Fell in Love with Planet Zeke

October 2nd, 2011 » 0

.

Di jadwal RRRec Fest pada peringatan 10 Tahun ruangrupa awal Januari 2011 lalu, tertera jelas: Zeke Khaseli bakal bermain di panggung outdoor setelah Bangkutaman. Dari kejauhan terdengar intro lagu “Blue Bird Taxi”, saya langsung bergegas sambil menyesal kenapa datang terlambat. Sesampainya di sana, ada pemandangan mengherankan. Tak ada Zeke di situ. Di atas panggung, sekelompok anak muda tampak cuek memainkan lagu itu dengan gaya indie-rock lo-fi ala Pavement. Lagu-lagu berikutnya pun dibawakan tanpa basa basi, semuanya bergulir cepat, ringkas, tanpa penjelasan. Dan tak satupun dari mereka mengenakan kostum-kostum aneh: tak ada Boylien, Obama berkepala besar, pria dengan helm dan piyama, bunyi sirene, ataupun poster salak. Ada apa ini? Kenapa bukan Zeke Khaseli dan pasukan bertopengnya yang memainkan repertoire Salacca Zalacca? » Read the rest of this entry «

[Cerpen Favorit] Kandang Babi, Rendez-Vous

October 1st, 2011 » 0

.
(cerita pendek oleh Eka Kurniawan)


Edi Idiot menjaga kampus siang dan malam, tapi ia bukan satpam. Terutama kalau malam, ia adalah raja yang berkuasa di kegelapan pohon-pohon rindang, tapi sungguh, ia bukan jin Iprit. Ia seperti kita juga: suka makan, beol, bercerita, berteriak menyanyikan Obladi Oblada, atau jika ia sedang tidak bersemangat, ia akan duduk manis menatap jauh pada segerombolan gadis yang tengah duduk berkerumun: berharap satu atau dua orang tersingkap roknya.

Ia tinggal di satu sudut fakultas yang nyaman—senyaman kandang babi. Dulu ruangan itu dipakai untuk mengoperasikan mesin stensil yang belakangan tergusur setelah penemuan teknologi komputer yang edan-edanan. Kematian mesin stensil adalah berkat bagi Edi Idiot yang berharap menghemat banyak dengan pondokan gratis. Di sanalah ia tidur kalau ngantuk, bercinta kalau punya kekasih, atau mencoba bunuh diri kalau sedang gila. » Read the rest of this entry «

Anak Band Beranak Band

August 14th, 2011 » 1

.

Set your guitars and banjos on fire,
and before you write a song: smoke a pack of whiskey
and it’ll all take care of itself
.”
—Beck

Kami bertiga (Budi, Bada, dan Badu) di Kompleks Timbuktu Permai ini merasa melihat betapa nge-band sepertinya cool. Padahal tak satupun dari kami yang bisa memainkan instrumen musik apapun dengan benar. Tapi kami cuek, karena denger-denger ‘cuek’ itu juga cool.

Segepok rencana pun disusun, dan rencana kami paling dekat adalah: ‘menjadi band terkenal’. Kalau bisa secepatnya. Karena itu kami berniat untuk berlatih keras di garasi tua bobrok di bawah rumah pohon kami, sebab denger-denger banyak band terkenal yang memulai karirnya dari tempat-tempat cool semacam itu. » Read the rest of this entry «

Di Ruang Itu

June 27th, 2011 » 1

.

Bapak pernah sangat marah padaku, dan tak sengaja beliau menjatuhkan Kamus Besar Bahasa Indonesia yang luar biasa tebal dari rak buku, tepat mengenai luka yang belum kering di lutut kananku. Beberapa hari sebelumnya lutut kananku memang cedera parah, jatuh terpeleset dari pohon belimbing di halaman depan, » Read the rest of this entry «

Super Funky Animals

February 11th, 2011 » 9

FADE IN.

EXT. Poskamling Desa Sukarmaju – DAY

Seperti biasa, Pak Ogah dan Pak Ableh selalu menyempatkan diri mengobrol di sela-sela kesibukan mereka yang padat (bo’ong banget). Dalam sebuah hubungan, komunikasi itu penting, demikian kata mereka.

OGAH
Bleh, lu tau nggak, ada binatang yang cuma terdiri dari satu huruf?

ABLEH
Ah, mana mungkin. Ada gitu?

OGAH
Ada dong. Gajah.

ABLEH
Gajah? Kok bisa?

» Read the rest of this entry «

You Are What You Eat

November 16th, 2009 » 14

mangan_ora_mangan

.
I’m not vegetarian because I love animals. I’m vegetarian because I hate plants.
—A. Whitney Brown, “Saturday Night Live” cast member, Season 11-16, 1985-1991.

Saya punya banyak teman vegetarian, tapi saya tidak punya satu pun teman kanibal. Hannibal Lecter cuma hidup di dunia rekaan Hollywood, dan saya juga tidak kenal Sumanto dari Purbalingga—sebagaimana saya berharap dia juga tidak kenal saya. Hmm, apa hubungannya vegetarian dengan kanibal? Jawabannya: mungkin memang tidak ada. Saya cuma tiba-tiba ingat, ada teman saya, seorang perempuan vegetarian yang mengaku moviefreak sejati, pernah membuat review film Korea berjudul 301, 302 (Cheol-su Park, 1995) dengan penuh semangat. Dan kebetulan, film itu tentang kanibal. Oops, spoiler. Saya sendiri juga suka film itu, sebuah drama tentang kesepian dan dendam, yang disajikan dengan sinematografi yang indah, dramatik, dan terus terang bikin saya lapar. Haa! » Read the rest of this entry «

Mengingat Yudi

November 11th, 2009 » 6

Tradtelefon

.
Saya punya teman SMP namanya Yudi. Orangnya kurus banget, sumpah kurus BANGET, kayak Aming tapi lebih tinggi, bahkan lebih tinggi dari saya. Rambutnya lurus tipis, jatuh, nutupin jidatnya yang jenong. Giginya tonggos tapi gak tonggos-tonggos amat. Anaknya sangat bersemangat. Rumahnya agak masuk ke pelosok desa, dan untuk sampai ke sekolah, dia harus naik sepeda sekitar 1 jam tiap paginya. Mungkin waktu saya baru bangun dan masih males-malesan di tempat tidur, si Yudi ini sudah harus mulai mengayuh sepedanya ke sekolah. Gokil, 2 jam bersepeda bolak-balik tiap harinya! Betis Yudi, meski kurus kering, tampak padat berisi. » Read the rest of this entry «

O Judge Dredd, Where Art Thou?

November 10th, 2009 » 4

.

komikmagnetik “They call him Judge, his last name is Dredd.
So break the law, and you wind up dead.”
(“I Am The Law” —Anthrax, dari album Among The Living, 1987)

Perkenalan serius saya dengan dunia komik tak lepas dari andil sepotong lagu metal, seorang hakim tua, dan anak laki-lakinya. Bukan, mereka bukan karakter komik. Mereka hidup di dunia nyata, yakni tetangga saya waktu kecil—rumahnya tepat di sebelah rumah saya. Meski mereka hanya tinggal berdua (di mana gerangan sang ibu berada, rasanya tak perlu diceritakan di sini karena terlalu sedih), namun di mata saya rumah itu sungguh seru, terutama karena hal-hal kontras selalu terjadi di sana. Rumah itu cenderung sunyi senyap, apalagi sang ayah (botak, usia 50-an) dan sang anak (gondrong, akhir 20-an) itu jarang saling bertegur sapa, dan saya hanya bisa menebak-nebak obrolan kaku macam apa yang terjadi di meja makan. Namun setiap pagi tiba, tepat setelah si ayah berangkat ngantor demi menjaga tegaknya hukum di negeri ini, keadaan berubah 180 derajat: rumah itu mendadak hingar bingar oleh udara kebebasan. Si anak, seorang pengangguran yang tertekan, langsung merasa merdeka dan menyetel tape keras-keras. “Life begins at six forty!” (merujuk jam keberangkatan ayahnya), maka dimulailah rutinitas sehari-hari si slacker: mendengarkan musik metal sambil jingkrak-jingkrak, dan mendekam di kamar sepanjang hari sambil membaca komik. Ya, selain metalhead, tetangga saya itu juga seorang kolektor komik. Dan koleksinya cukup mengagumkan. » Read the rest of this entry «

Hikayat Si Koin Bolong

November 2nd, 2009 » 2

.

yencoinbolongthere’s a hole in my soul that’s been killing me forever / it’s a place where a garden never grows / there’s a hole in my soul yeah, I should have known better /’cause your love’s like a thorn without a rose
—”Hole in My Soul”, Aerosmith di album Nine Lives, 1997

Dulu waktu di Shinjuku saya sempat bertanya-tanya dalam hati kenapa beberapa koin uang Yen punya lubang di tengahnya. Ketika saya bertanya pada orang Jepang langsung (saya sendiri sebenarnya tak begitu yakin mereka tahu), yakni salah satunya Ibu Yamada yang cantik dan baik hati itu, yang pernah tinggal di Solo beberapa tahun, bukannya menjawab, dia malah balik bertanya ke saya apakah penjual rujak di bilangan Sriwedari masih ada. Sebagai sesama penggemar rujak, saya jawab saja “Masih ada, Bu!”—ini persoalan etika menyenangkan orang seberang—sembari berjanji dalam hati: begitu nanti saya pulang ke Solo, saya akan segera ke sana untuk mengecek ulang, dan mencicipinya tentu saja. Rujak buah yang rahasia kelezatan sambalnya terletak di kencur itu memang juara, tapi soal wisata kuliner nanti saja membahasnya. Saya masih penasaran soal koin bolong itu. » Read the rest of this entry «

[Cerpen Favorit] Chief Sitting Bull

December 15th, 2008 » 7

.
(cerita pendek oleh Umar Kayam)

carousel

.
Pagi itu tidak banyak orang yang berkerumun di sekitar carousel Central Park. Hanya ada beberapa orang anak kelihatan bertengger di atas kuda-kudaan, seperti biasa tidak sabar menunggu lonceng tanda carousel berjalan berbunyi. Di bangku-bangku sekitar carousel, ibu-ibu atau pengasuh anak-anak itu duduk mengobrol sambil sesekali mengawasi anaknya. Teng-teng-teng. Lonceng berbunyi, wajah anak-anak berseri-seri, dan carousel pun bergerak. Kuda-kuda mulai naik-turun diiringi musik waltz.

Dari arah kebun binatang kelihatan seorang kakek berlari tergopoh. Di tangannya dijinjingnya sebuah kantong. Waktu sampai di muka loket, dengan napas sengal-sengal diberikannya uang lima puluh sen kepada perempuan yang menjual karcis.

“Lima, seperti biasa, Charlie?” » Read the rest of this entry «

Where Am I?

You are currently browsing the Rupa-rupa category at budiwarsito.net.