October 29th, 2007 »

.
“…the words of the prophets are written on the subway walls…”
—Simon and Garfunkel, “The Sound of Silence”
Jalanan, apa boleh buat, adalah sebuah drama zaman kita. Dia bukan lagi sekadar penanda lokasi (“Kantornya di jalan apa tadi, Bos?” tanya si tukang ojek sebelum tancap gas), tapi sekaligus panggung tempat orang-orang berekspresi. Ketika ojek membawa kita ngebut, meliuk-liuk menerobos kemacetan jalan yang tak masuk akal, tikung sana-sini dan hampir nyerempet mobil, naik ke atas trotoar, kita deg-degan dan tukang ojek tetap cuek; sesungguhnya drama suspense sedang terjadi. » Read the rest of this entry «
April 25th, 2007 »

.
“Do you mind telling me where you’re headed, Trav?
What’s out there? There’s nothing out there.”
—Walt (Dean Stockwell) kepada Travis (Harry Dean Stanton) di film Paris, Texas
Padang gersang, di sepenggal waktu yang tidak terlampau jelas. Seorang pria dengan setelan lusuh, sepatu kisut, topi bisbol warna merah, berjalan melintasi sengatan matahari. Cambangnya kusut masai, langkahnya ringkih, terayun dalam irama tak pasti. Dari atas bebatuan kusam, berlatar belakang langit biru terang nan luas, seekor burung pemangsa menatapnya tajam, mungkin menanti kematiannya. Letih dan dahaga menyergap tak terperi, namun di atas segalanya, rasa kehilanganlah yang paling kentara: mata pria itu cekung dan menerawang. Di film Paris, Texas (1984), si pejalan kaki yang linglung itu bernama Travis, dan memang ada yang hilang dari hidupnya. Tapi dia tidak ingat apa itu. Dia terus melangkah dan melangkah, tanpa tahu ke mana dan mengapa. » Read the rest of this entry «
October 2nd, 2006 »
.
Ketika diwawancarai sebuah majalah musik, Elvis Costello pernah mengatakan, “Writing about music is like dancing about architecture.” Lebih jauh lagi, “It’s a really stupid thing to want to do.” Satu pernyataan menohok dan pesimistis. Tapi pada kenyataannya, buku-buku tentang musik akan tetap ditulis dan diburu orang. Benarkah menulis tentang musik itu hal yang bodoh? » Read the rest of this entry «
June 6th, 2006 »
.
“I want to cut you up, I want to watch you bleed, ever so slowly.”
—Adorable “Homeboy”
pagi itu, mungkin sepuluh atau sebelas tahun yang lalu, atas nama embun-embun tak bertuan dan bisikan setan yang tak beralasan, aku berniat meracuni sarapanmu. semua telah siap, segala bakal beres: secawan racun dari mulut ular paling berbisa di dunia, kata-kata terakhir dengan senyum sinis yang dilatih ratusan kali di depan kaca, juga segenap detil lainnya dengan pengaruh film-film detektif murahan di sana-sini. namun seperti kisah-kisah klise di buku dongeng, ternyata gelas kita tertukar: tanpa sadar aku menenggak racunku sendiri. (ah, ‘ternyata’—bukankah itu kata sialan yang sudah lama berusaha kita hapus dari kamus?) » Read the rest of this entry «
December 10th, 2005 »
.
Pada tahun 1996, Blur menulis lagu “Ernold Same”, sebuah perlambang yang bagus tentang rutinitas. Dilantunkan dengan ekspresi datar, demikian bunyi liriknya: “Ernold Same awoke from the same dream, in the same bed, at the same time, looked in the same mirror, made the same frown, and felt the same way as he did everyday.” » Read the rest of this entry «
December 26th, 2004 »
.
apakah kau ingat dulu kita (okay, kamu) pernah berusaha memainkannya semirip mungkin juga sebebas mungkin yang artinya justru sengawur mungkin sesalah mungkin dan paling penting sekeras mungkin karena yang kau pikirkan justru bagian gamelan yang menghantui sepanjang lagu (juga ‘duck duck duck’ dan kau ingat bali padahal kau benci bali—kau pikir aku tidak?) dan hey siapa yang harus meniup apa-itu-namanya,-klarinet? » Read the rest of this entry «