang lagu &#8220;<em>Balonku ada limaaa, rupa-rupa warnanyaaa…</em>&#8220;, anak-anak jaman sekarang lebih akrab dengan &#8220;<em>Aku punya teman… uh, uh… Teman tapi mesraaa…</em>&#8221; Begitu tahu, Badu langsung banting setir, jualan lotre di bungkus permen karet. &#8220;Gimanapun juga, judi itu abadi, Bos. Nggak kenal jaman.&#8221; Walhasil, bukannya untung malah buntung. Dia berurusan dengan pihak sekolah dan kepolisian, karena menjanjikan hadiah motor padahal bohong. Badu pun dijebloskan ke penjara dengan pasal penipuan. Tapi dengan bantuan Setan, yang kebetulan dikurung di sel sebelah atas tuduhan pemaksiatan umat, Badu berhasil kabur dari penjara.</p>
<p>Sebagai ucapan terimakasihnya, Badu mendirikan usaha baru: atraksi Tong Setan. Itu lho, akrobat naik motor muter-muter di dalam tong raksasa. Dia sendiri yang jadi penunggang motornya. &#8220;Gini-gini, gue kan ada bakat pembalap,&#8221; kata Badu pede. Padahal seingat kami, satu-satunya balapan yang pernah dia ikuti adalah karapan sapi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/02/TongSetan1.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-600" title="TongSetan" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/02/TongSetan1.jpg" alt="" width="454" height="302" /></a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sialnya, usaha Tong Setan ini pun tak banyak menghasilkan uang. Malah lebih sering nombok, karena harga BBM selalu naik dan naik terus. Dan rasanya kok sayang aja gitu, buang-buang bensin cuman buat muter-muter bloon di tong bego kayak gitu. Dirundung putus asa, plus bisikan Setan tentunya, akhirnya Badu memutuskan untuk (maaf) jual diri. Sayang caranya salah: dia berteriak-teriak sambil menjajakan dagangannya, &#8220;<em>Diri, diri! Diri!</em>&#8221; Bukannya laku, orang-orang malah menganggapnya gila. Mungkin mereka benar.</p>
<p>Saya dan Bada merasa kasihan. Bagaimanapun, Badu bagian dari kami. Dia hanya khilaf. Akhirnya dengan semangat persaudaraan, penuh haru kami merangkul Badu. Kami mengajaknya insyaf, menggandengnya pulang. Trio Budi Bada Badu utuh lagi, dan kabar bagusnya, awas, kami akan memakai huruf kapital: UANG KAMI SUDAH CUKUP UNTUK BELANJA ALAT MUSIK!</p>
<p>Kami bertiga pun berangkat ke toko alat musik yang sudah kami incar dari dulu. Sepanjang jalan, saya dan Bada bernyanyi-nyanyi riang (sekaligus mengasah persediaan stok lagu-lagu awal kami, yang sebenarnya sudah cukup banyak untuk sekadar <em>double album</em>), sementara Badu hanya diam saja dari tadi. Mungkin dia masih merasa nggak enak dengan kejadian tempo hari, apalagi secara finansial dia tidak ikut berkontribusi. Ketika pelan-pelan kami yakinkan bahwa itu beneran nggak papa, dia malah heran, &#8220;Kalian ini kenapa sih? Gue kan lagi mikir, gitar merk apa yang sebaiknya kita beli nanti!&#8221;</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p>Setibanya di toko (wah, namanya Toko &#8220;Musik&#8221;!, hohoho kami langsung merasa satu frekuensi!), atas rekomendasi kuat—untuk tidak mengatakan setengah memaksa—dari petugas parkirnya, akhirnya Badu memilih satu gitar lusuh di pojok toko. &#8220;Itu gitar legendaris peninggalan musisi terkenal di jamannya!&#8221; demikian katanya sambil menyodorkan kartu parkir kami. Lalu gitar itu pun kami periksa dengan seksama dan dalam tempo sesingkat-singkatnya. Tampak di stikernya yang sudah kusam, nama merk-nya: &#8220;Tua&#8221;. Well, ini pertanda bagus. Dengan gitar &#8220;Tua&#8221; ini, Badu pasti kan merasa seperti Rhoma Irama. Kami jadi curiga, jangan-jangan Pak-Petugas-Parkir tadi mantan anggota Soneta.</p>
<p>Bada, sebagai musisi spesialis alat tiup, mulai mencari-cari saksofon. Kami memang sempat terpikir mengubah aliran band kami menjadi jazz (karena kata sebuah lagu, &#8220;<em>&#8230;daripada musik metal lebih baik musik jazz&#8230;</em>&#8220;), tapi rupanya Toko &#8220;Musik&#8221; ini tidak menjual saksofon. Di etalase musik tiup kami hanya menemukan harmonika (yang segera kami hindari, karena mengingatkan pada pengamen country blues di warung sop kaki kambing langganan kami), pianika (aduh, memangnya anak SD ujian EBTA praktek?), seruling bambu (oh no, kami bukan band si gembala sapi!), dan&#8230; terompet bekas sisa Tahun Baru kemarin.</p>
<p>Astaga, kami salah memilih toko. Dengan suara tercekat, Bada bertanya, &#8220;Alat musik tiupnya cuman ada ini doang, Mbak?&#8221; Si Mbak-Pelayan-Yang-Lumayan mengangguk sambil tersenyum manis kayak tebu. Tapi dia mendadak seperti teringat sesuatu, lalu bergegas ke arah salah satu lemari. Dikeluarkannya kotak hitam lusuh, sambil berkata, &#8220;Ini ada satu lagi, Dek&#8230;&#8221; (Wah, ge-er juga dipanggil &#8220;Dek&#8221;. Pasti wajah imut kami inilah penyebabnya!)</p>
<p>Tapi ketika kotak hitam itu dibuka, lemaslah kami bertiga demi melihat isinya: peluit!</p>
<p>&#8220;Gimana, Dek, tertarik? Ini alat tiup juga kan? Kata distributornya, ini <em>limited edition</em> lho! Bisa dibilang <em>rare</em> lah!&#8221;</p>
<p>Tunggu. Peluit? Distributor? Tanpa aba-aba, kami bertiga serentak menoleh ke luar. Tampak Pak-Petugas-Parkir cepat-cepat melengos sambil bersiul-siul layaknya tak mendengar percakapan kami. Damn, apa yang bisa kami harapkan dari toko musik sialan ini?</p>
<p>Akhirnya, malas-malasan Bada mengambil seruling bambu. &#8220;Jangan kuatir, teman-teman. Saya akan memodifikasinya biar sedikit lebih berkelas. Band besar sekaliber Jethro Tull saja juga memakai seruling.&#8221; Okay bro, terserah kamu deh. Toh Bada adalah anggota persaudaraan yang kami tuakan, dan bagaimanapun, menghormati orang tua adalah sikap terpuji.</p>
<p>Oya, sebagai vokalis, supaya nggak terlalu nganggur waktu manggung ntar, saya pikir saya butuh kicrik-kicrik. Tapi lagi-lagi stok toko lagi kosong. Alasan Mbak-Pelayan-yang-Lumayan kali ini adalah, &#8220;Lagi nge-trend di kalangan musisi indie sekarang. <em>Sold-out</em> terus dari bulan kemarin.&#8221; Okay deh. Sebagai gantinya, saya beli <em>game-watch</em> Tetris. Toh fungsinya sama: supaya saya nggak terlalu nganggur di atas panggung. Jadi saya bayangkan, ketika membawakan salah satu lagu hits kami, yaitu sehabis saya menyanyikan bagian <em>reffrain</em> dua kali, lalu Badu akan bersolo gitar (yang pasti akan memakan waktu cukup lama, karena dia krisis eksistensi), maka selama itulah saya akan main Tetris. Cool.</p>
<p>Saatnya membayar. Di kasir, kami gagal meminta diskon. Padahal Badu sudah menyamar menjadi fakir miskin dan anak terlantar yang dipelihara oleh negara. Lihat, celananya dekil, kaosnya robek-robek, tapi sialnya bermerk mahal. Tentu saja pihak toko nggak percaya. Hmm, Mbak Kasir cantik juga (potensial groupies awal?), tapi kok kayak judes dan pelit. Dan bener aja. Waktu nggak ada kembalian, kami dikasih permen. Bayangkan!</p>
<p>&#8220;Kembaliannya permen aja ya? <em>Sok atuh</em>, kalian masing-masing ambil 1 permen!&#8221;</p>
<p>Kami kesal bukan main. Enak aja kembalian tiga ratus perak diganti permen.  &#8220;Kenapa sih Mbak, kembaliannya mesti permen?&#8221;</p>
<p>Jujur aja, kejudesannya tadi sudah lumayan mengurangi kecantikannya. Apalagi setelah dia menjawab, &#8220;Karena kalian masih kecil, masih anak-anak. Jadi kembaliannya pakai permen…&#8221;</p>
<p><em>Oh man</em>, meski berwajah imut-imut, kami bukan anak-anak! Badu tampak kesal dan dari hidungnya keluar api, &#8220;JADI KALO KITA NTAR UDAH GEDE, KEMBALIANNYA PAKE BIR?!?!”</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p>Di jalan pulang, kami masih agak kesal dengan perlakuan toko yang aneh tadi. Tapi kami mencoba tetap fokus dengan cita-cita luhur kami semula: Menjadi Anak Band! Oh, cool. Di kepala kami tersusun lagi rencana-rencana awal: latihan di garasi, manggung di gig-gig indie, upload lagu kami di internet, dilirik produser idealis yang mumpuni, kontrak rekaman yang menggiurkan, masuk TV dan terkenal, jadwal manggung yang padat, dikerubutin cowok-cowok, eh cewek-cewek, dsb., dst., dll., etc&#8230;</p>
<p>Sayang seribu sayang, mimpi tinggal mimpi. Semuanya terpaksa kandas, bahkan sebelum kami mulai. Ini gara-gara satu musibah absurd yang menimpa kami. Di jalan pulang tadi, kami bertemu, ehmm&#8230; well, seekor naga.</p>
<p>Ya, ya, ya, saya tahu kalian pasti tidak akan percaya. Selama ini kami juga berpikir naga hanya hidup di cerita-cerita dongeng belaka. Tapi sekarang, kami melihatnya dengan mata kepala sendiri. Besar, sangat besar, dan nyata. <em>ASTAGA NAGA RAKSASA</em>!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/02/naganaganyadragon.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-595" title="naganaganyadragon!" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/02/naganaganyadragon.jpg" alt="" width="300" height="299" /></a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sebelum kami sempat berpikir mengambil langkah seribu, Sang Naga sudah terlanjur mendenguskan nafas api, membakar habis semua alat musik kami! Kami sangat marah, tapi terlebih lagi, sebenarnya, kami sangat takut. Dia lalu membuka mulutnya lebar-lebar, mau memakan kami! Tak sempat menjerit, kami bertiga saling berpelukan seperti finalis AFI yang dieliminasi, sambil berikrar sehidup semati. Naga itu pun menelan kami!</p>
<p>Di saat itulah kami mulai paham arti istilah &#8220;<em>mulut lu bau naga, bro</em>.&#8221; Apalagi kami belajar langsung di lapangan, langsung dari sumber yang paling terpercaya. Tak kuat menahan bau naga mulut Sang Naga, kami bertiga pun jatuh pingsan. Ketika siuman, kami baru menyadari sudah berada di dalam perut Sang Naga.</p>
<p>Sejak saat itu, kami harus menjalani sisa umur kami di sana. Sampai detik ini. Kami masih berpikir keras, bagaimana caranya bisa keluar dari  tempat ini. Mungkin dengan menuliskan cerita ini, sidang pembaca menjadi tergerak menolong kami. Kalian bisa mengirimkan saran-saran lewat surat pembaca, ke PO BOX N464. Kami tunggu ya. Terima kasih lho.</p>
<p style="text-align: right;">Salam,<br />
Budi, mewakili Bada dan Badu.</p>
<p><span style="font-size: 90%;"><span style="font-family: trebuchet ms;">*) Judul cerita ini diilhami dari judul film dokumenter <strong><em>Anak Naga Beranak Naga</em></strong> (2006), karya <a href="http://arianidarmawan.net"><strong>Ariani Darmawan</strong></a>. Tulisan ini pertama kali muncul di <a href="http://budibadabadu.blogspot.com/2006/05/anak-band-beranak-band.html" target="_blank"><strong>blog lama</strong></a> saya.</span></span></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/anak-band-beranak-band/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Di Ruang Itu</title>
		<link>http://budiwarsito.net/di-ruang-itu/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/di-ruang-itu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Jun 2011 03:49:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Rupa-rupa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=750</guid>
		<description><![CDATA[. Bapak pernah sangat marah padaku, dan tak sengaja beliau menjatuhkan Kamus Besar Bahasa Indonesia yang luar biasa tebal dari rak buku, tepat mengenai luka yang belum kering di lutut kananku. Beberapa hari sebelumnya lutut kananku memang cedera parah, jatuh terpeleset dari pohon belimbing di halaman depan, akibat menaiki kursi dingklik bikinan Bapak yang tentu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/06/whenwewereyoung.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-752" title="whenwewereyoung" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/06/whenwewereyoung.jpg" alt="" width="336" height="352" /></a><span style="color: #ffffff;">.</span></p>
<p>Bapak pernah sangat marah padaku, dan tak sengaja beliau menjatuhkan Kamus Besar Bahasa Indonesia yang luar biasa tebal dari rak buku, tepat mengenai luka yang belum kering di lutut kananku. Beberapa hari sebelumnya lutut kananku memang cedera parah, jatuh terpeleset dari pohon belimbing di halaman depan, <span id="more-750"></span>akibat menaiki kursi dingklik bikinan Bapak yang tentu saja tidak sempurna sebab beliau memang bukan seorang tukang kayu. Luka itu kemudian terbuka lagi, tertimpa ratusan halaman kata-kata, dan darah segarnya mengucur. Merembes ke bawah, terus ke bawah, melewati betisku, menyelusup di antara jari kaki, berakhir membasahi lantai. Aku ingat bagaimana Bapak kemudian mengelap basah yang amis itu dan membungkus lututku dengan perban baru, merawatnya dengan obat-obatan. Bapak melakukannya dengan penuh rasa sesal, bercampur kasih sayang yang tersamar, dan muka keras yang murung. Beliau menangis. Aku, masih sangat kecil waktu itu, sibuk menggigiti bibirku, badanku gemetar menahan supaya tangis tak ikut pecah. Antara rasa pedih akibat luka itu, penglihatan atas raut wajahnya yang tua dan lelah, dan terutama pengetahuan bahwa hidup beliau memang tidak mudah. Aku mengerti.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p style="text-align: center;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/di-ruang-itu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>S.O.S.</title>
		<link>http://budiwarsito.net/s-o-s/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/s-o-s/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Mar 2011 20:19:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Rupa-rupa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=675</guid>
		<description><![CDATA[dina-dina kepungkur sing nyenengake, saiki muspra lan sirna. saben dak cedhaki, sliramu mesthi nutupi. ana apa ta ya, tresnamu lan tresnaku, aku kandhanana. mbiyen tanpa susah, mbiyen tansah bungah. nalika ing sisihmu, apa sliramu ora krungu: &#8220;S.O.S.&#8221; tresnamu marang sliraku, ora ana liya kejaba iku, sing bakal nyelametake aku: &#8220;S.O.S.&#8221; yen sliramu lunga, awakku lungkrah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><a href="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/03/Semut.jpg"><img class="size-full wp-image-685 aligncenter" title="Semut!" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/03/Semut.jpg" alt="" width="358" height="269" /></a></p>
<p>dina-dina kepungkur sing nyenengake, saiki muspra lan sirna. saben dak cedhaki, sliramu mesthi nutupi. ana apa ta ya, tresnamu lan tresnaku, aku kandhanana. mbiyen tanpa susah, mbiyen tansah bungah. nalika ing sisihmu, apa sliramu ora krungu: &#8220;S.O.S.&#8221; tresnamu marang sliraku, ora ana liya kejaba iku, sing bakal nyelametake aku: &#8220;S.O.S.&#8221; <span id="more-675"></span>yen sliramu lunga, awakku lungkrah ora duwe daya. yen sliramu lunga, banjur aku mulih menyang sapa. sanajan cedhak, sliramu krasa adoh. amarga sliramu, esemku ngungkuli urip. nanging ana uga sing kebacut mati ing sajroning ati. wis dak jajal ngrungkebi sejatining aji, tetep wae ora gampang dingerteni: ana apa ta ya, tresnaku lan tresnamu. mbiyen tanpa susah, mbiyen tansah bungah. &#8212;<em><strong><a href="http://www.mediafire.com/?7pitb5dic9jd1n9" target="_blank">Aidan Smith</a> </strong>membawakan ABBA dengan sedikit modifikasi.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/s-o-s/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Super Funky Animals</title>
		<link>http://budiwarsito.net/super-funky-animals/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/super-funky-animals/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Feb 2011 19:11:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Rupa-rupa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=566</guid>
		<description><![CDATA[FADE IN. EXT. Poskamling Desa Sukarmaju &#8211; DAY Seperti biasa, Pak Ogah dan Pak Ableh selalu menyempatkan diri mengobrol di sela-sela kesibukan mereka yang padat (bo&#8217;ong banget). Dalam sebuah hubungan, komunikasi itu penting, demikian kata mereka. OGAH Bleh, lu tau nggak, ada binatang yang cuma terdiri dari satu huruf? ABLEH Ah, mana mungkin. Ada gitu? [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><a href="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/01/Ogah-Ableh.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-569" title="Ogah-Ableh" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/01/Ogah-Ableh-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" /></a></p>
<p style="text-align: left;"><strong>FADE IN.</strong></p>
<p><strong>EXT. Poskamling Desa Sukarmaju &#8211; DAY</strong></p>
<p>Seperti biasa, Pak Ogah dan Pak Ableh selalu menyempatkan diri mengobrol di sela-sela kesibukan mereka yang padat (<em>bo&#8217;ong banget</em>). Dalam sebuah hubungan, komunikasi itu penting, demikian kata mereka.</p>
<p style="text-align: center;">OGAH<br />
Bleh, lu tau nggak, ada binatang yang cuma terdiri dari satu huruf?</p>
<p style="text-align: center;">ABLEH<br />
Ah, mana mungkin. Ada gitu?</p>
<p style="text-align: center;">OGAH<br />
Ada dong. Gajah.</p>
<p style="text-align: center;">ABLEH<br />
Gajah? Kok bisa?</p>
<p><span id="more-566"></span></p>
<p style="text-align: center;">OGAH<br />
‘G’ ajah gituuuh…</p>
<p style="text-align: left;">2 menit kemudian.</p>
<p style="text-align: center;">OGAH<br />
Kalo yang dua huruf, lu tau nggak?</p>
<p style="text-align: center;">ABLEH<br />
Buset. Apa lagi nih?<br />
(<em>jeda, mikir</em>)<br />
Nyerah deh.</p>
<p style="text-align: center;">OGAH<br />
Udang!<br />
(<em>jeda, semangat</em>)<br />
Lu nanya dong, &#8216;Kok bisa&#8217;?</p>
<p style="text-align: center;">ABLEH<br />
Okay. Kok bisa?</p>
<p style="text-align: center;">OGAH<br />
Udang. ‘U’ dan ‘G’. Hihihi.</p>
<p style="text-align: left;">1 menit kemudian.</p>
<p style="text-align: center;">OGAH<br />
Eh, eh, ada lagi! Kalo 3 huruf?</p>
<p style="text-align: center;">ABLEH<br />
(<em>menguap</em>)</p>
<p style="text-align: center;">OGAH<br />
Tau nggaaak?</p>
<p style="text-align: center;">ABLEH<br />
(<em>menguap lagi</em>)<br />
Ogah aaaah…</p>
<p style="text-align: center;">OGAH<br />
Ah, belum juga nyoba… Lagian itu kan line gue!</p>
<p style="text-align: center;">ABLEH<br />
(<em>menguap besar sekali</em>)<br />
Nyerah deh. Apaan?</p>
<p style="text-align: center;">OGAH<br />
Beo, hiu, asu… Hahaha.</p>
<p style="text-align: center;">ABLEH<br />
(<em>tidur</em>)</p>
<p style="text-align: left;">Mereka pun melanjutkan tidur siang sambil berpelukan. Mesra sekali.</p>
<p><strong>FADE OUT.</strong></p>
<p style="text-align: right;"><strong>THE END.</strong></p>
<p style="text-align: left;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/super-funky-animals/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>You Are What You Eat</title>
		<link>http://budiwarsito.net/you-are-what-you-eat/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/you-are-what-you-eat/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Nov 2009 19:59:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[Rupa-rupa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=402</guid>
		<description><![CDATA[. &#8220;I&#8217;m not vegetarian because I love animals. I’m vegetarian because I hate plants.&#8221; &#8212;A. Whitney Brown, &#8220;Saturday Night Live&#8221; cast member, Season 11-16, 1985-1991. Saya punya banyak teman vegetarian, tapi saya tidak punya satu pun teman kanibal. Hannibal Lecter cuma hidup di dunia rekaan Hollywood, dan saya juga tidak kenal Sumanto dari Purbalingga&#8212;sebagaimana saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-405" title="mangan_ora_mangan" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2009/11/mangan_ora_mangan1.jpg" alt="mangan_ora_mangan" width="334" height="231" /></p>
<p><span style="color: #ffffff;">.</span><br />
&#8220;<em>I&#8217;m not vegetarian because I love animals. I’m vegetarian because I hate plants.</em>&#8221;<br />
&#8212;A. Whitney Brown, &#8220;Saturday Night Live&#8221; cast member, Season 11-16, 1985-1991.</p>
<p>Saya punya banyak teman vegetarian, tapi saya tidak punya satu pun teman kanibal. Hannibal Lecter cuma hidup di dunia rekaan Hollywood, dan saya juga tidak kenal Sumanto dari Purbalingga&#8212;sebagaimana saya berharap dia juga tidak kenal saya. Hmm, apa hubungannya vegetarian dengan kanibal? Jawabannya: mungkin memang tidak ada. Saya cuma tiba-tiba ingat, ada teman saya, seorang perempuan vegetarian yang mengaku <em>moviefreak </em>sejati, pernah membuat review film Korea berjudul <em>301, 302</em> (Cheol-su Park, 1995) dengan penuh semangat. Dan kebetulan, film itu tentang kanibal. Oops, spoiler. Saya sendiri juga suka film itu, sebuah drama tentang kesepian dan dendam, yang disajikan dengan sinematografi yang indah, dramatik, dan terus terang bikin saya lapar. Haa!<span id="more-402"></span></p>
<p>Saya juga ingat sebuah buku bagus terbitan tahun 1992, berjudul <em>Cut! Horror Writers on Horror Film</em>. Di buku itu, salah seorang kontributor, penulis fiksi horor, mengaku menyukai film kanibal padahal dia seorang vegetarian. Kathryn Ptacek, demikian nama perempuan penulis itu, mengaku doyan film dengan tayangan sadis itu tanpa harus tahu kenapa. Artinya: dia nonton, ya karena pengen nonton aja. Dia membahas dengan cukup bagus film <em>Motel Hell</em> (Kevin Connor, USA, 1980). Film horor kanibal ini tidak begitu terkenal di sini, tapi pernah diputar di sebuah bioskop kelas kambing di kota saya&#8212;sekarang bioskop itu sudah tidak ada, menjelma jadi gedung pertokoan. Saking gak ngetopnya film itu, pernah jumlah penonton di bioskop itu cuma 5 orang. Salah satunya saya, duduk di barisan tengah, masih bercelana pendek waktu itu. Empat lainnya? Dua pasang muda-mudi, mojok di kursi belakang, yang pasti tidak terlalu peduli dengan film yang diputar, sebab mereka sedang sibuk membuat &#8216;film&#8217; sendiri.</p>
<p>Meski ada dua film yang sedang diputar bersamaan&#8212;satu di layar, satu di kursi penonton&#8212;saya berusaha konsentrasi menatap ke depan. Premis film ini cukup menarik. Settingnya di sebuah penginapan bernama Motel Hello. Papan nama hotel itu, sebuah plang dengan cahaya neon, selalu kerlap-kerlip di huruf &#8220;o&#8221;-nya, sehingga lebih sering tampak terbaca &#8220;Motel Hell&#8221;. Dan sebagaimana <em>hell</em>, penginapan ini memang keparat. Pemiliknya, seorang lelaki aneh bernama Vincent, menjalankan bisnis motel yang terkenal dengan sajian daging asapnya yang teramat lezat. Sebagai film kanibal, tentulah bisa ditebak: yeah, daging asap itu ternyata terbuat dari daging manusia. Stok dagingnya, dari pengendara mobil yang lewat di depan motelnya. Vincent selalu menjebak mereka dengan memasang paku di jalan. Dan Vincent bukan seorang tukang tambal ban: dia malah menangkap si pengendara mobil, menghajarnya, lalu menyeretnya ke kebun.</p>
<p>Berikutnya adalah aksi yang sadis dan &#8216;sakit&#8217;. Vincent mengubur hidup-hidup para korban, dengan kepala dibiarkan nongol di permukaan tanah. Supaya tidak bisa menjerit, Vincent menggorok dan mengambil pita suara mereka. Hasilnya, sajian visual yang mengerikan: kepala-kepala di tanah dengan mulut yang komat kamit terbuka, tapi tak keluar suara. Lalu Vincent menentukan nasib mereka selanjutnya: menjadi bahan daging asap yang lezat, sajian khas Motel Hell.</p>
<p>Keparat. Film itu benar-benar keparat. Di tengah kegelapan, saya seringkali menjerit tertahan, menatap adegan demi adegan sadis di layar&#8212;sementara di belakang sana, dua pasang muda mudi itu juga menjerit tertahan, mungkin atas alasan yang berbeda: saya karena ketakutan, mereka karena keenakan. Keparaaat. Kanibal juga dong ya mereka, karena manusia &#8216;memakan&#8217; manusia. Haha. Saya keluar dari bioskop sambil misuh-misuh. Di jalan pulang, saya memikirkan satu kalimat di film itu, yakni ketika Vincent mencari pembenaran aksi kanibalisme-nya dengan berkata, &#8220;<em>There&#8217;s too many people in the world and not enough food. Now this takes care of both problems at the same time</em>.&#8221; Oh, well.</p>
<p>Beranjak dewasa, pura-puranya demi menghormati kenangan menonton semasa kecil, saya mulai berburu film <em>Motel Hell </em>itu, berharap menemukan DVD-nya, atau VHS, atau LaserDisc, apapun! Tapi rupanya tidak mudah. Bertahun-tahun saya mencari, hasilnya nihil. Saya malah menemukan film-film tentang kanibal lainnya. Di rak koleksi film saya, tepatnya di deretan DVD berlabel &#8220;films about food&#8221;, berjajar judul-judul seperti: <em>Cannibal Holocaust</em> (Ruggero Deodato, 1980&#8212;film kanibal &#8220;klasik&#8221; yang sampai sekarang belum pernah selesai saya tonton saking jijiknya), <em>Silence of the Lambs</em> (Jonathan Demme, 1991; ya, ya, yang pertama saja, sebab sekuel dan prekuelnya nggak oke), <em>Delicatessen</em> (Marc Caro &amp; Jean-Pierre Jeunet, France, 1991; film kanibal yang dibuat oleh orang yang juga membuat film manis <em>Amélie</em>!), <em>Cannibal Ferox</em> (aka <em>Make Them Die Slowly</em>, Umberto Lenzy, Italy, 1981; iklan promosi untuk film ini berbunyi &#8216;<em>Banned in 31 countries</em>!&#8217;&#8212;meski murni fiksi, film ini masih saja dilarang di Inggris), <em>Ravenous</em> (Antonia Bird, 1999; kritikus Ebert menyebutnya sebagai resep film vampir dan kanibal yang disajikan dengan saus baru… oh, owkay), dsb, dll, dst, etc. Terlalu panjang untuk disebutkan semuanya di sini. Oya, tentu saja termasuk karya anak negeri: <em>Kanibal Sumanto</em> (Christ Helweldery, Indonesia, 2004). Sementara DVD <em>Motel Hell</em> sendiri malah belum berhasil saya dapatkan. Ada yang kepikiran untuk membantu berburu dan menghadiahkannya ke saya? Ulang tahun saya masih bulan Juni ntar kok, dan saya suka kejutan.</p>
<p>Ngomong-ngomong soal kanibal, saya punya satu orang teman yang juga antusias tentang hal sama. Dia selalu bersemangat menceritakan pengalamannya Kuliah Kerja Nyata (KKN) di sebuah desa terpencil di kaki gunung. Menurut kabar angin yang berhembus, warga desa terpencil itu masih kanibal. Atas nama rasa ingin tahu yang mendalam (sekaligus bayangan muluk-muluk sebuah skripsi dahsyat tentang riset sosiologis atas fenomena kanibalisme di era modern), dia memutuskan untuk KKN di desa itu.</p>
<p>Setibanya di sana, teman saya itu langsung menemui Kepala Desa. Setelah memperkenalkan diri dan berbasa-basi secukupnya, dia langsung bertanya ke inti masalah, &#8220;Pak, ehmm, denger-denger katanya warga desa sini masih kanibal ya?&#8221; Pak Kepala Desa menjawab dengan tersenyum, &#8220;Wah, dari mana Adek dapat informasi seperti itu?&#8221; Teman saya menjawab &#8220;Oh, dari… ehmm, dari internet , Pak!&#8221; sambil tak yakin apakah Pak Kepala Desa itu tahu internet. Pak Kepala Desa masih tersenyum ketika melanjutkan, &#8220;Jadi gini Dek. Kebetulan, sampai minggu lalu memang masih ada <em>satu orang</em> kanibal di desa ini. Tapi sekarang sudah nggak ada lagi.&#8221; Teman saya tentu kecewa, tapi dia masih menyempatkan diri bertanya, &#8220;Sampai minggu lalu? Emangnya sekarang si orang itu ada di mana, Pak?&#8221; Pak Kepala Desa menjawab, &#8220;Sudah mati Dek, kemarin kami makan rame-rame.&#8221;</p>
<p style="text-align: right;">[<strong>Budi Warsito</strong>]</p>
<p style="text-align: center;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/you-are-what-you-eat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengingat Yudi</title>
		<link>http://budiwarsito.net/mengingat-yudi/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/mengingat-yudi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Nov 2009 17:31:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Rupa-rupa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=231</guid>
		<description><![CDATA[. Saya punya teman SMP namanya Yudi. Orangnya kurus banget, sumpah kurus BANGET, kayak Aming tapi lebih tinggi, bahkan lebih tinggi dari saya. Rambutnya lurus tipis, jatuh, nutupin jidatnya yang jenong. Giginya tonggos tapi gak tonggos-tonggos amat. Anaknya sangat bersemangat. Rumahnya agak masuk ke pelosok desa, dan untuk sampai ke sekolah, dia harus naik sepeda [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-256" title="Tradtelefon" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2009/10/Tradtelefon.jpg" alt="Tradtelefon" width="420" height="289" /></p>
<p><span style="color: #ffffff;">.</span><br />
Saya punya teman SMP namanya Yudi. Orangnya kurus banget, sumpah kurus BANGET, kayak Aming tapi lebih tinggi, bahkan lebih tinggi dari saya. Rambutnya lurus tipis, jatuh, nutupin jidatnya yang jenong. Giginya tonggos tapi gak tonggos-tonggos amat. Anaknya sangat bersemangat. Rumahnya agak masuk ke pelosok desa, dan untuk sampai ke sekolah, dia harus naik sepeda sekitar 1 jam tiap paginya. Mungkin waktu saya baru bangun dan masih males-malesan di tempat tidur, si Yudi ini sudah harus mulai mengayuh sepedanya ke sekolah. Gokil, 2 jam bersepeda bolak-balik tiap harinya! Betis Yudi, meski kurus kering, tampak padat berisi.<span id="more-231"></span></p>
<p>Rumah boleh jauh, tapi Yudi gak pernah telat. Dia selalu datang beberapa menit sebelum bel berbunyi, lalu mengelap dahinya yang selalu bercucuran keringat. Yudi tipe murid yang selalu ngacung ketika guru melempar pertanyaan, gak peduli seberapa seringnya dia salah menjawab (dan emang lebih sering salahnya ketimbang benernya). Guru-guru menyepelekan dia untuk urusan akademis, tapi menyukainya untuk urusan disuruh-suruh. Ngambil kapur ke kantor TU? Yudi. Fotokopiin tugas sekolah? Yudi. Koordinator kerja bakti? Yudi. Dekorasi acara halal bihalal di sekolah? Yudi. (Kebetulan bapaknya punya usaha percetakan, sering terima order nyetak undangan kawinan.)</p>
<p>Yudi gak jago main voli. Selalu jadi bahan ketawaan seisi kelas tiap kali melakukan pukulan servis: bola volinya malah membumbung tinggi ke atas, lalu jatuh lagi ke tanah, hanya sejarak 1 meter dari tempat dia berdiri! Kalau main sepakbola, Yudi sering terjungkal sendiri tiap kali mau nendang. Di lapangan dia selalu gonta-ganti posisi, gak jelas, lari-lari doang ke sana ke mari. Jadi bek kanan, gak ngaruh. Jadi gelandang tengah, gak pernah nyetor bola. Jadi striker, mandul abis. Jadi bek kiri, malah bikin gol bunuh diri. Yudi pernah sekali jadi kiper, dan para pemain lawan berpesta pora di gawangnya. Kasihan Yudi.</p>
<p>Meskipun sering jadi bulan-bulanan, Yudi teman yang menyenangkan. Di lapangan dijitakin, di kelas diketawain, tapi kalau sakit dikangenin. Saya sering membonceng sepedanya, pergi les bareng sepulang sekolah. Selasa Matematika, Kamis Fisika. Lesnya jam 2 siang, tempatnya cuma 15 menit bersepeda dari rumah saya. Yudi gak pulang dulu ke rumahnya karena jauh, jadi seminggu dua kali dia makan siang masakan ibu saya. Trus berangkat les bareng. Bolos les bareng. Minum es cendol bareng. Beli majalah bekas bareng. Rasa setiakawannya pun tinggi. Saya pernah hampir dipalak preman di tempat dingdong, dan Yudi langsung buru-buru berdiri menutupi saya, berhadapan frontal dengan si preman, meski dengan ekspresi muka yang kelihatan banget ditenang-tenangin. Persuasinya mungkin gak gitu ngaruh, tapi bisa jadi si preman jatuh kasihan sama tampangnya yang memelas, keringetan, jidatnya jenong, dan giginya agak tonggos sedikit.</p>
<p>Yudi lulus dengan nilai pas-pasan, melanjutkan SMA (atau STM, saya lupa) masih di Sukoharjo. Sementara saya lulus dengan nilai terbaik, melanjutkan ke SMA favorit di Solo. Sejak saat itu Budi dan Yudi gak pernah ketemu lagi. Saya bahkan gak tahu dia kuliah di mana. Atau mungkin gak kuliah. Kadang-kadang saya dengar kabar tentang dia dari ibu saya, &#8220;Katanya Yudi sekarang jadi teknisi operator telepon seluler, kerjaannya keliling Indonesia masang tower.&#8221; Saya cuma manggut-manggut mendengarnya, soalnya inget si Yudi ini emang jago banget manjat. Bola voli yang dia pukul pernah nyangkut ke pohon, dan kecepatannya memanjat bikin gelak tawa orang-orang langsung berubah jadi decak kagum. Meskipun ada saja yang nyeletuk &#8220;Abis ini&#8230; Yudi pergi ke pasar&#8230;!&#8221; Anak SMP emang jahat-jahat.</p>
<p>&#8220;Ibu pernah ketemu Yudi di acara kawinan. Lagi sibuk benerin soundsystem. Dia nanyain kamu sekarang di mana.&#8221; Itu beberapa tahun lalu, gak lama setelah saya berhenti kuliah. &#8220;Trus Ibu jawab apa?&#8221; &#8220;Ya di Bandung. Trus Yudi bilang pengen mampir kalo lagi tugas masang menara di Jawa Barat.&#8221; Yudi menitipkan nomor HP-nya lewat Ibu, tapi saya gak pernah sekalipun ngontak. Mungkin saya malu. Ya. Yudi sudah kerja, saya malah putus kuliah.</p>
<p>Setiap habis Lebaran, di hari H+ sekian, selalu ada telepon ke rumah dari Yudi, dan selalu ada saja alasan saya untuk menghindar. Saya yakin dia gak pernah tersinggung karena hal itu. Yudi yang saya kenal adalah Yudi yang polos, baik hati, gak pernah berpikiran jelek, dan satu lagi: pantang menyerah. Ya, pasti karena sifat terakhirnya itulah, selalu ada dan akan ada lagi &#8220;Telepon dari Yudi&#8221; pasca Lebaran tiap tahunnya, meskipun jawabannya selalu gak jauh-jauh dari &#8220;Budinya lagi ke luar..”, atau “Wah, Budinya udah balik ke Bandung lagi..” Paling banter divariasikan dengan “Nitip pesen apa Mas Yudi?”</p>
<p>Ibu pernah berusaha ngasih nasihat, agak-agak tersirat, &#8220;Gak papa lah Bud, kamu ketemu Yudi.&#8221; (Mungkin maksudnya &#8220;Gak usah minder.&#8221;) &#8220;Kalian kan temen deket.&#8221; (Pasti artinya &#8220;Temen baik kok menghindar?&#8221;) &#8220;Bilang aja apa adanya, kamu kerja apa.” (Terdengar seperti &#8220;Emang kamu gak bangga nulis skrip Extravaganza?&#8221;)</p>
<p>Tapi Budi tetap gak mau ketemu Yudi.</p>
<p>Waktu berlalu, tahun demi tahun berganti. Setelah satu dasawarsa lebih, di beberapa Lebaran belakangan ini, gak ada lagi telepon-telepon dari Yudi. Mungkin lama-lama dia bosan juga. Mungkin dia lagi sibuk. Mungkin dia sudah berkeluarga. Mungkin dia masih keliling Indonesia. Tiap lihat menara ponsel tinggi, saya sering mikir “Mungkin itu yang masang Yudi.”</p>
<p>Sampai akhirnya tadi siang, telepon rumah berbunyi, dan hanya Tuhan yang tahu kenapa harus saya yang mengangkatnya. Padahal saya paling males ngangkat telepon. Terdengar di seberang sana, suara cempreng yang gak ada duanya. &#8220;<em>Halo, ini benar rumahnya Budi Warsito?</em>&#8221; Hanya butuh sepersekian detik untuk bisa mengenali suara itu: Yudi! Gawat. &#8220;<em>Halo? Halo?</em>&#8221; Aduh, harus jawab apa ya? Cepet Bud, putar otak! Beberapa detik berlalu, mungkin Yudi sudah hampir menutup teleponnya, tiba-tiba terdengar suara saya yang sudah diubah menjadi lebih berat, &#8220;Iya betul. Ini siapa ya?&#8221; Suara di seberang sana mendadak ceria, &#8220;<em>Ini temannya Pak! Yudi. Budinya ada Pak?</em>&#8221; Rasanya agak tercekat ketika saya menjawab, &#8220;Tunggu sebentar ya Mas.&#8221;</p>
<p>&#8230;.</p>
<p>(<strong>BERSAMBUNG</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/mengingat-yudi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>O Judge Dredd, Where Art Thou?</title>
		<link>http://budiwarsito.net/o-judge-dredd-where-art-thou/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/o-judge-dredd-where-art-thou/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Nov 2009 07:05:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Rupa-rupa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=237</guid>
		<description><![CDATA[. &#8220;They call him Judge, his last name is Dredd. So break the law, and you wind up dead.&#8221; (&#8220;I Am The Law&#8221; &#8212;Anthrax, dari album Among The Living, 1987) Perkenalan serius saya dengan dunia komik tak lepas dari andil sepotong lagu metal, seorang hakim tua, dan anak laki-lakinya. Bukan, mereka bukan karakter komik. Mereka [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #ffffff;">.</span></p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-303" title="komikmagnetik" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2009/11/komikmagnetik.jpg" alt="komikmagnetik" width="160" height="217" /><em><span style="color: #ffffff;"> </span>&#8220;They call him Judge, his last name is Dredd.<br />
</em><em>So break the law, and you wind up dead.&#8221;</em><br />
(&#8220;I Am The Law&#8221; &#8212;Anthrax, dari album <em>Among The Living</em>, 1987)</p>
<p>Perkenalan serius saya dengan dunia komik tak lepas dari andil sepotong lagu metal, seorang hakim tua, dan anak laki-lakinya. Bukan, mereka bukan karakter komik. Mereka hidup di dunia nyata, yakni tetangga saya waktu kecil&#8212;rumahnya tepat di sebelah rumah saya. Meski mereka hanya tinggal berdua (di mana gerangan sang ibu berada, rasanya tak perlu diceritakan di sini karena terlalu sedih), namun di mata saya rumah itu sungguh seru, terutama karena hal-hal kontras selalu terjadi di sana. Rumah itu cenderung sunyi senyap, apalagi sang ayah (botak, usia 50-an) dan sang anak (gondrong, akhir 20-an) itu jarang saling bertegur sapa, dan saya hanya bisa menebak-nebak obrolan kaku macam apa yang terjadi di meja makan. Namun setiap pagi tiba, tepat setelah si ayah berangkat <em>ngantor </em>demi menjaga tegaknya hukum di negeri ini, keadaan berubah 180 derajat: rumah itu mendadak hingar bingar oleh udara kebebasan. Si anak, seorang pengangguran yang tertekan, langsung merasa merdeka dan menyetel tape keras-keras. &#8220;<em>Life begins at six forty</em>!&#8221; (merujuk jam keberangkatan ayahnya), maka dimulailah rutinitas sehari-hari si <em>slacker</em>: mendengarkan musik metal sambil jingkrak-jingkrak, dan mendekam di kamar sepanjang hari sambil membaca komik. Ya, selain <em>metalhead</em>, tetangga saya itu juga seorang kolektor komik. Dan koleksinya cukup mengagumkan.<span id="more-237"></span></p>
<p>Saya, masih kelas 2 SD waktu itu, sepulang dari sekolah sering main-main ke kamarnya, yang penuh puntung rokok, tumpukan kaset, dan komik bertebaran di mana-mana. Dialah yang pertama kali mencekoki saya dengan Batman (&#8220;<em>Daripada jadi Clark Kent mending jadi Bruce Wayne, nggak usah kerja udah kaya raya</em>!&#8221;), tak menggubris protes saya saat disuruh membuang komik-komik Donal Bebek (&#8220;<em>Tapi kan Paman Gober juga nggak kalah kaya, Mas</em>!&#8221;), dan menertawakan idola saya Gundala Putra Petir (&#8220;<em>Kamu pernah baca Flash nggak sih</em>?&#8221;). Saya tahu semua sikapnya menyebalkan, tapi apa yang bisa dilakukan anak umur 8 tahun yang juga merindukan figur seorang kakak sekaligus teman? Kamarnya selalu bising dengan lagu-lagu cadas, tapi toh saya tetap datang dan datang lagi. Saya ingat betul kenapa lagu<em> </em>Anthrax &#8220;I Am The Law&#8221; terus menerus dia putar: sebab lagu itu itu bercerita sepenuhnya tentang tokoh komik favoritnya&#8212;Judge Dredd! Yeah, hampir semua tokoh komik superhero impor digemarinya, namun di atas segalanya, Judge Dredd adalah pahlawan dia nomor satu. Lagipula, adakah yang lebih membahagiakan ketimbang fakta bahwa band favorit kita berbagi cerita tentang jagoan yang sama?</p>
<p>Selama intro lagu itu&#8212;kocokan gitar tebal diadu dengan gebukan drum gagah, memakan waktu 1 menit sendiri&#8212;tetangga saya itu ber-<em>headbanging</em> heboh di atas kasur, lalu dengan lantang meneriakkan lirik demi lirik, &#8220;<em>He keeps peace with his law-giver, judge, jury, and executioners</em>!&#8221; Dan menjerit sekeras-kerasnya di bagian &#8220;<em>I am the law, you won&#8217;t fuck around no more</em>!&#8221; Ketika dia tunjukkan adegan demi adegan Judge Dredd berjibaku di lembar-lembar komik koleksinya, saya sempat melihat matanya berkaca-kaca.</p>
<p>Dalam hati&#8212;tentunya setelah bertahun-tahun kemudian&#8212;saya sering bertanya-tanya, jangan-jangan itu semua berhubungan dengan latar belakangnya sebagai anak seorang penegak hukum, ditambah kemungkinan batinnya sedang tertekan oleh persoalan hidup entah apa. Judge Dredd, sang jagoan berseragam yang menggabungkan kekuatan polisi, wibawa hakim, kebrutalan preman, teknologi mutakhir, dan sedikit aroma monster Frankenstein itu jelas mengejek sistem penegakan hukum di masyarakat masa depan. Atas nama hukum, aparat boleh bertindak apa saja, termasuk menghabisi nyawa si pelanggar hukum. Saya tidak sedang bicara moral atau soal benar salah di sini, tapi saya hanya curiga: bahwa yang dilihat tetangga saya di sosok Judge Dredd itu bukanlah kesewenang-wenangan aparat akibat kekuasaan, tapi semata-mata kebebasan bertindak. Bukankah dia mendambakan kemerdekaan, yang hanya diperoleh ketika rumahnya kosong, dan bapaknya, seorang hakim terhormat, sedang tidak berada di tempat?</p>
<p>Namun apapun itu, sejak itulah saya mulai berpikir ulang tentang persepsi primitif masa kecil saya perihal komik. Bahwa ternyata komik tak melulu tentang superhero (atau kalaupun masih, lebih sering muncul dalam parodi, atau antihero), bahwa narasi hitam putih bisa jadi sudah basi, dan bahwa telah (sedang, dan akan selalu) ada kebutuhan terciptanya format-format baru yang lebih menantang. Beranjak dewasa, saya harus berpisah selama-lamanya dengan tetangga saya itu. Saya bersekolah di luar kota, dan ada berita sedih: dia minggat dari rumahnya, lenyap tanpa kabar. Ada yang bilang dia menjadi preman di ibukota, dan kabar terbaru: dia mati ditusuk di sebuah huru-hara. Ayahnya, kini pensiun sebagai hakim, berduka untuk kedua kalinya, menghabiskan masa senja dengan berpindah domisili entah ke mana. Sementara di saat bersamaan. saya mulai &#8220;meninggalkan&#8221; komik, sedikit &#8220;beralih&#8221; dengan menemukan keasyikan di gambar bergerak alias film. Namun tiap kali tak sengaja mendapati tumpukan komik impor di toko buku, saya selalu teringat tetangga saya itu. Diam-diam saya bersyukur dia tak sempat menonton akting buruk Stallone di film <em>Judge Dredd</em> (1995)&#8212;sebuah upaya gagal memindahkan karakter komik ke pita seluloid. Bisa-bisa dia meringis kecewa.</p>
<p>Zaman makin berubah, dan perkembangan komik di negeri ini pun memasuki babak baru. Komik-komik bawah tanah mulai tumbuh subur di kota-kota besar di Indonesia. Pakem bertutur konvensional yang saya pahami, terang-terangan mereka labrak: panel-panel makin diruntuhkan, ada keliaran imajinasi yang semakin menjadi-jadi, serta imbuhan elemen lain seperti permainan kolase, baik untuk teks maupun gambar. Ada memang, yang terkesan asal-asalan, baru setengah jadi, atau cuilan-cuilan momen keseharian yang &#8216;Gak Penting&#8217; (tapi sebenarnya apa sih, yang &#8216;Penting&#8217; itu?), namun entah kenapa, beberapa di antaranya berhasil menggetarkan hati. Jangan-jangan justru di situ poinnya: mereka cuek dengan tampilan, toh yang lebih esensial adalah gagasan. Ada gairah bermain-main di situ&#8212;sebuah kesadaran penuh sebagai <em>homo ludens</em>&#8212;maka jika kemerdekaan bercerita dan ketersampaian pesan justru tercapai dengan mempreteli segala perangkat baku itu, kenapa tidak?</p>
<p>Ketika pameran komik—baik yang &#8220;lurus&#8221; maupun eksperimental&#8212;mulai menjamur di mana-mana, ingin rasanya saya ajak tetangga saya itu datang melihat-lihat. Saya penasaran apa pendapat dia. Tapi di mana dia sekarang? Saya tidak tahu. Jangan-jangan sebenarnya dia selalu &#8216;ada&#8217; menemani saya. Barangkali di alam sana, sambil menekuni halaman demi halaman komik Judge Dredd, dia tetap meneriakkan lagu Anthrax kesukaannya. Namun akankah dia bersetia pada lirik &#8220;<em>so break the law, and you wind up dead</em>&#8220;? Entahlah. Angkat gelasmu, ayo bersulang untuk kebebasan!</p>
<p style="text-align: right;"><strong>Budi Warsito<br />
</strong><em>Penikmat budaya pop, tinggal di Bandung</em></p>
<p style="text-align: left;">Ditulis sebagai catatan pendamping<em> </em>&#8220;<strong>Komik Magnetik</strong>&#8220;&#8212;Pameran Komik 10 Seniman, di RURU Gallery, ruangrupa, 14-29 November 2009. Kurator: Ifan Ismail dan Yudha Sandy.</p>
<p>[<strong>MP3</strong>]<br />
<a href="http://www.mediafire.com/?j5iy5kzkyzm" target="_blank"><strong>Anthrax &#8211; &#8220;I Am The Law&#8221;</strong></a></p>
<p style="text-align: left;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/o-judge-dredd-where-art-thou/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hikayat Si Koin Bolong</title>
		<link>http://budiwarsito.net/hikayat-si-koin-bolong/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/hikayat-si-koin-bolong/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Nov 2009 04:56:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Rupa-rupa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=82</guid>
		<description><![CDATA[. there&#8217;s a hole in my soul that&#8217;s been killing me forever / it&#8217;s a place where a garden never grows / there&#8217;s a hole in my soul yeah, I should have known better /&#8217;cause your love’s like a thorn without a rose &#8212;&#8221;Hole in My Soul&#8221;, Aerosmith di album Nine Lives, 1997 Dulu waktu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #ffffff;">.</span></p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-305" title="yencoinbolong" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2009/11/yencoinbolong1.jpg" alt="yencoinbolong" width="230" height="162" /><em>there&#8217;s a hole in my soul that&#8217;s been killing me forever / it&#8217;s a place where a garden never grows / there&#8217;s a hole in my soul yeah, I should have known better /&#8217;cause your love’s like a thorn without a rose<br />
</em>&#8212;&#8221;Hole in My Soul&#8221;, Aerosmith di album <em>Nine Lives</em>, 1997</p>
<p>Dulu waktu di Shinjuku saya sempat bertanya-tanya dalam hati kenapa beberapa koin uang Yen punya lubang di tengahnya. Ketika saya bertanya pada orang Jepang langsung (saya sendiri sebenarnya tak begitu yakin mereka tahu), yakni salah satunya Ibu Yamada yang cantik dan baik hati itu, yang pernah tinggal di Solo beberapa tahun, bukannya menjawab, dia malah balik bertanya ke saya apakah penjual rujak di bilangan Sriwedari masih ada. Sebagai sesama penggemar rujak, saya jawab saja &#8220;Masih ada, Bu!&#8221;&#8212;ini persoalan etika menyenangkan orang seberang&#8212;sembari berjanji dalam hati: begitu nanti saya pulang ke Solo, saya akan segera ke sana untuk mengecek ulang, dan mencicipinya tentu saja. Rujak buah yang rahasia kelezatan sambalnya terletak di kencur itu memang juara, tapi soal wisata kuliner nanti saja membahasnya. Saya masih penasaran soal koin bolong itu.<span id="more-82"></span></p>
<p>Saya yakin pasti ada pertimbangan lain yang bukan sekadar artistik belaka. Ketika tinggal di Mishima beberapa hari, menatap lebih dekat salju di pucuk gunung Fuji sambil membaca novel-novel Yukio Mishima (benar-benar kombinasi kegiatan yang sangat pas! Alias norak banget), saya bertanya ke Motonori (teman sebangku di sekolah yang suka main tamagotchi) soal koin itu, dan dia juga hanya bisa mengangkat bahu—belakangan saya baru tahu minat dia lebih ke musik dan membentuk band punk bareng tetangga sebelah rumahnya. Wuiih, ini rukun warga pangkeh bener!</p>
<p>Sampai balik ke Indonesia, pertanyaan itu tetap tidak terjawab. Saya malah menjadikan koin bolong itu sebagai bandul kalung, hingga saya masuk bangku kuliah di Bandung dan mulai nyadar bahwa ternyata <em>geuleuh</em> juga ya kalung itu (<em>pisan, jang!</em>). Akhirnya saya mendapatkan jawabannya dari sebuah buku, yang saya beli dengan harga cukup wajar di pojok Lt. 3 Gramedia Merdeka, ini dia cuplikannya:</p>
<blockquote><p><em>Why do ¥5 and ¥50 coins have holes?</em></p>
<p><em>When the Japanese economy was based on the sen (¥0.01) rather than the yen, there were several coins with circular holes in the middle. During the first half of 20th century the holes disappeared and coins were distinguished by size and material. There was also a time when there were not so many denominations of coins, so one of two distinctions sufficed. Today, however, we have coins of ¥1, ¥5, ¥10, ¥50, ¥100, and ¥500 value. Size alone, even with the addition of tooled edges, is insufficient to help the user recognize the denomination. The hole was, therefore, reintroduced to help even people with limited sight distinguish between ¥5 and ¥10 coins and ¥50 and ¥100 coins by feel alone.</em></p>
<p>(<em>Japan from A to Z, Mysteries of Everyday Life Explained</em>. p.28-29. James M. Vardaman, Jr. and Michiko Sasaki Vardaman. Yenbooks, 1995)</p></blockquote>
<p>Ah, dasar orang Jepang, sampai segitunya. Tapi bagus sih, niatnya mulia. Lalu apa hubungannya koin Yen dengan lagu &#8220;Hole in My Soul&#8221;-nya Aerosmith yang saya kutip di awal tulisan? Sama-sama bolong aja, gitu? Bukan. Begini ceritanya. Lagu itu sedang populer waktu saya balik ke Indonesia, dan ada seorang teman baik saya di SMA yang pacarnya lagi suka banget lagu itu. (Teman baik saya itu cuma minta &#8220;oleh-oleh&#8221; koin Yen buat koleksi mata uang dia. Hehehe, itu sih oleh-oleh yang gampang dan murah!). Di <em>sleeve</em> kasetnya rupanya tidak disertakan lirik, dan waktu itu internet belum sangat populer di tempat kami. Demi tampil heroik di mata ceweknya, jadilah saya ditodong untuk men-transkrip lirik lagu itu. Tentu saja dia nanti akan bilang ke ceweknya bahwa dia-lah yang telah bersusah payah men-transkripnya, spesial atas nama cinta. Well, taktik gombal murahan sebenarnya, tapi siapa tahu ampuh.</p>
<p>Di radio tape butut miliknya (sumpah butut banget), dengan semangat mulia &#8220;<em>a friend in need is a friend indeed</em>&#8221; membara di dada, kami memutar kaset itu berulang-ulang, mencatat kata demi kata. Sementara saya pasang kuping baik-baik (listening saya sebenarnya sama bututnya), teman saya itu malah sibuk mencabuti jenggotnya dengan dua koin Yen yang bolong tengahnya itu. Buset, kayak tukang ojek lagi nungguin penumpang aja. Liriknya mulai tercatat sedikit demi sedikit. Ketika baru sampai baris &#8220;<em>&#8230;yeah there&#8217;s a hole in my soul, but one thing I&#8217;ve learned, for every love letter written, there&#8217;s another one burned&#8230;</em>&#8221; (hmmm, dalem juga si Oom Tyler ini!) radio tape butut itu mulai batuk-batuk. Uhuk-uhuk. Well, usia lanjut tak bisa bohong. Begitu sampai lirik &#8220;<em>&#8230;is it over, is it over, ‘cause I&#8217;m blowin&#8217; out the flame&#8230;</em>&#8221; radio tape itu tiba-tiba berhenti bekerja. Sialan, pas banget sama liriknya!</p>
<p>&#8220;Tenang Bud, bentar lagi dia jalan lagi kok. Dia emang suka begitu&#8230;&#8221; ujar teman saya itu meyakinkan, sambil mengetok-ngetok bodi renta radio tape-nya. Tapi rupanya kali ini lain. Ditunggu-tunggu lama, radio tape itu tak mau hidup lagi. Diketok-ketok lagi, diam saja. Saya mulai khawatir, jangan-jangan wafat beneran. Padahal kata Chairil Anwar, &#8220;kerja belum selesai, belum apa-apa.&#8221;</p>
<p>Dengan otoritas penuh sebagai pemilik sah, akhirnya teman saya itu dengan pedenya mencoba membongkar dikit-dikit radio tape kesayangannya itu. Ini demi cewekku, katanya sambil sesekali menerawang (halo, sinetron). Maka dibukanya bodi radio tape yang sudah bau tanah itu. Beberapa sekrupnya, itupun kalau masih bisa disebut sekrup, sudah karatan dimakan usia. Waduh, saya lupa teman saya itu orangnya agak ceroboh. Bukannya ditaruh dulu, koin Yen bolong dia itu (plus beberapa helai jenggotnya menempel di situ) malah kecemplung masuk ke dalam radio tape butut itu! Yak, sempurna!</p>
<p>Koin sialan itu nyelip di antara kabel keropos dan onderdil busuk. Setelah mengumpat secukupnya, dia mengajak saya membongkar total radio tape itu. Saya sebenarnya males, tapi demi persahabatan (uhuk-uhuk!) saya menurut saja. Baiklah, ambil obeng, dsb. Bongkar sana bongkar sini, dsb. Tapi karena kami berdua tidak begitu paham soal barang-barang elektronik, jadilah duo-amatir-sok-tukang-reparasi ini cuma bisa &#8216;terima bongkar, tidak terima pasang&#8217;. Alias, &#8216;terima bongkar.. dan terima kasih&#8217;. Jadilah radio tape itu makin ancur. Operasi kami gagal total, dan bertambah satu lagi kasus malpraktik di Indonesia. Ketika kami membawanya ke tukang reparasi beneran di daerah dekat Kraton, diagnosis resmi yang kami terima adalah: &#8220;Wah, ini sih harus diganti, Dik!&#8221; … &#8220;Oh gitu? Diganti apanya ya Mas? Onderdilnya?&#8221; … &#8220;Bukan. Radio tapenya! Beli aja yang baru!&#8221;</p>
<p>Teman saya tersenyum kecut. Penuh haru, diangkutnya radio tape butut legendaris itu pulang. Didekapnya erat-erat, mungkin semacam penghormatan terakhir. Saya mengekor saja di belakang. Di perjalanan pulang, kami lebih banyak diam. Kami berkabung. Di kepala saya berkumandang lagu &#8220;Gugur Bunga&#8221;, adegan tentara baris berbaris, plus beberapa tembakan salvo. Jadilah teman baik saya itu gagal tampil heroik di depan ceweknya. Seminggu kemudian, mereka putus.</p>
<p style="text-align: right;">[<strong>Budi Warsito</strong>]</p>
<p style="text-align: left;">PS.<br />
Download di <a href="http://www.4shared.com/file/94488155/d870f688/Aerosmith_-_Hole_In_My_Soul.html" target="_blank"><strong>sini</strong></a> jika ingin mendengar lagu &#8220;Hole in My Soul&#8221;.</p>
<p style="text-align: left;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/hikayat-si-koin-bolong/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>[Cerpen Favorit] Chief Sitting Bull</title>
		<link>http://budiwarsito.net/chief-sitting-bull/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/chief-sitting-bull/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Dec 2008 07:20:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Rupa-rupa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=449</guid>
		<description><![CDATA[. (cerita pendek oleh Umar Kayam) . Pagi itu tidak banyak orang yang berkerumun di sekitar carousel Central Park. Hanya ada beberapa orang anak kelihatan bertengger di atas kuda-kudaan, seperti biasa tidak sabar menunggu lonceng tanda carousel berjalan berbunyi. Di bangku-bangku sekitar carousel, ibu-ibu atau pengasuh anak-anak itu duduk mengobrol sambil sesekali mengawasi anaknya. Teng-teng-teng. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><span style="color: #ffffff;">.<br />
</span>(cerita pendek oleh <strong>Umar Kayam</strong>)</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-452" title="carousel" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2009/12/carousel1.jpg" alt="carousel" width="385" height="418" /></p>
<p><span style="color: #ffffff;">.</span><br />
Pagi itu tidak banyak orang yang berkerumun di sekitar carousel Central Park. Hanya ada beberapa orang anak kelihatan bertengger di atas kuda-kudaan, seperti biasa tidak sabar menunggu lonceng tanda carousel berjalan berbunyi. Di bangku-bangku sekitar carousel, ibu-ibu atau pengasuh anak-anak itu duduk mengobrol sambil sesekali mengawasi anaknya. Teng-teng-teng. Lonceng berbunyi, wajah anak-anak berseri-seri, dan carousel pun bergerak. Kuda-kuda mulai naik-turun diiringi musik waltz.</p>
<p>Dari arah kebun binatang kelihatan seorang kakek berlari tergopoh. Di tangannya dijinjingnya sebuah kantong. Waktu sampai di muka loket, dengan napas sengal-sengal diberikannya uang lima puluh sen kepada perempuan yang menjual karcis.</p>
<p>&#8220;Lima, seperti biasa, Charlie?&#8221;<span id="more-449"></span></p>
<p>Charlie kembali mengangguk sambil menerima lima helai karcis yang berlaku buat naik lima kali putaran. Kemudian dia berdiri di pinggir pintu masuk. Salah seorang penjaga yang melayani anak-anak turun dari kuda, datang mendekati Charlie.</p>
<p>&#8220;Kau lambat hari ini, Charlie?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya. Mary, menantuku, tidak beres pagi ini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidak beres bagaimana?&#8221;</p>
<p>&#8220;Masa dia lupa menaruh jatahku yang $ 1 itu di meja dapur. Pagi ini aku hanya mendapatkan sandwich-ku untuk lunch di meja itu. Terpaksa aku tunggu ia sampai kembali dari laundromat. Aku labrak dia waktu dia kembali. Sampai nangis-nangis dia minta ampun.&#8221;</p>
<p>&#8220;Habis itu semua beres, kan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh, ya, tentu, tentu, Mary anak yang baik sesungguhnya. Cuma kadang-kadang dia tolol.&#8221;</p>
<p>Si penjaga tersenyum.</p>
<p>&#8220;Aku khawatir kau harus menunggu agak lama pagi ini, Charlie.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa maksudmu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Lihatlah, kudamu yang putih dipakai. Begitu juga yang hitam. Kecuali kalau kau mau naik yang lain. Maukah kau?&#8217;</p>
<p>&#8220;Tidak, tidak. Aku cuma naik yang dua itu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Jadi kau mau menunggu saja?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidak, tidak. Aku segera naik begitu putaran ini selesai.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tetapi anak-anak itu terus-menerus naik sampai enam putaran. Aku tidak tahu berapa mereka diberi uang oleh ibu mereka. Anak-anak Madison Avenue itu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ah, serahkan saja kepadaku. Masa aku kalah oleh anak ingusan. Anak ingusan tetap saja masih ingusan, biarpun dia dari Madison Avenue atau dari Avenue langit pun.&#8221;</p>
<p>Penjaga tersenyum dan meninggalkan Charlie karena lonceng telah berbunyi menandakan putaran itu telah selesai. Charlie mendekati anak yang mengunggang kuda putih.</p>
<p>&#8220;Howdy, Bill.&#8221;</p>
<p>Anak itu agak terkejut disapa seorang kakek.</p>
<p>&#8220;Namaku bukan Bill.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tetapi bukankah kau Buffalo Bill? Bill Cody?&#8221;</p>
<p>Si anak tertawa.</p>
<p>&#8220;Ya, ya, betul. Aku Buffalo Bill. Dan kau siapa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku Sitting Bull.&#8221;</p>
<p>“Chief Sitting Bull?”</p>
<p>&#8220;Ho!&#8221;</p>
<p>&#8220;Ho!&#8221;</p>
<p>Charlie menepuk-nepuk kuda putih.</p>
<p>&#8220;He, Bill. Sejak kapan kau ganti kudamu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa maksudmu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Bukankah Buffalo Bill naik kuda merah?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidak, tidak. Buffalo Bill selalu naik kuda putih.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi dia naik kuda merah waktu mengalahkan Sitting Bull.&#8221;</p>
<p>&#8220;Benarkah?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, tentu saja. Dan Sitting Bull naik kuda putih waktu itu.&#8221;</p>
<p>Si anak memandang Charlie dengan penuh keraguan.</p>
<p>&#8220;Tunggu dulu, Pak.&#8221;</p>
<p>&#8220;Chief.&#8221;</p>
<p>&#8220;Chief. Tunggu dulu, Chief. Benarkan Buffalo Bill pernah ketemu Sitting Bull?&#8221;</p>
<p>&#8220;Eh, bicara apa kau? Kau ini anak Amerika, apa anak Cina? Jawablah, apakah kau anak Amerika yang baik?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, aku anak Amerika.&#8221;</p>
<p>&#8220;Nah, kenapa belum tahu bahwa Buffalo Bill yang mengalahkan Sitting Bull?&#8221;</p>
<p>Si anak kelihatan bingung dan belum yakin betul akan kata-kata Charlie.</p>
<p>&#8220;He, Bill. Kudamu merah telah menunggu kau, &#8216;tu. Aku, Sitting Bull harus segera naik kuda putih.&#8221;</p>
<p>Si anak belum juga turun dari kudanya.</p>
<p>&#8220;Ayolah! Buffalo Bill naik kuda merah mengejar Sitting Bull yang naik kuda putih. Kalau nanti lonceng berbunyi aku akan mulai dengan wu-wu-wu-wu-wu begini dan kau, Bill, akan mulai menembak aku dari belakang. Tam, tam, tam, tam.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tetapi Buffalo Bill tidak pernah mau menembak dari belakang.&#8221;</p>
<p>“Siapa bilang? Melawan Indian dia harus menembak dari belakang. Bukankah Indian selalu lari tiap ketemu Buffalo Bill? Dan Buffalo Bill bukankah harus mengejar dan menembak dia? Ayolah! Sebentar lagi lonceng berbunyi, &#8216;tu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Baiklah, Chief.&#8221;</p>
<p>Si anak turun dari kuda putih dan berlari menuju kuda merah.</p>
<p>Charlie dengan tertawa terkekeh-kekeh buru-buru naik kuda putihnya. Teng-teng-teng. Lonceng tanda berputar berbunyi. Charlie melihat kepada si anak yang sekarang sudah naik punggung kuda merah. Charlie meletakkan telapak tangannya di mulutnya. Dan dengan berputarnya carousel, ditepuk-tepuknya telapak tangannya pada mulutnya : wu-wu-wu-wu, wu-wu-wu-wu-wu! Di belakangnya, si anak mulai menembak Charlie. Tam-tam-tam-tam-tam-tam!</p>
<p>Carousel berputar, kali itu lagu &#8220;Oklahoma&#8221; yang mengiringi.</p>
<p>Untuk kira-kira seperempat jam lamanya ruang carousel gegap gempita karena tembak menembak yang seru antara Buffalo Bill dan Chief Sitting Bull. Rupanya kedua pahlawan itu sama-sama sakti karena tak seorang pun yang jatuh karena tembak-menembak yang dahsyat itu.</p>
<p>Akhirnya Charlie pun selesai mengerjakan lima kali putaran dan turunlah dia. Si anak, karena juga telah selesai, ikut pula turun.</p>
<p>Charlie dan si anak sama-sama keluar.</p>
<p>&#8220;Itu tadi tembakan yang hebat, Chief.&#8221;</p>
<p>&#8220;Buffalo Bill selalu menang, Chief.&#8221;</p>
<p>&#8220;Betul, betul.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sekarang kau mau ke mana, Chief?&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh, aku harus kembali ke semak-semak sana.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ke semak-semak?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya. Aku harus ketemu squaw.&#8221;</p>
<p>&#8220;Squaw?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, squaw. Bukankah orang Indian laki-laki punya squaw.&#8221;</p>
<p>“Oh, ya, squaw. Pacar?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, begitulah kira-kira.&#8221;</p>
<p>Tiba-tiba seorang diantara perempuan-perempuan yang duduk di bangku memanggil anak itu.</p>
<p>&#8220;Tommy!&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, Bu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ayolah. Sudah siang sekarang. Bukankah kau harus pulang makan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi Bu, aku harus pergi.&#8221;</p>
<p>&#8220;Pergi? Pergi ke mana?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku mau ikut Chief Sitting Bull ketemu squaw.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ketemu apa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Squaw.&#8221;</p>
<p>Ibu Tommy memandang Charlie. Charlie tersenyum kemalu-maluan. Tangannya meraba-raba dasinya yang lusuh, kemudian diangkatnya topinya sedikit.</p>
<p>&#8220;Selamat siang, Nyonya.&#8221;</p>
<p>Dan Charlie dengan menjinjing kantong berjalan menuju ke kebun binatang. Tommy berteriak.</p>
<p>&#8220;Chief, Chief!&#8221;</p>
<p>Tapi Charlie tidak menoleh dan ibunya juga buru-buru menyeretnya.</p>
<p>Di kebun binatang, Charlie duduk di bangku. Di sampingnya, duduk seorang nenek yang sebaya dengan Charlie.</p>
<p>&#8220;Kau lambat hari ini, Charlie.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, maaf, Martha.&#8221;</p>
<p>&#8220;Burung-burung resah menunggumu. Tentulah mereka mengira tidak mendapat jagung dan jali hari ini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh, mereka akan mendapat. Aku tidak akan lupa. Sebabnya aku lambat karena Mary, menantuku.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kenapa dia?&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh, seperti biasa. Menantu-menantu bukankah selalu mencoba menyabot mertua-mertua mereka tiap kali ada kesempatan? Apalagi mertua yang sudah tua-tua seperti aku atau kau. Tidak pernahkah kau disabot menantumu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tiap hari, meskipun aku tidak tinggal dengan anak dan menantuku. Ada saja akal mereka untuk terus menggangguku. Bagaimana Mary menyabot kau pagi tadi?&#8221;</p>
<p>&#8220;Pertama, aku dikasih toast yang gosong-gosong saja buat sarapanku. Sudah itu dikasihnya aku cereal. Dianggapnya aku ini bayi, apa? Lalu yang terakhir, dan ini yang terlalu!&#8221;</p>
<p>&#8220;Apakah itu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Mary pura-pura lupa, tidak menyediakan uang harianku.&#8221;</p>
<p>&#8220;Terlalu!&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, bukankah sudah terlalu benar itu. Enak saja dia pergi ke laundromat, membiarkan mertuanya kelabakan di rumah, aku labrak habis dia. Aku bilang kalau memang dia tidak sudi lagi aku tinggal di situ, aku minta disewakan rumah sendiri. Kalau dia tidak berjanji menghentikan ulahnya yang tidak beres itu, aku mengancam mau mengadukannya kepada Johnny. Oh, nangis dia.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya,ya, sering kali menantu-menantu itu memang tidak tahu terima kasih.&#8221;</p>
<p>Sementara itu, sekelompok burung dara turun berkumpul di muka Charlie dan Martha. Kemudian datang lagi sekelompok, dan lagi sekelompok. Charlie mulai bersiul-siul memanggil-manggil mereka. Dikeluarkannya jagung dan jali dari kantongnya dan disebar-sebarkannya kepada burung-burung itu. Beberapa burung mulai bertengger di kedua bahunya. Mereka berebut minta makanan yang ada di tangan Charlie.</p>
<p>&#8220;Oh, oh, oh. Sabar, sabar, anak-anak. Sebentar kau juga dapat.&#8221;</p>
<p>Seekor dara putih datang bertengger di bahu Charlie dan dengan galaknya mematuk kawan-kawannya yang ada di bahu. Habislah mereka terbang, tinggal lagi si dara putih yang ada di bahu Charlie.</p>
<p>&#8220;Bukankah kau dara terlalu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, dara ini selalu nakal, Charlie. Di bawah tadi juga sudah menyikut-nyikut temannya dengan enak saja. Sekarang di bahumu begitu pula. Kita namakan saja dia, si Tamak.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, tepat sekali, Martha. Tamak, Tamak.&#8221;</p>
<p>Dan si Tamak pun terbang lagi. Lama kelamaan persediaan jagung dan jali Charlie habis. Burung-burung dara itu sudah biasa dengan jatah mereka, mulai terbang lagi.</p>
<p>Charlie lalu membuka bungkusan sandwich-nya.</p>
<p>&#8220;Apa lunch-mu hari ini, Charlie?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku mendapat sandwich salad ikan tongkol. Dan kau?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku membawa sandwich salad daging kalkun.&#8221;</p>
<p>&#8220;Mmmm, Kalkun. Rasanya, sudah seabad aku tidak makan kalkun.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku juga sudah lama tidak makan tongkol. Begini saja Charlie, kau kasih aku separo dari tongkolmu. Aku kasih kau kalkunku. Setuju?&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh, setuju sekali. Kau anak yang manis, Martha.&#8221;</p>
<p>Dan Martha tersenyum manis sekali mendengar itu.</p>
<p>Waktu jam sudah menunjukkan angka hampir setengah tiga, Charlie dan Martha berciuman dan berjanji untuk bertemu lagi esok harinya, untuk bersama-sama memberi makan burung dara.</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p style="text-align: left;">Hawa terasa panas waktu Charlie masuk rumah.</p>
<p>&#8220;Kaukah itu, Pak?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, Mary.&#8221; Dan Charlie menemui Mary di dapur.</p>
<p>&#8220;Segelas bir, Pak? Kau kelihatan haus sekali.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, tepat sekali. Bir.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku juga ada semangka. Maukah seiris?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, tepat sekali. Semangka.&#8221;</p>
<p>Mary tersenyum melihat mertuanya mulai makan semangka. Airnya berlelehan di mulutnya.</p>
<p>&#8220;Dari mana saja hari ini, Pak?&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh, dari perpustakaan, baca-baca. Lalu ke Washington Square ketemu kawan-kawan lama. Kami berdebat tentang politik.&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh, ya? Apa yang terjadi di dunia sekarang?&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh, keadaan genting, Mary. Genting.&#8221;</p>
<p>&#8220;Genting?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, Presiden Eisenhower mungkin akan memaklumkan perang kepada Stalin hari-hari ini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi, Pak. Eisenhower bukan lagi presiden. Dan Stalin sudah beberapa tahun mati, Pak.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aaaahh, kau anak perempuan ingusan tahu apa tentang politik. Kau kan pergimu cuma ke laundromat dan supermarket tiap hari. Aku saban hari melihat dunia. Jangan kau coba sangkal aku lagi.&#8221;</p>
<p>Mary mengangguk-anggukkan kepala.</p>
<p>&#8220;Ah, ya, tentulah aku khilaf lagi. Jadi sebentar lagi akan ada perang, Pak?&#8221;</p>
<p>&#8220;Belum tentu. Ini tergantung kepada Stalin. Kalau Stalin tidak berani menerima tantangan Eisenhower, bagaimana bisa terjadi perang?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ah, betul juga. Lagi, Pak, semangkanya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Boleh. Tapi sedikit saja. Habis semangka ini aku mau tidur sebentar.&#8221;</p>
<p>Waktu semangka itu sudah habis, Charlie pun pergi ke kamarnya. Sebelum masuk kamar tidak lupa Charlie berpesan agar dia dibangunkan lima menit sebelum Amos dan Andy keluar di TV. Pintu kamar ditutup dan satu siang yang sibuk sudah berlalu buat Charlie.</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p><span style="font-size: 90%;"><span style="font-family: trebuchet ms;">Diketik ulang dari buku kumpulan cerita pendek Umar Kayam, <em>Seribu Kunang-kunang di Manhattan</em> (Pustaka Jaya, cetakan pertama 1972). Gambar ilustrasi dicomot dari <a href="http://brainofalexyoung.com/" target="_blank">sini</a>.</span></span></p>
<p style="text-align: left;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/chief-sitting-bull/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

