<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>budiwarsito.net &#187; Rupa-rupa</title>
	<atom:link href="http://budiwarsito.net/category/rupa-rupa/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://budiwarsito.net</link>
	<description>esok kita jumpa pula</description>
	<lastBuildDate>Sat, 21 Jan 2012 12:37:23 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Fell in Love with Planet Zeke</title>
		<link>http://budiwarsito.net/fell-in-love-with-planet-zeke/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/fell-in-love-with-planet-zeke/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 Oct 2011 13:07:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Rupa-rupa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=587</guid>
		<description><![CDATA[. Di jadwal RRRec Fest pada peringatan 10 Tahun ruangrupa awal Januari 2011 lalu, tertera jelas: Zeke Khaseli bakal bermain di panggung outdoor setelah Bangkutaman. Dari kejauhan terdengar intro lagu &#8220;Blue Bird Taxi&#8221;, saya langsung bergegas sambil menyesal kenapa datang terlambat. Sesampainya di sana, ada pemandangan mengherankan. Tak ada Zeke di situ. Di atas panggung, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/09/ZekeDiRuku.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-898" title="KONICA MINOLTA DIGITAL CAMERA" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/09/ZekeDiRuku.jpg" alt="" width="448" height="297" /></a><span style="color: #ffffff;">.</span></p>
<p>Di jadwal RRRec Fest pada peringatan 10 Tahun ruangrupa awal Januari 2011 lalu, tertera jelas: Zeke Khaseli bakal bermain di panggung <em>outdoor</em> setelah Bangkutaman. Dari kejauhan terdengar intro lagu &#8220;Blue Bird Taxi&#8221;, saya langsung bergegas sambil menyesal kenapa datang terlambat. Sesampainya di sana, ada pemandangan mengherankan. Tak ada Zeke di situ. Di atas panggung, sekelompok anak muda tampak cuek memainkan lagu itu dengan gaya indie-rock lo-fi ala Pavement. Lagu-lagu berikutnya pun dibawakan tanpa basa basi, semuanya bergulir cepat, ringkas, tanpa penjelasan. Dan tak satupun dari mereka mengenakan kostum-kostum aneh: tak ada Boylien, Obama berkepala besar, pria dengan helm dan piyama, bunyi sirene, ataupun poster salak. Ada apa ini? Kenapa bukan Zeke Khaseli dan pasukan bertopengnya yang memainkan repertoire <em>Salacca Zalacca</em>?<span id="more-587"></span></p>
<p>Tak jauh dari panggung, Zeke malah duduk-duduk di belakang <em>soundsystem</em>, memainkan pengendali video yang ditembakkan dari <em>laptop</em>-nya ke layar panggung. Gaya visual itu sebetulnya tak jauh beda dengan kebiasaan konser <em>Salacca Zalacca</em>: di layar ada sosok &#8216;mirip Zeke&#8217;, lengkap dengan blazer hitam, kacamata bingkai tebal, dan topi khasnya. Tapi di video jelas bukan Zeke, itu orang lain yang didandani menyerupai dan berakting di depan kamera. Apa Zeke sedang bercanda? Dengan ekspresi bertanya-tanya, saya menghampiri Harlan &#8216;Bin&#8217; Boer dari Jangan Marah Records. Bin hanya bisa tertawa-tawa sambil geleng-geleng kepala.</p>
<p>Reidvoltus, band dari Bogor, tampil di panggung meng-<em>cover</em> lagu-lagu album <em>Salacca Zalacca</em> atas nama musisi aslinya dan mengecoh penonton (setidaknya saya); hanyalah satu dari sekian banyak ide aneh seorang Zeke Khaseli.</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p>Keesokan harinya, di salah satu meja Dunkin&#8217; Donuts Melawai, saya berusaha mengorek isi kepala Zeke Khaseli, kini 33 tahun, yang sepertinya sudah lama dipenuhi dengan lirik-lirik absurd, adegan-adegan film sci-fi klasik favoritnya, selera humor ganjil, ambisinya untuk terus menerus bermusik, serunya membuat lagu sendiri di kamar dan merilisnya rutin tiap akhir pekan.</p>
<p>Sambil mengaduk kopi dan menyantap sarapannya yang terlambat, Zeke membuka ceritanya.&#8221;Gue suka Reidvoltus. <em>Attitude </em>mereka asyik.&#8221; Dia mengaku para personel Reidvoltus hanya butuh waktu seminggu untuk berlatih lagu-lagu ciptaannya, itupun tanpa sempat sekali pun bertemu Zeke. Di konser semalam, karakter permainan mereka yang kuat berhasil menghadirkan satu lagi nuansa aneh dari sebuah album yang sebenarnya sudah aneh dari awalnya.</p>
<p>Apa itu berarti album <em>Salacca Zalacca</em> cukup diterima publik? &#8220;Gue nggak tahu. Tapi pernah di beberapa <em>show</em>, penonton di baris depan teriak-teriak ikut nyanyi. Orang-orang itu hapal lagu gue, bahkan bagian rap-nya. Kadang-kadang itu sudah cukup.&#8221;</p>
<p>April 2010 lalu, saya beruntung menjadi salah satu saksi mata dari konser perdana Zeke Khaseli dengan album <em>Salacca Zalacca</em>, di Bumi Sangkuriang, Bandung. Sebenarnya materi-materi lagunya yang mencampuradukkan berbagai <em>genre</em> itu sudah pernah dirilis gratis satu per satu sejak November 2009 di situs pribadi Zeke, tapi malam itu adalah kali pertama dia membawakannya secara <em>live</em>. Penonton sempat dibuat bengong dengan kemunculan aneh para pemusiknya: gitaris dan drummer dengan jubah panjang warna kuning (sebenarnya lebih mirip jas hujan), dengan muka tertutup topeng beruang. Sementara Zeke, bertopeng harimau, mengutak-atik <em>laptop</em> yang dipaksanya menyemburkan suara-suara aneh layaknya musik latar film-film sci-fi lama berbujet rendah. <em>Sound</em>-nya menggelegar—di beberapa lagu volumenya memekakkan kuping dan saya merinding—di mana segala bebunyian eklektik dan vokal aneh Zeke saling tumpang tindih dengan warna-warni video yang disorot ke <em>backdrop</em>.</p>
<p>Zeke bergumam di satu lagu, kata-katanya seperti meracau, sedikit nyinyir tapi kocak, lantas berteriak lepas di lagu lainnya. Bunyi theremin yang menyayat seperti memanggil-manggil makhluk dari galaksi lain, yang entah muram atau riang, atau kombinasi keduanya. Dia tersenyum ketika <em>laptop</em>-nya ngadat lagi, seolah-olah itu hal biasa, mengambil gitar kecil (sumpah, saya mendengar nafas lega dari <em>laptop</em> itu!), lalu dengan cueknya nge-rap, &#8220;<em>Pusing tujuh bling bling/ pump up valium/ tidur mulut senyum…</em>&#8221; Rasanya seperti berkaraoke semalam suntuk setelah di-PHK, di lokasi syuting film <em>Satyricon</em> dengan kru <em>lighting</em> yang mabok. <em>What a freakshow</em>!</p>
<p>Jelas dia sangat bersenang-senang di malam <em>launching</em> itu. &#8220;Itu salah satu konser terbaik gue. Atmosfernya susah diulangi, bahkan di 30 kali konser setelahnya.&#8221; Tapi tak bisa dipungkiri, makin hari konsernya makin tak lazim. Jika tak ramai oleh penonton pun, panggungnya sudah penuh sesak dengan karnaval para kru yang bersukaria. Personel <em>backing band</em>-nya makin meriah (ada yang tugasnya &#8216;hanya&#8217; mondar-mandir mengacungkan gambar salak, atau membunyikan megafon, tapi itu saja sudah seru!), dan ternyata semuanya menikmati menjadi <em>anonymous</em> di balik topeng. &#8220;Gue belinya di satu toko kostum di Jepang. Awalnya cuma pengen nonton konser reuni Pavement doang, tau-tau pulang bawa satu koper penuh isi topeng-topeng.&#8221;</p>
<p>Selama tur panjang artis-artis Jangan Marah Records di kota-kota sepanjang Jawa (dari Bogor hingga Malang), kekacauan mulai terjadi di hampir setiap <em>venue</em>, dimana makin banyak sosok berkostum aneh berseliweran di panggung, berbaur dengan penonton menari-nari di tiap lagu. &#8220;Raymond, <em>additional player</em>-nya Bangkutaman, awalnya cuma bantuin gitar akustik tiap kali Acum dkk manggung, tapi lama-lama dia mau juga jadi Boylien di konser <em>Salacca Zalacca</em>, hahaha!&#8221; tawa riang Zeke lebih mirip anak kecil menyambut anggota geng baru. Bahkan Cholil dari Efek Rumah Kaca pun tak ragu tampil memakai jas hujan warna hijau, saat Zeke membantu mengacak-acak lagu &#8220;Kenakalan Remaja di Era Informatika&#8221; dengan bunyi-bunyian theremin yang ganjil. (Zeke khusus memesan alat-musik-tanpa-disentuh ini ke Evan Storn, spesialis pembuat instrumen musik elektronik di Bandung. Ketika saya menunjukkan koleksi saya, film dokumenter tentang Leon Theremin, si ilmuwan jenius dari Rusia penemu alat itu, Zeke langsung membawa pergi DVD itu hingga kini.)</p>
<p>Publik mulai menanggapi album solo pertama Zeke ini, meski tak semuanya antusias. Hanya beberapa radio yang sempat memutarnya, dan media massa <em>mainstream</em> seperti enggan mengulasnya. Ketika seorang wartawan majalah musik terkemuka secara gegabah menyebut <em>Salacca Zalacca</em> sebagai album musik folk, saya mengernyitkan kening dan berpikir apakah seseorang sedang teler dan salah mengambil CD. Sementara di sisi lain, penggemar loyal mulai bermunculan. Mereka menyambangi tiap konsernya—<em>artwork</em> poster publikasinya selalu menarik—mungkin sambil menebak-nebak karakter baru apa lagi yang bakal muncul kali ini. Beberapa mulai mengutip lirik-liriknya di akun <em>social media</em>: &#8220;Dark Justice&#8221; dianggap sangat relevan dengan supremasi hukum yang makin kacau di negeri ini, &#8220;…<em>dark justice/ sistem yang paling cuek/ bener salah/ salah bener/ yang nambah cuma masalah</em>.&#8221; Di acara puncak Pasar Seni ITB 2010, seorang penonton ikut naik ke panggung besar dengan percaya diri, dan berbagi mikrofon dengan Zeke meneriakkan lirik &#8220;…<em>gue mau, semua mau, jadi</em>…<em> man of the hour!</em>&#8221;</p>
<p>Tapi lagu &#8220;Man of the Hour&#8221; bisa jadi memang paling tepat menggambarkan etos kerja Zeke. Diawali kata-kata &#8220;<em>Jagoan selalu naik kuda putih,</em>&#8220;, disambung dengan &#8220;<em>Masuk kamar/ nonton DVD/ hari libur sama dengan hari kerja</em>…&#8221;, bukankah itu terdengar seperti personifikasi dirinya sendiri: rekaman musik kamar/ penggila film/ <em>full-time musician</em>?</p>
<p>Film, salah satu minat terbesarnya, memang punya porsi besar di musikalitas Zeke. Sejak kemunculannya pertama kali di <em>scene</em> musik Indonesia bersama band LAIN, yang justru terbentuk di Seattle, sebenarnya karya-karya Zeke sudah pekat dengan aroma sinematis. Salah satu lagu terkuat di album <em>Djakarta Goodbye</em> (2003) memuat lirik &#8221; …<em>cloning, replicating with a ghost&#8217;s cell biomythical…</em>&#8220;—terdengar seperti satu premis menjanjikan untuk film sci-fi era &#8217;80-an. Kalimat di lagu lainnya, &#8220;<em>…dreaming the megapolis/ big city style you&#8217;re on your own/ tuning in bali’s police/ arrest the mind the thought of young…</em>&#8221; selalu mengingatkan saya pada robot Maria dan para pekerja di mahakarya Fritz Lang. Sementara piano di <em>track</em> penghujung album mengisyaratkan bakal seperti apa kira-kira film Kubrick pasca <em>Eyes Wide Shut</em> seandainya dia tidak keburu meninggal: &#8220;…<em>listen big shot/ under your bed/ boogeyman</em>…&#8221; Nada suara Zeke tak tertebak ketika mengaku kepada saya, &#8220;Yang bikin gue nyesel dari LAIN, kenapa cuma sempet bikin satu album. Rasanya kayak ada yang kepotong.&#8221;</p>
<p>Proyek dia berikutnya, Zeke and the Popo, juga hanya menelurkan satu EP dan satu album penuh, <em>Space in the Headlines</em> (2006), yang disebut majalah <em>Tempo</em> sebagai &#8220;The Beatles yang sakit&#8221;. Rekaman muram ini cukup imajinatif, lengkap dengan karakter ikonik si manusia berkepala tank, juga <em>sample vocal</em> dari serial televisi Hitchcock—salah satu sutradara favorit Zeke. (&#8220;Kalau kata gue <em>Rebecca</em>!&#8221; sergahnya ketika saya menyebut <em>The Birds</em> sebagai film terbaik Hitchcock.) Zeke and the Popo juga sempat menyumbang beberapa lagu untuk film <em>Janji Joni</em> (Joko Anwar, 2005), salah satunya tepat di adegan paling monumental: kamera <em>slow motion</em>, Sujiwo Tejo melempar tas Nicholas Saputra ke kobaran api.</p>
<p>Zeke terjun penuh ke dunia film dengan menulis musik latar di beberapa karya fenomenal sinema Indonesia modern: <em>KALA </em>(Joko Anwar, 2007) dan <em>Rumah Dara</em> (Mo Brothers, 2009). Di film <em>Fiksi. </em>(Mouly Surya, 2008), Zeke meraih Piala Citra sebagai penata musik terbaik. Bersama proyeknya yang lain, Mantra, dia ikut menggarap musik untuk <em>Pintu Terlarang</em> (Joko Anwar, 2009). Apakah itu semua yang membuat <em>Salacca Zalacca</em> sarat dengan referensi film? Lagu &#8220;Ketimur-timuran&#8221; menyebut judul-judul film seperti <em>Kill Bill, New York I Love You, Lawrence of Arabia,</em> juga keprihatinan Zeke pada lirik &#8220;…<em>bikin sutradara slave produser…</em>&#8221; Sementara lagu &#8220;Shit Is So Yesterday, Moralist Happens&#8221; lebih menohok lagi, &#8220;<em>…sekali-kalinya ada film lokal keren/ di bioskop cuma 5 hari.</em>&#8221;</p>
<p>Meski bisa diartikan sebagai kritik sosial Zeke atas hal-hal di sekitarnya, rupanya dia terlalu introvert untuk membicarakan lirik-lirik lagunya. Komentarnya pendek, &#8220;Gue cuma pengen make bahasa yang seasli-aslinya. Bahasa lisan gue yang seutuh-utuhnya. Yang begitu ditulis malah jadi aneh.&#8221;</p>
<p>Bagaimana tidak aneh? Album <em>Salacca Zalacca</em> berisi 17 lagu yang <em>track listing</em>-nya akhirnya disusun sesuai abjad karena terlalu banyak. Dan itu artinya 17 narasi tak beraturan tentang, <em>well</em>, apapun. Tapi justru di situ daya tariknya. Di lagu pembukanya, <em>11:01,</em> Zeke langsung meracau soal perjalanan udara ke rumah teman dekatnya yang baru saja meninggal, dan harus menulis lagu untuk upacara pemakamannya, &#8220;<em>Andy ninggalin pacarnya sendirian di hujan/ padahal masa depan mereka lumayan cerah/ untungnya pas sebelum mati sempet berubah/ jadi makhluk penyayang binatang.</em>&#8221; Astaga, kisah macam apa ini?</p>
<p>Jika Slank formasi awal mampu menulis lirik absurd di &#8220;Pak Tani&#8221;—salah satu lagu <em>giting</em> terbaik mereka &#8220;&#8230;<em>petani bajak sawah pake traktor/ kerja rutin kontrol sawah/ numpak Harley ngitung laba panen pake komputer/ ngirim order beras pake helikopter</em>&#8230;&#8221;; maka kalimat Zeke di &#8220;Man of the Hour&#8221; bisa dipertimbangkan sebagai sekuel yang tak kalah <em>ngaco</em>, &#8220;&#8230;<em>helikopter boy/ ego main lego/ ayo semua tepuk tangan buat film spesial efek/ kapten kapal api/ di laut mati</em>&#8230;&#8221;</p>
<p>Dan jangan lupa, sepenggal lirik di &#8220;Pig Paranoia&#8221; adalah <em>pick-up line</em> abad ini: &#8220;<em>…pelukan di halte bus/ dia senyum, hujan reda…</em>&#8221; Obbie Messakh boleh berbangga, sekarang dia punya penerusnya.</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p>Saya terpaksa minta pelayan di Dunkin&#8217; Donuts mengecilkan volume TV mereka yang mulai terasa berisik, atau mungkin kami sudah terlalu capek ngobrol, sementara Zeke berdiri terhuyung memesan kopi untuk kedua kalinya, dan mengaku, &#8220;Sebenernya gue baru sempet tidur 2 jam.&#8221;</p>
<p>Obrolan bisa berakhir saat itu juga, tapi saya tak rela melewatkan kesempatan mengorek ambisi musikal dia selanjutnya. &#8220;Jujur gue nikmatin banget segala macem kehebohan <em>Salacca Zalacca</em> ini. Bener-bener bersenang-senang! Tapi sekarang, gue harus nyoba yang lain.&#8221; Dan hal-hal lain itu berarti: meneruskan merilis lagu mingguan (<em>weekly download</em>) dari kamarnya, menulis lirik dalam bahasa Inggris lagi, dan kembali ke akar musik yang dia sukai sejak lama, <em>psychedelic</em>.</p>
<p>Jika pengalamannya berada di lautan manusia saat konser reuni Blur di London Juli 2009 punya andil besar memacu dirinya membuat <em>Salacca Zalacca </em>(&#8220;Damon Albarn itu gila-gilaan produktifnya, semua wilayah musik dia coba.&#8221;), maka kali ini konser The Flaming Lips di Singapore November 2010 yang melecut semangat Zeke. &#8220;Wayne Coyne itu sinting. Energik banget! Umurnya udah hampir 50 tahun, tapi tetep aja total bikin musik dan konsernya. Bahkan dia pernah pakai darahnya sendiri untuk campuran cat poster manggungnya.&#8221;</p>
<p>Di konser itu Zeke sempat bertemu Coyne di belakang panggung. Dalam satu percakapan singkat, Zeke hanya sempat memperkenalkan dirinya sebagai <em>bedroom musician</em>, setelah menitipkan CD <em>Salacca Zalacca</em> ke seseorang untuk Coyne. Cita-cita sebenarnya adalah: mengajak Coyne menyanyi bareng &#8220;My Cosmic Autumn Rebellion&#8221;—kebetulan tak dibawakan The Flaming Lips malam itu—dan merekamnya dengan kamera video. Sayang permintaan unik dari sang penggemar berat itu tak sempat dilontarkan. Besoknya, kekecewaannya sedikit terobati: di bandara Zeke tak sengaja berpapasan dengan Steven Drozd, gitaris The Flaming Lips. Lucunya, Drozd langsung memuji sepatu Zeke, &#8220;<em>Nice shoes, man</em>.&#8221; Zeke jelas bangga setengah mati. Ketika saya ingatkan konon Damon Albarn pertama kali berkenalan dengan Graham Coxon dengan langsung mengomentari betapa jeleknya sepatu Graham, Zeke langsung bereaksi, &#8220;Oh <em>shit</em>, Damon bilang sepatu Graham jelek? Gawat, ini Steven kok malah bilang sepatu gue bagus! Sialan.&#8221;</p>
<p>Delapan lagu baru pun tercipta. Meski <em>mood</em>-nya kini berbeda, tapi semuanya masih kental tanda tangan Zeke. Bunyi-bunyian yang diulik, lirik-lirik pelit yang multitafsir, dan di atas segalanya: nada-nadanya tetap melodius. Sensibilitas pop masih ada di sini. Dari mana datangnya kemampuan menciptakan segala <em>hook</em> itu? Bin, otak di balik bergabungnya Zeke ke label Jangan Marah Records, menyebutnya sebagai musisi berkarakter <em>traditional singer-songwriter</em>. Menurutnya, Zeke sangat peduli dengan nada dan piawai soal melodi. Konsep <em>weekly download</em> bagi Bin itu brilian. &#8220;Bahkan seandainya ini dilakuin sama band Melayu paling culun pun, tetap gokil. Bayangin <em>man</em>, tiap minggu keluar lagu baru!&#8221;</p>
<p>Hasil perdana sesi <em>psychedelic</em> ini adalah &#8220;Fell in Love with the Wrong Planet&#8221;, lagu ke-18 dari <em>weekly download</em>-nya. Zeke mengaku tertarik dengan konsep kata &#8216;<em>wrong</em>&#8216;, menurutnya batas benar atau salah sudah makin bias hari-hari ini. Proses penciptaannya masih sama dengan cara kerjanya selama ini: dia merekam nada-nada dasarnya di BlackBerry (&#8220;Kadang pakai gitar, atau mulut doang.&#8221;), lalu rekaman mentah itu dipindahkan ke komputer dan diolah dengan <em>software</em> musik Reason. Proses olahannya lebih banyak melalui piano, keyboard, harpsichord, dan instrumen pencet lainnya. Sembari membuat melodi dan <em>rhythm</em> yang cocok, dia mencari-cari <em>beat</em> yang enak untuk <em>drum loop</em>. &#8220;Gue nggak bisa main drum, dan gue bukan DJ. Masalah <em>beat</em> selalu merepotkan gue.&#8221; Tapi toh dia berhasil. Di &#8220;Rolling Like a Stupid Stone&#8221;, komposisi paling unik di sesi ini, Zeke memasukkan <em>beat</em> genit absurd ala dangdut remix khas Pantura yang dicampur sedikit nuansa padang pasir, tanpa membuatnya jatuh menjadi norak. Lagu ini riuh rendah dengan <em>sound</em> bertumpuk-tumpuk, tempo menghentak dan meliuk, yang arti liriknya hanya Zeke dan Tuhan yang tahu.</p>
<p>&#8220;Beberapa lagu memang tentang kehidupan pribadi gue. Namanya musisi kamar, ya pasti nulis tentang dirinya.&#8221; Karena kali ini ditulis dalam bahasa Inggris, Zeke menemukan kompleksitas berbeda. Dia merekam kalimat-kalimat pertama yang hinggap di benaknya, baru memaknainya belakangan. Rasanya seperti memecahkan misteri, dan dia menikmati prosesnya. &#8220;Gue pernah baca di buku biografi The Beatles, John Lennon nggak pernah nutup-nutupin kalau lirik bikinan dia nggak selalu punya arti. Bahkan kadang-kadang cuma permainan kata.&#8221; Ketika saya menyebut nama Syd Barrett, dia langsung menyambar, &#8220;Apalagi itu! Siapa sih yang bisa mengartikan lirik-liriknya?&#8221;</p>
<p>Semangat bermain-main pun masih tetap ada. Di &#8220;Causeway Bay&#8221;, yang dibuatnya di Hong Kong di sela-sela menonton konser Gorillaz, Zeke iseng menyelipkan suara alat pemompa ASI untuk bayi di awal lagu. Menurut Zeke, &#8220;Bunyinya seperti nafas mesin.&#8221; Pilihan tepat untuk menggambarkan liriknya &#8220;<em>…nature procreates/ machine replicates.</em>&#8221; Seolah tak cukup dengan segala kreativitas ini, Zeke masih merasa perlu membuat video untuk setiap lagu. Dan video itu bisa berarti apa saja: rekaman dia ke dokter gigi (masih sempat-sempatnya dia memakai kacamata hitam!), iseng berkaraoke di taksi yang sedang melaju, jingkrak-jingkrak di kamar, truk pengangkut sampah, keponakannya yang masih balita berlari-lari sambil tertawa riang, hingga dokumentasi saat dia diramal seorang <em>Chinese fortune teller</em> di Hong Kong (&#8220;Gue sih nggak ngerti dia ngomong apa, tapi di akhir dia ngacungin jempol&#8230;&#8221;). Zeke merancang semua konsepnya, mengambil gambar, mengedit, lalu mengunggah hasilnya ke Facebook dan YouTube, satu per satu berbarengan rilisan lagu mingguan.</p>
<p>Dari mana dia mendapat energi untuk itu semua? &#8220;Gue selalu percaya dengan kekuatan alam. Kita semua punya itu di dalam tubuh masing-masing.&#8221; Menurut Zeke, sifat-sifat dasar manusia yang harmonis dengan alam, itulah yang akan menang. Jika seseorang bisa mengeluarkan itu dari dirinya, hasilnya adalah kekuatan luar biasa. &#8220;Seperti <em>love</em>, yang nggak ada batasnya.&#8221; Sementara di BlackBerry dia masih menyimpan puluhan <em>file</em> yang dinamai <em>weekly potential</em>. Kata <em>finish</em> sepertinya sudah lama hilang dari kamus bermusiknya. &#8220;Gue nikmatin banget hidup gue sekarang ini. Bangun tidur, denger suara burung, angin, udara pagi. Gue tinggal nunggu, alam bakal bawa gue ke mana hari ini. Kita nggak bisa melawan itu.&#8221;</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p>Kopi dan makanan di meja kami sudah sama-sama habis. Obrolan sudah makin <em>ngalor-ngidul</em>. Zeke menceritakan pengalaman menonton konser pahlawannya yang lain, Daniel Johnston, di London. &#8220;Gue suka <em>honesty</em>-nya. Lo-fi yang paling lo-fi. Di panggung dia pernah salah main, berhenti bentar, tapi penonton teriak, &#8216;<em>Daniel, keep playing! Don&#8217;t worry, we love you!</em>&#8216; Semangat &#8216;<em>keep playing</em>&#8216; itulah yang kemudian menghantui Zeke sampai sekarang. Ketika obrolan kami berbelok membahas lagu &#8220;Tender&#8221;-nya Blur, dia tiba-tiba berkata, &#8220;Mungkin kapan-kapan gue harus bikin lagu gospel.&#8221; Ide bagi Zeke bisa muncul dari mana saja, bahkan sesepele celetukan di sela-sela obrolan. Rasanya tak ada yang mustahil.</p>
<p>Kabar terbaru ini mungkin bisa membuatnya tersenyum: Wayne Coyne baru saja mengumumkan The Flaming Lips bakal masuk studio awal tahun ini, lalu merilis lagu baru tiap bulannya. Semua proses itu akan diabadikan di sebuah dokumenter. Bukankah ini sebuah kebetulan yang lucu? Pada akhirnya, Zeke dan para pahlawannya berada di satu arena yang sama, melakukan hal-hal yang kurang lebih mirip. &#8220;Gue selalu <em>look up</em> ke musisi-musisi panutan gue itu sambil ngomong ke diri sendiri, <em>Gak kekejar nih, gak kekejar nih…</em>&#8221; Kalimatnya menggantung. Saya menunggu, mencari tanda-tanda menyerah di suaranya.</p>
<p>&#8220;Tapi gue masih pengen terus ngejar.&#8221;</p>
<p>Zeke Khaseli pamit pulang untuk tidur sebentar, lalu melanjutkan mengunggah lagu mingguannya. <em>Weekly download</em>-nya sudah melaju hingga lagu ke-25. Tak seorang pun tahu, di angka berapa dia bakal berhenti.</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p style="text-align: right;">Jakarta-Bandung, Februari 2011</p>
<p style="text-align: right;"><strong>Budi Warsito</strong><br />
<em>Pengelola perpustakaan Kineruku, Bandung</em></p>
<p style="text-align: left;">Ini adalah tulisan lama (Februari 2011), dengan foto ilustrasi lumayan baru (April 2011) yang diambil dari acara peluncuran <a href="http://kineruku.com/zeke-khaseli-rolling-like-a-stupid-stone-ep-release-party/"><strong><em>Rolling Like a Stupid Stone EP</em></strong></a> di <strong>Kineruku</strong>. Foto oleh <a href="http://meicysitorus.co.cc/" target="_blank"><strong>Meicy Sitorus</strong></a>. Tulisan ini juga dimuat di situs <a href="http://zekekhaseli.com/" target="_blank"><strong>Zeke Khaseli</strong></a>.</p>
<p style="text-align: left;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/fell-in-love-with-planet-zeke/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>[Cerpen Favorit] Kandang Babi, Rendez-Vous</title>
		<link>http://budiwarsito.net/cerpen-favorit-kandang-babi-rendez-vous/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/cerpen-favorit-kandang-babi-rendez-vous/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Oct 2011 08:33:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Rupa-rupa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=779</guid>
		<description><![CDATA[. (cerita pendek oleh Eka Kurniawan) Edi Idiot menjaga kampus siang dan malam, tapi ia bukan satpam. Terutama kalau malam, ia adalah raja yang berkuasa di kegelapan pohon-pohon rindang, tapi sungguh, ia bukan jin Iprit. Ia seperti kita juga: suka makan, beol, bercerita, berteriak menyanyikan Obladi Oblada, atau jika ia sedang tidak bersemangat, ia akan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #ffffff;">.</span><br />
(cerita pendek oleh <a href="http://ekakurniawan.com/" target="_blank"><strong>Eka Kurniawan</strong></a>)</p>
<p><a href="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/07/kandangbabi_still.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-781" title="kandangbabi_still" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/07/kandangbabi_still.jpg" alt="" width="432" height="324" /></a><br />
Edi Idiot menjaga kampus siang dan malam, tapi ia bukan satpam. Terutama kalau malam, ia adalah raja yang berkuasa di kegelapan pohon-pohon rindang, tapi sungguh, ia bukan jin Iprit. Ia seperti kita juga: suka makan, beol, bercerita, berteriak menyanyikan <em>Obladi Oblada</em>, atau jika ia sedang tidak bersemangat, ia akan duduk manis menatap jauh pada segerombolan gadis yang tengah duduk berkerumun: berharap satu atau dua orang tersingkap roknya.</p>
<p>Ia tinggal di satu sudut fakultas yang nyaman&#8212;senyaman kandang babi. Dulu ruangan itu dipakai untuk mengoperasikan mesin stensil yang belakangan tergusur setelah penemuan teknologi komputer yang edan-edanan. Kematian mesin stensil adalah berkat bagi Edi Idiot yang berharap menghemat banyak dengan pondokan gratis. Di sanalah ia tidur kalau ngantuk, bercinta kalau punya kekasih, atau mencoba bunuh diri kalau sedang gila.<span id="more-779"></span></p>
<p>Empat tahun telah berlalu, dan itu membuatnya betah tetap tinggal di kandang babinya; istananya yang paling hebat. Tak ada Induk Semang yang Bengis yang siap monyong dan melotot jika ia membawa gadis cantik ke dalam kamarnya (kemudian pintunya dikunci dan mereka berdua menabung bekal untuk di neraka). Juga tak ada Induk Semang yang Serakah yang akan menagih uang pondokan (atau uang listrik, atau uang iuran penyemprotan nyamuk deman berdarah, atau juga sedikit sumbangan untuk langganan koran). Tapi yang lebih hebat dari semua itu adalah fakta bahwa tak ada Induk Semang yang Cerewet yang akan melarang dia membuat keributan macam apa pun bersama sahabat-sahabatnya tercinta.</p>
<p>Hobinya memang membuat keributan yang tak termaafkan induk semang mana pun. Bernyanyi keras-keras diiringi petikan gitar yang sebenarnya tak pernah nyambung. Atau membacakan puisi-puisi cinta yang memilukan hati. Atau lain kali ia mengundang beberapa temannya sesama nomaden (mereka juga tinggal di kandang-kandang babi, atau ada juga yang di kandang ayam, kandang anjing, atau kandang dedemit, yang tersebar hampir di setiap sudut universitas) untuk sekedar beranjangsana ke pondokannya yang, &#8220;Aih, maaf, agak berantakan. Maklum pembantu sedang mudik.&#8221; Berkumpul merupakan saat-saat yang paling indah baginya. Dengan sedikit mabok karena arak putih yang dijual murah di pinggir jalan, mereka membicarakan kebusukan Hegel dan Heidegger sebebas membicarakan kebusukan artis-artis porno. Mereka adalah orang-orang kreatif yang tak pernah membaca Voltaire atau Cervantes namun memunculkan istilah-istilah inovatif melebihi sastrawan manapun: &#8220;Mesin Penjilat Bibir&#8221; untuk pelacur, dan &#8220;Pipis Enak&#8221; untuk suatu kondisi yang disebut ejakulasi pada puncak orgasme.</p>
<p>Dialah Edi Idiot. Menyelesaikan sekolah dasar selama sembilan tahun, sekolah menengah pertama empat tahun, dan sekolah menengah atas selama lima tahun; hanya Tuhan yang tahu bagaimana orang yang menurut sistem pendidikan nasional dibilang goblok ini bisa masuk universitas. Itulah mengapa ia mendapat gelar idiot, semakin terlihat idiot ketika ia kuliah di filsafat dan tak tahu tanggal berapa Aristoteles lahir! Namun di atas semuanya, ia sahabat yang menyenangkan: tak pernah malu pinjam uang, matanya melotot jika bicara dengan seorang gadis yang kebetulan kancing kemejanya sedikit terbuka, dan tidur di ruang kuliah (ia baik karena tidak mengganggu sang dosen menjual omongan yang selalu diulang di setiap semester, bukan?). Ia mudah dikenali dari pandangan pertama: pakaian yang ia kenakan adalah empat pasang jeans dan kemeja yang merupakan serangkaian siklus empat mingguan, karena itu selalu tampak kucel dan jorok kecuali di dua hari minggu pertama. Rambutnya merupakan satu hal yang jauh lebih mudah dikenali; panjang dengan model rasta seperti Bob Marley yang dibuat bukan dengan pergi ke salon, atau resep mandi dengan air laut, atau apalagi dengan beragam ramuan yang tak meyakinkan, namun sungguh-sungguh menjadi rasta karena ia belum keramas selama delapan bulan satu minggu tiga hari! Jangan tanya berapa batalion kutu di kepalanya…</p>
<p style="text-align: center;">*</p>
<p>Malam hari merupakan saat-saat yang paling merdeka buatnya. Ia bisa pergi nonton konser lalu pulang menjelang dini hari. Atau kalau tak ada hiburan di mana pun di segenap pelosok kota, ia dan para sahabatnya menghibur diri sendiri dengan judi kiu-kiu menggunakan kartu domino. Awalnya mereka bertaruh dengan duit receh, namun jika kebangkrutan sudah menghantam, kekasih-kekasih khayalan mulai jadi taruhan. Edi Idiot doyan mempertaruhkan Ayu Azhari, namun jika ia kalah ia dilarang mengaku sebagai kekasih Ayu Azhari selama seminggu ke depan&#8230; kenyataan tragis bagi laki-laki yang justru seringkali tak memiliki kekasih yang sesungguhnya.</p>
<p>Namun jika ia sedang baik hati, ia akan mengingatkan dirinya sendiri, &#8220;Edi, sudah jam sembilan malam. Waktunya tidur.&#8221;</p>
<p>Ia segera akan membereskan kandang babinya. Ketiga jeans dan ketiga kemejanya yang tidak sedang dipakai ia gantungkan di paku-paku yang menancap di dinding. Kemudian ia membersihkan tikar, menggebukinya dengan sebatang tongkat pendek untuk mengusir debu dan kecoa, sebelum dihamparkan di pojok kandang babi itu. Bantalnya sudah sangat lembek sekali, ia temukan dahulu kala di kantor senat mahasiswa, sempat jadi rebutan dengan seorang temannya yang kini tinggal di gudang lain tak jauh dari kandang babi mantan gudang stensilnya, namun ia menangkan setelah bertaruh siapa yang berani masuk ke ruang dosen di pagi hari sebelum cuci muka. Sementara itu selimutnya merupakan hadiah istimewa dari kekasihnya di semester kedua; berwarna coklat muda dan ketebalannya cukup menghangatkan di musim dingin yang sangat ekstrim; suatu penghibur jika ia mengenang bagaimana cintanya diputuskan oleh gadis tersebut padahal demi Tuhan bahwa gadis itu jeleknya minta ampun&#8212;tak lebih cantik dari lubang kloset.</p>
<p>Jika semua ritual itu sudah ia laksanakan, ia akan berbaring perlahan di atas tikar tersebut. Sejenak ia merenung-renung dan berkata pada diri sendiri:</p>
<p>&#8220;Kau kan mahasiswa, sebaiknya membaca satu atau dua menit sebelum tidur.&#8221;</p>
<p>Maka ia mengambil satu-satunya buku yang ada di kandang babi itu, tergeletak di meja kecil tak jauh dari tempat di mana ia berbaring. Buku itu adalah buku tulis, sudah lecek karena nyaris seumur ia kuliah hanya itulah buku andalannya. Sambil tiduran, ia membuka dan membaca catatannya:</p>
<p>&#8220;Nasi sayur satu, tempe dua, teh hangat; kopi dan bakwan dua; nasi pecel satu tambah telur satu dan es teh; nasi sayur tambah tempe satu dan tahu satu dan jeruk hangat; nasi sayur satu tambah tempe dua dan kerupuk dua tambah es jeruk; nasi pecel satu, perkedel dua dan kerupuk satu tambah es teh…&#8221; Itu adalah catatan hutangnya pada bu Kantin yang Gendut di Kantin yang Jorok. Ia akan melanjutkan sebelum benar-benar tidur: &#8220;Belum mengkhawatirkan, pasti bisa aku lunasi.&#8221;</p>
<p>Maka tidurlah ia dengan damai, tanpa perlu didongengi dengan cerita <em>Lutung Kasarung</em> atau <em>Bawang Putih dan Bawang Merah</em>. Ia tak punya jam weker yang akan menjerit membangunkannya di pagi hari. Ia pun tak pernah merasakan kehangatan sinar matahari pagi menghantam tubuhnya yang tidur karena jendela kandang babinya selalu tertutup. Maka satu-satunya tanda bahwa ia harus bangun adalah keributan mahasiswa dan dosen; saat itu biasanya sudah pukul tujuh pagi.</p>
<p>Ia akan menggeliat-geliat sebentar, lalu bangun dan membuka pintu. Pak Dekan baru keluar dari mobil, Edi Idiot tersenyum ramah, dan pak Dekan membalasnya dengan muka masam. Lalu muncul si Cantik adik kelas, Edi Idiot tersenyum juga, dan si Cantik ngibrit. Ia tak pernah sakit hati. Ia dengan santai menuju kran air dan cuci muka, dan dengan langkah seorang pemalas bergerak menuju Kantin yang Jorok untuk memesan kopi dan nongkrong habis sampai siang hari.</p>
<p>Banyak desas-desus dan omong-kosong bisa didapatkan di Kantin yang Jorok: misalnya siapa yang paling bertanggung jawab atas perut bunting Nurul?, atau laki-laki tua berkumis baplang yang manakah yang ternyata intel dan sedang memantau mahasiswa-mahasiswa yang membahayakan keselamatan negara?, atau manakah yang perlu dibela: apakah orang Timor hitam yang pro Indonesia atau orang Timor hitam yang lebih suka merdeka (namun jelas mereka tak akan membela minoritas keturunan Portugis yang berkuasa)?, namun di atas tema-tema berat macam begitu, hanya satu yang bisa membuat mahasiswa-mahasiswa nomaden heboh:</p>
<p>&#8220;Konon, rektorat akan melarang kita tidur lagi di kampus.&#8221;</p>
<p>Edi Idiot bahkan sukses semaput di belakang pantat bu Kantin yang Gendut.</p>
<p style="text-align: center;">*</p>
<p>Hal itu benar-benar terjadi di suatu hari. Edi Idiot pulang pada suatu senja dari sedikit pengembaraan yang agak melelahkan. Ia mendapati kandang babinya terkunci, dan semua barangnya teronggok di atas kursi reyot di depan gudang tersebut. Ia panik dan melesat ke ruang satpam penjaga gedung.</p>
<p>&#8220;Si-siapa yang mengunci gudang?&#8221; tanyanya, antara marah dan ngeri.</p>
<p>&#8220;Mana aku tahu,&#8221; kata pak satpam. &#8220;Konon mau dijadikan dapur kantin ibu darmawanita.&#8221;</p>
<p>&#8220;Anjing-anjing itu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Siapa yang anjing?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya babi-babi itu.&#8221;</p>
<p>Apa pun yang terjadi, pak satpam jelas tak bisa mengembalikan istana hebat itu kepadanya. Edi Idiot berjalan gontai kembali ke kandang yang terkunci, mengumpulkan barang-barangnya. Ia memasukkan bantal lepetnya ke dalam tas gendong yang sudah dekil; juga ketiga pasang jeans dan kemeja kesayangannya. Tikar ia gulung dan simpan di tiang penopang langit-langit, kapan-kapan ia ambil. Lalu meja kecil… ah, biarkan saja di situ, siapa tahu ada kemungkinan kembali berkuasa di kandang babi. Terakhir ia melipat selimut kenangannya dan mengapitnya di ketiak.</p>
<p>Dan, lalu?</p>
<p>Ia berdiri bengong di gerbang fakultas. Ia tak tahu harus ngeloyor ke mana. Ia tak punya pondokan selama empat tahun ini, dan lebih parah dari segalanya, ia tak punya uang untuk menyewa pondokan baru. Kakinya kemudian membawa dia menuju ke gelanggang mahasiswa, tempat di mana lebih banyak mahasiswa nomaden memanfaatkan ruangan-ruangan yang tak terpakai di malam hari. Tapi yang ia temukan hanyalah pintu-pintu yang terkunci, dan gerombolan mahasiswa terusir yang putus asa. Satu-dua anak mencoba memprovokasi untuk membuat sedikit pemberontakan pada keadaan yang sungguh tak adil, namun yang lainnya begitu lelah dan ngantuk&#8212;dan kehilangan motivasi&#8212;sehingga tak merespon dengan baik. Dan Edi Idiot, jelas ia lebih suka segera berlalu untuk menemukan satu tempat tidur yang nyaman di malam ini.</p>
<p>Ia berkeliling dari satu gedung ke gedung lain di segenap pelosok universitas. Ia memang menemukan teman-teman malamnya, sama-sama kehilangan harapan, namun tak menemukan ruangan yang layak untuk tempat tidur. Sampai ketika tengah malam datang, ia tersasar di gedung rektorat dan menemukan satu pos satpam kosong di sebelah utara. Yeah, bukan kandang babi memang, pikirnya; kandang monyet pun tak apalah!</p>
<p>Maka tidurlah ia di sana ditemani hantu wanita yang bunuh diri, dedemit, sundel bolong, dan semua makhluk horor lainnya. Namun semua keangkeran tempat tersebut tak mengganggu tidurnya sedikitpun. Ia lelap, selelap paku yang menempel di pintu. Namun di pagi hari, ia terbangun mendadak ketika seekor anjing kudisan mengendus-endus pantatnya. Anjing itu sama kagetnya, mundur sedikit, dan terkaing-kaing berlari ketika Edi Idiot menendangnya dengan penuh nafsu.</p>
<p>Ia sendiri kemudian terduduk, membiarkan cahaya matahari pagi memandikan tubuhnya. Nafasnya tersenggal-senggal, dan sambil memegang dada ia berbisik pelan:</p>
<p>&#8220;Oh Tuhan, terima kasih. Betapa mengerikan jika anjing sialan itu menyodomiku!&#8221;</p>
<p>Ia segera mencangklong tas punggungnya dan mengapit selimutnya, lalu berjalan pergi ke Kantin yang Jorok untuk mendapat segelas kopi sebagaimana biasa. Semua itu kemudian menjadi rutinitas barunya; tidur di kandang monyet ditemani makhluk-makluk horor, lalu terbangun dipermainkan anjing buduk pengendus. Selain itu pemandangan ini menjadi pemandangan umum di setiap pagi selama beberapa hari: seorang pemuda kurus kerempeng berambut rasta berjalan dari gedung rektorat ke Kantin yang Jorok sambil menggendong tas punggung berisi pakaian dan bantal dan di tangan kirinya mengapit selimut coklat muda. Dialah kawan kita si Edi Idiot yang karena nasib harus memerankan antagonis yang menyedihkan seperti itu.</p>
<p>Namun ternyata, bukan hanya orang-orang yang berpapasan dengannya saja yang kemudian merasa bersimpati dan kasihan; ia sendiri mulai mengkhawatirkan dirinya sendiri. Ia mulai menghitung-hitung buruknya tidur di kandang monyet itu; dalam satu atau dua bulan ke depan bisa dipastikan ia terserang paru-paru basah yang akut. Selain itu, meskipun ia punya selimut tebal kenangan, udara dingin di kandang yang tak punya dinding itu bisa membuatnya terserang rematik; alasan kuat untuk menyongsong hari tua yang mengerikan. Ia juga mengkhawatirkan gangguan makhluk-makhluk horor itu lama-kelamaan memberi trauma buruk pada kejiwaannya. Tapi yang paling membuatnya cemas adalah kengeriannya pada kemungkinan terburuk ini: suatu pagi anjing buduk itu benar-benar berhasil menyodominya!</p>
<p>Sambil minum kopi di Kantin yang Jorok ia menghitung sisa uangnya: ada tiga ribu empat ratus perak. Ia mencoba memikirkan banyak cara bagaimana melipatgandakan uang sekecil itu agar bisa menyewa pondokan barang satu atau dua bulan saja. Namun jiwa kapitalistik tak sungguh-sungguh mampir di otaknya yang bebal; yang terpikirkan adalah mempertaruhkan uang itu di meja judi kiu-kiu. Ia segera menukar uangnya dengan recehan seratus perak pada bu Kantin yang Gendut, dan segera kembali ke fakultas mengumpulkan teman-teman perjudiannya. Permainan berlangsung alot di belakang kantin, di mana dosen-dosen yang sok usil ikut campur urusan orang lain tak akan melihat kelakukan biadab mereka. Di setengah jam pertama, Edi Idiot bisa mengumpulkan keuntungan enam ratus perak, namun ketika permainan berlangsung lebih lama, ia mulai kehilangan receh demi receh hingga temannya yang lebih jago judi benar-benar menghabiskan seluruh modalnya.</p>
<p>Edi Idiot masih penasaran dan menjerit:</p>
<p>&#8220;Jalan terus!&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau bertaruh dengan apa?”</p>
<p>“Apa boleh buat, kutawarkan Ayu Azhari.&#8221;</p>
<p>&#8220;Mana bisa, tiga hari yang lalu Ayu Azhari sudah dipasang dan kau kalah.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kalau begitu Sarah Azhari.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ngawur, dia bukan kekasihmu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Peduli amat.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau mulai curang. Ayo, bubar!&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi…&#8221;</p>
<p>Teman-temannya sudah bubar dan pergi ke segala penjuru. Tinggal Edi Idiot yang mulai putus asa memikirkan bagaimana caranya memperoleh uang untuk menyewa pondokan baru. Pondokan yang aman dari pelecehan seksual anjing kudisan.</p>
<p style="text-align: center;">*</p>
<p>Selama beberapa waktu ia mencoba mengamen di perempatan jalan, namun hasilnya jauh dari cukup untuk mencapai cita-citanya punya pondokan baru. Ia bahkan pernah tergoda untuk melakukan sedikit pencurian; namun nyali kecilnya ciut ketika membaca berita di koran yang menyebutkan seorang pencuri dibakar massa beramai-ramai. Hasilnya, Edi Idiot mulai tampak redup. Romannya yang riang dan seringkali menghibur sahabat-sahabatnya mulai tampak jauh lebih tua. Ia menjadi seorang perenung, tapi jelas bukan filsuf. Sering berdeklamasi seorang diri, namun jelas bukan penyair juga, mungkin hanya karena kegilaannya sedikit sedang kumat.</p>
<p>Ia juga mulai memikirkan kemungkinan-kemungkinan untuk bunuh diri. Atau kadang terpikir untuk pulang ke kampung halaman, menyerah pada semua usahanya untuk jadi seorang sarjana yang dihormati. Namun semuanya tidak ia lakukan. Ia masih mencintai universitasnya, kotanya, dan juga para sahabatnya. Ia harus bisa bertahan, betapapun menyedihkannya hidup yang harus ia lakoni.</p>
<p>Kadang ia merasa betapa ruginya dia: hidup di dunia dalam keadaan buruk, dan kalau mati kemungkinan besar masuk neraka. Namun kemurungannya berubah seketika saat di suatu pagi, ketika ia sedang berjalan dari gedung rektorat menuju Kantin yang Jorok sambil menggendong tas punggung dan mengapit selimut pemberian mantan kekasihnya, ia bertemu seorang gadis di tengah jalan. Namanya Widy, sahabatnya satu angkatan namun nasib membuat jalan hidup keduanya berbeda. Widy sudah menyelesaikan kuliah dan sekarang bahkan sudah menjadi dosen di fakultasnya sendiri.</p>
<p>&#8220;Oh, Sahabatku, Widy, apa kabar?&#8221; Edi Idiot dengan muka yang ceria menghampirinya dan menjabat tangan.</p>
<p>Widy yang sedang dalam perjalanan ke kantor dosen menatapnya dengan prihatin. &#8220;Aduh, Edi, sudah berapa lama kau tidak mandi?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ah, Sahabatku, jangan tanyakan soal itu. Ngomong-ngomong, kau jarang terlihat akhir-akhir ini?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku? Seandainya kau rajin masuk kuliah, setidaknya aku mengajar kau satu minggu sekali.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku jadi malu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau tampaknya lapar, mau kutraktir?&#8221; tanya Widy.</p>
<p>&#8220;Demi Tuhan, aku menunggu tawaran seperti itu.&#8221;</p>
<p>Mereka kemudian mampir di Kantin yang Jorok sekedar melepas rindu sebagai dua sahabat yang lama tak berjumpa. Sarapan bersama sambil bicara mengenai banyak hal. Teman kita yang botak, si Agus, sekarang di mana? Aha, dia sudah kerja di Jakarta. Ya, betul, si Iwan sudah jadi wartawan, hebat betul dia. Dan Sinta, kudengar dia sudah kawin; punya anak tapi kemudian cerai, nasibnya agak malang. Aku tak tahu kalau soal Andi, katanya dia pergi ke Kalimantan; ya goblok sekali dia, kuliahnya ditinggal begitu saja, mungkin bisnis, tapi setahuku bisnis apapun dia selalu gagal. Dan kau? Masya Allah, hanya tinggal kau angkatan kita yang masih bertahan jadi mahasiswa?</p>
<p>Edi Idiot tersenyum dan bertanya:</p>
<p>&#8220;Dengar-dengar kau mau kawin?&#8221;</p>
<p>Widy tersenyum dan mengangguk. &#8220;Tentu saja,&#8221; katanya. &#8220;Sekarang masih nabung-nabung buat rumah dan tetek-bengeknya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kupikir kau mau tunggu aku.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sayang kau terlambat.&#8221;</p>
<p>Edi Idiot menyelesaikan sarapannya dengan perasaan puas, karena untuk pertama kali setelah beberapa waktu, ia boleh mengambil porsi makan sebanyak yang ia suka. &#8220;Tapi ngomong-ngomong,&#8221; katanya. &#8220;Kalau di hari perkawinan calon suamimu minggat, aku tak keberatan jadi pengganti.&#8221;</p>
<p>Widy tertawa dan menjawab, &#8220;Aku pertimbangkan.&#8221;</p>
<p>Mata Edi Idiot berbinar-binar menatap sahabatnya. Bukan, bukan karena harapan pada kemungkinan menjadi pengganti calon suami yang minggat, tapi karena ia menganggap saat inilah saat yang tepat untuk menyerang Widy dengan satu permintaan yang selama makan ia persiapkan:</p>
<p>&#8220;Sahabatku,&#8221; katanya pelan, takut terdengar penghuni Kantin yang Jorok yang lain. &#8220;Untuk sahabatmu yang malang dan mengibakan ini, maukah kau pinjami aku uang?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau pinjam uang?&#8221;</p>
<p>&#8220;Jangan keras-keras, Sayang… ya, itulah yang aku maksud.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau tidak dalam kesulitan besar, kan?&#8221;</p>
<p>Edi Idiot bercelingukan, lalu menatap sahabatnya lagi. Matanya sedikit berkaca-kaca (aduh, tak terkira dia agak cengeng juga). Lalu perlahan-lahan mengadu, &#8220;Kau tahu kan aku tinggal di kandang babi.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kandang babi di fakultas peternakan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Maksudku gudang bekas tempat mesin stensil.&#8221;</p>
<p>&#8220;Semua orang sudah tahu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi sekarang aku sudah tidak tinggal di sana.&#8221;</p>
<p>&#8220;Pantas saja aku jarang lihat kau.&#8221;</p>
<p>&#8220;Pihak universitas melarang kami tinggal di kampus lagi. Aku sekarang tinggal di kandang monyet, ditemani genderwo dan kuntilanak, serta dikeloni anjing kudisan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Di mana pula itu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Pos satpam dekat gedung rektorat.&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh Tuhan, itu mengerikan, Sayang.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, begitulah,&#8221; kata Edi Idiot. Dan dengan semangat ia mendramatisir, &#8220;Aku mulai menderita paru-paru basah, mungkin juga demam berdarah dan gagal jantung. Bahkan aku menduga aku sudah kehilangan satu ginjal. Aku khawatir lebih lama di sana bisa terkena AIDS juga.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sebaiknya kau menyewa pondokan saja.&#8221;</p>
<p>Ini dia! Dengan sedikit menahan diri, Edi Idiot berbisik, &#8220;Itulah mengapa aku mau pinjam duit ke kau. Atau kalaupun kau tak punya duit, setidaknya kau sudi berbagi tempat tidur denganku.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ah, aku lebih suka meminjami uang.&#8221;</p>
<p>&#8220;Itu pun tak apa.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi aku cuma bawa seratus ribu perak.&#8221;</p>
<p>&#8220;Itu lebih dari cukup.&#8221;</p>
<p>Transaksi berjalan dengan diam-diam. Selama itu berlangsung, Edi Idiot beribu kali mengucapkan terima kasih. Kau memang sahabat sejati, Widy. Semoga kau tambah cantik selalu, katanya. Semoga kau cepat naik pangkat&#8212;kalau perlu jadi rektor yang berpihak pada mahasiswa-mahasiswa malang seperti dirinya. Semoga amal-ibadahnya diterima Tuhan, dan semoga kau tertarik menjadikan aku sebagai suamimu.</p>
<p>Widy hanya tersenyum dengan segala puja-puji itu, dan berkata bahwa ia harus segera masuk ruang kuliah untuk mengajar.</p>
<p>&#8220;Ya, ya, selamat jalan, Sahabatku!&#8221;</p>
<p>Widy berlalu dan Edi Idiot melambaikan tangannya dengan bahagia.</p>
<p>Kini ada uang seratus ribu di tangannya. Edi Idiot termenung-menung seorang diri di Kantin yang Jorok yang hiruk-pikuk itu. Yeah, cukup untuk menyewa kamar dua bulan, pikirnya. Mungkin tiga bulan, kalau mau mencari yang agak jauh dari kampus. Ia mulai mempertimbangkan hal-hal tersebut. Yeah, ia bakal punya Induk Semang yang Bengis, juga Induk Semang yang Rakus, dan tentunya Induk Semang yang Cerewet. Kecil kemungkinan memperoleh Induk Semang yang Pemurah.</p>
<p>Jika ia punya pondokan, ia tak boleh lagi berteriak sesuka hati di tengah malam. Juga pasti dilarang keras mabok. Lebih mengerikan kalau ada aturan harus pulang jam sembilan. Ngomong-ngomong, ia jadi ragu dan ngeri memikirkan harus punya rumah pondokan.</p>
<p>Namun bagaimana lagi? Sahabatnya yang baik itu sudah meminjami dia uang, dan duit tersebut kini tergenggam erat di tangannya. Dan lagi pula, adalah mengerikan terus-menerus tinggal di kandang monyet: ia bisa mati memalukan.</p>
<p>Ketika sedang memikirkan hal itu, matanya menatap bu Kantin yang Gendut. Ia sedang melayani seorang pembeli. &#8220;Satu atau separoh? Pakai sayur? Oh, pecel.&#8221; Kemudian pembeli yang lain. &#8220;Dengan apa? Nasi sayur tambah telur goreng, tempe dua dan es teh, dua ribu lima ratus. Terima kasih.&#8221; Edi Idiot tiba-tiba teringat sesuatu. Ia membuka tasnya dan menemukan buku catatan itu. Ketika bu Kantin yang Gendut sedang beristirahat tanpa gangguan satu pembeli pun, Edi Idiot menghampirinya.</p>
<p>&#8220;Ini hutangku,&#8221; kata Edi Idiot pelan-pelan dan malu-malu.</p>
<p>Bu Kantin yang Gendut menghitungnya, dan Edi Idiot kehilangan lebih dari separoh uang yang dipegangnya.</p>
<p>Namun ia bahagia sekali bisa melunasi hutang itu. Ia berjalan ke sana-ke mari sambil bersiul-siul. Lagu-lagu riang kembali muncul di mulutnya. Ia telah lupa pada rencana punya pondokan. Lalu apa yang telah merasuk di otaknya? Apakah ia memiliki suatu rencana yang gemilang. Begitulah. Di sore hari, ia membayar seorang tukang kunci untuk membuka pintu kandang babinya. Dan di malam hari ia menghabiskan uangnya dengan membeli arak putih murahan dan sekeresek nasi bungkus dari warung angkringan serta mengundang seluruh sahabat malamnya. Mereka pesta gila-gilaan, bernyanyi dan mabok serta kembali tertidur dengan penuh kedamaian. Sebelum benar-benar tertidur, Edi Idiot tak lupa berdoa, &#8220;Semoga bisa melunasi hutang pada Widy… Grok, grok, grok.&#8221;</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p style="text-align: left;"><span style="font-size: 90%;"><span style="font-family: trebuchet ms;">Copyright <a href="http://ekakurniawan.com" target="_blank"><strong>Eka Kurniawan</strong></a>, 2000. Salah satu karya awal Eka Kurniawan ini saya salin dari <em>Kumpulan Cerpen Terbaik Balairung</em> (2000), buku oleh-oleh dari Sigit G.W. (Jogja) dalam kunjungannya ke Bandung sekitar tahun 2001. (<em>Thanks Git! Bukunya udah lecek sekarang, hehe</em>.) Foto ilustrasi dicomot dari <a href="http://www.flickr.com/photos/dewfall/2576246064/" target="_blank">sini</a>.</span></span></p>
<p style="text-align: left;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/cerpen-favorit-kandang-babi-rendez-vous/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anak Band Beranak Band</title>
		<link>http://budiwarsito.net/anak-band-beranak-band/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/anak-band-beranak-band/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Aug 2011 20:29:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Rupa-rupa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=577</guid>
		<description><![CDATA[. &#8220;Set your guitars and banjos on fire, and before you write a song: smoke a pack of whiskey and it’ll all take care of itself.&#8221; —Beck Kami bertiga (Budi, Bada, dan Badu) di Kompleks Timbuktu Permai ini merasa melihat betapa nge-band sepertinya cool. Padahal tak satupun dari kami yang bisa memainkan instrumen musik apapun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/02/ABBB02.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-597" title="ABBB0" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/02/ABBB02.jpg" alt="" width="424" height="242" /></a><span style="color: #ffffff;">.</span></p>
<p style="text-align: left;">&#8220;<em>Set your guitars and banjos on fire,<br />
and before you write a song: smoke a pack of whiskey<br />
and it’ll all take care of itself</em>.&#8221;<br />
—Beck</p>
<p>Kami bertiga (Budi, Bada, dan Badu) di Kompleks Timbuktu Permai ini merasa melihat betapa nge-band sepertinya cool. Padahal tak satupun dari kami yang bisa memainkan instrumen musik apapun dengan benar. Tapi kami cuek, karena denger-denger &#8216;cuek&#8217; itu juga cool.</p>
<p>Segepok rencana pun disusun, dan rencana kami paling dekat adalah: &#8216;menjadi band terkenal&#8217;. Kalau bisa secepatnya. Karena itu kami berniat untuk berlatih keras di garasi tua bobrok di bawah rumah pohon kami, sebab denger-denger banyak band terkenal yang memulai karirnya dari tempat-tempat cool semacam itu. <span id="more-577"></span>Badu pun terpaksa merelakan VW Combi-nya—yang lebih mirip rongsokan besi tua ketimbang mobil—dipindahkan dari garasi. Ya, ya, ya, harus dengan didorong, tentu saja. Terlalu lama dia mogok, dan semua tukang bengkel di seluruh dunia sudah angkat tangan. Ketika kami dorong rongsokan itu keluar, bodinya berderit-derit menyakiti telinga. Saya ingat betul, bahkan ketika si VW Combi sialan ini masih jalan pun (itu artinya waktu Muhammad Ali masih perkasa di ring tinju), bunyinya juga udah nggak keruan. Mesinnya berderak-derak. Bannya koclak. Jendela kacanya gemeretak. Pokoknya semuanya bunyi kecuali klakson. Tak ada yang bisa dibanggakan dari rongsokan itu, kecuali jika menurut Badu, adalah plat nomornya: B 4 DU. Itupun sebenarnya kami nggak bangga. Biasa aja.</p>
<p>Persiapan pun dimulai. Kami harus menyulap garasi tua itu demi tujuan mulia: punya studio latihan sendiri. Ayo bagi tugas! Badu kebagian memindahkan barang-barang sambil menggerutu (peti-peti kemas milik papanya Badu sebenarnya cool sih, tapi kami selalu curiga salah satu di antaranya berisi mayat, jadi kami nggak mau ambil risiko latihan band metal kami yang bising nanti bakal membangunkan arwah-arwah yang penasaran). Saya kebagian tugas menyapu dan mengepel lantai, memperbaiki atap bocor (untung ada <em>how to</em>-nya di internet), dan menyemprotkan pewangi ruangan (yang juga bisa kamu pesan via online). Bada mendapat kehormatan (okay, sebenarnya itu hasil undian, karena kami rebutan) untuk menyebar undangan ke kos-kos cewek di sekitar rumah pohon kami, demi menjajaki kemungkinan awal adanya groupies band kami yang soon-to-be-famous ini. Hoho, pede dong. Sebab pede itu juga cool.</p>
<p>Setelah menjaga garasi itu supaya tetap dalam kondisi &#8220;nggak terlalu kotor, tapi juga nggak bersih-bersih amat&#8221; (sebab kami denger agak kumuh itu juga cool), maka kami pun siap latihan! Badu tampak siap dengan celana jeans robek-robeknya (katanya ini juga cool), Bada memakai topi panjang ala Slash (atau mungkin Mr. Robin, saya suka ketuker), karena katanya ciri khas penampilan itu penting, demi image band (tapi kok nyontek yang sudah ada ya?). Sementara saya, sudah siap dengan… bekal makan siang. Lho? Yoi, kalau rocker kena maag juga nggak cool bukan?</p>
<p>Setelah sambutan dari Bada (kami bertiga memang sepakat menuakan dia), dan sepatah dua patah kata dari Badu (kami anggap dia perwakilan anak muda dari karang taruna setempat), dilanjutkan acara gunting pita dan tabuh gong, potong nasi tumpeng dan minum jus wortel, maka studio latihan (d/h garasi) kami pun resmi dibuka. Kami bertiga sepakat menamakan studio baru itu dengan: &#8220;Latihan&#8221;. Nama yang lumayan cool, bukan? Jadi kalau dibaca lengkap: Studio &#8220;Latihan&#8221;. Edan! Alangkah brilian ide kami ini, yang memang kurang suka istilah-istilah yang sok berat penuh kiasan. Kami bertiga ini orangnya lugas-lugas saja. Okay, sedikit bodoh memang. Tapi peduli setan, pokoknya kami siap ngeband dan mengguncang dunia!</p>
<p>Di saat itulah kami baru menyadari sesuatu: kami belum punya alat musik satu pun.</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p>Damn! Kami merasa sangat bodoh. Ini esensial, Bung! Bagaimana kami bisa latihan kalau nggak ada alat musik satu pun? Bahkan sekadar kicrik-kicrik pun kami nggak punya. Setelah saling tuding saling menyalahkan (Badu: &#8220;Elu sih Bud, mikirinnya interior dapur mulu! Budi: &#8220;Heh, enak aja, gue kan juga harus mikirin logistik dan konsumi, tauk!&#8221; Mulai panas: &#8220;Elu tuh yang kerjanya nggak bener! Dasar NATO!&#8221; Debat kusir: &#8220;Nggak&#8230; lu tuh!&#8221; &#8220;Yee&#8230; elu!&#8221; Nyaris tonjok-tonjokan: &#8220;Elu!!!&#8221; … &#8220;Elu!!!&#8221;), akhirnya Bada berhasil melerai kami berdua dan mengaku salah, &#8220;Sudah, sudah. Jangan berantem. Ini salah saya. Harusnya kemarin saya survey alat-alat band, tapi malah keliru beli alat pancing dan penggorengan ikan.&#8221;</p>
<p>Saya dan Badu melongo berdua. Arghhh. Kita ini mau ngeband atau magang jadi koki? Dasar bodoh! Tapi karena Bada adalah anggota yang kami tuakan, jadi segala makian itu cukup diucapkan dalam hati saja, supaya lebih afdol dan tidak memicu konflik. Amin. Akhirnya, setelah memasang senyum palsu secukupnya, kami sepakat untuk pergi ke toko alat musik dan belanja segala keperluan kami di sana. Tapi problemnya adalah: kami semua lagi bokek. Kas persaudaraan kami sudah ludes untuk merenovasi garasi menjadi studio, dan sisanya sudah kami habiskan di meja judi. Gawat.</p>
<p>&#8220;Ada usul, <em>guys</em>, gimana caranya kita beli alat musik?&#8221;</p>
<p>&#8220;Gue tahu!&#8221; Badu bangkit dari duduknya, tangannya mengepal dan matanya berbinar-binar. Saya dan Bada langsung berdoa dalam hati, semoga usul Badu kali ini bermutu. &#8220;Gimana kalo kita ke toko musik, lalu kita pecahin semua alat di sana?&#8221;</p>
<p>Saya dan Bada saling berpandangan, bingung. &#8220;Ehmm, maksudnya…?&#8221;</p>
<p>Badu tampak kesal. &#8220;Ah, dasar bodoh kalian ini. Di toko kan suka ada tulisan &#8216;<em>Pecah Berarti Membeli</em>&#8216;! Jadi kalo kita pecahin alat musik di sana, berarti kita membelinya!&#8221;</p>
<p>Astaga. &#8220;DUITNYA, monyooooongggg!!!&#8221;</p>
<p>Sampai sekarang kami masih suka heran, apa sebenarnya yang ada di pikiran Tuhan ketika Dia menciptakan Badu.</p>
<p>Setelah melalui musyawarah untuk mufakat (awww, betapa kami menjaga nilai-nilai luhur bangsa!), keputusan bersamanya adalah: kami harus bekerja terlebih dahulu, mengumpulkan dana untuk membeli alat-alat musik idaman kami. Pokoknya kami harus bisa nge-band!</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p>Besoknya, kami pun mulai mencari uang dengan kemampuan kami masing-masing. Ada yang &#8216;terpaksa&#8217; kembali menulis naskah komedi untuk salah satu acara lawak paling fenomenal di sejarah pertelevisian negeri ini (ahem!). Ada yang pulang kampung dan diam-diam menjual kerbau-kerbau peninggalan kakek. Pokoknya kami kumpulkan uang &#8220;sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit&#8221;. Hmm, ngomong-ngomong itu peribahasa yang agak aneh ya: maunya ngumpulin duit, kok dapetnya malah bukit? Apa bukitnya harus kita jual dulu, baru kita dapet duit? Ah rumit.</p>
<p>Sementara Badu berusaha mencari uang dengan jualan balon di SD-SD. Kasihan, rupanya dia belum tahu, bahwa ketimbang lagu &#8220;<em>Balonku ada limaaa, rupa-rupa warnanyaaa…</em>&#8220;, anak-anak jaman sekarang lebih akrab dengan &#8220;<em>Aku punya teman… uh, uh… Teman tapi mesraaa…</em>&#8221; Begitu tahu, Badu langsung banting setir, jualan lotre di bungkus permen karet. &#8220;Gimanapun juga, judi itu abadi, Bos. Nggak kenal jaman.&#8221; Walhasil, bukannya untung malah buntung. Dia berurusan dengan pihak sekolah dan kepolisian, karena menjanjikan hadiah motor padahal bohong. Badu pun dijebloskan ke penjara dengan pasal penipuan. Tapi dengan bantuan Setan, yang kebetulan dikurung di sel sebelah atas tuduhan pemaksiatan umat, Badu berhasil kabur dari penjara.</p>
<p>Sebagai ucapan terimakasihnya, Badu mendirikan usaha baru: atraksi Tong Setan. Itu lho, akrobat naik motor muter-muter di dalam tong raksasa. Dia sendiri yang jadi penunggang motornya. &#8220;Gini-gini, gue kan ada bakat pembalap,&#8221; kata Badu pede. Padahal seingat kami, satu-satunya balapan yang pernah dia ikuti adalah karapan sapi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/02/TongSetan1.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-600" title="TongSetan" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/02/TongSetan1.jpg" alt="" width="454" height="302" /></a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sialnya, usaha Tong Setan ini pun tak banyak menghasilkan uang. Malah lebih sering nombok, karena harga BBM selalu naik dan naik terus. Dan rasanya kok sayang aja gitu, buang-buang bensin cuman buat muter-muter bloon di tong bego kayak gitu. Dirundung putus asa, plus bisikan Setan tentunya, akhirnya Badu memutuskan untuk (maaf) jual diri. Sayang caranya salah: dia berteriak-teriak sambil menjajakan dagangannya, &#8220;<em>Diri, diri! Diri!</em>&#8221; Bukannya laku, orang-orang malah menganggapnya gila. Mungkin mereka benar.</p>
<p>Saya dan Bada merasa kasihan. Bagaimanapun, Badu bagian dari kami. Dia hanya khilaf. Akhirnya dengan semangat persaudaraan, penuh haru kami merangkul Badu. Kami mengajaknya insyaf, menggandengnya pulang. Trio Budi Bada Badu utuh lagi, dan kabar bagusnya, awas, kami akan memakai huruf kapital: UANG KAMI SUDAH CUKUP UNTUK BELANJA ALAT MUSIK!</p>
<p>Kami bertiga pun berangkat ke toko alat musik yang sudah kami incar dari dulu. Sepanjang jalan, saya dan Bada bernyanyi-nyanyi riang (sekaligus mengasah persediaan stok lagu-lagu awal kami, yang sebenarnya sudah cukup banyak untuk sekadar <em>double album</em>), sementara Badu hanya diam saja dari tadi. Mungkin dia masih merasa nggak enak dengan kejadian tempo hari, apalagi secara finansial dia tidak ikut berkontribusi. Ketika pelan-pelan kami yakinkan bahwa itu beneran nggak papa, dia malah heran, &#8220;Kalian ini kenapa sih? Gue kan lagi mikir, gitar merk apa yang sebaiknya kita beli nanti!&#8221;</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p>Setibanya di toko (wah, namanya Toko &#8220;Musik&#8221;!, hohoho kami langsung merasa satu frekuensi!), atas rekomendasi kuat—untuk tidak mengatakan setengah memaksa—dari petugas parkirnya, akhirnya Badu memilih satu gitar lusuh di pojok toko. &#8220;Itu gitar legendaris peninggalan musisi terkenal di jamannya!&#8221; demikian katanya sambil menyodorkan kartu parkir kami. Lalu gitar itu pun kami periksa dengan seksama dan dalam tempo sesingkat-singkatnya. Tampak di stikernya yang sudah kusam, nama merk-nya: &#8220;Tua&#8221;. Well, ini pertanda bagus. Dengan gitar &#8220;Tua&#8221; ini, Badu pasti kan merasa seperti Rhoma Irama. Kami jadi curiga, jangan-jangan Pak-Petugas-Parkir tadi mantan anggota Soneta.</p>
<p>Bada, sebagai musisi spesialis alat tiup, mulai mencari-cari saksofon. Kami memang sempat terpikir mengubah aliran band kami menjadi jazz (karena kata sebuah lagu, &#8220;<em>&#8230;daripada musik metal lebih baik musik jazz&#8230;</em>&#8220;), tapi rupanya Toko &#8220;Musik&#8221; ini tidak menjual saksofon. Di etalase musik tiup kami hanya menemukan harmonika (yang segera kami hindari, karena mengingatkan pada pengamen country blues di warung sop kaki kambing langganan kami), pianika (aduh, memangnya anak SD ujian EBTA praktek?), seruling bambu (oh no, kami bukan band si gembala sapi!), dan&#8230; terompet bekas sisa Tahun Baru kemarin.</p>
<p>Astaga, kami salah memilih toko. Dengan suara tercekat, Bada bertanya, &#8220;Alat musik tiupnya cuman ada ini doang, Mbak?&#8221; Si Mbak-Pelayan-Yang-Lumayan mengangguk sambil tersenyum manis kayak tebu. Tapi dia mendadak seperti teringat sesuatu, lalu bergegas ke arah salah satu lemari. Dikeluarkannya kotak hitam lusuh, sambil berkata, &#8220;Ini ada satu lagi, Dek&#8230;&#8221; (Wah, ge-er juga dipanggil &#8220;Dek&#8221;. Pasti wajah imut kami inilah penyebabnya!)</p>
<p>Tapi ketika kotak hitam itu dibuka, lemaslah kami bertiga demi melihat isinya: peluit!</p>
<p>&#8220;Gimana, Dek, tertarik? Ini alat tiup juga kan? Kata distributornya, ini <em>limited edition</em> lho! Bisa dibilang <em>rare</em> lah!&#8221;</p>
<p>Tunggu. Peluit? Distributor? Tanpa aba-aba, kami bertiga serentak menoleh ke luar. Tampak Pak-Petugas-Parkir cepat-cepat melengos sambil bersiul-siul layaknya tak mendengar percakapan kami. Damn, apa yang bisa kami harapkan dari toko musik sialan ini?</p>
<p>Akhirnya, malas-malasan Bada mengambil seruling bambu. &#8220;Jangan kuatir, teman-teman. Saya akan memodifikasinya biar sedikit lebih berkelas. Band besar sekaliber Jethro Tull saja juga memakai seruling.&#8221; Okay bro, terserah kamu deh. Toh Bada adalah anggota persaudaraan yang kami tuakan, dan bagaimanapun, menghormati orang tua adalah sikap terpuji.</p>
<p>Oya, sebagai vokalis, supaya nggak terlalu nganggur waktu manggung ntar, saya pikir saya butuh kicrik-kicrik. Tapi lagi-lagi stok toko lagi kosong. Alasan Mbak-Pelayan-yang-Lumayan kali ini adalah, &#8220;Lagi nge-trend di kalangan musisi indie sekarang. <em>Sold-out</em> terus dari bulan kemarin.&#8221; Okay deh. Sebagai gantinya, saya beli <em>game-watch</em> Tetris. Toh fungsinya sama: supaya saya nggak terlalu nganggur di atas panggung. Jadi saya bayangkan, ketika membawakan salah satu lagu hits kami, yaitu sehabis saya menyanyikan bagian <em>reffrain</em> dua kali, lalu Badu akan bersolo gitar (yang pasti akan memakan waktu cukup lama, karena dia krisis eksistensi), maka selama itulah saya akan main Tetris. Cool.</p>
<p>Saatnya membayar. Di kasir, kami gagal meminta diskon. Padahal Badu sudah menyamar menjadi fakir miskin dan anak terlantar yang dipelihara oleh negara. Lihat, celananya dekil, kaosnya robek-robek, tapi sialnya bermerk mahal. Tentu saja pihak toko nggak percaya. Hmm, Mbak Kasir cantik juga (potensial groupies awal?), tapi kok kayak judes dan pelit. Dan bener aja. Waktu nggak ada kembalian, kami dikasih permen. Bayangkan!</p>
<p>&#8220;Kembaliannya permen aja ya? <em>Sok atuh</em>, kalian masing-masing ambil 1 permen!&#8221;</p>
<p>Kami kesal bukan main. Enak aja kembalian tiga ratus perak diganti permen.  &#8220;Kenapa sih Mbak, kembaliannya mesti permen?&#8221;</p>
<p>Jujur aja, kejudesannya tadi sudah lumayan mengurangi kecantikannya. Apalagi setelah dia menjawab, &#8220;Karena kalian masih kecil, masih anak-anak. Jadi kembaliannya pakai permen…&#8221;</p>
<p><em>Oh man</em>, meski berwajah imut-imut, kami bukan anak-anak! Badu tampak kesal dan dari hidungnya keluar api, &#8220;JADI KALO KITA NTAR UDAH GEDE, KEMBALIANNYA PAKE BIR?!?!”</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p>Di jalan pulang, kami masih agak kesal dengan perlakuan toko yang aneh tadi. Tapi kami mencoba tetap fokus dengan cita-cita luhur kami semula: Menjadi Anak Band! Oh, cool. Di kepala kami tersusun lagi rencana-rencana awal: latihan di garasi, manggung di gig-gig indie, upload lagu kami di internet, dilirik produser idealis yang mumpuni, kontrak rekaman yang menggiurkan, masuk TV dan terkenal, jadwal manggung yang padat, dikerubutin cowok-cowok, eh cewek-cewek, dsb., dst., dll., etc&#8230;</p>
<p>Sayang seribu sayang, mimpi tinggal mimpi. Semuanya terpaksa kandas, bahkan sebelum kami mulai. Ini gara-gara satu musibah absurd yang menimpa kami. Di jalan pulang tadi, kami bertemu, ehmm&#8230; well, seekor naga.</p>
<p>Ya, ya, ya, saya tahu kalian pasti tidak akan percaya. Selama ini kami juga berpikir naga hanya hidup di cerita-cerita dongeng belaka. Tapi sekarang, kami melihatnya dengan mata kepala sendiri. Besar, sangat besar, dan nyata. <em>ASTAGA NAGA RAKSASA</em>!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/02/naganaganyadragon.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-595" title="naganaganyadragon!" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/02/naganaganyadragon.jpg" alt="" width="300" height="299" /></a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sebelum kami sempat berpikir mengambil langkah seribu, Sang Naga sudah terlanjur mendenguskan nafas api, membakar habis semua alat musik kami! Kami sangat marah, tapi terlebih lagi, sebenarnya, kami sangat takut. Dia lalu membuka mulutnya lebar-lebar, mau memakan kami! Tak sempat menjerit, kami bertiga saling berpelukan seperti finalis AFI yang dieliminasi, sambil berikrar sehidup semati. Naga itu pun menelan kami!</p>
<p>Di saat itulah kami mulai paham arti istilah &#8220;<em>mulut lu bau naga, bro</em>.&#8221; Apalagi kami belajar langsung di lapangan, langsung dari sumber yang paling terpercaya. Tak kuat menahan bau naga mulut Sang Naga, kami bertiga pun jatuh pingsan. Ketika siuman, kami baru menyadari sudah berada di dalam perut Sang Naga.</p>
<p>Sejak saat itu, kami harus menjalani sisa umur kami di sana. Sampai detik ini. Kami masih berpikir keras, bagaimana caranya bisa keluar dari  tempat ini. Mungkin dengan menuliskan cerita ini, sidang pembaca menjadi tergerak menolong kami. Kalian bisa mengirimkan saran-saran lewat surat pembaca, ke PO BOX N464. Kami tunggu ya. Terima kasih lho.</p>
<p style="text-align: right;">Salam,<br />
Budi, mewakili Bada dan Badu.</p>
<p><span style="font-size: 90%;"><span style="font-family: trebuchet ms;">*) Judul cerita ini diilhami dari judul film dokumenter <strong><em>Anak Naga Beranak Naga</em></strong> (2006), karya <a href="http://arianidarmawan.net"><strong>Ariani Darmawan</strong></a>. Tulisan ini pertama kali muncul di <a href="http://budibadabadu.blogspot.com/2006/05/anak-band-beranak-band.html" target="_blank"><strong>blog lama</strong></a> saya.</span></span></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/anak-band-beranak-band/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Di Ruang Itu</title>
		<link>http://budiwarsito.net/di-ruang-itu/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/di-ruang-itu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Jun 2011 03:49:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Rupa-rupa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=750</guid>
		<description><![CDATA[. Bapak pernah sangat marah padaku, dan tak sengaja beliau menjatuhkan Kamus Besar Bahasa Indonesia yang luar biasa tebal dari rak buku, tepat mengenai luka yang belum kering di lutut kananku. Beberapa hari sebelumnya lutut kananku memang cedera parah, jatuh terpeleset dari pohon belimbing di halaman depan, akibat menaiki kursi dingklik bikinan Bapak yang tentu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/06/whenwewereyoung.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-752" title="whenwewereyoung" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/06/whenwewereyoung.jpg" alt="" width="336" height="352" /></a><span style="color: #ffffff;">.</span></p>
<p>Bapak pernah sangat marah padaku, dan tak sengaja beliau menjatuhkan Kamus Besar Bahasa Indonesia yang luar biasa tebal dari rak buku, tepat mengenai luka yang belum kering di lutut kananku. Beberapa hari sebelumnya lutut kananku memang cedera parah, jatuh terpeleset dari pohon belimbing di halaman depan, <span id="more-750"></span>akibat menaiki kursi dingklik bikinan Bapak yang tentu saja tidak sempurna sebab beliau memang bukan seorang tukang kayu. Luka itu kemudian terbuka lagi, tertimpa ratusan halaman kata-kata, dan darah segarnya mengucur. Merembes ke bawah, terus ke bawah, melewati betisku, menyelusup di antara jari kaki, berakhir membasahi lantai. Aku ingat bagaimana Bapak kemudian mengelap basah yang amis itu dan membungkus lututku dengan perban baru, merawatnya dengan obat-obatan. Bapak melakukannya dengan penuh rasa sesal, bercampur kasih sayang yang tersamar, dan muka keras yang murung. Beliau menangis. Aku, masih sangat kecil waktu itu, sibuk menggigiti bibirku, badanku gemetar menahan supaya tangis tak ikut pecah. Antara rasa pedih akibat luka itu, penglihatan atas raut wajahnya yang tua dan lelah, dan terutama pengetahuan bahwa hidup beliau memang tidak mudah. Aku mengerti.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p style="text-align: center;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/di-ruang-itu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Super Funky Animals</title>
		<link>http://budiwarsito.net/super-funky-animals/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/super-funky-animals/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Feb 2011 19:11:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Rupa-rupa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=566</guid>
		<description><![CDATA[FADE IN. EXT. Poskamling Desa Sukarmaju &#8211; DAY Seperti biasa, Pak Ogah dan Pak Ableh selalu menyempatkan diri mengobrol di sela-sela kesibukan mereka yang padat (bo&#8217;ong banget). Dalam sebuah hubungan, komunikasi itu penting, demikian kata mereka. OGAH Bleh, lu tau nggak, ada binatang yang cuma terdiri dari satu huruf? ABLEH Ah, mana mungkin. Ada gitu? [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><a href="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/01/Ogah-Ableh.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-569" title="Ogah-Ableh" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/01/Ogah-Ableh-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" /></a></p>
<p style="text-align: left;"><strong>FADE IN.</strong></p>
<p><strong>EXT. Poskamling Desa Sukarmaju &#8211; DAY</strong></p>
<p>Seperti biasa, Pak Ogah dan Pak Ableh selalu menyempatkan diri mengobrol di sela-sela kesibukan mereka yang padat (<em>bo&#8217;ong banget</em>). Dalam sebuah hubungan, komunikasi itu penting, demikian kata mereka.</p>
<p style="text-align: center;">OGAH<br />
Bleh, lu tau nggak, ada binatang yang cuma terdiri dari satu huruf?</p>
<p style="text-align: center;">ABLEH<br />
Ah, mana mungkin. Ada gitu?</p>
<p style="text-align: center;">OGAH<br />
Ada dong. Gajah.</p>
<p style="text-align: center;">ABLEH<br />
Gajah? Kok bisa?</p>
<p><span id="more-566"></span></p>
<p style="text-align: center;">OGAH<br />
‘G’ ajah gituuuh…</p>
<p style="text-align: left;">2 menit kemudian.</p>
<p style="text-align: center;">OGAH<br />
Kalo yang dua huruf, lu tau nggak?</p>
<p style="text-align: center;">ABLEH<br />
Buset. Apa lagi nih?<br />
(<em>jeda, mikir</em>)<br />
Nyerah deh.</p>
<p style="text-align: center;">OGAH<br />
Udang!<br />
(<em>jeda, semangat</em>)<br />
Lu nanya dong, &#8216;Kok bisa&#8217;?</p>
<p style="text-align: center;">ABLEH<br />
Okay. Kok bisa?</p>
<p style="text-align: center;">OGAH<br />
Udang. ‘U’ dan ‘G’. Hihihi.</p>
<p style="text-align: left;">1 menit kemudian.</p>
<p style="text-align: center;">OGAH<br />
Eh, eh, ada lagi! Kalo 3 huruf?</p>
<p style="text-align: center;">ABLEH<br />
(<em>menguap</em>)</p>
<p style="text-align: center;">OGAH<br />
Tau nggaaak?</p>
<p style="text-align: center;">ABLEH<br />
(<em>menguap lagi</em>)<br />
Ogah aaaah…</p>
<p style="text-align: center;">OGAH<br />
Ah, belum juga nyoba… Lagian itu kan line gue!</p>
<p style="text-align: center;">ABLEH<br />
(<em>menguap besar sekali</em>)<br />
Nyerah deh. Apaan?</p>
<p style="text-align: center;">OGAH<br />
Beo, hiu, asu… Hahaha.</p>
<p style="text-align: center;">ABLEH<br />
(<em>tidur</em>)</p>
<p style="text-align: left;">Mereka pun melanjutkan tidur siang sambil berpelukan. Mesra sekali.</p>
<p><strong>FADE OUT.</strong></p>
<p style="text-align: right;"><strong>THE END.</strong></p>
<p style="text-align: left;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/super-funky-animals/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>You Are What You Eat</title>
		<link>http://budiwarsito.net/you-are-what-you-eat/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/you-are-what-you-eat/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Nov 2009 19:59:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[Rupa-rupa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=402</guid>
		<description><![CDATA[. &#8220;I&#8217;m not vegetarian because I love animals. I’m vegetarian because I hate plants.&#8221; &#8212;A. Whitney Brown, &#8220;Saturday Night Live&#8221; cast member, Season 11-16, 1985-1991. Saya punya banyak teman vegetarian, tapi saya tidak punya satu pun teman kanibal. Hannibal Lecter cuma hidup di dunia rekaan Hollywood, dan saya juga tidak kenal Sumanto dari Purbalingga&#8212;sebagaimana saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-405" title="mangan_ora_mangan" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2009/11/mangan_ora_mangan1.jpg" alt="mangan_ora_mangan" width="334" height="231" /></p>
<p><span style="color: #ffffff;">.</span><br />
&#8220;<em>I&#8217;m not vegetarian because I love animals. I’m vegetarian because I hate plants.</em>&#8221;<br />
&#8212;A. Whitney Brown, &#8220;Saturday Night Live&#8221; cast member, Season 11-16, 1985-1991.</p>
<p>Saya punya banyak teman vegetarian, tapi saya tidak punya satu pun teman kanibal. Hannibal Lecter cuma hidup di dunia rekaan Hollywood, dan saya juga tidak kenal Sumanto dari Purbalingga&#8212;sebagaimana saya berharap dia juga tidak kenal saya. Hmm, apa hubungannya vegetarian dengan kanibal? Jawabannya: mungkin memang tidak ada. Saya cuma tiba-tiba ingat, ada teman saya, seorang perempuan vegetarian yang mengaku <em>moviefreak </em>sejati, pernah membuat review film Korea berjudul <em>301, 302</em> (Cheol-su Park, 1995) dengan penuh semangat. Dan kebetulan, film itu tentang kanibal. Oops, spoiler. Saya sendiri juga suka film itu, sebuah drama tentang kesepian dan dendam, yang disajikan dengan sinematografi yang indah, dramatik, dan terus terang bikin saya lapar. Haa!<span id="more-402"></span></p>
<p>Saya juga ingat sebuah buku bagus terbitan tahun 1992, berjudul <em>Cut! Horror Writers on Horror Film</em>. Di buku itu, salah seorang kontributor, penulis fiksi horor, mengaku menyukai film kanibal padahal dia seorang vegetarian. Kathryn Ptacek, demikian nama perempuan penulis itu, mengaku doyan film dengan tayangan sadis itu tanpa harus tahu kenapa. Artinya: dia nonton, ya karena pengen nonton aja. Dia membahas dengan cukup bagus film <em>Motel Hell</em> (Kevin Connor, USA, 1980). Film horor kanibal ini tidak begitu terkenal di sini, tapi pernah diputar di sebuah bioskop kelas kambing di kota saya&#8212;sekarang bioskop itu sudah tidak ada, menjelma jadi gedung pertokoan. Saking gak ngetopnya film itu, pernah jumlah penonton di bioskop itu cuma 5 orang. Salah satunya saya, duduk di barisan tengah, masih bercelana pendek waktu itu. Empat lainnya? Dua pasang muda-mudi, mojok di kursi belakang, yang pasti tidak terlalu peduli dengan film yang diputar, sebab mereka sedang sibuk membuat &#8216;film&#8217; sendiri.</p>
<p>Meski ada dua film yang sedang diputar bersamaan&#8212;satu di layar, satu di kursi penonton&#8212;saya berusaha konsentrasi menatap ke depan. Premis film ini cukup menarik. Settingnya di sebuah penginapan bernama Motel Hello. Papan nama hotel itu, sebuah plang dengan cahaya neon, selalu kerlap-kerlip di huruf &#8220;o&#8221;-nya, sehingga lebih sering tampak terbaca &#8220;Motel Hell&#8221;. Dan sebagaimana <em>hell</em>, penginapan ini memang keparat. Pemiliknya, seorang lelaki aneh bernama Vincent, menjalankan bisnis motel yang terkenal dengan sajian daging asapnya yang teramat lezat. Sebagai film kanibal, tentulah bisa ditebak: yeah, daging asap itu ternyata terbuat dari daging manusia. Stok dagingnya, dari pengendara mobil yang lewat di depan motelnya. Vincent selalu menjebak mereka dengan memasang paku di jalan. Dan Vincent bukan seorang tukang tambal ban: dia malah menangkap si pengendara mobil, menghajarnya, lalu menyeretnya ke kebun.</p>
<p>Berikutnya adalah aksi yang sadis dan &#8216;sakit&#8217;. Vincent mengubur hidup-hidup para korban, dengan kepala dibiarkan nongol di permukaan tanah. Supaya tidak bisa menjerit, Vincent menggorok dan mengambil pita suara mereka. Hasilnya, sajian visual yang mengerikan: kepala-kepala di tanah dengan mulut yang komat kamit terbuka, tapi tak keluar suara. Lalu Vincent menentukan nasib mereka selanjutnya: menjadi bahan daging asap yang lezat, sajian khas Motel Hell.</p>
<p>Keparat. Film itu benar-benar keparat. Di tengah kegelapan, saya seringkali menjerit tertahan, menatap adegan demi adegan sadis di layar&#8212;sementara di belakang sana, dua pasang muda mudi itu juga menjerit tertahan, mungkin atas alasan yang berbeda: saya karena ketakutan, mereka karena keenakan. Keparaaat. Kanibal juga dong ya mereka, karena manusia &#8216;memakan&#8217; manusia. Haha. Saya keluar dari bioskop sambil misuh-misuh. Di jalan pulang, saya memikirkan satu kalimat di film itu, yakni ketika Vincent mencari pembenaran aksi kanibalisme-nya dengan berkata, &#8220;<em>There&#8217;s too many people in the world and not enough food. Now this takes care of both problems at the same time</em>.&#8221; Oh, well.</p>
<p>Beranjak dewasa, pura-puranya demi menghormati kenangan menonton semasa kecil, saya mulai berburu film <em>Motel Hell </em>itu, berharap menemukan DVD-nya, atau VHS, atau LaserDisc, apapun! Tapi rupanya tidak mudah. Bertahun-tahun saya mencari, hasilnya nihil. Saya malah menemukan film-film tentang kanibal lainnya. Di rak koleksi film saya, tepatnya di deretan DVD berlabel &#8220;films about food&#8221;, berjajar judul-judul seperti: <em>Cannibal Holocaust</em> (Ruggero Deodato, 1980&#8212;film kanibal &#8220;klasik&#8221; yang sampai sekarang belum pernah selesai saya tonton saking jijiknya), <em>Silence of the Lambs</em> (Jonathan Demme, 1991; ya, ya, yang pertama saja, sebab sekuel dan prekuelnya nggak oke), <em>Delicatessen</em> (Marc Caro &amp; Jean-Pierre Jeunet, France, 1991; film kanibal yang dibuat oleh orang yang juga membuat film manis <em>Amélie</em>!), <em>Cannibal Ferox</em> (aka <em>Make Them Die Slowly</em>, Umberto Lenzy, Italy, 1981; iklan promosi untuk film ini berbunyi &#8216;<em>Banned in 31 countries</em>!&#8217;&#8212;meski murni fiksi, film ini masih saja dilarang di Inggris), <em>Ravenous</em> (Antonia Bird, 1999; kritikus Ebert menyebutnya sebagai resep film vampir dan kanibal yang disajikan dengan saus baru… oh, owkay), dsb, dll, dst, etc. Terlalu panjang untuk disebutkan semuanya di sini. Oya, tentu saja termasuk karya anak negeri: <em>Kanibal Sumanto</em> (Christ Helweldery, Indonesia, 2004). Sementara DVD <em>Motel Hell</em> sendiri malah belum berhasil saya dapatkan. Ada yang kepikiran untuk membantu berburu dan menghadiahkannya ke saya? Ulang tahun saya masih bulan Juni ntar kok, dan saya suka kejutan.</p>
<p>Ngomong-ngomong soal kanibal, saya punya satu orang teman yang juga antusias tentang hal sama. Dia selalu bersemangat menceritakan pengalamannya Kuliah Kerja Nyata (KKN) di sebuah desa terpencil di kaki gunung. Menurut kabar angin yang berhembus, warga desa terpencil itu masih kanibal. Atas nama rasa ingin tahu yang mendalam (sekaligus bayangan muluk-muluk sebuah skripsi dahsyat tentang riset sosiologis atas fenomena kanibalisme di era modern), dia memutuskan untuk KKN di desa itu.</p>
<p>Setibanya di sana, teman saya itu langsung menemui Kepala Desa. Setelah memperkenalkan diri dan berbasa-basi secukupnya, dia langsung bertanya ke inti masalah, &#8220;Pak, ehmm, denger-denger katanya warga desa sini masih kanibal ya?&#8221; Pak Kepala Desa menjawab dengan tersenyum, &#8220;Wah, dari mana Adek dapat informasi seperti itu?&#8221; Teman saya menjawab &#8220;Oh, dari… ehmm, dari internet , Pak!&#8221; sambil tak yakin apakah Pak Kepala Desa itu tahu internet. Pak Kepala Desa masih tersenyum ketika melanjutkan, &#8220;Jadi gini Dek. Kebetulan, sampai minggu lalu memang masih ada <em>satu orang</em> kanibal di desa ini. Tapi sekarang sudah nggak ada lagi.&#8221; Teman saya tentu kecewa, tapi dia masih menyempatkan diri bertanya, &#8220;Sampai minggu lalu? Emangnya sekarang si orang itu ada di mana, Pak?&#8221; Pak Kepala Desa menjawab, &#8220;Sudah mati Dek, kemarin kami makan rame-rame.&#8221;</p>
<p style="text-align: right;">[<strong>Budi Warsito</strong>]</p>
<p style="text-align: center;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/you-are-what-you-eat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengingat Yudi</title>
		<link>http://budiwarsito.net/mengingat-yudi/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/mengingat-yudi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Nov 2009 17:31:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Rupa-rupa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=231</guid>
		<description><![CDATA[. Saya punya teman SMP namanya Yudi. Orangnya kurus banget, sumpah kurus BANGET, kayak Aming tapi lebih tinggi, bahkan lebih tinggi dari saya. Rambutnya lurus tipis, jatuh, nutupin jidatnya yang jenong. Giginya tonggos tapi gak tonggos-tonggos amat. Anaknya sangat bersemangat. Rumahnya agak masuk ke pelosok desa, dan untuk sampai ke sekolah, dia harus naik sepeda [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-256" title="Tradtelefon" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2009/10/Tradtelefon.jpg" alt="Tradtelefon" width="420" height="289" /></p>
<p><span style="color: #ffffff;">.</span><br />
Saya punya teman SMP namanya Yudi. Orangnya kurus banget, sumpah kurus BANGET, kayak Aming tapi lebih tinggi, bahkan lebih tinggi dari saya. Rambutnya lurus tipis, jatuh, nutupin jidatnya yang jenong. Giginya tonggos tapi gak tonggos-tonggos amat. Anaknya sangat bersemangat. Rumahnya agak masuk ke pelosok desa, dan untuk sampai ke sekolah, dia harus naik sepeda sekitar 1 jam tiap paginya. Mungkin waktu saya baru bangun dan masih males-malesan di tempat tidur, si Yudi ini sudah harus mulai mengayuh sepedanya ke sekolah. Gokil, 2 jam bersepeda bolak-balik tiap harinya! Betis Yudi, meski kurus kering, tampak padat berisi.<span id="more-231"></span></p>
<p>Rumah boleh jauh, tapi Yudi gak pernah telat. Dia selalu datang beberapa menit sebelum bel berbunyi, lalu mengelap dahinya yang selalu bercucuran keringat. Yudi tipe murid yang selalu ngacung ketika guru melempar pertanyaan, gak peduli seberapa seringnya dia salah menjawab (dan emang lebih sering salahnya ketimbang benernya). Guru-guru menyepelekan dia untuk urusan akademis, tapi menyukainya untuk urusan disuruh-suruh. Ngambil kapur ke kantor TU? Yudi. Fotokopiin tugas sekolah? Yudi. Koordinator kerja bakti? Yudi. Dekorasi acara halal bihalal di sekolah? Yudi. (Kebetulan bapaknya punya usaha percetakan, sering terima order nyetak undangan kawinan.)</p>
<p>Yudi gak jago main voli. Selalu jadi bahan ketawaan seisi kelas tiap kali melakukan pukulan servis: bola volinya malah membumbung tinggi ke atas, lalu jatuh lagi ke tanah, hanya sejarak 1 meter dari tempat dia berdiri! Kalau main sepakbola, Yudi sering terjungkal sendiri tiap kali mau nendang. Di lapangan dia selalu gonta-ganti posisi, gak jelas, lari-lari doang ke sana ke mari. Jadi bek kanan, gak ngaruh. Jadi gelandang tengah, gak pernah nyetor bola. Jadi striker, mandul abis. Jadi bek kiri, malah bikin gol bunuh diri. Yudi pernah sekali jadi kiper, dan para pemain lawan berpesta pora di gawangnya. Kasihan Yudi.</p>
<p>Meskipun sering jadi bulan-bulanan, Yudi teman yang menyenangkan. Di lapangan dijitakin, di kelas diketawain, tapi kalau sakit dikangenin. Saya sering membonceng sepedanya, pergi les bareng sepulang sekolah. Selasa Matematika, Kamis Fisika. Lesnya jam 2 siang, tempatnya cuma 15 menit bersepeda dari rumah saya. Yudi gak pulang dulu ke rumahnya karena jauh, jadi seminggu dua kali dia makan siang masakan ibu saya. Trus berangkat les bareng. Bolos les bareng. Minum es cendol bareng. Beli majalah bekas bareng. Rasa setiakawannya pun tinggi. Saya pernah hampir dipalak preman di tempat dingdong, dan Yudi langsung buru-buru berdiri menutupi saya, berhadapan frontal dengan si preman, meski dengan ekspresi muka yang kelihatan banget ditenang-tenangin. Persuasinya mungkin gak gitu ngaruh, tapi bisa jadi si preman jatuh kasihan sama tampangnya yang memelas, keringetan, jidatnya jenong, dan giginya agak tonggos sedikit.</p>
<p>Yudi lulus dengan nilai pas-pasan, melanjutkan SMA (atau STM, saya lupa) masih di Sukoharjo. Sementara saya lulus dengan nilai terbaik, melanjutkan ke SMA favorit di Solo. Sejak saat itu Budi dan Yudi gak pernah ketemu lagi. Saya bahkan gak tahu dia kuliah di mana. Atau mungkin gak kuliah. Kadang-kadang saya dengar kabar tentang dia dari ibu saya, &#8220;Katanya Yudi sekarang jadi teknisi operator telepon seluler, kerjaannya keliling Indonesia masang tower.&#8221; Saya cuma manggut-manggut mendengarnya, soalnya inget si Yudi ini emang jago banget manjat. Bola voli yang dia pukul pernah nyangkut ke pohon, dan kecepatannya memanjat bikin gelak tawa orang-orang langsung berubah jadi decak kagum. Meskipun ada saja yang nyeletuk &#8220;Abis ini&#8230; Yudi pergi ke pasar&#8230;!&#8221; Anak SMP emang jahat-jahat.</p>
<p>&#8220;Ibu pernah ketemu Yudi di acara kawinan. Lagi sibuk benerin soundsystem. Dia nanyain kamu sekarang di mana.&#8221; Itu beberapa tahun lalu, gak lama setelah saya berhenti kuliah. &#8220;Trus Ibu jawab apa?&#8221; &#8220;Ya di Bandung. Trus Yudi bilang pengen mampir kalo lagi tugas masang menara di Jawa Barat.&#8221; Yudi menitipkan nomor HP-nya lewat Ibu, tapi saya gak pernah sekalipun ngontak. Mungkin saya malu. Ya. Yudi sudah kerja, saya malah putus kuliah.</p>
<p>Setiap habis Lebaran, di hari H+ sekian, selalu ada telepon ke rumah dari Yudi, dan selalu ada saja alasan saya untuk menghindar. Saya yakin dia gak pernah tersinggung karena hal itu. Yudi yang saya kenal adalah Yudi yang polos, baik hati, gak pernah berpikiran jelek, dan satu lagi: pantang menyerah. Ya, pasti karena sifat terakhirnya itulah, selalu ada dan akan ada lagi &#8220;Telepon dari Yudi&#8221; pasca Lebaran tiap tahunnya, meskipun jawabannya selalu gak jauh-jauh dari &#8220;Budinya lagi ke luar..”, atau “Wah, Budinya udah balik ke Bandung lagi..” Paling banter divariasikan dengan “Nitip pesen apa Mas Yudi?”</p>
<p>Ibu pernah berusaha ngasih nasihat, agak-agak tersirat, &#8220;Gak papa lah Bud, kamu ketemu Yudi.&#8221; (Mungkin maksudnya &#8220;Gak usah minder.&#8221;) &#8220;Kalian kan temen deket.&#8221; (Pasti artinya &#8220;Temen baik kok menghindar?&#8221;) &#8220;Bilang aja apa adanya, kamu kerja apa.” (Terdengar seperti &#8220;Emang kamu gak bangga nulis skrip Extravaganza?&#8221;)</p>
<p>Tapi Budi tetap gak mau ketemu Yudi.</p>
<p>Waktu berlalu, tahun demi tahun berganti. Setelah satu dasawarsa lebih, di beberapa Lebaran belakangan ini, gak ada lagi telepon-telepon dari Yudi. Mungkin lama-lama dia bosan juga. Mungkin dia lagi sibuk. Mungkin dia sudah berkeluarga. Mungkin dia masih keliling Indonesia. Tiap lihat menara ponsel tinggi, saya sering mikir “Mungkin itu yang masang Yudi.”</p>
<p>Sampai akhirnya tadi siang, telepon rumah berbunyi, dan hanya Tuhan yang tahu kenapa harus saya yang mengangkatnya. Padahal saya paling males ngangkat telepon. Terdengar di seberang sana, suara cempreng yang gak ada duanya. &#8220;<em>Halo, ini benar rumahnya Budi Warsito?</em>&#8221; Hanya butuh sepersekian detik untuk bisa mengenali suara itu: Yudi! Gawat. &#8220;<em>Halo? Halo?</em>&#8221; Aduh, harus jawab apa ya? Cepet Bud, putar otak! Beberapa detik berlalu, mungkin Yudi sudah hampir menutup teleponnya, tiba-tiba terdengar suara saya yang sudah diubah menjadi lebih berat, &#8220;Iya betul. Ini siapa ya?&#8221; Suara di seberang sana mendadak ceria, &#8220;<em>Ini temannya Pak! Yudi. Budinya ada Pak?</em>&#8221; Rasanya agak tercekat ketika saya menjawab, &#8220;Tunggu sebentar ya Mas.&#8221;</p>
<p>&#8230;.</p>
<p>(<strong>BERSAMBUNG</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/mengingat-yudi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>O Judge Dredd, Where Art Thou?</title>
		<link>http://budiwarsito.net/o-judge-dredd-where-art-thou/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/o-judge-dredd-where-art-thou/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Nov 2009 07:05:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Rupa-rupa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=237</guid>
		<description><![CDATA[. &#8220;They call him Judge, his last name is Dredd. So break the law, and you wind up dead.&#8221; (&#8220;I Am The Law&#8221; &#8212;Anthrax, dari album Among The Living, 1987) Perkenalan serius saya dengan dunia komik tak lepas dari andil sepotong lagu metal, seorang hakim tua, dan anak laki-lakinya. Bukan, mereka bukan karakter komik. Mereka [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #ffffff;">.</span></p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-303" title="komikmagnetik" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2009/11/komikmagnetik.jpg" alt="komikmagnetik" width="160" height="217" /><em><span style="color: #ffffff;"> </span>&#8220;They call him Judge, his last name is Dredd.<br />
</em><em>So break the law, and you wind up dead.&#8221;</em><br />
(&#8220;I Am The Law&#8221; &#8212;Anthrax, dari album <em>Among The Living</em>, 1987)</p>
<p>Perkenalan serius saya dengan dunia komik tak lepas dari andil sepotong lagu metal, seorang hakim tua, dan anak laki-lakinya. Bukan, mereka bukan karakter komik. Mereka hidup di dunia nyata, yakni tetangga saya waktu kecil&#8212;rumahnya tepat di sebelah rumah saya. Meski mereka hanya tinggal berdua (di mana gerangan sang ibu berada, rasanya tak perlu diceritakan di sini karena terlalu sedih), namun di mata saya rumah itu sungguh seru, terutama karena hal-hal kontras selalu terjadi di sana. Rumah itu cenderung sunyi senyap, apalagi sang ayah (botak, usia 50-an) dan sang anak (gondrong, akhir 20-an) itu jarang saling bertegur sapa, dan saya hanya bisa menebak-nebak obrolan kaku macam apa yang terjadi di meja makan. Namun setiap pagi tiba, tepat setelah si ayah berangkat <em>ngantor </em>demi menjaga tegaknya hukum di negeri ini, keadaan berubah 180 derajat: rumah itu mendadak hingar bingar oleh udara kebebasan. Si anak, seorang pengangguran yang tertekan, langsung merasa merdeka dan menyetel tape keras-keras. &#8220;<em>Life begins at six forty</em>!&#8221; (merujuk jam keberangkatan ayahnya), maka dimulailah rutinitas sehari-hari si <em>slacker</em>: mendengarkan musik metal sambil jingkrak-jingkrak, dan mendekam di kamar sepanjang hari sambil membaca komik. Ya, selain <em>metalhead</em>, tetangga saya itu juga seorang kolektor komik. Dan koleksinya cukup mengagumkan.<span id="more-237"></span></p>
<p>Saya, masih kelas 2 SD waktu itu, sepulang dari sekolah sering main-main ke kamarnya, yang penuh puntung rokok, tumpukan kaset, dan komik bertebaran di mana-mana. Dialah yang pertama kali mencekoki saya dengan Batman (&#8220;<em>Daripada jadi Clark Kent mending jadi Bruce Wayne, nggak usah kerja udah kaya raya</em>!&#8221;), tak menggubris protes saya saat disuruh membuang komik-komik Donal Bebek (&#8220;<em>Tapi kan Paman Gober juga nggak kalah kaya, Mas</em>!&#8221;), dan menertawakan idola saya Gundala Putra Petir (&#8220;<em>Kamu pernah baca Flash nggak sih</em>?&#8221;). Saya tahu semua sikapnya menyebalkan, tapi apa yang bisa dilakukan anak umur 8 tahun yang juga merindukan figur seorang kakak sekaligus teman? Kamarnya selalu bising dengan lagu-lagu cadas, tapi toh saya tetap datang dan datang lagi. Saya ingat betul kenapa lagu<em> </em>Anthrax &#8220;I Am The Law&#8221; terus menerus dia putar: sebab lagu itu itu bercerita sepenuhnya tentang tokoh komik favoritnya&#8212;Judge Dredd! Yeah, hampir semua tokoh komik superhero impor digemarinya, namun di atas segalanya, Judge Dredd adalah pahlawan dia nomor satu. Lagipula, adakah yang lebih membahagiakan ketimbang fakta bahwa band favorit kita berbagi cerita tentang jagoan yang sama?</p>
<p>Selama intro lagu itu&#8212;kocokan gitar tebal diadu dengan gebukan drum gagah, memakan waktu 1 menit sendiri&#8212;tetangga saya itu ber-<em>headbanging</em> heboh di atas kasur, lalu dengan lantang meneriakkan lirik demi lirik, &#8220;<em>He keeps peace with his law-giver, judge, jury, and executioners</em>!&#8221; Dan menjerit sekeras-kerasnya di bagian &#8220;<em>I am the law, you won&#8217;t fuck around no more</em>!&#8221; Ketika dia tunjukkan adegan demi adegan Judge Dredd berjibaku di lembar-lembar komik koleksinya, saya sempat melihat matanya berkaca-kaca.</p>
<p>Dalam hati&#8212;tentunya setelah bertahun-tahun kemudian&#8212;saya sering bertanya-tanya, jangan-jangan itu semua berhubungan dengan latar belakangnya sebagai anak seorang penegak hukum, ditambah kemungkinan batinnya sedang tertekan oleh persoalan hidup entah apa. Judge Dredd, sang jagoan berseragam yang menggabungkan kekuatan polisi, wibawa hakim, kebrutalan preman, teknologi mutakhir, dan sedikit aroma monster Frankenstein itu jelas mengejek sistem penegakan hukum di masyarakat masa depan. Atas nama hukum, aparat boleh bertindak apa saja, termasuk menghabisi nyawa si pelanggar hukum. Saya tidak sedang bicara moral atau soal benar salah di sini, tapi saya hanya curiga: bahwa yang dilihat tetangga saya di sosok Judge Dredd itu bukanlah kesewenang-wenangan aparat akibat kekuasaan, tapi semata-mata kebebasan bertindak. Bukankah dia mendambakan kemerdekaan, yang hanya diperoleh ketika rumahnya kosong, dan bapaknya, seorang hakim terhormat, sedang tidak berada di tempat?</p>
<p>Namun apapun itu, sejak itulah saya mulai berpikir ulang tentang persepsi primitif masa kecil saya perihal komik. Bahwa ternyata komik tak melulu tentang superhero (atau kalaupun masih, lebih sering muncul dalam parodi, atau antihero), bahwa narasi hitam putih bisa jadi sudah basi, dan bahwa telah (sedang, dan akan selalu) ada kebutuhan terciptanya format-format baru yang lebih menantang. Beranjak dewasa, saya harus berpisah selama-lamanya dengan tetangga saya itu. Saya bersekolah di luar kota, dan ada berita sedih: dia minggat dari rumahnya, lenyap tanpa kabar. Ada yang bilang dia menjadi preman di ibukota, dan kabar terbaru: dia mati ditusuk di sebuah huru-hara. Ayahnya, kini pensiun sebagai hakim, berduka untuk kedua kalinya, menghabiskan masa senja dengan berpindah domisili entah ke mana. Sementara di saat bersamaan. saya mulai &#8220;meninggalkan&#8221; komik, sedikit &#8220;beralih&#8221; dengan menemukan keasyikan di gambar bergerak alias film. Namun tiap kali tak sengaja mendapati tumpukan komik impor di toko buku, saya selalu teringat tetangga saya itu. Diam-diam saya bersyukur dia tak sempat menonton akting buruk Stallone di film <em>Judge Dredd</em> (1995)&#8212;sebuah upaya gagal memindahkan karakter komik ke pita seluloid. Bisa-bisa dia meringis kecewa.</p>
<p>Zaman makin berubah, dan perkembangan komik di negeri ini pun memasuki babak baru. Komik-komik bawah tanah mulai tumbuh subur di kota-kota besar di Indonesia. Pakem bertutur konvensional yang saya pahami, terang-terangan mereka labrak: panel-panel makin diruntuhkan, ada keliaran imajinasi yang semakin menjadi-jadi, serta imbuhan elemen lain seperti permainan kolase, baik untuk teks maupun gambar. Ada memang, yang terkesan asal-asalan, baru setengah jadi, atau cuilan-cuilan momen keseharian yang &#8216;Gak Penting&#8217; (tapi sebenarnya apa sih, yang &#8216;Penting&#8217; itu?), namun entah kenapa, beberapa di antaranya berhasil menggetarkan hati. Jangan-jangan justru di situ poinnya: mereka cuek dengan tampilan, toh yang lebih esensial adalah gagasan. Ada gairah bermain-main di situ&#8212;sebuah kesadaran penuh sebagai <em>homo ludens</em>&#8212;maka jika kemerdekaan bercerita dan ketersampaian pesan justru tercapai dengan mempreteli segala perangkat baku itu, kenapa tidak?</p>
<p>Ketika pameran komik—baik yang &#8220;lurus&#8221; maupun eksperimental&#8212;mulai menjamur di mana-mana, ingin rasanya saya ajak tetangga saya itu datang melihat-lihat. Saya penasaran apa pendapat dia. Tapi di mana dia sekarang? Saya tidak tahu. Jangan-jangan sebenarnya dia selalu &#8216;ada&#8217; menemani saya. Barangkali di alam sana, sambil menekuni halaman demi halaman komik Judge Dredd, dia tetap meneriakkan lagu Anthrax kesukaannya. Namun akankah dia bersetia pada lirik &#8220;<em>so break the law, and you wind up dead</em>&#8220;? Entahlah. Angkat gelasmu, ayo bersulang untuk kebebasan!</p>
<p style="text-align: right;"><strong>Budi Warsito<br />
</strong><em>Penikmat budaya pop, tinggal di Bandung</em></p>
<p style="text-align: left;">Ditulis sebagai catatan pendamping<em> </em>&#8220;<strong>Komik Magnetik</strong>&#8220;&#8212;Pameran Komik 10 Seniman, di RURU Gallery, ruangrupa, 14-29 November 2009. Kurator: Ifan Ismail dan Yudha Sandy.</p>
<p>[<strong>MP3</strong>]<br />
<a href="http://www.mediafire.com/?j5iy5kzkyzm" target="_blank"><strong>Anthrax &#8211; &#8220;I Am The Law&#8221;</strong></a></p>
<p style="text-align: left;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/o-judge-dredd-where-art-thou/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hikayat Si Koin Bolong</title>
		<link>http://budiwarsito.net/hikayat-si-koin-bolong/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/hikayat-si-koin-bolong/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Nov 2009 04:56:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Rupa-rupa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=82</guid>
		<description><![CDATA[. there&#8217;s a hole in my soul that&#8217;s been killing me forever / it&#8217;s a place where a garden never grows / there&#8217;s a hole in my soul yeah, I should have known better /&#8217;cause your love’s like a thorn without a rose &#8212;&#8221;Hole in My Soul&#8221;, Aerosmith di album Nine Lives, 1997 Dulu waktu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #ffffff;">.</span></p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-305" title="yencoinbolong" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2009/11/yencoinbolong1.jpg" alt="yencoinbolong" width="230" height="162" /><em>there&#8217;s a hole in my soul that&#8217;s been killing me forever / it&#8217;s a place where a garden never grows / there&#8217;s a hole in my soul yeah, I should have known better /&#8217;cause your love’s like a thorn without a rose<br />
</em>&#8212;&#8221;Hole in My Soul&#8221;, Aerosmith di album <em>Nine Lives</em>, 1997</p>
<p>Dulu waktu di Shinjuku saya sempat bertanya-tanya dalam hati kenapa beberapa koin uang Yen punya lubang di tengahnya. Ketika saya bertanya pada orang Jepang langsung (saya sendiri sebenarnya tak begitu yakin mereka tahu), yakni salah satunya Ibu Yamada yang cantik dan baik hati itu, yang pernah tinggal di Solo beberapa tahun, bukannya menjawab, dia malah balik bertanya ke saya apakah penjual rujak di bilangan Sriwedari masih ada. Sebagai sesama penggemar rujak, saya jawab saja &#8220;Masih ada, Bu!&#8221;&#8212;ini persoalan etika menyenangkan orang seberang&#8212;sembari berjanji dalam hati: begitu nanti saya pulang ke Solo, saya akan segera ke sana untuk mengecek ulang, dan mencicipinya tentu saja. Rujak buah yang rahasia kelezatan sambalnya terletak di kencur itu memang juara, tapi soal wisata kuliner nanti saja membahasnya. Saya masih penasaran soal koin bolong itu.<span id="more-82"></span></p>
<p>Saya yakin pasti ada pertimbangan lain yang bukan sekadar artistik belaka. Ketika tinggal di Mishima beberapa hari, menatap lebih dekat salju di pucuk gunung Fuji sambil membaca novel-novel Yukio Mishima (benar-benar kombinasi kegiatan yang sangat pas! Alias norak banget), saya bertanya ke Motonori (teman sebangku di sekolah yang suka main tamagotchi) soal koin itu, dan dia juga hanya bisa mengangkat bahu—belakangan saya baru tahu minat dia lebih ke musik dan membentuk band punk bareng tetangga sebelah rumahnya. Wuiih, ini rukun warga pangkeh bener!</p>
<p>Sampai balik ke Indonesia, pertanyaan itu tetap tidak terjawab. Saya malah menjadikan koin bolong itu sebagai bandul kalung, hingga saya masuk bangku kuliah di Bandung dan mulai nyadar bahwa ternyata <em>geuleuh</em> juga ya kalung itu (<em>pisan, jang!</em>). Akhirnya saya mendapatkan jawabannya dari sebuah buku, yang saya beli dengan harga cukup wajar di pojok Lt. 3 Gramedia Merdeka, ini dia cuplikannya:</p>
<blockquote><p><em>Why do ¥5 and ¥50 coins have holes?</em></p>
<p><em>When the Japanese economy was based on the sen (¥0.01) rather than the yen, there were several coins with circular holes in the middle. During the first half of 20th century the holes disappeared and coins were distinguished by size and material. There was also a time when there were not so many denominations of coins, so one of two distinctions sufficed. Today, however, we have coins of ¥1, ¥5, ¥10, ¥50, ¥100, and ¥500 value. Size alone, even with the addition of tooled edges, is insufficient to help the user recognize the denomination. The hole was, therefore, reintroduced to help even people with limited sight distinguish between ¥5 and ¥10 coins and ¥50 and ¥100 coins by feel alone.</em></p>
<p>(<em>Japan from A to Z, Mysteries of Everyday Life Explained</em>. p.28-29. James M. Vardaman, Jr. and Michiko Sasaki Vardaman. Yenbooks, 1995)</p></blockquote>
<p>Ah, dasar orang Jepang, sampai segitunya. Tapi bagus sih, niatnya mulia. Lalu apa hubungannya koin Yen dengan lagu &#8220;Hole in My Soul&#8221;-nya Aerosmith yang saya kutip di awal tulisan? Sama-sama bolong aja, gitu? Bukan. Begini ceritanya. Lagu itu sedang populer waktu saya balik ke Indonesia, dan ada seorang teman baik saya di SMA yang pacarnya lagi suka banget lagu itu. (Teman baik saya itu cuma minta &#8220;oleh-oleh&#8221; koin Yen buat koleksi mata uang dia. Hehehe, itu sih oleh-oleh yang gampang dan murah!). Di <em>sleeve</em> kasetnya rupanya tidak disertakan lirik, dan waktu itu internet belum sangat populer di tempat kami. Demi tampil heroik di mata ceweknya, jadilah saya ditodong untuk men-transkrip lirik lagu itu. Tentu saja dia nanti akan bilang ke ceweknya bahwa dia-lah yang telah bersusah payah men-transkripnya, spesial atas nama cinta. Well, taktik gombal murahan sebenarnya, tapi siapa tahu ampuh.</p>
<p>Di radio tape butut miliknya (sumpah butut banget), dengan semangat mulia &#8220;<em>a friend in need is a friend indeed</em>&#8221; membara di dada, kami memutar kaset itu berulang-ulang, mencatat kata demi kata. Sementara saya pasang kuping baik-baik (listening saya sebenarnya sama bututnya), teman saya itu malah sibuk mencabuti jenggotnya dengan dua koin Yen yang bolong tengahnya itu. Buset, kayak tukang ojek lagi nungguin penumpang aja. Liriknya mulai tercatat sedikit demi sedikit. Ketika baru sampai baris &#8220;<em>&#8230;yeah there&#8217;s a hole in my soul, but one thing I&#8217;ve learned, for every love letter written, there&#8217;s another one burned&#8230;</em>&#8221; (hmmm, dalem juga si Oom Tyler ini!) radio tape butut itu mulai batuk-batuk. Uhuk-uhuk. Well, usia lanjut tak bisa bohong. Begitu sampai lirik &#8220;<em>&#8230;is it over, is it over, ‘cause I&#8217;m blowin&#8217; out the flame&#8230;</em>&#8221; radio tape itu tiba-tiba berhenti bekerja. Sialan, pas banget sama liriknya!</p>
<p>&#8220;Tenang Bud, bentar lagi dia jalan lagi kok. Dia emang suka begitu&#8230;&#8221; ujar teman saya itu meyakinkan, sambil mengetok-ngetok bodi renta radio tape-nya. Tapi rupanya kali ini lain. Ditunggu-tunggu lama, radio tape itu tak mau hidup lagi. Diketok-ketok lagi, diam saja. Saya mulai khawatir, jangan-jangan wafat beneran. Padahal kata Chairil Anwar, &#8220;kerja belum selesai, belum apa-apa.&#8221;</p>
<p>Dengan otoritas penuh sebagai pemilik sah, akhirnya teman saya itu dengan pedenya mencoba membongkar dikit-dikit radio tape kesayangannya itu. Ini demi cewekku, katanya sambil sesekali menerawang (halo, sinetron). Maka dibukanya bodi radio tape yang sudah bau tanah itu. Beberapa sekrupnya, itupun kalau masih bisa disebut sekrup, sudah karatan dimakan usia. Waduh, saya lupa teman saya itu orangnya agak ceroboh. Bukannya ditaruh dulu, koin Yen bolong dia itu (plus beberapa helai jenggotnya menempel di situ) malah kecemplung masuk ke dalam radio tape butut itu! Yak, sempurna!</p>
<p>Koin sialan itu nyelip di antara kabel keropos dan onderdil busuk. Setelah mengumpat secukupnya, dia mengajak saya membongkar total radio tape itu. Saya sebenarnya males, tapi demi persahabatan (uhuk-uhuk!) saya menurut saja. Baiklah, ambil obeng, dsb. Bongkar sana bongkar sini, dsb. Tapi karena kami berdua tidak begitu paham soal barang-barang elektronik, jadilah duo-amatir-sok-tukang-reparasi ini cuma bisa &#8216;terima bongkar, tidak terima pasang&#8217;. Alias, &#8216;terima bongkar.. dan terima kasih&#8217;. Jadilah radio tape itu makin ancur. Operasi kami gagal total, dan bertambah satu lagi kasus malpraktik di Indonesia. Ketika kami membawanya ke tukang reparasi beneran di daerah dekat Kraton, diagnosis resmi yang kami terima adalah: &#8220;Wah, ini sih harus diganti, Dik!&#8221; … &#8220;Oh gitu? Diganti apanya ya Mas? Onderdilnya?&#8221; … &#8220;Bukan. Radio tapenya! Beli aja yang baru!&#8221;</p>
<p>Teman saya tersenyum kecut. Penuh haru, diangkutnya radio tape butut legendaris itu pulang. Didekapnya erat-erat, mungkin semacam penghormatan terakhir. Saya mengekor saja di belakang. Di perjalanan pulang, kami lebih banyak diam. Kami berkabung. Di kepala saya berkumandang lagu &#8220;Gugur Bunga&#8221;, adegan tentara baris berbaris, plus beberapa tembakan salvo. Jadilah teman baik saya itu gagal tampil heroik di depan ceweknya. Seminggu kemudian, mereka putus.</p>
<p style="text-align: right;">[<strong>Budi Warsito</strong>]</p>
<p style="text-align: left;">PS.<br />
Download di <a href="http://www.4shared.com/file/94488155/d870f688/Aerosmith_-_Hole_In_My_Soul.html" target="_blank"><strong>sini</strong></a> jika ingin mendengar lagu &#8220;Hole in My Soul&#8221;.</p>
<p style="text-align: left;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/hikayat-si-koin-bolong/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>[Cerpen Favorit] Chief Sitting Bull</title>
		<link>http://budiwarsito.net/chief-sitting-bull/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/chief-sitting-bull/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Dec 2008 07:20:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Rupa-rupa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=449</guid>
		<description><![CDATA[. (cerita pendek oleh Umar Kayam) . Pagi itu tidak banyak orang yang berkerumun di sekitar carousel Central Park. Hanya ada beberapa orang anak kelihatan bertengger di atas kuda-kudaan, seperti biasa tidak sabar menunggu lonceng tanda carousel berjalan berbunyi. Di bangku-bangku sekitar carousel, ibu-ibu atau pengasuh anak-anak itu duduk mengobrol sambil sesekali mengawasi anaknya. Teng-teng-teng. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><span style="color: #ffffff;">.<br />
</span>(cerita pendek oleh <strong>Umar Kayam</strong>)</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-452" title="carousel" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2009/12/carousel1.jpg" alt="carousel" width="385" height="418" /></p>
<p><span style="color: #ffffff;">.</span><br />
Pagi itu tidak banyak orang yang berkerumun di sekitar carousel Central Park. Hanya ada beberapa orang anak kelihatan bertengger di atas kuda-kudaan, seperti biasa tidak sabar menunggu lonceng tanda carousel berjalan berbunyi. Di bangku-bangku sekitar carousel, ibu-ibu atau pengasuh anak-anak itu duduk mengobrol sambil sesekali mengawasi anaknya. Teng-teng-teng. Lonceng berbunyi, wajah anak-anak berseri-seri, dan carousel pun bergerak. Kuda-kuda mulai naik-turun diiringi musik waltz.</p>
<p>Dari arah kebun binatang kelihatan seorang kakek berlari tergopoh. Di tangannya dijinjingnya sebuah kantong. Waktu sampai di muka loket, dengan napas sengal-sengal diberikannya uang lima puluh sen kepada perempuan yang menjual karcis.</p>
<p>&#8220;Lima, seperti biasa, Charlie?&#8221;<span id="more-449"></span></p>
<p>Charlie kembali mengangguk sambil menerima lima helai karcis yang berlaku buat naik lima kali putaran. Kemudian dia berdiri di pinggir pintu masuk. Salah seorang penjaga yang melayani anak-anak turun dari kuda, datang mendekati Charlie.</p>
<p>&#8220;Kau lambat hari ini, Charlie?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya. Mary, menantuku, tidak beres pagi ini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidak beres bagaimana?&#8221;</p>
<p>&#8220;Masa dia lupa menaruh jatahku yang $ 1 itu di meja dapur. Pagi ini aku hanya mendapatkan sandwich-ku untuk lunch di meja itu. Terpaksa aku tunggu ia sampai kembali dari laundromat. Aku labrak dia waktu dia kembali. Sampai nangis-nangis dia minta ampun.&#8221;</p>
<p>&#8220;Habis itu semua beres, kan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh, ya, tentu, tentu, Mary anak yang baik sesungguhnya. Cuma kadang-kadang dia tolol.&#8221;</p>
<p>Si penjaga tersenyum.</p>
<p>&#8220;Aku khawatir kau harus menunggu agak lama pagi ini, Charlie.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa maksudmu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Lihatlah, kudamu yang putih dipakai. Begitu juga yang hitam. Kecuali kalau kau mau naik yang lain. Maukah kau?&#8217;</p>
<p>&#8220;Tidak, tidak. Aku cuma naik yang dua itu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Jadi kau mau menunggu saja?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidak, tidak. Aku segera naik begitu putaran ini selesai.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tetapi anak-anak itu terus-menerus naik sampai enam putaran. Aku tidak tahu berapa mereka diberi uang oleh ibu mereka. Anak-anak Madison Avenue itu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ah, serahkan saja kepadaku. Masa aku kalah oleh anak ingusan. Anak ingusan tetap saja masih ingusan, biarpun dia dari Madison Avenue atau dari Avenue langit pun.&#8221;</p>
<p>Penjaga tersenyum dan meninggalkan Charlie karena lonceng telah berbunyi menandakan putaran itu telah selesai. Charlie mendekati anak yang mengunggang kuda putih.</p>
<p>&#8220;Howdy, Bill.&#8221;</p>
<p>Anak itu agak terkejut disapa seorang kakek.</p>
<p>&#8220;Namaku bukan Bill.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tetapi bukankah kau Buffalo Bill? Bill Cody?&#8221;</p>
<p>Si anak tertawa.</p>
<p>&#8220;Ya, ya, betul. Aku Buffalo Bill. Dan kau siapa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku Sitting Bull.&#8221;</p>
<p>“Chief Sitting Bull?”</p>
<p>&#8220;Ho!&#8221;</p>
<p>&#8220;Ho!&#8221;</p>
<p>Charlie menepuk-nepuk kuda putih.</p>
<p>&#8220;He, Bill. Sejak kapan kau ganti kudamu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa maksudmu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Bukankah Buffalo Bill naik kuda merah?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidak, tidak. Buffalo Bill selalu naik kuda putih.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi dia naik kuda merah waktu mengalahkan Sitting Bull.&#8221;</p>
<p>&#8220;Benarkah?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, tentu saja. Dan Sitting Bull naik kuda putih waktu itu.&#8221;</p>
<p>Si anak memandang Charlie dengan penuh keraguan.</p>
<p>&#8220;Tunggu dulu, Pak.&#8221;</p>
<p>&#8220;Chief.&#8221;</p>
<p>&#8220;Chief. Tunggu dulu, Chief. Benarkan Buffalo Bill pernah ketemu Sitting Bull?&#8221;</p>
<p>&#8220;Eh, bicara apa kau? Kau ini anak Amerika, apa anak Cina? Jawablah, apakah kau anak Amerika yang baik?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, aku anak Amerika.&#8221;</p>
<p>&#8220;Nah, kenapa belum tahu bahwa Buffalo Bill yang mengalahkan Sitting Bull?&#8221;</p>
<p>Si anak kelihatan bingung dan belum yakin betul akan kata-kata Charlie.</p>
<p>&#8220;He, Bill. Kudamu merah telah menunggu kau, &#8216;tu. Aku, Sitting Bull harus segera naik kuda putih.&#8221;</p>
<p>Si anak belum juga turun dari kudanya.</p>
<p>&#8220;Ayolah! Buffalo Bill naik kuda merah mengejar Sitting Bull yang naik kuda putih. Kalau nanti lonceng berbunyi aku akan mulai dengan wu-wu-wu-wu-wu begini dan kau, Bill, akan mulai menembak aku dari belakang. Tam, tam, tam, tam.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tetapi Buffalo Bill tidak pernah mau menembak dari belakang.&#8221;</p>
<p>“Siapa bilang? Melawan Indian dia harus menembak dari belakang. Bukankah Indian selalu lari tiap ketemu Buffalo Bill? Dan Buffalo Bill bukankah harus mengejar dan menembak dia? Ayolah! Sebentar lagi lonceng berbunyi, &#8216;tu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Baiklah, Chief.&#8221;</p>
<p>Si anak turun dari kuda putih dan berlari menuju kuda merah.</p>
<p>Charlie dengan tertawa terkekeh-kekeh buru-buru naik kuda putihnya. Teng-teng-teng. Lonceng tanda berputar berbunyi. Charlie melihat kepada si anak yang sekarang sudah naik punggung kuda merah. Charlie meletakkan telapak tangannya di mulutnya. Dan dengan berputarnya carousel, ditepuk-tepuknya telapak tangannya pada mulutnya : wu-wu-wu-wu, wu-wu-wu-wu-wu! Di belakangnya, si anak mulai menembak Charlie. Tam-tam-tam-tam-tam-tam!</p>
<p>Carousel berputar, kali itu lagu &#8220;Oklahoma&#8221; yang mengiringi.</p>
<p>Untuk kira-kira seperempat jam lamanya ruang carousel gegap gempita karena tembak menembak yang seru antara Buffalo Bill dan Chief Sitting Bull. Rupanya kedua pahlawan itu sama-sama sakti karena tak seorang pun yang jatuh karena tembak-menembak yang dahsyat itu.</p>
<p>Akhirnya Charlie pun selesai mengerjakan lima kali putaran dan turunlah dia. Si anak, karena juga telah selesai, ikut pula turun.</p>
<p>Charlie dan si anak sama-sama keluar.</p>
<p>&#8220;Itu tadi tembakan yang hebat, Chief.&#8221;</p>
<p>&#8220;Buffalo Bill selalu menang, Chief.&#8221;</p>
<p>&#8220;Betul, betul.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sekarang kau mau ke mana, Chief?&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh, aku harus kembali ke semak-semak sana.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ke semak-semak?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya. Aku harus ketemu squaw.&#8221;</p>
<p>&#8220;Squaw?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, squaw. Bukankah orang Indian laki-laki punya squaw.&#8221;</p>
<p>“Oh, ya, squaw. Pacar?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, begitulah kira-kira.&#8221;</p>
<p>Tiba-tiba seorang diantara perempuan-perempuan yang duduk di bangku memanggil anak itu.</p>
<p>&#8220;Tommy!&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, Bu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ayolah. Sudah siang sekarang. Bukankah kau harus pulang makan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi Bu, aku harus pergi.&#8221;</p>
<p>&#8220;Pergi? Pergi ke mana?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku mau ikut Chief Sitting Bull ketemu squaw.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ketemu apa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Squaw.&#8221;</p>
<p>Ibu Tommy memandang Charlie. Charlie tersenyum kemalu-maluan. Tangannya meraba-raba dasinya yang lusuh, kemudian diangkatnya topinya sedikit.</p>
<p>&#8220;Selamat siang, Nyonya.&#8221;</p>
<p>Dan Charlie dengan menjinjing kantong berjalan menuju ke kebun binatang. Tommy berteriak.</p>
<p>&#8220;Chief, Chief!&#8221;</p>
<p>Tapi Charlie tidak menoleh dan ibunya juga buru-buru menyeretnya.</p>
<p>Di kebun binatang, Charlie duduk di bangku. Di sampingnya, duduk seorang nenek yang sebaya dengan Charlie.</p>
<p>&#8220;Kau lambat hari ini, Charlie.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, maaf, Martha.&#8221;</p>
<p>&#8220;Burung-burung resah menunggumu. Tentulah mereka mengira tidak mendapat jagung dan jali hari ini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh, mereka akan mendapat. Aku tidak akan lupa. Sebabnya aku lambat karena Mary, menantuku.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kenapa dia?&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh, seperti biasa. Menantu-menantu bukankah selalu mencoba menyabot mertua-mertua mereka tiap kali ada kesempatan? Apalagi mertua yang sudah tua-tua seperti aku atau kau. Tidak pernahkah kau disabot menantumu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tiap hari, meskipun aku tidak tinggal dengan anak dan menantuku. Ada saja akal mereka untuk terus menggangguku. Bagaimana Mary menyabot kau pagi tadi?&#8221;</p>
<p>&#8220;Pertama, aku dikasih toast yang gosong-gosong saja buat sarapanku. Sudah itu dikasihnya aku cereal. Dianggapnya aku ini bayi, apa? Lalu yang terakhir, dan ini yang terlalu!&#8221;</p>
<p>&#8220;Apakah itu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Mary pura-pura lupa, tidak menyediakan uang harianku.&#8221;</p>
<p>&#8220;Terlalu!&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, bukankah sudah terlalu benar itu. Enak saja dia pergi ke laundromat, membiarkan mertuanya kelabakan di rumah, aku labrak habis dia. Aku bilang kalau memang dia tidak sudi lagi aku tinggal di situ, aku minta disewakan rumah sendiri. Kalau dia tidak berjanji menghentikan ulahnya yang tidak beres itu, aku mengancam mau mengadukannya kepada Johnny. Oh, nangis dia.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya,ya, sering kali menantu-menantu itu memang tidak tahu terima kasih.&#8221;</p>
<p>Sementara itu, sekelompok burung dara turun berkumpul di muka Charlie dan Martha. Kemudian datang lagi sekelompok, dan lagi sekelompok. Charlie mulai bersiul-siul memanggil-manggil mereka. Dikeluarkannya jagung dan jali dari kantongnya dan disebar-sebarkannya kepada burung-burung itu. Beberapa burung mulai bertengger di kedua bahunya. Mereka berebut minta makanan yang ada di tangan Charlie.</p>
<p>&#8220;Oh, oh, oh. Sabar, sabar, anak-anak. Sebentar kau juga dapat.&#8221;</p>
<p>Seekor dara putih datang bertengger di bahu Charlie dan dengan galaknya mematuk kawan-kawannya yang ada di bahu. Habislah mereka terbang, tinggal lagi si dara putih yang ada di bahu Charlie.</p>
<p>&#8220;Bukankah kau dara terlalu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, dara ini selalu nakal, Charlie. Di bawah tadi juga sudah menyikut-nyikut temannya dengan enak saja. Sekarang di bahumu begitu pula. Kita namakan saja dia, si Tamak.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, tepat sekali, Martha. Tamak, Tamak.&#8221;</p>
<p>Dan si Tamak pun terbang lagi. Lama kelamaan persediaan jagung dan jali Charlie habis. Burung-burung dara itu sudah biasa dengan jatah mereka, mulai terbang lagi.</p>
<p>Charlie lalu membuka bungkusan sandwich-nya.</p>
<p>&#8220;Apa lunch-mu hari ini, Charlie?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku mendapat sandwich salad ikan tongkol. Dan kau?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku membawa sandwich salad daging kalkun.&#8221;</p>
<p>&#8220;Mmmm, Kalkun. Rasanya, sudah seabad aku tidak makan kalkun.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku juga sudah lama tidak makan tongkol. Begini saja Charlie, kau kasih aku separo dari tongkolmu. Aku kasih kau kalkunku. Setuju?&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh, setuju sekali. Kau anak yang manis, Martha.&#8221;</p>
<p>Dan Martha tersenyum manis sekali mendengar itu.</p>
<p>Waktu jam sudah menunjukkan angka hampir setengah tiga, Charlie dan Martha berciuman dan berjanji untuk bertemu lagi esok harinya, untuk bersama-sama memberi makan burung dara.</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p style="text-align: left;">Hawa terasa panas waktu Charlie masuk rumah.</p>
<p>&#8220;Kaukah itu, Pak?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, Mary.&#8221; Dan Charlie menemui Mary di dapur.</p>
<p>&#8220;Segelas bir, Pak? Kau kelihatan haus sekali.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, tepat sekali. Bir.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku juga ada semangka. Maukah seiris?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, tepat sekali. Semangka.&#8221;</p>
<p>Mary tersenyum melihat mertuanya mulai makan semangka. Airnya berlelehan di mulutnya.</p>
<p>&#8220;Dari mana saja hari ini, Pak?&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh, dari perpustakaan, baca-baca. Lalu ke Washington Square ketemu kawan-kawan lama. Kami berdebat tentang politik.&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh, ya? Apa yang terjadi di dunia sekarang?&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh, keadaan genting, Mary. Genting.&#8221;</p>
<p>&#8220;Genting?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, Presiden Eisenhower mungkin akan memaklumkan perang kepada Stalin hari-hari ini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi, Pak. Eisenhower bukan lagi presiden. Dan Stalin sudah beberapa tahun mati, Pak.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aaaahh, kau anak perempuan ingusan tahu apa tentang politik. Kau kan pergimu cuma ke laundromat dan supermarket tiap hari. Aku saban hari melihat dunia. Jangan kau coba sangkal aku lagi.&#8221;</p>
<p>Mary mengangguk-anggukkan kepala.</p>
<p>&#8220;Ah, ya, tentulah aku khilaf lagi. Jadi sebentar lagi akan ada perang, Pak?&#8221;</p>
<p>&#8220;Belum tentu. Ini tergantung kepada Stalin. Kalau Stalin tidak berani menerima tantangan Eisenhower, bagaimana bisa terjadi perang?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ah, betul juga. Lagi, Pak, semangkanya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Boleh. Tapi sedikit saja. Habis semangka ini aku mau tidur sebentar.&#8221;</p>
<p>Waktu semangka itu sudah habis, Charlie pun pergi ke kamarnya. Sebelum masuk kamar tidak lupa Charlie berpesan agar dia dibangunkan lima menit sebelum Amos dan Andy keluar di TV. Pintu kamar ditutup dan satu siang yang sibuk sudah berlalu buat Charlie.</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p><span style="font-size: 90%;"><span style="font-family: trebuchet ms;">Diketik ulang dari buku kumpulan cerita pendek Umar Kayam, <em>Seribu Kunang-kunang di Manhattan</em> (Pustaka Jaya, cetakan pertama 1972). Gambar ilustrasi dicomot dari <a href="http://brainofalexyoung.com/" target="_blank">sini</a>.</span></span></p>
<p style="text-align: left;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/chief-sitting-bull/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Atas Nama Jalanan&#8230;</title>
		<link>http://budiwarsito.net/atas-nama-jalanan/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/atas-nama-jalanan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Oct 2007 02:14:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Rupa-rupa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=111</guid>
		<description><![CDATA[. &#8220;…the words of the prophets are written on the subway walls…&#8221; &#8212;Simon and Garfunkel, &#8220;The Sound of Silence&#8221; Jalanan, apa boleh buat, adalah sebuah drama zaman kita. Dia bukan lagi sekadar penanda lokasi (&#8220;Kantornya di jalan apa tadi, Bos?&#8221; tanya si tukang ojek sebelum tancap gas), tapi sekaligus panggung tempat orang-orang berekspresi. Ketika ojek [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-271" title="breathless" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2007/10/breathless.jpg" alt="breathless" width="380" height="289" /></p>
<p><em><span style="color: #ffffff;">.</span><br />
&#8220;…the words of the prophets are written on the subway walls…</em>&#8221;<br />
&#8212;Simon and Garfunkel, &#8220;The Sound of Silence&#8221;</p>
<p>Jalanan, apa boleh buat, adalah sebuah drama zaman kita. Dia bukan lagi sekadar penanda lokasi (&#8220;Kantornya di jalan apa tadi, Bos?&#8221; tanya si tukang ojek sebelum tancap gas), tapi sekaligus panggung tempat orang-orang berekspresi. Ketika ojek membawa kita ngebut, meliuk-liuk menerobos kemacetan jalan yang tak masuk akal, tikung sana-sini dan hampir <em>nyerempet</em> mobil, naik ke atas trotoar, kita deg-degan dan tukang ojek tetap cuek; sesungguhnya drama <em>suspense</em> sedang terjadi.<span id="more-111"></span> Perhatikan pula sekelilingnya, sebuah ruang pentas berbagai <em>genre</em> peristiwa: dua polisi gendut duduk-duduk santai sambil <em>ngerumpi</em>, padahal lalu lintas padat jelas-jelas membutuhkan mereka (<em>komedi satir</em>); mbak-mbak pegawai kantoran tergopoh-gopoh menyusuri lorong gang sempit, cemas karena diikuti preman suruhan mantan pacarnya yang sakit hati (<em>thriller</em>); anak-anak STM tawuran, kejar-kejaran sambil menghunus pedang (<em>action</em>); atau sepasang remaja modis saling menatap malu-malu di dalam mobil mewah (jelas punya orangtua mereka) dan menunggu-nunggu kapan bisa berciuman (<em>drama remaja</em>). Segala peristiwa itu terjadi berbarengan, di sebuah <em>setting</em> besar bernama EXT. JALANAN.</p>
<p>Begitu juga pengamen di perempatan, yang <em>misuh-misuh</em> nadanya jadi agak fals lantaran harus berkelit menghindari ojek yang ugal-ugalan. Padahal gitar kopongnya (lecet kena seruduk ojek) sedang mendendangkan lagu lawas KLa Project yang merepresentasikan dirinya: &#8220;<em>…musisi jalanan mulai beraksi, seiring langkahku kehilanganmu…</em>&#8221; Barangkali dia kehilangan beberapa rupiah, atau dia sedang sentimentil. Namun kita tahu, jalanan tidak melulu soal &#8220;kehilangan&#8221;. Jalanan juga &#8220;menumbuhkan berbagai hal&#8221;. Jika tidak, bagaimana mungkin para seniman menghasilkan karya-karya mumpuni yang inspirasinya jelas-jelas dicomot dari jalan?</p>
<p>Film <em>City of God </em>(2002), misalnya, menunjukkan betapa jalanan bisa berarti keji, dan dendam pribadi mampu menjelma kekuatan kolektif yang brutal dan mengerikan. Segala drama jalanan yang keras dan penuh darah, termasuk perang antar geng di Rio de Janeiro dengan senjata api, jelas disadari sutradara Fernando Meirelles sebagai bahan dasar mengasyikkan untuk dipindahkan ke pita seluloid. Sama-sama mengangkat tema jalanan, Garin Nugroho memilih Jogja dan menghasilkan sketsa kemiskinan yang menggugah, lewat permainan akting anak jalanan non-aktor di film <em>Daun di Atas Bantal</em> (1998). Sementara di film <em>Slacker</em> (1991), Richard Linklater seperti hendak memberi aura positif kepada para <em>slacker</em> yang luntang-lantung di jalanan, bergaya bohemian dan meracau soal Dostoevsky, UFO, Marxisme, teori konspirasi JFK, dan Madonna. Perhatikan juga film <em>Breathless</em> (1960), mahakarya Jean-Luc Godard dengan <em>scene</em> legendarisnya: gadis Amerika berteriak menjajakan koran di jalanan Paris, &#8220;<em>New York</em><em> Herald Tribune! New York Herald Tribune!</em>&#8221; Menarik sekali mencermati <em>street fashion</em> di film itu: Jean Seberg tampil manis dengan model rambut <em>pixie</em>, <em>t-shirt</em> semi-turtleneck dengan lengan digulung, dipadu celana capri dan <em>flats</em>; berjalan di sebelah Jean-Paul Belmondo yang mengenakan setelan jas dan <em>ankle-high slim pants</em>, topi fedora, mengisap rokok dan merasa dirinya Humphrey Bogart.</p>
<p>Di situlah sebenarnya keunikan budaya jalanan: tak ada yang betul-betul persis satu sama lain. Apa yang khas di sudut Paris tentu berbeda dengan jalanan Amerika Latin, dan pelosok Jogja jelas lain dengan hiruk pikuk di Shinjuku. Dan tidakkah itu seru dan menantang untuk digali? Keragaman dirayakan, kebebasan berekspresi diberi tempat, dan jalanan penuh sesak dengan inspirasi. Tak heran seorang <em>filmmaker</em> pemula yang kebingungan mencari ide untuk karya pertamanya, mendapat wejangan singkat dari seniornya: &#8220;Ambil kameramu, dan pergilah ke jalan.&#8221; Mungkin dia bisa mulai dengan bertanya-tanya apa yang ada di benak Damon Albarn saat terkesima melihat kata-kata graffiti di salah satu sudut kota London. Sedemikian pentingkah suara ekspresif khas jalanan itu, hingga Albarn menjadikan graffiti tersebut judul album kedua Blur di era ’90-an: &#8220;<em>Modern life is rubbish</em>&#8220;? Bisa jadi iya. Dunia modern kian letih, monoton, butuh pencerahan-pencerahan baru. Dan bukan tidak mungkin kesegaran itu justru muncul dari jalanan: aksi manuver tukang ojek, makian khas pengamen, gaya berpakaian seenaknya, atau coretan di dinding-dinding jalan. Persis seperti &#8216;ramalan&#8217; Simon and Garfunkel: &#8220;<em>…sabda nabi-nabi tertulis di tembok-tembok subway…</em>&#8221;</p>
<p style="text-align: right;">[<strong>Budibadabadu</strong>]</p>
<p><span style="font-size: 90%;"><span style="font-family: trebuchet ms;"> </span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/atas-nama-jalanan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Surat dari Teman: &#8220;Adu Jotos Budie dan Alexie di Surga&#8220;</title>
		<link>http://budiwarsito.net/surat-dari-teman-adu-jotos/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/surat-dari-teman-adu-jotos/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Jan 2007 09:24:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Rupa-rupa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=498</guid>
		<description><![CDATA[. &#8220;We all know that nostalgia is dangerous, but I remember those days with a clear conscience.&#8221; —The Toughest Indian in The World. Sherman Alexie, 2000. Meskipun sudah diperingatkan, saya masih keukeuh ber-nostalgia (nostalgila?) mengingat dengan jelas hari-hari saya bisa sampai ke hadapan kutipan sendu ini. Masa-masa itu adalah periode di mana saya, yang baru [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2010/05/Alexie.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-499" title="Alexie!" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2010/05/Alexie.jpg" alt="" width="373" height="249" /></a><span style="color: #ffffff;">.</span><br />
&#8220;<em>We all know that nostalgia is dangerous,<br />
but I remember those days with a clear conscience</em>.&#8221;<br />
—<em>The Toughest Indian in The World</em>. Sherman Alexie, 2000.</p>
<p>Meskipun sudah diperingatkan, saya masih <em>keukeuh</em> ber-nostalgia (nostalgila?) mengingat dengan jelas hari-hari saya bisa sampai ke hadapan kutipan sendu ini. Masa-masa itu adalah periode di mana saya, yang baru lulus setelah 5 tahun berkutat di bangku perkuliahan, dan akibat ketakutan irasional untuk masuk dunia kerja malah terjun bebas ke dalam dunia malam, maksudnya, dunia begadang; atau kerennya: dunia insomnia. Dunia malam dan dunia maya layaknya <em>partners in crime</em>, menggoda saya untuk bergaul dengan makhluk-makhluk gentayangan yang eksis di dua dunia tersebut. Salah satunya bernama Budie.<span id="more-498"></span></p>
<p>Sosok yang saya anggap jenius ini saya kenal saat kami membicarakan satu film klasik Italia (yang tidak akan saya bahas di sini). Setelah itu, ia memberi peta rahasia menuju &#8216;<a href="http://budibadabadu.blogspot.com"><strong>rumah pohon</strong></a>&#8216;-nya yang sederhana, bercat dinding gelap, perpaduan warna hitam-putih. Ketika iseng-iseng bermain ke sana lain waktu, saya menemukan secarik kertas lusuh berisikan sebuah cerita tentang masa lalu yang kurang begitu penting sebetulnya, tetapi kutipan pembukanya cukup menarik perhatian saya. Ya, kutipan yang sama dengan pembuka tulisan ini, diambil dari salah satu cerpen yang ditulis Sherman Alexie, seorang pengarang Indian Amerika dari suku Spokane atau Coeur d&#8217;Alene. Inilah kali pertama saya mendengar nama Alexie, <em>thanks to </em>Budie.</p>
<p>Selepas membaca kutipan itu, saya langsung tahu bahwa saya akan menyukai karya-karya Alexie, dan juga kisah-kisah masa lalu Budie yang berserakan di setiap sudut &#8216;rumah&#8217;-nya (yang saat itu saya yakini sedih dan ternyata di kemudian hari, saya benar). Di malam-malam saat dia sedang tidak tidur (dan saya tidak bisa tidur) itulah, Budie berceloteh tak henti-henti mengenai Alexie, bagaimana ia mengagumi karya-karyanya. Begitu semangatnya dia merekomendasikan saya buku-buku Alexie apa saja yang harus saya baca, hingga akhirnya diam-diam saya mencari tahu sendiri tentang Alexie dari internet. Saya hanya berhasil menemukan satu cerpennya yang dimuat di <em>New Yorker</em>, selebihnya nihil. Seperti memahami keputusasaan saya, dia pun menawarkan untuk memberikan fotokopi buku-buku Alexie saat kami akhirnya bertemu secara langsung di dunia nyata. Budie memang baik, meski penuh kontroversi dan kontradiksi di sana-sini, persis karakter-karakter di tulisan Alexie yang saya kenal kemudian.</p>
<p>&#8220;<em><a href="http://www.newyorker.com/archive/2003/04/21/030421fi_fiction" target="_blank"><strong>What You Pawn I Will Redeem</strong></a></em>&#8221; adalah cerpen pertama Alexie yang saya baca. Saya melahapnya di kereta, dalam sebuah perjalanan panjang yang rencananya berakhir di Bandung, tempat Budie berada. Saya berkali-kali sengaja berhenti membaca untuk meresapi emosi yang terpancar dari kisah tersebut. Di sini Alexie bercerita mengenai seorang laki-laki Indian Spokane tuna wisma yang suka  mabuk. Laki-laki yang bernama Jackson Jackson (atau Jackson Squared) ini berupaya mengumpulkan uang sebanyak $ 999 dalam 24 jam untuk membeli <em>regalia </em>(pakaian khusus penari yang digunakan<em> </em>pada saat <em>powwow,</em> upacara ritual suku Indian) milik almarhum neneknya yang dijual di sebuah rumah gadai misterius. <em>Regalia</em> ini dicuri saat neneknya masih hidup, dan Jackson merasa peristiwa inilah yang membuat neneknya patah hati tak tersembuhkan, mengidap kanker, lalu meninggal.</p>
<p>Perjalanan Jackson<sup>2­</sup> dalam mengumpulkan $ 999 dalam satu hari diwarnai dengan banyak peristiwa, baik yang mengharukan, manis, sampai yang tak masuk akal. Mendapatkan lotre $ 100 yang dihabiskannya untuk mentraktir &#8216;saudara-saudaranya&#8217; di sebuah bar Indian (seorang Indian selalu memanggil Indian lain dengan &#8216;<em>cousin</em>&#8216; atau &#8216;<em>brothers</em>&#8216;). Bercinta dengan Indian Duwamish yang baru dikenalnya. Bertemu dengan tiga Indian Aleuts yang duduk di bangku kayu dermaga menatap teluk dan menangis, menunggu kapal yang seharusnya menjemput mereka pulang sejak 11 tahun lalu. Ditolong oleh polisi kulit putih baik hati yang membangunkan Jackson<sup>2 </sup>yang pingsan di tengah-tengah rel kereta api. Akhir ceritanya tidak akan saya beberkan di sini, tetapi saya hanya ingin mengatakan: betul-betul menyentuh.</p>
<p>Sementara &#8220;<em>Dear John Wayne</em>&#8220;, cerpen Alexie kesukaan Budie, mengisahkan seorang antropolog kulit putih yang mewawancarai seorang wanita lanjut usia Spokane. Dalam tulisan ini, terlihat bagaimana orang kulit putih menyepelekan serta dengan &#8216;naifnya&#8217; menganggap Indian hanya sebagai objek eksotis yang dapat mendongeng untuk mereka. Sayang sekali, wanita Spokane ini bukan wanita sembarangan. Objek pun menjadi subjek, bahkan ia mengaku pernah tidur dengan John Wayne (ya, John Wayne bintang film koboi itu) saat ia masih belia.</p>
<p>Melalui salah satu tokohnya, Alexie pernah berkata<em> </em>&#8220;<em>Indians are great storytellers and liars and mythmakers.&#8221;</em> Indian adalah pencerita, pembohong, dan pembuat mitos yang handal. Saya tidak bisa tidak setuju dengannya, terutama perihal kelihaian mereka bercerita dan bermitos. Buktinya kisah-kisah Alexie jarang sekali yang mengecewakan meski saya ragukan kebenarannya. Dari sini, saya mulai curiga Budie punya darah Indian. Untuk masalah pintar berbohong, saya tidak berani mengomentari, tetapi saya tahu dia adalah pencerita yang bisa bikin pembaca/pendengarnya <em>termehek-mehek</em>.</p>
<p>Gaya penulisan Alexie yang begitu jujur, pahit, tidak diduga, tetapi sangat (SANGAT) lucu, sedikit banyak mengingatkan saya pada kisah-kisah masa lalu yang dipajang di dinding-dinding &#8216;kamar&#8217; Budie.  Gambaran Budie dan Alexie, dalam memori saya, tak terpisahkan, seperti kembar tidak identik yang tak pernah saling kenal tapi saling memahami. Hanya sedikit perbedaan: kisah Alexie lebih condong ke &#8216;magis&#8217;, sementara Budie, sayang sekali, lebih sering &#8216;tragis&#8217;.</p>
<p>Meskipun mereka berdua dalam cerita-ceritanya tampak selalu melucu, apabila diperhatikan benar-benar, Budie dan Alexie selalu serius dalam candaannya. &#8220;<em>Laughter is a very very serious business, Loli…</em>&#8220;<em> </em>ujar Budie ke saya suatu kali. Mereka berdua seolah menyuarakan betapa gentingnya perkara satu ini: humor teramat diperlukan saat harapan menghilang. Tertawa saja, karena menangis pun percuma.</p>
<p>Karakter-karakter yang diciptakan Alexie di karya-karyanya terkadang juga mengingatkan saya pada Budie. Karakter adalah orang yang sangat sangat lucu, namun di balik semua kelucuannya itu, terdapat kesedihan dan kepahitan yang sangat mendalam serta memilukan hati. Kesedihan dan kepahitan atas kenyataan bahwa mereka putus asa hidup (sebagai Indian); sedih sekaligus merasakan geli (atau jijik?) melihat kaumnya menjadi kumpulan pemabuk yang tidak berguna; serius sedih saat selimut sumbangan pemerintah yang diberikan untuk reservasi mereka sudah tertular cacar. Juga ketika merindu memakai kepangan rambut dan cawat serta berbincang-bincang dengan pepohonan dan sungai; kerinduan akan tarian pemanggil roh nenek moyang; dan dengan gamangnya berharap bahwa kapal-kapal laut Eropa lekas enyah, pulang ke seberang lautan, lalu para penumpangnya melambaikan tangan berjanji tak akan kembali lagi.</p>
<p>Titik puncaknya adalah mereka tahu bahwa mereka tak terselamatkan lagi. Mereka telah tersingkir dari rumahnya sendiri. Mereka telah kehilangan &#8216;salmon&#8217; (baca: harapan) mereka. <em>Nothing to lose.</em> Mungkin karena adanya perasaan itulah, cerita-cerita yang dibuat Alexie bisa terasa sangat jujur, dan seperti kita tahu, kejujuran seringkali pahit dan menyakitkan. Tokoh-tokoh di cerita ini mungkin bukan orang tersuci, terbersih (dalam arti harfiahnya), atau terganteng di dunia, tetapi saya yakin, mereka adalah orang-orang yang sebenarnya baik dan manis. Mereka banyak dikekecewakan dan mengalami penolakan di dunianya, namun dengan kepala tegak mereka tetap berjalan ke depan, meski hari esok seolah tanpa harapan. Kisah-kisah Alexie juga seringkali sangat mengecoh. Kita tidak akan bisa menebak jalan ceritanya, terutama bagian akhirnya. Akhir cerita-cerita Alexie kerap sangat tidak nyambung dengan awal mula cerita. Persis seperti jalan hidup.</p>
<p>Menutup tulisan ini, saya ingin jujur, sebenarnya saya sedikit enggan menuliskan semua ini, karena saya merasa seperti sedang menuliskan eulogi—bukannya testimoni—bagi Budie ataupun Alexie (salahkan kata &#8216;surga&#8217; di judul cerita!). Meskipun saya tahu, apabila sampai waktu itu tiba, saya tidak akan mampu menuliskan apa-apa lagi. Demi membesarkan (dan menenangkan) hati saya, maka saya berupaya mencari arti lain dari &#8216;surga&#8217; itu sendiri, bukan hanya tempat selain neraka di mana kita pergi setelah mati, melainkan tempat atau momen di mana seseorang bisa merasakan bahagia saat hidup.</p>
<p>Sehingga tanpa harus meninggalkan dunia ini, Budie dan Alexie bisa terus beradu jotos untuk tetap bertahan hidup.</p>
<p>Saya menaruh uang saya untuk Budie.</p>
<p style="text-align: right;">- <a href="http://lintanglintang.multiply.com" target="_blank"><strong>Loli</strong>.</a></p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p style="text-align: left;">CATATAN: Surat ini saya muat di sini tentu saja dengan seizin penulisnya (LMM). <em>Thanks pal</em>! &#8212;Budi Warsito.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/surat-dari-teman-adu-jotos/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>[Cerpen Favorit] Memento Mori</title>
		<link>http://budiwarsito.net/memento-mori/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/memento-mori/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Nov 2006 17:28:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[Rupa-rupa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=536</guid>
		<description><![CDATA[. (a short story by Jonathan Nolan) 1 &#8220;What like a bullet can undeceive!&#8221; —Herman Melville Your wife always used to say you&#8217;d be late for your own funeral. Remember that? Her little joke because you were such a slob—always late, always forgetting stuff, even before the incident. Right about now you&#8217;re probably wondering if [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><span style="color: #ffffff;">.</span><br />
(a short story by <strong>Jonathan Nolan</strong>)</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2010/06/mementomori.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-539" title="mementomori" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2010/06/mementomori.jpg" alt="" width="358" height="269" /></a></p>
<p>1<em><br />
&#8220;What like a bullet can undeceive!&#8221;<br />
—Herman Melville</em></p>
<p style="text-align: left;"><em>Your wife always used to say you&#8217;d be late for your own funeral. Remember that? Her little joke because you were such a slob—always late, always forgetting stuff, even before the incident.</em></p>
<p><em>Right about now you&#8217;re probably wondering if you were late for hers.</em></p>
<p><em>You were there, you can be sure of that. That&#8217;s what the picture&#8217;s for—the one tacked to the wall by the door. It&#8217;s not customary to take pictures at a funeral, but somebody, your doctors, I guess, knew you wouldn&#8217;t remember. They had it blown up nice and big and stuck it right there, next to the door, so you couldn&#8217;t help but see it every time you got up to find out where she was.</em></p>
<p><em>The guy in the picture, the one with the flowers? That&#8217;s you. And what are you doing? You&#8217;re reading the headstone, trying to figure out whose funeral you&#8217;re at, same as you&#8217;re reading it now, trying to figure why someone stuck that picture next to your door. But why bother reading something that you won&#8217;t remember?</em><span id="more-536"></span></p>
<p><em>She&#8217;s gone, gone for good, and you must be hurting right now, hearing the news. Believe me, I know how you feel. You&#8217;re probably a wreck. But give it five minutes, maybe ten. Maybe you can even go a whole half hour before you forget.</em></p>
<p><em>But you will forget—I guarantee it. A few more minutes and you&#8217;ll be heading for the door, looking for her all over again, breaking down when you find the picture. How many times do you have to hear the news before some other part of your body, other than that busted brain of yours, starts to remember?</em></p>
<p><em>Never-ending grief, never-ending anger. Useless without direction. Maybe you can&#8217;t understand what&#8217;s happened. Can&#8217;t say I really understand, either. Backwards amnesia. That&#8217;s what the sign says. CRS disease. Your guess is as good as mine.</em></p>
<p><em>Maybe you can&#8217;t understand what happened to you. But you do remember what happened to HER, don&#8217;t you? The doctors don&#8217;t want to talk about it. They won&#8217;t answer my questions. They don&#8217;t think it&#8217;s right for a man in your condition to hear about those things. But you remember enough, don&#8217;t you? You remember his face.</em></p>
<p><em>This is why I&#8217;m writing to you. Futile, maybe. I don&#8217;t know how many times you&#8217;ll have to read this before you listen to me. I don&#8217;t even know how long you&#8217;ve been locked up in this room already. Neither do you. But your advantage in forgetting is that you&#8217;ll forget to write yourself off as a lost cause.</em></p>
<p><em>Sooner or later you&#8217;ll want to do something about it. And when you do, you&#8217;ll just have to trust me, because I&#8217;m the only one who can help you.</em></p>
<p>2<br />
EARL OPENS ONE EYE after another to a stretch of white ceiling tiles interrupted by a hand-printed sign taped right above his head, large enough for him to read from the bed. An alarm clock is ringing somewhere. He reads the sign, blinks, reads it again, then takes a look at the room.</p>
<p>It&#8217;s a white room, overwhelmingly white, from the walls and the curtains to the institutional furniture and the bedspread. The alarm clock is ringing from the white desk under the window with the white curtains. At this point Earl probably notices that he is lying on top of his white comforter. He is already wearing a dressing gown and slippers.</p>
<p>He lies back and reads the sign taped to the ceiling again. It says, in crude block capitals, THIS IS YOUR ROOM. THIS IS A ROOM IN A HOSPITAL. THIS IS WHERE YOU LIVE NOW.</p>
<p>Earl rises and takes a look around. The room is large for a hospital—empty linoleum stretches out from the bed in three directions. Two doors and a window. The view isn&#8217;t very helpful, either—a close of trees in the center of a carefully manicured piece of turf that terminates in a sliver of two-lane blacktop. The trees, except for the evergreens, are bare—early spring or late fall, one or the other.</p>
<p>Every inch of the desk is covered with Post-it notes, legal pads, neatly printed lists, psychological textbooks, framed pictures. On top of the mess is a half-completed crossword puzzle. The alarm clock is riding a pile of folded newspapers. Earl slaps the snooze button and takes a cigarette from the pack taped to the sleeve of his dressing gown. He pats the empty pockets of his pajamas for a light. He rifles the papers on the desk, looks quickly through the drawers. Eventually he finds a box of kitchen matches taped to the wall next to the window. Another sign is taped just above the box. It says in loud yellow letters, CIGARETTE? CHECK FOR LIT ONES FIRST, STUPID.</p>
<p>Earl laughs at the sign, lights his cigarette, and takes a long draw. Taped to the window in front of him is another piece of looseleaf paper headed YOUR SCHEDULE.</p>
<p>It charts off the hours, every hour, in blocks: 10:00 p.m. to 8:00 a.m. is labeled go BACK TO SLEEP. Earl consults the alarm clock: 8:15. Given the light outside, it must be morning. He checks his watch: 10:30. He presses the watch to his ear and listens. He gives the watch a wind or two and sets it to match the alarm clock.</p>
<p>According to the schedule, the entire block from 8:00 to 8:30 has been labeled BRUSH YOUR TEETH. Earl laughs again and walks over to the bathroom.</p>
<p>The bathroom window is open. As he flaps his arms to keep warm, he notices the ashtray on the windowsill. A cigarette is perched on the ashtray, burning steadily through a long finger of ash. He frowns, extinguishes the old butt, and replaces it with the new one.</p>
<p>The toothbrush has already been treated to a smudge of white paste. The tap is of the push-button variety—a dose of water with each nudge. Earl pushes the brush into his cheek and fiddles it back and forth while he opens the medicine cabinet. The shelves are stocked with single-serving packages of vitamins, aspirin, antidiuretics. The mouthwash is also single-serving, about a shot-glass-worth of blue liquid in a sealed plastic bottle. Only the toothpaste is regular-sized. Earl spits the paste out of his mouth and replaces it with the mouthwash. As he lays the toothbrush next to the toothpaste, he notices a tiny wedge of paper pinched between the glass shelf and the steel backing of the medicine cabinet. He spits the frothy blue fluid into the sink and nudges for some more water to rinse it down. He closes the medicine cabinet and smiles at his reflection in the mirror.</p>
<p>&#8220;Who needs half an hour to brush their teeth?&#8221;</p>
<p>The paper has been folded down to a minuscule size with all the precision of a sixth-grader&#8217;s love note. Earl unfolds it and smooths it against the mirror. It reads—</p>
<p>IF YOU CAN STILL READ THIS, THEN YOU&#8217;RE A FUCKING COWARD.</p>
<p>Earl stares blankly at the paper, then reads it again. He turns it over. On the back it reads—</p>
<p>P.S.: AFTER YOU&#8217;VE READ THIS, HIDE IT AGAIN.</p>
<p>Earl reads both sides again, then folds the note back down to its original size and tucks it underneath the toothpaste.</p>
<p>Maybe then he notices the scar. It begins just beneath the ear, jagged and thick, and disappears abruptly into his hairline. Earl turns his head and stares out of the corner of his eye to follow the scar&#8217;s progress. He traces it with a fingertip, then looks back down at the cigarette burning in the ashtray. A thought seizes him and he spins out of the bathroom.</p>
<p>He is caught at the door to his room, one hand on the knob. Two pictures are taped to the wall by the door. Earl&#8217;s attention is caught first by the MRI, a shiny black frame for four windows into someone&#8217;s skull. In marker, the picture is labeled YOUR BRAIN. Earl stares at it. Concentric circles in different colors. He can make out the big orbs of his eyes and, behind these, the twin lobes of his brain. Smooth wrinkles, circles, semicircles. But right there in the middle of his head, circled in marker, tunneled in from the back of his neck like a maggot into an apricot, is something different. Deformed, broken, but unmistakable. A dark smudge, the shape of a flower, right there in the middle of his brain.</p>
<p>He bends to look at the other picture. It is a photograph of a man holding flowers, standing over a fresh grave. The man is bent over, reading the headstone. For a moment this looks like a hall of mirrors or the beginnings of a sketch of infinity: the one man bent over, looking at the smaller man, bent over, reading the headstone. Earl looks at the picture for a long time. Maybe he begins to cry. Maybe he just stares silently at the picture. Eventually, he makes his way back to the bed, flops down, seals his eyes shut, tries to sleep.</p>
<p>The cigarette burns steadily away in the bathroom. A circuit in the alarm clock counts down from ten, and it starts ringing again.</p>
<p>Earl opens one eye after another to a stretch of white ceiling tiles, interrupted by a hand-printed sign taped right above his head, large enough for him to read from the bed.</p>
<p>3<br />
<em>You can&#8217;t have a normal life anymore. You must know that. How can you have a girlfriend if you can&#8217;t remember her name? Can&#8217;t have kids, not unless you want them to grow up with a dad who doesn&#8217;t recognize them. Sure as hell can&#8217;t hold down a job. Not too many professions out there that value forgetfulness. Prostitution, maybe. Politics, of course.</em></p>
<p><em>No. Your life is over. You&#8217;re a dead man. The only thing the doctors are hoping to do is teach you to be less of a burden to the orderlies. And they&#8217;ll probably never let you go home, wherever that would be.</em></p>
<p><em>So the question is not &#8220;to be or not to be,&#8221; because you aren&#8217;t. The question is whether you want to do something about it. Whether revenge matters to you.</em></p>
<p><em>It does to most people. For a few weeks, they plot, they scheme, they take measures to get even. But the passage of time is all it takes to erode that initial impulse. Time is theft, isn&#8217;t that what they say? And time eventually convinces most of us that forgiveness is a virtue. Conveniently, cowardice and forgiveness look identical at a certain distance. Time steals your nerve.</em></p>
<p><em>If time and fear aren&#8217;t enough to dissuade people from their revenge, then there&#8217;s always authority, softly shaking its head and saying, We understand, but you&#8217;re the better man for letting it go. For rising above it. For not sinking to their level. And besides, says authority, if you try anything stupid, we&#8217;ll lock you up in a little room.</em></p>
<p><em>But they already put you in a little room, didn&#8217;t they? Only they don&#8217;t really lock it or even guard it too carefully because you&#8217;re a cripple. A corpse. A vegetable who probably wouldn&#8217;t remember to eat or take a shit if someone wasn&#8217;t there to remind you.</em></p>
<p><em>And as for the passage of time, well, that doesn&#8217;t really apply to you anymore, does it? Just the same ten minutes, over and over again. So how can you forgive if you can&#8217;t remember to forget?</em></p>
<p><em>You probably were the type to let it go, weren&#8217;t you? Before. But you&#8217;re not the man you used to be. Not even half. You&#8217;re a fraction; you&#8217;re the ten-minute man.</em></p>
<p><em>Of course, weakness is strong. It&#8217;s the primary impulse. You&#8217;d probably prefer to sit in your little room and cry. Live in your finite collection of memories, carefully polishing each one. Half a life set behind glass and pinned to cardboard like a collection of exotic insects. You&#8217;d like to live behind that glass, wouldn&#8217;t you? Preserved in aspic.</em></p>
<p><em>You&#8217;d like to but you can&#8217;t, can you? You can&#8217;t because of the last addition to your collection. The last thing you remember. His face. His face and your wife, looking to you for help.</em></p>
<p><em>And maybe this is where you can retire to when it&#8217;s over. Your little collection. They can lock you back up in another little room and you can live the rest of your life in the past. But only if you&#8217;ve got a little piece of paper in your hand that says you got him.</em></p>
<p><em>You know I&#8217;m right. You know there&#8217;s a lot of work to do. It may seem impossible, but I&#8217;m sure if we all do our part, we&#8217;ll figure something out. But you don&#8217;t have much time. You&#8217;ve only got about ten minutes, in fact. Then it starts all over again. So do something with the time you&#8217;ve got.</em></p>
<p>4<br />
EARL OPENS HIS EYES and blinks into the darkness. The alarm clock is ringing. It says 3:20, and the moonlight streaming through the window means it must be the early morning. Earl fumbles for the lamp, almost knocking it over in the process. Incandescent light fills the room, painting the metal furniture yellow, the walls yellow, the bedspread, too. He lies back and looks up at the stretch of yellow ceiling tiles above him, interrupted by a handwritten sign taped to the ceiling. He reads the sign two, maybe three times, then blinks at the room around him.</p>
<p>It is a bare room. Institutional, maybe. There is a desk over by the window. The desk is bare except for the blaring alarm clock. Earl probably notices, at this point, that he is fully clothed. He even has his shoes on under the sheets. He extracts himself from the bed and crosses to the desk. Nothing in the room would suggest that anyone lived there, or ever had, except for the odd scrap of tape stuck here and there to the wall. No pictures, no books, nothing. Through the window, he can see a full moon shining on carefully manicured grass.</p>
<p>Earl slaps the snooze button on the alarm clock and stares a moment at the two keys taped to the back of his hand. He picks at the tape while he searches through the empty drawers. In the left pocket of his jacket, he finds a roll of hundred-dollar bills and a letter sealed in an envelope. He checks the rest of the main room and the bathroom. Bits of tape, cigarette butts. Nothing else.</p>
<p>Earl absentmindedly plays with the lump of scar tissue on his neck and moves back toward the bed. He lies back down and stares up at the ceiling and the sign taped to it. The sign reads, GET UP, GET OUT RIGHT NOW. THESE PEOPLE ARE TRYING TO KILL YOU.</p>
<p>Earl closes his eyes.<em> </em></p>
<p><em>5<br />
They tried to teach you to make lists in grade school, remember? Back when your day planner was the back of your hand. And if your assignments came off in the shower, well, then they didn&#8217;t get done. No direction, they said. No discipline. So they tried to get you to write it all down somewhere more permanent.</em></p>
<p><em>Of course, your grade-school teachers would be laughing their pants wet if they could see you now. Because you&#8217;ve become the exact product of their organizational lessons. Because you can&#8217;t even take a piss without consulting one of your lists.</em></p>
<p><em>They were right. Lists are the only way out of this mess.</em></p>
<p><em>Here&#8217;s the truth: People, even regular people, are never just any one person with one set of attributes. It&#8217;s not that simple. We&#8217;re all at the mercy of the limbic system, clouds of electricity drifting through the brain. Every man is broken into twenty-four-hour fractions, and then again within those twenty-four hours. It&#8217;s a daily pantomime, one man yielding control to the next: a backstage crowded with old hacks clamoring for their turn in the spotlight. Every week, every day. The angry man hands the baton over to the sulking man, and in turn to the sex addict, the introvert, the conversationalist. Every man is a mob, a chain gang of idiots.</em></p>
<p><em>This is the tragedy of life. Because for a few minutes of every day, every man becomes a genius. Moments of clarity, insight, whatever you want to call them. The clouds part, the planets get in a neat little line, and everything becomes obvious. I should quit smoking, maybe, or here&#8217;s how I could make a fast million, or such and such is the key to eternal happiness. That&#8217;s the miserable truth. For a few moments, the secrets of the universe are opened to us. Life is a cheap parlor trick.</em></p>
<p><em>But then the genius, the savant, has to hand over the controls to the next guy down the pike, most likely the guy who just wants to eat potato chips, and insight and brilliance and salvation are all entrusted to a moron or a hedonist or a narcoleptic.</em></p>
<p><em>The only way out of this mess, of course, is to take steps to ensure that you control the idiots that you become. To take your chain gang, hand in hand, and lead them. The best way to do this is with a list.</em></p>
<p><em>It&#8217;s like a letter you write to yourself. A master plan, drafted by the guy who can see the light, made with steps simple enough for the rest of the idiots to understand. Follow steps one through one hundred. Repeat as necessary.</em></p>
<p><em>Your problem is a little more acute, maybe, but fundamentally the same thing.</em></p>
<p><em>It&#8217;s like that computer thing, the Chinese room. You remember that? One guy sits in a little room, laying down cards with letters written on them in a language he doesn&#8217;t understand, laying them down one letter at a time in a sequence according to someone else&#8217;s instructions. The cards are supposed to spell out a joke in Chinese. The guy doesn&#8217;t speak Chinese, of course. He just follows his instructions.</em></p>
<p><em>There are some obvious differences in your situation, of course: You broke out of the room they had you in, so the whole enterprise has to be portable. And the guy giving the instructions—that&#8217;s you, too, just an earlier version of you. And the joke you&#8217;re telling, well, it&#8217;s got a punch line. I just don&#8217;t think anyone&#8217;s going to find it very funny.</em></p>
<p><em>So that&#8217;s the idea. All you have to do is follow your instructions. Like climbing a ladder or descending a staircase. One step at a time. Right down the list. Simple.</em></p>
<p><em>And the secret, of course, to any list is to keep it in a place where you&#8217;re bound to see it.</em></p>
<p>6<br />
HE CAN HEAR THE BUZZING through his eyelids. Insistent. He reaches out for the alarm clock, but he can&#8217;t move his arm.</p>
<p>Earl opens his eyes to see a large man bent double over him. The man looks up at him, annoyed, then resumes his work. Earl looks around him. Too dark for a doctor&#8217;s office.</p>
<p>Then the pain floods his brain, blocking out the other questions. He squirms again, trying to yank his forearm away, the one that feels like it&#8217;s burning. The arm doesn&#8217;t move, but the man shoots him another scowl. Earl adjusts himself in the chair to see over the top of the man&#8217;s head.</p>
<p>The noise and the pain are both coming from a gun in the man&#8217;s hand—a gun with a needle where the barrel should be. The needle is digging into the fleshy underside of Earl&#8217;s forearm, leaving a trail of puffy letters behind it.</p>
<p>Earl tries to rearrange himself to get a better view, to read the letters on his arm, but he can&#8217;t. He lies back and stares at the ceiling.</p>
<p>Eventually the tattoo artist turns off the noise, wipes Earl&#8217;s forearm with a piece of gauze, and wanders over to the back to dig up a pamphlet describing how to deal with a possible infection. Maybe later he&#8217;ll tell his wife about this guy and his little note. Maybe his wife will convince him to call the police.</p>
<p>Earl looks down at the arm. The letters are rising up from the skin, weeping a little. They run from just behind the strap of Earl&#8217;s watch all the way to the inside of his elbow. Earl blinks at the message and reads it again. It says, in careful little capitals, I RAPED AND KILLED YOUR WIFE.</p>
<p>7<br />
<em>It&#8217;s your birthday today, so I got you a little present. I would have just bought you a beer, but who knows where that would have ended?</em></p>
<p><em>So instead, I got you a bell. I think I may have had to pawn your watch to buy it, but what the hell did you need a watch for, anyway?</em></p>
<p><em>You&#8217;re probably asking yourself, Why a bell? In fact, I&#8217;m guessing you&#8217;re going to be asking yourself that question every time you find it in your pocket. Too many of these letters now. Too many for you to dig back into every time you want to know the answer to some little question.</em></p>
<p><em>It&#8217;s a joke, actually. A practical joke. But think of it this way: I&#8217;m not really laughing at you so much as with you.</em></p>
<p><em>I&#8217;d like to think that every time you take it out of your pocket and wonder, Why do I have this bell? a little part of you, a little piece of your broken brain, will remember and laugh, like I&#8217;m laughing now.</em></p>
<p><em>Besides, you do know the answer. It was something you learned before. So if you think about it, you&#8217;ll know.</em></p>
<p><em>Back in the old days, people were obsessed with the fear of being buried alive. You remember now? Medical science not being quite what it is today, it wasn&#8217;t uncommon for people to suddenly wake up in a casket. So rich folks had their coffins outfitted with breathing tubes. Little tubes running up to the mud above so that if someone woke up when they weren&#8217;t supposed to, they wouldn&#8217;t run out of oxygen. Now, they must have tested this out and realized that you could shout yourself hoarse through the tube, but it was too narrow to carry much noise. Not enough to attract attention, at least. So a string was run up the tube to a little bell attached to the headstone. If a dead person came back to life, all he had to do was ring his little bell till someone came and dug him up again.</em></p>
<p><em>I&#8217;m laughing now, picturing you on a bus or maybe in a fast-food restaurant, reaching into your pocket and finding your little bell and wondering to yourself where it came from, why you have it. Maybe you&#8217;ll even ring it.</em></p>
<p><em>Happy birthday, buddy.</em></p>
<p><em>I don&#8217;t know who figured out the solution to our mutual problem, so I don&#8217;t know whether to congratulate you or me. A bit of a lifestyle change, admittedly, but an elegant solution, nonetheless.</em></p>
<p><em>Look to yourself for the answer.</em></p>
<p><em>That sounds like something out of a Hallmark card. I don&#8217;t know when you thought it up, but my hat&#8217;s off to you. Not that you know what the hell I&#8217;m talking about. But, honestly, a real brainstorm. After all, everybody else needs mirrors to remind themselves who they are. You&#8217;re no different.</em></p>
<p>8<br />
THE LITTLE MECHANICAL VOICE PAUSES, then repeats itself. It says, &#8220;The time is 8:00 a.m. This is a courtesy call.&#8221; Earl opens his eyes and replaces the receiver. The phone is perched on a cheap veneer headboard that stretches behind the bed, curves to meet the corner, and ends at the minibar. The TV is still on, blobs of flesh color nattering away at each other. Earl lies back down and is surprised to see himself, older now, tanned, the hair pulling away from his head like solar flares. The mirror on the ceiling is cracked, the silver fading in creases. Earl continues to stare at himself, astonished by what he sees. He is fully dressed, but the clothes are old, threadbare in places.</p>
<p>Earl feels the familiar spot on his left wrist for his watch, but it&#8217;s gone. He looks down from the mirror to his arm. It is bare and the skin has changed to an even tan, as if he never owned a watch in the first place. The skin is even in color except for the solid black arrow on the inside of Earl&#8217;s wrist, pointing up his shirtsleeve. He stares at the arrow for a moment. Perhaps he doesn&#8217;t try to rub it off anymore. He rolls up his sleeve.</p>
<p>The arrow points to a sentence tattooed along Earl&#8217;s inner arm. Earl reads the sentence once, maybe twice. Another arrow picks up at the beginning of the sentence, points farther up Earl&#8217;s arm, disappearing under the rolled-up shirtsleeve. He unbuttons his shirt.</p>
<p>Looking down on his chest, he can make out the shapes but cannot bring them into focus, so he looks up at the mirror above him.</p>
<p>The arrow leads up Earl&#8217;s arm, crosses at the shoulder, and descends onto his upper torso, terminating at a picture of a man&#8217;s face that occupies most of his chest. The face is that of a large man, balding, with a mustache and a goatee. It is a particular face, but like a police sketch it has a certain unreal quality.</p>
<p>The rest of his upper torso is covered in words, phrases, bits of information, and instructions, all of them written backward on Earl, forward in the mirror.</p>
<p>Eventually Earl sits up, buttons his shirt, and crosses to the desk. He takes out a pen and a piece of notepaper from the desk drawer, sits, and begins to write.</p>
<p>9<br />
<em>I don&#8217;t know where you&#8217;ll be when you read this. I&#8217;m not even sure if you&#8217;ll bother to read this. I guess you don&#8217;t need to.</em></p>
<p><em>It&#8217;s a shame, really, that you and I will never meet. But, like the song says, &#8220;By the time you read this note, I&#8217;ll be gone.&#8221;</em></p>
<p><em>We&#8217;re so close now. That&#8217;s the way it feels. So many pieces put together, spelled out. I guess it&#8217;s just a matter of time until you find him.</em></p>
<p><em>Who knows what we&#8217;ve done to get here? Must be a hell of a story, if only you could remember any of it. I guess it&#8217;s better that you can&#8217;t.</em></p>
<p><em>I had a thought just now. Maybe you&#8217;ll find it useful.</em></p>
<p><em>Everybody is waiting for the end to come, but what if it already passed us by? What if the final joke of Judgment Day was that it had already come and gone and we were none the wiser? Apocalypse arrives quietly; the chosen are herded off to heaven, and the rest of us, the ones who failed the test, just keep on going, oblivious. Dead already, wandering around long after the gods have stopped keeping score, still optimistic about the future.</em></p>
<p><em>I guess if that&#8217;s true, then it doesn&#8217;t matter what you do. No expectations. If you can&#8217;t find him, then it doesn&#8217;t matter, because nothing matters. And if you do find him, then you can kill him without worrying about the consequences. Because there are no consequences.</em></p>
<p><em>That&#8217;s what I&#8217;m thinking about right now, in this scrappy little room. Framed pictures of ships on the wall. I don&#8217;t know, obviously, but if I had to guess, I&#8217;d say we&#8217;re somewhere up the coast. If you&#8217;re wondering why your left arm is five shades browner than your right, I don&#8217;t know what to tell you. I guess we must have been driving for a while. And, no, I don&#8217;t know what happened to your watch.</em></p>
<p><em>And all these keys: I have no idea. Not a one that I recognize. Car keys and house keys and the little fiddly keys for padlocks. What have we been up to?</em></p>
<p><em>I wonder if he&#8217;ll feel stupid when you find him. Tracked down by the ten-minute man. Assassinated by a vegetable.</em></p>
<p><em>I&#8217;ll be gone in a moment. I&#8217;ll put down the pen, close my eyes, and then you can read this through if you want.</em></p>
<p><em>I just wanted you to know that I&#8217;m proud of you. No one who matters is left to say it. No one left is going to want to.<br />
</em><br />
10<br />
EARL&#8217;S EYES ARE WIDE OPEN, staring through the window of the car. Smiling eyes. Smiling through the window at the crowd gathering across the street. The crowd gathering around the body in the doorway. The body emptying slowly across the sidewalk and into the storm drain.</p>
<p>A stocky guy, facedown, eyes open. Balding head, goatee. In death, as in police sketches, faces tend to look the same. This is definitely somebody in particular. But really, it could be anybody.</p>
<p>Earl is still smiling at the body as the car pulls away from the curb. The car? Who&#8217;s to say? Maybe it&#8217;s a police cruiser. Maybe it&#8217;s just a taxi.</p>
<p>As the car is swallowed into traffic, Earl&#8217;s eyes continue to shine out into the night, watching the body until it disappears into a circle of concerned pedestrians. He chuckles to himself as the car continues to make distance between him and the growing crowd.</p>
<p>Earl&#8217;s smile fades a little. Something has occurred to him. He begins to pat down his pockets; leisurely at first, like a man looking for his keys, then a little more desperately. Maybe his progress is impeded by a set of handcuffs. He begins to empty the contents of his pockets out onto the seat next to him. Some money. A bunch of keys. Scraps of paper.</p>
<p>A round metal lump rolls out of his pocket and slides across the vinyl seat. Earl is frantic now. He hammers at the plastic divider between him and the driver, begging the man for a pen. Perhaps the cabbie doesn&#8217;t speak much English. Perhaps the cop isn&#8217;t in the habit of talking to suspects. Either way, the divider between the man in front and the man behind remains closed. A pen is not forthcoming.</p>
<p>The car hits a pothole, and Earl blinks at his reflection in the rearview mirror. He is calm now. The driver makes another corner, and the metal lump slides back over to rest against Earl&#8217;s leg with a little jingle. He picks it up and looks at it, curious now. It is a little bell. A little metal bell. Inscribed on it are his name and a set of dates. He recognizes the first one: the year in which he was born. But the second date means nothing to him. Nothing at all.</p>
<p>As he turns the bell over in his hands, he notices the empty space on his wrist where his watch used to sit. There is a little arrow there, pointing up his arm. Earl looks at the arrow, then begins to roll up his sleeve.<br />
11<br />
<em>&#8220;You&#8217;d be late for your own funeral,&#8221; she&#8217;d say. Remember? The more I think about it, the more trite that seems. What kind of idiot, after all, is in any kind of rush to get to the end of his own story?</em></p>
<p><em>And how would I know if I were late, anyway? I don&#8217;t have a watch anymore. I don&#8217;t know what we did with it.</em></p>
<p><em>What the hell do you need a watch for, anyway? It was an antique. Deadweight tugging at your wrist. Symbol of the old you. The you that believed in time.</em></p>
<p><em>No. Scratch that. It&#8217;s not so much that you&#8217;ve lost your faith in time as that time has lost its faith in you. And who needs it, anyway? Who wants to be one of those saps living in the safety of the future, in the safety of the moment after the moment in which they felt something powerful? Living in the next moment, in which they feel nothing. Crawling down the hands of the clock, away from the people who did unspeakable things to them. Believing the lie that time will heal all wounds—which is just a nice way of saying that time deadens us.</em></p>
<p><em>But you&#8217;re different. You&#8217;re more perfect. Time is three things for most people, but for you, for us, just one. A singularity. One moment. This moment. Like you&#8217;re the center of the clock, the axis on which the hands turn. Time moves about you but never moves you. It has lost its ability to affect you. What is it they say? That time is theft? But not for you. Close your eyes and you can start all over again. Conjure up that necessary emotion, fresh as roses.</em></p>
<p><em>Time is an absurdity. An abstraction. The only thing that matters is this moment. This moment a million times over. You have to trust me. If this moment is repeated enough, if you keep trying—and you have to keep trying—eventually you will come across the next item on your list.</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>* * *</em></p>
<p><em> </em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/memento-mori/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>[Cerpen Favorit] Sentimentalisme Calon Mayat</title>
		<link>http://budiwarsito.net/cerpen-favorit-sentimentalisme-calon-mayat/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/cerpen-favorit-sentimentalisme-calon-mayat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Jul 2006 08:37:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Rupa-rupa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=708</guid>
		<description><![CDATA[. (cerita pendek oleh Sony Karsono) Bapak adalah hantu asing, seperti juga bayang yang kutemukan dalam cermin bila menggosok gigi waktu pagi. Aku masih gemar menghisap es krim di halaman rumah bersama ayam-ayam, ketika suatu hari Bapak menghilang di ujung gang menyandang ransel. Ia sangat tergesa, hingga lupa mengelus kepalaku, seperti yang biasa dilakukan seorang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #ffffff;">.</span><br />
(cerita pendek oleh <strong>Sony Karsono</strong>)</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/07/Sentimentalisme-Calon-Mayat.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-791" title="Sentimentalisme Calon Mayat" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2011/07/Sentimentalisme-Calon-Mayat.jpg" alt="" width="385" height="258" /></a></p>
<p>Bapak adalah hantu asing, seperti juga bayang yang kutemukan dalam cermin bila menggosok gigi waktu pagi. Aku masih gemar menghisap es krim di halaman rumah bersama ayam-ayam, ketika suatu hari Bapak menghilang di ujung gang menyandang ransel. Ia sangat tergesa, hingga lupa mengelus kepalaku, seperti yang biasa dilakukan seorang bapak dalam film atau puisi taman kanak-kanak. Aku bertanya, &#8220;Ibu, ke mana Bapak?&#8221; &#8220;Bapak cari uang,&#8221; sahut Ibu seraya menjemur kutang di jemuran. &#8220;Kelak ia datang bawa oleh-oleh untukmu.&#8217;<span id="more-708"></span></p>
<p>Tapi ia tak kunjung datang. Aku jemu menunggu di bawah pohon jambu penuh semut rang-rang tiap sore usai mandi. Yang kulihat hanya layang-layang bersabung di angkasa biru dan perlahan menjadi jingga. Ada satu layang-layang putus diseret angin sampai ke rahang jurang.</p>
<p>Kalau malam kian matang dan membusuk, Ibu membiusku dengan riwayat angsa, bidadari, dan denawa. Tapi tak pernah ia berkisah tentang Bapak walau, bagiku, Bapak telah terpencil ke alam dongeng, bahu-membahu dengan jin, siluman, dan jembalang. Saban bulan tukang pos mengantar surat dan bingkisan. &#8220;Dari Bapak,&#8221; kata Ibu. Selalu haru. Aku heran. Buat apa terharu di depan tanda mata. Tanda mata toh cuma ganti rugi seorang Sinterklas yang tak pernah hadir.</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p>Lima belas tahun kemudian barulah Sinterklas itu pulang. Lama dipeluknya Ibuku di ambang pintu. Rindu? Tapi sosok Bapak hanya bikin aku merasa seperti terpanggang bara. Soalnya, aku sudah lupa cara menghadapi seorang bapak. Kalau kebetulan kami berdua terjebak di ruang tamu, maka lekas-lekas kubenamkan kepala dalam bentang koran, pura-pura membaca iklan. Paras Bapak adalah teror. Selalu menuntutku menyapa. Aku tak bisa menyapa. Dan ruang tamu mengerut sekecil kotak donat. Aku takut kulitku bersentuhan dengan kulit Bapak, yang pori-porinya tampak lebar, mengembang, mau melahap diriku bulat-bulat.</p>
<p>Suatu hari Bapak tersungkur. Ginjalnya rusak. Baru karena desakan Ibu yang bertubi aku mau menjenguk Bapak di rumah sakit, yang sebenarnya hanya berjarak satu kilometer dari kediaman kami. Tapi aku hanya menjenguk gombal pesing dan tabung infus tinggal separo, menggelayuti tiang ranjang seperti lambung transparan manusia plastik. Lucu juga. Tubuh Bapak sendiri sudah diusung ke kamar jenazah. Di sanalah buat pertama kali aku menatap paras Bapak. Tak kutemukan apa-apa dalam paras itu, selain kelebat wajah calon jerangkong. Kukecup kening sepuluh derajat Celsius itu. &#8220;Selamat jalan,&#8221; bisikku. Jalan ke mana?</p>
<p>Sejak itu kucinta kuburan. Bila matahari lelehkan sinar pada pucuk-pucuk bambu yang gemersik mencakari angin; bila kambing liar dan gembel berkaki lepra tak lagi gentayangan; bila dalam kuburan tinggal aku dan setan-setan; aku jongkok memegangi pagar makam Bapak. Makam Bapak bolong-bolong. Tanahnya sering kuambil pulang sejumput dua jumput untuk campuran kopi. Ya. Kucengkeram pagar makam itu. Sambil mengunyah kembang dan gumamkan racauan paling cengeng sedunia. Bapak tak menjawab. Aku jengkel. Ingin rasanya kubongkar makam. Menggantung rangka Bapak dalam lemari pakaian dan menjejalkan radio dalam rahangnya, supaya ia bicara, menyanyi, atau baca ramalan cuaca.</p>
<p>Tangan Ibu pun mendadak menggiurkan. Saban bangun pagi, tangan itu kuserbu. Kujilati endapan garam dan daki pada sela jemarinya dengan penuh selera. Ibu ngamuk. &#8220;Gendeng kamu!&#8221; katanya. Dibawanya aku ke psikiater. Monster dengan jubah putih, tampang pandir, dan omongan ngaco itu memberiku tablet antidepresan 500 mg. Dengan senyum lebar dan ucapan terima kasih kuterima &#8220;cindera mata&#8221; medis itu, tapi sebelum pulang&#8212;tanpa setahunya&#8212;aku meneteskan urinku, yang kusimpan dalam botol kecil bekas minyak angin, ke dalam gelas sari jeruk di atas mejanya.</p>
<p>Sebagai balasan atas kelancangan Ibu, ia ganti kupaksa berfoto sinar-X. &#8220;Lihat Bu!&#8221; kataku. &#8220;Kelak tanganmu jadi rangka kayak gini. Mana bisa aku menciumnya?&#8221; Ibu tak mengerti. Ia malah pakai sarung tangan tebal dari kulit lembu. Tak apa. Aku masih bisa menciumi foto sinar-X itu sebelum sarapan. Ia kupajang pada tembok ruang makan. Sebab, ruas-ruas tulang itu cantik tiada tara.</p>
<p>Sedang pada dinding kamar mandi kupasakkan potret pengantin orangtuaku. Demikianlah, ketika sedang berak dan asyik merenungi potret itu, secepat kilat kutangkap makna kebahagiaan, yaitu jejak membusuk dalam bingkai potret tua. Tak ada bedanya dengan bangkai anjing di kali, menggembung penuh belatung, dikerumuni lalat-lalat. Kebahagiaan. Usus lapuk dimamah rayap-waktu. Tiba-tiba dapat kubayangkan ujud waktu. Waktu adalah tahi. Dan aku takjub. Kok mau-maunya orang pasang itu tahi di tugu taman kota, dinding kantor, bahkan pergelangan tangan.</p>
<p>Waktu! Kau musuhku nomor satu. Kelak kugorok batang lehermu dengan pisau baja Rp 95.000. Kutenggak vodka dan ngakak ketawa melihatmu berkelejat sekarat. Saat itu jarum arloji berputar mundur. Beling di ubin melompat ke meja jadi gelas utuh kembali. Dan Bapak bangkit dari kubur macam Lazarus lalu mereguk vodka bersamaku. Kami akan meludahi dan mengencingi tubuhmu. O waktu! Kau cuma pabrik kenang-kenangan yang, semanis apa pun, selalu menyakitkan.</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p>SATU bulan setelah kematian Bapak, kuambil cuti dari perusahaan peti mati tempatku bekerja. Aku pergi kunjungi candi-candi, puing masa lalu, tapak-tapak kaki orang berbakat arsitektur cemerlang tapi toh sudah mati. Di peron stasion kereta api aku menginap, berbantal tas pakaian, beralas jaket kanvas. Kurekam semua detil-detil rimba stasiun. Aku sampai pada kesimpulan hidup seperti kereta hitam lewat tengah malam, mengangkut badut kecil, titisan korban kamp konsentrasi Nazi Jerman, mengacungkan lolipop dan selalu menyanyi: &#8220;Naik kereta api. Tut tut tut. Siapa hendak ikut? Menuju Gusti Maut. Bolehlah naik dengan percuma. Ayo kawanku lekas naik! Keretaku tak berhenti lama.&#8221;</p>
<p>Jangan mencari cinta atau sahabat dalam perjalanan kereta api hitam itu. Percuma. Tapi kunyah saja kacang. Atau pesanlah koran, tisu untuk ingus, atau buku teka-teki silang bergambar orang setengah telanjang.</p>
<p>Tamasyaku di candi-candi sangat mengecewakan. Bau kematian sudah hilang. Yang kutemukan hanya senyum pelancong. Kaca mata bundar hitam optimis. Tawa bocah-bocah main petak-umpet yang membasahi stupa-stupa. Remaja ciuman di balik arca ganesha. Saling memiting. Saling membelit. Kubayangkan ada bom tiba-tiba meledak membungkam mereka semua.</p>
<p>Kenangan tak terlupakan dari tamasyaku adalah rumah sakit. Di sanalah kulewatkan sebagian besar liburku, karena asma kronisku mendadak kambuh dan tak terkendali. Rumah sakit. Mayat-induk yang mengerami ratusan telur calon mayat. Pasien-pasien itu meluncur sepanjang koridor dengan rambut awut-awutan, bibir menyeringai, tangan menjinjing kateter berisi kencing merah. Rumah sakit. Etalase tulang pecah, pipi sobek tertancap paku, nanah basi, borok berulat, daging tumor dalam ember, kuman gagah perkasa. Instalasi rawat darurat. Orang menangis, mengaduh, kelenger, loncat dari lantai empat. Mampus. Rumah sakit. Rimba angka, nama orang, nama penyakit. Rimba arsip. Rimba jarum, selang-selang, lensa-lensa, pisau-pisau. Putih di mana-mana. Lalu merah. Hitam. Adakah belantara yang lebih eksotis dari rumah sakit? Sebelum ajal, sempatkan berwisata ke sana! Menunggang mobil ambulans. Nguing! Nguing! Nguing!</p>
<p>Suatu pagi, saat asyik mengulum permen Nano-Nano, kulihat empat perawat melintas mendorong jenazah wanita. Angin berhembus buas, menyingkap betis dan paha sang mayat. Oh! Kaki Marilyn Monroe? Bukan! Tapi kaki putih, padat, kencang, berlumur peluh licin itu memompa birahiku. Aku kasmaran. Mata gelap. Urat-uratku menggeliat. Keringatku mengucur deras. Aku kewalahan. Tak pernah sebelumnya aku kasmaran. Inilah cintaku yang pertama. Lewat tengah malam, setelah sekian jam nelangsa menahan renjana, aku menyelinap ke kamar mayat, membongkar laci-laci kadaver. Nah! Itu dia si kaki mukjizat! Oh! Jariku mabuk meraba betis elatis itu. Saraf hidungku menggeletar ketika kuhirup embun pada lutut itu dengan mata terpejam. Oh! Getar sihir yang memancar dari pangkuannya membuat rohku memuai! O hidup! O maut! Hingga subuh aku dan mayat itu bersetubuh. O Mayat yang cantik! Kuakui, tanpa kemunafikan, aku cinta padamu.</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p>Kecupan lembab di leherku membuyarkan lamunan.</p>
<p>&#8220;Apa sih yang kamu pikirkan?&#8221; bisik perempuan di sampingku, istriku.</p>
<p>&#8220;Aku terkenang bapakku. Aku terkenang mayat yang kuperkosa di rumah sakit empat puluh tahun lalu. Aku kangen padanya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Buat apa diingat-ingat?&#8221;</p>
<p>Kalau hidup hanya siksa. Kalau harap selalu patah. Kalau kau terlalu licik untuk dicinta. Maka kucinta maut, Sita. Maut selalu pasti. Selalu setia. Tak jemu menunggu.</p>
<p>&#8220;Sita!&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa, Sayang?&#8221; sahutnya dengan mata tak berkedip memandang layar bioskop. Menatap ilusi.</p>
<p>&#8220;Kau setia?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sungguh?&#8221;</p>
<p>&#8220;Sungguh.&#8221; Ia mengunyah popcorn.</p>
<p>&#8220;Terima kasih, Sita.&#8221;</p>
<p>Ingin kuraba tangannya. Tapi tangan itu sibuk memasukkan biji popcorn ke mulut.</p>
<p>&#8220;Tapi, Sita, kau ingat hukum kedua termodinamika? Kekacauan meningkat selalu bersama waktu. Kita memang pernah indah kayak gambar pemandangan dalam jigsaw puzzle. Tapi waktu pelan-pelan telah membikinnya berantakan lagi. Aku merasa&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Shut up! Kita ke sini bukan untuk diskusi fisika. Kau selalu ganggu kesenanganku, Johan. Muak aku! Eh, Johan. Coba lihat bulu dada Mel Gibson itu! Hmmmhh&#8230; jantannya!&#8221;</p>
<p>Ya, Sita. Tak seperti aku. Cuma kantong tulang loyo yang sebentar lagi modar. Karena itukah, Sita, kamu main dengan pria-pria bertenaga kuda? Aku punya fotomu bersama para gigolo itu. Di bar, pantai, hotel, dan rumah makan. Kamu pendusta, Sita.</p>
<p>&#8220;Sita.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa lagi?&#8221;</p>
<p>&#8220;Alangkah bahagia beristri seorang mayat. Setia. Tak berdusta.&#8221;</p>
<p>&#8220;Jangan ngoceh, Sayang!&#8221; semprotnya di telingaku. &#8220;Ini gedung bioskop. Jangan bikin malu.&#8221;</p>
<p>Ingin kutampar pipinya, tapi aku tak bisa menyakitinya. Tak bisa marah. Tak bisa menyalahkan. Aku cuma mengutuk diriku yang selalu gagal bikin dia senang.</p>
<p>&#8220;Aku tidak mengerti, Johan!&#8221; sergah Sita ketika kusetir mobil keluar lapangan parkir plaza itu. &#8220;Akhir-akhir ini sikapmu sangat tengik!&#8221;</p>
<p>&#8220;Itulah sulitnya kalau kau masih muda, menggoda, penuh energi. Sementara aku sudah bobrok, dungu, dan tak mampu memberi kamu rangsangan-rangsangan baru.&#8221;</p>
<p>&#8220;Maksudmu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Sudahlah. Jangan kamu ambil hati. Cuma guyon. Ketawalah, Sita! Ketawa seperti aku. Ha! ha! ha! ha! ha!&#8221;</p>
<p>&#8220;Eh! Kita mau ke mana, Johan?&#8221; tanya Sita beberapa waktu kemudian ketika mobil kupacu menuju luar kota. Perasaanku luka. Perih. Gerbang tol kian jauh di belakang. Langit gelap. Tanpa bintang. Kusulut sebatang rokok. Bergumpal asap panas kusumbatkan ke dada. Mataku pedih.</p>
<p>Sita terus mengoceh. Bertanya. Memaki. Aku pindahkan mobil ke lajur kanan. Menghadang bus di kejauhan. Lampu depannya berkedip ganas. Dengan geraham terkatup dan mata nanar, kuhentak pedal gas dalam-dalam. Keras-keras, 120 km per jam. Mesin meraung. Aku menangis.</p>
<p>&#8220;Johan! Kau gila!&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku sayang kau, Sita. Tapi semua itu cuma lelucon.&#8221;</p>
<p>Bus itu tambah dekat. Tak ada jalan menghindar. Tak ada jalan kembali. Tepat di antara moncong bus dan moncong mobilku kelihat Maut dalam ujud gadis striptease meliuk, menggeliat, mengupas busana. Ia menyanyi, dalam suara Nat King Cole, <em>In the restless world like this is&#8230; </em></p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
<p style="text-align: left;"><span style="font-size: 90%;"><span style="font-family: trebuchet ms;">Disalin dari <em>KOMPAS</em> &#8211; Minggu, 15 Oktober 1995. Foto ilustrasi dicomot dari <a href="http://www.redbubble.com/people/randywilliams/art/4601841-broken-home" target="_blank">sini</a>.</span></span></p>
<p style="text-align: left;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/cerpen-favorit-sentimentalisme-calon-mayat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>bahwa seteru abadi tak pernah mati.</title>
		<link>http://budiwarsito.net/bahwa-seteru-abadi-tak-pernah-mati/</link>
		<comments>http://budiwarsito.net/bahwa-seteru-abadi-tak-pernah-mati/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Jun 2006 13:05:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budi Warsito</dc:creator>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Rupa-rupa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budiwarsito.net/?p=527</guid>
		<description><![CDATA[. &#8220;I want to cut you up, I want to watch you bleed, ever so slowly.&#8221; —Adorable &#8220;Homeboy&#8221; pagi itu, mungkin sepuluh atau sebelas tahun yang lalu, atas nama embun-embun tak bertuan dan bisikan setan yang tak beralasan, aku berniat meracuni sarapanmu. semua telah siap, segala bakal beres: secawan racun dari mulut ular paling berbisa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2010/05/vs..jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-528" title="vs.!" src="http://budiwarsito.net/wp-content/uploads/2010/05/vs..jpg" alt="" width="272" height="448" /></a><span style="color: #ffffff;">.</span></p>
<p>&#8220;<em>I want to cut you up, I want to watch you bleed, ever so slowly.</em>&#8221;<br />
—<strong><a href="http://www.mediafire.com/?n5unzeihwye" target="_blank">Adorable &#8220;Homeboy</a></strong>&#8221;</p>
<p>pagi itu, mungkin sepuluh atau sebelas tahun yang lalu, atas nama embun-embun tak bertuan dan bisikan setan yang tak beralasan, aku berniat meracuni sarapanmu. semua telah siap, segala bakal beres: secawan racun dari mulut ular paling berbisa di dunia, kata-kata terakhir dengan senyum sinis yang dilatih ratusan kali di depan kaca, juga segenap detil lainnya dengan pengaruh film-film detektif murahan di sana-sini. namun seperti kisah-kisah klise di buku dongeng, ternyata gelas kita tertukar: tanpa sadar aku menenggak racunku sendiri. (ah, &#8216;ternyata&#8217;—bukankah itu kata sialan yang sudah lama berusaha kita hapus dari kamus?)<span id="more-527"></span></p>
<p>betapa usangnya. tapi juga betapa perihnya: wahai siapapun yang merasa jenius sudah menciptakan istilah &#8216;senjata makan tuan&#8217;, silakan berbangga, bung. pagi itu pula, aku kemudian menggelepar meregang nyawa, mati konyol dan sia-sia. leherku melepuh, dan perutku terbakar dengan indah (sia-sia saja berusaha mengutuk), sementara parasmu tampak memucat dengan kecemasan yang putih dan tulus. adakah kau khawatir? keringat sisa bercinta semalam memantulkan cahaya keperakan di pipimu yang cekung, lalu semuanya memburam: selamat tinggal.</p>
<blockquote><p><em>jika dada rasa hampa,<br />
dan jam dinding yang berdetak.</em></p></blockquote>
<p>bahkan kita dulu pernah foto bersama. masa muda yang gelap? lihat, kau tampak limbung mengacungkan sebotol bir, menggumamkan sebaris puisi chairil anwar, atau toto sudarto bachtiar, atau siapapun tentang segala hal yang heroik, dan kembali meracau tentang karya-karya ginsberg. astaga, alangkah noraknya. sementara aku berdiri tolol dengan pupur tebal yang tak kalah noraknya, memakai topi rombeng yang bolong-bolong dimakan ngengat, juga asap tembakau yang mengepul samar dengan aroma daun surga, dan kata-kata mutiara sialan betapa dunia adalah panggung sandiwara. mungkin kita hanya terlalu serius menyiasati kedunguan masing-masing. bukankah kuil tempat kita rajin berdoa hanyalah bioskop tua dengan sejuta sarang laba-laba, dan yang tersisa adalah chaplin atau keaton atau lloyd yang tak bosan-bosannya berjumpalitan menuai tawa yang tak pernah ada? kita hanya meringis tipis, sebab belati sedang menancap di masing-masing perut, merobek lambung dan membanting harapan, sementara sidik jari kita jelas-jelas bertebaran, saling bersilangan dan berseberangan. tiba-tiba segalanya serupa nafas terakhir kita yang tersengal-sengal: keteraturan tak lagi menarik. jari kita basah meraba luka, rembes, dan genangan merahnya terlalu becek, namun senyum kuyu tetap berusaha dipaksakan—begitu senyap, dan redup mata bertahan menatap layar: kenapa kita selalu berusaha saling membunuh?</p>
<blockquote><p><em>tiba-tiba kau ingat maut dan bertanya<br />
adakah taman puspa di atas sana.</em></p></blockquote>
<p>dan aku hanya bisa tertawa. gara-gara kita, bioskop tua itu lalu ditutup selamanya, dengan berita kecil di koran lokal. kini, dari nisan tua yang makin jarang kau ziarahi: serupa hantu gentayangan yang terus mencoba, aku kembali turun ke bumi, dan bersumpah akan terus mengusikmu. dan bersikeras membunuhmu. lalu pertarungan bisa kita lanjutkan di alam baka. jika hari perhitungan dinyatakan tertunda, jika tuhan terlalu sibuk dengan angka-angka, jika surga-neraka tak pernah ada.</p>
<p>lalu kita berdua menulisi buku harian masing-masing dengan tinta darah: &#8220;<em>do you know how to make god laugh? MAKE A PLAN</em>.&#8221;</p>
<p style="text-align: right;">[<strong>Budi Warsito</strong>]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budiwarsito.net/bahwa-seteru-abadi-tak-pernah-mati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

