Category Archives: Rupa-rupa

Res volans ignota

Cerpen ke-12 di antologi Muslihat Musang Emas (2017), “Bangsawan Deli dan Delia”, menurut saya memang terlihat seperti mencampurkan ‘fakta’ dan fiksi, sebuah teknik kreasi yang tujuannya cukup benderang yakni membikin fiksi yang meyakinkan pembaca dan syukur-syukur berterima. Caranya antara lain dengan membubuhkan penanda waktu di awal cerpen, “—Jakarta, 1950”, lalu menjejalkan hal-hal ‘faktual’ di seputaran era itu, Continue reading

Sun Ra Piknik ke Bumi

Di perjalanan pulang tadi siang si kecil cerita kalau di sekolahnya ada murid baru, namanya Bumi. Meski si anak baru itu tidak satu kelas dengannya, dia cukup antusias karena “Namanya sama kayak planet kita, Papa.” Tempo hari memang saya baru ajari dia nama-nama planet di tata surya, dari gambar di majalah anak yang sering bapak ibunya bacakan untuknya. Si kecil masih sulit membedakan dan boro-boro menghapal, Continue reading

kurang santai

di beberapa whatsapp group yang saya ikuti, selalu saja ada satu orang (atau malah lebih) yang hobinya mengoreksi penggunaan bahasa orang lain. yang paling mereka sukai adalah “di” sebagai kata depan dan “di” sebagai awalan. contoh: ada wargagrup lagi senang trus laporan ke temen-temennya dengan nada riang Continue reading

Biar Rada Gaya Kayak Orang-orang di Timeline

Piala Dunia pertama saya Mexico ‘86. Frase-frase koncian macam “Tim Dinamit Denmark” “Gol Tangan Tuhan”, “Si Boncel”, memang masih membekas di saya hingga sekarang meski ketika itu saya masih TK dan cuma ikut-ikutan kakak nonton bola (dia sudah kelas 5 SD dan memang termasuk jago bal-balan di kampung saya). Piala Dunia setelahnya, Italy ‘90, malah tidak banyak saya ingat selain maskotnya yang mirip bongkaran kubus rubik itu termasuk yang paling keren menurut saya dari segi desain, Continue reading